primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label WALISONGO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WALISONGO. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

Fakta Dan Dokumen Sejarah Walisongo Di Indonesia

Walisongo

Fakta Dan Dokumen Sejarah Walisongo Di Indonesia

 DEWAN DAKWAH WALISONGO
Sejarah masuknya Islam di Indonesia sungguh penuh dengan carut-marut karena sejak dahulu bangsa Indonesia memang lemah dalam sistim dokumentasi. Akibatnya, sejarah Indonesia sebelum datangnya bangsa Belanda selalu ada beberapa versi karena selalu ada distorsi dari pelaku sejarah maupun dari masyarakat yang meneruskan cerita tersebut kepada generasi berikutnya.

Sungguh suatu hal sangat memprihatinkan, bahwa sejarah lahirnya Islam di Jazirah Arabia yang terjadi pada abad ke-7 Masehi 

  • lahirnya Muhammad SAW [581 M], wafat [632 M] dan penggantinya 
  • Abu Bakar [632-634 M], 
  • Umar Bin Khotob [634-644 M], 
  • Usman Bin Affan [644-656 M], 
  • Ali Bin Abi Thalib [656-661 M] 
  • serta perkembangan Islam selanjutnya dapat terdokumentasi secara jelas. 
Namun sejarah masuknya Islam di Indonesia yang terjadi 7 abad setelahnya, justru tidak terdokumentasi secara pasti. Barangkali karena alasan itulah maka sejarah tentang walisongo juga penuh dengan carut-marut.

Kisah-kisah individu walisongo penuh dengan nuansa mistik, bahkan tidak hanya nuansa mistik yang menyelimuti kisah walisongo tetapi juga penuh dengan berita-berita bohong. Mistik dan bohong adalah dua hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, tetapi mengapa keduanya justru menjadi warna utama kisah para wali yang telah berjasa besar dalam menyebarkan ajaran islam di Indonesia?

fakta dan dokumen sejarah walisongo
Sebagai umat Islam tentu saja kita harus mengembangkan metode berpikir dialektis untuk mengambil hikmah yang sesungguhnya dan meluruskan sejarah yang sebenarnya berdasarkan sumber yang benar.

Berikut adalah dokumen-dokumen yang dipastikan kebenarannya sehubungan dengan kisah-kisah Walisongo;


  • “Het book van Bonang”, buku ini ada di perpustakaan Heiden-Belanda, yang menjadi salah satu dokumen langka dari jaman Walisongo. 
  • Kalau tidak dibawa Belanda, mungkin dokumen yang amat penting itu sudah lenyap. 
  • Buku ini ditulis oleh Sunan Bonang pada abad 15 yang berisi tentang ajaran-ajaran Islam.


  • “Suluk Linglung”, buku karya Sunan Kalijogo. Buku ini berbeda dengan buku ‘Suluk Linglung’ karya Imam Anom yang banyak beredar.
  • To Reading Suluk Linglung KLIK HERE


  • “Kropak Farara”, “Kropak Farara” atau “Lontar Ferrara”. Lontar Ferrara adalah karya tulis yang memuat petuah keagamaan yang diyakini berasal dari Jaman Kawalentersebut (Jaman Kewalen atau Jaman Kuwalen adalah ungkapan masyarakat Jawa dan juga ungkapan populer yang termuat dalam sejumlah naskah klasik Jawa untuk menyebut era dimana yang diyakini para anggota Wali Sanga hidup). Naskah ini ditulis di atas daun “Tal” (Lontar) yang terdiri dari 23 lembar berukuran 40 x 3,4 cm dan saat ini tersimpan di Perpustakaan Umum Ariostea di Ferrara, Italia (G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo Seputar Makrifatullah, Terjemahan dari An Early Javanese Code of Muslim Ethics penerjemah: Wahyudi, Surabaya: Alfikr, 2002, p. 1). Oleh karena itu maka naskah ini sering diidentifikasi sebagai “Lontar Ferrara” atau “Kropak Ferrara”. Naskah ini secara sistematik berisi tentang panduan hidup agar menjadi muslim yang kaffah dan pada saat yang sama juga bertujuan menarik para pemeluk Islam baru dan harapan agar masyarakat Jawa membebaskan diri dari penyembahan berhala. Naskah ini ditulis dalam kondisi dimana komunitas muslim masih berjumlah sedikit.


  • “Kitab Walisana”, kitab yang disusun oleh Sunan Giri ini berisi tentang ajaran Islam dan beberapa peristiwa penting dalam perkembangan masuknya agama Islam di tanah Jawa.
  • gambar walisongo, Istilah walisongo memang masih kontroversial dan tidak ada dokumen yang dapat dijadikan rujukan untuk menentukan mana yang benar. Istilah walisongo adalah nama sebuah dewan yang beranggotakan 9 orang [A. Wahyudi dan Abu Khalid; Widji Saksono,1995].


Anggota walisongo merupakan orang-orang pilihan dan oleh karena itu oleh orang jawa dinamakan wali. Istilah wali berasal dari bahasa arab aulia, yang artinya orang yang dekat dengan Allah SWT karena ketakwaannya. Sedangkan istilah songo merujuk kepada penyebaran agama Islam ke segala penuru. Orang jawa mengenal istilah kiblat papat limo pancer untuk menggambarkan segala penjuru, yaitu utara-timur-selatan-barat disebut keblat papat dan empat arah diantaranya ditambah pusat disebut limo pancer.

Dalam kitab Kanzul Ulum karya IBNUL BATHUTHAH yang masih tersimpan di perpustakaan istana kasultanan Ottoman di Istambul, pembentukan Walisongo ternyata pertama kali dilakukan oleh sultan Turki, MUHAMMAD I yang menerima laporan dari para saudagar Gujarat {India} bahwa di pulau Jawa jumlah pemelukm agama Islam masih sangat sedikit. Berdasarkan laporan tersebut Sulatn MUHAMMAD I membentuk sebuah tim yang beranggotakan 9 orang, yaitu :

  1. MAULANA MALIK IBRAHIM, berasal dari Turki, ahli irigasi dan tata pemerintahan
  2. MAULANA ISHAQ, berasal dari Samarkan ahli pengobatan
  3. MAULANA AHMAD JUMADIL KUBRO, berasal dari Mesir
  4. MAULAN MUHAMMAD AL MAGHROBI, berasal dari Maroko
  5. MAULANA MALIK ISRO’IL, berasal dari Turki, ahli tata pemerintahan
  6. MAULANA MUHAMMAD ALI AKBAR, berasal dari Iran, ahli pengobatan
  7. MAULANA HASANUDDIN, dari Palestina
  8. Maulana ALIYUDDIN, dari Palestina
  9. Syekh SUBAKIR, dari Iran, ahli kemasyarakatan

Inilah walisongo angkatan pertama yang datang ke pulau Jawa pada saat yang tepat, karena Majapahit sendiri pada saat itu sedang dilanda perang saudara, yaitu perang paregreg, sehingga kedatangan mereka tidak begitu mendapat perhatian. Perlu diketahui bahwa tim pertama tersebut bukanlah para ahli agama atau bisa dikatakan bahwa mereka belum mempunyai ilmu agama yang mumpuni. Sultan Muhammad I tidak pernah menyebut tim tersebut dengan nama walisongo. Barangkali istilah walisongo berasal dari masyarakat atau dari tim itu sendiri setelah bekerja beberapa pulh tahun. Adapula kemungkinan bahwa istilah walisongo muncul setelah wali pribumi dari kalangan bangsawan yang masuk kedalam tim.

Karena Maulana Malik Ibrahim sebagai ketua walisongo wafat pada tahun 1419 M, maka pada tahun 1421 M dikirim seorang penyebar Islam baru yang bernama AHMAD ALI RAHMATULLAH dari Champa yang juga keponakan MAULANA ISHAK. Beliau adalah anak IBRAHIM ASMARAKANDI yang menjadi menantu Sultan Campha. Pemilihan Ahmad Ali Rahmatullah yang nantinya sering dipanggil RADEN RAHMAT adalah keputusan yang sangat tepat, karena Raden Rahmat dianggap mempunyai kelebihan [ilmu agama yang lebih dalam] dan putra Mahkota kerajaan Majapahit pada saat itu menikah dengan bibi Raden Rahmat. Oleh karena itu dengan Raden Rahmat menjadi ketua, walisongo berharap agar Prabu KertaWijaya dapat masuk Islam, atau setidak-tidaknya tidak menghalangi penyebarah Islam. Dialog antara Raden Rahmat yang mengajak Prabu KertaWijaya masuk Islam tertulis dalam Kitab Walisana dengan langgam Sinom pupuh IV bait 9-11 dan bait 12-14.

