primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label TOKOH LEGENDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH LEGENDA. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

Putri Banjar ( Putri Mayang Sari ) Di Tanah Dayak

Nusantara

Putri Banjar ( Putri Mayang Sari ) Di Tanah Dayak 

Putri Mayang Sari dari Banjar
Bangunan berwarna kuning berbentuk rumah adat Banjar itu, memang agak tersembunyi di balik rimbunan pohon karet yang tumbuh subur. Kalau kita bepergian dari Banjarmasin ke Tamiang Layang dan melintasi Desa Jaar, bangunan itu tidak tampak dari jalan raya. Sebuah bangunan sekolah dasar akan menghalangi pandangan kita. Menurut tetuha adat di Desa Jaar, di dalam bangunan berbentuk rumah adat Banjar itu terdapat pusara Putri Mayang Sari. Ia adalah putri Sultan Banjar yang pernah menjadi pemimpin di Tanah Dayak Ma’anyan. Karena itu bagi orang Dayak Maanyan, bangunan unik itu mempunyai arti dan makna tersendiri. Postingan ini bertujuan memaparkan hubungan antara Urang Banjar dan Urang Ma’anyan yang bersumber dari tradisi lisan.


Putri Mayang Sari Menurut sejarah lisan orang Dayak Ma’anyan, Mayang Sari yang adalah putri Sultan Suriansyah yang bergelar Panembahan Batu Habang dari istri keduanya, Noorhayati. Putri Mayang Sari dilahirkan di Keraton Peristirahatan Kayu Tangi pada 13 Juni 1858, yang dalam penanggalan Dayak Ma’anyan disebut Wulan Kasawalas Paras Kajang Mamma’i. Sedangkan Noorhayati sendiri, menurut tradisi lisan orang Dayak Ma’anyan adalah perempuan Ma’anyan cucu dari Labai Lamiah, tokoh mubaligh Suku Dayak Ma’anyan.

Putri Mayang Sari diserahkan oleh Sultan Suriansyah kepada Uria Mapas, pemimpin dari tanah Ma’anyan di wilayah Jaar Sangarasi. Dituturkan, dalam kesalahpahaman Pangeran Suriansyah membunuh saudara Uria Mapas yang bernama Uria Rin’nyan yaitu pemimpin di wilayah Hadiwalang yang sekarang bernama Dayu. Akibatnya, Sultan Suriansyah terkena denda Adat Bali, yaitu selain membayar sejumlah barang adat juga harus menyerahkan anaknya sebagai ganti orang yang dibunuhnya.


Setelah Uria Mapas meninggal dunia, penduduk setempat mengangkat Putri Mayang Sari untuk memimpin daerah Sangarasi yang sekarang bernama Ja’ar –lima kilometer dari Tamiang Layang. Kepemimpinan Mayang Sari sangat diakui masyarakat setempat, karena selain putri dari seorang Sultan Banjar, ia adalah saudara angkat Uria Mapas Negara. Dalam tradisi Dayak Ma’anyan, Putri Mayang Sari dicitrakan sebagai perempuan berambut panjang dan berparas cantik. Namun bukan hanya kecantikan yang mempesona dimilikinya, tetapi kemampuan menyejahterakan rakyat di wilayah yang dipimpinnya. Dituturkan, pada masa hidupnya Putri Mayang Sari tidak pernah diam. Ia rajin mengadakan kunjungan ke desa untuk mengetahui kehidupan rakyat yang sebenarnya, dan secara khusus untuk mengetahui bagaimana ketahanan pangan masyarakat. Ia selalu mengawasi bagaimana hasil panen masyarakat. Untuk meningkatkan hasil panen, Putri Mayang Sari menganjurkan agar penduduk menanam padi di daerah berair, karena hasil panennya lebih baik daripada di daerah kering (tegalan).

Rute kunjungan Putri Mayang Sari setiap tahun adalah melewati daerah Timur yakni Uwei, Jangkung, Waruken, Tanjung. Kemudian daerah Barat yaitu Tangkan, Serabun, Beto, Dayu, Patai, Harara dan kembali ke Jaar Sangarasi. Menurut kepercayaan orang Dayak Ma’anyan, daerah atau wilayah yang dikunjungi atau dilewati Putri Mayang Sari itu selalu mendapat berkah-keberuntungan, misalnya pohon buah berbuah lebat. Konon, buah langsat di daerah Tanjung yang terkenal manis dan disenangi banyak orang adalah karena daerah Tanjung adalah tempat singgah Putri Mayang Sari. Kendati beragama Islam, dalam menjalankan pemerintahannya Putri Mayang Sari menggunakan sistem mantir epat pangulu isa yaitu sistem pemerintahan tradisional Dayak Ma’anyan. Dalam pola kepemimpinan ini, satu wilayah ditangani empat pemimpin (mantir) dan satu pengulu. Empat mantir mengurus masalah pemerintahan, sedangkan pengulu mengatur seluk beluk Hukum Adat. Dalam pemerintahannya memang ada dua hal yang diprioritaskan, yaitu terpenuhnya kebutuhan pangan rakyat dan tegaknya Hukum Adat yang bagi orang Dayak Ma’anyan adalah tata aturan kehidupan.

Setelah mengalami sakit selama tiga hari, pada 15 Oktober 1615 atau dalam penanggalan Dayak Ma’anyan disebut Wulan Katiga Paras Kajang Minau, Putri Mayang sari wafat. Karena kecintaan rakyat kepadanya, jasadnya tidak langsung dikuburkan, tetapi disemayamkan terlebih dahulu di dalam rumah hingga kering.
Setelah mengering, karena cairan dari mayat disalurkan ke dalam tempayan, jasad Putri Mayang dibawa ke seluruh daerah agar semua rakyat mendapat kesempatan memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin mereka yang telah meninggal dunia. Akhirnya, jenazah Putri disemayamkan di Sangarasi yaitu wilayah Jaar sekarang.

Urang Banjar dan Ma’anyan Tradisi lisan orang Dayak Ma’anyan memang banyak bertutur tentang relasi antara Urang Banjar dan Urang Ma’anyan. Misalnya dituturkan, orang Ma’anyan pada mulanya adalah penghuni Kayu Tangi. Karena itu, orang Ma’anyan, dalam bahasa ritual wadian, menyebut dirinya sebagai anak nanyu hengka Kayu Tangi. Hal itu untuk menunjukkan, sebelum hidup terserak di beberapa wilayah sekarang, mereka tinggal di Kayu Tangi, yaitu wilayah yang sekarang berkembang menjadi Kota Banjarmasin.

Dalam Sejarah Banjar (2003: 36-7) dituliskan, sebelum berdirinya Kesultanan Banjarmasin pada 1526, bahkan sebelum adanya Negara Dipa dan Negara Daha sebagai cikal-bakal Kesultanan Banjarmasin, berdiri satu negara etnik orang Ma’anyan yang bernama Nansarunai. Karena kuatnya usak jawa atau Jawa yang
merusak yaitu gempuran dari Majapahit, mereka harus pergi dari Nansarunai.

