primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label WISATA ALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA ALAM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 April 2014

Jonge, Telaga Abadi di Bukit Kapur "Gunung Kidul"

Wisata Legenda 

Jonge, Telaga Abadi di Bukit Kapur "Gunung Kidul"

Jonge, Telaga Abadi di Bukit Kapur "Gunung Kidul"
Tidak seperti telaga-telaga lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul yang akan mengering ketika musim kemarau, telaga ini justru tetap memiliki air yang melimpah sepanjang tahun. Telaga Jonge memiliki luas sekitar 3 hektare dengan dikelilingi hutan buatan yang membuat pinggiran telaga ini terlihat teduh dan asri. Telaga Jonge terletak di dusun Kwangen, Pacarejo, Semanu.
 Berjarak sekitar 7 km ke arah timur dari pusat kota Wonosari. Lokasinya berdekatan dengan Gua Kalisuci dan Gua Jomblang yang terletak di desa yang sama. Rute yang harus dilalui sama dengan rute menuju ke Kalisuci. Hanya saja jika Kalisuci di perempatan terakhir belok ke kiri sedangkan Telaga Jonge belok ke kanan. Lokasinya tepat berada di depan SMP N 3 Semanu. Jalan yang dilalui untuk menuju telaga ini pun sudah cukup mudah dan cukup bagus. Di telaga ini terdapat makam Kiai Jonge alias Ki Sidiq Wacono alias Ki Soponyono yang merupakan sesepuh dari Majapahit.

Berkat perjuangan Kiai Jonge, telaga tersebut membawa berkah dan selalu mengayomi warga, termasuk para peziarah yang datang dengan berbagai kepentingan. Terlepas dari itu semua, tradisi ini merupakan kearifan budaya yang masih lestari dan dijunjung tinggi dalam masyarakat.

Di tempat ini juga tersedia lapak pedagang yang menyediakan makanan ringan dan menu makan siang serta untuk mie ayam, bakso, nasi dan sebagainya. Hal ini dapat dikatakan sebagai tempat khusus karena air dari tempat ini atau telaga ini tidak pernah kering hanya berkurang pada saat musim kemarau, mungkin karena beberapa tempat atau wilayah di sekitar tempat ini yang masih terjaga kelestariannya dicirikan oleh pertumbuhan pohon-pohon besar di sekitar danau ini, sehingga cadangan air tanah tidak pernah habis meskipun musim kemarau tiba. Semua orang yang datang ke sini harus menjaga lisan karena tempat ini adalah tempat yang penuh dengan sakral dan mistis. Di tempat ini juga dugunakan oleh penduduk untuk mandi setiap hari, mencuci, atau lainnya.
Makam Kyai Jonge
Kyai Jonge adalah salah satu tokoh dalam sejarah Gunungkidul. Dia merupakan pepunden dari Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Makam Kiai Jonge berada di kompleks Telaga Jonge yang berada di dusun Kwangen, Pacarejo, Semanu. Berjarak sekitar 7 km ke arah timur dari pusat kota Wonosari. Lokasinya berdekatan dengan Gua Kalisuci dan Gua Jomblang yang terletak di desa yang sama. Tidak seperti telaga-telaga lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul yang akan mengering ketika musim kemarau, telaga ini justru tetap memiliki air yang melimpah sepanjang tahun. Telaga Jonge memiliki luas sekitar 3 hektar dengan dikelilingi hutan buatan yang membuat pinggiran telaga ini terlihat teduh dan asri.

Kiai Jonge merupakan salah satu penasehat spiritual dari Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Wonokusumo. Beliau adalah tokoh dari Kerajaan Majapahit yang meninggalkan kerajaan, namun akhirnya masuk Islam. Makamnya terdapat di tengah-tengah Telaga Jonge. Pusara dibangun di sebelah timur telaga dengan bentuk kotak, tidak persegi panjang sebagaimana lazimnya sebuah makam.

Warga harus selalu menjaga kebersihan dan kemanfaatan telaga Jonge, untuk kesejahteraan bersama. Telaga ini sangat bermanfaat bagi warga sekitar, biasanya warga sekitar memanfaatkan telaga ini untuk mencuci dan mandi. Tidak jarang pula muda-mudi datang ke tempat ini karena memang suasana yang teduh dan asri di sekitar telaga. Ada juga beberapa warung dan angkringan dari warga sekitar. Di sekitar telaga ini juga telah dibuatkan beberapa tempat duduk dari batang kayu untuk duduk menikmati keindahan Telaga Jonge.

Telaga ini dibersihkan dan dilestarikan melalui tradisi masyarakat. Bahkan dalam tradisi ini, diikuti oleh beberapa orang dari luar DIY. Mereka secara sengaja mendatangi semacam kuburan atau petilasan Kiai Jonge yang terletak di pinggir telaga Jonge wilayah Dusun Kwangen Desa Pacarejo Kecamatan Semanu. Selain itu masyarakat adat menggelar pentas seni di sekitar telaga. Ratusan orang mengelilingi telaga yang berdiri di atas tanah Sultan Ground seluas satu hektar tersebut.

Kesenian jathilan, wayangan, kethoprak dan beberapa tokoh desa setempat ikut mengiringi kirab tersebut. Kearifan lokal tersebut terus dipelihara oleh warga setempat. Dalam tradisi tersebut, menurutnya merupakan bentuk penghormatan pada sosok Kiai Jonge yang dipercaya sebagai penduduk yang paling awal menempati wilayah sekitar telaga tersebut. Mereka juga mengucap syukur lantaran airnya masih bisa terus digunakan bagi kemakmuran masyarakat.

Juru kunci telaga Jonge, Noto Karjo menjelaskan bahwa empat dusun di sekitar jonge seperti Dusun Kwangen lor, Kwangen Kidul, Jelok, Wilayu secara bergotong royong menjaga kebersihan telaga ini. Ia menunjuk tempat persemayaman Kiai Jonge yang merupakan satu-satunya makam yang berada di bawah pohon beringin yang cukup besar, di pinggir telaga yang airnya sepanjang tahun tidak pernah kering.

