primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label KERIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KERIS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Maret 2014

Dicari Orang Pinilih ( Dimaharkan Keris Pusaka Mataram) Dalam Pembuatan hanya ada 2 pemilik di Kraton Surakarta di era MAJAPAHIT

Keris Warisan Leluhur 

Dicari Orang Pinilih ( Dimaharkan Keris Pusaka Mataram) Dalam Pembuatan hanya ada 2 pemilik di Kraton Surakarta

Mohon Maaf  Keris Pusaka ini Bukan untuk diperjual belikan lagi atau dipindah pindahkan tangan Hanya yang memenuhi kreteria Pinilih yang bisa memiliki keris Pusaka ini....

KONDISI ASLI dan UTUH 
Dan Kondisi Keris Masih Asli (bukan tanpa perawatan) tetapi kami masih menjaga keasliannya...
Karena jika Pamor yang berada di keris ini ditampilkan atau ditonjolkan ...kami takut banyak kolektor yang akan berburu benda puaka ini.

Untuk yang berminat dan sejarah kepemilikan keris akan kami share (Dalam Pertemuan)
dikarenakan sangat mengandung nilai sejarah dalam GEGER PECINAN era AMANGKURAT AMRAL (Mataram Jawa)
untuk yang berminat : SMS di No. 0271 9530328
Kanjeng Kyai Sabuk Inten
(Asli Bukan dari Kalangan Prajurit .... Kepemilikan ASLI dari KALANGAN KERABAT)
dan Merupakan PIANDEL digunakan pada waktu waktu tertentu.
Nama Keris : Kanjeng Kyai Sabuk Inten
Dapur / Bentuk : Sabuk Inten
Pamor / Lambang / Filosofi : disamarkan
Era Pembuatan / Tangguh / Estimasi : Mataram Solo (PB II) Asli
Model Bilah Keris : Luk 11
Panjang Bilah Keris : 34 CM
Panjang Seluruh Keris : 42 CM
Warangka Gayaman Surakarta 

Yoni / Tuah / Khasiat : Membuat pemilik lancar Rejekinya, Omongannya banyak yang percaya, mudah dipercaya mitra, meningkatkan kepercayaan, memudahkan menjalin bisnis, Meningkatkan karir dan jabatan, meluluhkan pimpinan dan kawan.

Keterangan Tambahan : Keris yang tak kalah legendaris dari zaman peralihan Majapahit dan Demak Bintoro adalah Kyai Sabuk Inten. Keris berluk 11 ini muncul dan terkenal bersama Keris Kyai Nogososro. Dua keris ini disebut-sebut sebagai warisan zaman Majapahit. Keduanya bahkan sering disebut dalam satu rangkaian Nogososro-Sabuk Inten. 

Tak lain karena kedua keris ini diyakini sebagai sepasang lambang karahayon atau kemakmuran sebuah kerajaan. 
Keris Nogososro mewakili wahyu keprabon yang hilang dari tahta Demak dan 
Keris Sabuk Inten mewakili kemuliaan dan kejayaannya. 
Dua keris ini adalah maha karya cipta Mpu Supo.


PANDITA BALA PANDITA/RAJA BALA RAJA
(Asli Bukan dari Kalangan Prajurit .... Kepemilikan ASLI dari KALANGAN KERABAT)
dan Merupakan PIANDEL digunakan pada waktu waktu tertentu.

Nama Keris : 
Dapur / Bentuk : BETHOK
Pamor / Lambang / Filosofi : PANDITA BALA PANDITA/RAJA BALA RAJA
Era Pembuatan / Tangguh / Estimasi : Mangkunegaran 
Model Bilah Keris : lurus
Panjang Bilah Keris : 34 CM
Panjang Seluruh Keris : 42 CM
Warangka ladrang  Surakarta : Gembol Jati
Yoni / Tuah / Khasiat : Membuat pemilik lancar Rejekinya, Omongannya banyak yang percaya, mudah dipercaya mitra, meningkatkan kepercayaan, memudahkan menjalin bisnis, Meningkatkan karir dan jabatan, meluluhkan pimpinan dan kawan.

