primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label NUSANTARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NUSANTARA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Oktober 2015

DYAH AYU RETNA KEDATON (Putri Brawijaya V) atau R.Aj. RETNO DOEMILAH dan Situs umbul KENDAT (Pengging Boyolali)


DYAH AYU RETNA KEDATON (Putri Brawijaya V) atau R.Aj. RETNO DOEMILAH

Dalam Pelarian dari MAJAPAHIT salah satu putri Brawijaya V DYAH AYU RETNA KEDATON ikut ngenger atau berdiam dengan Salah satu putri Brawijaya V yaitu : Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat (Raja Kerajaan Pengging).

lokasi keraton Pengging berada diantara makam Bodean dan umbul Kendat seperti yang disebut sebut pada Babad Jaka Tingkir bahwa makam adik ratu Pembayun isteri raja Pengging Handayaningrat yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging ( Moelyono Sastronaryatmo : 1981 ) Nama Pengging itu sendiri disebutkan dalam kitab Negara Kretagama pada Pupuh XVII bait 10. Dilokalisir dikawasan sebelah barat delta Brantas yaitu daerah hulu bengawan Solo (Abdul Choliq Nawawi : 1990 ).
Berdasarkan keyakinan masyarakat, kerajaan Pengging ini dibangun oleh Prabu Aji Pamasa atau Kusumowicitro dari Kediri pada tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi ( Andjar Any : 1979)

DYAH AYU RETNA KEDATON - muksa di Umbul Kendat Pengging
dan beliau mempunyai kesaktian bisa berbicara dengan tumbuh-tumbuhan dan alam
Cerita lain : Sangat direkomendasikan 
Legenda Misteri Puteri Gunung Ledang (Putri Yang Mengasingkan diri di Gunung Terjauh dari Kerajaan Majapahit) Puteri Gunung Ledang ((R.Aj. RETNO DOEMILAH))

SITUS HINDU PENINGALAN MAJAPAHIT 
DI KABUPATEN BOYOLALI

Mata air (bs.jawa : umbul) KENDAT terletak di desa Plumputan Kecamatan Pengging Kabupaten Boyolali merupakan salah satu situs Hindu peninggalan Majapahit yang belum banyak diketahui oleh masyarakat, khususnya umat Hindu.

Nama Kendat sendiri yang dalam bahasa jawa berarti “bunuh diri” dikaitkan dengan tekad salah seorang putri raja Majapahit terakhir yaitu Kertabumi/ Brawijaya ke V (1453-1478) dalam mempertahankan keyakinannya/kepercayaan sehubungan dengan telah runtuhnya kerajaan Majapahit oleh kerajaan Demak pimpinan Bukan pimpinanan Raden Patah tetapi generasi Brawijaya V ayah dari Jin Bun atau Raden patah
yaitu Rezim Pangeran Udara dan Giriwardhana.

Nama putri tersebut adalah DYAH AYU RETNA KEDATON, yang merupakan putri ke 42, lari dari kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto ke Pengging dimana kakak iparnya yang menjadi Adipati Pengging untuk meminta perlindungan, namun setelah tahu kakak iparnya, Adipati Sri Makurung Prabu Handaningrat melakukan pamoksan bersama istri dan seorang anaknya serta seluruh abdi sekaligus keraton/kerajaannya, sang putripun dengan kesaktiannya melaksanakan hal yang sama diusianya yang masih remaja (+ 13-18 tahun).

Tempat moksanya ditandai oleh para abdi yang mengijkutinya dengan sebuah batu hitam dan diikuti dengan kemunculan mata air (umbul) yang oleh masyarakat setempat dinamakan “Umbul Kendat”.

Umbul kendat sendiri terbagi 2 walau satu tempat yaitu : 

  1. Umbul keroncong karena bunyi airnya bila didengarkan dengan seksama mirip irama keroncong dan 
  2. Umbul dandang/ penguripan yang dipercaya membuat panjang umur, awet muda, murah sandang pangan, cepat naik pangkat, menyembuhkan penyakit,  membuang kesialan, dll.

Masyarakat setempat melaksanakan Ritual Kungkum pada hari-hari tertentu, biasanya hari Jumat Paing yang juga sering disebut “Paingan”.

Selasa, 13 Oktober 2015

Sepenggal Kisah Pelarian (Istri ke II Prabu kertabumi/Brawijaya V Pungkas) Permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita


DEMAK (Prabu Udara dengan tentara Girindrawardhana) bukan raden PATAH

Sepenggal Kisah Pelarian  (Istri ke II Prabu kertabumi/Brawijaya V Pungkas)
Permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita

BRAWIJAYA V "TERPAKSA" PUNYA SELIR BANYAK....

Seperti diketahui bahw Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, dikenal sangat banyak memiliki isteri selir dari bebagai macam ras. Bisa dimaklumi, mengingat pada waktu itu Majapahit sangat berpengaruh dan memiliki banyak negeri jajahan. Setiap negeri sahabat, Cina, Champa, Melayu dll, mengirimkan puteri tercantik mereka, sebagai tanda persahabatan untuk dijadikan isteri sang raja. Negeri-negeri taklukan juga mengirimkan puteri-puteri mereka sebagai upeti tanda takluk pada Majapahit. Raja tidak mungkin menolak upeti-upeti dan tanda persahabatan tersebut dan "harus" menjadikannya sebagai isteri atau isteri selir. Itu semua memang sudah menjadi tugas & kewajiban seorang raja besar seperti Brawijaya V.

Khan adalah Brawijaya Pamungkas / penutup dengan wilayah Majapahit kecil dan tunduk pada Krajaan Demak, bukan anak dari raja Kerthabumi / Kertawijaya / Brawijay V tetapi anak dari ratunya Majapahit besar yakni Ratu Kencana Ungu dengan Raden Damarwulan / pemuda dari Talun Amba / Palamba di penggung/Ayodya-karta yang aslinya bernama Sayyid Alwi A.Khan di tinggal wafat ibunya sejak lahir dan di bawa pindah - pindah tempat oleh Ayahandanya dan sejak Ayahandanya wafat di titipkan ke wali yang mempunyai perguruan/pesantren kecil di Jawa.Tengah, setelah dewasa datang ke salah satu keluarga dari almarhum Ayahandanya yang menjadi patih sepuh di kerajaan Majapahit yakni Patih Damarmanik.

Seperti hanya Patih Damarmanik,seperti hanya Patih Damarmanik nama aslinya siapa?sebagai keluarga dengan ayah Damarwulan sebagai keluarga sedarah / ipar?tak pernah ada penjelasan dari catatan manapun, yang jelas Damarwulan datang mengabdi pada patih sepuh Damarmanik yang masih keluarga. 

Kalau Damarwulan jelas asal usulnya pada catatan persatuan habib internasional karena anaknya:Pangeran Qudbudin Alwi memakai nama Adzimat Khan seperti dirinya yakni Alwi Adzimat Khan. Jadi bisa diketahui asal usul leluhurnya.

Dari hal tersebut bisa diketahui bahwa penulis – penulis Belanda tak semuanya mencatat sesuai dengan aslinya dilihat dulu mana yang mengungtungkan penjajah/tidak. Sangat mengkhawatirkan penjajah bila di catat sesuai aslinya yang kemungkinan akan menimbulkan rasa persatuan dalam diri seluruh lapisan masyarakat hingga timbulah rasa nasionalisme yang besar yang lebih menakutkan keberadaan pemerintah Belanda di bumi Indonesia.

Tugas generasi muda lebih menggali kembali dengan kritis apapun milik nenek moyang Indonesia supaya tak brpindah tempat ke negara lain dan apaun milik bumi Indonesia/ di tangan sendiri oleh sarjana - sarjana Indonesia tidak mengekor nama – nama sarjana dari negara lain.

Pada masa itu para pendakwah - pendakwah islam dan para wali(sebelum datagnya wali 9) telah lama memenuhi kota - kota besar dan pelabuhan – pelabuhan yang berada di bumi nusantara dengan jalan berdagang. Personil mereka dari timur tengah telah banyak menikahi penduduk setempat dan banyak mempunyai gudang–gudang perdagangan pada kota - kota besar di P.Jawa,lebih- lebih Kutaraja Majapahit.

Namun setelah Ratu Suhita dan Raden Damarwulan wafat, rakyat kurang berkenan bila yang menjadi raja adalah anak dari Ratu Suhita dan Raden Damarwulan yakni Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan, sebab garis ayah bukan dari kerajaan Brawijaya, maka rakyat berkenan pada Pangeran Kertabumi (adik kandung Ratu Suhita) yang menjadi raja bergelar raja Kertawijaya/Brawijaya V (thn 1447m – 1450m)

Sejak raja Brawijaya V menjadi raja, negara sudah ada dalam keadaan pecah belah, sudah banyak negara - negara taklukan yang melepaskan diri menjadi kerajaan kecil yang berdaulat. Di dalam istana pun sudah trjadi perpecahan - perpecahan.

Majapahit telah menjadi negara lemah yang kurang berdaulat,tak ada wibawanya,keamanan sudah jauh berkurang dan perekonomian merosot tajam. Tapi didalam kas negara dan kekayaan istana terdapat koin - koin emas,permata - permata dan kekayaan lainnya yang tak trnilai harganya peninggalan kejayaan kerajaan sewaktu di pegang oleh leluhur - leluhur raja Kertawijaya/Brawijaya V yang belum pernah tersentuh pihak umum.

Semuanya itu menyebabkan kecemburuan sosial bagi rakyat dan kerajaan -  kerajaan lain yang telah lama mengincarnya.

Datanglah utusan dari kerajaan Keling Kediri yang merupakan taklukan Majapahit supaya Brawijaya V menyerahkan tahta dan kekayaannya pada raja Keling Kediri yaitu Prabu Udara,kalau tidak Prabu Udara akan mengambil tahta dengan paksa.