Juga dituturkan tentang seorang tokoh bernama Labai Lamiah. Konon, ia adalah orang Dayak Ma’anyan pertama yang menjadi muallaf dan mubaligh. Ia berdakwah di wilayah Nagara yang masyarakatnya pada waktu itu adalah campuran antara suku Dayak Ma’anyan dan mantan prajurit Majapahit yang masih memeluk agama Hindu Syiwa. Labai Lamiah berhasil mengislamkan orang-orang Ma’anyan yang ada di Banua Lawas atau sekarang disebut Pasar Arba, tidak jauh dari Kalua. Akibatnya, Balai Adat orang Ma’anyan di tempat itu berubah fungsi menjadi Masjid. Hingga sekarang, di halaman Masjid itu masih dapat ditemukan beberapa guci yang menjadi simbol keberadaan orang Ma’anyan.

Orang Dayak Ma’anyan yang memeluk Islam disebut jari hakey. Pada awalnya, sebutan hakey ditujukan kepada utusan Raja Banjar yang hadir dalam Ijambe (upacara kematian). Ketika mereka dengan sopan menolak memakan daging babi yang dihidangkan dan menjelaskan alasannya, orang Ma’anyan berkata: “O … hakahiye sa” (o … begitukah). Berdasarkan ucapan itu, semua orang Banjar, muslim dan orang Dayak Ma’anyan yang beragama Islam disebut hakey. Adanya kaum yang bahakey membuat orang Ma’anyan tidak lagi satu warna. Mereka yang bertahan dengan adat, pergi meninggalkan wilayah Kerajaan Banjar mencari
tempat baru. Dipimpin Uria Napulangit, mereka pergi ke dan menetap di tepi Sungai Siong di sebelah Barat Daya Tamiang Layang sekarang. Namun rasa persaudaraan mereka dengan kerabat yang bahakey tetap terjalin. Hal itu tampak dengan dibangunnya Balai Adat yang dikhususkan untuk muslim, yang mereka sebut Balai Hakey. Bangunan ini dapat dilihat dalam upacara besar Dayak Ma’anyan seperti Ijambe (upacara pembakaran mayat), khususnya di masyarakat Paju Epat (nama wilayah empat kampung besar). Di Balai itu, masakan yang disajikan harus disembelih secara Islam oleh perwakilan yang beragama Islam.

Hingga kini, Balai Hakey tetap didirikan oleh orang Dayak Ma’anyan setiap kali ada Ijambe. Balai yang kokoh, sekokoh sikap toleransi orang Ma’anyan. Perekat Sosial Hikmat atau kearifan memang ada di mana-mana. Ia berseru di pinggir jalan memanggil orang untuk menghampirinya, demikian kata Penulis Amsal. Ia ada di mana saja termasuk di dalam tradisi lisan. Bagi masyarakat yang belum mengenal budaya tulis-menulis, tradisi lisan merupakan sarana untuk menyimpan sejarah silam kehidupan suku. Lebih dari itu, tradisi lisan juga sarana untuk menguraikan jati diri. Karena itu, dalam upacara penting misalnya Ijambe, tradisi lisan selalu dituturkan.

Paparan di atas memperlihatkan betapa dahsyatnya Urang Ma’anyan menguraikan jati dirinya ketika berhadapan dengan Urang Banjar. Tentu saja, hal itu dilakukan karena Banjar tidak sekadar identitas suku, tetapi juga identitas politik, sosial, ekonomi dan agama. Banjar sebagai identitas agama tampak dalam
adagium ‘Banjar berarti Islam dan Islam berarti Banjar’.

Namun bagi orang Ma’anyan, adagium bersosok dingin itu tidak harus dikontestasikan. Tidak perlu jalan merah yang sarat amarah, apalagi pertumpahan darah. Bagi mereka, Banjar adalah hakey yaitu saudara mereka yang memeluk agama Islam. Tradisi lisan telah menjadi referensi kultural mereka untuk bersikap ramah kepada siapa pun, kendati berbeda agama dan keyakinan. Juga menjadi rujukan politik, ketika menerima seseorang yang tidak seagama dengan mereka untuk menjadi pemimpin mereka. Tradisi lisan telah menjadi sumber kearifan untuk merekatkan persaudaraan dan kekerabatan.

Tradisi lisan memang seumpama teks Kitab Suci, punya daya paksa yang tinggi namun cara kerjanya sangat halus sehingga tidak terasa sama sekali. Hal ini tampak dari berdirinya bangunan rumah adat Banjar yang adalah makam Putri Mayang Sari di Desa Jaar, Tamiang Layang, Kalteng. Mereka mendirikan bangunan itu berdasarkan tradisi lisan Putri Banjar di Tanah Ma’anyan. Lebih jauh lagi, tempat pemakaman Putri Mayang Sari itu baru saja dipugar oleh Pemkab Barito Timur. Ini petanda, sekarang pun beliau masih dihormati masyarakat setempat. Secara fisik, bangunan itu adalah makam Putri Mayang Sari. Namun secara metafisik, bangunan itu adalah terusan batin persaudaraan yang menghubungkan Urang Dayak Ma’anyan dengan Urang Banjar. Juga menjadi media budaya dan sumber sejarah, di mana mereka dapat merunut benang merah kekerabatan dengan orang Banjar dan kemudian berkata: “Kalian bukan orang lain.”


Jika ada sobat yang tahu lebih detail tentang Putri Banjar, sudihlah kiranya melengkapi atau mengoreksi. 
Mayang Sari, Putri Raja Banjar yang Bermakam di Bartim
Idawati Atau Mama Petros (Kiri) Penjaga Makam Putri Mayang - ///Source ///
Dari Tengah Makam Putri mayang Sari dan Kanan Makam Uria Mapas
Putri Mayang Sari atau Poetri Maija adalah Pemimpin Dayak Maanyan yang meneruskan kepemimpinan Uria Lan'na. Putri Mayang Sari berkedudukan di Jaar-Sangarwasi, Kabupaten Barito Timur. Puteri Mayangsari puteri dari Raja Banjar Islam yang pertama (Sultan Suriansyah) dari isteri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam Dayak Maanyan. 
Walau Mayang Sari beragama Islam, dalam memimpin sangat kental dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak dan sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya. 

Itu sebabnya ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Adat Banjar di Jaar, kabupaten Barito Timur (Marko Mahin, 2005).

Putri Mayang Sari dari Banjar
////Source : ////

Senin, 10 Maret 2014

Tafsir Simbol-Simbol/Tempat tak Bertulisan "Serat Pepali Ki Ageng Selo"

Khasanah Jawa 

Tafsir Simbol-Simbol/Tempat tak Bertulisan "Serat Pepali Ki Ageng Selo"

SERAT PEPALI KI AGENG SELO

Bait lawan papan kang tanpa tulis (dan tempat yang tak bertulis) dijelaskan maknanya dalam pepali berikut ini:
Ana papan ingkang tanpa tulis, 
Wujud napi artine punika, 
Sampyuh ing solah semune, 
Nir asma kawuleku, Mapan jati rasa sejati. Ing njro pandugeng taya, 
Marang Ing Hyang Agung, 
Pangrasa sajroning rasa, 
Sayektine kang rasa nunggal lan urip,
Urip langgeng dimulya.