Pandita Bala Pandita atau Raja bala Raja 
ada termasuk pamor miring dan sekaligus pamor rekan. 
Arti nama Pandita Bala Pandita adalah Pendeta berpasukan pendeta.
Arti nama Raja Bala Raja adalah Raja berpasukan raja

Ditinjau dari segi tuah atau angsar, pamor keris ini sesuai dengan namanya paling cocok dimiliki oleh mereka yang menekuni dunia spiritual, termasuk para rohaniawan. dan pemimpin bangsa atau pejabat pemerintahan 

Tuah pamor ini pula menurut sebagian pencinta keris juga menyebabkan sang pemilik dipercaya orang sehingga memudahkan mencari pengikut atau murid.

Namun pamor ini tergolong sangat pemilih artinya tidak setiap orang akan merasa cocok bila memiliknya. Mereka yang masih terkadang memiliki perbuatan-perbuatan yang kurnag baik khususnya di bidang seks sebaiknya tidak usah memiliki keris berpamor keris Ini.

Selasa, 18 Februari 2014

KERIS KYAI NAGA SILOEMAN MILIK PANGERAN DIPONEGORO: IBU DARI SEGALA PUSAKA JAWA

Tapak Jejak Walisongo "Pangeran Diponegoro" 

KERIS KYAI NAGA SILOEMAN MILIK PANGERAN DIPONEGORO: IBU DARI SEGALA PUSAKA JAWA

KERIS KYAI NAGA SILOEMAN (Kyai Omyang) MILIK PANGERAN DIPONEGORO: 
IBU DARI SEGALA PUSAKA JAWA
Dua senjata keramat semasa Perang Diponegoro adalah sebuah keris dengan lekukan 21 bernama Kyai Omyang, buatan seorang empu yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit dan pedang yang berasal dari Kerajaan Demak.

misteri-keris-kyai-nogo-siloeman-milik-pangeran-diponegoro KWA
Pada saat Diponegoro ditangkap, keris itu disita Belanda. Menurut Werner Kraus dalam buku Raden Saleh, interpretation of the Arrest of Diponegoro, sebelum dikirim ke Belanda, keris pusaka itu ditunjukkan kepada salah satu panglima Diponegoro, Sentot Alibasha. Sentot membenarkannya dengan tanda tangan dan catatan dalam huruf Jawa.

Keris itu dikirim ke Raja Willem 1 di Belanda. Rupanya, sang raja tidak tertarik dengan ibu dari segala pusaka di Jawa itu. Di samping, sang raja harus menghadapi persoalan pemberontakan Belgia. Dia mengirim pusaka itu ke Koninklijk Kabinet van Zeldsaamheden, kabinet untuk pusaka-pusaka.

Direktur kabinet van de Kasteele tidak bisa membaca catatan Sentot. Tetapi dia butuh teks untuk katalog. Dan satu-satunya orang Jawa yang bisa membaca catatan Sentot itu di Belanda adalah Raden Saleh!


Saleh menulis catatan kecil tentang ibu dari pusaka Jawa itu pada 17 Januari 1831: Kyai berarti Guru. Seseorang yang menjadi bagian dari penguasa disebut demikian. Nogo adalah ular mistis yang dipercaya memakai mahkota. Siloeman, selalu dihubungkan dengan kepercayaan atas kekuatan supranatural, seperti membuat diri sendiri tidak terlihat. Nama keris Kyai Nogo Siloeman mempunyai arti, apabila memang memungkinkan untuk diterjemahkan mengingat betapa luar biasanya pengaruh keris ini, Raja Naga berkekuatan magis.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Raden Saleh, anak muda Jawa yang berada ribuan kilometer dari asal usulnya menyaksikan ibu dari segala pusaka di Jawa, Kyai Nogo Siloeman. Saat ini, keris itu sudah tidak ada lagi di Belanda. Apakah keris itu kembali sendiri ke Jawa, atau dipinjam oleh Raden Saleh, masih jadi misteri?

lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro”. Lukisan yang aslinya bernama “Lukisan Bersejarah, Penangkapan Pemimpin Jawa Dipanagara” itu disimpan di Istana Merdeka, Jakarta. (sumber link terkait Raden Saleh) 

Jumat, 31 Januari 2014

KERIS KYAI SENGKELAT, BERBAHAN BAKU BESI RUNCING PENGGIRING ONTA

Keris 

KERIS KYAI SENGKELAT, BERBAHAN BAKU BESI RUNCING PENGGIRING ONTA

Keris "Kyai Sengkelat"
Dikisahkan :
Kyai Sengkelat adalah nama sebuah keris pusaka luk tiga belas karya Mpu Supa Mandagri  yang dibuat pada jaman Majapahit (1466–1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V). 

Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat Kyai Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta. Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Ketika besi itu ditanyakan berasal dari mana, dijawab lah bahwa besi itu milik Nabi Muhammad SAW. Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang.

Namun, Mpu Supa merasa sayang jika besi tosan aji tersebut dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama Kyai Sengkelat. Setelah selesai dibuat, maka keris tersebut diserahkannya kepada Sunan Ampel. Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Sunan Ampel menghendaki besi itu dijadikan pedang yang lebih cocok dengan budaya Arab, tempat asal agama Islam, sedang  keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu. Maka oleh Sunan Ampel menyarankan  agar Keris Kyai Sengkelat tersebut diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.

Ketika Prabu Brawijaya V melihat keris Kyai Sengkelat tersebut, sang Prabu sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat. Dan setelah diterimanya, keris tersebut menjadi salah satu Pusaka Kerajaan dan diberi gelar Kangjeng Kyai Ageng Puworo, mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.

Pusaka baru kerajaan Majapahit yang bernama Kyai Sengkelat itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan. Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan kersi tersbut berhasil dicuri.

Raja Majapahit kemudian memberi tugas kepada Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit. Dalam menjalankan tugasnya, Mpu Supa menyamar sebagai seorang pandai besi yang membuat berbagai alat pertanian dan mengganti namanya menjadi Ki Nambang.

Di samping pandai membuat alat pertanian, beliau juga membuat tombak, pedang dan keris yang kemudian dipamerkan di tempat-tempat keramaian di Blambangan. Seketika pameran tersebut memancing perhatian banyak orang. Banyak sekali pesanan datang dari para pejabat kadipaten Blambangan. Termasuk patih Adipati Blambangan yang memesan Keris Carangsoka.

Akhirnya sang adipati Blambangan menyaksikan keris ciptaan Ki Nambang, sebilah keris Carangsoka yang sangat bagus dan ampuh. Ketika ditusukkan ke pohon pisang, seketika itu seluruh daun pisang menjadi layu. Karenanya sang Mpu di undang untuk menghadap ke kadipaten guna membicarakan suatu hal yang rahasia.

Ternyata setelah Ki Nambang datang menghadap, didapatnya tugas untuk membuat atau tiruan Kangjeng Kyai Puworo (Keris Sengkelat). Ki Nambang alias Mpu Supa dengan siasatnya meminta disediakan perahu untuk membuat tiruan Kyai Sengkelat dengan alasan percikan bunga api besi bahan kerisnya tidak menimbulkan bencana bagi rakyat Blambangan.

Singkat cerita, akhirnya rencana mendapatkan kembali keris pusaka Majapahit itu berhasil tanpa harus menimbulkan kecurigaan dan pertumpahan darah. Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi seorang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri, serta mendapatkan gelar kebangsawanan sebagai Kangjeng Pangeran berikut tanah perdikan di Desa Pitrang. Maka namanya pun berubah menjadi Kanjeng Pangeran Pitrang yang bekerja sebagai mpu kadipaten Blambangan.

Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit. Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan membuat keris.

Keris dan Tantangan Para Pelestari Blambangan "Blambangan dalam kerahasiaan"

Majapahit

Keris dan Tantangan Para Pelestari Blambangan

Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa.
Candi Tawangalun
Candi Tawang Alun berada di desa Buncitan dan posisinya persis dibelakang kompleks Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) Buncitan kecamatan Sedati.
Blambangan
  • Sejak kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1527, Blambangan berdiri sendiri, namun dalam kurun waktu dua abad lebih (antara tahun 1546-1764) menjadi rebutan kerajaan di sekitarnya.
  • Antara lain kerajaan Demak dan Mataram di Jawa Tengah, juga kerajaan di Bali (Gelgel, Buleleng dan kemudian Kerajaan Mengwi) bergantian menyerang Blambangan dalam kurun dua abad itu.
  • Selama 42 tahun (1655 sampai 1697) terjadi 4 kali pemberontakan, dan 4 kali perpindahan ibukota. Kedudukan istana di Kedawung dipindahkan ke Bayu (1655), kemudian ke Macanputih dan akhirnya ke Kutalateng.
  • Selanjutnya perang yang berkepanjangan mengakibatkan istana pindah lagi ke Ulupampang, dan akhirnya ke Banyuwangi pada tahun 1774.

