primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label GUNUNG INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GUNUNG INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Gunung Kelud JAWA TIMUR dan LEGENDA TERSEMBUNYI (Dewi Kili Suci dan Anglingdarma)

Wisata Gunung 

Gunung Kelud JAWA TIMUR dan LEGENDA TERSEMBUNYI  (Dewi Kili Suci dan Anglingdarma)

Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi Kelut yang berarti "sapu" dalam bahasa Jawa; dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet, atau Kloete) adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang , kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri.
Berkas:Kelut.jpg
Gunung Kelud dengan danau kawah Ketinggian 1.731 m (5,679 kaki)
Morfologi
Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. 

Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia.

Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah (hingga akhir tahun 2007) yang membuat lahar letusan sangat cair dan membahayakan penduduk sekitarnya. Akibat aktivitas tahun 2007 yang memunculkan kubah lava, danau kawah nyaris sirna dan tersisa semacam kubangan air.

Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. 

Pada tahun 2007 munculnya kubah Lava yang semakin hari, perlahan-lahan, tumbuh besar dan semakin membesar hingga mencapai ketinggian sekitar 280 meter dengan diameter 600 meter. 
Proses pertumbuhan kubah lava itu sudah berhenti dan sekarang biasa disebut dengan
'Anak Gunung Kelud'.
PhotobucketPhotobucket
Anak gunung kelud, gunung termuda di dunia
Gunung Kelud memiliki tiga puncak, yaitu : 

  1. Puncak Gajah Mungkur di sisi Barat, 
  2. Puncak Kelud pringgondani.di sisi Timur Laut dan 
  3. Puncak Sumbing di sisi Selatan. 

Puncak Gajah Mungkur di sisi Barat
Gunung Sumbing di sisi Selatan di area Gunung Kelud
Panorama alam di sekitarnya sangat bagus. Pemandangan matahari terbit di kawasan ini memiliki keunikan, yaitu dengan bias pelangi di sekeliling bola matahari.
Tentunya menjadi pemandangan baru yang begitu fenomenal, keindahan tiada tara ciptaan Yang Kuasa,

Menuju gunung kelud di malam hari, dan menginap di homestay pemukiman warga berkisar Rp 100.000 s/d 200.000 di kaki gunung kelud, lalu melanjutkan perjalanan di pagi hari pukul 05:00, demi mendapatkan pemandangan dan momen-momen cantik, saat mentari pagi menyapa alam Gunung Kelud. 

Tiket masuk kawasan wisata Gunung Kelud :
Hari biasa : Rp. 5000,- dan Hari Sabtu, Minggu & hari Libur : Rp. 10.000,- 

Dari Pos Gerbang Masuk untuk menuju ke area wisata Gunung Kelud, masih harus menempuh perjalanan sekitar -/+ 9 km. lagi.

Obyek Wisata
Di kawasan wisata Gunung Kelud terdapat beberapa obyek wisata. Ada pemandangan matahari terbit dari puncak Gajah Mungkur, Wisata Malam Anak Gunung Kelud; juga ada tempat aliran air panas.
Aliran sungai air panas Gunung Kelud dan Kolam air panas gunung kelud

Untuk bisa menikmati obyek wisata di kawasan ini diperlukan kaki yang kuat untuk menempuh banyak anak tangga. Mendaki ke Puncak Gajah Mungkur, pengunjung harus mendaki 492 buah anak tangga. Sedangkan untuk ke aliran air panas kurang lebih ada 1.000 buah anak tangga.

Gunung Kelud dari Aktif Normal hingga Awas
GUNUNG KELUD SEBELUM 
DINYATAKAN TERTUTUP (bawah).
Foto 9 Juli 2007 : Lendy Widayana / IndonesiaDiscovery Research
Arah menuju kawah dengan latar belakang lereng Sumbing.
Terowongan Gresco 2 menuju kawah sepanjang 100 meter 
yang menembus Puncak Gajah Mungkur.
Bibir kawah Gunung Kelud.
Danau kawah Gunung Kelud.
Gelembung kawah Gunung Kelud.

Aktivitas Gunung Kelud
Sejak abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa.

Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.
Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM De krater van de Gunung Kelud na de vulkaanuitbarsting van 1901 TMnr 60025875.jpg
Gunung Kelud 1901
Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Solfataren in de krater van de vulkaan Gunung Kelud TMnr 10023721.jpg
Gunung Kelud 1919
Letusan 1919
Letusan ini termasuk yang paling mematikan karena menelan korban 5.160 jiwa , merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km, meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan lahar pada tahun 1905. 

Selain itu Hugo Cool pada tahun 1907 juga ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik.

Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan. 

Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik.
Letusan 2007
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.


Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.

Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.

Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3).

Danau kawah Gunung Kelud praktis "hilang" karena kemunculan kubah lava yang besar. Yang tersisa hanyalah kolam kecil berisi air keruh berwarna kecoklatan di sisi selatan kubah lava.
Berkas:Kelud 2012.JPG
Gunung Kelud 2012. Kubah lava 2007 tampak di tengah, dengan latar belakang Puncak Kelud. Di sebelah kiri adalah bagian dari Puncak Gajahmungkur.
Tumpukan Lava di Gunung Kelud Picu Letusan Besar
Wisatawan melihat kubah lava atau biasa di sebut anak Gunung Kelud di kawasan wisata Gunung Kelud, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (11 Agustus 2013). Saat ini kawasan wisata ini tertutup untuk wisata. TEMPO/Aris Novia Hidayat
Status Awas di Tahun 2014
Letusan Gunung Kelud Akan Jadi Paling Dahsyat

Petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperkirakan jika meletus, maka letusan Gunung Kelud akan sangat dahsyat. Hal ini karena tumpukan material lava di perut bumi sudah cukup banyak sejak krisis erupsi 2007.


“Terlalu banyak material dan gunung ini terlalu lama menahan,” kata Kepala Pos Pemantauan Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri Khoirul Huda kepada Tempo, Senin 3 Februari 2014. Menurutnya peningkatan aktivitas vulkanik saat ini cukup mengkhawatirkan.

Khoirul mengatakan rata-rata setiap letusan Gunung Kelud menumpahkan sedikitnya 127 juta meter kubik material dari perut bumi. Jumlah itu terpantau dari letusan pada 1990 maupun tahun-tahun sebelumnya yang relatif sama. 

Namun pada erupsi 2007, tak semua material pijar itu dimuntahkan. Petugas hanya mencatat sekitar 30 juta meter kubik saja material yang terangkat. Hal ini diduga karena pola letusan saat itu tidak bersifat eksplosif, melainkan efusif berupa lelehan lava pijar. “Sekitar 80-90 juta meter kubik material yang masih tersisa dari letusan tahun 2007,” kata Khoirul.



