primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label TEMBANG JAWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEMBANG JAWA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2015

DOWNLOAD Musiques de l'Asie Traditionnelle Vol. 7: Java - L'Art du Gamelan MP3 FREE

LAGU POPULER INDONESIA 

DOWNLOAD Musiques de l'Asie Traditionnelle Vol. 7: Java - L'Art du Gamelan MP3 FREE

DOWNLOAD Musiques de l'Asie Traditionnelle Vol. 7: Java - L'Art du Gamelan MP3 FREE ini bisa di download disini dengan catatan bahwa lagu ini hanya sekedar untuk promosi. Jadi silahkan untuk membeli MP3 legal maupun CD/VCD original di Toko-toko CD Original di kota anda.


DOWNLOAD Musiques de l'Asie Traditionnelle Vol. 7: Java - L'Art du Gamelan MP3 FREE
Click here to download
Tracklist:
01 Gending Babad, mode Slendro Nem

02 Gending Tejanata suivi de Ladrang Playon, mode Pelog Lima
<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>


Download Lagu MP3 gratis ini hasil browsing di 4shared-mediafire-sharebeast dan 
bukan kami simpan di database kami,melainkan kami temukan di berbagai media di mesin pencarian google.co.id maupun 4shared dll. 
Jika Anda suka dengan lagu ini,belilah kaset/CD original atau nada sambung pribadi(NSP/RBT)-nya untuk mendukung ArtisAgar terus berkarya untuk kemajuan musik Indonesia. 

Minggu, 15 November 2015

Kebermaknaan Tembang “Gethek Sinonggo Bajul”


Kebermaknaan Tembang “Gethek Sinonggo Bajul”

Kebermaknaan Tembang “Gethek Sinonggo Bajul”
Tembang Jawa yang satu ini, menceritakan tentang perjalanan Jaka Tingkir. 
Liriknya sebagai berikut :

sigro milir
sang gethek sinonggo bajul
kawan doso kang njageni
ing ngarso miwah ing pungkur
tanapi ing kanan kering
sang gethek lampahnyo alon

"mengalirlah segera sang rakit dipikul buaya
empat puluh penjaganya
di depan juga di belakang
tak lupa di kanan kiri

sang rakitpun berjalan pelan"

Arti secara bahasa dalam tembang tersebut adalah, 

  • Sigro berarti segera. 
  • Milir berarti meluncur atau mengalir. 
  • Sang berarti gelar kepada junjungan seperti Kanjeng, Sang Prabu, dan lain-lain. 
  • Gethek berarti sampan, yang biasanya terbuat dari batang bambu atau pohon pisang. 
  • Sinonggo yang berarti ditopang atau diangkat.
  • Kawan doso, singkatan dari sekawan doso yang berarti empat puluh. Dalam tradisi masyarakat Jawa, angka tersebut memiliki makna tersendiri. 
  • Kang berarti yang, kata penghubung. 
  • Njageni berarti mengawal atau melindungi. 
  • Ing berarti di, kata depan untuk keterangan waktu atau tempat. 
  • Ngarso berarti depan, 
  • Miwah (hampir sama dengan lan) berati dan, 
  • Pungkur berarti belakang. 
  • Tanapi berarti juga. 
  • Lampahnyo artinya langkahnya. 
  • Alon berarti pelan, namun mengandung suatu kepastian langkah.

Dalam kisah tersebut, rakit yang dikendarai oleh Jaka Tingkir diserang oleh kawanan buaya siluman. Namun karena Jaka Tingkir sakti, maka kawanan buaya yang jumlahnya 40 ekor itu dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit yang dikendarai oleh Jaka tingkir sampai ke tujuan.

Tapi ada pula yang menyebutkan bahwa tembang Jawa yang satu ini merupakan sindiran halus kepada Jaka Tingkir (Mas Karebet). Suatu ketika Jaka Tingkir sedang dalam perjalanan ke Demak Bintoro, dan mampir ke sebuah desa yang bernama Kedung Srengenge. Di desa itu Jaka Tingkir bertemu dengan seorang gadis, lalu dipikatnya. Gadis desa itu pun hamil dan minta pertanggungjawaban Jaka Tingkir, tetapi ia mengelak. Ayah gadis itu dan warga desa marah, serta berniat memaksa Jaka Tingkir mengawini gadis desa itu. Akan tetapi, dengan kesaktiannya Jaka Tingkir berhasil mengalahkan 40 warga desa yang mengeroyoknya itu.

