primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label SUNAN KALIJAGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUNAN KALIJAGA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Februari 2014

SUNAN KALI JAGA DAN PANEMBAHAN SENOPATI MENGGUNCANG ISTANA DASAR SAMUDRA

Nusantara 

SUNAN KALI JAGA DAN PANEMBAHAN SENOPATI  MENGGUNCANG ISTANA DASAR SAMUDRA

SUNAN KALI JAGA DAN PANEMBAHAN SENOPATI 
MENGGUNCANG ISTANA DASAR SAMUDRA
Setiap kehidupan yang mawana tentu mempunyai alamnya masing masing…baik itu kehidupan mahkluk didaratan diudara maupun dilautan…masing masing dengan dunianya..(alamnya)….tiadalah kita mengetahui ..bagaimana hakekat dari suatu keadaan kehidupan mahkluk mahkluk tersebut tanpa kita menyelami dan memasuki alam dari kehidupannya itu...didalam olah kepribadian..diterangkan....jika hakekat seluruh alam adalah diri kita..maka tiada yang diluar itu…memahami yang dluar itu hakekatnya adalah memahami yang di dalam diri ini…...owah gingsirnya bathin kita sangat berpengaruh pada kehidupan ARASY-mikro dan makro-kosmos ..jagad agung ..jagad alit..dialam raya ini....menyelam sedalam dalamya kedalam samudra minang kalbu..yang didalamnya terdapat beraneka ragam kehidupan mikro makro kosmos mahkluk segenap sagung dumadi…mencebur kedalamnya dan luruh bagai menyatu mampu lebur didalam setiap kehidupan..betapa kita semakin mampu mengenal diri kita yang hakekatnya adalah hidup didalam semua kahanan...setiap sesuatu yang nampak dihadapan kita ..hakekatnya gambaran pancaran wujud dari sebagian pribadi kita yang nampak …bagai bercermin didalam diri …CERMIN DIRI akan kembali memantulkan biasnya sesuai dengan owah gingsirnya bathin kita…...PANEMBAHAN SENOPATI….mencapai puncak sholatul ilmi-nya…..ketika beliau tafakur dan tadabur….terkenal dengan istilah SEDAKEP SALUKU TUNGGAL….mencapai kehampaan diri dan menemukan hakekat hidup yg sebener benernya tentang DIRI dan PRIBADI……….yang mampu mengguncang istana DASAR SAMUDRA BIRU…  

WAHYU PANEMBAHAN SENOPATI
Setelah bersemedi di tengah samudera pantai Parangritis memohon kepada Gusti Allah agar dirinya diizinkan untuk menjadi raja di tanah jawa, Senopati lalu berjalan di atas air menuju darat, jalannya bagaikan berjalan diatas tanah saja hebatnya selama bersemedi ditengah samudera badannya tidak basah walau diterjang ombak berkali-kali. Begitu dekat dengan bibir pantai alangkah terkejutnya dia melihat Sunan Kalijaga berdiri disana. Dia lalu bersujud dan memohon ampun karena telah berani menyombongkan diri dengan ilmunya itu..

Sunan Kalijaga lalu berkata "Bangunlah hai putera Ki Gede Pamanahan, janganlah menuruti kelemahan hati yang menyuarakan keserakahan, enyahkanlah bisikan setan itu, bangkitlah hai murid Jaka Tingkir!". 

Panembahan Senopati lalu bangkit, Sunan Kalijaga kemudian bertanya padanya "apakah benar kau sangat ingin menjadi raja yang menguasai tanah jawa ini?", Senopati mengangguk perlahan, Sunan Kalijaga bertanya lagi "meskipun itu berati kau harus berhadapan dengan guru sekaligus ayah angkatmu Sultan Hadiwijaya dan berperang dengan seluruh negeri Pajang yang selama ini menjadi negeri tumpah darahmu dan tempat alamrhum ayahmu mengabdi?", Senopati lalu menundukan kepalanya, tubuhnya berguncang, air matanya meleleh lalu pelan berkata "Hamba selalu memohon petunjuk kepada Gusti Allah namun belum mendapatkan petunjuknya, mungkin Gusti Allah memberikan petunjuknya lewat Kanjeng Sunan", Sunan Kalijaga tersenyum lalu kembali membuka mulutnya "Baiklah Senopati akan kuberikan pelajaran yang amat tinngi dari Kanjeng Rasul untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat"..

Sunan Kalijaga menghela nafas sebelum memberikan wejangannya, lalu sambil duduk diatas sebuah batu karang dia memulai wejangannya kepada Senopati 
"Perang itu sesungguhnya hanyalah suatu alat penghancur untuk menghilangkan kerusakan yang disebabkan oleh kebhatilan, diganti dengan yang baru. Timbulnya suatu peradaban itu adalah karena perombakan dar yang silam yang manusia rusak sendiri. Agama Islam lahir sebagai agama penutup, tidak akan ada lagi agama yang diridhai oleh Gusti Allah selain Islam, Kitab suci Al Qur'an lahir sebagai pelengkap dari semua kitab suci sebelumnya yaitu Taurat, Zabur, dan Injil. Memang sudah menjadi takdir Hyang Maha Kuasa kalau semua pemeluk kitab sebelum Al Qur'an itu akan selalu memusuhi para pemeluk agama Islam jika mereka menolak untuk masuk Islam, dan diantara para pemeluk Islam pun akan selalu muncul perbedaan, hal itu dikarenakan terbatasnya daya berpikir manusia yang tidak akan pernah bisa menyingkap takdir Illahi"..

Sambil memandang ke arah laut Sunan Kalijaga menyedekapkan tangannya lalu melanjutkan ucapannya "Tanpa persengketaan manusia tidak akan bergairah untuk hidup lebih maju. Tanpa perangpun semua mahluk akan menemui ajal yang telah digariskan. Setelah itu diganti dengan manusia yang baru untuk meneruskan sisa pekerjaan yang telah mati. Demikianlah seterusnya seperti alam raya yang terus bergerak gberputar tak pernah diam, demikian pula pikiran manusia setiap detik bergerak terus tak pernah berhenti. Manusia sebagai tempat roh akan mengalami masa bayi, kanak-kanak, dewasa sampai kemudian mati, bagi yang tawakal berserah diri kepada Gusti Allah tidak akan goncang hatinya. Walaupun tidak perang, alam akan merusak dan menghancurkan kehidupan agar manusia menjadi sadar, bahwa dia tak berkuasa apa-apa di dunia ini. Pandanglah kehidupan di sekitar kesultanan Pajang anakku, mereka itu adalah manusia-manusia yang tak menyadari asalnya dan diperbudak oleh khayalan. Perjalan hidup manusia tidak bisa tetap, bagaikan alam, ada terang dan gelap, ada panas dan dingin, berubah-ubah sesuai kehendak Hyang Maha Kuasa. Usia hidup dialam ini kasar ini tak ubahnya seperti kedipan mata cepatnya bila dibandingkan dengan usia alam yang berjuta-juta tahun. Oleh sebab itu terimalah segala derita ataupun semua cobaan dengan ikhlas nerima kepada yang telah digariskan oleh Gusti Allah.".