Pada waktu itu persatuan para wali beserta para santri - santrinya menawarkan tenaga untuk bergabung dengan tentara Majapahit melawan Prabu Udara dengan pasukannya Ghirindrawardhana. Tetapi di tolak oleh brawijaya V dan cukup beliau sendiri bersama tentara - tentara Majapahit akan melawannya sendiri. Terjadilah perang perebutan tahta yang seru,akhirnya Brawijaya V dengan tentara Majapahit kalah total, Prabu Udara menjadi raja Majapahit (th 1450m – 1477m) dan tentara Girindra wardhana menduduki pos - pos penting di Kutaraja.

Prabu Brawijaya V besrta kluarganya dan para bangsawan yang ikut beliau serta tentara - tentara yang setia kepadanya lari mengungsi keseluruh P.Jawa,terkadang dengan memakai nama samaran supaya tidak di bunuh oleh mata- mata  Prabu Udara, 
termasuk Prabu Brawijaya V sendiri memakai nama samaran Raden Gugur di desa lereng Gunung Lawu Ngawi Jatim.

Sepenggal Kisah Pelarian  
(Istri ke II Prabu kertabumi/Brawijaya V Pungkas)

Permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita

Prabu Brawijaya V semasa menjadi raja mempunyai istri selir yang di cintainya yakni Dewi Dwarawati yang berasal dari negri Chanpa / Kamboja beragama islam (merupakan bibi dr Sunan Ampel – Surabaya) namun tidak berputra, akhirnya Brawijaya V mengambil permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita dan hamil.

Dalam keadaan hamil,beliau terfitnah oleh para selir - selir yang lain yang banyak sekali,akhirnya raja terbujuk fitnah dan di usirnya permaisuri yang sedang mengandung keluar dari istana. Dengan bekal kekayaan yang banyak dari suaminya (Brawijaya V), permaisuri berlayar di iringi armada yang setia padanya yang anggotanya terdiri dari murid - muridnya Sunan Ampel (R.Akhmad Rahmatullah/Bung Swie Hoo) Surabaya yang dipimpin oleh salah satu santri pedagang dari tiongkok yaitu Sung Hing yang sakti. 

Kepergian prmaisuri bukan jalan yang aman baginya melainkan penuh bahaya sebab nyawa permaisuri dan putra mahkota dalam kandungan di incar oleh orang - orangnya Prabu Udara dan orang - orangnya para selir - selir Brawijaya V yang tidak menyukai permaisuri serta tak menyukai lahirnya putra mahkota.

Dalam situasi tidak aman rombongan armada prmaisuri yang dikomando oleh Sung Hing mendarat di pelabuhan bengkalan – P. Madura untuk menghindari kapal - kapal musuh yang mengejar permaisuri. Di P. Madura Sung Hing mengajari orang - orang Madura membuat seni tali temali / tampar.

Dalam keadaan aman,armada permaisuri berlayar terus kelautan utara Jawa. Dalam keadaan kurang aman Sung Hing mengajak mereka mendarat di pelabuhan kecil kota jepara. Selama singgah di jepara,Sung Hing mengajari orang - orang jepara seni ukir mengukir.

Kemudian rombongan permaisuri berlayar terus sampai P. Sumatra, yang mana Sung Hing meminta perlindungan bagi permaisuri putra mahkota dalam kandungan kepada penguasa Sumatra selatan yakni Adipati Pailin Bang (kelak orang - orang menyebutnya Palembang). 

Mereka diterima dan dilindungi oleh Adipati Pailin Bang beserta seluruh rakyat Sumatra selatan.
Pailin Bang adalah bekas Jendral Kepala Keamanan Putri Ong Tien Hio (putri kaisar Hong Gie tiongkok selatan) sewaktu hamil pada masa berlayar mencari suaminya yakni Waliullah Sunan Gunung Jati Lie Guang Chang dan Lie Guan Hien.

Baik Pailin Bang,Lie Guan Chang,Lie Guan Hien mereka semuanya akhirnya menjadi murid - murid setia Sunan Gunung Jati.

Hanya Pailin Bang yang di angkat oleh Sunan Gunung Jati menjadi Adipati di Sumatra selatan,sedangkan Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien tetap setia menjaga putri Ong Tien Hio hingga wafatnya. Makam mereka berada di pemakaman Keraton Kesepuhan Cirebon – Jawa barat.

Setelah Pailin Bang wafat,Sung Hing menggatikan menjadi Adipati di Sumatra selatan bergelar Adipati Arya Damar dan menikahi bekas permaisuri Raja Brawijaya V yakni Dewi Ratnajuwita. 

Yang mana putra mahkota Majapahit sudah berumur 2 tahun bernama Pangeran Jin Bun (kelak R. Patah) / Pangeran Hasan.
Sung Hing / Adipati Arya Damar dgn Dewi Ratnajuwita mempunyai anak laki - laki yang bernama Raden SungKinsan/Raden Husein yang kelak akan menjadi Adipati Terung/Lasem dan pada masa kerajaan Demak di puji oleh Raden Patah / Jin Bun berperang melawan Portugis yang ingin menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, Raden Sung kinsan berjuang bersama Raden Fatahillah (pangeran Fadilah Khan dari Gujarat – India Belakang) yang menjadi menantu Sunan Gunung Jati – Cirebon, hingga portugis kalah dan meninggalkan Sunda Kelapa (kini Jakarta)selama - selamanya dan pindah bercokol di bumi timor - timor (timor leste).

Untunglah sewaktu tentara Girindrawardhana datang menyerbu istana Majapahit sang permaisuri dalam keadaan hamil sudah terusir dari istana dan sudah dalam keadaan berlayar di lautan,jadi hanya prabu Brawijaya V beserta selir - selir dan anak - anak mereka yang mengalami serangan oleh prabu Prabu Udara dengan tentara Girindrawardhana. 

Sebagian keluarga Prabu Brawijaya V banyak yang gugur dan yang selamat melarikan diri mengungsi termasuk Prabu Brawijaya V.

Selama Majapahit dicengkram Prabu Udara dengan tentaranya,keadaan rakyat semakin susah, keamanan porak poranda;siapa yang kuat yang pro Girindrawardhana itulah yang menang. Wilayah Majapahit tinggal seperempatnya saja,banyak rakyat yang lepas mendirikan negeri sendiri - sendiri.
Rakyat yang mayoritas hindu,budha dan animisme / dinamisme sangat tertindas oleh kesewenang - wenangan tentaranya Prabu Udara. Rezim Prabu Udara hanya mencari kekayaan saja.

Agama islam sangat minoritas tetapi mempunyai perekonomian yang kuat,para pedagang - pedagang dan para pangeran - pangeran Majapahit yang beragama islam terutama anak-anak pangeran Qudbudin Alwi A. Khan (anak satu - satunya Ratu Suhita/Kencana Ungu dgn Raden Damarwulan/Alwi A. Khan) yang mana pangeran Qudbudin Alwi A. Khan dengan beberapa isterinya mempunyai anak - anak sebanyak 105 orang,50 orang wanita 65 orang laki - laki.

Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan sewaktu berdiri kerajaan Demak ,beliau diamanahi memimpin wilayah bekas kutarajasa Majakerta (majapahit kecil) yang wilayahnya kembali kecil seperti semula sewaktu baru berdiri oleh Raden Wijaya dulu, yang mana Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan setiap bulan membayar upeti pada kerajaan Demak dan Bergelar Brawijaya Pamungkas / orang pendatang terutama pedagang besar dari tiongkok menyebutnya dengan Nyoo Laywa.

Anak - anak Qudbudin Alwi A. Khan mempunyai usaha jalur perdagangan internasional dan mempunyai gudang - gudang perdagangan pada pelabuhan – pelabuhan seluruh P.Jawa.

Pada masa itulah para pendakwah – pendakwah islam dan para wali banyak menolong penderitaan rakyat, lama kelamaan membentuk organisasi sosial yang dinamakan organisasi sosial Walisongo yang mana Sembilan waliullah tersebut bergantian memimpin organisasi setiap jangka waktu tertentu yang telah disepakati mereka bersama. 

Masing – masing mereka telah mendirikan perguruan pesantren – pesantren disamping mengajarkan ilmu – ilmu agama juga mengajarkan ilmu – ilmu beladiri kanuragan,kedigdayaan,ilmu tata negara dan kesatrian yang mengajarkan cinta tanah air,juga mengumpulkan infaq,shodaqoh dan jaryah dari mereka – mereka yang mampu di bagikan untuk mereka setiap bulan kepada rakyat Majapahit yang mayoritas sedang menderita berat terjajah oleh rezim Prabu Udara degan tentaranya Ghirindrawardhana.

Seiring dengan berjalannya organisasi Walisongo yang sukses,seiring pula dengan semakin besarnya satu – satunya putra mahkota Majapahit di tanah rantau yaitu Pangeran Jin Bun/Hasan (kelak Raden Patah).
Sejak umur 10 thn Pangeran Jin Bun oleh ibunya (Dewi Ratnajuwita)dititipkan pada pesantrennya sunan Gunung Jati – Cirebon supaya mendapat pendidian agama islam hingga berumur 15 tahun. Setelah pesantrennya Waliyullah sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) di kota Kudus – Jawa Tengah, supaya lebih mendalami agama islam dan mendapat ilmu kanuragan,kedigdyaan dan kesatriyaan. 

Sewaktu berumur 17 tahun Pangeran Jin Bun berguru pada pesantrennya sunan Ampel di Surabaya untuk lebih mendalami segala ilmu terutama ilmu tata negara dan liku – liku berjalannya politik dan kehidupan tata cara istana yang mana dulu sebelum di serang oleh Prabu Udara, keraton/istana Majapahit pernah mengambil (sunan Ampel) sebagai salah satu penasehat negara sewaktu bibi sunan Ampel Dewi Dwarawati menjadi selir 1/utama nya Prabu Brawijaya V dinikahkan dengan putrinya :Dewi Candrawati walaupun sunan Ampel telah mempunyai 2 orang istri yang dibawanya sewaktu belum datang ke P.Jawa yakni Putri Raja Champa / Kamboja dan Putri Raja dari salah satu kerajaan di Tiongkok Selatan. Pada akhirnya Pangeran Jin Bun di nikahkan dengan putrinya sunan Ampel yang tertua yaitu Dewi murtasyah kelak menjadi permaisuri kerajaa Demak.