Karena masih kerabat istana, maka Raden Rahmat diberi daerah Ampeldento oleh Raja Majapahit yang kemudian dijadikan markas untuk mendirikan pesantren. Selanjutnya Raden Rahmat dikenal dengan nama SUNAN AMPEL. Menurut Widji Saksono [1995:23-24], kedatangan Raden Rahmat di pulau jawa disertai dua pemuda bangsawan Champha yaitu Raden SANTRI ALI dan ALIM ABU HURAIRAH serta 40 orang pengawal. Selanjutnya Raden Santri Ali dan Alim Abu Hurairah bermukim di Gresik dan dikenal dengan SUNAN GRESIK dan SUNAN MAJAGUNG. Dengan kedatangan Raden Rahmat, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan kedua.

Pada tahun 1435 ada dua orang wali yang wafat, yaitu Maulana Malik Isro`il dan Maulana Muhammad Ali Akbar. Dengan meninggalnya dua orang itu, dewan mengajukan permohonan kepada Sultan Turki [tahun 1421 Sultan Muhammad I digantikan oleh sultan MURAD II, yang memimpin sampai tahun 1451 {Barraclough, 1982:48}] untuk dikirimkan dua orang pengganti yang mempunyai kemampuan agama yang lebih mendalam.

Permohonan tersebut dikabulkan dan pada tahun 1436 dikirim dua orang juru dakwah, yaitu :


  1. SAYYID JA`FAR SHODIQ, berasal dari Palestina, yang selanjutnya bermukin di Kudus dan dikenal dengan nama SUNAN KUDUS. Dalam buku Babad Demak karya Atmodarminto {2001, disebutkan bahwa Sayyid Ja`far Shodiq adalah satu-satunya anggota walisongo yang paling menguasai Ilmu Fiqih.
  2. SYARIF HIDAYATULLAH, berasal dari Palestina yang merupakan ahli strategi perang. Menurut buku Babad Tanah Sunda Babad Cirebon karya PS Sulendraningrat {tanpa tahun}, Syarif Hidayatullah adalah cucu Prabu Siliwangi dari Pajajaran hasil perkawinan Rara Santang dan Sultan Syarif Abdullah dari Mesir. Selanjutnya Syarif Hidayatullah bermukim di Cirebon dan dikenal dengan nama SUNAN GUNUNG JATI.


Dengan kedatangan wali muda tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan ketiga. Nampak dari informasi diatas bahwa ada tiga wali muda yang tentu mempunyai kedalaman ilmu agama yang lebih dibandingkan dengan angkatan sebelumnya.

Pada tahun 1462 dua orang anggota walisongo wafat, yaitu Maulana Hasanuddin dan Maulana Aliyuddin. Sebelum itu ada dua orang anggota wali yang meninggalkan tanah Jawa, yaitu Syekh Subakir pulang ke Persia dan Maulana Ishak berdakwah di Pasai.

Dalam sidang walisongo di Ampeldento, diputuskan bahwa ada empat orang yang masuk dalam dewan walisongo, yaitu:

  1. Raden MAKHDUM IBRAHIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di desa Mbonang, Tuban. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN MBONANG.
  2. Raden QOSIM, putra Sunan Ampel yang bermukim di lamongan dan dikenal dengan nama SUNAN DRAJAT.
  3. Raden PAKU, putra Maulana ISHAQ yang bermukim di Gresik dan selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN GIRI.
  4. Raden Mas SAID, putra Adipati Tuban yang bermukim di Kadilangu, Demak. Selanjutnya dikenal dengan nama SUNAN KALIJOGO.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan keempat. Dalam dewan walisongo angkatan keempat ini masih ada dua orang yang bersal dari angkatan pertama, sehingga pada tahun 1463 mereka sudah bertugas di tanah Jawa selama 59 tahun. Dua orang itu adalah Maulana Ahmad Jumadil Qubro yang meninggal pada tahun 1465 dan Maulana Muhammad Al Maghrobi [tidak diketahui tahun berapa wafatnya]. Dalam kitab walisana disebutkan bahwa pada saat Raden FATAH menghadapi SYEKH SITI JENAR, Maulana Muhammad Al Maghrobi masih merupakan tokoh sentral, kuat dugaan bahwa beliau yang mengambil keputusan tentang masalah Syekh Siti Jenar.

Perlu diperhatikan bahwa mulai angkatan keempat ini banyak anggota walisongo yang merupakan putra bangsawan pribumi. Bersamaan dengan itu, orientasi ajaran islam mulai berubah dari Arab Sentris menjadi Islam Kompromistis. Pada saat itulah tubuh walisongo mulai terbelah antara kelompok futi`a dan aba`ah, barangkali pada saat itu pula muncul istilah Walisongo. Isi kitab walisana yang ditulis oleh Sunan Giri II pun yang ditulis pada awal abad 16 banyak berbeda dengan buku-buku sunan Mbonang yang masih menjelaskan ajaran Islam yang murni.

Dengan meninggalnya dua orang wali yang paling tua itu, maka pada tahun 1466 diadakan sidang yang memutuskan memasukkan anggota baru dan mengganti ketua dewan yang sudah berusia lanjut. Ketua dewan yang dipih dalam siding tersebut adalah Sunan GIRI, sedangkan anggota dewan yang masuk adalah :

  1. Raden FATAH, putra Raja Majapahit Brawijaya V yang merupakan Adipati Demak.
  2. FATHULLAH KHAN, putra Sunan Gunung Jati yang dimaksudkan untuk membantu tugas ayahandanya yang sudah berusia lanjut.

Dengan perubahan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa susunan dewan wali dapat kita sebut angkatan kelima.

Setelah Raden Fatah dinobatkan menjadi Sultan Demak Bintara, maka pada tahun 1478, dilakukan perombakan lagi dalam tubu dewan walisongo. Selain Raden Fatah, Sunan Gunung Jati pun lengser karena usianya lang lanjut. Posisi Sunan Gunung Jati digantikan oleh Fathullah Khan yang memang sudah ada dalam dewan walisongo. Dua posisi yang kosong diisi oleh :

  1. Raden UMAR SAID, putra Sunan Kalijogo yang lebih dikenal sebagai SUNAN MURIA.
  2. Sunan PANDANARAN, murid Sunan Kalijogo yang bermukim di Tembayat, juga dikenal sebagai SUNAN TEMBAYAT.

Menurut kitab walisana karya Sunan Giri II, status Sunan Muria dan Sunan Padanaran hanya sebagai wali penerus atau wali nubuah atau wali nukbah. Kitab walisana juga tidak tidak pernah menyebut nama Fathullah Khan sebagai anggota walisongo, barangkali hal itu terjadi karena begitu diangkat menjadi anggota walisongo, Fathullah Khan langsung disebut sebagai Sunan Gunung Jati seperti sebutan untuk ayahandanya.

Setelah masa walisongo angkatan keenam, masih banyak orang yang pernah mendapat gelar sebagai wali, namun kapan mereka itu diangkat dan menggantikan siapa, tidak ada bukti dan keterangan yang dapat dijadikan patokan dan kebenarannyapun masih banyak diragukan. 

Mereka itu misalnya SYEKH SITI JENAR/SUNAN LAWU, Sunan GESENG, sunan NGUDUNG, Sunan PADUSAN, Sunan KALINYAMAT, Sunan MURYAPODO, dan ada beberapa orang yang juga dianggap sebagai wali misalnya Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Pengging.