Sunan Kalijaga lalu mengelus-elus jenggotnya "Atma atau roh itu tak dapat dihancurkan dengan kekuatan apapun, tak dapat dilihat, tak dapat dipikirkan, tak bisa berubah sifatnya. Tak bisa dibunuh walaupun jasad yang menjadi temaptnya bersemayam dihancurkan. Semua mahluk pada permulaannya tidak tampak, setelah melalui nafsu birahi antara pria dan wanita diasatukan, barulah dibentuk dalam rahim. Setelah dilahirkan barulah nampak, semenjak kecil hingga tua bangka, mereka tak menyadari bahwa mereka berasal dari tak tampak yaitu tiada. Kematian menjadi momok ketakutan bagi yang tak mengenal atmanya. Orang seringkali memperbincangkan tentang roh, meskipun demikian hanya beberapa orang saja yang mengerti pada sifat abadi itu. Ada dan tiada sama saja bagi siapa yang sesungguhnya mengetahui sajatining kebenaran. Yang menguasai manusia dialam lahir ilaha pancaindra, sedangkan Atma adalah pendukung raga seluruhnya. Lahirnya pancaindra setelah menjelma menjadi manusia, sedangkan atma sudah ada sebelum manusia lahir kedunia. Tetapi janganlah menyekutukan atma dan pancaindra, karena didalam pancaindra itu terdapat nafsu-pikiran, itikad persaan dan akal. Siapa yang beritikad baik pikirannyapun akan tenang, nafsunya dapat terkendalikan, perasaannya akan lebih tajam, dan akalnyapun akan lebih cerdas. Siapa yang dapat mengendalikan seluruh panca indranya dan memusatkan akal budinya terhadap atma untuk bersujud berserah diri kepada Illahi, dialah yang akan menemukan kebahagiaan sejati nan abadi dunia-akhirat. Illahi adalah yang tak ada habis-habisnya dan tertinggi yang meniptakan alam semesta dengan segala isinya, Adhi Atma adalah roh suci yang bersemayam dalam diri manusia, setan adalah nafsu negatif yang menimbulkan nafsu keduniawian. Siapa yang mengingat bahwa Gusti Allah adalah yang paling esa berkuasa, maka dialah yang mengetahui kebenaran..

Deru ombak menggetarkan tempat itu, semakin lama semakin pasang, namun Sunan Kalijaga meneruskan wejangannya " Orang yang sempit pikirannya menganggap Illahi itu hanya bersifat tidak kelihatan dan beranggapan Illahi itu omong kosong belaka yang tidak masuk akal, padahal Illahi ada dimana-mana dalam segala bentuk dan kekal sifatnya yang memberikan daya berpikir pada seluruh manusia. Bukan Ilmu ataupun kesaktian fisik yang bisa menuntun kejalan yang manunggal di Jalan Illahi, karena ilmu tanpa disertai budi, dan kesaktian lahir adalah kesombongan dan kemurkaan. Dia yang beriman, bertaqwa, dan bertwakal kepadanya dan berikhtiar mempersatukan dia dengan Illahi sambil menjalankan kebajikan, dan menyebarkan ajaran Illahi dia akan mencapai sifat yang diridhai Gusti Allah untuk menjadi Khalifah Umatnya. Apa yang disebut prikebajikan adalah rendah hati, jujur, sabar, dapat melepaskan pikiran dan hawa nafsu keduniawian, dan tidak menyimpan kebencian. siapa yang melihat bahwa benda yang saling bunuh dan bukan rohnya, siapa yang mengakui segala yang terjadi akibat kesalahannya sendiri dialah yang nerima. Bangkitlah engkau Senopati anakku! Kalahkanlah semua musuh-musuhmu! Karena engkau adalah alat untuk melenyapkan angkara murka dan membentuk kehidupan yang baru di tanah jawa ini! .

Sesungguhnya tanpa peranmu pun orang-orang Pajang yang berlindung dibawah kekuasaan Sultan Hadiwijaya sudah mati, karena diliputi oleh benci dan dendam. Mereka orang-orang yang berlindung dibawah kekuasaan Sulta Hadiwijaya untuk melampiaskan hasrat serakahnya seperti serigala-serigala yang terkurung api, sebentar lagi hangus terbakar. Janganlah bersedih hati menghadapi ujian ini Senopati, semua yang kukatakan ini adalah Ilapat dari Gusti Allah demi memberimu petunujuk atas permohonanmu kepada Gusti Allah siang dan malam, wahyu keprabon untuk memimpin umat di tanah jawa ini telah berpindah dari Sultan Hadiwijaya kepadamu karena Pajang telah rusak oleh orang-orang yang serakah. Namun ketahuilah Mataram akan berumur pendek dari mulai engkau, anak dan cucumu, cucumu akan menjadi raja yang sangat kaya, mataram akan mencapai puncak kejayaannya, namun Mataram akan rusak oleh cicitmu karena bersekutu dengan orang-orang asing bertubuh tinggi-besar, berkulit putih, berambut seperti rambut jagung yang akan menyengsarakan seluruh umat di tanah jawa ini. kerusakan Mataram akan ditandai dengan muculnya bintang kemukus setiap malam, sering terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan, Gunung Merapi sering bergolak dahsyat"..

Senopati mengankat kepalanya "Yang kanjeng Sunan wejangkan benar-benar meresap dalam sanubariku, hamba bersyukur ternyata Gusti Allah mengabulkan permohonan Hamba dan alamarhum ayahanda. Namun yang belum saya mengerti mengapa di jagat ini begitu banyak aliran kepercayaan?"
Sunan Kalijaga Menjawab " Sumbernya hanya satu seperti sumber air gunung yang sangat bersih tanpa ada kotoran mengalir kebawah. Lalu beranak sungai dihulu, dialirkan kesetiap arah untuk dipergunakan macam-macam keperluan seperti minum, mencuci, mengairi sawah, dan lain-lain sehingga kotor sulit dibersihkan kembali. Begitupun pengertian tentang Tuhan, siapa yang memuja Allah SWT dia akan pergi kepada Gusti Allah, siapa yang memuja Dewa dia akan pergi kepada Dewa, siapa yang memuja Jin dia akan pergi kepada Jin, siapa yang memuja Leluhur dia akan Pergi kepada Leluhurnya. Namun tetaplah semua akan kembali kepada satu sumbernya yaitu sang maha pencipta Gusti Allah SWT, La Illa Haillallah tiada tuhan selain Allah. Ada pula orang-orang yang menyerahkan hartanya sebagai bakti kepada Illahi, Namun dibalik hatinya ia meminta kembalinya yang lebih besar, itu namanya murka, ada orang yang berpura-pura memuja Illahi nmun mengharapkan upah, dia tidak akan sampai kepada Illahi. Begitulah pengertian tentang Tuhan, diolah beraneka ragam hasil pengertian akal tanpa budi, iman, dan Taqwa. Tidak demikian dengan orang yang beriman dan bertaqwa, dia akan terus menuju mencari sumbernya. Dia tidak akan terpengaruh oleh kesibukan dan nikmat duniawi yang tercipta darisetan pembawa hawa nafsu yang merusak. Dia akan senantiasa tenang, karena ia sadar bahwa semua pergolakan disebabkan oleh setan. Bagaikan orang yang berjalan di lorong gelap gulita yang menemukan pelita, demikianlah orang yang berserah diri kepada Gusti Allah SWT"..

Senopati lalu bangun, Sunan Kalijaga lalu mengajaknya pulang ke Kota Gede "Mari anakku aku ingin melihat rumahmu dan kota yang telah engkau bangun", Senopati menjawab "Mari kanjeng Sunan". Setelah sampai Sunan Kalijaga memerintahkan Senopati untuk memagari rumahnya dan membangun tembok dari batu bata disekitar Kota Gede dengan memberi petunjuk lewat air doanya "Senopati anakku, bila kelak engkau hendak membangun tembok benteng Kota Gede ikutilah tempat dimana aku mengikuti air tadi, nah selamat tinggal anakku, aku hedak pulang ke Kadilangu". Senopati lalu membangun tembok kota mengikuti saran yang Sunan Kalijaga sampaikan. Wejangan itupun diresapinya hingga kelak tiba saatnya ia menjadi raja sekaligus penyebar agama islam di tanah jawa ini..

