primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label JEJAK BRAWIJAYA PUNGKAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEJAK BRAWIJAYA PUNGKAS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Oktober 2015

DYAH AYU RETNA KEDATON (Putri Brawijaya V) atau R.Aj. RETNO DOEMILAH dan Situs umbul KENDAT (Pengging Boyolali)


DYAH AYU RETNA KEDATON (Putri Brawijaya V) atau R.Aj. RETNO DOEMILAH

Dalam Pelarian dari MAJAPAHIT salah satu putri Brawijaya V DYAH AYU RETNA KEDATON ikut ngenger atau berdiam dengan Salah satu putri Brawijaya V yaitu : Putri Ratna Pambayun, menikah dengan Prabu Srimakurung Handayaningrat (Raja Kerajaan Pengging).

lokasi keraton Pengging berada diantara makam Bodean dan umbul Kendat seperti yang disebut sebut pada Babad Jaka Tingkir bahwa makam adik ratu Pembayun isteri raja Pengging Handayaningrat yang bernama ratu Masrara atau rara Kendat dimakamkan berada sebelah timur kedaton Pengging ( Moelyono Sastronaryatmo : 1981 ) Nama Pengging itu sendiri disebutkan dalam kitab Negara Kretagama pada Pupuh XVII bait 10. Dilokalisir dikawasan sebelah barat delta Brantas yaitu daerah hulu bengawan Solo (Abdul Choliq Nawawi : 1990 ).
Berdasarkan keyakinan masyarakat, kerajaan Pengging ini dibangun oleh Prabu Aji Pamasa atau Kusumowicitro dari Kediri pada tahun 901 Caka sekitar tahun 979 Masehi ( Andjar Any : 1979)

DYAH AYU RETNA KEDATON - muksa di Umbul Kendat Pengging
dan beliau mempunyai kesaktian bisa berbicara dengan tumbuh-tumbuhan dan alam
Cerita lain : Sangat direkomendasikan 
Legenda Misteri Puteri Gunung Ledang (Putri Yang Mengasingkan diri di Gunung Terjauh dari Kerajaan Majapahit) Puteri Gunung Ledang ((R.Aj. RETNO DOEMILAH))

SITUS HINDU PENINGALAN MAJAPAHIT 
DI KABUPATEN BOYOLALI

Mata air (bs.jawa : umbul) KENDAT terletak di desa Plumputan Kecamatan Pengging Kabupaten Boyolali merupakan salah satu situs Hindu peninggalan Majapahit yang belum banyak diketahui oleh masyarakat, khususnya umat Hindu.

Nama Kendat sendiri yang dalam bahasa jawa berarti “bunuh diri” dikaitkan dengan tekad salah seorang putri raja Majapahit terakhir yaitu Kertabumi/ Brawijaya ke V (1453-1478) dalam mempertahankan keyakinannya/kepercayaan sehubungan dengan telah runtuhnya kerajaan Majapahit oleh kerajaan Demak pimpinan Bukan pimpinanan Raden Patah tetapi generasi Brawijaya V ayah dari Jin Bun atau Raden patah
yaitu Rezim Pangeran Udara dan Giriwardhana.

Nama putri tersebut adalah DYAH AYU RETNA KEDATON, yang merupakan putri ke 42, lari dari kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto ke Pengging dimana kakak iparnya yang menjadi Adipati Pengging untuk meminta perlindungan, namun setelah tahu kakak iparnya, Adipati Sri Makurung Prabu Handaningrat melakukan pamoksan bersama istri dan seorang anaknya serta seluruh abdi sekaligus keraton/kerajaannya, sang putripun dengan kesaktiannya melaksanakan hal yang sama diusianya yang masih remaja (+ 13-18 tahun).

Tempat moksanya ditandai oleh para abdi yang mengijkutinya dengan sebuah batu hitam dan diikuti dengan kemunculan mata air (umbul) yang oleh masyarakat setempat dinamakan “Umbul Kendat”.

Umbul kendat sendiri terbagi 2 walau satu tempat yaitu : 

  1. Umbul keroncong karena bunyi airnya bila didengarkan dengan seksama mirip irama keroncong dan 
  2. Umbul dandang/ penguripan yang dipercaya membuat panjang umur, awet muda, murah sandang pangan, cepat naik pangkat, menyembuhkan penyakit,  membuang kesialan, dll.

Masyarakat setempat melaksanakan Ritual Kungkum pada hari-hari tertentu, biasanya hari Jumat Paing yang juga sering disebut “Paingan”.

Selasa, 13 Oktober 2015

Sepenggal Kisah Pelarian (Istri ke II Prabu kertabumi/Brawijaya V Pungkas) Permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita


DEMAK (Prabu Udara dengan tentara Girindrawardhana) bukan raden PATAH

Sepenggal Kisah Pelarian  (Istri ke II Prabu kertabumi/Brawijaya V Pungkas)
Permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita

BRAWIJAYA V "TERPAKSA" PUNYA SELIR BANYAK....

Seperti diketahui bahw Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, dikenal sangat banyak memiliki isteri selir dari bebagai macam ras. Bisa dimaklumi, mengingat pada waktu itu Majapahit sangat berpengaruh dan memiliki banyak negeri jajahan. Setiap negeri sahabat, Cina, Champa, Melayu dll, mengirimkan puteri tercantik mereka, sebagai tanda persahabatan untuk dijadikan isteri sang raja. Negeri-negeri taklukan juga mengirimkan puteri-puteri mereka sebagai upeti tanda takluk pada Majapahit. Raja tidak mungkin menolak upeti-upeti dan tanda persahabatan tersebut dan "harus" menjadikannya sebagai isteri atau isteri selir. Itu semua memang sudah menjadi tugas & kewajiban seorang raja besar seperti Brawijaya V.

Khan adalah Brawijaya Pamungkas / penutup dengan wilayah Majapahit kecil dan tunduk pada Krajaan Demak, bukan anak dari raja Kerthabumi / Kertawijaya / Brawijay V tetapi anak dari ratunya Majapahit besar yakni Ratu Kencana Ungu dengan Raden Damarwulan / pemuda dari Talun Amba / Palamba di penggung/Ayodya-karta yang aslinya bernama Sayyid Alwi A.Khan di tinggal wafat ibunya sejak lahir dan di bawa pindah - pindah tempat oleh Ayahandanya dan sejak Ayahandanya wafat di titipkan ke wali yang mempunyai perguruan/pesantren kecil di Jawa.Tengah, setelah dewasa datang ke salah satu keluarga dari almarhum Ayahandanya yang menjadi patih sepuh di kerajaan Majapahit yakni Patih Damarmanik.

Seperti hanya Patih Damarmanik,seperti hanya Patih Damarmanik nama aslinya siapa?sebagai keluarga dengan ayah Damarwulan sebagai keluarga sedarah / ipar?tak pernah ada penjelasan dari catatan manapun, yang jelas Damarwulan datang mengabdi pada patih sepuh Damarmanik yang masih keluarga. 