Pustaka :

  • Hasanu Simon, 2004, Peranan Walisongo Dalam Mengislamkan Tanah Jawa Dalam Misteri Syekh Siti Jenar, Pustaka Pelajar, Jogjakarta.
  • Sulendraningrat, 1984, Babad Tanah Sunda Babad Cirebon.
  • Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA, tanpa tahun, Kisah Walisongo, Karya Ilmi, Surabaya.
  • Widji Saksono,1995, Mengislamkan Tanah Jawa:Telaah atas Metode Dakwah Walisongo,Penerbit Mizan, Bandung.
  • Atmodarminto, R., 2000, Babad Demak;Dalam Tafsir Sosial Politik Keislaman dan Kebangsaan, terjemahan Saudi Berlian, Millenium Publisher, Jakarta.
  • http://nyimaspakungwati.blogspot.com/2009/05/carut-marut-hikayat-walisongo.html

Kamis, 13 Maret 2014

Memahami TAPSIR Tembang Cublak-Cublak Suweng Warisan Sunan Giri

Tapak Jejak Sunan Giri 

Memahami TAPSIR Tembang Cublak-Cublak Suweng Warisan Sunan Giri

Cublak Cublak Suweng : Berhati-hatilah dalam Mencari ilmu
Lagu dolanan anak-anak di Jawa, karya Sunan Giri (1442M) ini berisi syair ‘sanepo’ (simbol) yg sarat makna, tentang nilai-nilai keutamaan hidup manusia.
Pesan moral lagu dolanan “Cublak Suweng” adalah:

“Untuk mencari harta kebahagiaan sejati janganlah manusia menuruti hawa nafsunya sendiri atau serakah, tetapi semuanya kembalilah ke dalam hati nurani, sehingga harta kebahagiaan itu bisa meluber melimpah menjadi berkah bagi siapa saja ”.

Cublak Cublak Suweng : 
Berhati-hatilah dalam Mencari ilmu

Cublak-cublak suweng
suwenge ting gelenter
Mambu ketudhung gudhel
Pak empong lerak lerek
Sapa ngguyu ndelikake
Sir sir pong dele kopong
Sir sir pong dele kopong
Itulah lirik tembang dolanan anak-anak di Jawa. Cara bermainnya biasanya terdiri dari 7 orang. Salah satunya tengkurep, sedangkan yang lainnya duduk mengelilingi, dan menaruh tangannya terbuka di atas punggung yang tengkurap tersebut. Ditaruhlah suweng (anting-anting) di tangan-tangan tersebut, bergiliran sambil menyanyikan lagu tersebut. Dan di akhir nyanyian, “Sir pong dele kopong”, bangunlah anak yang tengkurap untu menebak, dimana posisi suweng tersebut, siapa yang memegangnya. Dia yang ketawa-tawa, “sopo ngguyu ndelikake”, seolah-olah dialah yang membawa/menyimpan, tetapi belum tentu dia yang membawa suweng tadi. Begitulah kecerian anak-anak untuk bermain tebak-tebakan.

Permainan, tetaplah permainan, keceriaanlah yang menjadi tolok ukurnya. Tapi siapa sangka jika permainan itu menyimpan hikmah eduksi yang penting bagi anak-anak dan kita semua?
Cublak-cublak suweng, ada sebuah Suweng (anting-anting), harta berharga, yang tersimpan, bisa di sana atau di sini. (Suwung, Sepi, Sejati) atau Harta Sejati. (Dalam prakteknya berada di tangan-tangan secara begiliran).
Suwenge teng gelenter, harta (suweng) itu berserakan, tersebar di mana-mana. Ya itu tadi di banyak tempat, di tangan-tangan anak-anak yang bermain.

Mambu ketundhung gudel, keberadaannya tercium oleh gudel (anak kerbau). Ini adalah gambaran bahwa orang-orang bodoh, akan sibuk mencari-cari. Mengorek-ngorek, kalau perlu nyeruduk seperti gudel. 
Mambu (baunya) Ketundhung (dituju) Gudel (anak Kerbau). Maknanya, banyak orang berusaha mencari harta sejati itu. Bahkan orang-orang bodoh (diibaratkan Gudel) mencari harta itu dengan penuh nafsu ego, korupsi dan keserakahan, tujuannya untuk menemukan kebahagiaan sejati.

Pak empong lerak lerek, bagi orang-orang yang sudah sepuh (luas wawasannya) keberadaan harta itu hanya dilirik saja, tak perlu seradak seruduk seperti kerbau.
Pak empong (bapak ompong) Lera-lere (menengok kanan kiri). 
Orang-orang bodoh itu mirip orang tua ompong yang kebingungan. Meskipun hartanya melimpah, ternyata itu harta palsu, bukan Harta Sejati atau kebahagiaan sejati. Mereka kebingungan karena dikuasai oleh hawa nafsu keserakahannya sendiri.

Sopo ngguyu ndeliake, dan bagi siapa yang menyimpannya, yang mengetahui keberadaan harta itu, hanya tersenyum saja.
Sopo ngguyu (siapa tertawa) Ndhelikake (dia yg menyembunyikan). menggambarkan bahwa barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan Tempat Harta Sejati atau kebahagian sejati. Dia adalah orang yang tersenyum-sumeleh dalam menjalani setiap keadaan hidup, sekalipun berada di tengah-tengah kehidupan orang-orang yang serakah.

Sir sir pong dele kopong, nah bagi gudel (orang-orang bodo) yang sudah sradak-sruduk ke sana ke mari, seolah-olah sudah mendapatkannya, padahal dia tak menemukan apa-apa, menekukan kedele kopong, kedelai tanpa isi, hanya kulit saja. Dan ini diualang-ulang, menyadarkan akan banyak orang-orang yang kecele hanya menemukan kulit semata, tak menemukan satu Suweng sekalipun.

Sir (hati nurani) pong dele kopong (kedelai kosong tanpa isi). Artinya di dalam hati nurani yang kosong. Maknanya bahwa untuk sampai kepada menemu Tempat Harta Sejati (Cublak Suweng) atau kebahagiaan sejati, orang harus melepaskan diri dari atribut kemelekatan pada harta benda duniawi, mengosongkan diri, tersenyum sumeleh,rendah hati, tidak merendahkan sesama, serta senantiasa memakai rasa dan mengasah tajam Sir-nya atau hati nuraninya.

Pesan moral lagu dolanan “Cublak Suweng” adalah:

“Untuk mencari harta kebahagiaan sejati janganlah manusia menuruti hawa nafsunya sendiri atau serakah, tetapi semuanya kembalilah ke dalam hati nurani, sehingga harta kebahagiaan itu bisa meluber melimpah menjadi berkah bagi siapa saja ”.

Suweng, bisa jadi merupakan simbol apa saja, informasi, ilmu pengetahuan, kekayaan dan sebagainya. Ia begitu berharga, ia tersembunyi dari kebanyakan manusia. Untuk memperolehnya, tak perlu ribut ke sana ke mari dengan sikap sradak sruduk, seperti kerbau. Tapi perlu larak lerek, tanya kanan kiri, tanya kepada orang yang mengerti. Sementara mereka yang sudah tahu keberadaannya, sudah menguasainya, hanya tersenyum, tidak dipamer-pamerkan. Maka berhati-hatilah dalam mencarinya, sebab jika tidak berhati-hati hanya akan menemukan kulitnya semata.

Dalam belajar agama, banyak rahasia dan pengetahuan belum kita peroleh. Bahkan seumur hiduppun belum tentu kita mampu memperolehnya. Maka belajarlah dengan serius, bertanya kepada ahlinya, jangan asal mencari, asal mengambil ilmu tersebut. Sebab jika hanya seperti itu, tak ubahnya seperti gudel (kerbau) yang dungu, dan kekecewaanlah yang ditemui pada akhirnya.


Wallahu ‘Alamu Bish-showab.