Sangat menderita,tidak nyaman dan terbelenggu kebebasan hak – hak diri rakyat di kuasai oleh penjajah,diam – diam dalam hati Pangeran Jin Bun ingin mengusir dan menghabiskan seluruh tentara Girindrawardhana dan Prabu Udara dari bumi Majapahit. 

Dianjurkan oleh Walisongo supaya pangeran Jin Bun mengabdi dulu pada Prabu Udara. Saran tersebut diikutinya yang akhirnya Pangeran Jin Bun diangkat oleh Prabu Udara menjadi Adipati di daerah Bintoro (kini demak).

Dengan jabatan tersebut memudahkan Pangeran Jin Bun menggalang persatuan rakyat dan lama – lama seluruh lapisan masyarakat berbagai keyakinan bersama sisa – sisa tentaranya Prabu Brawijaya, seluruh keluarga kerajaan yang berada di perantauan beserta Walisongo dan santri – santrinya,
mereka dikomandoi Pangeran Jin Bun berjuang bersama – sama berperang mengusir Prabu Udara dan tentaranya Girindrawardhana.

Akibatnya tentara Girindrawardhana kalah total dan Prabu Udara yang sakti meninggal di tangang sunan Kudus/Sayyid Ja’far Shodiq. 

  • Pihak Majapahit banyak yang gugur,di antaranya yang gugur terdapat Waliyullah dari tiongkok bernama Waliyullah Tan Kim Han(syekh Abdul Qodir Assyinni). Dari provinsi FU Jian/Tiongkok Selatan yang merupakan leluhur garis lurus ke atas dari pendiri Nahdlatul Ulama yakni K.H.Hasyim Asya’ri, K.H.Wakhid Hasym dan anaknya K.H.Abdur rokhman wakhid Hasym / Gusdur presiden Republik Indonesia ke 4. 
  • Makam Waliullah Tan Kim Han berada di pemakaman Troloyo – Trewulan – Mojokerto – Jawa Timur. 
Dan di antara pejuang – pejuang Majapahit yang masih hidup terdapat Waliyullah dari Madinah yang menikahi putrinya Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan/Brawijaya Pamungkas yakni Putri Dewi Kencananingrum,Waliyullah tersebut adalah Sayyid Maulana Mukhammad Fadlullah Adzimat Khan – Al kubro (Syekh Maghribi – Jawa Tengah) yang berpindah dari Majapahit ke Jawa Tengah mendirikan perguruan pesantren di pinggir laut selatan tepatnya di Parangkusumo.

Dari beliaulah menurunkan sultan – sultan mataram islam, kasunanan Surakarta/Solo,mangkunegaran,sultan – sultan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pakualaman. Makam beliau sekeluarga dan murid – meridnya brada di Parangkusumo dan terawat  rapi oleh keluarga kerajaan Ngayogyakarta maupun Surakarta sampai kini. Tidak heran kalau tanah yang berada pada pemakaman sultan – sultan Jawa di pemakaman Bukit Imogiri – Bantul – Jogyakarta adalah tanah yang diambil dari tanah mekkah Al Mukarromah dan dari Madinatul Munawarroh negeri asal Nabi Muhammad s.a.w. dan mengingatkan keluarga kerajaan sultan – sultan Jawa bahwa di antara leluhur sultan – sultan Jawa berasal dari Mekkah dan Madinah.

Dengan kemenangan Pangeran Jin Bun,di panggilnya Raja Brawijaya V di Gunung Lawu / Ngawi – Jatim oleh mereka semua untuk menduduki tahta kembali. Setelah Raja Brawijaya V bertemu mereka semuanya,raja memutuskan untuk memberikan tahtanya kepada anak kandungnya yaitu Pangeran Jin Bun dan pamit pergi ke Gunung Lawu lagi untuk bertapa (lengser Prabon madeg pandita). 

Yang mana pada akhirnya Prabu Brawijaya V / Kertabumi berguru kepada Sunan Kalijogo dan berhasil molegya (mencapai kesempurnaan diri dan telah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya,istilah hakekatnya adalah mengetahui guru sejatinya sendiri). Beliau bergelar Kanjeng Sunan Lawu. Makam Pamuksan beliau berada di Alas Ketonggo – Ngawi – Jawa Timur.

Setelah kepergian Prabu Brawijaya V ke Gunung Lawu, Pangeran Jin Bun menggatikan ayahnya menjadi raja,tetapi beliau teringat kata – kata Sunan Giri(Sayyid Ainul Yaqin A. Khan) sewaktu berhadapan dengan Pasukan Giridrawardhana dulu beliau selalu berucap 

Berkas:Surya Majapahit.jpg
"Sirna haling Kertaning Bumi’’ artinya takkan ada lagi kekuasaan yang berdiri di atas bumi Majapahit hingga akhir kerajaan dikarenakan perebutan kekusaan.Pangeran Jin Bun berunding dengan para Walisongo yang sepakat memindahkan pusat kerajaan menuju Bintoro/Demak. Yang mana seluruh barang – barang istana dan bangunan – bangunan yang penting – penting di istana di pindahan semua ke Bintoro/Demak. 

Mengenai simpanan harta benda yang melimpah ruah milik keraton Majapahit, oleh Walisongo bersepakat dengan Pangeran Jin Bun dan di depan mata para punggawa – punggawa/pejabat – pejabat, tentara – tentara Majapahit dan wakil – wakil rakyat Majapahit,……… harta karun Majapahit tersebut di titipkan pada raja – raja lelembut yang berada di seluruh pelosok P. Jawa, tiba – tiba tumpukan harta karun tersebut di depan mereka lenyap karena raja – raja lelembut datang mengambil titipan tersebut atas izin Walisongo dengan Pangeran Jin Bun.

Adanya kespekatan antara Walisongo bersamaan Pangeran Jin Bun dengan raja – raja lelembut di seluruh P. Jawa bahwa harta karun tersebut tidak boleh di berikan kepada sembrang generasi melainkan kelak diizinkan kelak buat rakyat Nusantara sewaktu di pimpin oleh Kepala Negara bergelar Satriya Pinandita Sinisihan Wahyu yang sangat amanat kepada rakyatnya,pada masa itulah hampir seluruh punggawa – punggawa/pejabat – pejabat Nusantara banyak yang jujur/amanat untuk rakyat di pegang teguh hingga kemakmuran bisa merata. 

Yang mana pada zaman tersebut rakyat umum bebas tidak membayar pajak, hanya usaha – usaha/pabrik – pabrik saja yang membayar pajak (wong cilik anemu kethok emas wong gedhe bakal gumuyu – karta jamanipun nuli negaranira rengka), begitulah istilah dalam salah satu petikan buku ,,Ramalan Jayabaya”.

Setelah adanya peralihan kekuasaan dari kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, diresmikanlah berdirinya Kerajaan Islam Demak dengan rajanya bergelar Sultan/Raja Hasan/Jin Bun. Hal tersebut ditandainya dengan diresmikannya Masjid Agung Demak pada tahun 1478 masehi. 

Yang mana setelah peresmian,malam harinya di adakan hiburan rakyat berupa pergelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi dalang adalah Wali sunan Kalijogo(Raden Sayyid/Gansie Chang) dengan dihadiri seluruh rakyat berjejal – jejal di lapangan depan masjid Demak dengan cerita besar ,"Perang Bharatayudha Jayabinangun” yang dimenangkan Pandawa/Panengen atas Kurawa/Pangiwo. Setelah melaksanakan ibadah haji di mekkah Sultan Hasan/Jin Bun bergelar Sultan Akbar Al Fattah yang mana rakyat menyebutnya Raden Patah.

Seluruh pasukan – pasukan kerajaan Majapahit yang dianggap kurang penting dikuburkan semua pada salah satu makam di belakang masjid Demak, sedangkan yang penting dibawa sendiri oleh Raden Patah/Jin Bun.

Menurut keterangan Walisongo kepada rakyat bahwa sejak kerajaan Demak berdiri adalah bukan masanya saling berebut pusaka – pusaka atau kesaktian – kesaktian melainkan setiap diri untuk merebut ajimat Kalimosodo. Maksudnya, bagi yang bukan islam adalah saling berlomba melaksanakan ibadah menyembah Tuhan Yang Maha Satu dengan cara keyakinan masing – masing yang tujuannya adalah tetap Tuhan Yana Maha Esa. Sedangkan bagi islam adalah Kalimosodo (Kalimasada) yang berarti Kalimat Syahadat yang terucap sejak dalam alam roh terus masuk ke dalam gua garba atau perut ibu terus hidup di dunia hingga alam kelanggengan tetap mengucap syahdat.

Reformasi sukses yang pernah terjadi di bumi yang dilaksanakan oleh Organisasi Walisongo karena di dasari ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ketulusan hati dalam pengabdian mengangkat taraf hidup pada rakyat jelata yang tadinya terpilah – pilah dalam kasta – kasta dan terpuruk karena gulung tikarnya sistim pemerintahan rezim Girindrawardhana, dengan adanya reformasi pelan – pelan tapi tulus walaupun bertahun – tahun namun akibatnya mengena di hati rakyat yang dengan sendirinya masyarakat merubah dirinya sendiri.

Dengan kesadaran cinta tanah air mengikuti apa yang disarankan oleh pangeran Jin Bun/Raden Patah dengan Walisongo dalam merubah sistim kenegaraan. Jadi bukan reformasi yang hanya berjalan sebagai suatu gebrakan saja penuh hingar bingar tetapi kurang mengena di hati rakyat yang akibatnya hanya menimbulkan persaingan – persaingan antar pimpinan – pimpinan maupun persaingan – persaingan antar kelompok masyarakat.