(Ada tempat yang tak bertulisan. Kosong mutlak artinya itu, Dalamnya lenyap terlarut segala gerak dan semu. Hapus sebutan Aku karena Masuk kedalam inti rasa sejati, Didalam tiada bangun (sadar) Kediaman Hyang Agung Perasaan masuk kedalam rasa, Sebenarnya rasa sudah bersatu dengan hidup, Hidup kekal serba nikmat).

Biasanya, tempat (ruang, dimensi) memiliki nama, atau paling tidak, dinamai oleh manusia dengan kata-kata atau bahasa. Tapi disini, Ki Ageng Selo menyebut adanya ruang atau dimensi yang tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata atau bahasa manusia. Ruang (dimensi) itulah yang disebut agama sebagai ‘ruang Allah’ (baitullah, ‘rumah Allah’). 

Maksudnya, bukan baitullah yang ada di Mekkah, Saudi Arabia, yang juga merupakan lambang atau simbol ‘ruang Allah’, tapi maksudnya sungguh-sungguh ‘ruang Allah’, suatu dimensi tersendiri yang tak mampu dinamai kata-kata dan tak mampu disebut dalam bahasa biasa, yang di dalamnya Allah berada. 

Ki Ageng menyebutnya ‘zat Allah’ atau ‘kekosongan mutlak’ (wujud napi artine punika).

Dalam ‘ruang kosong mutlak’ atau ‘marang ing Hyang Agung’ (kediaman Tuhan Agung), tak ada prinsip ‘gerak’ lagi, sebab ‘gerak’ hanya berlaku bagi ciptaan, sedangkan ‘Si Penggerak’ yaitu Allah, tidak lagi membutuhkan ‘gerak’, justru dari dialah ‘gerak’ bagi ciptaan itu ada dan dia sendiri tidak bergerak. Seperti dalang, dialah yang menggerakkan semua wayang, tapi dia sendiri tidak digerakkan, karena dia itu asalmula ‘gerak’ dan ‘gerak’ itu sendiri. Aristoteles menyebutnya sebagai ‘Sang Penggerak yang tak tergerakkan’ (The Unmoved Mover).


Orang yang ingin memasuki ‘ruang Allah’, dapat memasukinya dengan cara olah-rohani atau ‘jalan mistik’. Dalam ‘jalan mistik’, manusia melenyapkan dirinya (fana’) untuk masuk ke ‘kekosongan mutlak’ itu, masuk ke dalam zat Allah dan melarutkan zatnya dalam zat Allah. Jika seorang berhasil masuk ke zat Allah, maka segala kemanusiaannya untuk sementara lenyap, seperti orang yang mabuk atau orang pingsan. 

Kesadarannya hilang, diganti dengan bentuk kesadaran lain, yakni ‘rasa nikmat’ (ekstase), seperti rasa nikmat dari anggur yang memabukkan.

Kamis, 13 Februari 2014

Misteri Dyah Sanggramawijaya Tunggadewi ( Legenda Dewi Kilisuci )

Legenda Dewi Kilisuci 

Misteri Dyah Sanggramawijaya Tunggadewi ( Legenda Dewi Kilisuci )

Pada Jaman Dahulu, Di Kediri ada sebuah kerajaan besar. Kerajaan Medang namanya. Rajanya bernama Prabu Airlangga. Prabu Airlannga berasal dari Pulau Bali. 


Ia adalah seorang putra raja di Bali. Ia menjadi Raja Medang setelah menikah dengan Putri Raja Medang. Saat usia Prabu Airlangga sudah tua, Ia ingin menjadi pertapa. Tahta Kerajaan Medang akan di serahkan pada Putri Permaisurinya yang hanya seorang. Ia putri yang cantik jelita. Namanya Dyah Sangramwijaya.
Dyah Sangramwijaya menolak keinginan Ayahanda nya. Ia tidak punya keinginan menjadi Raja. Yang menjadi keinginan Dyah Sangramwijaya adalah menjadi seorang pertapa. Ia lalu meminta restu ayahanda nya menjadi pertapa di Goa Selomangleng ( Di Kaki Gunung Klotok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri). Ia pun mengubah namanya menjadi Dewi Kilisuci. (Resi Kilisuci)

Prabu Airlangga lalu berkeinginan menyerahkan tahta kerajaan pada putranya yang berasal dari selir ( Istri tidak resmi ). 

Kebetulan sekali, Ia memiliki dua putra dari selir. 
Kedua Putranya bernama Raden Jayengrana dan Raden Jayanagara. Prabu kebingungan untuk memilih salah satu yang akan di beri tahta Kerajaan Medang.
Dikisahkan Sebagai berikut :
Prabu Airlangga berusaha mencari jalan keluar yang adil. Ia menyuruh Empu Baradha untuk pergi ke Bali. Empu Baradha disuruh meminta tahta kerajaan milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali untuk salah satu putranya.
Namun, Tahta kerajaan milik ayahanda Prabu Airlangga di Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga.
" Tahta milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga yang bernama Anak Wungsu!" Lapor Empu Baradha setibanya dari Pulau Bali.
" Tak apa-apa, Bapak Empu! Terima kasih Bapak Empu sudah melaksanakan apa yang kusuruh. Sekarang bantu aku membagi Kerajaan Ini dengan adil untuk kedua putraku, Raden Jayengrana dan Raden Jayanagara!"
" Baiklah, Baginda Raja! Bagaiman kalau hamba yang membagi kerajaan medang ini menjadi dua bagian yang sama besar?"
" Itu lebih baik Bapak Empu! Tapi, bagaimana caranya Bapak Empu membagi kerajaan ini menjadi dua bagian sama besar?"
" Serahkan semuanya pada hamba,Baginda Raja! Hamba yang akan mengaturnya!"
" Baiklah Bapak Empu! Kuserahkan semua persoalan ini kepada Anda!"