Kalau Damarwulan jelas asal usulnya pada catatan persatuan habib internasional karena anaknya:Pangeran Qudbudin Alwi memakai nama Adzimat Khan seperti dirinya yakni Alwi Adzimat Khan. Jadi bisa diketahui asal usul leluhurnya.

Dari hal tersebut bisa diketahui bahwa penulis – penulis Belanda tak semuanya mencatat sesuai dengan aslinya dilihat dulu mana yang mengungtungkan penjajah/tidak. Sangat mengkhawatirkan penjajah bila di catat sesuai aslinya yang kemungkinan akan menimbulkan rasa persatuan dalam diri seluruh lapisan masyarakat hingga timbulah rasa nasionalisme yang besar yang lebih menakutkan keberadaan pemerintah Belanda di bumi Indonesia.

Tugas generasi muda lebih menggali kembali dengan kritis apapun milik nenek moyang Indonesia supaya tak brpindah tempat ke negara lain dan apaun milik bumi Indonesia/ di tangan sendiri oleh sarjana - sarjana Indonesia tidak mengekor nama – nama sarjana dari negara lain.

Pada masa itu para pendakwah - pendakwah islam dan para wali(sebelum datagnya wali 9) telah lama memenuhi kota - kota besar dan pelabuhan – pelabuhan yang berada di bumi nusantara dengan jalan berdagang. Personil mereka dari timur tengah telah banyak menikahi penduduk setempat dan banyak mempunyai gudang–gudang perdagangan pada kota - kota besar di P.Jawa,lebih- lebih Kutaraja Majapahit.

Namun setelah Ratu Suhita dan Raden Damarwulan wafat, rakyat kurang berkenan bila yang menjadi raja adalah anak dari Ratu Suhita dan Raden Damarwulan yakni Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan, sebab garis ayah bukan dari kerajaan Brawijaya, maka rakyat berkenan pada Pangeran Kertabumi (adik kandung Ratu Suhita) yang menjadi raja bergelar raja Kertawijaya/Brawijaya V (thn 1447m – 1450m)

Sejak raja Brawijaya V menjadi raja, negara sudah ada dalam keadaan pecah belah, sudah banyak negara - negara taklukan yang melepaskan diri menjadi kerajaan kecil yang berdaulat. Di dalam istana pun sudah trjadi perpecahan - perpecahan.

Majapahit telah menjadi negara lemah yang kurang berdaulat,tak ada wibawanya,keamanan sudah jauh berkurang dan perekonomian merosot tajam. Tapi didalam kas negara dan kekayaan istana terdapat koin - koin emas,permata - permata dan kekayaan lainnya yang tak trnilai harganya peninggalan kejayaan kerajaan sewaktu di pegang oleh leluhur - leluhur raja Kertawijaya/Brawijaya V yang belum pernah tersentuh pihak umum.

Semuanya itu menyebabkan kecemburuan sosial bagi rakyat dan kerajaan -  kerajaan lain yang telah lama mengincarnya.

Datanglah utusan dari kerajaan Keling Kediri yang merupakan taklukan Majapahit supaya Brawijaya V menyerahkan tahta dan kekayaannya pada raja Keling Kediri yaitu Prabu Udara,kalau tidak Prabu Udara akan mengambil tahta dengan paksa.

Pada waktu itu persatuan para wali beserta para santri - santrinya menawarkan tenaga untuk bergabung dengan tentara Majapahit melawan Prabu Udara dengan pasukannya Ghirindrawardhana. Tetapi di tolak oleh brawijaya V dan cukup beliau sendiri bersama tentara - tentara Majapahit akan melawannya sendiri. Terjadilah perang perebutan tahta yang seru,akhirnya Brawijaya V dengan tentara Majapahit kalah total, Prabu Udara menjadi raja Majapahit (th 1450m – 1477m) dan tentara Girindra wardhana menduduki pos - pos penting di Kutaraja.

Prabu Brawijaya V besrta kluarganya dan para bangsawan yang ikut beliau serta tentara - tentara yang setia kepadanya lari mengungsi keseluruh P.Jawa,terkadang dengan memakai nama samaran supaya tidak di bunuh oleh mata- mata  Prabu Udara, 
termasuk Prabu Brawijaya V sendiri memakai nama samaran Raden Gugur di desa lereng Gunung Lawu Ngawi Jatim.

Sepenggal Kisah Pelarian  
(Istri ke II Prabu kertabumi/Brawijaya V Pungkas)

Permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita

Prabu Brawijaya V semasa menjadi raja mempunyai istri selir yang di cintainya yakni Dewi Dwarawati yang berasal dari negri Chanpa / Kamboja beragama islam (merupakan bibi dr Sunan Ampel – Surabaya) namun tidak berputra, akhirnya Brawijaya V mengambil permaisuri dari funan (tiongkok selatan) di beri nama Dewi Ratnajuwita dan hamil.

Dalam keadaan hamil,beliau terfitnah oleh para selir - selir yang lain yang banyak sekali,akhirnya raja terbujuk fitnah dan di usirnya permaisuri yang sedang mengandung keluar dari istana. Dengan bekal kekayaan yang banyak dari suaminya (Brawijaya V), permaisuri berlayar di iringi armada yang setia padanya yang anggotanya terdiri dari murid - muridnya Sunan Ampel (R.Akhmad Rahmatullah/Bung Swie Hoo) Surabaya yang dipimpin oleh salah satu santri pedagang dari tiongkok yaitu Sung Hing yang sakti. 

Kepergian prmaisuri bukan jalan yang aman baginya melainkan penuh bahaya sebab nyawa permaisuri dan putra mahkota dalam kandungan di incar oleh orang - orangnya Prabu Udara dan orang - orangnya para selir - selir Brawijaya V yang tidak menyukai permaisuri serta tak menyukai lahirnya putra mahkota.

Dalam situasi tidak aman rombongan armada prmaisuri yang dikomando oleh Sung Hing mendarat di pelabuhan bengkalan – P. Madura untuk menghindari kapal - kapal musuh yang mengejar permaisuri. Di P. Madura Sung Hing mengajari orang - orang Madura membuat seni tali temali / tampar.

Dalam keadaan aman,armada permaisuri berlayar terus kelautan utara Jawa. Dalam keadaan kurang aman Sung Hing mengajak mereka mendarat di pelabuhan kecil kota jepara. Selama singgah di jepara,Sung Hing mengajari orang - orang jepara seni ukir mengukir.

Kemudian rombongan permaisuri berlayar terus sampai P. Sumatra, yang mana Sung Hing meminta perlindungan bagi permaisuri putra mahkota dalam kandungan kepada penguasa Sumatra selatan yakni Adipati Pailin Bang (kelak orang - orang menyebutnya Palembang). 