Ada pula yang memaknai tembang “gethek sinonggo bajul” tersebut menceritakan perjalanan Jaka Tingkir bersama tiga orang kawannya ke daerah Prawata. Dengan menaiki gethek (sampan), mereka menyusuri Sungai Dengkeng, Bengawan Picis dan akhirnya sampai di Kedung Srengenge. Di tempat inilah secara tiba-tiba sampan yang mereka naiki dikepung oleh ratusan buaya. Namun, dengan kesaktian Jaka Tingkir dan kawan-kawannya, mereka dapat mengalahkan buaya-buaya tersebut. Bahkan, dengan sukarela buaya-buaya tersebut akhirnya mendorong dan mengawal sampan yang mereka naiki hingga sampai di ujung Desa Bulu, satu desa dengan sungai terdekat dari wilayah Prawoto.

Jika dimaknai lebih dalam, tembang di atas menggambarkan tentang seorang atau beberapa orang ksatria yang menempuh perjalanan dengan menyusuri sungai. Mereka tidak mengayuh dayung, karena sampan (gethek) yang mereka tumpangi telah didorong dan dikawal oleh empat puluh kawanan buaya. Hanya dengan memberikan perintah atau aba-aba, maka buaya-buaya tersebut akan mengantarkannya sampai tempat tujuan.


Sampan secara harfiah memang sarana transportasi air, namun sampan bisa ditafsirkan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Benda ini juga bisa dimaknai sebagai kekuasaan untuk mencapai kemakmuran sebuah negara. Sedangkan para ksatria, yang berada di atas sampan adalah raja beserta para punggawanya. Sementara perintah yang diucapkan oleh para penumpang sampan dapat diartikan sebagai keputusan dan kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah dalam menyelamatkan negara dan kesejahteraan rakyat.

Air, yang menjadi pijakan sampan untuk sampai ke tujuan adalah rakyat, masyarakat biasa yang santun dan tunduk kepada rajanya, namun pada satu waktu dapat menjadi amarah ketika terusik harga dirinya. Air bisa menenggelamkan orang-orang yang berada di atas sampan, sebagaimana rakyat kecil yang diperlakukan secara tidak adil.

Sementara bajul (buaya) yang menjadi penunggu sungai bermakna sebagai tokoh masyarakat atau bangsawan-bangsawan lokal. Para tokoh masyarakat atau bangsawan lokal ini akan menambah wibawa suatu masyarakat, sehingga tidak akan diusik oleh orang luar, seperti sungai yang dihuni buaya juga tidak akan dibuat mandi secara sembarangan.

Sedangkan “kawan doso”, dapat dimaknai sebagai tokoh masyarakat, bangsawan lokal dan punggawa kerajaan. Maka semakin banyak tokoh masyarakat atau punggawa kerajaan yang bisa diorganisir oleh raja maka semakin kuat kekuasaannya.

Inti pesan tembang tersebut, menjadi raja atau pemimpin yang baik dan tetap survive diperlukan kemampuan untuk mengorganisir kekuatan dan elemen kekuasaan yang ada di bawahnya. Sang raja atau pemimpin harus mampu mengeluarkan titah yang sebagaimana mestinya pada elemen-elemen kekuasaan tersebut, berupa keputusan dan kebijakan yang memihak pada rakyat kecil.
Diolah dari berbagai sumber
Foto Info Seputar Kudus - ISK.
Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal kan sarwa ala ( membuang yang serba jelek ). Pegat ada hubungannya dengan peget yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan. Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh berarti petugs yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan jahat.

Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) "WALISONGO" Periodesasi ke-8 (1592- 1650 M)
Klik disini untuk mengetahui kisahnya.