Keesokan harinya, Empu Baradha terbang sambil membawa Kendi ( Teko dari tanah liat ) berisi air. Dari angkasa, ia tupahkan air kendi itu sambil terbang melintas persis di tengah-tengah Kerajaan Medang. Ajaibnya, Tanah yang terkena tumpahan air Kendi langsung berubah menjadi sungai. Sungai itu semakin besar dan airnya deras. Sungai itu sekarang bernama Sungai Berantas.
Kerajaan Medang pun sekarang terbagi menjadi dua bagian. Batasnya adalah ciptaan Empu Baradha. Prabu Airlangga pun menyerahkan dua bagian dari Kerajaan Medang itu kepada Raden Jayengrana dan Raden Jayanagara.
" Bagian Kerajaan Medang sebelah timur sungai aku serahkan pada Putraku Raden Jayengrana! Kerajaan itu aku beri nama Kerajaan Jenggala, Sedangkan bagian barat sungai aku serahkan pada putraku Raden Jayanagara. Kerajaan itu kuberi nama Kerajaan Kadiri ( sekarang Kota Kediri )." titah Prabu Airlangga.
Kini tentramlah hati Prabu Airlangga. Ia dengan tenang pergi dari Kerajaan Medang ( Sebelum terbelah ) untuk menjadi seorang pertapa. Prabu Airlangga menjadi pertapa di Pucangan. Ia mengganti namanya menjadi Maharesi Gentayu. Ketika meninggal dunia, Jenazah Prabu Airlangga dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan sebelah timur.
Misteri Sanggramawijaya Tunggadewi (Resi Kilisuci)
"Ayahanda, siapa itu Sanggramawijaya?" tiba-tiba suara putri begawan pujangga Majapahit itu membuyarkan konsentrasi Ra Vadia yang tengah menggurit tulisan pada rontal.
      Rupanya Dewi Anggia menagih janji sang pujangga agar mengisahkan wanita dari Kediri itu. Ia masih mengingat beberapa nama tokoh wanita dalam sejarah yang tempo hari disebutkan sang ayahanda.
      "Dia itu pewaris utama takhta Erlangga yang tak pernah menaiki singgasana," sahut sang Begawan pujangga, "Mengapa? Karena hingga seperempat abad usia sang putri mahkota tidak pernah jatuh cinta kepada pemuda manapun."
      "Apakah tidak ada pangeran yang mendekatinya, ayahanda?"
      "Tentu saja tidak terhitung lagi jumlahnya yang melamar sang putri, bahkan secara langsung pada baginda Erlangga," sahut Ra Vadia, kemudian ia melanjutkan, "Prabu Erlangga, sang penerus Wangsa Isyana Empu Sindok ini pun sampai merasa harus memindahkan istana Kahuripan dari sekitar terusan Porong, Sidoarjo ke Daha di wilayah Kediri demi menuruti keinginan sang putri mahkota."
      "Apa yang diinginkan sang Dewi, ayahanda?"
      "Dewi Sanggramawijaya telah menyadari keadaan dirinya yang tidak bisa jatuh cinta terhadap lawan jenisnya. Ia tidak pernah mengalami datang bulan, layak umumnya yang dialami seorang wanita dewasa. Dan itu berarti ia harus merelakan takhta dan mahkota Kahuripan kepada dua saudara tirinya dari selir sang baginda. Oleh sebab itu tatkala pada suatu hari ia menemukan sebuah bukit tidak jauh dari sungai Brantas di sisi sebelah barat, maka ia memutuskan memilih tempat itu daripada memilih singgasana Kahuripan di Sidoarjo dekat terusan Porong yang dibangun Erlangga untuk mengurangi luapan Kali Mas, dan menyuburkan sekitar wilayah terusan atau sungai kecil itu. 
      Bukit penemuan Resi Kilisuci itu dinamai bukit Emas Kumambang, karena di sekeliling bukit itu selalu tergenang air berwarna kekuningan seperti cairan emas, tidak peduli kemarau maupun musim hujan, sepanjang waktu."
      Resi Kilisuci memutuskan untuk menyingkir dari istana Kahuripan yang baru dibangun oleh Erlangga yang tidak jauh letaknya dari Bukit Mas Kumambang. Kala itu Mas Kumambang yang berarti emas terapung terdiri dari gugusan bukit-bukit yang berada paling timur sambung-menyambung dengan gunung Wilis di jurusan arah ke barat.
       Perbukitan Mas Kumambang memiliki empat puncak utama, salah satu puncak nya berbeda secara menyolok karena letaknya agak menonjol sendiri ke depan. Di tengah-tengah antara bukit pertama dan bukit yang di tengah terdapat sebuah batu berukuran sangat besar. Baginda Erlangga memutuskan untuk membikin istana mini bagi putri tercintanya dari pahatan para ahli pada batu tersebut.
      Sang Dewi pun setuju dengan rencana ayahandanya, dan untuk sementara sebelum istana batu itu selesai maka ia akan mencari tempat lainnya untuk menjadi tempat pertapaannya.
      Di tengah punggung bukit Mas Kumambang, letaknya persis di bawah puncak Mas Kumambang paling tinggi. Sang Dewi menemukan batu cukup besar, ia pun memerintahkan para pengawal sekaligus pengiringnya yang setia untuk membikin lubang goa pada batu itu. Ia juga meminta dibuatkan goa tersendiri tak jauh dari situ bagi mereka sendiri, para pengawalnya. Antara goa berukuran besar bagi sang Dewi dengan goa pengawalnya letaknya saling berhadapan dipisahkan sebuah sungai terjun kecil. Sanggramawijaya Tunggadewi menamainya Goa Bale, atau tempat tinggal.
      Semasa hidup sang Resi Kilisuci pembangunan istana batu lainnya (Mangleng) terletak jauh di bawah sana belum lagi terealisasikan, pelaksanaan pembangunan Goa Mangleng baru tahap memagari areal sekelilingnya, dan juga membuatkan jalan tembus ke arah utara dan timur dari lokasi calon goa Mengleng itu.
    Dewi Anggia tiba-tiba menyela ayahandanya, tapi sejenak lantas terdiam, akhirnya ia mengeluarkan suaranya yang menyanyi, "Kalau begitu siapa yang mendirikan goa Mangleng, ayahanda?"
      "Prabu Jayabaya yang meneruskan pengerjaan goa Mangleng, dan ia menamainya Mangleng atau Museum, untuk mengenang dan mengingatkan bagi generasi penerusnya bahwa di tempat itulah seharusnya Resi Kilisuci bertakhta sebagai pertapa, dia adalah embah buyut dari Prabu Jayabaya sendiri," sahut Ra Vadia sambil terus menggosok-gosok rontal baru agar lebih mudah diguritinya.
      Ra Vadia melanjutkan, "Dan sejak pembangunan goa Mangleng itu selesai maka sejak itulah raja-raja dari kerajaan Kediri mulai Jayabaya hingga yang terakhir Jayakatwang selalu memusatkan kekuasaannya tidak jauh dari wilayah perbukitan Mas Kumambang," sambung pujangga Majapahit itu, sebenarnya ia sedang mengenang kembali pengalamannya beberapa kali mengunjungi tempat itu bersama rombongan pembesar kerajaan Majapahit semasa Tribuwana Tunggadewi. Dan tentu saja di masa itu ada pemandu khusus yang menerangkan kepada rombongan Majapahit secara panjang lebar mengenai sejarah goa Mangleng maupun Goa Selobale lebih ke atas lagi dari tempat itu.
      Begawan itu kemudian terdiam, dan Dewi Anggia menganggap kisah telah usai. Dalam hati pujangga lebih seabad itu meneruskan untuk dirinya sendiri, "Pada akhirnya Erlangga memutuskan Kahuripan akan dibelah menjadi dua. Daha atau Panjalu wilayahnya antara Porong, Sidoarjo hingga wilayah Kali Leso di Blitar, rutenya mencakup wilayah Mojokerto, Nganjuk, Kediri, dan Tulungagung. Sedangkan Jenggala rute wilayahnya adalah seluruh pelabuhan, pesisir utara Jawa Timur dan dataran yang terbentang dari Blitar ke arah Timur hingga Malang."

******************************** Artikel Diatas Sangat berkait dengan Artikel Dibawah

Legenda Gunung Kelud "Antara Dewi Kili Suci Lembu Sura dan Mahesa Sura Klik Here
NAMUN sebelum Lembu Sura meninggal, dia melontarkan sumpahnya yang isinya merupakan luapan sakit hati dan balas dendam yang ditujukan pada masyarakat Kediri. “Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”.