Bagi warga setempat, Kiai Jonge bukan hanya dipercaya bersemayam di kuburan itu, tetapi juga menunggu telaga agar tetap lestari dan air tidak kering, sehingga bermanfaat bagi masyarakat yang setiap tahunnnya menjadi korban kekeringan. Termasuk mereka tidak berani untuk merusak alam di sekitar Telaga Jonge.

Pesan selanjutnya, warga di sekitar telaga dilarang untuk saling menikah, larangan ini sangat dipatuhi oleh 5 dusun yang ada di sekitar Telaga Jonge itu sendiri. Tradisi tidak saling menikahkan anak di antara lima dusun diawali adanya perseteruan tentang penguburan jasad Kiai Jonge. Dulu kelima dusun tersebut sempat terbagi dalam dua desa, yaitu Desa Menthel dan Desa Kwangen. Kiai Jonge yang berasal dari Kwangen memperistri seorang gadis warga Desa Menthel. Masing-masing warga dari dua desa tersebut menginginkan agar penguburan jenazah tersebut berlokasi di wilayah desa mereka. Karena tak ada kesepahaman, tiap warga membangun kubur bagi Kiai Jonge baik di Desa Menthel maupun Kwangen.

Hingga kini ada dua kuburan Kiai Jonge, yaitu di tengah ladang penduduk di Dusun Mojosari serta di tengah Telaga Jonge. Awalnya pantangan ini hanya berlaku selama sembilan generasi di lima dusun tersebut, namun hingga saat ini tetap tidak ada warga yang berani melanggarnya.

Sumber: ensiklopedi gunungkidul

Minggu, 16 Februari 2014

Curug Banyunibo, Pesona Wisata Baru (Pajangan Kabupaten Bantul)

Wisata Alternatif 

Curug Banyunibo, Pesona Wisata Baru (Pajangan Kabupaten Bantul)

Curug Banyunibo – Yogyakarta memang gudangnya wisata, tak hanya budaya dan kuliner Provinsi yang menjadi satu-satunya daerah istimewa ini memiliki kekayaan alam yang melimpah untuk tujuan wisata. 

Salah satu tujuan wisata terbaru adalah Curug Banyunibo. 
Curug Banyunibo merupakan sebuah air terjun yang terletak di dusun Kabrokan Kulon Desa Sendangsari Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul, atau sekitar 24 km dari pusat kota Jogja. 

Air terjun Curug Banyunibo (sebutan yang aneh) kini menjadi objek wisata alternatif yang mulai melejit. Keberadaannya memang baru terendus oleh media sekitar satu bulan terakhir. 

Setelah muncul diberbagai surat kabar dan media televisi, objek wisata yang masih sangat alami tersebut melejit menjadi salah satu tujuan wisata khususnya kalangan anak muda.

Curug Banyunibo sendiri merupakan sebuah Air terjun yang berasal dari aliran mata air. 

Keasrian dan kealamiannya menjadi salah satu alasan mengapa obyek wisata ini banyak dikunjungi. Rata-rata pengunjung penasaran ingin mengetahui seperti apa, “wujud” air terjun tersebut. 

Curug Banyunibo menjadi salah satu air terjun yang terbesar di Yogyakarta, dan dengan ketinggian yang cukup tinggi. Air terjun ini memang memiliki badan tebing aliran yang cukup lebar sekitar 10 meter yang dialiri air dari ketinggian 35 meter. Meskipun kemiringannya tidak curam, justru membuat Curug Banyunibo terlihat eksotis, pasalnya dinding tebing yang berkontur berundak undak seperti anak tanga membuat aliran air menjadi terlihat apik. Kemiringan 70 derajat membuat pengunjung bisa memanjat dinding tebing air terjun (namun harus tetap waspada karena licin) dan mencapai lokasi atas air terjuncurug banyunibo.

Keindahan tersaji di atas Curug banyunibo

Lokasi yang menjadi favorit pengunjung adalah lokasi atas air terjun. Banyak pengunjung melakukan sesi foto foto di atas Air terjun, karena selain pemandangan hutan rakyat yang khas terpampang jelas dari ketinggian, tekstur bebatuan kapur yang berada di atas air terjun sungguh sangat indah untuk dijadikan background maupun objek foto. Selain berfoto-foto, pengunjung juga bisa melepas penat dengan mandi di Air terjun yang airnya cukup bersih dan menyegarkan.

Fasilitas masih kurang
Meskipun sudah mulai ramai akan pengunjung, namun kawasan Curug Banyunibo masih minim fasilitas. Hanya ada tempat duduk, di beberapa titik. Hal itu bisa dimaklumi, karena pengembangan wisata baru sebatas swadaya masyarakat. Namun, perkembangannya sudah cukup baik karena sudah terdapat kamar mandi, beberapa lapak warung dan juga lahan parkir yang luas. Obyek wisata alternatif Curug Banyunibo ini cukup ramai di hari biasa bisa sampai 200-300 pengunjung per harinya dan melonjak hingga ribuan pengunjung di hari libur.

Tertarik untuk membuktikan keindahannanya ?
silakan menuju lokasi sesuai denah curug banyunibo di bawah ini.

Budaya SAPARAN REBO PUNGKASAN BENDUNG KAYANGAN (Kulonprogo) Jogjakarta

 Budaya Nusantara

Budaya SAPARAN REBO PUNGKASAN BENDUNG KAYANGAN (Kulonprogo) Jogjakarta


" Sebuah acara dan upacara adat tradisi masyarakat Desa Pendoworejo di kaki tebing menjulang, pada delta dam kuno, Bendung Kayangan, beserta hamparan tanah pertanian sawah-ladang, berpagarkan lereng Penggunungan Menoreh. Prosesi utama: Kenduri “Kembul Sewudulur” dengan menu khusus, dan “Guyang Jaran” dengan atraksi jaran kepang, disertai rangkaian penggenapannya."
Penggunungan Menoreh
BUKIT KAYANGAN Hijaunya Lembah.... Hijaunya Lereng Pengunungan Menoreh

TEBING menjulang.  Tinggi sejauh pandang. Bagai menusuk langit. Kaki tebing, genangan aliran sungai. Lereng bukit-bukit, deretan Pegunungan Menoreh, hijau terpandang. 
Pohonan rindang, semak-semak hijau ikuti irama gelombang kontur perbukitan.  Di kaki bukit-bukit Kayangan,  melintang bendungan lawas. Dam irigasi teknis peninggalan zaman Belanda. Bendung Kayangan. 