Sementara itu peningkatan aktivitas Kelud ini menarik perhatian Komandan Korem 082 Mojokerto Kolonel Agus Yuniarto. Bersama jajaran Kodim setempat, Agus mendatangi pos pemantauan Gunung Kelud di Desa Sugihwaras untuk meminta informasi. “Kami siap membantu sosialisasi dan evakuasi masyarakat jika diperlukan.”////Source///

Data letusan yang pernah terjadi di Gunung Kelud (sumber Pemkab Kediri dari data Dit Vulkanologi) :

  • Letusan pertama tahun 1000
  • Letusan tahun 1311, 1376, 1385, 1411, 1451, 1462, 1481, 1548
  • Tahun 1586 Korban jiwa tidak kurang dari 10.000 jiwa
  • Tahun 1641, 1716
  • 1 Mei 1752
  • 10 Januari 1771
  • Tahun 1776, 1785
  • 5 Juni 1811
  • Tahun 1825, 1826
  • Tanggal 16 Mei 1848, 24 Januari 1851, 3 & 4 Januari 1864
  • Selasa Kliwon tahun 1901, Selasa Wage 1918, Jumat Legi 1951, Rabu Wage 1966, Sabtu Wage 1990.

Gunung ini tercatat dalam naskah-naskah periode klasik Indonesia seperti Pararaton dan Perjalanan Bujangga Manik sebagai Gunung Ka(m)pud dan menjadi objek pemujaan. Tokoh Dewi Kili Suci dan Anglingdarma dikaitkan dengan gunung ini.

Antara Dewi Kili Suci
Lembu Sura dan Mahesa Sura
Legenda Gunung Kelud

keberadaan gunung itu ada legenda tersendiri yang menceritakan asal muasal terjadinya gunung itu. Konon gunung itu bukan berasal proses alami, melainkan akibat dari sebuah pengkhianatan cinta. ...................................................................................................


Adalah Dewi Kilisuci, anak putri Jenggolo Manik yang konon memiliki kecantikan luar biasa. Tidak sedikit kesatria bertekuk hatinya untuk menjadikan Kilisuci sebagai istrinya.

Ternyata kecantikan itu menyentuh hati dua orang raja meski dilihat dari fisiknya bukanlah raja manusia biasa. Kedua raja itu berkepala lembu masing-masing bernama Raja Lembu Sura dan Mahesa Sura.

Mereka dimabuk kepayang karena begitu cintanya terhadap Dewi Kilisuci dan akhirnya menyatakn keinginannya untuk menyuntingnya untuk dijadikan istrinya.

Susah Menolak
Bagi putri Jenggolo Manik itu tentu susah untuk menolaknya, namun untuk menyatakan secara langsung ketidaksukaannya, dia tidak punya cara. Akhirnya muncul ide sebagai upaya untuk menolak cinta keduanya.

Dibuatlah sayembara yang kalau dipikir tidak masuk akal, karena permintaan sang dewi itu tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa.

Yakni, membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan satu lagi wangi. Kedua sumur itu harus diselesaikan hanya dalam waktu satu malam, selesai sebelum ayam berkokok.

Namun karena Lembu Sura dan Mahesa Sura sangat sakti, permintaan Dewi Kilisuci itu bisa diselesaikan dengan baik dan cepat.

Belum puas atas hasil itu, Dewi Kilisuci kembali membuat sayembara. Kedua raja itu harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Karena keduanya dimabuk kepayang, tanpa memperdulikan risikonya maka permintaan itu pun dilaksanakan juga meski sumur yang dibuat itu sangat dalam.

Tidak disangka, di saat keduanya sudah berada di dalam sumurnya masing-masing, Dewi Kilisuci memerintahkan pada perajurit-perajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu agar keduanya mati. 

Menolak Sial dengan Larung Sesaji
NAMUN sebelum Lembu Sura meninggal, dia melontarkan sumpahnya yang isinya merupakan luapan sakit hati dan balas dendam yang ditujukan pada masyarakat Kediri. “Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”.

(Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi daerah perairan dalam).

Akhirnya untuk menangkal sumpah itu hingga kini masyarakat Kediri secara rutin menyelenggarakan selamatan berupa “larung sesaji” sebagai upaya menolak sial agar warga Kediri selalu selamat.

Hingga kini acara selamatan Larung Sesaji masih terus berjalan yang digelar setahun sekali setiap tanggal 23 bulan Sura, yang diselenggarakn oleh masyarakat Desa Sugih Waras.

Termasuk adanya terowongan Ampera sepanjang hampir 1 kilometer yang dibangun untuk mengurangi volume air kawah agar tidak meluap. Terowongan yang menembus Puncak Gajah Mungkur itu ada yang menyebut dibangun pada tahun 1940 oleh Jepang, tapi ada yang mengatakan baru pada tahun 1951, dengan fungsinya sebagai jalan pembuangan lahar.

Lorong ini menjadi semakin menarik karena di saat acara ritual itu berlangsung di sepanjang terowongan dipasang lilin dan petromaks.

Bangun Tangga
Untuk menunjang objek wisata itu, Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah membangun tangga yang menghubungkan terowongan bagi pejalan kaki hingga bibir kawah yang panjangnya diperkirakan mencapai 500 meter.

Keberadaan air hangat itu untuk melengkapi keindahan kawah yang bentuknya mirip danau dengan kedalaman air antara 20 sampai 40 meter.

Bahkan sudah dibangun jalan hot mix dari Ngancar hingga perkebunan daerah Margomulyo yang sudah selesai akhir tahun 2002 lalu.

Yang menarik perjalanan menuju kawah Gunung Kelud, setelah beberapa saat melewati hutan yang lembab akhirnya lepas ke alam terbuka.

Sejauh mata memandang terlihat hamparan hijau dari perkebunan, mendekati kawah, setelah melapor ke petugas kendaraan akan melewati terowongan yang cukup untuk satu mobil saja yang tidak mungkin bisa untuk berpapasan. Tidak perlu khawatir dengan kegelapan karena sepanjang terowongan tersebut sudah dipasang lampu di dindingnya.

Gunung Kelud hingga kini telah mengalami 28 kali letusan, mulai tahun 1000 sampai 1990. Gunung ini secara kontinu dalam pengawasan Direktorat Vulkanologi dan Metigasi Bencana Geologi Bandung yang bermarkas di Desa Sugih Waras.


Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Kelud dan berbagai sumber

Sabtu, 01 Februari 2014

Wisata Religi Suku Tengger

Majapahit 

Wisata Religi Suku Tengger

Wisata Religi Suku Tengger
 
Penduduk yang mendiami kawasan Tengger secara mayoritas adalah suku Tengger. Tingkat pertumbuhan penduduk suku Tengger yang berdiam di kawasan pegunungan Tengger ini dari tahun ke tahun tergolong rendah atau lambat. Mata pencaharian sebagian besar adalah petani dan bahasa daerah yang digunakan untuk komunikasi sehari-hari adalah bahasa Jawa Tengger.
 
Upacara adat suku Tengger terdiri dari upacara adat yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat suku Tengger, seperti :
  1. Hari Raya Karo, 
  2. Yadnya Kasada dan 
  3. Unan-Unan, 
Yaitu upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan seseorang, seperti: kelahiran (upacara sayut, cuplak puser, tugel kuncung), menikah (upacara walagara), kematian (entas-entas dll), upacara adat yang berhubungan dengan siklus pertanian, mendirikan rumah, dan gejala alam seperti leliwet dan barikan.