Blambangan dalam kerahasiaan
  • Blambangan mentorehkan gejolak politik yang sangat ruwet dan tidak memiliki peninggalan-peninggalan penting yang dapat menyingkap kesejarahannya.
  • Tulisan-tulisan tentang Blambangan tercampur aduk dengan "mitos" dan legenda, fakta sejarah sangat sulit dirangkai. Padahal Blambangan sejak lama mendapat perhatian penulis asing. Brandes menulis dalam tinjauan filologi pada 1894, Pigeaud pada tahun 1932. Ann Kumar pada 1979, Winarsih Arifin pada tahun 1980, dan Darusuprapto menulis 1984. Semuanya tidak berani masuk dalam tulisan sejarah.
  • Tahun 1927, J.W. de Stoppelaar berhasil menyelesaikan tulisannya, namun dalam bidang hukum adat.
  • Kemudian Atmosoedirdjo menulis kajiannya dalam bidang yang sama pula (hukum Adat) tahun 1932.
  • Hasil kajian mengenai Blambangan dengan demikian terbatas pada dua bidang ilmu, yaitu Filologi dan Hukum Adat. Keduanya di luar bidang Ilmu Sejarah.
  • Tahun 1923 ada penulis C. Lekkerkerker (nama samaran) memberanikan menuliskan sejarah Blambangan.
Blambangan sebagai daerah otonom
Bukti autentiknya adalah Prasasti Gunung Butak 1294 M, menyebutkan perjanjian antara Raden Wijaya sebagai pendiri Majapahit dengan Arya Wiraraja yang telah banyak membantu dalam mendirikan kerajaan Majapahit bahwa "pulau Jawa akan dibagi menjadi dua bagian dan masing-masing mendapat sebagian".


Dalam perjanjian itu Arya Wiraraja diberi kekuasaan atas wilayah Lumajang Utara, Lumajang Selatan dan Tigang Juru yang semua itu menjadi wilayah yang dikenal dengan Blambangan. Arya Wiraraja sebagai adipati pertama. (C. Lekkerkerker, 1923:220).

  • 16 tahun Arya Wiraraja memerintah Blambangan kemudian digantikan oleh Arya Nambi (1311-1331 M); di Majapahit, juga terjadi pergantian kekuasaan Raden Wijaya kepada anaknya, Jayanegara.
  • Jayanegara, tidak seperti ayahnya, ia melakukan penindasan dan menyengsarakan rakyat.
  • Oleh karena itu 1316 M, Arya Nambi menyerang Jayanegara, serentetan peristiwa yang kemudian berulang terus menerus menjadi pertarungan antara penguasa pusat dan penguasa Blambangan.
  • Hubungan Blambangan-Majapahit keruh ketika Bhre Wirabumi, anak Hayam Wuruk dari selir, bertahta di Blambangan (1364-1406 M) menentang pusat, perang Paregreg meletus. Namun Bhre Wirabhumi terbunuh pada 1328 Saka (1406 M) oleh prajurit pusat pimpinan Wikramawardhana.
Blambangan dan pengaruh luar
  • Haagerdal (1995:106-107) dan Beatty (2001:17) menyebut bahwa Blambangan menjadi tempat pengungsian bangsawan dan cendekiawan Majapahit yang melarikan diri karena Majapahit juga semakin tak menentu, mereka mendekati Bali untuk membangun aliansi.
Pengaruh budaya Mataram Islam
  • Pada tahun 1639 M, Mataram di Jawa Tengah berhasil menaklukkan Blambangan; rakyat Blambangan banyak yang terbunuh dan dibuang. (G.D.E. Haal, seperti yang dikutip Anderson, 1982; 75).
  • Dibawah kekuasaan Mataram inilah penduduk Blambangan mulai masuk Islam, namun tidak terjadi pergeseran struktur sosial dan kebudayaan, oleh karena kuatnya adat Blambangan (suku/wong Using) yang terus dipertahankan.