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan, sebuah kalimat puitis ciptaan SH Mintardja, 

cocok buah mengenang kawasan lereng pegunungan ini.  Jauh sebelum dam irigasi teknis itu, konon, telah ada bendungan air buah karya leluhur warga setempat, Bei Kayangan.  Bendung itu pula yang menyulap lereng pegunungan dapat dioncori aliran air dan tumbuh menjadi areal persawahan menghampar hingga ke lembah terbawah. Di kawasan itu ada garis sejarah yang nyaris terlewat, meski tanda-tanda petilasan menguatkan, adanya peristiwa bermakna di masa lalu. Suatu muasal pada suatu satuan warga yang mewarisinya.

Lereng dan lembah Pendoworejo. Sawah terbentang, pada lereng berundak, mengisi seluruh cekung lembah, menyusun hamparan yang nyaman disaksikan. Pemandangan alam yang sempurna, baik kala sawah menghijau, menguning, atau saat sedang diolah berlupur-lumpur.  Puncak-puncak bukkit yang mengitar, bisa jadi tempat memandang. 

Di lembah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai daerah Watumurah, terdapat mutiara sejarah tersembunyi, pesona tradisi penuh pikat, bersama dengan sejumput misteri yang menyelimuti.

DIMANAKAH ?                                    
BENDUNG KAYANGAN
Status administrasinya : terletak di Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kabuapten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Posisi gerografisnya, di lereng Pegunungan Menoreh sisi timur. Untuk mencapainya, cukup mudah. Dari kota Yogyakarta, 23 kilometer kea rah barat. Tegak lurus dari Tugu, langsung menyusur Jalan Godean. Selepas Pasar Godean, terus lurus kea rah barat, melewati Kali Progo hingga perempatan Kentheng, Kecamatan Nanggulan.

Perempatan ini, jika ke kiri (selatan) menuju Kecamatan Nanggulan hingga Kota Kecamatan Sentolo yang terletak di jalur Yogya-Wates. Jika belok kanan (utara) menuju Kecamatan Kalibawang dan bisa diteruskan hingga Muntilan, Mendut, Borobudur dan Magelang.

Menuju Bendung Kayangan, dari perempatan Kentheng lurus ke barat ke arah Kecamatan Girimulyo. Tidak terlalu jauh, dan jalanan makin menanjak. Tatkala mencapai tanjakan mendaki lereng bukit terdepan, sampailah di dataran Watumurah. Pada saat itu akan dijumpai sebuah kitaran perbukitan memagar dengan lembah persawahan yang menghampar. Sebuah lembah dengan gunung gemunung, lebat menghijau, mengitar menjulang.

Pada sisi barat laut area persawahan itu, terlihat tebing tinggi menjulang, dengan sebuah guratan sungai di kaki bukit. 

Disitulah Bendung Kayangan. Dengan melintas jalan raya menuju Girimulyo, mengitar persawahan, selepas melintas jembatan kecil Kali Kayangan, belok ke kanan menyusuri jalan kecil. Di penghujung jalan di kaki bukit itulah area Bendung Kayangan. Dekat dan mudah dijangkau.

Jika perjalanan diteruskan, jalan kea rah Kecamatan Girumulyo dengan tanjakan dan kelokan yang menantang, akan dicapai perbukitan dalam deret gugusan Pegunungan Menoreh yang bisa menjangkau Samigaluh di utara, Kota Wates di selatan, dan ke barat akan terjumpa Goa Kiskendo, Goa Suplawan, dan Kota Purworejo.

Mitos dan Legenda 
BEI KAYANGAN Sang Pekathik
Kisah-kisah cikal bakal, asal muasal, Bendung Kayangan.
Kembul sewu 3
SEBUAH versi cerita rakyat mengisahkan, saat Prabu Brawijaya pungkas, raja Majapahit yang mengembara menghindar dari penaklukan dan melakukan perlawanan budaya, suatu saat sampai di Lereng Pegunungan Menoreh dan sempat tetirah. Bersamadi di tepian kali sambil memandang tebing cadas menjulang. Mungkin Sang Prabu merasai adanya getaran energi yang menguatkan tekadnya untuk terus mengembara menemukan kesejatian hidup, melepas kenikmatan tahta, kalah namun tidak pernah takluk.

Dalam pengembaraan panjang menghindar dari kejaran lawan, Sang Prabu terkesan pada suasana nyaman dan tentram berada di tengah alam yang terlindung oleh pagar-pagar bukit rimbun dengan aliran sungai bening. Saat hendak melanjutkan perjalanan, Sang Prabu meminta salah satu abdi bersama sejumlah pendamping agar tetap tinggal dan membangun kehidupan di sekitar kali dan tebing itu. 


Demikianlah, setiap kali singgah di suatu tempat, Sang Prabu selalu menandainya menjadi petilasan. Di lereng Pegunungan Menoreh, Sang Prabu meminta abdi kinasihnya, seorang yang ahli dalam mengurus kuda-kuda Sang Prabu, untuk tetap tinggal dan membangun kehidupan serta perkampungan di kawasan itu. Pria pengurus kuda (pekathik) itu dikemudian hari dikenal sebagai Bei Kayangan. Seorang punggawa raja (bei) yang tinggal di lereng bukit Kayangan.

Versi cerita rakyat lainnya menyebutkan, salah seorang keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, terus mengembara menghidar dari pertikaian tanpa akhir di Majapahit. Pengembaraan berakhir ketika sampai di sebuah perbukitan berlembah yang terlindung. 

Di dekat tebing bukit dan aliran sungai, bersama dua pendamping setianya, Ki Diro dan Ki Somoito, ia menghentikan perjalanan. 