Kesenian tradisional yang tetap hidup sejak jaman Majapahit adalah seni tari Sodoran dan tari Ujung. Beberapa tempat pelaksanaan kegiatan suku Tengger antara lain :
 
Pura luhur Poten in Bromo 

Pura Poten adalah pura umat Tengger yang beragama Hindu yang berada di dalam kawasan kompleks Kaldera Tengger. Letaknya yang strategis diantara Gunung Batok dan Gunung Bromo, membuat pemandangan Pura Poten itu sendiri menjadi sangat indah untuk dipandang.Puncak keramaian di Pura Poten ini adalah pada Hari Raya Yadnya Kasada, yang dihadiri oleh umat Hindu Tengger dari seluruh penjuru TN.BTS maupun umat Hindu Bali. Maka tidaklah mengherankan, jika pada Hari Raya Yadnya Kasada tersebut banyak wisatawan lokal maupun manca negara yang ikut hadir untuk menyaksikan acara “Budaya dan Religi” masyarakat Tengger tersebut.

Menapak Pura Luhur Poten
 
Pura Luhur Poten terletak di Segara Wedhi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). 
Segara Wedhi dalam Bahasa Indonesia bermakna Laut Pasir, atau dalam ilmu geografi disebut kaldera. Pura ini dikelola oleh masyarakat Suku Tengger yang telah mendiami area ini secara turun temurun.
Konon, ketika Majapahit mengalami keruntuhan akibat perang saudara, rakyat mengalami keterpurukan dan memilih pergi menjauh dari
 
pusat pemerintahan dan menetap  di Bromo. Gunung Bromo bagi Suku Tengger adalah gunung yang suci ditandai dengan dibangunnya Pura Luhur Poten di dekat kaki Gunung Bromo. Poten adalah pura yang didirikan di atas pasir. Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga bagian yaitu Mandala Utama, Mandala Madya, dan Mandala Nista. Bangunannya menghadap ke barat, lalu memasuki pura menuju ke arah timur. Demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur tempat terbitnya matahari.

Hal ini menjadikan komposisi bangunan berjajar di sisi timur menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara menghadap selatan.

Mandala Utama.
Mandala Utama disebut juga jeroan yang dalam Bahasa Indonesia bermakna bagian dalam. Jeroan merupakan tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari Padma, Sepekat, Kori Agung Candi Bentar. Padma bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan. Fungsi utamanya sebagai tempat pemujaan. Padma tidak menggunakan atap yang terdiri dari tepas (kaki, red.), batur (badan, red.), dan sari (kepala, red.) dilengkapi dengan bedawang nala, naga, garuda, dan angsa. Bedawang Nala menggambarkan kura-kura raksasa mendukung padma, dibelit oleh naga, garuda, dan angsa dengan posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padma. Sepekat (tiang empat) letaknya berhadapan dengan bangunan padma, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian serangkaian upacara serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan. Sedangkan Kori Agung bentuknya mirip dengan tugu dengan kepalanya mengenakan gelung mahkota segi banyak bertingkat. Mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar sisi banyak dengan sisi-sisi sekitar depa alit, depa madya, dan depa agung. Tinggi bangunan ini sekitar 100 m memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi. Pintu masuknya terletak di depan mandala madya ke mandala utama yang disesuaikan dengan keindahan proporsi, bentuk, dan fungsi dipadu atap bertingkat tiga.

Mandala Madya
Mandala Madya dalam Bahasa Indonesia bermakna bagian tengah. Mandala Madya berfungsi sebagai tempat persiapan dan pengiring upacara. Ada dua bagian di Mandala Madya yaitu Bale Kentongan dan Bale Bengong. Bale Kentongan disebut juga bale kul-kul. Letaknya di sudut depan pekarangan pura, bentuknya terdiri dari susunan tepas, batur, dan sari dengan atap berupa kul-kul. Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir, dan saat tertentu dari rangkaian upacara. Bale Bengong disebut juga pewarengan suci. Letaknya diantara mandala madya dan mandala nista. Bentuk bangunannya berupa persegi dengan deretan tiang disesuaikan luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara.

Mandala Nista
Mandala Nista dalam Bahasa Indonesia bermakna bagian depan. Mandala Nista berfungsi sebagai tempat peralihan dari luar ke dalam pura. Mandala Nista dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan Mandala Madya dan diteruskan ke Mandala Utama memakai Kori Agung. Tembok penyengker dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasi sesuai dengan keindahan arsitekturnya.

Pelengkap.
Pura Luhur Poten akan lebih berkesan apabila kita mengunjunginya pada saat pelaksanaan Upacara Kasodo yang diadakan oleh Suku Tengger. Upacara Kasodo bertujuan untuk memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa. Upacara ini dilaksanakan pada bulan purnama tanggal 14 bulan Kasodo (sepuluh, red.) sesuai dengan kalender jawa. Dengan mengikuti upacara ini kita dapat melihat prosesi ritual dari persiapan sesaji hingga mengarak sesaji menuju kawah Bromo untuk dilemparkan. Sungguh mengesankan dan cocok bagi kawan-kawan pecinta wisata budaya.

Dalam pelaksanaan Upacara Kasodo, masyarakat Tengger berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian dan peternakan lalu dilemparkan ke kawah Bromo. Selanjutnya, pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di Pura Luhur Poten. Setelah Upacara selesai, ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki Gunung Bromo ke atas kawah dan melemparkannya kedalam kawah sebagai simbol pengorbanan. Didalam kawah banyak terdapat penduduk Tengger yang tinggal di pedalaman, mereka telah datang sebelumnya dan mendirikan tempat tinggal dikawah Bromo dengan harapan mendapatkan sesaji yang dilempar. Sungguh pertaruhan yang menantang dan luar biasa sebab tak jarang diantara mereka jatuh ke dalam kawah.
 
Pura Luhur Poten dengan latar Gunung Batok
 
Sesi ritual
 
Arak-arakan
 
Ongkek
 
Penduduk yang turun ke kawah

Sumber air suci Goa Widodaren

 

Gua Widodaren merupakan salah satu tempat penting dalam ritual masyarakat Tengger. Pada bagian dalam gua terdapat tempat yang agak luas dan didalamnya terdapat batu besar (sebagai altar) untuk menempatkan sesajian atau menaruh nadar yang sekaligus sebagai tempat bersemedi khususnya masyarakat Tengger untuk memohon kepada Sang Hyang Widi. 



Masih di sekitar gua, tepatnya di bagian samping gua terdapat sumber air yang tak pernah kering. Menurut kepercayaan masyarakat Tengger air dari sumber tersebut merupakan air suci yang mutlak diperlukan bagi peribadatan mereka, sebagai contoh adalah upacara pengambilan air suci dari Gua Widodaren (Medhak Tirta) yang dilakukan sebelum Upacara Kasada. 