Rahasia Kraton Sri Aji Jayabaya dan Selomangleng, Gua Pertapaan Kilisuci Klik Here

Rabu, 05 Februari 2014

Syekh Subakir ((Anggota Walisongo periode ke-1)) dan PAKU TANAH JAWA

Syekh Subakir 

Legenda "Syekh Subakir ((Anggota Walisongo periode ke-1))

Legenda Aji Saka
"Syekh Subakir ((Anggota Walisongo periode ke-1))
Ada beberapa karya Syaikh Subakir yang bergelar Aji Saka, yaitu:

  1.  Beliau adalah penemu huruf Jawa, yang berbunyi: HA NA CA RA KA, DA TA SA WA LA, PA DHA JA YA NYA, MA GA BA THA NGA.
  2. Beliau pula yang memberi nama Jawa, yang diambil dari bahasa Suryani artinya tanah yang subur.

Syekh SUBAKIR, adalah ANGGOTA WALI SONGO PERIODE KE-1 
Ketika Syaikh Subakir sampai di tanah Jawa, beliau bergelar Aji Saka. Beliau lahir di Persia, Iran. Memiliki spesialisasi di bidang Sufi Ekologi Islam dan kemakrifatan berbudaya. 

Beliau adalah cicit dari sahabat Nabi Muhammad Saw., yaitu Salman al-Farisi. Kemudian beliau menjadi utusan dari Sultan Muhammad I, sebagai salah satu dari anggota Wali Songo periode I.

Nasab lengkap beliau adalah Syaikh Subakir bin Abdullah bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatullah bin Syafiq bin Badrudin bin Umar bin Ali bin Salman al-Farisi.
Makam Syeh Subakir yang berada di puncak Gunung Tidar Kota Magelang. Syeh Subakir adalah salah satu tokoh yang konon mempunyai pengaruh besar dalam perjuangan bangsa di Pulau jawa. Menjelang Ramadhan, dan hari-hari tertentu, makam ini banyak dikunjungi para peziarah.

Syaikh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai Pesantrennya. <<<<PAKU TANAH JAWA>>>> dan beliau mempunyai senjata Tombak Kyai Panjang

Beliau dianggap sebagai orang yang paling berjasa dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa ini. Diriwayatkan bahwa proses islamisasi di Jawa mengalami hambatan, disebakan kuatnya orang Jawa dalam memegang kepercayaan lama. Syaikh Subakir datang ke tanah Jawa bersama wali sanga generasi awal, setelah diperintahkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di Istanbul, Turki. Kesembilan ulama ini mempunyai spesifikasi keahlian masing-masing. Ada yang ahli tata negara, ahli pengobatan, ahli tumbal, dan lain-lain. Wali Sembilan ini dibagi menjadi 3 kelompok dan di tempatkan pada tiga tempat, yakni di bagian barat, tengah dan timur tanah Jawa.

Syekh Subakir berasal dari Iran ( dalam riwayat lain Syekh Subakir berasal dari Rum). Syekh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turkey, untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404, mereka diantaranya:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat.

Konon, hambatan penyebaran Islam di Jawa pada masa sebelumnya, disebabkan oleh keberadaan bangsa jin yang menempati setiap sudut tanah jawa. Bangsa Jin ini dipimpin oleh Sabdo Palon atau Kyai Semar, yang bersemayam di puncak Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah.

Syekh Subakir yang ahli dalam ilmu batin (baca: sakti) segera melakukan pembersihan, dengan menancapkan tumbal yang berupa batu hitam di puncak gunung Tidar. Seluruh Jawa bergolak, seluruh bangsa jin yang menguasi jawa merasakan kepanasan yang teramat sangat, hingga mereka lari tunggang langgang menyeberang ke lautan atau menepi ke sudut terpencil tanah Jawa. Sebagian jin yang lain ada yang harus mati akibat hawa panas dari tumbal yang dipasang Syekh Subakir. Karena itulah, Gunung Tidar dipercayai sebagai Pakunya Tanah Jawa.
Di Magelang terdapat sebuah bukit yang berada di tengah-tengah kota. Bukit itu sangat terkenal karena menjadi salah satu tempaan para taruna AKABRI. 
Bahkan bukit itu menjadi salah satu ciri khas kota itu. Namanya bukit Tidar, atau lebih dikenal sebagai Gunung Tidar. Konon Gunung Tidar merupakan pusat atau titik tengah Pulau Jawa.
Berada pada ketinggian 503 meter dari permukaan laut, Gunung Tidar memiliki sejarah dalam perjuangan bangsa. Di Lembah Tidar itulah Akademi Militer sebagai kawah candradimuka yang mencetak perwira pejuang Sapta Marga yg berdiri pada 11 November 1957.
Melihat hal itu, Sabdo Palon yang telah 9000 tahun bersemayam di puncak Tidar keluar dalam bentuk manusia, berdiri di hadapan Syekh Subakir. Setelah terjadi perdebatan mereka segera adu kesaktian. Konon petempuran antara keduanya selama 40 hari 40 malam, hingga Sabdo Palon merasa kewalahan dan menawarkan gencatan senjata. Sabdo Palon mensyaratkan beberapa point dalam upaya penyebaran Islam di Jawa. Syarat-syarat itupun disetujui Syekh Subakir.


Untuk Melongok dialog antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir yang terjadi di atas Gunung Tidar. Dialog dalam versi imaginer diambil dari ///Source/// Klik DISINI


Syahdan, dahulu kala Tanah Jawa ini masih berupa hutan belantara yang tiada seorangpun berani tinggal di sana. Sebagian besar wilayah Jawa ini dahulu masih dikuasai berbagai makhluk halus. Konon Tanah Jawa yang dikelilingi laut ini bak perahu yang mudah oleng oleh ombak laut yang besar. Maka melihat itu para dewata segera mencari cara untuk mengatasinya.

Maka berkumpullah para dewa untuk membahas persoalan Tanah Jawa yang tidak pernah tenang oleh hantaman ombak itu. Diutuslah sejumlah dewa untuk tugas menenangkan pulau ini. Mereka membawa sejumlah bala tentara menuju Pulau Jawa sebelah barat. Namun, tiba-tiba Pulau Jawa kembali oleng dan berat sebelah karena para dewa dan bala tentara hanya menempati wilayah barat. Agar seimbang, sebagian dikirim ke timur. Namun usaha ini tetap gagal.

Melihat kenyataan itu maka para dewa sibuk mencari jalan pemecahan. Setelah beberapa waktu berembug, maka didapatkanlah sebuah ide cemerlang. Mau tak mau para dewa harus menciptakan sebuah paku raksasa, dan paku itu akan ditancapkan di pusat Tanah Jawa, yaitu titik tengah yang dapat menjadikan Pulau Jawa seimbang. Paku raksasa yang ditancapkan itu konon dipercaya sebagian masyarakat sebagai Gunung Tidar. Dan setelah paku raksasa itu ditancapkan, Pulau Jawa menjadi tenang dari hantaman ombak.


Menurut kepercayaan sebagian masyarakat, Gunung Tidar pada mulanya hanya ditinggali oleh para jin dan setan yang konon dipimpin oleh salah satu jin bernama Kiai Semar. Kiai Semar tidak sama dengan tokoh Semar dalam dunia pewayangan. Kiai Semar yang menguasai Gunung Tidar ini konon jin sakti yang terkenal seram. Setiap ada manusia yang mencoba untuk tinggal di sekitar Gunung Tidar, maka tak segan Kiai Semar mengutus anak buahnya yang berupa raksasa-raksasa dan genderuwo untuk memangsanya.