Tetirah dan menemukan kedamaian diri. Selanjutnya, mengembangkan kawasan itu menjadi pemukiman dan bercocok tanam. Guna kebutuhan persawahan dan perladangan, dibangunlah sebuah bendungan air dan saluran oncoran. Keturunan Brawijaya itu dikemudian hari dikenal sebagai Bei Kayangan, cikal bakal Dusun-dusun didesa yang kini dikenal sebagai Desa Pendoworejo.

Ketika berada di tempat itu, keahlian mengurus kuda tentu tidak ditinggalkan. Tak heran, jika Bei Kayangan mengembangkan lingkungan tinggalnya cocok untuk memelihara kuda. 
Kuda butuh pakan hijauan, air yang cukup, dan area penggembalaan sekaligus tempat melatih kuda sebagai kuda tunggang, kuda beban, dan kuda-kuda prajurit. Disamping itu, kawasan tinggal harus berkesuburan dengan menghasilkan sumber-sumber pangan. 

Bei Kayangan membuat bendungan air agar tanah dapat diolah buat bercocok tanam. Meski demikian, lereng itu tidak pernah menghapus diri sebagai kawasan tetirah dan menenangkan diri. Sembari bercocok tanam dan memiara kuda, Bei Kayangan terus setia pada perintah Sang Prabu. Kuda-kuda piaraannya, sering dimandikan di aliran air dekat bendungan. Hingga, pada suatu saat tanpa diketahui banyak orang, Bei Kayangan menghilang bersama kuda kesayangannya. Diperkirakan, Bei Kayangan dan kudanya muksa di tempat itu.
Sebagai bentuk penghormatan kepada jasa Bei Kayangan, lahir tradisi kenduri wujud syukur kecukupan air untuk pertanian pangan dan ritual memandikan (ngguyang) kuda di aliran Bendung Kayangan. Tradisi kenduri di Bendung Kayangan itu turun temurun diselenggrakan sekali setahun, pada tiap hari Rabo terakhir di bulan Sapar. Lalu, dikenallah Saparan Rebo Pungkasan. 

Belum ada penjelasan, mengapa hari Rabo, dan mengapa pula bulan Sapar. Alasan pemilihan waktu, sejauh ini, belum dikaitkan dengan peristiwa yang dialami Bei Kayangan atau perhitungan almanak tertentu. Apakah, hari Rabo terakhir di bulan Sapar itulah diperkirakan Bei Kayangan muksa?

Di seputaran Bendung Kayangan, ada sejumlah makam kuno. Beberapa di antaranya, belum dapat terjelaskan. Tugas sejarah buat menyingkapnya, perkenan para ahli pikir mengungkapnya.

Demikianlah kisah lahirnya tradisi Saparan Bendung Kayangan. Mirip kisah-kisah Saparan di tempat lain, banyak yang mengambil sumbu kisah Brawijaya V, kisah abu-abu masa akhir keruntuhan Majapahit. Kisah keruntuhan kerajaan Majapahit dan raja Brawijaya terakhir yang mengembara, menghindar dan melakukan perlawanan, bersama para pengikut setianya. 

Kisah-kisah ini banyak digunakan sebagai rujukan dari banyak asal usul perkampungan dan tempat bersejarah (petilasan) , muasal tradisi, dan bahkan silsilah keturunan suatu kaum.
Terdapat penanda-penanda fisik pada banyak petilasan yang dipercaya sebagai peninggalan Sang Prabu. Ada pula penanda penting lain, yaitu meninggalkan keturunan, buah perkawinan dengan perempuan setempat. 

Saparan Rebo Pungkasan
Kembul Sewu Dulur menjadi salah satu tradisi yang selalu digelar dalam upacara adat Saparan Rebo Pungkasan “Ngguyang Jaran Kepang” Bendung Kayangan di Desa Pendoworejo, Kulonprogo.
Saparan Rebo Pungkasan “Ngguyang Jaran Kepang Kembul Sewu Dulur” Bendung Kayangan Kulonprogo

Kenduri, peristiwa budaya yang merata hampir ada dalam tradisi manusia. Kenduri, tradisi universal. Hanya bentuk, cara, dan isinya saja yang berbeda-beda. Pada intinya, makan bersama. 

Demikian pula dalam Rebo Pungkasan Bendung Kayangan, kenduri menjadi mata acara utama. Diceritakan, tradisi kenduri massal di area bendungan ini sudah berlangsung turun temurun dan tidak diketahui lagi awal mula dan muasalnya.  
Berlangsungnya Kenduri :

Ketika hari Rabu terakhir di bulan Sapar tiba, setiap rumah tangga (somah) di dusun-dusun Ngrancah, Kalingiwa, Turusan, Krikil, Banaran, Kepek dan Gunturan bersiap dengan serangkaian menu siap saji yang dimasak sendiri. Menu utama yang mereka siapkan: bothok lele, panggang mas, dan nasi golong. Semuanya tanpa dibumbui garam. Menu variasi dan tambahan, boleh disertakan. Biasanya, urap sayur mayor, lauk pauk ala kadarnya. Sementara itu, menu unggulan disediakan oleh Lurah. Biasanya, berupa satu ingkung ayam jago utuh.

Hebatnya, meski disiapkan menu khusus, namun tidak satupun yang disiapkan sembagi sesaji seperti upacara tradisi pada umumnya. Di Bendung Kayangan, seluruh menu makanan yang dibawa ke area kenduri untuk dimakan bersama. Sebelum makan, dilangsungkan doa bersama.

Apa itu bothok lele?
Bothok lele, masalah berbahan baku ikan lele. Dibersihkan dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Dicampur dengan adonan bumbu rempah mirip bumbu pepes tanpa daun kemangi, dengan tambahan parutan kepala yang belum terlalu tua. Dibungkus dengan daun pisang dan dikukus hingga masak. Lele bumbu bothok. Khusus dalam upacara ini, bothok lele dilarang menggunakan bumbu garam. Tanpa garam.
Konon, Bei Kayangan yang tinggal di dekat Bendung Kayangan, menyukai masakan bothok ikan lele. Lele, diambil dari sungai. Mungkin. Mengapa harus tanpa garam? Menurut sumber setemat, itu dimaksudkan sebagai pepeling atau nasihat dari Bei Kayangan, bahwa saat menikmati makanan lezat, harap diingat bahwa kelezatan itu karena peran garam. Tanpa garam semua menjadi tawar dan hambar. Karena itu, jika mendapatkan kenikmatan selalulah bersyukur, sekaligus tetap prihatian (bersahaja), tidak berlebihan, dan ingat jasa pengorbanan pihak lain.