Senin, 20 April 2015

Putri Banjar ( Putri Mayang Sari ) Di Tanah Dayak

Nusantara

Putri Banjar ( Putri Mayang Sari ) Di Tanah Dayak 

Putri Mayang Sari dari Banjar
Bangunan berwarna kuning berbentuk rumah adat Banjar itu, memang agak tersembunyi di balik rimbunan pohon karet yang tumbuh subur. Kalau kita bepergian dari Banjarmasin ke Tamiang Layang dan melintasi Desa Jaar, bangunan itu tidak tampak dari jalan raya. Sebuah bangunan sekolah dasar akan menghalangi pandangan kita. Menurut tetuha adat di Desa Jaar, di dalam bangunan berbentuk rumah adat Banjar itu terdapat pusara Putri Mayang Sari. Ia adalah putri Sultan Banjar yang pernah menjadi pemimpin di Tanah Dayak Ma’anyan. Karena itu bagi orang Dayak Maanyan, bangunan unik itu mempunyai arti dan makna tersendiri. Postingan ini bertujuan memaparkan hubungan antara Urang Banjar dan Urang Ma’anyan yang bersumber dari tradisi lisan.


Putri Mayang Sari Menurut sejarah lisan orang Dayak Ma’anyan, Mayang Sari yang adalah putri Sultan Suriansyah yang bergelar Panembahan Batu Habang dari istri keduanya, Noorhayati. Putri Mayang Sari dilahirkan di Keraton Peristirahatan Kayu Tangi pada 13 Juni 1858, yang dalam penanggalan Dayak Ma’anyan disebut Wulan Kasawalas Paras Kajang Mamma’i. Sedangkan Noorhayati sendiri, menurut tradisi lisan orang Dayak Ma’anyan adalah perempuan Ma’anyan cucu dari Labai Lamiah, tokoh mubaligh Suku Dayak Ma’anyan.

Putri Mayang Sari diserahkan oleh Sultan Suriansyah kepada Uria Mapas, pemimpin dari tanah Ma’anyan di wilayah Jaar Sangarasi. Dituturkan, dalam kesalahpahaman Pangeran Suriansyah membunuh saudara Uria Mapas yang bernama Uria Rin’nyan yaitu pemimpin di wilayah Hadiwalang yang sekarang bernama Dayu. Akibatnya, Sultan Suriansyah terkena denda Adat Bali, yaitu selain membayar sejumlah barang adat juga harus menyerahkan anaknya sebagai ganti orang yang dibunuhnya.


Setelah Uria Mapas meninggal dunia, penduduk setempat mengangkat Putri Mayang Sari untuk memimpin daerah Sangarasi yang sekarang bernama Ja’ar –lima kilometer dari Tamiang Layang. Kepemimpinan Mayang Sari sangat diakui masyarakat setempat, karena selain putri dari seorang Sultan Banjar, ia adalah saudara angkat Uria Mapas Negara. Dalam tradisi Dayak Ma’anyan, Putri Mayang Sari dicitrakan sebagai perempuan berambut panjang dan berparas cantik. Namun bukan hanya kecantikan yang mempesona dimilikinya, tetapi kemampuan menyejahterakan rakyat di wilayah yang dipimpinnya. Dituturkan, pada masa hidupnya Putri Mayang Sari tidak pernah diam. Ia rajin mengadakan kunjungan ke desa untuk mengetahui kehidupan rakyat yang sebenarnya, dan secara khusus untuk mengetahui bagaimana ketahanan pangan masyarakat. Ia selalu mengawasi bagaimana hasil panen masyarakat. Untuk meningkatkan hasil panen, Putri Mayang Sari menganjurkan agar penduduk menanam padi di daerah berair, karena hasil panennya lebih baik daripada di daerah kering (tegalan).

Rute kunjungan Putri Mayang Sari setiap tahun adalah melewati daerah Timur yakni Uwei, Jangkung, Waruken, Tanjung. Kemudian daerah Barat yaitu Tangkan, Serabun, Beto, Dayu, Patai, Harara dan kembali ke Jaar Sangarasi. Menurut kepercayaan orang Dayak Ma’anyan, daerah atau wilayah yang dikunjungi atau dilewati Putri Mayang Sari itu selalu mendapat berkah-keberuntungan, misalnya pohon buah berbuah lebat. Konon, buah langsat di daerah Tanjung yang terkenal manis dan disenangi banyak orang adalah karena daerah Tanjung adalah tempat singgah Putri Mayang Sari. Kendati beragama Islam, dalam menjalankan pemerintahannya Putri Mayang Sari menggunakan sistem mantir epat pangulu isa yaitu sistem pemerintahan tradisional Dayak Ma’anyan. Dalam pola kepemimpinan ini, satu wilayah ditangani empat pemimpin (mantir) dan satu pengulu. Empat mantir mengurus masalah pemerintahan, sedangkan pengulu mengatur seluk beluk Hukum Adat. Dalam pemerintahannya memang ada dua hal yang diprioritaskan, yaitu terpenuhnya kebutuhan pangan rakyat dan tegaknya Hukum Adat yang bagi orang Dayak Ma’anyan adalah tata aturan kehidupan.

Setelah mengalami sakit selama tiga hari, pada 15 Oktober 1615 atau dalam penanggalan Dayak Ma’anyan disebut Wulan Katiga Paras Kajang Minau, Putri Mayang sari wafat. Karena kecintaan rakyat kepadanya, jasadnya tidak langsung dikuburkan, tetapi disemayamkan terlebih dahulu di dalam rumah hingga kering.
Setelah mengering, karena cairan dari mayat disalurkan ke dalam tempayan, jasad Putri Mayang dibawa ke seluruh daerah agar semua rakyat mendapat kesempatan memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin mereka yang telah meninggal dunia. Akhirnya, jenazah Putri disemayamkan di Sangarasi yaitu wilayah Jaar sekarang.

Urang Banjar dan Ma’anyan Tradisi lisan orang Dayak Ma’anyan memang banyak bertutur tentang relasi antara Urang Banjar dan Urang Ma’anyan. Misalnya dituturkan, orang Ma’anyan pada mulanya adalah penghuni Kayu Tangi. Karena itu, orang Ma’anyan, dalam bahasa ritual wadian, menyebut dirinya sebagai anak nanyu hengka Kayu Tangi. Hal itu untuk menunjukkan, sebelum hidup terserak di beberapa wilayah sekarang, mereka tinggal di Kayu Tangi, yaitu wilayah yang sekarang berkembang menjadi Kota Banjarmasin.

Dalam Sejarah Banjar (2003: 36-7) dituliskan, sebelum berdirinya Kesultanan Banjarmasin pada 1526, bahkan sebelum adanya Negara Dipa dan Negara Daha sebagai cikal-bakal Kesultanan Banjarmasin, berdiri satu negara etnik orang Ma’anyan yang bernama Nansarunai. Karena kuatnya usak jawa atau Jawa yang
merusak yaitu gempuran dari Majapahit, mereka harus pergi dari Nansarunai.

Juga dituturkan tentang seorang tokoh bernama Labai Lamiah. Konon, ia adalah orang Dayak Ma’anyan pertama yang menjadi muallaf dan mubaligh. Ia berdakwah di wilayah Nagara yang masyarakatnya pada waktu itu adalah campuran antara suku Dayak Ma’anyan dan mantan prajurit Majapahit yang masih memeluk agama Hindu Syiwa. Labai Lamiah berhasil mengislamkan orang-orang Ma’anyan yang ada di Banua Lawas atau sekarang disebut Pasar Arba, tidak jauh dari Kalua. Akibatnya, Balai Adat orang Ma’anyan di tempat itu berubah fungsi menjadi Masjid. Hingga sekarang, di halaman Masjid itu masih dapat ditemukan beberapa guci yang menjadi simbol keberadaan orang Ma’anyan.

Orang Dayak Ma’anyan yang memeluk Islam disebut jari hakey. Pada awalnya, sebutan hakey ditujukan kepada utusan Raja Banjar yang hadir dalam Ijambe (upacara kematian). Ketika mereka dengan sopan menolak memakan daging babi yang dihidangkan dan menjelaskan alasannya, orang Ma’anyan berkata: “O … hakahiye sa” (o … begitukah). Berdasarkan ucapan itu, semua orang Banjar, muslim dan orang Dayak Ma’anyan yang beragama Islam disebut hakey. Adanya kaum yang bahakey membuat orang Ma’anyan tidak lagi satu warna. Mereka yang bertahan dengan adat, pergi meninggalkan wilayah Kerajaan Banjar mencari
tempat baru. Dipimpin Uria Napulangit, mereka pergi ke dan menetap di tepi Sungai Siong di sebelah Barat Daya Tamiang Layang sekarang. Namun rasa persaudaraan mereka dengan kerabat yang bahakey tetap terjalin. Hal itu tampak dengan dibangunnya Balai Adat yang dikhususkan untuk muslim, yang mereka sebut Balai Hakey. Bangunan ini dapat dilihat dalam upacara besar Dayak Ma’anyan seperti Ijambe (upacara pembakaran mayat), khususnya di masyarakat Paju Epat (nama wilayah empat kampung besar). Di Balai itu, masakan yang disajikan harus disembelih secara Islam oleh perwakilan yang beragama Islam.

Hingga kini, Balai Hakey tetap didirikan oleh orang Dayak Ma’anyan setiap kali ada Ijambe. Balai yang kokoh, sekokoh sikap toleransi orang Ma’anyan. Perekat Sosial Hikmat atau kearifan memang ada di mana-mana. Ia berseru di pinggir jalan memanggil orang untuk menghampirinya, demikian kata Penulis Amsal. Ia ada di mana saja termasuk di dalam tradisi lisan. Bagi masyarakat yang belum mengenal budaya tulis-menulis, tradisi lisan merupakan sarana untuk menyimpan sejarah silam kehidupan suku. Lebih dari itu, tradisi lisan juga sarana untuk menguraikan jati diri. Karena itu, dalam upacara penting misalnya Ijambe, tradisi lisan selalu dituturkan.