Disamping itu air dari gua ini dipercaya masyarakat Tengger berkhasiat dapat membuat awet muda serta mendekatkan jodoh bagi yang lajang.


sumber : Berbagai sumber dan Observasi
dan : http://way4x.wordpress.com

Jumat, 31 Januari 2014

Gunung Penanggungan Jawa Timur Gunung Pawitra / Pesona Anak Semeru

Wisata Legenda 

Gunung Penanggungan Jawa Timur Gunung Pawitra / Pesona Anak Semeru

Gunung Penanggungan (ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia.
Letak gunung berapi tidur ini ini berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.

Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. 
Di masa itu ia dikenal sebagai Gunung Pawitra.
Gunung ini dikelilingi 4 gunung yang lebih kecil yaitu Gunung Gajah Mungkur ( 1.084 m ), Gunung Bekel ( 1.240 m ), Gunung Sarahklopo ( 1.235 m ), dan Gunung Kemuncup ( 1.238 m ). Dari atas Gunung Penanggungan ini jika pendakian dilakukan pada malam hari kita bisa melihat matahari terbit, kira – kira berangkat pukul 22.00 atau 23.00 WIB, istirahat sebentar sambil menunggu matahari terbit. Untuk mencapai puncak gunung kita bisa melewati 2 jalur utama, lewat Trawas / Desa Duyung dan lewatcandi Jolotundo / Desa seloliman. 
Pemandangan Kota dari Atas Puncak 
Gunung Penanggungan Jawa Timur
Umumnya para pendaki lewat jalur Trawas / Duyung, Karena akses transportasi lebih mudah. Dengan mobil L300 bisa mencapai dekat kaki gunung atau mobil itu berhenti di pasar Tamiajeng, dan para pendaki bisa jalan kaki. Kelebihan melewati jalur ini, bisa melihat pemandangan baik itu perumahan ( Vila ) yang banyak terdapat di daerah Trawas dan Pacet, serta bisa melihat puncak gunung yang lain seperti Gunung Welirang dan Gunung Arjuno.
Gunung Arjuno-Welirang
Puncak GunungWelirang                Puncak Gunung Arjuno

Dari jalur ini bisa melihat keindahan kota Surabaya di malam hari. Sayangnya jalur ini sudah sangat terbuka, dengan adanya aktivitas petani menanam tanaman musiman, seperti cabe, jagung dan lain – lain, sehingga tingkat erosi tanah tinggi, yang mengakibatkan erosi tanah berbentuk parit – parit yang cukup dalam hingga 50 cm. Perjalanan yang dilakukan pada malam hari, harus ektra hati – hati agar tidak terperosok ke dalam parit – parit tersebut.

Jalur ini lebih panjang dibandingkan melalui jalur Candi Jolotundo, tetapi tanjakan tidak terlalu tajam. Mendekati puncak, akan menemui padang alang – alang yang cukup tinggi, hingga setinggi manusia ( kira – kira 170 cm ). 
Candi Jalatundo
Candi Jalatundo
Candi Jolotundo terletak di lereng Gunung Penanggungan, tepatnya Desa Seloliman, Kecamatan Trawas. Jarak dari kota Surabaya + 55 km, dapat dicapai dengan kendaraan pribadi. Keunikan petirtaan ini adalah debit airnya yang tidak pernah berkurang meskipun musim kemarau. Berdasarkan penelitian, kualitas airnya terbaik di dunia dan kandungan mineralnya sangat tinggi. Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan yang dibuat pada zaman Airlangga (kerajaan Kahuripan).
Sumber: http://wartapedia.com/edukasi/ensiklopedia/1972-candi-jolotundo.html

Melewati jalur ini tidak menemui candi – candi. Sedangkan jika melalui jalur Candi Jolotundo, selama perjalanan kita tidak bisa melihat keindahan kota karena tertutup dengan Gunung Bekel dan Gunung Gajah Mungkur. Yang ditemukan hanya pohon – pohon yang masih tersisa akibat penebangan liar dan kebakaran ( biasanya terjadi pada musim kemarau ) dan tanaman yang ditanam penduduk.

Keistimewaan melewati jalur ini, kita akan banyak menemui candi – candi. 

Candi Jolotundo. 
Merupakan candi yang paling besar dan memiliki sumber air yang besar dibandingkan candi-candi yang lain. Menuju candi ini sangat mudah. Mobil bisa sampai dipelataran pakir candi ini. Biasanya banyak orang berkunjung kesini untuk mengambil air atau mandi yang mengalir dari batu-batu candi. Menurut mereka bisa membuat awet muda. Candi ini memiliki 2 tingkatan kolam. 2 kolam kecil untuk mandi ditingkatan atas. Satu kolam disebelah kiri untuk tempat mandi wanita dan satu kolam lagi dikanan untuk mandi pria. Dan memiliki kolam besar, ditingkatan bawah yang berisi ikan-ikan yang kecil hingga besar. Ikan-ikan ini tidak boleh diambil. Menurut cerita, ikan-ikan tersebut adalah para dayang-dayang. Biasanya di malam Jum’at legi, banyak para pengunjung datang kesana untuk mandi. Dengan suasana yang gelap gulita. Setelah mandi ada yang melanjutkan ritual bersemedi ada juga yang tidur di pendopo disana. Candi ini sudah menjadi obyek wisata, sehingga banyak juga warung-warung permanen di luar kawasan candi (dibatasi pagar). Jika kita lupa membawa tempat untuk membawa airnya, warung-warung tersebut menjual jerigen-jerigen air, selain menjual teh, kopi dan makanan.

  • Candi Putri, Menuju candi ini memerlukan waktu ± 1,5 jam dari candi jolotundo. Kondisi candi ini masih terawat. Tetapi disini tidak ditemui air seperti candi jolotundo. Candi ini terdiri dari susunan batu. Candi ini akan ditemukan pada jalur pendakian menuju puncak.
  • Candi Pure, Posisi candi ini tidak terlalu jauh dari candi putri. Dan ditemui pada jalur pendakian menuju puncak.
  • Candi Sinto, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan candi putri, hanya lebih kecil.
  • Candi Gentong, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak. Berbentuk seperti gentong air . kalau zaman sekarang gentong air terbuat dari tanah liat sedangkan candi tersebut terbuat dari batu.
  • Candi Lurah, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak
  • Candi Guru, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak
  • Candi Wisnu, Candi ini berada paling tinggi, Hampir mendekati puncak. Setelah itu turun kembali ke candi guru untuk menemukan candi yang lain.
  • Candi Carik, Menuju candi ini, dari candi Guru turun kea rah kiri. Maka akan menemukan jalur candi-candi yang lain. Jika ke puncak Gn. Penanggungan melalui candi jolotundo, tidak menemui candi ini.
  • Candi Naga, Jika ke puncak Gunung Penanggungan melalui candi jolotundo, tidak menemui candi ini
  • Candi Bayi, Jika ke puncak Gunung Penanggungan melalui candi jolotundo, tidak menemui candi ini
  • Candi Selokelir, Posisi candi ini berada di dekat perumahan penduduk. Keberadaan candi ini sangat mengkhawatirkan. Karena batu-batu penyusun candi banyak yang sudah rusak dan juga dijadikan jalan bagi masyarakat. Relief pada candi ini ada bergambar bunga.
  • Candi Siwa, Candi ini posisi tersembunyi. Dengan ukuran tidak terlalu besar, berada dirimbunan tanaman kaliandra.
  • Candi tidak ada nama, Candi ini tidak memiliki memiliki plang nama seperti candi-candi yang lain.