Kenapa bothok? Konon, bothok salah satu jenis masakan yang menyatupadukan segala ramuan dan bahan bakunya. Juga paduan antara sumber makanan hewani dan nabati. Terbungkus dalam satu wadah dan matang bersama-sama antara bungkus, adonan bumbu, dan bahan utamanya. Bothok, menurut cerita, symbol harapan untuk senantiasa manjing ajur ajer, hidup menyatu tanpa pernah membeda-bedakan meskipun jelas-jelas semuanya punya perbedaan.

Apa itu panggang mas?
Panggang mas, sebenarnya masakan sederhana. Telur ceplok. Cara masaknya juga sederhana, dipanaskan di atas perapian melalu wajan pemanggang. Minyak goreng secukupnya saja, cukup dioleskan, lalu telur dituang begitu saja. Nyala api kecil. Panggang Mas diusahakan matang perlahan. Telor ceplok matang terpanggang, bukan matang tergoreng. Panggang mas, kesat dan ranum kecoklatan. Telur panggang yang ranum keclokalatan, menyerupai warna emas.

Lagi-lagi, panggang mas dimasak tanpa garam. Tanpa bumbu apapun. Mengapa telur ceplok? Ceplok artinya memasak telur tidak dengan mengaduk cairan putih dan kuning telurnya. Tidak seperti dalam memasak dadar. Langsung, kuning dan putih telor dituang ke pemanggangan. Konon, sebagai nasihat bahwa orang harus ingat sangkan atau asal muasal, dari bibit (winih) yang dilambangkan telur. Siapapun bermula dari bibit yang sama, tugas setiap manusia, mengubah bibit itu menjadi emas, menjadi sesuatu yang berharga.

Apa itu sego golong?
Sego golong, adalah nasih putih yang disajikan dalam bentuk golong, atau bulatan yang rapat dan berpermukaan halus, rata dalam lengkung yang harmonis. Sego golong melambangkan persatuan dan kesatuan kekuatan utama dari para warga.  
Rumah Makan Kertasari | Nasi Golong
Nasi sumber kekuatan utama, dan para pemakannya harus bersedia untuk golong gilig, sesia sekata, bahu membahu, dan bergotongroyong berkerjasama dalam hidup seharihari. Dengan cara disajikan dalam bentuk golong, nasi akan mudah disantap dan tidak tercerai berai.

Apa itu ingkung?
Ingkung itu ayam dipotong dan dibersihkan,  dimasak utuh dengan cara direbus bersama bumbu rempah-rempah sederhana. Saat menjelang masak, santan kental dimasukkan kedalam rebusan bumbu dan ayam. Ayam gurih yang tersaji utuh. Ingkung ayam ini bukan sajian keharusan dalam Rebo Pungkasan Bendung Kayangan ini melainkan hanya simbol kesediaan pemimpin desa member yang terbaik bagi warganya.
Jelas sekali, seluruh masakan yang diperlukan dalam kenduri ini berasal dari sumber-sumber local dan tersedia di lingkungan desa. Tidak perlu mencari-cari sajian kenduri yang aneh-aneh. Bei Kayangan mengajarkan kesederhanaan, kerukunan, kebersamaan, dan menghindari kesia-siaan.

Semua menu disiapkan oleh setiap somah atas biaya sendiri. Porsi tiap-tiap menu, secukupnya saja, tidak berlebihan. Cara takar porsi menu, biasanya diporporsionalkan dengan jumlah anggota keluarganya. Meski demikian, tetap disiapkan sesuai kemampuan. 

Seluruh masakan ditata di dalam tenong. Tenong, semacam benjana dari anyaman bambu, lingkar berwengku, terdiri dari alas di bawah dan sungkup penutup di atas, bisa difungsikan buka dan tutup, menjadi alat tradisional untuk taruh, bawa, kirim, masakan dan makanan.  Menu utama, nasi golong, panggang mas, dan bothok lele menjadi semacam keharusan. Lainnya, bersifat manasuka. 

Selesai ditata dalam tenong, pada siang hari saat waktu makan siang, isan gawe, warga laki dan perempuan, mengangkat tenong menuju delta Bendung Kayangan. Perjalanan mereka menuju lokasi kenduri, berderet berjajar, melangkah perlahan menyusuri lereng, menyunggi tenong di kepalanya, mengalir hingga area perhelatan. Di area perhelatan, sudah disiapkan tikar ala kadarya, penduh ala kadarnya, lalu warga menurunkan tenongnya, menjajarkan dengan tenong-tenong warga lainnya. Sembari menunggu kedatangan warga lainnya, mereka duduk-duduk menunggu sembari bercanda dan mempercakapkan kehidupan sehari-hari mereka. 

Di antara hidangan dalam tenong itu, ada satu tenong yang disiapkan Lurah. Isinya, plus ingkung ayam jago. Hidangan paling istimewa. Air kali terus mengalir. Angin terus menghembus. Para pemilik kuda kepang, siap dengan kuda mereka masing-masing. Panas siang seakan meredup di antara segarnya alam dan gemericik air yang terus mengalir. Tebing bukit seakan memberi penahan dan perlindungan.  Seluruh yang hadir, bergabung dengan ratusan warga yang sedang menghadapi barisan tenong-tenong. Ketika para pembesar desa telah tiba dan semua warga telah terkumpul, dimulailah ritual kenduri bersama itu. Khidmat, warga memulai kenduri.
Sungkup tenong dibuka. Pak Lurah memberi pidato ringkas. Semua yang hadir, warga, para pemilik kuda kepang, dan tetamu dari manapun datangnya dan siapapun mereka diajak untuk bersama-sama mendekat. mBah Modin, tetua desa mulai mengumandangkan doa-doa. Semua takzim mengamini. Doa syukur pun dikumandangkan ringkas dan bersahaja. 