Paparan di atas memperlihatkan betapa dahsyatnya Urang Ma’anyan menguraikan jati dirinya ketika berhadapan dengan Urang Banjar. Tentu saja, hal itu dilakukan karena Banjar tidak sekadar identitas suku, tetapi juga identitas politik, sosial, ekonomi dan agama. Banjar sebagai identitas agama tampak dalam
adagium ‘Banjar berarti Islam dan Islam berarti Banjar’.

Namun bagi orang Ma’anyan, adagium bersosok dingin itu tidak harus dikontestasikan. Tidak perlu jalan merah yang sarat amarah, apalagi pertumpahan darah. Bagi mereka, Banjar adalah hakey yaitu saudara mereka yang memeluk agama Islam. Tradisi lisan telah menjadi referensi kultural mereka untuk bersikap ramah kepada siapa pun, kendati berbeda agama dan keyakinan. Juga menjadi rujukan politik, ketika menerima seseorang yang tidak seagama dengan mereka untuk menjadi pemimpin mereka. Tradisi lisan telah menjadi sumber kearifan untuk merekatkan persaudaraan dan kekerabatan.

Tradisi lisan memang seumpama teks Kitab Suci, punya daya paksa yang tinggi namun cara kerjanya sangat halus sehingga tidak terasa sama sekali. Hal ini tampak dari berdirinya bangunan rumah adat Banjar yang adalah makam Putri Mayang Sari di Desa Jaar, Tamiang Layang, Kalteng. Mereka mendirikan bangunan itu berdasarkan tradisi lisan Putri Banjar di Tanah Ma’anyan. Lebih jauh lagi, tempat pemakaman Putri Mayang Sari itu baru saja dipugar oleh Pemkab Barito Timur. Ini petanda, sekarang pun beliau masih dihormati masyarakat setempat. Secara fisik, bangunan itu adalah makam Putri Mayang Sari. Namun secara metafisik, bangunan itu adalah terusan batin persaudaraan yang menghubungkan Urang Dayak Ma’anyan dengan Urang Banjar. Juga menjadi media budaya dan sumber sejarah, di mana mereka dapat merunut benang merah kekerabatan dengan orang Banjar dan kemudian berkata: “Kalian bukan orang lain.”


Jika ada sobat yang tahu lebih detail tentang Putri Banjar, sudihlah kiranya melengkapi atau mengoreksi. 
Mayang Sari, Putri Raja Banjar yang Bermakam di Bartim
Idawati Atau Mama Petros (Kiri) Penjaga Makam Putri Mayang - ///Source ///
Dari Tengah Makam Putri mayang Sari dan Kanan Makam Uria Mapas
Putri Mayang Sari atau Poetri Maija adalah Pemimpin Dayak Maanyan yang meneruskan kepemimpinan Uria Lan'na. Putri Mayang Sari berkedudukan di Jaar-Sangarwasi, Kabupaten Barito Timur. Puteri Mayangsari puteri dari Raja Banjar Islam yang pertama (Sultan Suriansyah) dari isteri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam Dayak Maanyan. 
Walau Mayang Sari beragama Islam, dalam memimpin sangat kental dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak dan sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya. 

Itu sebabnya ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Adat Banjar di Jaar, kabupaten Barito Timur (Marko Mahin, 2005).

Putri Mayang Sari dari Banjar
////Source : ////

Fakta Dan Dokumen Sejarah Walisongo Di Indonesia

Walisongo

Fakta Dan Dokumen Sejarah Walisongo Di Indonesia

 DEWAN DAKWAH WALISONGO
Sejarah masuknya Islam di Indonesia sungguh penuh dengan carut-marut karena sejak dahulu bangsa Indonesia memang lemah dalam sistim dokumentasi. Akibatnya, sejarah Indonesia sebelum datangnya bangsa Belanda selalu ada beberapa versi karena selalu ada distorsi dari pelaku sejarah maupun dari masyarakat yang meneruskan cerita tersebut kepada generasi berikutnya.

Sungguh suatu hal sangat memprihatinkan, bahwa sejarah lahirnya Islam di Jazirah Arabia yang terjadi pada abad ke-7 Masehi 

  • lahirnya Muhammad SAW [581 M], wafat [632 M] dan penggantinya 
  • Abu Bakar [632-634 M], 
  • Umar Bin Khotob [634-644 M], 
  • Usman Bin Affan [644-656 M], 
  • Ali Bin Abi Thalib [656-661 M] 
  • serta perkembangan Islam selanjutnya dapat terdokumentasi secara jelas. 
Namun sejarah masuknya Islam di Indonesia yang terjadi 7 abad setelahnya, justru tidak terdokumentasi secara pasti. Barangkali karena alasan itulah maka sejarah tentang walisongo juga penuh dengan carut-marut.

Kisah-kisah individu walisongo penuh dengan nuansa mistik, bahkan tidak hanya nuansa mistik yang menyelimuti kisah walisongo tetapi juga penuh dengan berita-berita bohong. Mistik dan bohong adalah dua hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, tetapi mengapa keduanya justru menjadi warna utama kisah para wali yang telah berjasa besar dalam menyebarkan ajaran islam di Indonesia?

fakta dan dokumen sejarah walisongo
Sebagai umat Islam tentu saja kita harus mengembangkan metode berpikir dialektis untuk mengambil hikmah yang sesungguhnya dan meluruskan sejarah yang sebenarnya berdasarkan sumber yang benar.

Berikut adalah dokumen-dokumen yang dipastikan kebenarannya sehubungan dengan kisah-kisah Walisongo;


  • “Het book van Bonang”, buku ini ada di perpustakaan Heiden-Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. 
  • Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap. 
  • Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.


  • “Suluk Linglung”, buku karya Sunan Kalijogo. Buku ini berbeda dengan buku ‘Suluk Linglung’ karya Imam Anom yang banyak beredar.
  • To Reading Suluk Linglung KLIK HERE


  • “Kropak Farara”, “Kropak Farara” atau “Lontar Ferrara”. Lontar Ferrara adalah karya tulis yang memuat petuah keagamaan yang diyakini berasal dari Jaman Kawalentersebut (Jaman Kewalen atau Jaman Kuwalen adalah ungkapan masyarakat Jawa dan juga ungkapan populer yang termuat dalam sejumlah naskah klasik Jawa untuk menyebut era dimana yang diyakini para anggota Wali Sanga hidup). Naskah ini ditulis di atas daun “Tal” (Lontar) yang terdiri dari 23 lembar berukuran 40 x 3,4 cm dan saat ini tersimpan di Perpustakaan Umum Ariostea di Ferrara, Italia (G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo Seputar Makrifatullah, Terjemahan dari An Early Javanese Code of Muslim Ethics penerjemah: Wahyudi, Surabaya: Alfikr, 2002, p. 1). Oleh karena itu maka naskah ini sering diidentifikasi sebagai “Lontar Ferrara” atau “Kropak Ferrara”. Naskah ini secara sistematik berisi tentang panduan hidup agar menjadi muslim yang kaffah dan pada saat yang sama juga bertujuan menarik para pemeluk Islam baru dan harapan agar masyarakat Jawa membebaskan diri dari penyembahan berhala. Naskah ini ditulis dalam kondisi dimana komunitas muslim masih berjumlah sedikit.


  • “Kitab Walisana”, kitab yang disusun oleh Sunan Giri ini berisi tentang ajaran Islam dan beberapa peristiwa penting dalam perkembangan masuknya agama Islam di tanah Jawa.
  • gambar walisongo, Istilah walisongo memang masih kontroversial dan tidak ada dokumen yang dapat dijadikan rujukan untuk menentukan mana yang benar. Istilah walisongo adalah nama sebuah dewan yang beranggotakan 9 orang [A. Wahyudi dan Abu Khalid; Widji Saksono,1995].


Anggota walisongo merupakan orang-orang pilihan dan oleh karena itu oleh orang jawa dinamakan wali. Istilah wali berasal dari bahasa arab aulia, yang artinya orang yang dekat dengan Allah SWT karena ketakwaannya. Sedangkan istilah songo merujuk kepada penyebaran agama Islam ke segala penuru. Orang jawa mengenal istilah kiblat papat limo pancer untuk menggambarkan segala penjuru, yaitu utara-timur-selatan-barat disebut keblat papat dan empat arah diantaranya ditambah pusat disebut limo pancer.

Dalam kitab Kanzul Ulum karya IBNUL BATHUTHAH yang masih tersimpan di perpustakaan istana kasultanan Ottoman di Istambul, pembentukan Walisongo ternyata pertama kali dilakukan oleh sultan Turki, MUHAMMAD I yang menerima laporan dari para saudagar Gujarat {India} bahwa di pulau Jawa jumlah pemelukm agama Islam masih sangat sedikit. Berdasarkan laporan tersebut Sulatn MUHAMMAD I membentuk sebuah tim yang beranggotakan 9 orang, yaitu :

  1. MAULANA MALIK IBRAHIM, berasal dari Turki, ahli irigasi dan tata pemerintahan
  2. MAULANA ISHAQ, berasal dari Samarkan ahli pengobatan
  3. MAULANA AHMAD JUMADIL KUBRO, berasal dari Mesir
  4. MAULAN MUHAMMAD AL MAGHROBI, berasal dari Maroko
  5. MAULANA MALIK ISRO’IL, berasal dari Turki, ahli tata pemerintahan
  6. MAULANA MUHAMMAD ALI AKBAR, berasal dari Iran, ahli pengobatan
  7. MAULANA HASANUDDIN, dari Palestina
  8. Maulana ALIYUDDIN, dari Palestina
  9. Syekh SUBAKIR, dari Iran, ahli kemasyarakatan

Inilah walisongo angkatan pertama yang datang ke pulau Jawa pada saat yang tepat, karena Majapahit sendiri pada saat itu sedang dilanda perang saudara, yaitu perang paregreg, sehingga kedatangan mereka tidak begitu mendapat perhatian. Perlu diketahui bahwa tim pertama tersebut bukanlah para ahli agama atau bisa dikatakan bahwa mereka belum mempunyai ilmu agama yang mumpuni. Sultan Muhammad I tidak pernah menyebut tim tersebut dengan nama walisongo. Barangkali istilah walisongo berasal dari masyarakat atau dari tim itu sendiri setelah bekerja beberapa pulh tahun. Adapula kemungkinan bahwa istilah walisongo muncul setelah wali pribumi dari kalangan bangsawan yang masuk kedalam tim.