Selasa, 17 Juni 2014

DOWNLOAD KOLEKSI TEMBANG ALBUM "RANDHA NUNUT" (Ki Nartosabdho) MP3 FREE

LAGU POPULER ETNIC INDONESIA 

Ki Nartosabdho

DOWNLOAD KOLEKSI TEMBANG 
ALBUM "RANDHA NUNUT" (Ki Nartosabdho) MP3 FREE ini bisa di download disini dengan catatan bahwa lagu ini hanya sekedar untuk promosi. Jadi silahkan untuk membeli MP3 legal maupun CD/VCD original di Toko-toko CD Original di kota anda.
DOWNLOAD KOLEKSI TEMBANG 
ALBUM "RANDHA NUNUT" (Ki Nartosabdho) MP3 FREE

Wirangrong Sl. 6 (Ki Nartosabdho) Mp3

DOWNLOAD 

Mijil Sulastri Sl. Myr. (Ki Nartosabdho) Mp3

DOWNLOAD

Emplek-emplek Ketepu Sl. Myr. (Ki Nartosabdho) Mp3

DOWNLOAD 

Ladrang Pariwisata Sl. 9 (Ki Nartosabdho) Mp3

DOWNLOAD

Randha Nunut Sl. Myr. (Ki Nartosabdho) Mp3

DOWNLOAD

Kandha Manyura Sl. Myr. (Ki Nartosabdho) Mp3

DOWNLOAD


<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>
Ki Nartosabdo (huruf Latin Jawa: Nartasabda; lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 – meninggal di Semarang, 7 Oktober 1985 pada umur 60 tahun) adalah seorang seniman musik dan dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, Indonesia. Salah satu dalang ternama saat ini, yaitu Ki Manteb Soedharsono mengakui bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang wayang kulit terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan belum tergantikan sampai saat ini.

Berkas:Ki Nartosabdho.jpgNama asli Ki Nartosabdo adalah Soenarto. Merupakan putra seorang perajin sarung keris bernama Partinoyo. Kehidupan masa kecilnya yang serba kekurangan membuat Soenarto putus sekolah dalam pendidikan formalnya, yaitu Standaard School Muhammadiyah atau SD 5 tahun.

Kehidupan ekonomi yang serba sulit membuat Soenarto bekerja membantu pendapatan keluarga melalui bakat seni yang ia miliki. Antara lain ia pernah menjadi seorang pelukis, juga sebagai pemain biola dalam orkes keroncong Sinar Purnama. Bakat seni tersebut semakin berkembang ketika Sunarto dapat melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.

Pada tahun 1945 Soenarto berkenalan dengan pendiri grup Wayang Orang Ngesti Pandowo, yaitu Ki Sastrosabdo. Sejak itu ia mulai mengenal dunia pedalangan di mana Ki Sastrosabdo sebagai gurunya. Bahkan karena jasa-jasanya membuat banyak kreasi baru bagi grup tersebut, Soenarto memperoleh gelar tambahan "Sabdo" di belakang nama aslinya. Gelar itu diterimanya pada tahun 1948, sehingga sejak saat itu namanya berubah menjadi Nartosabdo.

Meskipun berasal dari Jawa Tengah, namun Ki Nartosabdo muncul pertama kali sebagai dalang justru di Jakarta, tepatnya di Gedung PTIK yang disiarkan secara langsung oleh RRI pada tanggal 28 April 1958. Lakon yang ia tempilkan saat itu adalah Kresna Duta. Pengalaman pertama mendalang tersebut sempat membuat Ki Narto panik di atas pentas karena pada saat itu pekerjaannya yang sesungguhnya ialah pengendhang grup Ngesti Pandowo

Ki Narto sejak remaja sudah menggemari para dalang ternama, seperti Ki Ngabehi Wignyosoetarno dari Sala dan Ki Poedjosoemarto dari Klaten. Ia juga tekun membaca berbagai buku tua. Kepala Studio RRI waktu itu, Sukiman menawari Ki Narto untuk mendalang, sehingga jadilah pertunjukan di PTIK tersebut.

Penampilan perdana itu langsung mengangkat nama Ki Narto. Berturut-turut ia mendapat kesempatan mendalang di Solo, Surabaya, Yogya, dan seterusnya. Lahir pula cerita-cerita gubahannya, seperti Dasa Griwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Begawan Sendang Garba. Semua itu ia dapatkan karena banyak belajar sendiri, tidak seperti dalang lain yang pada umumnya lahir dari keturunan dalang pula, atau ada pula istilah dalang kewahyon (mendapat wahyu).

Karena sering mementaskan lakon carangan Ki Narto pun sering mendapat banyak kritik. Ia juga dianggap terlalu menyimpang dari pakem, antara lain berani menampilkan humor sebagai selingan dalam adegan keraton yang biasanya kaku dan formal. Namun kritikan-kritikan tersebut tidak membuatnya gentar, justru semakin banyak berkarya.