Sebenarnya, masih ada candi-candi yang lain. Tetapi sudah tertimbun oleh tanah dan akar-akar tanaman. Dan ini sempat ditemukan, diantara akar tanaman yang rimbun. Berbekal tangan dan kayu, kami menggali tanah untuk menemukan potongan-potongan batu yang lain. Lalu potongan itu disusun membentuk sebuah istana mungil, diabadikan kamera, lalu ditimbun lagi di tempat yang sama. Batu-batu yang ditemukan berwarna seperti genteng dan berbentuk pipih bermotif bunga dan ukiran, berbeda dengan batu candi-candi yang sudah disebutkan diatas seperti berasal dari batu-batu kali besar yang dipahat.


Pada batu – batu candi masih meninggalkan relief – relief yang berupa gambar atau tulisan. Umumnya berupa gambar seperti gambar kelopak bunga. Sepanjang perjalanan hingga puncak gunung, tidak ditemui sumber air. Jadi para pendaki sudah menyiapkan air yang banyak dalam perjalannya. Jika melalui jalur candi Jolotundo, biasanya pendaki mengambil air di candi tersebut. Jalur ini, lebih pendek dibandingkan jalur Trawas / Duyung, tetapijalur pendakian lebih banyak menanjak.

Pendakian dipagi hari, disepanjang perjalanan bisa menemui banyak aktivitas petani di hutan. Baik yang mengelola lahan hutan atau yang mencari tanaman kaliandra untuk makanan ternak. Karena kondisi gunung ini sudah sangat terbuka, sepanjang perjalanan hanya sedikit pohon besar yang bisa menaungi.
Ketika mendekati puncak, tanah mulai berbatu. 

Tidak banyak satwa yang bisa dijumpai. Ini pengaruh dari pembukaan hutan dan juga kebakaran hutan. Kera yang biasanya banyak, sekarang sudah berkurang, pindah ke gunung bekel yang bersebelahan denganGunung penanggungan. Satwa yang masih bisa banyak ditemui di Gunung Penanggungan adalah burung.

Transportasi
Transportasi menuju Gunung Penanggungan, dengan kendaraan umum sangat mudah. Jika berasal dari Malang, mengambil bis jurusan Malang – Surabaya, dan berhenti di Pandaan. DariPandaan naik mobil L300 ke Trawas dan berhenti di Ps. Tamiajeng. Jika banyak para pendaki yang menuju ke G. Penanggungan, biasanya mobil bersedia mengantar hingga Desa Duyung. Tetapi biasanya mobil akan berhenti di Pasar Tamiajeng. Dari sana berjalan kaki menuju Desa Duyung.

Sebaiknya dari Pandaan tidak terlalu sore, karena kadang mobil sudah tidak ada. Diatas pukul 18.00 WIB mobil sudah sangat jarang, atau kadang sudah tidak ada. Untuk para pendaki yang berasal dari Surabaya, mengambil bis jurusan Surabaya – Malang dan berhenti di Pandaan. Lalu naik mobil L300 menuju Trawas. Sedang jika ingin melalui Candi Jolotundo, dari pasar Tamiajeng berjalan kaki kira – kira 2 jam ( dengan jalan santai ) atau naik ojek dari Pasar. Atau dari Surabaya, mengambil bis jurusan Surabaya – Malang, berhenti di Japanan. Dari Japanan, naik bis lebih kecil berwarna kuning menuju Mojokerto dan berhenti di Ngoro Industri. Dari Ngoro Industri naik ojek ke Candi Jolotundo atau desa Seloliman.

GUNUNG RAUNG (LEGENDA) Jawa Timur

Primbon 

GUNUNG RAUNG (LEGENDA)

GUNUNG RAUNG (LEGENDA)
Berkas:Mount Raung.jpg
Gunung Raung merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia dan mempunyai ketinggian setinggi 3,332 meter. Gunung Raung mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Raung adalah sebuah gunung yang terletak di ujung timur pulau Jawa. dan mempunyai kaldera terbesar di pulau jawa, dengan kaldera sekitar 500 meter.

G. Raung termasuk gunung tua dengan kaldera di puncaknya dan dikitari oleh banyak puncak kecil, Menurut catatan letusan terdahsyat terjadi pada tahun 1638. yang mengakibatkan banjir lahar pada kali Klatak dan Setail dan lebih dari 1000 jiwa melayang.Gunung strato volcano ini secara geografis terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jember dan Bondowoso, secara astronomis etrletak pada 08° LU-07° LS dan 114° BB-021°BT.

dari puncak Raung pendaki dapat melihat kaldera raksasa berbentuk elips yang dikitari oleh puncak-puncak kecil yang meruncing. pemandangan semakin indah ketikacuaca cerah, dimana pendaki dapat menyaksikan Gunung Suket dan Ijen yang berada pada sisi timur dan Pegunungan Hyang yang berada pada sisi barat.

--------------------------------------------------------------------------------------------------
MISTERI GUNUNG RAUNG

Keangkeran Gunung Raung sudah terlihat dari nama-nama pos pendakian yang ada, mulai dari Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin. Semua itu mempunyai sejarah tersendiri hingga dinamakan demikian.

Pondok Sumur misalnya, katanya terdapat sebuah sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik. Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada, hanya saja tak kasat mata. Di Pondok Sumur ini, saat berkemah,juga terdengar suara derap kaki kuda yang seakan melintas di belakang tenda.

Selanjutnya Pondok Demit, disinilah tempat aktivitas jual-beli para lelembut atau dikenal dengan Parset (Pasar Setan). Sehingga, padaMore… hari-hari tertentu akan terdengar keramaian pasar yang sering diiringi dengan alunan musik. Lokasi pasar setan terletak disebelah timur jalur, sebuah lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu.

Pondok Mayit adalah pos yang sejarahnya paling menyeramkan, karena dulu pernah ditemukan sesosok mayat yang menggantung di sebuah pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh oleh para pejuang saat itu.

Tak jauh dari Pondok Mayit, adalah Pondok Angin yang juga merupakan pondok terakhir atau base camp pendaki. Tempat ini menyajikan pemandangan yang memukau karena letaknya yang berada di puncak bukit, sehingga kita dapat menyaksikan pemandangan alam pegunungan yang ada disekitarnya. Gemerlapnya kota Bondowoso dan Situbondo serta sambaran kilat jika kota itu mendung, menjadi fenomena alam yang sangat luar biasa. Namun, angin bertiup sangat kencang dan seperti maraung-raung di pendengaran. Karenanya gunung ini dinamakan Raung, suara anginnya yang meraung di telinga terkadang dapat menghempaskan kita didasar jurang yang terjal.