Selesai, maka seluruh warga dan siapapun yang berada di tempat itu, diajak bersama menikmati seluruh hidangan yang disajikan. Semua boleh menikmati sepuasnya, boleh memilih tenong milik siapapun. Ingkung ayam yang disediakan Lurah pun dibagi-bagi semerata mungkin. Beralaskan daun pisang, mereka lahap makan di tepian bending, aliran dan genangan air. Pesta rakyat itu menghilangkan sekat-sekat tanpa batas, mereka setara menikmati yang ada. Tak ada hidangan yang diperebutkan, tidak ada yang terbuang. Kalaupun tersisa nanti akan dibawa pulang. Tidak ada yang mubazir.

Atas hakikat pesta rakyat, kenduri bersama ini sebagai bentuk mengajak siapapun yang dating untuk bersama menikmati hidangan, makan bersama, maka istilah adat yang semula hanya disebut “KENDUREN”, diubah pada tahun 2007 menjadi “KEMBUL SEWUDULUR” yang bermakna makan bersama seribu saudara. Makan bersama dengan orang banyak, membangun persaudaraan. KEMBUL SEWUDULUR lebih sebagai sarana pengeratan warga dan persaudaraan antar umat manusia.

GUYANG JARAN
Kuda Betulan dan Kuda Kepang
saparan rabu pungkasan tradisi adat budaya kulon progo girimulyo pendoworejo nanggulan kenteng godean jathilan ngiwa gunturan majapahit brawijaya kuda ngguyang jaran kembul sewu sedulur sedhulur
Memperagakan Mbah Bei Kayangan yang sedang memandikan kuda.
Itu kuda jathilan umurnya sudah beratus-ratus tahun.
Pada awalnya, diperkirakan, tradisi ini bersifat ritual tahunan. Memandikan kuda piaraan dengan air Bendung Kayangan. Dipercaya, Bei Kayangan seorang pekathik kuda yang tangguh. Terampil dalam merawat dan melatih kuda. Bendung Kayangan yang dibangunnya di masa lalu pun tidak lepas dari kebutuhan perawatan kuda, disamping untuk kebutuhan irigasi pertanian. Para pemilik kuda di seputaran Bendung Kayangan di masa lalu, mungkin, punya keyakinan tertentu atas manfaat air bendung kayangan bagi kuda-kuda mereka.

Tatkala kuda tak lagi menjadi hewan piaraan untuk membantu kerja manusia, karena tergantikan kendaraan bermesin, maka entah sejak kapan acara ritual itu diubah dengan memandikan kuda kepang, modifikasi figure kuda sebagai alat menari dalam pertunjukan seni tradisi. Alat itu terbuat dari anyaman bamboo yang dihias dan dicat warna warni, menjadi barang seni. Yang terang, banyak grup kesenian yang mengirim kuda kepangnya untuk dimandikan pada Rebo Pungakasan di Bendung Kayangan ini. Kuda kepang dimandikan, dibersihkan, dijamas dengan air Bendung Kayangan.

Prosesi memandikan kuda ini mungkin juga untuk memperkuat kenangan kepada leluhur warga, Bei Kayangan yang pecinta kuda. Kehadiran kuda yang dirawat dengan baik (dimandikan/dibersihkan) seakan menjadi proses pemuas dan pelega, sesuatu yang menggembirakan bagi Bei Kayangan. Tradisi turun temurun.

Prosesi ini dilangsungkan setelah Kembul Sewudulur. Di aliran Kali Kayangan itu, kuda-kuda kepang dimandikan dengan air sungai. Kuda kepang, yang biasa digunakan untuk menari kuda lumping, reyog, dan jathilan dimainkan oleh para penarinya dan dibawa masuk ke dalam genangan aliran air sungai. Para penari dan kuda kepang yang dinaikinyapun basah kuyup. Para warga yang selesai pesta rakyat makan bersama pun bisa tergelak menyasikan para pengguyang jaran itu.

Disamping upacara ritual, memandikan kuda kepang di sungai itu juga sebagai hiburan bagi warga dan tetamu Kembul Sewudulur. Akan lebih menarik, prosesi ini tergarap dalam komposisi seni pertunjukan ritual yang menggugah rasa ingin tahu para penghadir.


Rebo Pungkasan
Sajian Wisata Berbobot

Upacara adat tradisinya, menarik. Lain dari Rebo Pungkasan di tempat lain. Lokasi prosesi, menantang. Ada bukit, lereng, sungai, hutan, perkampungan, sawah, ladang, dan seni kerajinan. Letak strategis, di lintas wisata Yogyakarta -- Borobudur – Mendut dan Pantai Selatan serta Pegunungan Menoreh. Ragam wisata alam, agro, arkeo, komunitas, minat khusus, pasar tradisional, budaya, dan seni pertunjukan, bisa tersedia. Bendung Kayangan, gerbang utama Kulonprogo. Persinggahan penting kunjungan wisata ke Yogyakarta ***
////Source : dari berbagai sumber net///

Rabu, 12 Februari 2014

Gunung Kelud JAWA TIMUR dan LEGENDA TERSEMBUNYI (Dewi Kili Suci dan Anglingdarma)

Wisata Gunung 

Gunung Kelud JAWA TIMUR dan LEGENDA TERSEMBUNYI  (Dewi Kili Suci dan Anglingdarma)

Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi Kelut yang berarti "sapu" dalam bahasa Jawa; dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet, atau Kloete) adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang , kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri.
Berkas:Kelut.jpg
Gunung Kelud dengan danau kawah Ketinggian 1.731 m (5,679 kaki)
Morfologi
Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. 

Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia.

Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah (hingga akhir tahun 2007) yang membuat lahar letusan sangat cair dan membahayakan penduduk sekitarnya. Akibat aktivitas tahun 2007 yang memunculkan kubah lava, danau kawah nyaris sirna dan tersisa semacam kubangan air.

Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. 