Mereka diterima dan dilindungi oleh Adipati Pailin Bang beserta seluruh rakyat Sumatra selatan.
Pailin Bang adalah bekas Jendral Kepala Keamanan Putri Ong Tien Hio (putri kaisar Hong Gie tiongkok selatan) sewaktu hamil pada masa berlayar mencari suaminya yakni Waliullah Sunan Gunung Jati Lie Guang Chang dan Lie Guan Hien.

Baik Pailin Bang,Lie Guan Chang,Lie Guan Hien mereka semuanya akhirnya menjadi murid - murid setia Sunan Gunung Jati.

Hanya Pailin Bang yang di angkat oleh Sunan Gunung Jati menjadi Adipati di Sumatra selatan,sedangkan Lie Guan Chang dan Lie Guan Hien tetap setia menjaga putri Ong Tien Hio hingga wafatnya. Makam mereka berada di pemakaman Keraton Kesepuhan Cirebon – Jawa barat.

Setelah Pailin Bang wafat,Sung Hing menggatikan menjadi Adipati di Sumatra selatan bergelar Adipati Arya Damar dan menikahi bekas permaisuri Raja Brawijaya V yakni Dewi Ratnajuwita. 

Yang mana putra mahkota Majapahit sudah berumur 2 tahun bernama Pangeran Jin Bun (kelak R. Patah) / Pangeran Hasan.
Sung Hing / Adipati Arya Damar dgn Dewi Ratnajuwita mempunyai anak laki - laki yang bernama Raden SungKinsan/Raden Husein yang kelak akan menjadi Adipati Terung/Lasem dan pada masa kerajaan Demak di puji oleh Raden Patah / Jin Bun berperang melawan Portugis yang ingin menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, Raden Sung kinsan berjuang bersama Raden Fatahillah (pangeran Fadilah Khan dari Gujarat – India Belakang) yang menjadi menantu Sunan Gunung Jati – Cirebon, hingga portugis kalah dan meninggalkan Sunda Kelapa (kini Jakarta)selama - selamanya dan pindah bercokol di bumi timor - timor (timor leste).

Untunglah sewaktu tentara Girindrawardhana datang menyerbu istana Majapahit sang permaisuri dalam keadaan hamil sudah terusir dari istana dan sudah dalam keadaan berlayar di lautan,jadi hanya prabu Brawijaya V beserta selir - selir dan anak - anak mereka yang mengalami serangan oleh prabu Prabu Udara dengan tentara Girindrawardhana. 

Sebagian keluarga Prabu Brawijaya V banyak yang gugur dan yang selamat melarikan diri mengungsi termasuk Prabu Brawijaya V.

Selama Majapahit dicengkram Prabu Udara dengan tentaranya,keadaan rakyat semakin susah, keamanan porak poranda;siapa yang kuat yang pro Girindrawardhana itulah yang menang. Wilayah Majapahit tinggal seperempatnya saja,banyak rakyat yang lepas mendirikan negeri sendiri - sendiri.
Rakyat yang mayoritas hindu,budha dan animisme / dinamisme sangat tertindas oleh kesewenang - wenangan tentaranya Prabu Udara. Rezim Prabu Udara hanya mencari kekayaan saja.

Agama islam sangat minoritas tetapi mempunyai perekonomian yang kuat,para pedagang - pedagang dan para pangeran - pangeran Majapahit yang beragama islam terutama anak-anak pangeran Qudbudin Alwi A. Khan (anak satu - satunya Ratu Suhita/Kencana Ungu dgn Raden Damarwulan/Alwi A. Khan) yang mana pangeran Qudbudin Alwi A. Khan dengan beberapa isterinya mempunyai anak - anak sebanyak 105 orang,50 orang wanita 65 orang laki - laki.

Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan sewaktu berdiri kerajaan Demak ,beliau diamanahi memimpin wilayah bekas kutarajasa Majakerta (majapahit kecil) yang wilayahnya kembali kecil seperti semula sewaktu baru berdiri oleh Raden Wijaya dulu, yang mana Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan setiap bulan membayar upeti pada kerajaan Demak dan Bergelar Brawijaya Pamungkas / orang pendatang terutama pedagang besar dari tiongkok menyebutnya dengan Nyoo Laywa.

Anak - anak Qudbudin Alwi A. Khan mempunyai usaha jalur perdagangan internasional dan mempunyai gudang - gudang perdagangan pada pelabuhan – pelabuhan seluruh P.Jawa.

Pada masa itulah para pendakwah – pendakwah islam dan para wali banyak menolong penderitaan rakyat, lama kelamaan membentuk organisasi sosial yang dinamakan organisasi sosial Walisongo yang mana Sembilan waliullah tersebut bergantian memimpin organisasi setiap jangka waktu tertentu yang telah disepakati mereka bersama. 

Masing – masing mereka telah mendirikan perguruan pesantren – pesantren disamping mengajarkan ilmu – ilmu agama juga mengajarkan ilmu – ilmu beladiri kanuragan,kedigdayaan,ilmu tata negara dan kesatrian yang mengajarkan cinta tanah air,juga mengumpulkan infaq,shodaqoh dan jaryah dari mereka – mereka yang mampu di bagikan untuk mereka setiap bulan kepada rakyat Majapahit yang mayoritas sedang menderita berat terjajah oleh rezim Prabu Udara degan tentaranya Ghirindrawardhana.

Seiring dengan berjalannya organisasi Walisongo yang sukses,seiring pula dengan semakin besarnya satu – satunya putra mahkota Majapahit di tanah rantau yaitu Pangeran Jin Bun/Hasan (kelak Raden Patah).
Sejak umur 10 thn Pangeran Jin Bun oleh ibunya (Dewi Ratnajuwita)dititipkan pada pesantrennya sunan Gunung Jati – Cirebon supaya mendapat pendidian agama islam hingga berumur 15 tahun. Setelah pesantrennya Waliyullah sunan Kudus (Sayyid Ja’far Shodiq) di kota Kudus – Jawa Tengah, supaya lebih mendalami agama islam dan mendapat ilmu kanuragan,kedigdyaan dan kesatriyaan. 

Sewaktu berumur 17 tahun Pangeran Jin Bun berguru pada pesantrennya sunan Ampel di Surabaya untuk lebih mendalami segala ilmu terutama ilmu tata negara dan liku – liku berjalannya politik dan kehidupan tata cara istana yang mana dulu sebelum di serang oleh Prabu Udara, keraton/istana Majapahit pernah mengambil (sunan Ampel) sebagai salah satu penasehat negara sewaktu bibi sunan Ampel Dewi Dwarawati menjadi selir 1/utama nya Prabu Brawijaya V dinikahkan dengan putrinya :Dewi Candrawati walaupun sunan Ampel telah mempunyai 2 orang istri yang dibawanya sewaktu belum datang ke P.Jawa yakni Putri Raja Champa / Kamboja dan Putri Raja dari salah satu kerajaan di Tiongkok Selatan. Pada akhirnya Pangeran Jin Bun di nikahkan dengan putrinya sunan Ampel yang tertua yaitu Dewi murtasyah kelak menjadi permaisuri kerajaa Demak.