Sebelah barat yang merupakan perbukitan terjal itu adalah lokasi kerajaan Macan Putih, singgasananya Pangeran Tawangulun. Di sini, juga sering terengar derap kaki suara kuda dari kereta kencana. Konon, pondok Angin ini merupakan pintu gerbang masuk kerajaan gaib itu.

Konon, di perbukitan yang mengelilingi kaldera itulah kerajaan Macan Putih berdiri. Sebuah kerajaan yang berdiri saat gunung ini meletus tahun 1638. Pusatnya terletak di puncak Gunung Raung. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Pangeran Tawangulun. Beliau adalah salah-satu anak raja Kerajaan Majapahit yang hilang saat bertapa di gunung. Keberadaan kerajaan itu sedikit banyak masih memiliki hubungan yang erat dengan penduduk setempat. Misalnya bila terjadi upacara pernikahan di kerajaan, maka hewan-hewan di perkampungan banyak yang mati. Hewan-hewan itu dijadikan upeti bagi penguasa kerajaan.

Konon, menurut masyarakat setempat, seluruh isi dan penghuni kerajaan Macan Putih lenyap masuk ke alam gaib atau dikenal dengan istilah mukso. Dan hanya pada saat tertentu, tepatnya setiap malam jum’at kliwon, kerajaan itu kembali ke alam nyata.

Pangeran Tawangulun dipercaya merupakan salah satu suami dari Nyai Roro Kidul. Setiap malam jum’at itulah penguasa laut selatan mengunjungi suaminya. Biasanya, akan terdengar suara derap kaki kuda ditempat yang sakral. Suara tersebut berasal dari kereta kencana Sang Ratu yang sedang mengunjungi sang suami Pangeran Tawangulun. Bila mendengar suara tersebut lebih baik pura-pura tidak mendengar. Jika dipertegas, suara akan bertambah keras dan mungkin akan menampak wujudnya. Bila demikian, kemungkinan kita akan terbawa masuk ke alam gaib dan kemudian dijadikan abdi dalem kerajaan Macan Putih.

Jalur Pendakian Gunung Raung
Ada dua jalur yang bisa ditempuh dari Desa Ranu Pane menuju Mahameru. Tetapi kedua jalur tersebut akan bertemu di Ranu Kumbolo.  
  1. Jalur Pendakian Gunung Raung via Kalibaru (Puncak Sejati). 
  2. Jalur Pendakian Gunung Raung via Sumber Waringin (Puncak Bayangan).   

Peta Dua Jalur Pendakian Gunung Raung

Jalur Pendakian Via kalibaru

 Jalur Pendakian Via Sumber Waringin
Transportasi dan Perijinan 
Via Sumber Waringin 
Dari Bondowoso carilah angkutan menuju Wonosari dan turun di pertigaan Gardu Atta. Dari pertigaan ini kita lanjutkan dengan angkutan menuju ke desa Sumber Waringin. Dan dilanjutkan ke Pesanggrahan, yaitu pos perijinan atau basecamp pendakian ke gunung raung. Untuk ke pesanggrahan kita jalan kaki saja karena hanya berapa ratus meter saja dari tempat turunnya angkot ke desa Sumber Waringin.  
Perijinan  
Sesampai di basecamp, kita akan ketemu penjaganya, seorang ibu setengah baya, yang ramah dan baik hati. Urusan administrasi silahkan bahas sendiri dengan ibu ini. Kadang kita bisa bahas lususan perut dengan ibu ini juga, soalnya ibu ini kadang menawarkan jasa buat masakin kita, lumayan lah, daripada masak sendiri. 

Via Kalibaru 
dari Surabaya – Kalibaru bisa naik Bus 50 rb Kereta (Bisnis 70 rb / Ekonomi 24 rb) 
Perijinan Sebelum melakukan pendakian kita harus mengurus surat ijin  kepada Kecamatan, kepolisian dan perhutani (berupa izin tertulis kalo kita melakukan pendakian, waktu dan peserta), setelah selesai mengurus perijinan kita bisa cari ojek menuju rumah Bp. Suto di dusun Wonorejo Rt 01/01 Desa Kalibaru Wetan – Banyuwangi. Menggunakan ojek motor dengan harga Rp 15.000/ojek, Nama Bp. Suto yang seorang purnawirawan AD ternyata sudah cukup familiar ditelinga para tukang ojek St. Kalibaru. 
Jalur Pendakian Via Kalibaru (Puncak Sejati) 
Gunung Raung jalur kalibaru merupakan jalur pendakian terekstrim di Pulau Jawa, dimana diperlukan waktu pendakian normal selama 6 hari yang tentunay diperlukan juga fisik dan mental yang bagus serta peralatan khusus dan teknik pemanjatan untuk menggapai puncak sejatinya.Berikut ini adalah jalur pendakian dan pos yang akan dilewati untuk mencapai Puncak Sejati

Basecamp Rumah Pak Suto,– Pos1 
Dimulai dari Basecamp/rumah Pak Suto akan berjalan sejauh 5600 m, melewati perkebunan penduduk yang mayoritas adalah perkebunan kopi, dan sekitar 2,5 jam kemudian akan tiba di Pos 1(ditandai dengan sebuah rumah bekas di tengah kebun kopi milik Pak Sunarya). Di sebelah kiri jalur Pos 1 ini ada jalur menuju sungai yang merupakan sumber air terakhir di jalur pendakian ini, disini diharapakan setiap pendaki untuk mengisi perbekalan air sebelum melanjtukan pendakian, dimana minimal setiap pendaki harus membawa 10 liter air. Apabila ingin mempersingkat waktu dan efektifitas tenaga maka untuk menuju Pos 1 dapat dilakukan dengan menggunakan kendaraan ojek dari basecamp dengan harga Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 15.000,-/Orang. Pos 1 ini terletak pada ketinggian 980mdpl.

Pos 1 – Pos 2 
Dari Pos 1 berjalan akan berjalan melewati batas perkebunan dan hutan, kemudian mulai memasuki hutan yang lebar namun lebat dengan pepohonan dimana terdapat banyak pohon dan semak berduri, jalan yang dilalui belum banyak menanjak dan cenderung melipir menyisiri hutan.Diperlukan waktu normal selama kurang lebih 4 jam untuk menempuh jarak dari Pos 1 menuju Pos 2 sejauh 4130 meter. Pos 2 ini merupakan tempat camp yang terluas selama jalur pendakian dan pendaki dapat bermalam disini. Pos 2 ini terletak pada ketinggian 1431 mdpl. 

Pos 2 – Pos 3 
Dimulai dari Pos 2 inilah para pendaki akan mulai melalui track menanjak mengikuti punggungan dan tidak lagi melipir. Track yang dilalui cukup sempit dimana di sebelah kirinya adalah jurang. Diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai Pos 3, di pos 3 ini terletak persis di tengah jalur pendakian namun agak luas dan dapat mendirikan camp dengan 2 tenda.Camp 3 terletak pada ketinggian 1656mdpl. 