PUPUH II
S I N O M

01
Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati, kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu, pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karenak tyasing sesama.

(Contohlah perbuatan yang sangat baik, bagi penduduk di tanah Jawa, dari seorang tokoh besar Mataram, Panembahan Senopati, berusaha dengan kesungguhan hatinya, mengendapkan hawa nafsu, dengan melakukan olah samadi, baik siang dan malam, mewujudkan perasaan senang hatinya bagi sesama insan hidup)

02
Samangsane pesasmuan, mamangun martana martani, sinambi ing saben mangsa, kala kalaning asepi, lelana teki-teki, nggayuh geyonganing kayun, kayungyun eninging tyas, sanityasa pinrihatin, puguh panggah cegah dhahar, lawan nendra.

(Saat berada dalam pertemuan, untuk memperbincangkan sesuatu hal dengan kerendahan hati, dan pada setiap kesempatan, di waktu yang luang mengembara untuk bertapa. Dalam mencapai cita-cita sesuai dengan kehendak kalbu, yang sangat didambakan bagi ketentraman hatinya. Dengan senantiasa berprihatin, dan memegang teguh pendiriannya menahan tidak makan dan tidak tidur.) 

03
Saben nendra saking wisma, lelana laladan sepi, ngisep sepuhing supana, mrih pana pranaweng kapti, titising tyas marsudi, mardawaning budya tulus, mese reh kasudarman, neng tepining jala nidhi, sruning brata kataman wahyu dyatmika.

(Setiap kali pergi meninggalkan rumah (istana), untuk mengembara di tempat yang sunyi. Dengan tujuan meresapi setiap tingkatan ilmu, agar mengerti dengan sesungguhnya dan memahami akan maknanya, Ketajaman hatinya dimanfaatkan guna menempa jiwa, untuk mendapatkan budi pikiran yang tulus, Selanjutnya memeras kemampuan (acara untuk mengendalikan pemerintahan, dengan memegang teguh pada satu pedoman) agar mencintai sesama insan. (Pengerahan segenap daya olah semedi) dilakukannya di tepi samudra. Dalam semangat bertapanya, yang akhirnya mendapatkan anugerah Illahi, dan terlahir berkat keluhuran budi)

04
Wikan wengkoning samodra, kederan wus den ideri, kinemat kamot hing driya, rinegan segegem dadi, dumadya angratoni, nenggih Kanjeng Ratu Kidul, ndedel nggayuh nggegana, umara marak maripih, sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda.

(Setelah mengetahui yang terkandung dalam samudra, dengan berjalan mengelilingi sekitarnya, merasakan kesungguhan yang terkandung di dalam hatinya. Untuk dapat digenggam, sehingga berhasil menjadi raja. Tersebutlah Kanjeng Ratu Kidul keluar menjulang mencapai angkasa, mendekati datang menghadap dan memohon dengan suara halus, karena kalah wibawa dengan tokoh besar dari Mataram) 

05
Dahat denira aminta, sinupeket pangkat kanci, jroning alam palimunan,  ing pasaban saben sepi, sumanggem anjanggemi, ing karsa kang wus tinamtu, pamrihe mung aminta, supangate teki-teki, nora ketang teken janggut suku jaja.

((Kanjeng Ratu Kidul) memohon dengan sangat, untuk dapat mempererat hubungan dalam kedudukannya di alam ghaib. Pada saat sedang mengembara di tempat yang sunyi, ia selalu bersedia dan tidak akan ingkar janji, terhadap kehendak (Kanjeng Senopati) yang telah ditentukannya. Yang diharapkannya hanyalah memohon ridho-NYA berkat olah tapanya, meskipun harus bersusah payah membanting tulang.)  

06
Prajanjine abipraja, saturun-turun wuri, Mangkono trahing ngawirya, yen amasah mesu budi, dumadya glis dumugi, iya ing sakarsanipun, wong agung Ngeksiganda, nugrahane prapteng mangkin, trah tumerah darahe pada wibawa.

((Kanjeng Ratu Kidul) berjanji dan berikrar, bahwa hingga keturunannya (Kanjeng Panembahan Senopati) kelak dikemudian hari. Demikianlah keturunan bangsawan besar, bila sedang menempa diri untuk mencapai kesempurnaan budi/batin. Tentu akan berhasil dan cepat terkabul, apa saja yang dikehendakinya. Tokoh besar Mataram, anugerahnya masih tampak hingga kini, Turun temurun keturunannya mulia dan berwibawa.)

07
Ambawani tanah Jawa, kang padha jumeneng aji, satriya dibya sumbaga, tan lyan trahing Senapati, pan iku pantes ugi, tinelad labetanipun, ing sakuwasanira, enake lan jaman mangkin, sayektine tan bisa ngepleki kuna.

(Yang memerintah di tanah Jawa menjadi raja, para ksatria yang melebihi daripada yang lain. Mereka tidak lain adalah keturunan Panembahan Senopati, yang pantas untuk dijadikan panutan dalam perbuatan baiknya. Disesuaikan dengan kemampuannya, pada keadaan yang akan datang. Sesungguhnya memang tidak akan dapat menyamai keadaan pada masa lalu.)

08
Luwung kalamun tinimbang, ngaurip tanpa prihatin, Nanging ta ing jaman mangkya, pra mudha kang den karemi, manulad nelad Nabi, nayakeng rad Gusti Rasul, anggung ginawe umbag, saben saba mampir masjid, ngajap-ajap mukjijat tibaning drajat.

(Meskipun tidak memuaskan tapi masih lebih baik bila dibandingkan, dengan yang hidupnya tanpa laku prihatin. Namun pada jaman yang akan datang, yang digemari para anak muda, hanya sekedar meniru perbuatan Nabi. Rasulullah (yang ditetapkan oleh Tuhan) sebagai panutan dunia, selalu dijadikan sandaran menyombongkan diri. Setiap singgah ke masjid, mengharapkan mukjizat dapat derajat (kedudukan tinggi).)

09
Anggung anggubel sarengat, saringane tan den wruhi, dalil dalaning ijemak, kiyase nora mikani, katungkul mungkul sami, bengkrakan neng masjid agung, kalamun maca kutbah, lelagone dhandhanggendhis, swara arum ngumandhang cengkok palaran.

(Terus menerus tiada hentinya mendalami masalah syari'at, tanpa mengetahui inti sarinya. Ketentuan yang dijadikan sandaran peraturan di dalam agama Islam. Serta suri tauladan dari masa lampau yang dapat dipergunakan untuk memperkuat suatu hukum, dengan bertingkah laku berlebihan di dalam masjid agung. Bila berkhotbah seperti sedang nembang Dhandhanggula, suaranya berkumandang mengalun dengan cengkok Palaran.)

10
Lamun sira paksa nulad, Tuladhaning Kangjeng Nabi, O, ngger kadohan panjangkah, wateke tak betah kaki, Rehne ta sira Jawi, satitik bae wus cukup, aja ngguru aleman, nelad kas ngepleki pekih, Lamun pungkuh pangangkah yekti karamat.

(Bila engkau memaksakan diri meniru ajaran, yang dilaksanakan Kanjeng Nabi. Oh anakku! Terlalu jauh jangkauan langkahmu, dari dasar kepribadianmu tidak akan tahan uji, nak! Karena engkau adalah orang Jawa, sedikit saja sudah cukup. Janganlah berkeinginan mendapat pujian, lalu meniru perbuatan layaknya orang fakih. Asalkan engkau tekun dalam mengejar cita-citamu pasti akan mendapatkan rahmat pula.)