Ki Nartosabdo dapat dikatakan sebagai pembaharu dunia pedalangan pada tahun 80-an. Gebrakannya dalam memasukkan gending-gending ciptaannya membuat banyak dalang senior yang memojokkannya. Bahkan ada RRI di salah satu kota memboikot hasil karyanya. Meskipun demikian dukungan juga mengalir antara lain dari dalang-dalang muda yang menginginkan pembaharuan di mana seni wayang hendaknya lebih luwes dan tidak kaku.

Selain sebagai dalang ternama, Ki Narto juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir sekitar 319 buah judul lagu (lelagon) atau gendhing, antara lain Caping Gunung, Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinci Ucul, Prahu Layar, Ngundhuh Layangan, Aja Diplèroki, dan Rujak Jeruk.


Download Lagu MP3 gratis ini hasil browsing di 4shared-mediafire-sharebeast dan 
bukan kami simpan di database kami,melainkan kami temukan di berbagai media di mesin pencarian google.co.id maupun 4shared dll. 
Jika Anda suka dengan lagu ini,belilah kaset/CD original atau nada sambung pribadi(NSP/RBT)-nya untuk mendukung ArtisAgar terus berkarya untuk kemajuan musik Indonesia. 

Kamis, 13 Maret 2014

Memahami TAPSIR Tembang Cublak-Cublak Suweng Warisan Sunan Giri

Tapak Jejak Sunan Giri 

Memahami TAPSIR Tembang Cublak-Cublak Suweng Warisan Sunan Giri

Cublak Cublak Suweng : Berhati-hatilah dalam Mencari ilmu
Lagu dolanan anak-anak di Jawa, karya Sunan Giri (1442M) ini berisi syair ‘sanepo’ (simbol) yg sarat makna, tentang nilai-nilai keutamaan hidup manusia.
Pesan moral lagu dolanan “Cublak Suweng” adalah:

“Untuk mencari harta kebahagiaan sejati janganlah manusia menuruti hawa nafsunya sendiri atau serakah, tetapi semuanya kembalilah ke dalam hati nurani, sehingga harta kebahagiaan itu bisa meluber melimpah menjadi berkah bagi siapa saja ”.

Cublak Cublak Suweng : 
Berhati-hatilah dalam Mencari ilmu

Cublak-cublak suweng
suwenge ting gelenter
Mambu ketudhung gudhel
Pak empong lerak lerek
Sapa ngguyu ndelikake
Sir sir pong dele kopong
Sir sir pong dele kopong
Itulah lirik tembang dolanan anak-anak di Jawa. Cara bermainnya biasanya terdiri dari 7 orang. Salah satunya tengkurep, sedangkan yang lainnya duduk mengelilingi, dan menaruh tangannya terbuka di atas punggung yang tengkurap tersebut. Ditaruhlah suweng (anting-anting) di tangan-tangan tersebut, bergiliran sambil menyanyikan lagu tersebut. Dan di akhir nyanyian, “Sir pong dele kopong”, bangunlah anak yang tengkurap untu menebak, dimana posisi suweng tersebut, siapa yang memegangnya. Dia yang ketawa-tawa, “sopo ngguyu ndelikake”, seolah-olah dialah yang membawa/menyimpan, tetapi belum tentu dia yang membawa suweng tadi. Begitulah kecerian anak-anak untuk bermain tebak-tebakan.

Permainan, tetaplah permainan, keceriaanlah yang menjadi tolok ukurnya. Tapi siapa sangka jika permainan itu menyimpan hikmah eduksi yang penting bagi anak-anak dan kita semua?
Cublak-cublak suweng, ada sebuah Suweng (anting-anting), harta berharga, yang tersimpan, bisa di sana atau di sini. (Suwung, Sepi, Sejati) atau Harta Sejati. (Dalam prakteknya berada di tangan-tangan secara begiliran).
Suwenge teng gelenter, harta (suweng) itu berserakan, tersebar di mana-mana. Ya itu tadi di banyak tempat, di tangan-tangan anak-anak yang bermain.