Sangat menderita,tidak nyaman dan terbelenggu kebebasan hak – hak diri rakyat di kuasai oleh penjajah,diam – diam dalam hati Pangeran Jin Bun ingin mengusir dan menghabiskan seluruh tentara Girindrawardhana dan Prabu Udara dari bumi Majapahit. 

Dianjurkan oleh Walisongo supaya pangeran Jin Bun mengabdi dulu pada Prabu Udara. Saran tersebut diikutinya yang akhirnya Pangeran Jin Bun diangkat oleh Prabu Udara menjadi Adipati di daerah Bintoro (kini demak).

Dengan jabatan tersebut memudahkan Pangeran Jin Bun menggalang persatuan rakyat dan lama – lama seluruh lapisan masyarakat berbagai keyakinan bersama sisa – sisa tentaranya Prabu Brawijaya, seluruh keluarga kerajaan yang berada di perantauan beserta Walisongo dan santri – santrinya,
mereka dikomandoi Pangeran Jin Bun berjuang bersama – sama berperang mengusir Prabu Udara dan tentaranya Girindrawardhana.

Akibatnya tentara Girindrawardhana kalah total dan Prabu Udara yang sakti meninggal di tangang sunan Kudus/Sayyid Ja’far Shodiq. 

  • Pihak Majapahit banyak yang gugur,di antaranya yang gugur terdapat Waliyullah dari tiongkok bernama Waliyullah Tan Kim Han(syekh Abdul Qodir Assyinni). Dari provinsi FU Jian/Tiongkok Selatan yang merupakan leluhur garis lurus ke atas dari pendiri Nahdlatul Ulama yakni K.H.Hasyim Asya’ri, K.H.Wakhid Hasym dan anaknya K.H.Abdur rokhman wakhid Hasym / Gusdur presiden Republik Indonesia ke 4. 
  • Makam Waliullah Tan Kim Han berada di pemakaman Troloyo – Trewulan – Mojokerto – Jawa Timur. 
Dan di antara pejuang – pejuang Majapahit yang masih hidup terdapat Waliyullah dari Madinah yang menikahi putrinya Pangeran Qudbudin Alwi A. Khan/Brawijaya Pamungkas yakni Putri Dewi Kencananingrum,Waliyullah tersebut adalah Sayyid Maulana Mukhammad Fadlullah Adzimat Khan – Al kubro (Syekh Maghribi – Jawa Tengah) yang berpindah dari Majapahit ke Jawa Tengah mendirikan perguruan pesantren di pinggir laut selatan tepatnya di Parangkusumo.

Dari beliaulah menurunkan sultan – sultan mataram islam, kasunanan Surakarta/Solo,mangkunegaran,sultan – sultan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pakualaman. Makam beliau sekeluarga dan murid – meridnya brada di Parangkusumo dan terawat  rapi oleh keluarga kerajaan Ngayogyakarta maupun Surakarta sampai kini. Tidak heran kalau tanah yang berada pada pemakaman sultan – sultan Jawa di pemakaman Bukit Imogiri – Bantul – Jogyakarta adalah tanah yang diambil dari tanah mekkah Al Mukarromah dan dari Madinatul Munawarroh negeri asal Nabi Muhammad s.a.w. dan mengingatkan keluarga kerajaan sultan – sultan Jawa bahwa di antara leluhur sultan – sultan Jawa berasal dari Mekkah dan Madinah.

Dengan kemenangan Pangeran Jin Bun,di panggilnya Raja Brawijaya V di Gunung Lawu / Ngawi – Jatim oleh mereka semua untuk menduduki tahta kembali. Setelah Raja Brawijaya V bertemu mereka semuanya,raja memutuskan untuk memberikan tahtanya kepada anak kandungnya yaitu Pangeran Jin Bun dan pamit pergi ke Gunung Lawu lagi untuk bertapa (lengser Prabon madeg pandita). 

Yang mana pada akhirnya Prabu Brawijaya V / Kertabumi berguru kepada Sunan Kalijogo dan berhasil molegya (mencapai kesempurnaan diri dan telah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya,istilah hakekatnya adalah mengetahui guru sejatinya sendiri). Beliau bergelar Kanjeng Sunan Lawu. Makam Pamuksan beliau berada di Alas Ketonggo – Ngawi – Jawa Timur.

Setelah kepergian Prabu Brawijaya V ke Gunung Lawu, Pangeran Jin Bun menggatikan ayahnya menjadi raja,tetapi beliau teringat kata – kata Sunan Giri(Sayyid Ainul Yaqin A. Khan) sewaktu berhadapan dengan Pasukan Giridrawardhana dulu beliau selalu berucap 

Berkas:Surya Majapahit.jpg
"Sirna haling Kertaning Bumi’’ artinya takkan ada lagi kekuasaan yang berdiri di atas bumi Majapahit hingga akhir kerajaan dikarenakan perebutan kekusaan.Pangeran Jin Bun berunding dengan para Walisongo yang sepakat memindahkan pusat kerajaan menuju Bintoro/Demak. Yang mana seluruh barang – barang istana dan bangunan – bangunan yang penting – penting di istana di pindahan semua ke Bintoro/Demak. 

Mengenai simpanan harta benda yang melimpah ruah milik keraton Majapahit, oleh Walisongo bersepakat dengan Pangeran Jin Bun dan di depan mata para punggawa – punggawa/pejabat – pejabat, tentara – tentara Majapahit dan wakil – wakil rakyat Majapahit,……… harta karun Majapahit tersebut di titipkan pada raja – raja lelembut yang berada di seluruh pelosok P. Jawa, tiba – tiba tumpukan harta karun tersebut di depan mereka lenyap karena raja – raja lelembut datang mengambil titipan tersebut atas izin Walisongo dengan Pangeran Jin Bun.

Adanya kespekatan antara Walisongo bersamaan Pangeran Jin Bun dengan raja – raja lelembut di seluruh P. Jawa bahwa harta karun tersebut tidak boleh di berikan kepada sembrang generasi melainkan kelak diizinkan kelak buat rakyat Nusantara sewaktu di pimpin oleh Kepala Negara bergelar Satriya Pinandita Sinisihan Wahyu yang sangat amanat kepada rakyatnya,pada masa itulah hampir seluruh punggawa – punggawa/pejabat – pejabat Nusantara banyak yang jujur/amanat untuk rakyat di pegang teguh hingga kemakmuran bisa merata. 

Yang mana pada zaman tersebut rakyat umum bebas tidak membayar pajak, hanya usaha – usaha/pabrik – pabrik saja yang membayar pajak (wong cilik anemu kethok emas wong gedhe bakal gumuyu – karta jamanipun nuli negaranira rengka), begitulah istilah dalam salah satu petikan buku ,,Ramalan Jayabaya”.