Alkisah, datanglah seorang manusia yang terkenal berani untuk mencoba membuka wilayah Tidar untuk ditinggali. Ksatria berani ini berasal dari tanah jauh. Konon ia berasal dari negeri Turki, bernama Syekh Bakir dan ditemani Syekh Jangkung. Kedua syekh ini disertai juga oleh tujuh pasang manusia, dengan harapan dapat mengembangkan masyarakat yang kelek mendiami wilayah itu.
Mendengar kabar itu, Kiai Semar murka. Diseranglah mereka oleh anak buah Kiai Semar, dan tiada seorangpun yang selamat kecuali Syekh Bakir yang sakti, soleh, dan sabar. Setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, ia bertemu dengan Kiai Semar.

“Hei, Ki Sanak, berani benar kau berada di wilayah kekuasaanku tanpa permisi. Siapakah engkau dan apa maumu berada di wilayah ini,” kata Kiai Semar.
“Duh penguasa wilayah Tidar, ketahuilah olehmu bahwa namaku Syekh Bakir, asalku dari negeri Turki nun jauh di sana. Adapun kedatanganku kemari untuk membuka tempat dan aku akan tinggal di sini bersama saudara dan sahabatku,” jawab Syekh Bakir dengan tenang.

“Adakah kau tahu bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaanku? Siapapun tak boleh tinggal di sini. Jika tiada peduli, maka akau akan mnegutus anak buahku untuk menumpas kalian tanpa sisa.”
“Hai engkau yang mengaku sebagai penguasa Gunung Tidar, tidakkah kau tahu bahwa tiada yang dapat melebihi kekuasaan Allah? Allah menciptakan manusia untuk menjaga dan memelihara alam semesta ini, bukan untuk menguasainya secara semena-mena,” kata Syekh Bakir.

“Hei manusia, sebelum kemarahanku memuncak, tinggalkan tempat ini! Ketahuilah bahwa tempat ini sudah menjadi milikku, dan jangan mencoba merampasnya.” Syekh Bakir terdiam.
Mendengar ancaman Kiai Semar, ia lalu mengalah. Tetapi bukan berarti ia menyerah kalah. Tetapi sebaliknya Syekh Bakir hendak menyiapkan diri lebih baik untuk mengalahkan Kiai Semar dan bala tentaranya.

Sesampai di negeri Turki, ia mengambil sebuah tombak sakti yang bernama Kiai Panjang. Selain itu, iapun menyiapkan lebih banyak lagi manusia yang akan diajak serta untuk membuka tempat tinggal baru di Tidar.
Sesampai kembali di Tidar, berpasang-pasang manusia yang diajak serta oleh Syekh Bakir tinggal lebih dulu di daerah sebelah timur Gunung Tidar yang sekarang dikenal dengan nama desa Trunan. Konon desa itu berasal dari makna “turunan”. Ada yang mengatakan arti dari turunan itu adalah keturunan, tetapi ada yang menganggapnya sebagai daerah pertama kali sahabat-sahabat Syekh Bakir diturunkan dan tinggal di tempat itu untuk sementara waktu.
Setelah itu Syekh Bakir berangkat sendiri ke puncak Gunung Tidar untuk bersemadi. Tombak pusaka sakti Syekh Bakir ditancapkan tepat di puncak Tidar sebagai penolak bala. Dan benar, tombak sakti itu menciptakan hawa panas yang bukan main bagi Kiai Semar dan wadyabalanya.
Merekapun lari tunggang langgang meninggalkan Gunung Tidar. Kiai Semar dan sebagian tentaranya melarikan diri ke timur dan konon hingga sekarang menempati daerah Gunung Merapi yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai wilayah yang angker. Bahkan sebagian lagi anak buah Kiai Semar ada yang melarikan diri ke alas Roban, bahkan ke Gunung Srandil. Tombak itu sekarang masih dijaga oleh masyarakat dan dimakamkan di puncak Gunung Tidar dengan nama Makam Tombak Kiai Panjang.
Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan makhluk halus. Syekh Bakirpun akhirnya memboyong sahabat-sahabatnya untuk membuka tempat tinggal baru di Gunung Tidar dan sekitarnya.

———————— Kisah lainnya :
GUNUNG TIDAR

Gunung Tidar adalah gunung di Kota Magelang Jawa Tengah. Gunung ini tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan militer. Gunung yang dalam legenda dikenal sebagai “Pakunya tanah Jawa” itu terletak di tengah Kota Magelang. Berada pada ketinggian 503 meter dari permukaan laut, Gunung Tidar memiliki sejarah dalam perjuangan bangsa. Di Lembah Tidar itulah Akademi Militer sebagai kawah candradimuka yang mencetak perwira pejuang Sapta Marga berdiri pada 11 November 1957.
ASAL NAMA TIDAR

Asal muasal nama Tidar sendiri banyak versi. Ada salah satu versi yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari kata “Mati dan Modar”. Jadi karena angkernya Gunung Tidar waktu dulu, maka kalau ada orang mendatangi gunung tersebut kalau tidak Mati ya Modar.

3 SITUS MAKAM GUNUNG TIDAR
Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak Tidar. Secara umum, Gunung Tidar memang masih cukup alami. Banyak tanaman pinus dan tanaman buah-buahan tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960an menjadikan Gunung Tidar sangat rimbun.
Beberapa saat menapaki jalanan setapak pendakian kita akan bertemu dengan Makam Syaikh Subakir. Konon Syaikh Subakir adalah penakluk Gunung Tidar yang pertama kali dengan mengalahkan para jin penunggu Gunung Tidar tersebut. Menurut legenda (hikayat) Gunung Tidar, Syaikh Subakir berasal dari negeri Turki yang datang ke Gunung Tidar bersama kawannya yang bernama Syaikh Jangkung untuk menyebarkan agama Islam.
Tidak jauh dari Makam Syaikh Subakir, kita akan berjumpa dengan sebuah makam yang panjangnya mencapai 7 meter. Itulah Makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang bukanlah sesosok alim ulama, namun adalah nama tombak yang dibawa dan dipergunakan oleh Syaikh Subakir mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala itu.
Situs makam terakhir yang kita jumpai sewaktu mendaki Gunung Tidar adalah Makam Kyai Semar. Namun menurut beberapa versi ini bukanlah makam kyai Semar yang ada dalam pewayangan. Tetapi Kyai Semar, jin penunggu Gunung Tidar waktu itu. Meski demikian banyak yang percaya ini memang makam Kyai Semar yang ada dalam pewayangan itu. Dan mana yang benar, adalah tinggal kita mau mempercayai yang mana.