11
Nanging enak ngupa boga, rehne ta tinitah langip, apa ta suwiteng Nata, tani tanapi agrami, Mangkono mungguh mami, padune wong dhahat cubluk, durung wruh cara Arab, Jawaku bae tan ngenting, parandene pari peksa mulang putra.

(Alangkah baiknya mencari nafkah, karena telah ditakdirkan hidup miskin, lebih baik mengabdi pada raja, untuk bertani atau berdagang. Demikianlah menurut pendapatnya, dan menurut pendapat orang yang sangat bodoh, serta belum mengerti bahasa Arab. Sedangkan pengetahuan tentang bahasa Jawa saja tidak tamat, walaupun demikian tetap memaksakan diri mengajar anak-anaknya.)

12
Saking duk maksih taruna, sadhela wus anglakoni, aberag marang agama, maguru anggering kaji, sawadine tyas mami, banget wedine ing besuk, pranatan ngakir jaman, Tan tutug kaselak ngabdi, nora kober sembahyang gya tininggalan.

(Karena ketika masih muda dulu, walaupun hanya sebentar pernah mengalami perasaan tertarik pada soal agama. Bahkan berguru juga tentang ibadah haji, rahasianya yang menjadi pendorong utama terhadap maksud hati. Sangatlah takut pada ketentuan, yang berlaku pada akhir jaman kelak. Namun belajarnya belum sampai selesai telah terburu mengabdi, bahkan acapkali tidak sempat bersembahyang karena sudah dipanggil majikan.) 

13
Marang ingkang asung pangan, yen kasuwen den dukani, abubrah bawur tyas ingwang, lir kiyamat saben hari, bot Allah apa gusti, tambuh-tambuh solah ingsun, lawas-lawas graita, rehne ta suta priyayi, yen mamriha dadi kaum temah nista.

((Menghadap) kepada orang yang memberi nafkah, bila terlalu lama datangnya pasti mendapat marah. Sehingga membuat kacau balau perasaan hati, layaknya kiamat setiap hari. Apakah berat kepada Tuhan atau rajanya. Tingkah perbuatannya menjadi ragu-ragu, lama kelamaan terpikir di dalam hati. Karena terlahir sebagai anak seorang terhormat, bila ingin menjadi penghulu tentulah tidak pantas.)

14
Tuwin ketib suragama, pan ingsun nora winaris, angur baya angantepana, pranatan wajibing urip, lampahan angluluri, aluraning pra luluhur, kuna kumunanira, kongsi tumekeng semangkin, Kikisane tan lyan among ngupa boga.

(Demikian pula untuk menjadi khotib atau juru agama, juga tidak patut karena tidak punya wewenang jabatan tersebut. Lebih baik berpegang teguh, pada ketentuan kewajiban hidup. Menjalankan adat istiadat leluhur, sesuai dengan yang dijalankan oleh para leluhur, sejak jaman dahulu kala hingga kini. Keputusannya tidak lain hanyalah mencari nafkah hidup)

15
Bonggan kang tan mrelokena, mungguh ugering ngaurip, uripe tan tri prakara,  wirya, arta, tri winasis, kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman ngulandara.

(Salahnya sendiri jika tidak memerlukan sesuatu, yang patut menjadi pegangan hidup. Kehidupan yang patut dilengkapi dengan tiga macam syarat, ialah kekuasaan, harta, dan kepandaian. Bila sampai terjadi sama sekali tidak memiliki, salah satu dari tiga syarat tersebut, akhirnya akan menjadi orang yang tidak berguna, dan masih berharga daun jati yang sudah kering. Akhirnya hina papa menjadi pengemis, yang pergi tidak tentu arah tujuannya.)

16
Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing Jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angelangut tanpa tepi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma.

(Yang telah arif bijaksana melaksanakannya, dalam merangkum tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terdapat di alam semesta. Pada akhir inti jiwanya, akan tampak jelas tanpa dihalangi tabir. Maka jiwa pun terbuka dengan jelas, hingga tampak jelas dari jauh seluruh peredaran jaman. Hingga seolah-olah tidak terbatas dan bertepi. Demikianlah yang dapat dikatakan bertapa dengan cara berserah diri secara mutlak ke haribaan kebesaran Tuhan.)

17
Mangkono janma utama, tuman tumanem ing sepi, ing saben rikala mangsa,masah amemasuh budi, lahire den tetepi, ing reh kasatriyanipun, susila anor raga, wignya met tyasing sesame, yeku aran wong barek berag agama.

(Demikianlah insan yang telah mencapai tingkat utama, yang kebiasaannya menyatu di tempat yang sunyi. Serta setiap saat berulangkali mempertajam olah budinya, dan sikap lahiriyahnya tetap berpegang, pada ketentuan jiwa ksatrianya yang rendah hati. Serta tahu benar menyenangkan hati sesama insan, dan sudah tentu dapat dikatakan insan yang serba baik, serta senang sekali pada ajaran agama.)

18
Ing jaman mengko pan ora, arahe para turami, yen antuk tuduh kang nyata, nora pisan den lakoni, banjur njujurken kapti, kakekne arsa winuruk, ngandelken gurunira, pandhitane praja sidik, tur wus manggon pamucunge mring makrifat.

(Pada masa mendatang tidaklah demikian adanya, gejala yang timbul pada kawula mudanya. Bila mendapat petunjuk yang benar, sama sekali tidak mengindahkannya. Selalu menuruti kehendak hatinya sendiri, bahkan kakeknya pun hendak digurui. Dengan mengandalkan gurunya, seorang pandita pejabat kerajaan yang arif bijaksana, serta memahami benar tembang Pucung yang mengarah pada uraian ma'rifat.)

Selasa, 28 Januari 2014

KERIS KYAI CARUBUK, SENJATA PUSAKA KANJENG SUNAN KALIJAGA



KERIS KYAI CARUBUK, SENJATA PUSAKA KANJENG SUNAN KALIJAGA
Keris Kyai Carubuk
Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga. Terkait keris pusaka dan sakti di Indonesia, dalam khanazah sejarah dan budaya nusantara, kebanyakan keris sakti berasal dari pulau Jawa, terutama di era kejayaan Kerajaan Majapahit. Banyak cerita, kisah dan juga mitos seputar keris. Konon, keris yang memiliki kesaktian tidak sembarangan bisa dimiliki, harus memiliki kecocokan atau berjodoh dengan yang memegangnya. Banyak yang meyakini juga keris yang sakti bisa berdiri sendiri jika diminta oleh pemegangnya, dan banyak lagi cerita lainnya tentang kesaktian keris ini. Kali ini, infomistik akan membawa anda ke wilayah kajian keris pada konteks sejarah. Terkait sejarah ini, ada bebeberapa keris yang terkenal dan paling populer di Indonesia, salah satunya adalah Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga

Keris Kyai Carubuk ini adalah mahakarya ketiga dari Mpu Supa Madrangi selain Keris Kyai Sangkelat dan Keris Kyai Nagasasra. Keris ini juga merupakan peninggalan Mahapahit.

Dalam satu legenda dikisahkan, Kanjeng Sunan Kalijaga meminta tolong kepada Mpu Supa Mandragi untuk dibuatkan sebuah keris coten-sembelih (untuk menyembelih kambing). Sunan Kaljaga memberikan besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa sebagai bahan pembuatan keris kepada Mpu Supa Mandrangi. Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Namun setelah Mpu Supa menerima besi tersebut dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Ia berkata “besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris”. Lalu Sunan Kalijaga berkata “besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung”. Karena ampuhnya perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi yang sebesar biji asam jawa tersebut menjelma menjadi sebesar gunung. Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Sang Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa berlutut dan takut.

Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan oleh Mpu Supa Mandrangi. Tidak lama kemudian, jadilah sebilah keris, kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Begitu melihat bentuk kerisnya, Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi kaget karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Semula ia bermaksud meminta dibuatkan keris untuk menyembelih kambing, ternyata yang dihasilkan adalah keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Kanjeng Sunan Kalijaga tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu.

Kemudian Kanjeng Sunan Kaljaga memberikan besi sebesar biji kemiri kepada Mpu Supa Mandrangi dan meminta Mpu Supa Mandrangi untuk membuatkannya sebilah keris lagi. Lalu Empu Supa mengerjakannya, dan setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kaljaga. Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan, Kanjeng Sunan Kalijaga sangat senang hatinya dan menamai keris tersebut dengan nama “Keris Kyai Carubuk”.

Keris Kyai Carubuk ini kemudian menjadi senjata pusaka Sultan hadiwijaya, dan pernah digunakan bahkan sanggup mengalahkan keris Kyai Setan Kober milik arya penangsang yang ketika itu digunakan oleh pesuruh Arya Penangsang untuk melakukan percobaan pembunuhan kepada Sultan Hadiwijaya.  

Karena utusan Arya Penangsang dapat dikalahkan, keris Kyai Setan Kober diambil oleh Sultan Hadiwjaya, lalu dikembalikan sendiri oleh Sultan Hadiwjaya kepada Arya Penangsang yang membuat Arya Penangsang tersinggung dan marah.  Karena Arya Penangsang tersinggung dan marah, maka timbul kerbutan antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya, dan keributan tersebut dapat dihentikan oleh Kanjeng Sunan Kudus.

REFLEKSI KEILMUAN SUNAN KALIJAGA ( ILMU PANTUL KANJENG SUNAN ) HAKEKAT MENUJU JATIDIRI



REFLEKSI KEILMUAN SUNAN KALIJAGA 
( ILMU PANTUL KANJENG SUNAN ) HAKEKAT MENUJU JATIDIRI
alangkah / dan harus paham dulu tentang hakekat sebenarnya 
4 EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA (SEDULUR PAPAT 5 PANCER)

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. 
(Red : Kebanyakan orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.)

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. 
Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh KETUBAN. Selanjutnya adalah ARI-ARI, DARAH dan PUSAR. 
Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur atau dilarung. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena AIR KETUBAN adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ARI-ARI, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN

Saudara gaib kita terakhir adalah PUSAR. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.
Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:

  1. JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),
  2. IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
  3. MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
  4. IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).
Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. 
Bila kita paham bahwa Perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. 
Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). 

Lantas dimana mereka sekarang? 
Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. 

Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? 
Sunan Kalijaga mewasiatkan sebuah tembang atau kidung macapat :

Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah

Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

(Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.

Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya sebagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini)

ILMU PANTUL KANJENG SUNAN
Ilmu ini bisa  didapatkan melalui laku batin yaitu mencari suasana hening.(RELAK) tanpa beban hidup yang membelit di dalam pikiran kita  dan  untuk siapapun Insya ALLAH bisa memilikinya asal rajin mengirikan doa kepada kanjeng  sunan kalijaga.

Doa yang di amalkan ada dua macam yaitu.                 

  1. Surat AL Fatihah.diamalkan 100(seratus) kali dalam satu hari. Di peruntukkan pada kanjeng sunan Kalijajaga    Membaca salawat Nabi  seperti :   Allahumma shalli alaa sayyidinaa Muhammad Wa alaa aliihis shali wa sallim.                       
Apabila amalan ini di lakukan secara khusyuk,kemungkinan Anda akan menerima khodam Ilmu kunci yang lain.dan sebagai manakita ketahui,Kanjeng  Sunan Kalijaga adalah wali yang memiliki khodam ilmu teramat banyak karena ia adalah seorang wali yang hidup dan dibesarkan dari dua kultur , yaitu kultur Jawa yang sarat dengan laku tirakat dan kultur sufi keislaman

Sunan Kalijaga Raden Said Memilih Jalan Sendiri



Sunan Kalijaga
Raden Said Memilih Jalan Sendiri
Setelah bertahun tahun di tinggal kedua anaknya,permaisuri Adipati Wilatikta seperti kehilangan gairah hidup.Terlebih setelah usaha Adipati Tuban menangkap para perampok yang mengacau Kadipaten Tuban membuahkan hasil.Hati ibu Raden Said seketika berguncang.

kebetulan saat di tangkaq oleh prajurit Tuban,kepala rampok itu mengenakan pakaian dan topeng yang persis di kenakan Raden Said.Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah.Dari pengakuan perampok itu tahulah Adipati Tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.

Ibu Raden Said menangis sejadi jadinya.Dia benar benar telah menyesal mengusir anak yang sangat di sayanginya itu.Sang Ibu tak pernah tahu bahwa anak yang di dambakannya itu bertahun tahun kemudian sudah kembali ke Tuban.Hanya saja tidak langsung ke Istana Kadipaten Tuban,melainkan ke tempat tinggal Sunan Bonang.

Untuk mengobati kerinduan Sang Ibu,tak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang tinggi yaitu membaca Qur'an dari jarak jauh lalu suaranya di kirim ke Istana Tuban.

Suara Raden Said yang merdu itu benar benar menggetarkan dinding dinding Istana Kadipaten,bahkan mengguncangkan isi hati Adipati Tuban dan isterinya.Tapi Raden Said,masih belum menampakkan diri.Banyak tugas yang masih di kerjakan,diantaranya menemukan adiknya kembali,tak terkirakan betapa bahagianya Adipati Tuban dan isterinya menerima kedatangan putra putrinya yang sangat di cintainya itu.

Karena Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya,akhirnya kedudukan Adipati Tuban di berikan kepada cucunya sendiri yaitu putra Dewi Rasawulan dan Empu Supa.

Raden Said meneruskan pengembaraannya,berdakwah menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah hingga ke Jawa Barat.Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwa sehingga dapat di terima dan di anggap sebagai Guru Suci se Tanah Jawa,dan petani,pejabat,pedagang,bangsawan dan raja raja dapat menerima ajaran Sunan Kalijaga yang berciri khas Jawa namun tetap Islami.Dalam usia lanjut beliau memilih Kadilungu sebagai tempat tinggalnya yang terakhir.Hingga sekarang beliau di makamkan di Kadilungu,Demak.Semoga amal perjuangannya di terima di sisi (ALLAH).Amin

Sunan Kalijaga Sunan Bayat Dan Syekh Domba Murid Sunan Kalijaga



Sunan Kalijaga
Sunan Bayat Dan Syekh Domba Murid Sunan Kalijaga
Murid murid Sunan Kalijaga banyak sekali,seperti Sunan Bayat,Sunan Geseng.Ki Ageng Selo,Empu Supa dan lain lain.di sini kami mengisahkan tentang Sunan Bayat dan Syekh Domba.

Bupati Semarang pada waktu itu bernama Ki Pandhanarang,ia terkenal seorang bupati yang kaya raya.Ia juga pandai berdagang dan pandai mengambil keuntungan dari berdagang emas,intan,permata hingga sapi,kerbau dan kambing.kekayaannya saat itu di atas rata rata kekayaan pejabat,istrinya banyak,anaknya banyak dan relasinya juga banyak.Tak ada seorangpun mampu menggoyahkannya bahkan pejabat di tingkat pusat sekalipun.Sayang ada satu sifatnya yang tak baik,yaitu kikir alias bakhil atau medhit.

Ia mempunyai kendaraan yang bagus dan jempolan,beberapa ekor kuda terbaik dari Sumbawa.karena kuda dan sapinya banyak,maka tiap pagi membutuhkan rumput berkarung karung untuk santapan kuda dan sapinya.