Karena Maulana Malik Ibrahim sebagai ketua walisongo wafat pada tahun 1419 M, maka pada tahun 1421 M dikirim seorang penyebar Islam baru yang bernama AHMAD ALI RAHMATULLAH dari Champa yang juga keponakan MAULANA ISHAK. Beliau adalah anak IBRAHIM ASMARAKANDI yang menjadi menantu Sultan Campha. Pemilihan Ahmad Ali Rahmatullah yang nantinya sering dipanggil RADEN RAHMAT adalah keputusan yang sangat tepat, karena Raden Rahmat dianggap mempunyai kelebihan [ilmu agama yang lebih dalam] dan putra Mahkota kerajaan Majapahit pada saat itu menikah dengan bibi Raden Rahmat. Oleh karena itu dengan Raden Rahmat menjadi ketua, walisongo berharap agar Prabu KertaWijaya dapat masuk Islam, atau setidak-tidaknya tidak menghalangi penyebarah Islam. Dialog antara Raden Rahmat yang mengajak Prabu KertaWijaya masuk Islam tertulis dalam Kitab Walisana dengan langgam Sinom pupuh IV bait 9-11 dan bait 12-14.

Karena masih kerabat istana, maka Raden Rahmat diberi daerah Ampeldento oleh Raja Majapahit yang kemudian dijadikan markas untuk mendirikan pesantren. Selanjutnya Raden Rahmat dikenal dengan nama SUNAN AMPEL. Menurut Widji Saksono [1995:23-24], kedatangan Raden Rahmat di pulau jawa disertai dua pemuda bangsawan Champha yaitu Raden SANTRI ALI dan ALIM ABU HURAIRAH serta 40 orang pengawal. Selanjutnya Raden Santri Ali dan Alim Abu Hurairah bermukim di Gresik dan dikenal dengan SUNAN GRESIK dan SUNAN MAJAGUNG. Dengan kedatangan Raden Rahmat, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan kedua.

Pada tahun 1435 ada dua orang wali yang wafat, yaitu Maulana Malik Isro`il dan Maulana Muhammad Ali Akbar. Dengan meninggalnya dua orang itu, dewan mengajukan permohonan kepada Sultan Turki [tahun 1421 Sultan Muhammad I digantikan oleh sultan MURAD II, yang memimpin sampai tahun 1451 {Barraclough, 1982:48}] untuk dikirimkan dua orang pengganti yang mempunyai kemampuan agama yang lebih mendalam.

Permohonan tersebut dikabulkan dan pada tahun 1436 dikirim dua orang juru dakwah, yaitu :


  1. SAYYID JA`FAR SHODIQ, berasal dari Palestina, yang selanjutnya bermukin di Kudus dan dikenal dengan nama SUNAN KUDUS. Dalam buku Babad Demak karya Atmodarminto {2001, disebutkan bahwa Sayyid Ja`far Shodiq adalah satu-satunya anggota walisongo yang paling menguasai Ilmu Fiqih.
  2. SYARIF HIDAYATULLAH, berasal dari Palestina yang merupakan ahli strategi perang. Menurut buku Babad Tanah Sunda Babad Cirebon karya PS Sulendraningrat {tanpa tahun}, Syarif Hidayatullah adalah cucu Prabu Siliwangi dari Pajajaran hasil perkawinan Rara Santang dan Sultan Syarif Abdullah dari Mesir. Selanjutnya Syarif Hidayatullah bermukim di Cirebon dan dikenal dengan nama SUNAN GUNUNG JATI.


Dengan kedatangan wali muda tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan ketiga. Nampak dari informasi diatas bahwa ada tiga wali muda yang tentu mempunyai kedalaman ilmu agama yang lebih dibandingkan dengan angkatan sebelumnya.

Pada tahun 1462 dua orang anggota walisongo wafat, yaitu Maulana Hasanuddin dan Maulana Aliyuddin. Sebelum itu ada dua orang anggota wali yang meninggalkan tanah Jawa, yaitu Syekh Subakir pulang ke Persia dan Maulana Ishak berdakwah di Pasai.

Dalam sidang walisongo di Ampeldento, diputuskan bahwa ada empat orang yang masuk dalam dewan walisongo, yaitu:

  1. Raden MAKHDUM IBRAHIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di desa Mbonang, Tuban. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN MBONANG.
  2. Raden QOSIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di lamongan dan dikenal dengan nama SUNAN DRAJAT.
  3. Raden PAKU, putra Maulana ISHAQ yang bermukim di Gresik dan selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN GIRI.
  4. Raden Mas SAID, putra Adipati Tuban yang bermukim di Kadilangu, Demak. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN KALIJOGO.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan keempat. Dalam dewan walisongo angkatan keempat ini masih ada dua orang yang bersal dari angkatan pertama, sehingga pada tahun 1463 mereka sudah bertugas di tanah Jawa selama 59 tahun. Dua orang itu adalah Maulana Ahmad Jumadil Qubro yang meninggal pada tahun 1465 dan Maulana Muhammad Al Maghrobi [tidak diketahui tahun berapa wafatnya]. Dalam kitab walisana disebutkan bahwa pada saat Raden FATAH menghadapi SYEKH SITI JENAR, Maulana Muhammad Al Maghrobi masih merupakan tokoh sentral, kuat dugaan bahwa beliau yang mengambil keputusan tentang masalah Syekh Siti Jenar.

Perlu diperhatikan bahwa mulai angkatan keempat ini banyak anggota walisongo yang merupakan putra bangsawan pribumi. Bersamaan dengan itu, orientasi ajaran islam mulai berubah dari Arab Sentris menjadi Islam Kompromistis. Pada saat itulah tubuh walisongo mulai terbelah antara kelompok futi`a dan aba`ah, barangkali pada saat itu pula muncul istilah Walisongo. Isi kitab walisana yang ditulis oleh Sunan Giri II pun yang ditulis pada awal abad 16 banyak berbeda dengan buku-buku sunan Mbonang yang masih menjelaskan ajaran Islam yang murni.

Dengan meninggalnya dua orang wali yang paling tua itu, maka pada tahun 1466 diadakan sidang yang memutuskan memasukkan anggota baru dan mengganti ketua dewan yang sudah berusia lanjut. Ketua dewan yang dipih dalam siding tersebut adalah Sunan GIRI, sedangkan anggota dewan yang masuk adalah :

  1. Raden FATAH, putra Raja Majapahit Brawijaya V yang merupakan Adipati Demak.
  2. FATHULLAH KHAN, putra Sunan Gunung Jati yang dimaksudkan untuk membantu tugas ayahandanya yang sudah berusia lanjut.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan kelima.

Setelah Raden Fatah dinobatkan menjadi Sultan Demak Bintara, maka pada tahun 1478, dilakukan perombakan lagi dalam tubu dewan walisongo. Selain Raden Fatah, Sunan Gunung Jati pun lengser karena usianya lang lanjut. Posisi Sunan Gunung Jati digantikan oleh Fathullah Khan yang memang sudah ada dalam dewan walisongo. Dua posisi yang kosong diisi oleh :

  1. Raden UMAR SAID, putra Sunan Kalijogo yang lebih dikenal sebagai SUNAN MURIA.
  2. Sunan PANDANARAN, murid Sunan Kalijogo yang bermukim di Tembayat, juga dikenal sebagai SUNAN TEMBAYAT.

Menurut kitab walisana karya Sunan Giri II, status Sunan Muria dan Sunan Padanaran hanya sebagai wali penerus atau wali nubuah atau wali nukbah. Kitab walisana juga tidak tidak pernah menyebut nama Fathullah Khan sebagai anggota walisongo, barangkali hal itu terjadi karena begitu diangkat menjadi anggota walisongo, Fathullah Khan langsung disebut sebagai Sunan Gunung Jati seperti sebutan untuk ayahandanya.

Setelah masa walisongo angkatan keenam, masih banyak orang yang pernah mendapat gelar sebagai wali, namun kapan mereka itu diangkat dan menggantikan siapa, tidak ada bukti dan keterangan yang dapat dijadikan patokan dan kebenarannyapun masih banyak diragukan. 

Mereka itu misalnya SYEKH SITI JENAR/SUNAN LAWU, Sunan GESENG, sunan NGUDUNG, Sunan PADUSAN, Sunan KALINYAMAT, Sunan MURYAPODO, dan ada beberapa orang yang juga dianggap sebagai wali misalnya Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Pengging.

Pustaka :

  • Hasanu Simon, 2004, Peranan Walisongo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa Dalam Misteri Syekh Siti Jenar, Pustaka Pelajar, Jogjakarta.
  • Sulendraningrat, 1984, Babad Tanah Sunda Babad Cirebon.
  • Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA, tanpa tahun, Kisah Walisongo, Karya Ilmi, Surabaya.
  • Widji Saksono,1995, Mengislamkan Tanah Jawa:Telaah atas Metode Dakwah Walisongo,Penerbit Mizan, Bandung.
  • Atmodarminto, R., 2000, Babad Demak;Dalam Tafsir Sosial Politik Keislaman dan Kebangsaan, terjemahan Saudi Berlian, Millenium Publisher, Jakarta.
  • http://nyimaspakungwati.blogspot.com/2009/05/carut-marut-hikayat-walisongo.html

Minggu, 28 Desember 2014

LEGENDA "Tari Ronggeng Gunung" (Ciamis, Jawa Barat)

Legenda

Legenda dam Asal-usul “Ronggeng Gunung” 


Legenda dam Asal-usul “Ronggeng Gunung” 
Ciamis adalah suatu daerah yang ada di Jawa Barat. Di sana ada tarian khas yang bernama “Ronggeng Gunung”. 