Rabu, 12 Maret 2014

Tapsir MAKNA TURI-TURI PUTIH (buah karya SUNAN GIRI)

Tapak Jejak Sunan Giri 

Tapsir MAKNA TURI-TURI PUTIH (buah karya SUNAN GIRI)

Tapsir MAKNA TURI-TURI PUTIH 
(buah karya SUNAN GIRI)
Bagi masyarakat Jawa, peninggalan wali sanga berupa lagu “Turi-turi Putih” sudah tidak asing lagi. Bahkan ada sebagian masyarakat menyelinginya dengan bacaan shalawat. Lagu tersebut merupakan peninggalan wali songo, khususnya Sunan Giri. Memang tak ada bukti valid soal itu, tetapi satu hal bahwa lagu tersebut begitu populer dan digemari masyarakat. Jauh lebih penting dari itu, ternyata lagu tersebut mengandung pesan ajaran ; kearifan, kesadaran akan kematian, akan amal setelah manusia meninggal.

Begitulah pesan Jadi tembang bagi kanjeng Sunan Giri bukan sekedar bunyi dan irama yang enak didengar, tetapi pesan yang disimpan jauh lebih membekas dan membuat orang begitu menghayati lagu tersebut.

Turi-turi putih,
Ditandur neng kebon agung,
Turi-turi putih
Ditandur ning kebon agung
Cumleret tiba nyemplung
Gumlundhung kembange apa,
Mbok kira, Mbok kira,
Mbok kira, Kembange apa?”
Sing kene setengah mati

Sing kana ‘ra piye piye

Terjemahan :
TURI-TURI PUTIH
Turi, artinya tak aturi: (saya kasih tahu).
Putih itu simbolisme dari kain kafan/ pocongan: orang mati yang dibungkus dengan kain kafan (kain mori warna putih).
Arti selengkapnya: Saya kasih tahu, bahwa kelak manusia itu akan mati.

DITANDUR NING KEBUN AGUNG: di tanam di kebon agung,
Artinya mati di kubur di sebuah makam.

CUMLERET TIBA NYEMPLUNG:
Sebuah gambaran dari orang mati yang sedang dimasukkan dalam kuburan waktunya cepat seperti kilat jatuh

GUMLUNDUNG KEMBANGE APA
Maksudnya, setelah orang yang mati itu selesai dikubur, maka kemudian akan diberi pertanyaan oleh malaikat soal amal perbuatannya.

MBOK IRA
MBOK IRA
MBOK IRA
KEMBANGE APA?
Mbok iro, adalah simbol manusia yang sudah meninggal, selalu akan ditanya:
Amal apa yang sudah Kamu diperbuat?
Bekal apa yang akan kamu dibawa?

Begitulah, makna yang bisa diambil dari lagu tersebut. Namun, pada perkembangannya, sudah dimunculkan jawaban-jawabannya. Misalnya adalah lirik tambahan yang bukan karya kanjeng sunan, seperti:
Mbok kira mbok kira mbok kira kembange apa?
Kembang-kembang m’lathi
Kembang m’lathi dironce-ronce
(Orang mati pada kelihatannya (biasanya) adalah membawa bunga melati yang dirangkai, dikalungkan pada peti jenazah.

Namun bukan itu yang sebenarnya yang dikehendaki Kanjeng sunan giri. Tetapi amal ketika hidup.

Maka lirik tambahan selanjutnya adalah:
Sing kene setengah mati
Sing kana ‘ra piye piye
Yang ada di sini (di dunia) susah setengah mati, tetapi yang di sana tidak ada apa-apa.
Ini adalah pandangan mata manusia pada umumnya.

Bagi mereka yang mau belajar dan mencari hikmah, justru hidup di dunia ini adalah kesusahan dalam rangka mempersiapkan amal kelak meninggal. Jika itu bisa dilakukan, maka benar adanya di sana dia tidak ada masalah yang berarti (sing kana ra piye piye) tetapi jika tidak ada amal, justru kehidupan di sanalah yang akan susah setengah mati.

Manusia lupa, bahwa dikubur siksanya setengah mati, tapi mereka hidup Ra piye-piye tidak melakukan tindakan dan amalan yang baik untuk bekal di alam kubur nanti.


Sebaik-baiknya peringatan adalah kematian.

Dalam perkembangannya, lagu ini bisa ditambahi dengan berbagai lirik. Bisa jadi tambahan tersebut justru tidak membawa pesan apapun, hanya sekedar kesenangan. Jika demikian, maka jauh lebih bijaksana untuk mencari lirik yang lebih bermanfaat.

Wallahu ‘Alamu Bish-showab

*) berbagai sumber

Kamis, 06 Maret 2014

Syekh Khaliqul Idrus Sunan Jepara "PARA PENDAHULU WALI SONGO"

Tapak Jejak Waliyulloh PARA PENDAHULU WALI SONGO 

Syekh Khaliqul Idrus Sunan Jepara "PARA PENDAHULU WALI SONGO" "PARA PENDAHULU WALI SONGO"

PARA PENDAHULU WALI SONGO
Wali Songo, setiap umat Muslim di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, pasti tidak asing dengan kata ini.  Kebanyakan diantara kita, mahfum akan keberadaannya yang masyur dengan 9 wali, yang biasa disapa dengan kata “Sunan”. Seperti; Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kali Jogo, Sunan Gresik, Sunan Drajat, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. 

Tetapi tahukah kalian bahwa sebenarnya Wali Songo adalah sebuah majelis da’wah yang di prakarsai oleh Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). 

Majelis da’wah ini beranggotakan 9 Mubaligh, yang dalam keberlangsungan organisasinya tetap mempertahankan jumlah anggota yang tetap 9. 

Seperti yang dikutip dalam buku Khoul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Ahmad Dahlan;
“…majelis da’wah yang secara umum dinamakan Walisongo, sebenarnya terdiri dari beberapa angkatan. Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan guru-murid. Bila ada seorang anggota majelis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya” 

Namun, jauh sebelum Wali Songo berkiprah dengan majelis da’wahnya di Indonesia khususnya pulau Jawa dan sekitarnya, peran para Alawiyyin, telah terlebih dahulu berjasa menyebarkan Islam di bumi pertiwi ini.

Sebutan “Alawiyyin” adalah diperuntukkan bagi kaum atau sekelompok orang yang memiliki pertalian darah langsung (Keturunan/Nasab) dengan Nabi Muhammad saw. Kebanyakan dari mereka berasal dari Persia (Iraq) dan Hadramaut, Yaman Selatan

Berikut ini adalah 5 tokoh Alawiyyin yang merupakan pendahulu para Wali Songo. 
Mereka itu adalah:
1. Sayyid Ali Al-Muktabar.
2. Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini.
3. Syekh Datuk Kahfi. 
4. Syekh Quro.
5. Syekh Khaliqul Idrus.
<<<<<<--***-->>>>>
Syekh Khaliqul Idrus "PARA PENDAHULU WALI SONGO"
SYEKH KHOLIQUL ‘IDRUS
Syekh Kholiqul ‘Idrus adalah seorang muballigh yang lahir di tanah Persia yang berda’wah di Jepara. 

Nasab Syekh Kholiqul ‘Idrus adalah Abdul Kholiq Al-‘Idrus, bin Muhammad Al-Alsiy bin Abdul Muhyi Al-Khoiri bin Muhammad Akbar Al-Anshori bin Abdul Wahab bin Yusuf Al-Mukhrowi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqoddam bin Ali bin Muhammad Shohibus Saumiah bin Alawi (Alwi) Awwal bin Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uroidhi bin Ja’far Ash-Shoddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain As-Sabith bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib + Sayyidah Fathimah Az-Zahro binti Nabi Muhammad saw.

Syekh Kholiqul ‘Idrus kemudian menikahi Siti ‘Aisyah (Ratna Kusuma), putri dari Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini. Dari pernikahan tersebut melahirkan Raden Muhammad Yunus (Wong Agung Jepara) yang merupakan ayah dari Raden Abdul Qodir (Adipati Bin Yunus atau Pati Unus). 
Pati Unus gugur, saat perang melawan penjajah Portugis di Malaka 1521 M. Ia kemudian dikenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. 
Jadi Syekh Kholiqul ‘Idrus adalah kakek buyut dari Pangeran Sabrang Lor.
--***--
Dikisahkan 
Setelah menetap di Jepara, Syekh Khaliqul Idrus menikah dengan putri seorang Muballigh asal Gujarat yang lebih dulu datang ke tanah Jawa yaitu dari keturunan Syekh Mawlana Akbar, seorang Ulama, Muballigh dan Musafir besar asal Gujarat, India yang mempelopori dakwah diAsia Tenggara. 