Suatu ketika di musim kemarau,para pegawainya yang bertugas mencari rumput agak terlambat menyediakan santapan kudanya.Pada saat itu datanglah seorang penjual rumput memasuki halaman rumahnya.Umumnya pada waktu itu sepikul berharga 25 ketheng,tapi ia menawarnya dengan harga lima belas ketheng.Anehnya tanpa berbelit belit penjual rumput itu memberikanya begitu saja.

Esoknya penjual rumput bercaping lebar itu datang lagi.Kali ini ia datang lebih pagi dengan membawa rumput yang lebih segar dari kemarin.

" Pak tua,sepagi ini kau sudah membawa rumput sesegar ini.Dari mana kau memperolehnya?" tanya Ki Pandhanarang.

" Dari Gunung Jabalkat,Tuan...." jawab si penjual rumput.

Ki Pandhanaran merasa heran,sebab Gunung Jabalkat adalah tempat yang sangat jauh sekali.Setelah rumput itu di bayar seperti harga kemarin orang itu tidak segera beranjak pergi.

" Hei Pak Tua,apalagi yang kau tunggu? "

" Hamba ingin minta sedekah Tuan?"

Ki Pandhanarang merogoh sakunya tanpa menoleh ia melempar uang seketheng di hadapan kaki si penjual rumput,lalu ia beranjak pergi.Tapi si penjual rumput buru buru maju menghadang.

" Hamba tidak minta sedekah uang,yang hamba minta adalah bedhug berbunyi di Semarang."

Ki Pandhanarang mendelik penasaran.Minta bedhug berbunyi di Semarang? itu sama halnya dengan minta mendirikan masjid,dan menyebarkan agama Islam di Semarang.

" Kau jangan minta yang aneh aneh Pak Tua,sudah ambil saja uang itu dan cepat pergi dari sini"

"Hamba tidak butuh uang.Dapatkah uang dan harta menjamin keselamatan kita di akhirat kelak? "

Ki Pandhanaran merah wajahnya. " Hai Pak Tua! jangan menyepelekan uang dan harta.Dengan uang dan harta itulah seseorang terangkat derajatnya dan di hormati orang ".

" Hamba kira tidak! justru orang yang menjadi budak uang dan harta akan menjadi orang hina dan tidak berbudi pekerti,karena menghalalkan segala cara! "

"Pak Tua! Bicaramu makin tak karuan,apakah dengan pekerjaanmu sebagai penjual rumput itu kau merasa mulia.Apakah segala kebutuhan hidupmu,anak istrimu tercukupi? "

" Soal harta dan kebutuhan hidup hamba selalu ikhlas terhadap apa yang di berikan Tuhan.Kalau cuma menginginkan emas permata,sekali cangkul hamba bisa setiap saat mengeruk dari dalam tanah."

" Huh! Omonganmu semakin sombong saja Pak Tua! coba buktikan omong besarmu! jika memang terbukti aku akan berguru kepadamu,namun jika kau hanya berkoar atau main sulap maka kau akan ku hukum seberat beratnya! "

Ki Pandhanarang lalu menyuruh pembantunya mengambil cangkul dan di berikan kepada penjual rumput."Hayo! buktikan ucapanmu!"

Dengan tenang penjual rumput itu menerima cangkul,lalu di ayunkan pelan,dan ketika di tarik dari dalam tanah keluarlah bongkahan emas permata.Semua orang terbelalak takjub melihat kejadian itu.Ki Pandhanaran yang mata duitan itu berdiri terpaku di tempatnya sampai sampai ia tak menyadari lelaki penjual rumput itu sudah pergi.

Ki Pandhanarang baru sadar bahwa ia berhadapan dengan orang sakti berilmu tinggi.Maka segera di kejarnya ke mana orang itu pergi.Sebagai lelaki ia ingin memenuhi janjinya,berguru kepada si penjual rumput.Setelah mengerahkan segenap tenaganya barulah ia berhasil menyusul lelaki itu.

" Buat apa kau menyusulku? masih kurangkah bongkahan emas permata tadi bagimu? " tegur si penjual rumput itu.

"Bukan untuk itu saya kemari."

" Lalu apa mau?"

" Saya ingin berguru kepada Tuan."

"Berguru? Mau berguru apa,menimbun uang dan harta?"

"Bukan! saya ingin memperdalam agama Islam sehingga nantinya dapat saya gunakan untuk membimbing rakyat Semarang."

" Jadi kau mau memenuhi permintaanku untuk membunyikan bedhug di Semarang?".

"Benar Tuan."

"Berkorban dengan segala harta dan jiwa?"

"Saya bersedia...."

" Kalau begitu kau harus menjalankan ibadah selama hidupmu,jangan sampai teledor menegakkan shalat lima waktu.Kau harus beramal,dirikan masjid dan memberikan hartamu kepada fakir miskin dan orang orang yang berhak menerimanya.Jangan sekali kali kau terpikat oleh harta kecuali hanya sekedarnya saja sebagai bekal ibadah.Orang berguru itu harus meninggalkan rumah,maka jika segala hak yang ku pesan tadi sudah kau laksanakan segeralah kau susul aku ke Gunung Jabalkat."

" Wahai Tuan yang arif dan bijaksana.Ijinkah saya mengetahui gerangan Tuan ini sesungguhnya?"

" Aku adalah Sunan Kalijaga yang di perintah para dewan wali untuk mengajakmu bergabung sebagai anggota Walisongo,menggantikan Syekh Siti Jenar yang telah di hukum mati."

Mendengar nama besar Sunan Kalijaga serta merta Ki Pandhanarang berlutut untuk menghormat,namun seketika itu Sunan Kalijaga lenyap dari pandangan matanya.

Ki Pandhanarang pulang ke rumahnya.Kini ia berubah total,dulu pelit menjadi dermawan sekali.Suka bersedekah,ia juga yang memprakarsai dan menanggung biaya untuk pembangunan masjid di Semarang.ia juga yang memilih kayu yang terbaik beserta kulit sapi yang sangat bagus untuk di gunakan sebagai bedhug.

Ia membayar zakat sebagaimana keharusannya setiap muslim yang di wajibkan.Ia menyantuni anak yatim dan fakir miskin.Semua di laksanakan dengan ikhlas karena (ALLAH).Bukan sekedar publikasi agar namanya terkenal.Setelah tiba saatnya ia bermaksud menyusul Sunan Kalijaga di Gunung Jabalkat.

Salah seorang dari istrinya memaksa hendak ikut ke Gunung Jabalkat mendampingi dirinya.

" Baiklah kau boleh ikut tapi jangan membawa harta,itulah pesan guruku,harta hanya menjadi penghalan bagi tujuan luhur cita cita kita."

Keduanya lalu berpakain serba putih.Keduanya berjalan kaki ke Gunung Jabalkat.Ki Pandhanarang berjalan di muka dengan membawa tongkat,istrinya berjalan di belakang dengan membawa tongkat bambu yang di dalamn lubangnya di isi dengam emas dan permata.

Ki Pandhanarang yang berjalan di depan di cegat kawanan rampok,namun karena ia tidak membawa harta,ia segera di lepaskan begitu saja.Sebaliknya,Nyai Pandhanarang di cegat tiga perampok.Tongkatnya di rampas,isinya di keluarkan dan di jadikan rebutan.Tiga perampok itu besorak kegirangan setelah mendapat emas dan permata milik Nyai Pandhanarang.Sementara Nyai Pandhanarang menangis tersedu sedu,ia berteriak teriak memanggil suaminya yang berjalan jauh di depan.

" Kakangmas...! Apakah kau sudah lupa pada istrimu ? ini ada orang tiga berbuat salah." Hingga sekarang tempat kejadian itu di namakan Salatiga.