PAKU TANAH JAWA

Di puncak Gunung Tidar ada lapangan yang cukup luas. Di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman.
———————— Kisah lainnya :
Syekh Subakir, sangat berjasa dalam menumbali tanah Jawa, ”Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa dikisahkan, Sudah beberapa kali utusan dari Negeri Arab, untuk menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya tapi telah gagal secara makro. Disebabkan orang-orang Jawa pada waktu itu masih kokoh memegang kepercayaan lama. Dengan tokoh-tokoh gaibnya masih sangat menguasai bumi dan laut di sekitar P Jawa. Para ulama yang dikirim untuk menyebarkan Agama Islam mendapat halangan yang sangat berat, meskipun berkembang tetapi hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. Secara makro dapat dikatakan gagal. Maka diutuslah Syekh Subakir untuk menyebarkan agama Islam dengan membawa batu hitam yang dipasang oleh Syekh Subakir di seantero Nusantara, untuk tanah Jawa diletakkan di tengah-tengahnya yaitu di gunung Tidar . Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam menimbulkan gejolak, mengamuklah para mahluk : Jin, setan dan mahluk halus lainnya. Syekh Subakir lah yang mampu meredam amukan dari mereka. Akan tetapi mereka sesumbar dengan berkata: “ Walaupun kamu sudah mampu meredam amukan kami, kamu dapat mengembangkan agama Islam di tanah Jawa, tetapi Kodratullah tetap masih berlaku atas ku, ingat itu wahai Syeh Subakir.” “Apa itu?” kata Syekh Subakir. Kata Jin, “Aku masih dibolehkan untuk menggoda manusia, termasuk orang-orang Islam yang imannya masih lemah”.



Petilasan Syekh Subakir
Kini, tempat petilasan Syekh Subakir dibangun di daerah bukit Tidar ini.
Petilasan Syekh Subakir
Kayu jati berbentuk kijing, didatangkan dari Sangiran
Makam Syekh Subakir
Puncak Bukit Tidar
 Di sana hanya terdapat lapangan (untuk apel para taruna Akmil). Di sekitar lapangan, ada beberapa objek yang bisa dilihat, antara lain: monumen, makam Pangeran Purboyo, dan petilasan (makam???) Hyang Ismaya atau Semar.
Lapangan di Puncak Bukit Tidar
PAKU TANAH JAWA

Petilasan Semar

Kamis, 30 Januari 2014

[Sejarah&Legenda] Minak Jinggo

Tokoh Legenda

[Sejarah&Legenda] Minak Jinggo

[Sejarah&Legenda] Minak Jinggo
Folklore Serat Minakjinggo

KONON disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Majapahit yang dipegang oleh Ratu Ayu Kencana Wungu (Suhita) terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Minak Jinggo (Bhre Wirabumi??)(Jengho mengacau lewat banyuwangi pintu belakang untuk mengacau perhatian Majapahit menjaga pintu laut jawa sehingga sebagian besar pasukan jenggho tidak diketahui telah masuk dari semarang- ). 

Pokok persoalan pemberontakan tersebut adalah karena Minak Jinggo ingin memperistrikan Ratu Ayu Kencana Wungu tetapi ditolak karena wajah Minak Jinggo seperti raksasa.( Wajahnya Bulat seperti TEmpeh khas mongoloid ) 


Hampir saja Minak Jinggo memperoleh kemenangan karena ia sangat sakti sebab memiliki senjata yang disebut gada wesi kuning ( Gada yang berisi Kotoran penderita kholera yang diracunkan ke sumber-sumber oleh pasukan mongol-flu burung??? ). 

Akhirnya Ratu Kencana Wungu membuka sayembara barangsiapa yang dapat mengalahkan Minak Jinggo akan memperoleh hadiah yang luar biasa. Tersebutlah seorang ksatria putra seorang pendeta bernama Raden Damarwulan ( irojan_munira / Maulana Iskak ) ( Raja Pendeta Aulia ) yang memasuki arena sayembara.

Dalam peperangan dengan Minak Jinggo hampir saja Damarwulan dapat tersingkir( kerajaan karang asem dan klungkung sampai sekarang dikuasai keturunan china/mongol bukti jenggho tak dapat masuk ke jawa dia bukan lah muslim tapi budhist bukti adalah tidak didirikannya mesjid tetapi kuil taou ). Akan tetapi atas bantuan dua orang selir Minak Jinggo yang bernama Dewi Waita dan Dewi Puyengan mencuri pusaka gada wesi kuning senjata andalan dai minak jinggo. akhirnya Minak Jinggo dapat dikalahkan oleh damar wulan atas bantuan kedua selir Minak jinggo. 

Selanjutnya Dewi Waita dan Dewi Puyengan menjadi istri Damarwulan. Sebagai imbalan atas kemenangan itu maka Damarwulan akhirnya menjadi suami Ratu Ayu Kencana Wungu ( mempunyai putra yang dinamai raden paku/sayid ainul yaqin yang kelak menjadi raja di demak karena ibunya adalah ratu Majapahit/Blambangan dengan gelar Prabu Satmata )dan bersama-sama memerintah di Majapahit ( Blambangan ).

Cerita Damarwulan-Minak Jinggo ini rupa-rupanya sangat populer di Jawa Tengah terlebih-lebih di Jawa Timur (peperangan antara walisongo dengan majapahit adalah dengan prabu brawijaya ke VII yang ketika itu majapahit sudah lemah karena negara mancanegarinya sudah dikalahkan Mongol diduga kemarahan CHINA adalah di serang nya SRIWIJAYA - Budhist oleh MAJAPAHIT- Hindhu dan pembalasan kekalahan Kubulaikhan ). 
Hingga sekarang kita masih dapat melihat peningggalan tersebut dalam bentuk makam kuno yang terletak di Desa Troloyo, Trowulan, Mojokerto. Di sana kita jumpai suatu kompleks makam yang oleh penduduk dianggap sebagai makam Ratu Ayu Kencana Wungu ( ratu Blambangan ditinggal oleh maulana ISkak karena mungkin Jenggho sudah masuk pasae/ Gresik..apakah beliau syahid di sana sehingga sunan Giri sejak kecil sudah piatu??? tinggal di kepatihan diangkat putra oleh Nyai Bin Patih/ Pinatih: Kampung kecil HaBaSA).

Dewi Waita dan Dewi Puyengan serta beberapa orang pengikutnya. Makam tersebut menurut penelitian para ahli yang sebenarnya adalah makam-makam Islam yang awal ( Raden Asmara Bangun artinya Kebangkitan putra sulthan Ibrahim asmaraqondhi ). Dari angka tahunnya yang tertulis pada nisan-nisan menunjuk angka 1295 M - 1457 M.
Tidak jauh dari Troloyo, masih di Desa Trowulan juga kita jumpai sebuah candi yang oleh penduduk setempat dinamakan candi Minak Jinggo. Melihat berbagai Hiasan serta peninggalan lain yang terdapat di sekitar candi tersebut dapat diperkirakan bahwa candi Minak Jinggo berasal dari zaman Majapahit


SITUS CANDI MINAK-JINGGO
Majapahit perlu dijelaskan agar tidak diombang-ambingkan, Majapahit perlu diluruskan agar tidak dibelak-belokkan.

Tersebutlah situs Candi Minak Jinggo (sebutan masyarakat setempat), terletak di Desa Ungah-unggahan, Trowulan, sebelah Timur kolam Segaran, yang saat ini hanya tinggal reruntuhan candi yang terbuat dari bahan batu andesit, sebuah bahan bangunan candi yang tidak lazim dipergunakan pada candi-candi di kawasan Trowulan, yang sebagian besar mempergunakan bahan dasar batu bata merah. 