Pos3 – Pos 4 
Lepas dari pos 3 pendakian dimulai dengan melalui jalan landai, kemudian akan melewati turunan sebelum berpindah punggungan dan melalui jalan menanjak yang cukup panjang. Setelah kurang lebih 2 jam akan tiba di Pos 4, sebuah tanah lapang yang sempit namun dapat digunakan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian. Pos 4 terletak pada ketinggian 1855 mdpl.

Pos 4 – Pos5 
Pendakian pada rute ini masih tetap dalam satu punggungan namun track yang dilalui semakin terjal dan rapat dimana banyak terdapat pohon berduri(disarankan selama pendakian menggunakan pakaian lengan panjang), bila hujan jalur ini akan menjadi sangat licin. Waktu yang diperlukan untuk melalui rute ini adalah selama lebih kurang 45 menit. Pos 5 ini tidak terlalu luas namun sedikit di bawah pos 5 juga terdapat tempat yang cukup luas untuk beristirahat dan biasanya di area pos 5 ini digunakan untuk tempat beristirahat makan siang sebelum melanjutkan pendakian. pos 5 terletak pada ketinggian 2115 mdpl.

Pos 5 – Pos 6 
Setelah beristirahat di pos 5 bersiaplah kita untuk melanjutkan pendakian yang semakin berat dimana jalurnya semakin terjal serta tipis dimana kanan-kiri jurang untuk itulah diharapkan berhati-hati saat melintasi rute ini. Rute ini tidak terlalu lama karena hanya sekitar 30 menit akan tiba di camp 6/Pos 3. Di pos 6 ini terdapat area camp yang berundak – undak sebanyak 3 undakan dan dapat digunakan untuk tempat bermalam. pos 6 terletak pada ketinggian 2285 mdpl.

Pos 6 – Pos 7 
Pendakian pada rute ini semakin berat dimana akan semakin mendekati puncak Gunung Wates, yang tentunya tracknya semakin terjal, jalur pendakiannya pun semakin terbuka dan udara semakin dingin diiringi angin yang semakin kencang dank abut tipis yang mulai turun menutupi jalur pendakian.Setelah sekitar 45 menit kita akan tiba di pos 7, yang merupakan camp di area terbuka, sebuah dataran yang cukup luas dan terbuka, dapat mendirikan 3 tenda. Di pos 7 ini kita dapat menikmati pemandangan negeri di atas awan yang sangat indah, dimana di depan terdapat puncak gunung wates, sebelah kiri dan kanan kita dapat melihat berjajar punggungan serta lembahan, dari kejauhan juga mulai tampak puncak raung yang berbentuk bebatuan, apabila malam dan kondisi cerah pemandangan bintang-bintang yang bertebaran di langit yang memancarkan sinarnya serta gemerlap lampu-lampu di perkotaan yang tampak dari kejauhan akan menjadi pemandangan yang dapat kita nikmati di malam hari, di pos 7 ini pun mulai terdapat bunga edelweisss yang apabila mekar menjadi pemandangan indah bagi kita. Kondisi di pos 7 ini tanahnya rawan longsor dan juga udara dingin serta angin yang berhembus kencang dikarenakan areanya yang sangat terbuka, untuk itulah agar berhati-hati jika ingin bermalam di pos 7 ini. pos 7 terletak pada ketinggian 2541 mdpl.

Pos 7 – Pos 8 
Perjalanan dari pos 7 menuju pos 8 diawali dengan melewati punggungan terakhir menuju puncak gunung wates selama sekitar 45 menit, sementara itu jalurnya cukup terjal dan rapat oleh pohon berduri. Dari puncak gunung Wates pendakian dilajutkan dengan melipiri punggungan yang sangat tipis dengan bibir jurang yang sangat membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian. Setelah berjalan melipir kita akan mulai melalui track menanjak dimana mulai terdapat vegetasi khas puncak gunung. Total waktu menuju pos 8 ini adalah sekitar 2 jam perjalanan normal.pos 8 terletak pada ketinggian 2876 mdpl. 

Pos 8 – Pos 9 
Inilah rute terakhir yang harus dilalui sebelum mencapai puncak gunung raung, pada rute ini jalurnya semakin terjal, mulai banyak bunga edelweiss, vegetasinya pun semakin jarang dan pepohonan tua yang menjadi ciri khas sebelum puncak gunung. Setelah berjalan sekitar 1 jam barulah kita tiba di pos 9 yang merupakan camp terakhir yang dapat kita gunakan untuk beristirahat, di pos 9 ini merupakan batas vegetasi sebelum melewati bebatuan untuk mencapai puncak raung. Pos 9 terletak pada ketinggian 3023 mdpl.

Pos 9 – Puncak Raung 
Dari pos 9 yang merupakan batas vegetasi selanjutnya kita berjalan selam lebih kurang 10 menit dan akan tiba di puncak semu gunung raung 3154mdpl, tak jarang puncak ini juga dinamakan puncak kalibaru sebagai mana jalur pendakian ini. Di atas puncak gunung raung inilah kita kembali dapat menikmati keindahan negeri di atas awan, dimana dapat memandangi indahan awan yang serasa begitu dekat dan sejajar dengan kita, dari kejauhan tampak menjulang deretan punggungan gunung argopuro dan semeru, sementara pada arah sebaliknya dapat memandangi laut dan pulau Bali di seberang sana, selain itu di depan kita telah tampak jalur menuju puncak sejati yang sangat menantang, bebatuan dengan kanan kiri jurang dalam yang cukup memacu adrenalin kita sebelum menapakinya, dan yang tidak kalah juga adalah pemandangan puncak 17 yang berbentuk piramida yang seoleh mengundang kita untuk segera mencapai puncaknya. 

Puncak Raung 
Puncak Sejati Gunung Raung Inilah rute pendakian terakhir dan juga terekstrim yang harus kita lalui untuk mencapai puncak sejati. Dimulai dari puncak raung kita berjalan turun melipiri bibir jurang lalu mengikuti sebuah jalan landai dan akan tiba di titik ekstrim yang pertama. 

Di titik ini kita harus melipir tebing bebatuan dimana di sebelah kanan adalah jurang sedalam 50 meter, untuk itulah di titik ekstrim pertama ini kita memasang jalur pemanjatan kurang lebih 5 meter, di jalur telah terpasang 1 buah hanger, 1 bolt dan di titik anchor atasnya terdapat pasak besi yang telah tertanam, dapat digunakan sebagai anchor utama. Setelah melewati titik ekstrim 1 kita terus bejalan menanjak menuju puncak 17/piramida,sampai pada titik ekstrim yang kedua yaitu 10 meter sebelum puncak 17. 