Pada tahun 2007 munculnya kubah Lava yang semakin hari, perlahan-lahan, tumbuh besar dan semakin membesar hingga mencapai ketinggian sekitar 280 meter dengan diameter 600 meter. 
Proses pertumbuhan kubah lava itu sudah berhenti dan sekarang biasa disebut dengan
'Anak Gunung Kelud'.
PhotobucketPhotobucket
Anak gunung kelud, gunung termuda di dunia
Gunung Kelud memiliki tiga puncak, yaitu : 

  1. Puncak Gajah Mungkur di sisi Barat, 
  2. Puncak Kelud pringgondani.di sisi Timur Laut dan 
  3. Puncak Sumbing di sisi Selatan. 

Puncak Gajah Mungkur di sisi Barat
Gunung Sumbing di sisi Selatan di area Gunung Kelud
Panorama alam di sekitarnya sangat bagus. Pemandangan matahari terbit di kawasan ini memiliki keunikan, yaitu dengan bias pelangi di sekeliling bola matahari.
Tentunya menjadi pemandangan baru yang begitu fenomenal, keindahan tiada tara ciptaan Yang Kuasa,

Menuju gunung kelud di malam hari, dan menginap di homestay pemukiman warga berkisar Rp 100.000 s/d 200.000 di kaki gunung kelud, lalu melanjutkan perjalanan di pagi hari pukul 05:00, demi mendapatkan pemandangan dan momen-momen cantik, saat mentari pagi menyapa alam Gunung Kelud. 

Tiket masuk kawasan wisata Gunung Kelud :
Hari biasa : Rp. 5000,- dan Hari Sabtu, Minggu & hari Libur : Rp. 10.000,- 

Dari Pos Gerbang Masuk untuk menuju ke area wisata Gunung Kelud, masih harus menempuh perjalanan sekitar -/+ 9 km. lagi.

Obyek Wisata
Di kawasan wisata Gunung Kelud terdapat beberapa obyek wisata. Ada pemandangan matahari terbit dari puncak Gajah Mungkur, Wisata Malam Anak Gunung Kelud; juga ada tempat aliran air panas.
Aliran sungai air panas Gunung Kelud dan Kolam air panas gunung kelud

Untuk bisa menikmati obyek wisata di kawasan ini diperlukan kaki yang kuat untuk menempuh banyak anak tangga. Mendaki ke Puncak Gajah Mungkur, pengunjung harus mendaki 492 buah anak tangga. Sedangkan untuk ke aliran air panas kurang lebih ada 1.000 buah anak tangga.

Gunung Kelud dari Aktif Normal hingga Awas
GUNUNG KELUD SEBELUM 
DINYATAKAN TERTUTUP (bawah).
Foto 9 Juli 2007 : Lendy Widayana / IndonesiaDiscovery Research
Arah menuju kawah dengan latar belakang lereng Sumbing.
Terowongan Gresco 2 menuju kawah sepanjang 100 meter 
yang menembus Puncak Gajah Mungkur.
Bibir kawah Gunung Kelud.
Danau kawah Gunung Kelud.
Gelembung kawah Gunung Kelud.

Aktivitas Gunung Kelud
Sejak abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa.

Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.
Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM De krater van de Gunung Kelud na de vulkaanuitbarsting van 1901 TMnr 60025875.jpg
Gunung Kelud 1901
Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Solfataren in de krater van de vulkaan Gunung Kelud TMnr 10023721.jpg
Gunung Kelud 1919
Letusan 1919
Letusan ini termasuk yang paling mematikan karena menelan korban 5.160 jiwa , merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km, meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan lahar pada tahun 1905. 

Selain itu Hugo Cool pada tahun 1907 juga ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik.

Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan. 

Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik.
Letusan 2007
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.


Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.

Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.

Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3).

Danau kawah Gunung Kelud praktis "hilang" karena kemunculan kubah lava yang besar. Yang tersisa hanyalah kolam kecil berisi air keruh berwarna kecoklatan di sisi selatan kubah lava.
Berkas:Kelud 2012.JPG
Gunung Kelud 2012. Kubah lava 2007 tampak di tengah, dengan latar belakang Puncak Kelud. Di sebelah kiri adalah bagian dari Puncak Gajahmungkur.
Tumpukan Lava di Gunung Kelud Picu Letusan Besar
Wisatawan melihat kubah lava atau biasa di sebut anak Gunung Kelud di kawasan wisata Gunung Kelud, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (11 Agustus 2013). Saat ini kawasan wisata ini tertutup untuk wisata. TEMPO/Aris Novia Hidayat
Status Awas di Tahun 2014
Letusan Gunung Kelud Akan Jadi Paling Dahsyat

Petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperkirakan jika meletus, maka letusan Gunung Kelud akan sangat dahsyat. Hal ini karena tumpukan material lava di perut bumi sudah cukup banyak sejak krisis erupsi 2007.


“Terlalu banyak material dan gunung ini terlalu lama menahan,” kata Kepala Pos Pemantauan Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri Khoirul Huda kepada Tempo, Senin 3 Februari 2014. Menurutnya peningkatan aktivitas vulkanik saat ini cukup mengkhawatirkan.

Khoirul mengatakan rata-rata setiap letusan Gunung Kelud menumpahkan sedikitnya 127 juta meter kubik material dari perut bumi. Jumlah itu terpantau dari letusan pada 1990 maupun tahun-tahun sebelumnya yang relatif sama. 

Namun pada erupsi 2007, tak semua material pijar itu dimuntahkan. Petugas hanya mencatat sekitar 30 juta meter kubik saja material yang terangkat. Hal ini diduga karena pola letusan saat itu tidak bersifat eksplosif, melainkan efusif berupa lelehan lava pijar. “Sekitar 80-90 juta meter kubik material yang masih tersisa dari letusan tahun 2007,” kata Khoirul.