Setelah adanya peralihan kekuasaan dari kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak, diresmikanlah berdirinya Kerajaan Islam Demak dengan rajanya bergelar Sultan/Raja Hasan/Jin Bun. Hal tersebut ditandainya dengan diresmikannya Masjid Agung Demak pada tahun 1478 masehi. 

Yang mana setelah peresmian,malam harinya di adakan hiburan rakyat berupa pergelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi dalang adalah Wali sunan Kalijogo(Raden Sayyid/Gansie Chang) dengan dihadiri seluruh rakyat berjejal – jejal di lapangan depan masjid Demak dengan cerita besar ,"Perang Bharatayudha Jayabinangun” yang dimenangkan Pandawa/Panengen atas Kurawa/Pangiwo. Setelah melaksanakan ibadah haji di mekkah Sultan Hasan/Jin Bun bergelar Sultan Akbar Al Fattah yang mana rakyat menyebutnya Raden Patah.

Seluruh pasukan – pasukan kerajaan Majapahit yang dianggap kurang penting dikuburkan semua pada salah satu makam di belakang masjid Demak, sedangkan yang penting dibawa sendiri oleh Raden Patah/Jin Bun.

Menurut keterangan Walisongo kepada rakyat bahwa sejak kerajaan Demak berdiri adalah bukan masanya saling berebut pusaka – pusaka atau kesaktian – kesaktian melainkan setiap diri untuk merebut ajimat Kalimosodo. Maksudnya, bagi yang bukan islam adalah saling berlomba melaksanakan ibadah menyembah Tuhan Yang Maha Satu dengan cara keyakinan masing – masing yang tujuannya adalah tetap Tuhan Yana Maha Esa. Sedangkan bagi islam adalah Kalimosodo (Kalimasada) yang berarti Kalimat Syahadat yang terucap sejak dalam alam roh terus masuk ke dalam gua garba atau perut ibu terus hidup di dunia hingga alam kelanggengan tetap mengucap syahdat.

Reformasi sukses yang pernah terjadi di bumi yang dilaksanakan oleh Organisasi Walisongo karena di dasari ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ketulusan hati dalam pengabdian mengangkat taraf hidup pada rakyat jelata yang tadinya terpilah – pilah dalam kasta – kasta dan terpuruk karena gulung tikarnya sistim pemerintahan rezim Girindrawardhana, dengan adanya reformasi pelan – pelan tapi tulus walaupun bertahun – tahun namun akibatnya mengena di hati rakyat yang dengan sendirinya masyarakat merubah dirinya sendiri.

Dengan kesadaran cinta tanah air mengikuti apa yang disarankan oleh pangeran Jin Bun/Raden Patah dengan Walisongo dalam merubah sistim kenegaraan. Jadi bukan reformasi yang hanya berjalan sebagai suatu gebrakan saja penuh hingar bingar tetapi kurang mengena di hati rakyat yang akibatnya hanya menimbulkan persaingan – persaingan antar pimpinan – pimpinan maupun persaingan – persaingan antar kelompok masyarakat.

Minggu, 16 Februari 2014

Budaya SAPARAN REBO PUNGKASAN BENDUNG KAYANGAN (Kulonprogo) Jogjakarta

 Budaya Nusantara

Budaya SAPARAN REBO PUNGKASAN BENDUNG KAYANGAN (Kulonprogo) Jogjakarta


" Sebuah acara dan upacara adat tradisi masyarakat Desa Pendoworejo di kaki tebing menjulang, pada delta dam kuno, Bendung Kayangan, beserta hamparan tanah pertanian sawah-ladang, berpagarkan lereng Penggunungan Menoreh. Prosesi utama: Kenduri “Kembul Sewudulur” dengan menu khusus, dan “Guyang Jaran” dengan atraksi jaran kepang, disertai rangkaian penggenapannya."
Penggunungan Menoreh
BUKIT KAYANGAN Hijaunya Lembah.... Hijaunya Lereng Pengunungan Menoreh

TEBING menjulang.  Tinggi sejauh pandang. Bagai menusuk langit. Kaki tebing, genangan aliran sungai. Lereng bukit-bukit, deretan Pegunungan Menoreh, hijau terpandang. 
Pohonan rindang, semak-semak hijau ikuti irama gelombang kontur perbukitan.  Di kaki bukit-bukit Kayangan,  melintang bendungan lawas. Dam irigasi teknis peninggalan zaman Belanda. Bendung Kayangan. 

Hijaunya Lembah, Hijaunya Lereng Pegunungan, sebuah kalimat puitis ciptaan SH Mintardja, 

cocok buah mengenang kawasan lereng pegunungan ini.  Jauh sebelum dam irigasi teknis itu, konon, telah ada bendungan air buah karya leluhur warga setempat, Bei Kayangan.  Bendung itu pula yang menyulap lereng pegunungan dapat dioncori aliran air dan tumbuh menjadi areal persawahan menghampar hingga ke lembah terbawah. Di kawasan itu ada garis sejarah yang nyaris terlewat, meski tanda-tanda petilasan menguatkan, adanya peristiwa bermakna di masa lalu. Suatu muasal pada suatu satuan warga yang mewarisinya.

Lereng dan lembah Pendoworejo. Sawah terbentang, pada lereng berundak, mengisi seluruh cekung lembah, menyusun hamparan yang nyaman disaksikan. Pemandangan alam yang sempurna, baik kala sawah menghijau, menguning, atau saat sedang diolah berlupur-lumpur.  Puncak-puncak bukkit yang mengitar, bisa jadi tempat memandang. 

Di lembah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai daerah Watumurah, terdapat mutiara sejarah tersembunyi, pesona tradisi penuh pikat, bersama dengan sejumput misteri yang menyelimuti.

DIMANAKAH ?                                    
BENDUNG KAYANGAN
Status administrasinya : terletak di Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kabuapten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Posisi gerografisnya, di lereng Pegunungan Menoreh sisi timur. Untuk mencapainya, cukup mudah. Dari kota Yogyakarta, 23 kilometer kea rah barat. Tegak lurus dari Tugu, langsung menyusur Jalan Godean. Selepas Pasar Godean, terus lurus kea rah barat, melewati Kali Progo hingga perempatan Kentheng, Kecamatan Nanggulan.

Perempatan ini, jika ke kiri (selatan) menuju Kecamatan Nanggulan hingga Kota Kecamatan Sentolo yang terletak di jalur Yogya-Wates. Jika belok kanan (utara) menuju Kecamatan Kalibawang dan bisa diteruskan hingga Muntilan, Mendut, Borobudur dan Magelang.