Mambu ketundhung gudel, keberadaannya tercium oleh gudel (anak kerbau). Ini adalah gambaran bahwa orang-orang bodoh, akan sibuk mencari-cari. Mengorek-ngorek, kalau perlu nyeruduk seperti gudel. 
Mambu (baunya) Ketundhung (dituju) Gudel (anak Kerbau). Maknanya, banyak orang berusaha mencari harta sejati itu. Bahkan orang-orang bodoh (diibaratkan Gudel) mencari harta itu dengan penuh nafsu ego, korupsi dan keserakahan, tujuannya untuk menemukan kebahagiaan sejati.

Pak empong lerak lerek, bagi orang-orang yang sudah sepuh (luas wawasannya) keberadaan harta itu hanya dilirik saja, tak perlu seradak seruduk seperti kerbau.
Pak empong (bapak ompong) Lera-lere (menengok kanan kiri). 
Orang-orang bodoh itu mirip orang tua ompong yang kebingungan. Meskipun hartanya melimpah, ternyata itu harta palsu, bukan Harta Sejati atau kebahagiaan sejati. Mereka kebingungan karena dikuasai oleh hawa nafsu keserakahannya sendiri.

Sopo ngguyu ndeliake, dan bagi siapa yang menyimpannya, yang mengetahui keberadaan harta itu, hanya tersenyum saja.
Sopo ngguyu (siapa tertawa) Ndhelikake (dia yg menyembunyikan). menggambarkan bahwa barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan Tempat Harta Sejati atau kebahagian sejati. Dia adalah orang yang tersenyum-sumeleh dalam menjalani setiap keadaan hidup, sekalipun berada di tengah-tengah kehidupan orang-orang yang serakah.

Sir sir pong dele kopong, nah bagi gudel (orang-orang bodo) yang sudah sradak-sruduk ke sana ke mari, seolah-olah sudah mendapatkannya, padahal dia tak menemukan apa-apa, menekukan kedele kopong, kedelai tanpa isi, hanya kulit saja. Dan ini diualang-ulang, menyadarkan akan banyak orang-orang yang kecele hanya menemukan kulit semata, tak menemukan satu Suweng sekalipun.

Sir (hati nurani) pong dele kopong (kedelai kosong tanpa isi). Artinya di dalam hati nurani yang kosong. Maknanya bahwa untuk sampai kepada menemu Tempat Harta Sejati (Cublak Suweng) atau kebahagiaan sejati, orang harus melepaskan diri dari atribut kemelekatan pada harta benda duniawi, mengosongkan diri, tersenyum sumeleh,rendah hati, tidak merendahkan sesama, serta senantiasa memakai rasa dan mengasah tajam Sir-nya atau hati nuraninya.

Pesan moral lagu dolanan “Cublak Suweng” adalah:

“Untuk mencari harta kebahagiaan sejati janganlah manusia menuruti hawa nafsunya sendiri atau serakah, tetapi semuanya kembalilah ke dalam hati nurani, sehingga harta kebahagiaan itu bisa meluber melimpah menjadi berkah bagi siapa saja ”.

Suweng, bisa jadi merupakan simbol apa saja, informasi, ilmu pengetahuan, kekayaan dan sebagainya. Ia begitu berharga, ia tersembunyi dari kebanyakan manusia. Untuk memperolehnya, tak perlu ribut ke sana ke mari dengan sikap sradak sruduk, seperti kerbau. Tapi perlu larak lerek, tanya kanan kiri, tanya kepada orang yang mengerti. Sementara mereka yang sudah tahu keberadaannya, sudah menguasainya, hanya tersenyum, tidak dipamer-pamerkan. Maka berhati-hatilah dalam mencarinya, sebab jika tidak berhati-hati hanya akan menemukan kulitnya semata.

Dalam belajar agama, banyak rahasia dan pengetahuan belum kita peroleh. Bahkan seumur hiduppun belum tentu kita mampu memperolehnya. Maka belajarlah dengan serius, bertanya kepada ahlinya, jangan asal mencari, asal mengambil ilmu tersebut. Sebab jika hanya seperti itu, tak ubahnya seperti gudel (kerbau) yang dungu, dan kekecewaanlah yang ditemui pada akhirnya.


Wallahu ‘Alamu Bish-showab.