Sementara itu peningkatan aktivitas Kelud ini menarik perhatian Komandan Korem 082 Mojokerto Kolonel Agus Yuniarto. Bersama jajaran Kodim setempat, Agus mendatangi pos pemantauan Gunung Kelud di Desa Sugihwaras untuk meminta informasi. “Kami siap membantu sosialisasi dan evakuasi masyarakat jika diperlukan.”////Source///

Data letusan yang pernah terjadi di Gunung Kelud (sumber Pemkab Kediri dari data Dit Vulkanologi) :

  • Letusan pertama tahun 1000
  • Letusan tahun 1311, 1376, 1385, 1411, 1451, 1462, 1481, 1548
  • Tahun 1586 Korban jiwa tidak kurang dari 10.000 jiwa
  • Tahun 1641, 1716
  • 1 Mei 1752
  • 10 Januari 1771
  • Tahun 1776, 1785
  • 5 Juni 1811
  • Tahun 1825, 1826
  • Tanggal 16 Mei 1848, 24 Januari 1851, 3 & 4 Januari 1864
  • Selasa Kliwon tahun 1901, Selasa Wage 1918, Jumat Legi 1951, Rabu Wage 1966, Sabtu Wage 1990.

Gunung ini tercatat dalam naskah-naskah periode klasik Indonesia seperti Pararaton dan Perjalanan Bujangga Manik sebagai Gunung Ka(m)pud dan menjadi objek pemujaan. Tokoh Dewi Kili Suci dan Anglingdarma dikaitkan dengan gunung ini.

Antara Dewi Kili Suci
Lembu Sura dan Mahesa Sura
Legenda Gunung Kelud

keberadaan gunung itu ada legenda tersendiri yang menceritakan asal muasal terjadinya gunung itu. Konon gunung itu bukan berasal proses alami, melainkan akibat dari sebuah pengkhianatan cinta. ...................................................................................................


Adalah Dewi Kilisuci, anak putri Jenggolo Manik yang konon memiliki kecantikan luar biasa. Tidak sedikit kesatria bertekuk hatinya untuk menjadikan Kilisuci sebagai istrinya.

Ternyata kecantikan itu menyentuh hati dua orang raja meski dilihat dari fisiknya bukanlah raja manusia biasa. Kedua raja itu berkepala lembu masing-masing bernama Raja Lembu Sura dan Mahesa Sura.

Mereka dimabuk kepayang karena begitu cintanya terhadap Dewi Kilisuci dan akhirnya menyatakn keinginannya untuk menyuntingnya untuk dijadikan istrinya.

Susah Menolak
Bagi putri Jenggolo Manik itu tentu susah untuk menolaknya, namun untuk menyatakan secara langsung ketidaksukaannya, dia tidak punya cara. Akhirnya muncul ide sebagai upaya untuk menolak cinta keduanya.

Dibuatlah sayembara yang kalau dipikir tidak masuk akal, karena permintaan sang dewi itu tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa.

Yakni, membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan satu lagi wangi. Kedua sumur itu harus diselesaikan hanya dalam waktu satu malam, selesai sebelum ayam berkokok.

Namun karena Lembu Sura dan Mahesa Sura sangat sakti, permintaan Dewi Kilisuci itu bisa diselesaikan dengan baik dan cepat.

Belum puas atas hasil itu, Dewi Kilisuci kembali membuat sayembara. Kedua raja itu harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Karena keduanya dimabuk kepayang, tanpa memperdulikan risikonya maka permintaan itu pun dilaksanakan juga meski sumur yang dibuat itu sangat dalam.

Tidak disangka, di saat keduanya sudah berada di dalam sumurnya masing-masing, Dewi Kilisuci memerintahkan pada perajurit-perajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu agar keduanya mati. 

Menolak Sial dengan Larung Sesaji
NAMUN sebelum Lembu Sura meninggal, dia melontarkan sumpahnya yang isinya merupakan luapan sakit hati dan balas dendam yang ditujukan pada masyarakat Kediri. “Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”.

(Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi daerah perairan dalam).

Akhirnya untuk menangkal sumpah itu hingga kini masyarakat Kediri secara rutin menyelenggarakan selamatan berupa “larung sesaji” sebagai upaya menolak sial agar warga Kediri selalu selamat.

Hingga kini acara selamatan Larung Sesaji masih terus berjalan yang digelar setahun sekali setiap tanggal 23 bulan Sura, yang diselenggarakn oleh masyarakat Desa Sugih Waras.

Termasuk adanya terowongan Ampera sepanjang hampir 1 kilometer yang dibangun untuk mengurangi volume air kawah agar tidak meluap. Terowongan yang menembus Puncak Gajah Mungkur itu ada yang menyebut dibangun pada tahun 1940 oleh Jepang, tapi ada yang mengatakan baru pada tahun 1951, dengan fungsinya sebagai jalan pembuangan lahar.

Lorong ini menjadi semakin menarik karena di saat acara ritual itu berlangsung di sepanjang terowongan dipasang lilin dan petromaks.

Bangun Tangga
Untuk menunjang objek wisata itu, Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah membangun tangga yang menghubungkan terowongan bagi pejalan kaki hingga bibir kawah yang panjangnya diperkirakan mencapai 500 meter.

Keberadaan air hangat itu untuk melengkapi keindahan kawah yang bentuknya mirip danau dengan kedalaman air antara 20 sampai 40 meter.

Bahkan sudah dibangun jalan hot mix dari Ngancar hingga perkebunan daerah Margomulyo yang sudah selesai akhir tahun 2002 lalu.

Yang menarik perjalanan menuju kawah Gunung Kelud, setelah beberapa saat melewati hutan yang lembab akhirnya lepas ke alam terbuka.

Sejauh mata memandang terlihat hamparan hijau dari perkebunan, mendekati kawah, setelah melapor ke petugas kendaraan akan melewati terowongan yang cukup untuk satu mobil saja yang tidak mungkin bisa untuk berpapasan. Tidak perlu khawatir dengan kegelapan karena sepanjang terowongan tersebut sudah dipasang lampu di dindingnya.

Gunung Kelud hingga kini telah mengalami 28 kali letusan, mulai tahun 1000 sampai 1990. Gunung ini secara kontinu dalam pengawasan Direktorat Vulkanologi dan Metigasi Bencana Geologi Bandung yang bermarkas di Desa Sugih Waras.


Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Kelud dan berbagai sumber

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...