Menuju Bendung Kayangan, dari perempatan Kentheng lurus ke barat ke arah Kecamatan Girimulyo. Tidak terlalu jauh, dan jalanan makin menanjak. Tatkala mencapai tanjakan mendaki lereng bukit terdepan, sampailah di dataran Watumurah. Pada saat itu akan dijumpai sebuah kitaran perbukitan memagar dengan lembah persawahan yang menghampar. Sebuah lembah dengan gunung gemunung, lebat menghijau, mengitar menjulang.

Pada sisi barat laut area persawahan itu, terlihat tebing tinggi menjulang, dengan sebuah guratan sungai di kaki bukit. 

Disitulah Bendung Kayangan. Dengan melintas jalan raya menuju Girimulyo, mengitar persawahan, selepas melintas jembatan kecil Kali Kayangan, belok ke kanan menyusuri jalan kecil. Di penghujung jalan di kaki bukit itulah area Bendung Kayangan. Dekat dan mudah dijangkau.

Jika perjalanan diteruskan, jalan kea rah Kecamatan Girumulyo dengan tanjakan dan kelokan yang menantang, akan dicapai perbukitan dalam deret gugusan Pegunungan Menoreh yang bisa menjangkau Samigaluh di utara, Kota Wates di selatan, dan ke barat akan terjumpa Goa Kiskendo, Goa Suplawan, dan Kota Purworejo.

Mitos dan Legenda 
BEI KAYANGAN Sang Pekathik
Kisah-kisah cikal bakal, asal muasal, Bendung Kayangan.
Kembul sewu 3
SEBUAH versi cerita rakyat mengisahkan, saat Prabu Brawijaya pungkas, raja Majapahit yang mengembara menghindar dari penaklukan dan melakukan perlawanan budaya, suatu saat sampai di Lereng Pegunungan Menoreh dan sempat tetirah. Bersamadi di tepian kali sambil memandang tebing cadas menjulang. Mungkin Sang Prabu merasai adanya getaran energi yang menguatkan tekadnya untuk terus mengembara menemukan kesejatian hidup, melepas kenikmatan tahta, kalah namun tidak pernah takluk.

Dalam pengembaraan panjang menghindar dari kejaran lawan, Sang Prabu terkesan pada suasana nyaman dan tentram berada di tengah alam yang terlindung oleh pagar-pagar bukit rimbun dengan aliran sungai bening. Saat hendak melanjutkan perjalanan, Sang Prabu meminta salah satu abdi bersama sejumlah pendamping agar tetap tinggal dan membangun kehidupan di sekitar kali dan tebing itu. 


Demikianlah, setiap kali singgah di suatu tempat, Sang Prabu selalu menandainya menjadi petilasan. Di lereng Pegunungan Menoreh, Sang Prabu meminta abdi kinasihnya, seorang yang ahli dalam mengurus kuda-kuda Sang Prabu, untuk tetap tinggal dan membangun kehidupan serta perkampungan di kawasan itu. Pria pengurus kuda (pekathik) itu dikemudian hari dikenal sebagai Bei Kayangan. Seorang punggawa raja (bei) yang tinggal di lereng bukit Kayangan.

Versi cerita rakyat lainnya menyebutkan, salah seorang keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, terus mengembara menghidar dari pertikaian tanpa akhir di Majapahit. Pengembaraan berakhir ketika sampai di sebuah perbukitan berlembah yang terlindung. 

Di dekat tebing bukit dan aliran sungai, bersama dua pendamping setianya, Ki Diro dan Ki Somoito, ia menghentikan perjalanan. 

Tetirah dan menemukan kedamaian diri. Selanjutnya, mengembangkan kawasan itu menjadi pemukiman dan bercocok tanam. Guna kebutuhan persawahan dan perladangan, dibangunlah sebuah bendungan air dan saluran oncoran. Keturunan Brawijaya itu dikemudian hari dikenal sebagai Bei Kayangan, cikal bakal Dusun-dusun didesa yang kini dikenal sebagai Desa Pendoworejo.

Ketika berada di tempat itu, keahlian mengurus kuda tentu tidak ditinggalkan. Tak heran, jika Bei Kayangan mengembangkan lingkungan tinggalnya cocok untuk memelihara kuda. 
Kuda butuh pakan hijauan, air yang cukup, dan area penggembalaan sekaligus tempat melatih kuda sebagai kuda tunggang, kuda beban, dan kuda-kuda prajurit. Disamping itu, kawasan tinggal harus berkesuburan dengan menghasilkan sumber-sumber pangan. 

Bei Kayangan membuat bendungan air agar tanah dapat diolah buat bercocok tanam. Meski demikian, lereng itu tidak pernah menghapus diri sebagai kawasan tetirah dan menenangkan diri. Sembari bercocok tanam dan memiara kuda, Bei Kayangan terus setia pada perintah Sang Prabu. Kuda-kuda piaraannya, sering dimandikan di aliran air dekat bendungan. Hingga, pada suatu saat tanpa diketahui banyak orang, Bei Kayangan menghilang bersama kuda kesayangannya. Diperkirakan, Bei Kayangan dan kudanya muksa di tempat itu.
Sebagai bentuk penghormatan kepada jasa Bei Kayangan, lahir tradisi kenduri wujud syukur kecukupan air untuk pertanian pangan dan ritual memandikan (ngguyang) kuda di aliran Bendung Kayangan. Tradisi kenduri di Bendung Kayangan itu turun temurun diselenggrakan sekali setahun, pada tiap hari Rabo terakhir di bulan Sapar. Lalu, dikenallah Saparan Rebo Pungkasan. 

Belum ada penjelasan, mengapa hari Rabo, dan mengapa pula bulan Sapar. Alasan pemilihan waktu, sejauh ini, belum dikaitkan dengan peristiwa yang dialami Bei Kayangan atau perhitungan almanak tertentu. Apakah, hari Rabo terakhir di bulan Sapar itulah diperkirakan Bei Kayangan muksa?

Di seputaran Bendung Kayangan, ada sejumlah makam kuno. Beberapa di antaranya, belum dapat terjelaskan. Tugas sejarah buat menyingkapnya, perkenan para ahli pikir mengungkapnya.

Demikianlah kisah lahirnya tradisi Saparan Bendung Kayangan. Mirip kisah-kisah Saparan di tempat lain, banyak yang mengambil sumbu kisah Brawijaya V, kisah abu-abu masa akhir keruntuhan Majapahit. Kisah keruntuhan kerajaan Majapahit dan raja Brawijaya terakhir yang mengembara, menghindar dan melakukan perlawanan, bersama para pengikut setianya. 

Kisah-kisah ini banyak digunakan sebagai rujukan dari banyak asal usul perkampungan dan tempat bersejarah (petilasan) , muasal tradisi, dan bahkan silsilah keturunan suatu kaum.
Terdapat penanda-penanda fisik pada banyak petilasan yang dipercaya sebagai peninggalan Sang Prabu. Ada pula penanda penting lain, yaitu meninggalkan keturunan, buah perkawinan dengan perempuan setempat. 