Seorang putra beliau adalah Syekh Ibrahim Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja) yang sekarang masih ada perkampungan Muslim. Seorang putra beliau dikirim ke tanah Jawa untuk berdakwah yang dipanggil dengan Raden Rahmat atau terkenal sebagai Sunan Ampel. Seorang adik perempuan beliau dari lain Ibu (asal Campa) ikut dibawa ke Pulau Jawa untuk ditawarkan kepada Raja Brawijaya sebagai istri untuk langkah awal meng-Islam-kan tanah Jawa.


Raja Brawijaya berkenan menikah tapi enggan terang-terangan masuk Islam. Putra yang lahir dari pernikahan ini dipanggil dengan nama Raden Patah. Setelah menjadi Raja Islam yang pertama di beri gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Disini terbukalah rahasia kenapa beliau Raden Patah diberi gelar Alam Akbar karena ibu beliau adalah cucu Ulama Besar Gujarat Syekh Mawlana Akbar yang hampir semua keturunannya menggunakan nama Akbar seperti Ibrahim Akbar, Nurul Alam Akbar, Zainal Akbar dan banyak lagi lainnya.

setelah menikah dengan putri Ulama Gujarat keturunan Syekh Mawlana Akbar lahirlah seorang putra beliau yang bernama Raden Muhammad Yunus yang setelah menikah dengan seorang putri pembesar Majapahit di Jepara dipanggil dengan gelar Wong Agung Jepara. 

Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang kemudian terkenal sangat cerdas dan pemberani bernama Abdul Qadir yang setelah menjadi menantu Sultan Demak I Raden Patah diberi gelar Adipati bin Yunus atau terkenal lagi sebagai Pati Unus yang kelak setelah gugur di Malaka di kenal masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor.

Makam/Cungkup Petilasan 
Syekh Kholiqul ‘Idrus adalah seorang muballigh yang lahir di tanah Persia yang berda’wah di Jepara. 

Mohon info untuk memperkaya khasanah mengenai beliau.....

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata "PARA PENDAHULU WALI SONGO"

Tapak Jejak Waliyulloh PARA PENDAHULU WALI SONGO 

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata "PARA PENDAHULU WALI SONGO"

PARA PENDAHULU WALI SONGO
Wali Songo, setiap umat Muslim di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, pasti tidak asing dengan kata ini.  Kebanyakan diantara kita, mahfum akan keberadaannya yang masyur dengan 9 wali, yang biasa disapa dengan kata “Sunan”. Seperti; Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kali Jogo, Sunan Gresik, Sunan Drajat, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. 

Tetapi tahukah kalian bahwa sebenarnya Wali Songo adalah sebuah majelis da’wah yang di prakarsai oleh Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). 

Majelis da’wah ini beranggotakan 9 Mubaligh, yang dalam keberlangsungan organisasinya tetap mempertahankan jumlah anggota yang tetap 9. 

Seperti yang dikutip dalam buku Khoul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Ahmad Dahlan;
“…majelis da’wah yang secara umum dinamakan Walisongo, sebenarnya terdiri dari beberapa angkatan. Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan guru-murid. Bila ada seorang anggota majelis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya” 

Namun, jauh sebelum Wali Songo berkiprah dengan majelis da’wahnya di Indonesia khususnya pulau Jawa dan sekitarnya, peran para Alawiyyin, telah terlebih dahulu berjasa menyebarkan Islam di bumi pertiwi ini.

Sebutan “Alawiyyin” adalah diperuntukkan bagi kaum atau sekelompok orang yang memiliki pertalian darah langsung (Keturunan/Nasab) dengan Nabi Muhammad saw. Kebanyakan dari mereka berasal dari Persia (Iraq) dan Hadramaut, Yaman Selatan

Berikut ini adalah 5 tokoh Alawiyyin yang merupakan pendahulu para Wali Songo. 
Mereka itu adalah:
1. Sayyid Ali Al-Muktabar.
2. Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini.
3. Syekh Datuk Kahfi. 
4. Syekh Quro.
5. Syekh Khaliqul Idrus.
<<<<<<--***-->>>>>
Syekh Quro "PARA PENDAHULU WALI SONGO"
Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri Pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428M.

Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin, ada pula yang menyebutnya dengan Syekh Mursahadatillah. 

Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Champa (Vietnam Selatan) yang bernama Syekh Yusuf Shiddiq as-Samarqond.

Adapun nasab Syekh Quro adalah; Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini bin Ahmadsyah Jalaluddin bin Amir ‘Abdullah Khonnuddin bin ‘Abdul Malikal Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi' Qosam bin Alwi Ats-Tsani bin Muhammad Shohibus Saumiah bin Alawi (Alwi) Awwal bin Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uroidhi bin Ja’far Ash-Shoddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain As-Sabith bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib + Sayyidah Fathimah Az-Zahro binti Nabi Muhammad saw.

Syekh Hasanuddin adalah:

  • Saudara sepupu dari Syekh Ali Rohmatullah (Sunan Ampel) dan Syekh Ali Murtadho. Karena ayahnya, Syekh Yusuf Shiddiq adalah adik kandung dari Syekh Maulana Ibrohim as-Samarqond (Asmoroqondi), ayah dari Syekh Ali Rohmatullah dan Syekh Ali Murtadho.
  • Juga saudara sepupu dari Syekh Maulana Malik Ibrohim (Sunan Gresik) dan Syekh Maulana Ishaq (Ayah Sunan Giri). Karena ayahnya, Syekh Yusuf Shiddiq adalah adik kandung Syekh Barokat Zainal Alam as-Samarqond, ayah dari Syekh Maulana Malik Ibrohim dan Syekh Maulana Ishaq.


Pada Tahun 1409 M, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming di Cina memerintahkan Laksamana Haji Muhammad Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong alias Sampo Po Bo untuk menjalin hubungan perdagangan dan persahabatan dengan kesultanan Islam di Nusantara.
Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu turut serta Syekh Hasanuddin dengan tujuan untuk mengajar agama Islam di Kesultanan Malaka (Malaysia sekarang).

Dari sana, Syekh Hasanuddin melanjutkan perjalanan ke pulau Jawa, tepatnya di Cirebon. Setibanya disana, ia langsung mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, sebagai Syahbandar Muara Jati, Cirebon. Melalui pelabuhan Muara Jati, ia terus melanjutkan da’wah ke daerah lainnya seperti Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura.

Pada tahun 1428 M, Syekh Hasanuddin lalu mendirikan Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang. Sejak itulah ia lebih dikenal dengan panggilan Syekh Quro.

Syekh Quro juga turut memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam kedalam keluarga Raden Pamanah Rasa (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Jaya Dewata – Prabu Siliwangi III, raja dari Kerajaan Pajajaran). Apalagi istri ke-3 Prabu Siliwangi III yang bernama Nha/Nyai Subang Larang, putri Ki Gedeng Tapa, adalah santriwati pesantren Syekh Quro.

Bila sementara ini, sebagian masyarakat menganggap bahwa Prabu Siliwangi III beragama Hindu, pada kenyataannya ia menjadi Muslim saat menikah dengan Nyai Subang Larang.
Fakta menunjukkan:

  1. Perhatikan gelar yang disandangnya, “Sri Baduga Maharaja Ratu HAJI Prabu Jaya Dewata”.
  2. Jadi sebelum dinobatkan menjadi raja Kerajaan Pajajaran, Raden Pamanah Rasa telah memeluk Islam, dan menunaikan ibadah Haji. Setelah itu barulah ia menikahi Nyai Subang Larang.
  3. Di Majalengka, terdapat petilasan Prabu Siliwangi III, yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan Makam Prabu Haji Munding Wangi (nama lain Prabu Siliwangi III), yang letaknya didalam Hutan Siliwangi.
  4. Jadi, di hutan tersebut adalah tempat Prabu Siliwangi III ber-halwat. 
  5. Disamping itu, sebagai guru agama Nyai Subang Larang, pastilah Syekh Quro akan berkeberatan bila santrinya menikah beda agama.
  6. Begitu juga dengan Nyai Subang Larang sendiri, yang merupakan santriwati yang tekun dan teladan di Pesantren Quro. Ia pasti lebih bahagia, bila suaminya seiman juga. 