Akhirnya Nyai Pandhanarang dapat menyusul suaminya.Suaminya tidak kaget mendengar penuturan istrinya,karena ia sudah tahu bahwa sejak berangkat dari rumah,istrinya memang membawa emas dan permat.

" Itulah,kau tidak mematuhi saran guruku.Harta hanya menjadi penghalang tujuan luhur kita,sekarang kau berjalan di muka. "

Nyai Pandhanarang kemudian berjalan di muka.tidak berapa lama kemudian Ki Pandhanaran di cegat seorang perampok yang di kenal sebagai Ki Sambangdalan.

" Serahkan hartamu atau kau ku hajar hingga babak belur!" demikian ancam Ki Sambangdalan.

" Aku tidak membawa hartag!" Jawab Ki Pandhanaran.

Perampok itu tidak percaya,ia merampas tongkat Ki Pandhanarang.tentu saja tongkat itu tidak ada emasnya,karena hanya terbuat dari tongkat biasa.

" Di mana kau sembunyika hartamu?" hardik Ki Sambangdalan

" Aku tidak membawa harta!" jawab Ki Pandhanarang sambil terus melangkah.

Anehnya Ki Sambangdalan membiarkan saja korbanya berjalan,ia hanya berani mengancam saja tapi tidak berani memukuli Ki Pandhanarang.

Ki Sambangdalan terus mengikuti ke mana Ki Pandhanarang berjalan sambil mengeluarkan ancaman.lama kelamaan Ki Pandhanaran bosan dan risih mendengar ancaman Ki Sambangdalan.Maka ia berkata," kau ini bengal,keras kepala seperti domba saja!".

Aneh,seketika kepala Ki Sambangdalan berubah menjadi kepala seekor domba atau kambing,tetapi ia tidak menyadarinya.ia terus mengikuti kemana Ki Pandhanarang pergi.suatu ketika keduanya sampai di tepi sungai.melihat air Ki Sambangdalan merasa risih,ia takut terkena basah,lalu ia melihat bayangannya sendiri di air jernih maka menjeritlah ia.

" Waduuuh! ampuuun,mengapa kepalaku berubah menjadi domba?"

" Itu karena kesalahanmu sendiri." ujar Ki Pandhanarang

" Kembalikan ujud kepalaku seperti semula..." pinta Ki Sambangdalan

Ki Pandhanarang tidak menjawab,Ki Sambangdalan menjadi takut,maka ia terus ikut kemanapun Ki Pandhanarang pergi.

Perjalananpun sampai ke tempat tujuan,yaitu Gunung Jabalkat.tapi pada saat itu Sunan Kalijaga sedang berdakwah ke luar daerah.Ki Pandhanarang berujar kepada bahwa Ki Sambangdalan ingin menjadi manusia normal ia harus bertirakat dan bertobat.Untuk menebus dosanya Ki Sambangdalan harus mengisi jun (padasan) dengan air di bawah bukit.Jun itu tidak tertutup sehingga apabila Ki Sambangdalan sampai di atas bukit airnya sudah habis.Tapi karna ingin kepalanya kembali seperti semula maka ia tidak putus asa,tiap hari dilakukannya pekerjaan itu sambil beristigfar,tobat minta ampun kepada Tuhan.

Pada suatu hari Sunan Kalijaga datang ke tempat itu.mereka bertiga segera duduk bersimpuh,secara ajaib kepala Ki Sabangdalan kembali seperti semula,jun tempat wudhu tiba tiba penuh dengan air tanpa ada yang mengisinya.Ketiga orang itu akhirnya belajar dengan tekun ilmu syariat dan hakikat agama Islam atas bimbingan Sunan Kalijaga yang gelar Guru Suci Ing Tanah Jawa.

Akhirnya mereka dapat mencapai tataran yang tinggi berkat ketekunan dan kesabarannya.Ki Pandhanarang menjadi seorang wali dan di sebut Sunan Bayat karena menyebarkan agama Islam di daerah Bayat.Sementara Ki Sambangdalan juga menjadi seorang wali dan di sebut Syekh Domba karena kepalanya pernah menjadi domba.

Sunan Kalijaga memang sengaja menyadarkan Bupati Semarang tersebut untuk menjadi pengganti Syekh Siti Jenar yang telah di hukum mati karena di anggap sesat dan berlawanan dengan ajaran Walisongo.setelah menjadi wali Ki Pandhanarang mempunyai beberapa karomah,diantaranya adalah pada suatu ketika ia menyamar sebagai pelayan tukang pembuat kue serabi.Ikut berdagang ke pasar sambil membawa kayu bakar.Pada suatu hari pasar sangat ramai banyak orang membeli kue serabi,karena laris kayunya habis.Majikannya marah marah karena Sunan Bayat tidak membawa kayu yang banyak sehingga tidak cukup di gunakan melayani pembeli.

" Kau teledor! sekarang bagaimana? apakah tanganmu itu dapat kau gunakan sebagai pengganti kayu bakar?" hardik si majikan

Tanpa pikir panjang lagi Sunan Bayat memasukkan tangannya ke dalam tungku dapur dan tangan itu menyala mengeluarkan api.Gemparlah hari itu suasana pasar banyak orang nonton tangan yang mengeluarkan api dan banyak pula orang yang membeli ku serabi.

Setelah tahu bahwa pelayannya adalah Sunan Bayat mantan Bupati Semarang maka penjual kue serabi itu minta ampun berkali kali,akhirnya suami istri penjual kue srabi itu menjadi pengikut Sunan Bayat yang setia.

waallahua'lam.

Tembang Dolanan Karya Sunan Kalijaga syarat akan MAKNA



Tembang Dolanan Karya Sunan Kalijaga
syarat akan MAKNA
Salah satu tembang jawa yang sangat terkenal adalah Gundul Gundul Pacul sebagi beikut.

"Gundul gundul pacul cul, gemblelengan,"
"Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan,"
"Wakul ngglimpang segane dadi sak latar."

Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia.

'Gundul' adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Jadi gundul adalah kehormatan tanpa mahkota.

'Pacul' adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul ini merupakan lambang kawula rendah, rakyat jelata, kebanyakan para petani.

'Gundul pacul' artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas). Kemuliaan seseorang tergantung 4 hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.

2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.

3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.

4. Mulut digunakan untuk berkata adil dan bijaksana.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

Gembelengan artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

"Gundul-gundul pacul cul" = jika orang yang kepalanya sudah kehilangan 4 (empat) indera itu mengakibatkan 'GEMBELENGAN' (= congkak/ sombong).

"Nyunggi-Nyunggi Wakul Kul" = menjunjung amanah rakyat) dengan GEMBELENGAN (sombong hati) , akhirnya "WAKUL NGGLIMPANG" = amanah, jabatan jatuh tidak bisa dipertahankan.


"SEGANE DADI SAK LATAR"
= berantakan sia-sia, tidak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat. Jadi kalau sedangnyunggi wakul janganlah gembelengan.
NEW FAVOURITE'S GROUP 77

Sunan Kalijaga Raden Said Bertemu Sang Guru



Sunan Kalijaga
Raden Said Bertemu Sang Guru

Kemanakah Raden Said sesudah di usir dari Kadipaten Tuban?,Teryata ia mengembara tanpa tujuan pasti.Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi.selama bertahun tahun dia menjadi perampok budiman,mengapa di sebut budiman? karena hasil merampok itu tak pernah di makanya,selalu di berikan kepada fakir miskin.

Yang di rampoknya hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir tidak menyantuni rakyat kecil dan tidak mau membayar zakat.

Di hutan Jatiwangi dia membuang nama aslinya,orang menyebutnya sebagai Brandal Lokajaya.