Saparan Rebo Pungkasan
Kembul Sewu Dulur menjadi salah satu tradisi yang selalu digelar dalam upacara adat Saparan Rebo Pungkasan “Ngguyang Jaran Kepang” Bendung Kayangan di Desa Pendoworejo, Kulonprogo.
Saparan Rebo Pungkasan “Ngguyang Jaran Kepang Kembul Sewu Dulur” Bendung Kayangan Kulonprogo

Kenduri, peristiwa budaya yang merata hampir ada dalam tradisi manusia. Kenduri, tradisi universal. Hanya bentuk, cara, dan isinya saja yang berbeda-beda. Pada intinya, makan bersama. 

Demikian pula dalam Rebo Pungkasan Bendung Kayangan, kenduri menjadi mata acara utama. Diceritakan, tradisi kenduri massal di area bendungan ini sudah berlangsung turun temurun dan tidak diketahui lagi awal mula dan muasalnya.  
Berlangsungnya Kenduri :

Ketika hari Rabu terakhir di bulan Sapar tiba, setiap rumah tangga (somah) di dusun-dusun Ngrancah, Kalingiwa, Turusan, Krikil, Banaran, Kepek dan Gunturan bersiap dengan serangkaian menu siap saji yang dimasak sendiri. Menu utama yang mereka siapkan: bothok lele, panggang mas, dan nasi golong. Semuanya tanpa dibumbui garam. Menu variasi dan tambahan, boleh disertakan. Biasanya, urap sayur mayor, lauk pauk ala kadarnya. Sementara itu, menu unggulan disediakan oleh Lurah. Biasanya, berupa satu ingkung ayam jago utuh.

Hebatnya, meski disiapkan menu khusus, namun tidak satupun yang disiapkan sembagi sesaji seperti upacara tradisi pada umumnya. Di Bendung Kayangan, seluruh menu makanan yang dibawa ke area kenduri untuk dimakan bersama. Sebelum makan, dilangsungkan doa bersama.

Apa itu bothok lele?
Bothok lele, masalah berbahan baku ikan lele. Dibersihkan dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Dicampur dengan adonan bumbu rempah mirip bumbu pepes tanpa daun kemangi, dengan tambahan parutan kepala yang belum terlalu tua. Dibungkus dengan daun pisang dan dikukus hingga masak. Lele bumbu bothok. Khusus dalam upacara ini, bothok lele dilarang menggunakan bumbu garam. Tanpa garam.
Konon, Bei Kayangan yang tinggal di dekat Bendung Kayangan, menyukai masakan bothok ikan lele. Lele, diambil dari sungai. Mungkin. Mengapa harus tanpa garam? Menurut sumber setemat, itu dimaksudkan sebagai pepeling atau nasihat dari Bei Kayangan, bahwa saat menikmati makanan lezat, harap diingat bahwa kelezatan itu karena peran garam. Tanpa garam semua menjadi tawar dan hambar. Karena itu, jika mendapatkan kenikmatan selalulah bersyukur, sekaligus tetap prihatian (bersahaja), tidak berlebihan, dan ingat jasa pengorbanan pihak lain.

Kenapa bothok? Konon, bothok salah satu jenis masakan yang menyatupadukan segala ramuan dan bahan bakunya. Juga paduan antara sumber makanan hewani dan nabati. Terbungkus dalam satu wadah dan matang bersama-sama antara bungkus, adonan bumbu, dan bahan utamanya. Bothok, menurut cerita, symbol harapan untuk senantiasa manjing ajur ajer, hidup menyatu tanpa pernah membeda-bedakan meskipun jelas-jelas semuanya punya perbedaan.

Apa itu panggang mas?
Panggang mas, sebenarnya masakan sederhana. Telur ceplok. Cara masaknya juga sederhana, dipanaskan di atas perapian melalu wajan pemanggang. Minyak goreng secukupnya saja, cukup dioleskan, lalu telur dituang begitu saja. Nyala api kecil. Panggang Mas diusahakan matang perlahan. Telor ceplok matang terpanggang, bukan matang tergoreng. Panggang mas, kesat dan ranum kecoklatan. Telur panggang yang ranum keclokalatan, menyerupai warna emas.

Lagi-lagi, panggang mas dimasak tanpa garam. Tanpa bumbu apapun. Mengapa telur ceplok? Ceplok artinya memasak telur tidak dengan mengaduk cairan putih dan kuning telurnya. Tidak seperti dalam memasak dadar. Langsung, kuning dan putih telor dituang ke pemanggangan. Konon, sebagai nasihat bahwa orang harus ingat sangkan atau asal muasal, dari bibit (winih) yang dilambangkan telur. Siapapun bermula dari bibit yang sama, tugas setiap manusia, mengubah bibit itu menjadi emas, menjadi sesuatu yang berharga.

Apa itu sego golong?
Sego golong, adalah nasih putih yang disajikan dalam bentuk golong, atau bulatan yang rapat dan berpermukaan halus, rata dalam lengkung yang harmonis. Sego golong melambangkan persatuan dan kesatuan kekuatan utama dari para warga.  
Rumah Makan Kertasari | Nasi Golong
Nasi sumber kekuatan utama, dan para pemakannya harus bersedia untuk golong gilig, sesia sekata, bahu membahu, dan bergotongroyong berkerjasama dalam hidup seharihari. Dengan cara disajikan dalam bentuk golong, nasi akan mudah disantap dan tidak tercerai berai.

Apa itu ingkung?
Ingkung itu ayam dipotong dan dibersihkan,  dimasak utuh dengan cara direbus bersama bumbu rempah-rempah sederhana. Saat menjelang masak, santan kental dimasukkan kedalam rebusan bumbu dan ayam. Ayam gurih yang tersaji utuh. Ingkung ayam ini bukan sajian keharusan dalam Rebo Pungkasan Bendung Kayangan ini melainkan hanya simbol kesediaan pemimpin desa member yang terbaik bagi warganya.
Jelas sekali, seluruh masakan yang diperlukan dalam kenduri ini berasal dari sumber-sumber local dan tersedia di lingkungan desa. Tidak perlu mencari-cari sajian kenduri yang aneh-aneh. Bei Kayangan mengajarkan kesederhanaan, kerukunan, kebersamaan, dan menghindari kesia-siaan.

Semua menu disiapkan oleh setiap somah atas biaya sendiri. Porsi tiap-tiap menu, secukupnya saja, tidak berlebihan. Cara takar porsi menu, biasanya diporporsionalkan dengan jumlah anggota keluarganya. Meski demikian, tetap disiapkan sesuai kemampuan. 

Seluruh masakan ditata di dalam tenong. Tenong, semacam benjana dari anyaman bambu, lingkar berwengku, terdiri dari alas di bawah dan sungkup penutup di atas, bisa difungsikan buka dan tutup, menjadi alat tradisional untuk taruh, bawa, kirim, masakan dan makanan.  Menu utama, nasi golong, panggang mas, dan bothok lele menjadi semacam keharusan. Lainnya, bersifat manasuka. 