Dari lokasi reruntuhan candi ini telah ditemukan sebuah arca Garudha, namun oleh masyarakat setempat dan berita-berita tradisi disebutkan sebagai arca Menak-Jinggo. Ditilik dari motif dan model ragam hias pada relief-relief candi yang masih tersisa, terlihat jelas bahwa candi tersebut adalah peninggalan kerajaan Majapahit. 

Arca Garudha yang diyakini sebagai arca Menak-Jinggo
 Arca Garudha yang diyakini sebagai arca Menak-Jinggo

Pada tahun 1977, pernah dilakukan upaya penggalian percobaan dan dilanjutkan sejak tahun 2007 yang diasumsikan memerlukan waktu beberapa tahun untuk dapat menyelesaikannya.

Berikut ini adalah sktesa candi Minak-Jinggo pada awal ditemukannya.
 

Ditilik dari keterangan sketsa tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa candi ini merupakan Candi Hindu yang berasal dari masa Majapahit.
Puing-puing reruntuhan Candi Minak-Jonggo
 
Relief paseban pada jaman Majapahit 

Di Balik Magisnya Prosesi Pengabenan 
Minak Jinggo di Alas Purwo, Jatim
Diwarnai Berbagai Kegaiban dan Keajaiban
Prosesi upacara pengabenan Minak Jinggo yang berlangsung sangat sederhana itu, diwarnai berbagai keajaiban dan kegaiban. Di tempatnya prosesi pengangkatan kepala Minak Jinggo, puluhan penampakan sempat terekam di kamera wartawan TBA. Begitu memasuki perbatasan hutan Alas Purwo, rombongan disambut puluhan ribu kupu-kupu putih. Pun, setibanya di sekitar pura, tiba-tiba rombongan disambut suara petir menggelegar cukup keras serta suara burung gagak dan  di saat prosesi penyatuan jazad  berlangsung, puluhan ekor ikan berloncatan di tengah laut. Seperti apa jalannya prosesi pengabenan itu? Berikut perburuan wartawan Bali Aga ke Alas Purwo di Banyuwangi, Jawa Timur.
Rombongan berangkat dari Bali menuju Trowulan, Mojokerto Jatim menggunakan 6 buah kendaraan. Rombongan yang berasal dari Karangasem berangkat melalui jalan jurusan Singaraja-Karangasem, sedangkan rombongan dari Denpasar melalui jalan jurusan Denpasar-Gilimanuk, kemudian bertemu di Dermaga Ketapang, Banyuangi.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, rombongan Karangasem yang beranggotakan tiga mobil sampai dengan selamat di Pelabuhan Penyebranagan Ketapang, Banyuangi. Sesampainya di sana, Bunda Ratu bersama anggota rombongan yang lain, sempat kebingungan mencari rombongan Denpasar yang tadinya menghubungi lewat ponsel akan menunggu di dermaga dimaksud.
Keanehan pun terjadi, di mana rombongan dari Denpasar yang dipimpin I Gusti Agung Harsana dari Puri Kamasan, Sempidi, Badung yang semestinya lebih dahulu tiba di Dermaga Ketapang,Banyuangi justru tiba belakangan dari rombongan Karangasem di bawah pimpinan Bunda Ratu Ardenareswari Masceti.
“Padahal, sebelumnya rombongan Denpasar mengatakan lebih dahulu berangkat dan akan menunggu di pelabuhan dimaksud. Mestinya kan lebih awal tiba di Dermaga Ketapang. Tetapi kenyataannya, justru rombongan dari Karangasem yang lebih dahulu sampai,” ujar Jro Mangku Nyoman Suarjana yang tiada lain adalah suami Bunda Pertiwi dengan nada keheranan seraya mengatakan, mungkin memang tidak diboleh mendahului Bunda Ratu, melainkan harus berangkat beriringan.
Selanjutnya dengan beriringan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Trowulan, Mojokerto, lewat jalur utara yakni melewati hutan jati. Sepanjang perjalanan menuju Trowulan, Mojokerto beberapa kali sempat salah jalur, sehingga harus bertanya kepada warga yang ditemui, sehingga tidak sampai tersesat.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya rombongan memutuskan untuk beristirahat melepas lelah sekaligus membersihkan diri dan minum kopi di salah satu pom bensin yang berada tak jauh dari lokasi rumah Jro Mangku Pura Majapahit, Jro Mangku Srikandi.
Setelah badan terasa segar kembali, rombongan lanjut menuju ke rumah Jro Mangku Srikandi. Di sini, rombongan disambut Jro Mangku bersama suami, sekaligus berkesempatan menikmati suguhan seadanya, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan sesuai jadwal yang telah diprogramkan.
Roh Minak Jinggo Turun Lewat Raga Bunda Pertiwi
Sebelumnya, sekelompok spiritual yang juga merupakan salah satu pretisentana-nya Minak Jinggo, raja Blambangan yang tersohor ini mendapat pawisik agar jasadnya disatukan dan dibuatkan sebuah upacara pengabenan, walaupun dengan cara sederhana sekali pun. Konon, Beliau meninggal akibat dimutilasi (badannya dipotong-potong kemudian dibuang di tempat  terpisah).
Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun orang yang mau memperhatikan jasadnya itu, sehingga awrahnya terus tung-katung tidak tentu arah. Sampai akhirnya Minak Jinggo mendatangi salah satu pertisentana-nya walaupun tidak secara garis vertikal yang ada di Bali, meminta bantuan untuk menyatukan anggota tubuhnya sekaligus membuatkan upacara pengabenan.
Ditemui di sela-sela kesibukannya melaksanakan upacara pengabenan di pantai selatan sekitar kawasan hutan Alas Purwo, I Gusti Agung Anom Harsana dari Puri Kamasan Sempidi, Badung ini menjelaskan, prosesi pengabenan ini berlangsung berawal dari sebelumnya I Gusti Agung sempat dirundung masalah berat dalam keluarganya.
Sampai akhirnya, sekitar tahun 2000, di tengah kebingungannya itu Gusti Agung bertemu dengan salah seorang paranormal yang bernama Pak Putu. Dalam pertemuannya itu, Pak Putu tahu persis apa yang menyebabkan dirinya didera permasalahan yang sangat berat itu. Penyebabnya tiada lain, karena masih ada leluhurnya yang terkatung-katung dan berada di laut. Untuk itu, jika ingin keluar dari masalah berat itu, Gusti Agung diminta untuk mengangkat leluhurnya yang konon dibunuh secara massal dan dimutilasi.
“Tiang sempat heran, kenapa Pak Putu itu tahu persis masalah yang sedang tiang alami/hadapi, padahal sebelumnya tidak pernah bertemu terlebih saling kenal. Akhirnya, sampai di Puri, tiang berusaha mencari tahu/menelusuri leluhur yang dimaksud. Tetapi, setelah ditanyakan ternyata tidak ada leluhur yang belum dibuatkan upacara. Tiang kembali dibuat bingung dan terus menjadi beban pikiran,” ujar I Gusti Agung Harsana menjelaskan, seraya menambahkan berbekal keyakinan penuh, berusaha mendak leluhurnya dimaksud dan selanjutnya dilinggihkan di puri.
sumber dari berbagai googling di Internet.


KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...