Pada suatu hari,ada orang berjubah putih lewat di hutan Jatiwangi.Dari jauh Brandal Lokajaya sudah mengincarnya,orang tua itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan.Terus di awasi orang tua berjubah putih itu,setelah dekat dia hadang langkahnya.Tanpa banyak bicara lagi di rebut tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih,karena tongkat itu di cabut dengan paksa maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.

Dengan susah payah orang itu bangun,sepasang matanya mengeluarkan air mata walau tak ada suara tangis dari mulutnya.Raden Said pada saat itu sedang mengamati gagang tongkat yang di pegangnya,teryata gagang tongkat itu bukan terbuat dari emas,melainkan terbuat dari kuningan.Raden Said heran melihat orang itu menangis,segera di ulurkanya kembali tongkat itu.

"Jangan menangis,ini tongkatmu kukembalikan".

"Bukan tongkat ini yang kutangisi," ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa batang rumput di telapak tangannya."Lihatlah! aku telah berbuat berdosa,berbuat kesia siaan,rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi"

"Hanya beberapa lembar rumput,kau merasa berdosa?" tanya Raden Said.

"Ya,memang berdosa! karena ku mencabutnya tanpa keperluan.Andaikata kucabut guna makanan ternak itu tidak mengapa,tapi untuk ke sia siaan benar benar suatu dosa," jawab lelaki itu.

Hati Raden Said agak tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.

"Anak muda sesungguhnya apa yang kau cari di hutan ini?" tanya lelaki itu

"Saya mencari harta," jawab Raden Said

"Untuk apa?"

"Saya bagikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita".

"Hem,sungguh mulia hatimu,sayang....caramu mendapatkannya yang keliru".

"Orang tua..... apa maksudmu ?"

"Boleh aku tanya anak muda?"desah orang tua itu.

"jika kau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing,apakah tindakanmu benar?"

"Sungguh perbuatan bodoh," sahut Raden Said. "hanya menambah kotor dan bau pakaian itu saja".

Lelaki itu tersenyum, "Demikian pula amal yang kau lakukan,kau bersedekah dengan barang yang di dapat secara haram,merampok atau mencuri,itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing."

Raden Said tercekat.Lelaki itu melanjutkan ucapanya,"ALLAH itu adalah zat yang baik,hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal."

Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu.Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya,betapa keliru perbuatanya selama ini.Di pandangnya sekali lagi wajah lelaki berjubah putih itu.Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih.Dia mulai suka dan tertarik pada lelaki berjubah putih itu.

"Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentaskan kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini,kau tidak bisa merubahnya hanya dengan memberi bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin.Kau harus memperingatkan para penguasa yang dzalim agar mau merubah caranya memerintah yang sewenang wenang,kau juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupanya!".

Raden Said semakin terpana,ucapan seperti itulah yang di dambakan selama ini.

"Kalau kau tak mau kerja keras,dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah maka ambilah itu.itu barang halal,ambilah sesukamu." kata lelaki itu sembari menunjukkan pada sebuah pohon aren.

Seketika buah aren itu berubah menjadi emas seluruhnya.Sepasang mata Raden Said terbelalak.Dia pemuda sakti,banyak ragam pengalaman yang telah di kecapnya.Berbagai ilmu yang aneh aneh telah di pelajarinya,dia mengira orang itu menggunakan ilmu sihir.Tapi setelah mengerahkan ilmunya,pohon itu tetap menjadi emas.Ia heran dan penasaran dengan ilmu yang di gunakan orang itu yang mampu merubah pohon aren menjadi emas.



Selama beberapa saat Raden Said terpukau di tempatnya berdiri,dia memanjat pohon itu dan benar benar menjadi emas seluruhnya.Ia ingin mengambil buah aren yang telah menjadi emas berkilauan itu,mendadak buah aren itu rontok berjatuhan mengenai kepala Raden Said.Raden Said roboh dan pingsan.

Ketika sadar,buah aren itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti aren aren lainya.Raden Said bangkit,berdiri dan mengejar orang tua itu.Ucapan orang tua itu masih terngiang di telinganya.Tentang beramal dengan barang haram dan tentang upaya mengentaskan kemiskinan.

Segenap kemampuan Raden Said di kerahkan untuk mengejar lelaki itu,dia hanya dapat melihat bayangan dari kejauhan.Seperti santai saja orang itu melangkah,tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya,jatuh bangun,dan setelah tenaganya habis dia baru sampai di belakang orang itu.

Lelaki berjubah itu berhenti,bukan karena kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar.

"Tunggu...." ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu melangkahkan kaki.

"Sudilah Tuan menerima saya sebagai murid...." pinta Raden Said

"Menjadi muridku?" tanya orang tua itu sembari menoleh.

"Mau belajar apa?"

"Apa saja,asal Tuan menerima saya sebagai murid...."

"Berat,berat sekali anak muda,bersediakah kau menerima syaratnya?"

"Saya bersedia..."jawab Raden Said.

Lelaki itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai.Raden Said di perintah menungguinya,tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu menemuinya.dan Raden Said bersedia menerima syarat ujian itu.

Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai.Sepasang mata Raden Said terbelalak heran,lelaki itu berjalan di atas air bagaikan berjalan di daratan saja dan kakinya tidak basah terkena air.Ia semakin yakin bahwa calon gurunya itu adalah seorang berilmu tinggi,waskito dan mungkin golongan para wali.

Setelah lelaki itu menghilang dari pandangan,Raden Said duduk dan bersila,dia teringat kisah ajaib dalan Al Qur'an yaitu kisah Ashabul Kahfi.Maka dia segera berdoa kepada Tuhan supaya di tidurkan seperti para pemuda di goa Kahfi ratusan tahun silam.

Doanya di kabulkan.Raden Said tertidur dalam samadinya selama tiga tahun,akar dan rerumputan telah merambati sekujur tubuhnya dah hampir menutup sebagian besar tubuhnya.

Setelah tiga tahun lelaki berjubah putih itu datang menemui Raden Said.Tapi Raden Said tak bisa di bangunkan,barulah setelah mengumandangkan adzan,pemuda itu membuka sepasang matanya.tubuh Raden Said di bersihkan,di beri pakaian baru yang bersih.Kemudian di bawa ke Tuban,mengapa ke Tuban? Karena lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang.Raden Said kemudian di beri pelajaran agama sesuai dengan tingkatanya,yaitu tingkat para waliullah.Di kemudian hari Raden Said terkenal sebagai Sunan Kalijaga.

Kalijaga artinya orang yang menjaga sungai,karena pernah bertapa di tepi sungai.Ada juga yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah penjaga aliran kepercayaan yang hidup pada masa itu,dijaga maksudnya supaya tidak membahayakan ummat,melainkan di arahkan kepada ajaran Islam yang benar.

Ada juga yang mengartikan pertemuan Raden Said dan Sunan Bonang hanya sekedar simbol saja.kemanapun Sunan Bonang pergi selalu membawa tongkat atau pegangan hidup,itu artinya Sunan Bonang selalu membawa agama,membawa iman sebagai petunjuk jalan kehidupan.

Raden Said kemudian di suruh menjaga tongkat atau agama di tepi sungai,itu artinya Raden Said di perintah untuk terjun ke masyarakat jawa yang banyak mempunyai aliran kepercayaan dan masih berpegang pada agama lama yaitu hindu dan budha.

Sunan Bonang mampu berjalan di atas air sunga tanpa amblas ke dalam sungai,bahkan sedikitpun tidak terkena percikan air.itu artinya Sunan Bonang dapat bergaul dengan maryarakat yang berbeda agama tanpa kehilangan identitas agama yang di anut Sunan Bonang sendiri yaitu Islam.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...