Selesai ditata dalam tenong, pada siang hari saat waktu makan siang, isan gawe, warga laki dan perempuan, mengangkat tenong menuju delta Bendung Kayangan. Perjalanan mereka menuju lokasi kenduri, berderet berjajar, melangkah perlahan menyusuri lereng, menyunggi tenong di kepalanya, mengalir hingga area perhelatan. Di area perhelatan, sudah disiapkan tikar ala kadarya, penduh ala kadarnya, lalu warga menurunkan tenongnya, menjajarkan dengan tenong-tenong warga lainnya. Sembari menunggu kedatangan warga lainnya, mereka duduk-duduk menunggu sembari bercanda dan mempercakapkan kehidupan sehari-hari mereka. 

Di antara hidangan dalam tenong itu, ada satu tenong yang disiapkan Lurah. Isinya, plus ingkung ayam jago. Hidangan paling istimewa. Air kali terus mengalir. Angin terus menghembus. Para pemilik kuda kepang, siap dengan kuda mereka masing-masing. Panas siang seakan meredup di antara segarnya alam dan gemericik air yang terus mengalir. Tebing bukit seakan memberi penahan dan perlindungan.  Seluruh yang hadir, bergabung dengan ratusan warga yang sedang menghadapi barisan tenong-tenong. Ketika para pembesar desa telah tiba dan semua warga telah terkumpul, dimulailah ritual kenduri bersama itu. Khidmat, warga memulai kenduri.
Sungkup tenong dibuka. Pak Lurah memberi pidato ringkas. Semua yang hadir, warga, para pemilik kuda kepang, dan tetamu dari manapun datangnya dan siapapun mereka diajak untuk bersama-sama mendekat. mBah Modin, tetua desa mulai mengumandangkan doa-doa. Semua takzim mengamini. Doa syukur pun dikumandangkan ringkas dan bersahaja. 

Selesai, maka seluruh warga dan siapapun yang berada di tempat itu, diajak bersama menikmati seluruh hidangan yang disajikan. Semua boleh menikmati sepuasnya, boleh memilih tenong milik siapapun. Ingkung ayam yang disediakan Lurah pun dibagi-bagi semerata mungkin. Beralaskan daun pisang, mereka lahap makan di tepian bending, aliran dan genangan air. Pesta rakyat itu menghilangkan sekat-sekat tanpa batas, mereka setara menikmati yang ada. Tak ada hidangan yang diperebutkan, tidak ada yang terbuang. Kalaupun tersisa nanti akan dibawa pulang. Tidak ada yang mubazir.

Atas hakikat pesta rakyat, kenduri bersama ini sebagai bentuk mengajak siapapun yang dating untuk bersama menikmati hidangan, makan bersama, maka istilah adat yang semula hanya disebut “KENDUREN”, diubah pada tahun 2007 menjadi “KEMBUL SEWUDULUR” yang bermakna makan bersama seribu saudara. Makan bersama dengan orang banyak, membangun persaudaraan. KEMBUL SEWUDULUR lebih sebagai sarana pengeratan warga dan persaudaraan antar umat manusia.

GUYANG JARAN
Kuda Betulan dan Kuda Kepang
saparan rabu pungkasan tradisi adat budaya kulon progo girimulyo pendoworejo nanggulan kenteng godean jathilan ngiwa gunturan majapahit brawijaya kuda ngguyang jaran kembul sewu sedulur sedhulur
Memperagakan Mbah Bei Kayangan yang sedang memandikan kuda.
Itu kuda jathilan umurnya sudah beratus-ratus tahun.
Pada awalnya, diperkirakan, tradisi ini bersifat ritual tahunan. Memandikan kuda piaraan dengan air Bendung Kayangan. Dipercaya, Bei Kayangan seorang pekathik kuda yang tangguh. Terampil dalam merawat dan melatih kuda. Bendung Kayangan yang dibangunnya di masa lalu pun tidak lepas dari kebutuhan perawatan kuda, disamping untuk kebutuhan irigasi pertanian. Para pemilik kuda di seputaran Bendung Kayangan di masa lalu, mungkin, punya keyakinan tertentu atas manfaat air bendung kayangan bagi kuda-kuda mereka.

Tatkala kuda tak lagi menjadi hewan piaraan untuk membantu kerja manusia, karena tergantikan kendaraan bermesin, maka entah sejak kapan acara ritual itu diubah dengan memandikan kuda kepang, modifikasi figure kuda sebagai alat menari dalam pertunjukan seni tradisi. Alat itu terbuat dari anyaman bamboo yang dihias dan dicat warna warni, menjadi barang seni. Yang terang, banyak grup kesenian yang mengirim kuda kepangnya untuk dimandikan pada Rebo Pungakasan di Bendung Kayangan ini. Kuda kepang dimandikan, dibersihkan, dijamas dengan air Bendung Kayangan.

Prosesi memandikan kuda ini mungkin juga untuk memperkuat kenangan kepada leluhur warga, Bei Kayangan yang pecinta kuda. Kehadiran kuda yang dirawat dengan baik (dimandikan/dibersihkan) seakan menjadi proses pemuas dan pelega, sesuatu yang menggembirakan bagi Bei Kayangan. Tradisi turun temurun.

Prosesi ini dilangsungkan setelah Kembul Sewudulur. Di aliran Kali Kayangan itu, kuda-kuda kepang dimandikan dengan air sungai. Kuda kepang, yang biasa digunakan untuk menari kuda lumping, reyog, dan jathilan dimainkan oleh para penarinya dan dibawa masuk ke dalam genangan aliran air sungai. Para penari dan kuda kepang yang dinaikinyapun basah kuyup. Para warga yang selesai pesta rakyat makan bersama pun bisa tergelak menyasikan para pengguyang jaran itu.

Disamping upacara ritual, memandikan kuda kepang di sungai itu juga sebagai hiburan bagi warga dan tetamu Kembul Sewudulur. Akan lebih menarik, prosesi ini tergarap dalam komposisi seni pertunjukan ritual yang menggugah rasa ingin tahu para penghadir.


Rebo Pungkasan
Sajian Wisata Berbobot

Upacara adat tradisinya, menarik. Lain dari Rebo Pungkasan di tempat lain. Lokasi prosesi, menantang. Ada bukit, lereng, sungai, hutan, perkampungan, sawah, ladang, dan seni kerajinan. Letak strategis, di lintas wisata Yogyakarta -- Borobudur – Mendut dan Pantai Selatan serta Pegunungan Menoreh. Ragam wisata alam, agro, arkeo, komunitas, minat khusus, pasar tradisional, budaya, dan seni pertunjukan, bisa tersedia. Bendung Kayangan, gerbang utama Kulonprogo. Persinggahan penting kunjungan wisata ke Yogyakarta ***
////Source : dari berbagai sumber net///

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...