Ronggeng Gunung sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. 
Penari utamanya adalah seorang perempuan yang dilengkapi dengan sebuah selendang. Fungsi selendang, selain untuk kelengkapan dalam menari, juga dapat digunakan untuk "menggaet" lawan (biasanya laki-laki) untuk menari bersama dengan cara mengalungkan ke lehernya.
Ada beberapa versi tentang asal-usul tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Ciamis Selatan (masyarakat: Panyutran, Ciparakan, Burujul, Pangandaran dan Cijulang) ini.
Versi pertama : 

  • mengatakan bahwa Ronggeng Gunung diciptakan oleh Raden Sawunggaling. Konon, ketika kerajaan Galuh dalam keadaan kacau-balau karena serangan musuh, Sang Raja terpaksa mengungsi ke tempat yang aman dari kejaran musuh. Dalam situasi yang demikian, datanglah seorang penyelamat yang bernama Raden Sawunggaling. Sebagai ungkapan terima kasih atas jasanya yang demikian besar itu, Sang Raja menikahkan Sang Penyelamat itu dengan putrinya (Putri Galuh). Kemudian, ketika Raden Sawunggaling memegang tampuk pemerintahan, beliau menciptakan tarian yang bernama Ronggeng Gunung sebagai sarana hiburan resmi di istana. Penarinya diseleksi ketat oleh raja dan harus betul-betul mempunyai kemampuan menari, menyanyi, dan berparas cantik, sehingga ketika itu penari ronggeng mempunyai status terpandang di lingkungan masyarakat.


Versi Kedua :

  • berkisah tentang seorang puteri yang ditinggal mati oleh kekasihnya. Siang dan malam sang puteri meratapi terus kematian orang yang dicintainya. Selagi sang puteri menangisi jenasah kekasihnya yang sudah mulai membusuk, datanglah beberapa pemuda menghampirinya dengan maksud untuk menghiburnya. Para pemuda tersebut menari mengelilingi sang puteri sambil menutup hidung karena bau busuk mayat. Lama-kelamaan, sang puteri pun akhirnya ikut menari dan menyanyi dengan nada melankolis. Adegan-adegan tersebut banyak yang menjadi dasar dalam gerakan-gerakan pada pementasan Ronggeng Gunung saat ini.


Versi ketiga: 
yang ditulis oleh Yanti Heriyawati dalam tesisnya yang berjudul “Doger dan Ronggeng, Dua Wajah Tari Perempuan di Jawa Barat”. 

Versi ini menyatakan bahwa kesenian Ronggeng Gunung berkait erat dengan kisah Dewi Samboja
Dewi Samboja adalah puteri ke-38 dari Prabu Siliwangi yang bersuamikan Angkalarang. 

Konon, Di Kabupaten Ciamis, tepatnya di Ciamis selatan terdapat sebuah legenda masyarakat Dewi Rengganis. Legenda ini mengisahkan tentang kisah  seorang Putri yang bernama Dewi Rengganis atau Siti Samboja, dia adalah salah satu  putri yang ke-38 dari Prabu Siliwangi yang bersuamikan Angkalarang. Dalam buku sejarah Ciamis diceritakan bahwa Dewi Rengganis dan Angkalarang Memiliki sebuah kerajaan bernama kerajaan Kidang Pananjung (obyek wisata pantai pangandaran). Suatu hari kerajaan tersebut di serang oleh Para Bajo atau Bajak Laut dari sebrang (versi lain mengatakan bangsa Portugis).

Suami Dewi Rengganis Angkalarang tewas terbunuh oleh Kalasamudra (pimpinan para bajo), sedangkan Dewi Rengganis lari bersama pengikutnya. 

Dewi Rengganis sangat sedih atas kematian  Suaminya. untuk menghilangkan kesedihan dan kemarahan Putrinya atas kematian Angkalarang, Ayahandanya yaitu Prabu Siliwangi memberikan wangsit kepada Putrinya. Isi wangsit itu adalah untuk membalas Kalasamudra atas kematian Suaminya Angkalarang, Dewi Rengganis harus menyamar menjadi Ronggeng dan memakai nama Nini Bogem. Sesuai wangsit itu Dewi Rengganis mulai belajar menari dan seni beladiri. Singkat cerita Dewi Rengganis berhasil memikat Kalasamudra dan berhasil membunuh Kalasamudra.

 Dewi Samboja harus menyamar sebagai Nini Bogem, yaitu sebagai seorang penari ronggeng kembang. Dan, berdasar wangsit itulah, Dewi Samboja atau Dewi Rengganis mulai belajar menari ronggeng dan seni bela diri. ###Dengan Restu dan Persetujuan Dewi Renganis atau Dewi Samboja demgan Nyai Loro Kidul### di Goa Karang bolong (Pangandaran) di dampingi oleh patih HAUR Kuning
GOA Karang Bolong (Pangandaran)
Singkat cerita, pergelaran ronggeng di tempat Kalasamudra pun terjadi. Dan, ini berarti kesempatan bagi Dewi Samboja untuk membalas kematian suaminya. Konon, ketika sempat menari bersamanya, Dewi Samboja mewujudkan niatnya, sehingga perkelahian pun tidak dapat dihindari. Perkelahian itu baru berakhir ketika Dewi Samboja dapat membunuhnya.

Versi keempat mirip dengan versi ketiga, hanya jalan ceritanya yang berbeda
Dalam versi ini perkawinan antara Dewi Siti Samboja dan Raden Anggalarang, putra Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, tidak. direstui oleh ayahnya. Untuk itu, pasangan suami-isteri tersebut mendirikan kerajaan di Pananjung, yaitu daerah yang kini merupakan Cagar Alam Pananjung di obyek wisata Pangandaran. Suatu saat kerajaan tersebut diserang oleh para perompak yang dipimpin oleh Kalasamudra, sehingga terjadi pertempuran. Namun, karena pertempuran tidak seimbang, akhirnya Raden Anggalarang gugur. Akan tetapi, istrinya, Dewi Siti Samboja, berhasil menyelamatkan diri.dan mengembara. Dalam pengembaraannya yang penuh dengan penderitaan, sang Dewi akhirnya menerima wangsit agar namanya diganti menjadi Dewi Rengganis dan menyamar sebagai ronggeng. Di tengah kepedihan hatinya yang tidak terperikan karena ditinggal suaminya, Dewi Rengganis berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa terasa, gunung-gunung telah didaki dan lembah-lembah dituruni. Namun, di matanya masih terbayang bagaimana orang yang dijadikan tumpuan hidupnya telah dibunuh para perompak dan kemudian mayatnya diarak lalu dibuang ke Samudera Hindia. Kepedihan itu diungkapkan dalam lagu yang berjudul “Manangis”. 
Berikut ini adalah syairnya.

Ka mana boboko suling
Teu kadeuleu-deuleu deui
Ka mana kabogoh kuring
Teu Kadeulu datang deui

Singkat cerita, pergelaran ronggeng akhirnya sampai di tempat Kalasamudra dan Dewi Samboja dapat membalas kematian suaminya dengan membunuh Kalasamudra ketika sedang menari bersama.

Cerita mengenai asal usul tari yang digunakan untuk “balas dendam” ini membuat Ronggeng Gunung seakan berbau maut. Konon, dahulu orang-orang Galuh yang ikut menari menutup wajahnya dengan kain sarung sambil memancing musuhnya untuk ikut hanyut dalam tarian. Oleh karena wajah mereka tertutup sarung, maka ketika musuh mereka terpancing dan ikut ke tengah lingkaran, sebilah pisau mengintip menunggu saat yang tepat untuk ditikamkan. Selain itu, dahulu kesenian Ronggeng Gunung bagi masyarakat Ciamis selatan, bukan hanya merupakan sarana hiburan semata, tetapi juga digunakan sebagai pengantar upacara adat seperti: panen raya, perkawinan, khitanan, dan penerimaan tamu. Mengingat fungsinya yang demikian, maka sebelum pertunjukan dimulai, diadakan sesajen untuk persembahan kepada para leluhur dan roh-roh yang ada di sekitar tempat digelarnya tarian, agar pertunjukan berjalan dengan lancar. Bentuk sesajennya terdiri atas kue-kue kering tujuh macam dan tujuh warna, pisang emas, sebuah cermin, sisir, dan sering pula ditemukan rokok sebagai pelengkap sesaji.

Sebagai catatan, dalam mitologi orang Sunda, Dewi Samboja atau Dewi Rengganis hampir mirip dengan Dewi Sri Pohaci yang selalu dikaitkan dengan kegiatan bertani. Oleh karena itu, tarian Ronggeng Gunung juga melambangkan kegiatan Sang Dewi dalam bercocok tanam, mulai dari turun ke sawah, menanam padi, memanen, sampai akhirnya syukuran setelah panen.

Pemain, Peralatan, dan Pergelaran
Orang-orang yang tergabung dalam kelompok kesenian Ronggeng Gunung biasanya terdiri dari enam sampai sepuluh orang. Namun demikian, dapat pula terjadi tukar-menukar atau meminjam pemain dari kelompok lain. Biasanya peminjaman pemain terjadi untuk memperoleh pesinden lalugu, yaitu perempuan yang sudah berumur agak lanjut, tetapi mempunyai kemampuan yang sangat mengagumkan dalam hal tarik suara. Dia bertugas membawakan lagu-lagu tertentu yang tidak dapat dibawakan oleh pesinden biasa. Sedangkan, peralatan musik yang digunakan untuk mengiringi tari Ronggeng Gunung adalah tiga buah ketuk, gong dan kendang.
Sebagai catatan, untuk menjadi seorang ronggeng pada zaman dahulu memang tidak semudah sekarang. Beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain bentuk badan bagus, dapat melakukan puasa 40 hari yang setiap berbuka puasa hanya diperkenankan makan pisang raja dua buah, latihan nafas untuk memperbaiki suara, fisik dan juga rohani yang dibimbing oleh ahlinya. Dan, yang umum berlaku, seorang ronggeng harus tidak terikat perkawinan. Oleh karena itu, seorang penari ronggeng harus seorang gadis atau janda.