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Syekh Quro melakukannya melalui pendekatan yang disebut Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur’an Surat XVI An Nahl ayat 125, yang artinya : “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik”.
Foto: Lanjutan PARA PENDAHULU WALI SONGO (IV)

4. SYEKH QURO
Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri Pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428M.

Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin, ada pula yang menyebutnya dengan Syekh Mursahadatillah. 

Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Champa (Vietnam Selatan) yang bernama Syekh Yusuf Shiddiq as-Samarqond.

Adapun nasab Syekh Quro adalah; Hasanuddin bin Yusuf Shiddiq bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini bin Ahmadsyah Jalaluddin bin Amir ‘Abdullah Khonnuddin bin ‘Abdul Malikal Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi' Qosam bin Alwi Ats-Tsani bin Muhammad Shohibus Saumiah bin Alawi (Alwi) Awwal bin Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uroidhi bin Ja’far Ash-Shoddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain As-Sabith bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib + Sayyidah Fathimah Az-Zahro binti Nabi Muhammad saw.

Syekh Hasanuddin adalah:
a. Saudara sepupu dari Syekh Ali Rohmatullah (Sunan Ampel) dan Syekh Ali Murtadho. Karena ayahnya, Syekh Yusuf Shiddiq adalah adik kandung dari Syekh Maulana Ibrohim as-Samarqond (Asmoroqondi), ayah dari Syekh Ali Rohmatullah dan Syekh Ali Murtadho.
b. Juga saudara sepupu dari Syekh Maulana Malik Ibrohim (Sunan Gresik) dan Syekh Maulana Ishaq (Ayah Sunan Giri). Karena ayahnya, Syekh Yusuf Shiddiq adalah adik kandung Syekh Barokat Zainal Alam as-Samarqond, ayah dari Syekh Maulana Malik Ibrohim dan Syekh Maulana Ishaq.

Pada Tahun 1409 M, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming di Cina memerintahkan Laksamana Haji Muhammad Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong alias Sampo Po Bo untuk menjalin hubungan perdagangan dan persahabatan dengan kesultanan Islam di Nusantara.
Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu turut serta Syekh Hasanuddin dengan tujuan untuk mengajar agama Islam di Kesultanan Malaka (Malaysia sekarang).

Dari sana, Syekh Hasanuddin melanjutkan perjalanan ke pulau Jawa, tepatnya di Cirebon. Setibanya disana, ia langsung mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, sebagai Syahbandar Muara Jati, Cirebon. Melalui pelabuhan Muara Jati, ia terus melanjutkan da’wah ke daerah lainnya seperti Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura.

Pada tahun 1428 M, Syekh Hasanuddin lalu mendirikan Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang. Sejak itulah ia lebih dikenal dengan panggilan Syekh Quro.

Syekh Quro juga turut memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam kedalam keluarga Raden Pamanah Rasa (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Jaya Dewata – Prabu Siliwangi III, raja dari Kerajaan Pajajaran). Apalagi istri ke-3 Prabu Siliwangi III yang bernama Nha/Nyai Subang Larang, putri Ki Gedeng Tapa, adalah santriwati pesantren Syekh Quro.

Bila sementara ini, sebagian masyarakat menganggap bahwa Prabu Siliwangi III beragama Hindu, pada kenyataannya ia menjadi Muslim saat menikah dengan Nyai Subang Larang.
Fakta menunjukkan:
a. Perhatikan gelar yang disandangnya, “Sri Baduga Maharaja Ratu HAJI Prabu Jaya Dewata”.
Jadi sebelum dinobatkan menjadi raja Kerajaan Pajajaran, Raden Pamanah Rasa telah memeluk Islam, dan menunaikan ibadah Haji. Setelah itu barulah ia menikahi Nyai Subang Larang.
b. Di Majalengka, terdapat petilasan Prabu Siliwangi III, yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan Makam Prabu Haji Munding Wangi (nama lain Prabu Siliwangi III), yang letaknya didalam Hutan Siliwangi.
Jadi, di hutan tersebut adalah tempat Prabu Siliwangi III ber-halwat. 
c. Disamping itu, sebagai guru agama Nyai Subang Larang, pastilah Syekh Quro akan berkeberatan bila santrinya menikah beda agama.
d. Begitu juga dengan Nyai Subang Larang sendiri, yang merupakan santriwati yang tekun dan teladan di Pesantren Quro. Ia pasti lebih bahagia, bila suaminya seiman juga. 

Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulo Kalapa, Kecamatan Lemah Abang, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Karawang, Jawa Barat.

--***--

BERSAMBUNG...
5. SYEKH KHOLIQUL ‘IDRUS
Makam Cungkup Petilasan Syekh Quro 
Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.
Gambar
Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/ XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.

Masjid Jamie Syeh Quro - Karawang
Kampung Pulo Bata, Desa Pulo Kelapa, Kecamatan Lemah Abang
Kabupaten Karawang 41383, Provinsi Jawa Barat Titik Koordinat :  6°15'4.73"S 107°28'54.34"E
Masjid Jamie Sheikh Quro atau Syeh Quro berada di dalam komplek makam Sheikh Quro di kampung Pulo Bata, Desa Pulo Kelapa, Kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Lokasinya berada sekitar 23 kilometer dari pusat kota Karawang ke arah utara. komplek makam yang senantiasa ramai peziarah dari berbagai pelosok tanah air.

Ukuran masjid nya memang tidak terlalu besar, namun menjadi istimewa karena lokasinya yang berada di dalam komplek salah satu makam ulama besar tanah Jawa. Ditinjau dari sudut arsitektural maupun sejarah-pun masjid ini biasa biasa saja. Dalam sejarahnya peran Sheikh Quro tak bisa lepas dari keberadaan Masjid Agung Karawang yang pada awalnya merupakan mushola kecil yang dibangun oleh beliau sebagai tempat mengajarkan Al-Qur’an di tengah pesantren yang dibangunnya.
Gerbang. Ada dua gerbang utama di komplek makam ini. salah satunya adalah gerbang menuju ke masjid seperti foto di atas. di kiri kanan gerbang ini penuh dengan jejeran warung warung pedagang.

Mushola kecil tersebut yang dikemudian hari menjadi titik pangkal penyebaran Islam di Karawang dan sekitarnya. Kisah tutur menyebutkan bahwa salah satu murid Sheikh Quro (versi lain menyebut sebagai putrinya) bernama putri Subang Larang atau Nyi Subang Karancang dipersunting oleh Raden Pamanah Rasa yang tak lain adalah putera Mahkota Pajajaran yang dikemudian hari naik tahta bergelar Sri Baduga atau Prabu Siliwangi, Kakek dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari Ibunya yang bernama putri Rara Santang, putri tertua Prabu Siliwangi.

Diantara warung warung. sisi depan komplek Makam Sheikh Quro ini dipenuhi oleh warung warung para pedagang. tidak saja di areal parkir hingga menutupi pagar makam seperti foto di atas tapi juga hingga ke dalam komplek makam.

Namun, bangunan masjid Jamie Syeh Quro di Pulo Bata ini memang sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan Masjid agung Karawang. Meski ukurannya tak terlalu besar namun masjid ini berfungsi sebagai masjid Jami’ yang digunakan untuk sholat Jum’at bagi para peziarah, pedagang, pengurus komplek makam dan warga sekitar.
Atap Limas bersusun tiga. seperti kebanyakan masjid masjid Indonesia lainnya, masjid Jamie Sheikh Quro ini juga menggunakan atap limas bersusun tiga.