Disini kita kembali harus membuat jalur pemanjatan, dimana leader melakukan artificial climb selajutnya setibanya di puncak 17 memasang fix rope untuk dilalui orang selanjutnya dengan teknik jumaring. Selanjutnya perndakian dilakukan dengan melipir dan menuruni bibir jurang yang tipis sekali, disini merupakan titik ekstrim ketiga yang juga harus dipasangi pengaman bisa dengan menggunakan tali kernmantel ataupun dengan membentangkan webbing sejauh kurang lebih 10 meter. 

[tebing-tusuk-gigi.jpg]
Selepas dari titik ekstrim ketiga ini kita terus berjalan agak landai menelusuri jalan setapak yang sangat tipis sekali dengan kanan kiri jurang sedalam 50 meter. Akhirnya tibalah kita di titik ekstrim yang keempat/terakhir dimana kita harus memasang jalur untuk menuruni tebing 15 meter dan menggunakan teknik rappelling untuk mencapai ke bawah. Sesampainya di bawah kita masih harus melanjutkan perjalanan, agak berjalan menurun ke bawah kita tiba di sebuah tempat lapang dan teduh yang biasanya digunakan untuk tempat beristirahat sebelum melalui tantangan terakhir yaitu mencapai puncak tusuk gigi(bentuknya menyerupai tusuk gigi) dan puncak sejati. 

[dinding-kawah.jpg]
Dari tempat istirahat ini perjalanan kembali menanjak dengan tingkat kemiringan yang cukup terjal dimana jalur yang harus dilalui adalah batuan lepas dan berpasir yang apabila diinjak rawan sekali untuk longsor, untuk itulah diperlukan kehati-hatian dan menjaga jarak antar pendaki selama melewati track ini agar apabila longsor batuan lepas tersebut tidak membahayakan pendaki di bawahnya. Setelah mengakhiri tanjakan pada track bebatuan ini tibalah kita di puncak tusuk gigi yang tedapat banyak bebatuan besar,setelah itu dari puncak tusuk gigi kita melipir ke belakang dan kemudian berjalan agak menanjak sekitar 100 meter tibalah kita di tempat yang menjadi tujuan akhir dari pendakian ini, ya itulah PUNCAK SEJATI GUNUNG RAUNG 3344 MDPL, ditandai dengan sebuah triangulasi dan plang puncak sejati serta pemandangan sebuah kawah besar yang masih aktif yang setiap saat mengeluarkan asapnya.
[curah-malang.jpg]
Catatan : 
  • Pada saat melakukan pendakian disarankan para pendaki menggunakan pakaian safety (baju dan celana panjang, jika perlu dilengkapi geiters dikarenakan jalur yang dilalui banyak pohon berduri, dan pacet, serta hutan yang rapat). Setiap pendaki minimal membawa 10 liter air dikarenakan sumber air hanya terdapat di pos 1, dan untuk mengantisipasi kekurangan air di setiap camp disarankan membuat penampungan air/tendon(paling sederhana dengan membuatnya dari botol aqua besar yang dipotong terlebih dahulu). Pada saat menuju puncak sejati, tenda dan perlengkapan lainnya ditinggal di pos 4, dan hanya membawa daypack berisikan makanan, minuman dan perlengkapan pemanjatan(perlengkapan standar :tali kernmantel statis min 1 buah dengan panjang min 30 meter, webbing, carabiner screw dan non screw, jumar, figure of eight, prusik, harnest serta untuk mengantisipasi dapat pula membawa pasak besi untuk anchor tanam)

Jalur Pendakian Via Sumber Waringin 
Pondok motor 
Inilah shelter pertama, biasanya ada beberapa menawarkan jasa ojek ke tempat ini. Lumayan, kita bisa hemat waktu. Karena dari basecamp ke pndok ini kalau jalan kaki kita membutuhkan energy dan waktu untuk menempuh kurang lebih 8 Km, dan biasanya di tembuh sekitar 4 jam. Dan ingat! Tidak ada sumber air di gunung raung kecuali di basecamp!  

Pondok sumur 
Shelter berikutnya, biasanya di gunakan untuk istirahat sejenak. Dari sekitar 6 jam perjalanan dari pondok motor. Disini tempatnya tidak begitu luas cuma cukup untuk 2 tenda saja. 

Pondok Tonyok 
Sekitar 2 jam perjalanan dari pondok sumur. Tempat ini lumayan luas, cukup untuk 4 tenda, tapi penulis mengabaikan tempat ini untuk tempat bermalam atau mendirikan tenda, karena alasan memperpendek jangkauan dari camp ke puncak.  

Pondok Demit 
Inilah tempat paling efisien untuk mendirikan camp. Ciri tempat ini adalah pohon kembar berdekatan, yang di bawahnya kita bisa mendirikan tenda, tapi cuma cukup 2 tenda saja. Dari sini biasanya dengan metode summit attack untuk pergi ke puncak. Jadi barang dan logistic kita tinggal di camp, dan melanjutkan perjalanan ke puncak. Hal ini di pilih oleh penulis karena sangat efisien, dan pendakian akan lebih ringan tanpa membawa beban. Biasanya summit attack di mulai jam 3 pagi, karena dari pondok demit ke puncak dibutuhkan waktu 2 jam, jadi kita masih bisa menikmati sunrise di puncak gunung raung.  

Pondok Mayit 
Saat kita summit attack, pasti melewati shelter ini. Ini merupakan tempat yang sangat lapang, tapi sayangnya tempatnya agak miring. Disini kita bisa mendirikan lebih dari delapan tenda.  

Pondok Angin 
Ini adalah satu-satunya shelter yang memiliki tempat tang benar-benar terbuka, disini kita merasa di ketinggian, karena pandangn yang luas dan tanpa terhalang oleh pohon-pohon yang lebat.
  
In Memoriam Deden Hidayat 
Ini merupakan batar vegetasi di gunung raung, di tempat ini terdapat prasasti in memoriam deden hidayat, adalah seorang pendaki yang tewas di gunung raung. Dari sini perjalan ke puncak mempunyai medan yang terjal dan berbatu cadas sampai mengantarkan kita di bibir kawah.  

Puncak Raung 
Untuk menuju kepuncak di butuhkan nyali yang agak memadai, soalnya jalur ke puncak kita diwajibkan berjalan di bibir kawah yang membuat kaki kita kadang merinding. Untuk kesana silahkan ambil jalur ke kiri / ke timur dengan medan yang memang menanjak. Dan pilihlah jalur yang paling aman. Ingat! Keselamatan anda tidak bisa di beli di apotek manapun!  

Suggested camp 
Untuk pendakian jalur sumber waringin, Bondowoso, penulis menyarankan untuk menggunakan pondok demit atau atasnya untuk camp. Ini disarankan jika piknikers mendaki dengan satu kali bermalam saja.  

Puncak 
Puncak gunung raung adalah salah satu dataran tertinggi di bibir kawah. Yang sebenarnya puncak yang kita daki dari jalur ini adalah titik tertinggi kedua. Puncak tertinggi pertama tidak bisa di akses dari jalur ini. Jika ingin ke puncak tertingginya maka piknikers harus mendaki via jalur selatan yaitu jalur kalibaru di Banyuwangi.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...