Tari Ronggeng Gunung bisa digelar di halaman rumah pada saat ada acara perkawinan, khitanan atau bahkan di huma (ladang), misalnya ketika dibutuhkan untuk upacara membajak atau menanam padi ladang. Durasi sebuah pementasan Ronggeng Gunung biasanya memakan waktu cukup lama, kadang-kadang baru selesai menjelang subuh.

Perkembangan
Perkembangan Ronggeng Gunung pada periode tahun 1904 sampai tahun 1945, banyak terjadi pergeseran nilai dalam penyajiannya, misalnya dalam cara menghormat yang semula dengan merapatkan tangan di dada berganti dengan cara bersalaman. Bahkan, akhirnya cara bersalaman ini banyak disalahgunakan, dimana penari laki-laki atau orang-orang tertentu bukan hanya bersalaman melainkan bertindak lebih jauh lagi seperti mencium, meraba dan sebagainya. Bahkan, kadang-kadang penari dapat dibawa ke tempat sepi. Karena tidak sesuai dengan adat-istiadat, maka pada tahun 1948 kesenian Ronggeng Gunung dilarang dipertunjukkan untuk umum. Baru pada tahun 1950 kesenian Ronggeng Gunung dihidupkan kembali dengan beberapa pembaruan, baik dalam tarian maupun dalam pengorganisasiannya sehingga kemungkinan timbulnya hal-hal negatif dapat dihindarkan.

Untuk mencegah pandangan negatif terhadap jenis tari yang hampir punah ini diterapkan peraturan-peraturan yang melarang penari dan pengibing melakukan kontak (sentuhan) langsung. Beberapa adegan yang dapat menjurus kepada perbuatan negatif seperti mencium atau memegang penari, dilarang sama sekali. Peraturan ini merupakan suatu cara untuk menghilangkan pandangan dan anggapan masyarakat bahwa ronggeng identik dengan perempuan yang senang menggoda laki-laki. (ali gufron)

Foto: http://www.anjjabar.go.id

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

‘Ronggeng Gunung’ performance 
(Photograph: Agus Bebeng)
Penari Terakhir Ronggeng Gunung
Oleh Cornelius Helmy Meski gincu merah di pipi mulai pudar tersapu keringat, mata Raspi tetap berbinar-binar. Rasa lelah sepertinya enggan meninggalkan jejak di wajah si maestro tari ronggeng gunung terakhir ini. Saat pagi mulai menanti di persimpangan hari, Raspi tetap bersemangat menari. "Saya senang ternyata banyak yang ikut menari. Semakin banyak yang ikut menari, ronggeng gunung semakin terasa nikmatnya. Tarian ini adalah tarian rakyat,” ujar Raspi dalam bahasa Sunda selepas menari selama 2 jam tanpa henti pada malam pergantian tahun menuju 2011 di lapangan parkir Kebun Binatang, Bandung, Jumat (31/12/2010) mulai pukul 24.00. 

Perasaan bangga pun berlipat ganda karena ternyata banyak anak muda di kota besar masih ingin mengetahui dan belajar ronggeng gunung, satu hal yang jarang ia temui lagi. ”Ronggeng gunung semakin sepi peminat, khususnya generasi muda, dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya. Mereka lebih memilih pentas organ tunggal ketimbang kendang, ketuk, dan gong ala ronggeng gunung. Alasannya, lebih murah dan mutakhir. Kalaupun ada yang menanggap, biasanya hanya kerabat Raspi, yang tinggal dekat rumahnya di Cikukang, Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. Itu pun sebatas penari pendamping atau belajar memainkan musik pengiring. ”Hinaan atau cemoohan sudah sering saya dengar saat pentas atau mencoba mengajarkan ronggeng gunung. Ronggeng gunung dianggap kuno dan membosankan,” katanya. Namun, Raspi tidak peduli. ”Saya hanya ingin menari,” ujar perempuan asal Ciamis ini. Tak berbekas Ronggeng gunung adalah tarian khas dari Ciamis. Konon, tarian ini muncul atas nama cinta dan dendam Dewi Siti Samboja, putri ke-38 Prabu Siliwangi, karena kekasihnya, Raden Anggalarang, tewas di tangan perompak. 

Namun, perlahan dendam itu berubah menjadi ungkapan syukur masyarakat pegunungan Ciamis atas hasil ladang dan sawah. Raspi mengatakan, tari ini sempat menemukan masa emasnya pada 1970-1980. Saat itu, ia selalu kewalahan memenuhi panggilan pentas. Selama 40 tahun menari, ia pernah merasakan dibayar dari Rp 200 hingga Rp 3 juta per pertunjukan. Akan tetapi, masuk tahun 1990-an ronggeng gunung perlahan tenggelam di tengah gemerlap kehidupan modern. Banyak penari ronggeng dan pemusiknya pensiun karena tidak ada lagi yang mengundang mereka. Puncaknya, Raspi bersama lingkung seni Panggugah Rasa—satu-satunya kelompok ronggeng gunung yang bertahan—paling banyak hanya sekali pentas dalam tiga bulan selama tahun 2010. 

”Sepi sekali dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya panggilan tampil ada saat bulan haji atau Syawal sebagai pengisi acara syukuran atau ruwatan,” katanya. Kini, keberadaan ronggeng gunung pun terancam tak berbekas. Fakta bahwa Raspi adalah maestro ronggeng gunung terakhir membuktikan bahwa kesenian ini rentan menambah daftar merah kesenian rakyat yang terancam punah di Jabar. Hingga tahun 2010, tercatat ada 40 kesenian terancam punah. Baru lima yang bisa direvitalisasi, yaitu gamelan ajeng dari Karawang, angklung badud (Kota Tasikmalaya), parebut seeng (Kabupaten Bogor), lisung (Ciamis), dan sandiwara (Ciamis). 

Buah ketekunan Kecintaan Raspi kepada ronggeng gunung tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak kecil. Ia mempelajarinya secara tidak sengaja saat kabur dari rumah karena hendak dinikahkan saat berusia 13 tahun. Guru pertamanya adalah Maja Kabun dari Padaherang, Ciamis. Raspi mengakui tidak mudah mempelajari ronggeng gunung. Ronggeng wajib memiliki fisik kuat. 

Alasannya, ronggeng harus memiliki kemampuan olah vokal dalam nada tinggi sekaligus menari dalam waktu lama. Ronggeng gunung biasanya dipentaskan 2 jam hingga 12 jam per pertunjukan. Raspi memiliki pengalaman menarik saat penari asal Amerika Serikat, Hally, minta diajari tari ronggeng gunung. Hally dikatakan termasuk cepat menguasai gerakan tari. 

Namun, dia menyerah saat belajar menari dan menyanyi dengan nada tinggi secara bersamaan. Hally tambah kewalahan saat harus mengingat lagu-lagu khas ronggeng gunung. Biasanya, ada enam hingga delapan lagu yang dibawakan dalam satu pertunjukan. Judul lagu antara lain ”Kudup Turi”, ”Sisigaran Golewang”, ”Raja Pulang”, ”Onday”, ”Kawungan”, ”Parut”, dan ”Trondol”. Sebagian besar bertema kerinduan kepada kekasih dan sindiran kepada perompak pembunuh Anggalarang. ”Sekarang saya mencoba meneruskan tarian ini kepada Nani Nurhayati, anak kandung saya. Namun, setelah sembilan tahun, Nani belum terlalu mahir dan masih harus banyak belajar,” katanya. Ketekunannya mempertahankan akar ronggeng gunung perlahan mulai membuahkan hasil. 

Ia berhasil mendapat penghargaan dari Taman Mini Indonesia Indah tahun 1997 dan penghargaan dari Gubernur Jawa Barat 10 tahun kemudian. Yang teranyar adalah bantuan dana pembuatan pedepokan seni Rp 200 juta dari Pemerintah Provinsi Jabar tahun 2009. Namun, yang paling bisa menenangkan hatinya adalah munculnya pengembangan, seperti ronggeng kaler dan kidul. Ronggeng kaler populer di daerah utara, seperti Kuningan, sedangkan ronggeng kidul tumbuh di daerah selatan, seperti Garut dan Tasikmalaya. Keduanya memakai perangkat gamelan lengkap. Ronggeng gunung pun disajikannya lebih bervariasi, seperti perbedaan tari untuk hiburan atau adat. Ronggeng upacara adat biasanya dibawakan dengan pakem tertentu, seperti pentingnya tata urutan lagu, sedangkan ronggeng untuk hiburan biasanya lebih fleksibel karena tidak ada pakem urutan lagu. ”Ke depan, saya berharap perhatian tidak hanya itu. Saya ingin semua pihak turut membantu melestarikan dan mempertahankan ronggeng gunung sepeninggal saya nanti,” katanya. Kini di masa tuanya, Raspi masih menyimpan harap. Ke depan, ia berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik mementaskan dan mempelajari ronggeng gunung sebagai warisan tradisional bangsa. 

Ia ingin menjaga ronggeng gunung tetap dikenal masyarakat sekaligus memberikan suntikan semangat kepada generasi muda bahwa ronggeng gunung juga bisa diandalkan membiayai kebutuhan hidup. ”Kalau sekarang, rumah layak pun saya belum punya karena hanya tinggal di rumah reyot. Kadang-kadang suka risi karena punya sanggar baru, tapi rumahnya tidak layak. Semoga ini tidak dialami ronggeng selanjutnya,” ujar Raspi malu-malu sembari menutupi mulut dengan kedua tangannya. 

Dapatkan artikel ini di URL: http://www.kompas.com/read/xml/2011/01/08/15182696/Penari.Terakhir.Ronggeng.Gunung
Tari Ronggeng Gunung (Ciamis, Jawa Barat)

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...