Bangunan utamanya berbentuk segi empat dengan atap tumpang bersusun tiga. Bangunan utamanya di cat hijau dengan atap genteng merah bata. Lantai nya menggunakan keramik lantai warna putih. ada tiga pintu akses masing masing pintu selatan menghadap ke gerbang utama, pintu utara menghadap ke salah satu makam di komplek tersebut sedangkan pintu timur mengarah ke Makam Sheikh Quro.
Sunda Arabian. Nama Masjid yang sedikit terpengaruh oleh dialek Setempat.
Pintu dan jendelanya dibuat dari kayu dengan rancangan sederhana. Kusen pintu dan jendelanya di beri lubang angin sebagai ventilasi dibagian atasnya. Interior masjidnya sepi dari ornamen, termasuk mimbar sederhananya. Pasokan air berlimpah di masjid ini, meski jangan kaget bila sedang berkumur karena memang air wudhu yang mengucur dari keran di masjid ini rasanya asin seperti air laut.

Komplek makam Sheikh Quro sendiri memang berada cukup jauh dari pusat kota Karawang menjadikan masjid ini sebagai tempat yang cocok untuk menyepi dari keramaian. Tak ada bising kendaraan dan kesibukan yang akan mengganggu. Ditambah lagi lingkungannya yang asri dengan pepohonan rindang sedikit mengurangi panasnya cuaca Karawang.

Tak usah khawatir dengan akomodasi dan konsumsi. Di komplek ini tersedia penginapan sederhana bagi yang ingin menginap dan para pedagang segala macam keperluan bertebaran dari halaman parkir hingga ke dalam komplek makam. Selain berdekatan dengan Makam Sheikh Quro, Masjid ini juga tak terlalu jauh dari Masjid Agung Darul Ghoumun Pulo Masigit di komplek keramat Pulo Masigit Makam Sheikh Darugen/Bentong***

<<<<<--***-->>>>>

Syekh Datuk Kahfi "PARA PENDAHULU WALI SONGO"

Tapak Jejak Waliyulloh PARA PENDAHULU WALI SONGO 

Syekh Datuk Kahfi "PARA PENDAHULU WALI SONGO"

PARA PENDAHULU WALI SONGO
Wali Songo, setiap umat Muslim di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, pasti tidak asing dengan kata ini.  Kebanyakan diantara kita, mahfum akan keberadaannya yang masyur dengan 9 wali, yang biasa disapa dengan kata “Sunan”. Seperti; Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kali Jogo, Sunan Gresik, Sunan Drajat, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. 

Tetapi tahukah kalian bahwa sebenarnya Wali Songo adalah sebuah majelis da’wah yang di prakarsai oleh Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). 

Majelis da’wah ini beranggotakan 9 Mubaligh, yang dalam keberlangsungan organisasinya tetap mempertahankan jumlah anggota yang tetap 9. 

Seperti yang dikutip dalam buku Khoul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Ahmad Dahlan;
“…majelis da’wah yang secara umum dinamakan Walisongo, sebenarnya terdiri dari beberapa angkatan. Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan guru-murid. Bila ada seorang anggota majelis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya” 

Namun, jauh sebelum Wali Songo berkiprah dengan majelis da’wahnya di Indonesia khususnya pulau Jawa dan sekitarnya, peran para Alawiyyin, telah terlebih dahulu berjasa menyebarkan Islam di bumi pertiwi ini.

Sebutan “Alawiyyin” adalah diperuntukkan bagi kaum atau sekelompok orang yang memiliki pertalian darah langsung (Keturunan/Nasab) dengan Nabi Muhammad saw. Kebanyakan dari mereka berasal dari Persia (Iraq) dan Hadramaut, Yaman Selatan

Berikut ini adalah 5 tokoh Alawiyyin yang merupakan pendahulu para Wali Songo. 
Mereka itu adalah:
1. Sayyid Ali Al-Muktabar.
2. Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini.
3. Syekh Datuk Kahfi. 
4. Syekh Quro.
5. Syekh Khaliqul Idrus.
<<<<<<--***-->>>>>
Syekh Datuk Kahfi "PARA PENDAHULU WALI SONGO"
SYEKH DATUK KAHFI
Syekh Datuk Kahfi adalah pendahulu Wali Songo di Tanah Caruban, wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Cirebon, Jawa Barat.

Foto Syekh MUHAMAD KAHFI atau juga SYEKH DATUK KAHFISyekh Datuk Kahfi (dikenal juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurul Jati) adalah tokoh penyebar Islam di wilayah yang sekarang dikenal dengan Cirebon dan leluhur dari raja-raja Sumedang.
Beliau pertama kali menyebarkan ajaran Islam di daerah Amparan Jati. Syekh Datuk Kahfi merupakan buyut dari Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang), penguasa di Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat, dan putera dari Syekh Datuk Ahmad. Ia juga merupakan keturunan dari Amir Abdullah Khan.

Syekh Datuk Kahfi yang bernama asli Idholfi Mahdi berasal dari Malaka. Beliau adalah putra dari Datuk Ahmad.
Nasab Syekh Datuk Kahfi adalah; Idholfi Mahdi bin Datuk Ahmad bin Maulana ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jalaluddin bin Amir ‘Abdullah Khonnuddin bin ‘Abdul Malikal Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi' Qosam bin Alwi Ats-Tsani bin Muhammad Shohibus Saumiah bin Alawi (Alwi) Awwal bin Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uroidhi bin Ja’far Ash-Shoddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain As-Sabith bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib + Sayyidah Fathimah Az-Zahro binti Nabi Muhammad saw.

Syekh Datuk Kahfi adalah:
  • Cucu keponakan dari Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini (Sayyid Husain Jamaluddin Al-Akbar Jumadil Kubro). Karena kakeknya, Syekh Maulana ‘Isa ‘Alawi adalah adik satu ayah (Syekh Ahmadsyah Jalaluddin) dengan Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini. 
  • Sepupu dari Syekh Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar), karena ayahnya Syekh Datuk Ahmad, adalah kakak kandung dari ayah (Syekh Datuk Shalih) Syekh Abdul Jalil.

Syekh Datuk Kahfi memiliki beberapa nama lain, seperti; 
a. Syekh Dzatul Kahfi.
b. Syekh Datuk Khofid.
c. Syekh Idholfi.
d. Syekh Nurul Jati.

Syekh Datuk Kahfi pertama kali menyebarkan ajaran Islam di daerah Amparan Jati, Cirebon.
Nama Kahfi yang menyertai namanya berasal dari bahasa Arab yang berarti gua. Karena tempat ia mengajar ilmu agama adalah didalam gua.

Adapun para santri Syekh Datuk Kahfi, 
  1. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang; anak-anak dari Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Jaya Dewata - Siliwangi III, raja dari Kerajaan Pajajaran.
  2. Beberapa mubaligh Wali Songo, seperti Syekh Syarif Hidayatullah dan Sunan Kalijogo.
  3. Syekh Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar).

Makam Cungkup Petilasan Syekh Datuk Kahfi di Cirebon
terletak di Pasambangan, kompleks makam Gunung Sembung di Bukit Gunung Jati, bersebelahan dengan komplek makam Sunan Gunung Jati.
Foto: Lanjutan PARA PENDAHULU WALI SONGO (III)

3. SYEKH DATUK KAHFI
Syekh Datuk Kahfi adalah pendahulu Wali Songo di Tanah Caruban, wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Cirebon, Jawa Barat.

Syekh Datuk Kahfi yang bernama asli Idholfi Mahdi berasal dari Malaka. Beliau adalah putra dari Datuk Ahmad.

Nasab Syekh Datuk Kahfi adalah; Idholfi Mahdi bin Datuk Ahmad bin Maulana ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jalaluddin bin Amir ‘Abdullah Khonnuddin bin ‘Abdul Malikal Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi' Qosam bin Alwi Ats-Tsani bin Muhammad Shohibus Saumiah bin Alawi (Alwi) Awwal bin Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uroidhi bin Ja’far Ash-Shoddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husain As-Sabith bin Sayyidina Ali bin Abi Tholib + Sayyidah Fathimah Az-Zahro binti Nabi Muhammad saw.