Rabu, 12 Maret 2014

Tapsir MAKNA TURI-TURI PUTIH (buah karya SUNAN GIRI)

Tapak Jejak Sunan Giri 

Tapsir MAKNA TURI-TURI PUTIH (buah karya SUNAN GIRI)

Tapsir MAKNA TURI-TURI PUTIH 
(buah karya SUNAN GIRI)
Bagi masyarakat Jawa, peninggalan wali sanga berupa lagu “Turi-turi Putih” sudah tidak asing lagi. Bahkan ada sebagian masyarakat menyelinginya dengan bacaan shalawat. Lagu tersebut merupakan peninggalan wali songo, khususnya Sunan Giri. Memang tak ada bukti valid soal itu, tetapi satu hal bahwa lagu tersebut begitu populer dan digemari masyarakat. Jauh lebih penting dari itu, ternyata lagu tersebut mengandung pesan ajaran ; kearifan, kesadaran akan kematian, akan amal setelah manusia meninggal.

Begitulah pesan Jadi tembang bagi kanjeng Sunan Giri bukan sekedar bunyi dan irama yang enak didengar, tetapi pesan yang disimpan jauh lebih membekas dan membuat orang begitu menghayati lagu tersebut.

Turi-turi putih,
Ditandur neng kebon agung,
Turi-turi putih
Ditandur ning kebon agung
Cumleret tiba nyemplung
Gumlundhung kembange apa,
Mbok kira, Mbok kira,
Mbok kira, Kembange apa?”
Sing kene setengah mati

Sing kana ‘ra piye piye

Terjemahan :
TURI-TURI PUTIH
Turi, artinya tak aturi: (saya kasih tahu).
Putih itu simbolisme dari kain kafan/ pocongan: orang mati yang dibungkus dengan kain kafan (kain mori warna putih).
Arti selengkapnya: Saya kasih tahu, bahwa kelak manusia itu akan mati.

DITANDUR NING KEBUN AGUNG: di tanam di kebon agung,
Artinya mati di kubur di sebuah makam.

CUMLERET TIBA NYEMPLUNG:
Sebuah gambaran dari orang mati yang sedang dimasukkan dalam kuburan waktunya cepat seperti kilat jatuh

GUMLUNDUNG KEMBANGE APA
Maksudnya, setelah orang yang mati itu selesai dikubur, maka kemudian akan diberi pertanyaan oleh malaikat soal amal perbuatannya.

MBOK IRA
MBOK IRA
MBOK IRA
KEMBANGE APA?
Mbok iro, adalah simbol manusia yang sudah meninggal, selalu akan ditanya:
Amal apa yang sudah Kamu diperbuat?
Bekal apa yang akan kamu dibawa?

Begitulah, makna yang bisa diambil dari lagu tersebut. Namun, pada perkembangannya, sudah dimunculkan jawaban-jawabannya. Misalnya adalah lirik tambahan yang bukan karya kanjeng sunan, seperti:
Mbok kira mbok kira mbok kira kembange apa?
Kembang-kembang m’lathi
Kembang m’lathi dironce-ronce
(Orang mati pada kelihatannya (biasanya) adalah membawa bunga melati yang dirangkai, dikalungkan pada peti jenazah.

Namun bukan itu yang sebenarnya yang dikehendaki Kanjeng sunan giri. Tetapi amal ketika hidup.

Maka lirik tambahan selanjutnya adalah:
Sing kene setengah mati
Sing kana ‘ra piye piye
Yang ada di sini (di dunia) susah setengah mati, tetapi yang di sana tidak ada apa-apa.
Ini adalah pandangan mata manusia pada umumnya.

Bagi mereka yang mau belajar dan mencari hikmah, justru hidup di dunia ini adalah kesusahan dalam rangka mempersiapkan amal kelak meninggal. Jika itu bisa dilakukan, maka benar adanya di sana dia tidak ada masalah yang berarti (sing kana ra piye piye) tetapi jika tidak ada amal, justru kehidupan di sanalah yang akan susah setengah mati.

Manusia lupa, bahwa dikubur siksanya setengah mati, tapi mereka hidup Ra piye-piye tidak melakukan tindakan dan amalan yang baik untuk bekal di alam kubur nanti.


Sebaik-baiknya peringatan adalah kematian.

Dalam perkembangannya, lagu ini bisa ditambahi dengan berbagai lirik. Bisa jadi tambahan tersebut justru tidak membawa pesan apapun, hanya sekedar kesenangan. Jika demikian, maka jauh lebih bijaksana untuk mencari lirik yang lebih bermanfaat.

Wallahu ‘Alamu Bish-showab

*) berbagai sumber

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...