Syekh Datuk Kahfi adalah:
a. Cucu keponakan dari Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini (Sayyid Husain Jamaluddin Al-Akbar Jumadil Kubro). Karena kakeknya, Syekh Maulana ‘Isa ‘Alawi adalah adik satu ayah (Syekh Ahmadsyah Jalaluddin) dengan Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini. 
b. Sepupu dari Syekh Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar), karena ayahnya Syekh Datuk Ahmad, adalah kakak kandung dari ayah (Syekh Datuk Shalih) Syekh Abdul Jalil.

Syekh Datuk Kahfi memiliki beberapa nama lain, seperti; 
a. Syekh Dzatul Kahfi.
b. Syekh Datuk Khofid.
c. Syekh Idholfi.
d. Syekh Nurul Jati.

Syekh Datuk Kahfi pertama kali menyebarkan ajaran Islam di daerah Amparan Jati, Cirebon.
Nama Kahfi yang menyertai namanya berasal dari bahasa Arab yang berarti gua. Karena tempat ia mengajar ilmu agama adalah didalam gua.

Adapun para santri Syekh Datuk Kahfi, 
a. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang; anak-anak dari Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Jaya Dewata - Siliwangi III, raja dari Kerajaan Pajajaran.
b. Beberapa mubaligh Wali Songo, seperti Syekh Syarif Hidayatullah dan Sunan Kalijogo.
c. Syekh Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar).

Makam Syekh Datuk Kahfi terletak di Pasambangan, kompleks makam Gunung Sembung di Bukit Gunung Jati, bersebelahan dengan komplek makam Sunan Gunung Jati.

--***--

BERSAMBUNG...
4. SYEKH QURO
<<<<<--***-->>>>>

MEYIBAK LEGENDA PUSER BUMI DI GUNUNG JATI CIREBON

Puser Bumi Gunung Jati Cirebon

Letak Gunung Jati Cirebon
Gunung Jati atau Giri Amparan Jati, Cirebon terletak di desa Astana kecamatan Sunan Gunung Jati, Cirebon. Tepatnya bila dari arah kota Cirebon menuju utara ada disebelah kanan. Persisnya bersebrangan dengan Gunung Sembung yang menjadi tempat makan para leluhur Cirebon diantaranya adalah Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah yang merupakan keponakan dari mbah Kuwu Cirebon atau Pangeran Cakrabuana.
Astana Gunung Sembung

Gunung Jati ini merupakan kawasan pemakaman warga Keraton Cirebon dan penduduk asli desa Astana. Pintu masuk utama Gunung Jati ada di depan, tepat disisi jalan raya Sunan Gunung Jati. Namun, bisa juga masuk melalui pintu dari samping kiri atau kanan dari kawasan pemakaman ini yang merupakan kawasan tempat tinggal warga.

Ketika mulai mendaki Gunung Jati, 
Puncak Gunung Jati 
Ketika mulai mendaki Gunung Jati, dipertengahan akan dijumpai persimpangan dimana bila lurus akan menuju ke satu tempat yang dikenal dengan Pemakaman dari Syekh Datul Kahfi atau Syekh Nurjati (Guru Pangeran Walangsungsang dan adik perempuannya Nyi Mas Ratu Rarasantang atau ibu dari Sunan Gunung Jati). 
Sedangkan ke arah kanan akan menuju ke puncak dari Gunung Jati dimana akan dijumpai sebuah lubang yang dikenal dengan Puser Bumi dan disamping kiri arah turun ada sebuah Gua tempat Syekh Datul Kahfi. Dan arah kiri akan dijumpai Sumur Jalatunda atau Sumur Titipan Agung dari kata "Jalla" yang artinya : "agung atau luhur" dan kata "tundha" yang artinya : "titipan" (dalam bahasa arab).

Pada Malam Jumat Kliwon dan hari-hari tertentu, kawasan pemakaman ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai pelosok. Khususnya di tiga tempat utama dari Puncak Gunung Jati ini.
Puser Bumi Gunung Jati Cirebon
Dari tempat orang itu biasa duduk, terpancar sinar dari dalam bumi, menghadap permukaan tanah Pulau Jawa. Sinar itu menyoroti tempatnya duduk, dan berpendar ke seantero jagat negara-negara Islam. Orang tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Syekh Nurul Jati atau Syekh Nurjati (Nur Ingkang Sejati). Sedangkan tempatnya duduk, kemudian dikenal sebagai Puser Bumi Gunung Jati.
----------------------------------------------------------------------------------

Asal Muasal Puser Bumi
Konon, menurut dongeng dari Cirebon, Pulau Jawa sebelum ajaran Islam berkembang, adalah merupakan hutan rimba yang sangat angker. Penuh dengan rawa yang membanjir. Ditumbuhi banyak pepohonan besar dan semak belukar yang lebat.

Pada suatu masa di jaman Nabi Isa Al Masih, di salah satu puncak gunung, hiduplah seorang pertapa bernama Pendeta Bageral Banjir. 
Kawah Kembar Gunung Ciremai Jawa Barat
Dipercaya bahwa gunung tersebut adalah Gunung Ciremai. Dan hanya pertapa sakti mandraguna pilihan Sanghyang yang dapat tinggal di puncak gunung ini.
Gunung Cerme atau Ceremai (Gunung Tertinggi di Propinsi Jawa Barat)
Mempunyai ketinggian 3.078 Mdpl, merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Gunung Ciremai ada yang menyebut cerme, ada yang seringkali menamakan “Ceremai”) secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Sang Pendeta melakukan tapa demi meminta kepada Sanghyang Maha Tunggal supaya diberikan ilmu Wijihing Srandil dan kesempurnaan hidup. Lima belas tahun sudah Pendeta Bageral Banjir bertapa di puncak Gunung Ciremai. Tak sia-sia, keinginannya dikabulkan oleh Sanghyang Maha Tunggal.

Bersamaan dengan Raga Sukma, ilmu Wijihing Srandil merasuk ke tubuh Pendeta Bageral Banjir. Sang Pendeta langsung merasakan tubuhnya menggigil kedinginan, dan akhirnya pingsan tak sadarkan diri.

Bersamaan dengan itu, tanpa disadari oleh Pendeta Bageral Banjir, Gunung Ciremai mendadak meletus dahsyat. Puncak Gunung Ciremai itu ambrol, terlepas, terpental melesat jauh ke awang-uwung (angkasa) dan akhirnya jatuh ke laut.

Puncak Gunung Ciremai itu terombang-ambing di perairan laksana perahu dihantam ombak badai. Sementara itu, tubuh Pendeta Bageral Banjir telah raib. Hilang tanpa bekas, bak pindah ke dimensi lain.

Sekian ratus tahun berlalu, Puncak Gunung Ciremai masih terombang-ambing di laut. Saat itu, datanglah seseorang ke puncak gunung yang terombang-ambing itu. Memperhatikan dengan seksama, kemudian meyakini bahwa tempat inilah yang dicarinya.

Itulah petilasan tempat bertapa Pendeta Bageral Banjir. Segera orang tersebut menuntaskan tapa yang pernah dilakukan Sang Pendeta. Puncak gunung yang semula terombang-ambing di tengah laut, mendadak diam dan berubah menjadi tanah (daratan) biasa.

Di tempat ini, orang tersebut mendirikan rumah gubuk dan bermukim. Kegiatannya di rumah gubuk ini, hanya beribadah saja. Orang tersebut yakin akan tempat yang dipilihnya ini. Orang ini selalu berdoa memohon petunjuk guna mengembangkan ajaran Islam di Pulau Jawa.

Tengah khusuk berdoa, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara tanpa rupa. Suara itu sepertinya keluar dari pepohonan.

Suara itu berkata bahwa tempat ini kelak akan menjadi tempat tujuan dan pusat (puser) berkembang-luasnya Agama Islam. Hal ini semakin memantapkan niatnya untuk tetap tinggal selamanya di tempat ini. 

Dari tempat orang itu biasa duduk, terpancar sinar dari dalam bumi, menghadap permukaan tanah Pulau Jawa. Sinar itu menyoroti tempatnya duduk, dan berpendar ke seantero jagat negara-negara Islam. Orang tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Syekh Nurul Jati atau Syekh Nurjati (Nur Ingkang Sejati). Sedangkan tempatnya duduk, kemudian dikenal sebagai Puser Bumi Gunung Jati.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...