Keris Blambangan dan pengaruh jamannya
Keris Blambangan mengalami tiga (pengaruh) jamannya :
  • Keris Blambangan dalam pengaruh Majapahit.
  • Keris Blambangan dalam pengaruh Mataram dan Madura, karena Blambangan saling membahu dengan Madura dimana merasa sehati dalam pemberontakan Trunojojo (melawan Amangkurat).
  • Keris Blambangan dalam pengaruh Bali, ketika jaman keemasan Dalem Waturenggong yang makmur, dan kerajaan Gelgel meluas ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Dalam bidang seni dan kesusastraan mencapai puncak keemasan.
Adanya indikasi terpengaruh Bali
Pada saat Dalem Ngulesir menjadi raja, pusat pemerintahan dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel (Sweca Pura).
Dalem Ketut Semara Kepakisan pada tahun Saka 1305 (1383 M) adalah satu-satunya raja dari Dinasti Kepakisan yang sempat menghadap Raja Sri Hayam Wuruk di Majapahit. Beliau mendapat hadiah keris Ki Durga Dungkul (wilut), Ki Bengawan Canggu kemudian Ki Sudamala keris ini masih disimpan di Puri Karang Asem berbentuk relief berserat sanak.
Dalem Ketut Semara Kepakisan dalam perjalanannya singgah lama di Blambangan sebelum kembali.

Keris Blambangan dan ciri-cirinya
Menurut buku kuno : Gonjo sebit rontal; gandik agak pendek dan miring (doyong); Sogokan pendek dangkal (cekak); Luwes walau tidak rengkol luknya.

Analisa dari realita sejarah:
1. Keris Blambangan era Majapahit, Tidak berbeda jauh dengan tangguh Majapahit, empu yang tercatat a.n: empu Bramakedali, Kekep, Luwuk, Kebolungan, Ki Pitrang/Rambang dan Jaka Sura (anak Pitrang). Ada catatan bahwa karya empu Pitrang paling tersohor, biasanya bilahnya gilig (wuwung), pamornya nyekrak (miring) dan bentuknya luwes, luknya rengkol sedang.



Gonjo Sebit Rontal Gandik Pendek Miring


Karya Pitrang/Ki Rambang atau Supa Mandrangi - Pangeran Sedayu


Gandiknya miring, bilah wuwung (gilig)


Kembang kacang nggantung Lambe gajah diatas tidak landai


2. Era keris Blambangan dalam pengaruh Mataram dan Madura. Ciri-cirinya jika memakai sogokan agak lurus dan dangkal, luk pertama tinggi, sering luknya datar. Besi dan pamornya menyerupai bahan besi keris Tuban, grenengnya seperti keris Madura, secara keseluruhan seperti Mataram, mungkin keris Blambangan menjadi patron keris Mataram, atau sebaliknya, bedanya pada ukuran bilahnya lebih panjang (corok). Jika bergandik naga, biasanya naga primitif.


Lihat rancang bangun Keris Madura dan keris karya Jaka Sura

3. Era keris Blambangan dalam pengaruh keris Bali. Ciri-cirinya mirip keris Bali, namun bahan besi dan pamornya seperti bahan keris Jawa dan penampilannya tidak licin seperti keris Bali. Pamornya mirip bahan pamor tangguh Tuban, grenengnya seperti greneng Majapahit, namun rincikan lain seperti kembang kacang dan lambe gajah seperti ciri keris Bali.


Pengaruh Bali - besi mirip bahan keris Tuban

Akan kemanakah keris kamardikan gaya Blambangan?
Para pelestari keris sering ingin mencari gaya spesifik kedaerahannya, namun keris tangguh Blambangan berdiri dalam berbagai pengaruh kekuasaan masa itu. Hal ini menjadi tantangan bagi pelestariannya.

Namun ada hal yang perlu dipertimbangkan pula adalah bahwa keris dalam kenyataannya memiliki nilai non-bendawi yang harus diperhatikan dan dilestarikan.

Selain menciptakan keris unggul dalam segi bentuknya, sebagai artefak budaya perlu dipahami adanya 7 (tujuh) aspek nilai non-bendawi keris yang harus dilestarikan :

1. Kesejarahan; 2. Fungsi Sosial; 3. Tradisi; 4. Filosofi; 5. Mistik/magis; 6. Seni/kesenirupaan; 7. Teknologi

Aspek Kesejarahan
Secara ilmiah, keris selalu berkaitan dengan artefak budaya seperti relief pada candi, misal candi Sukuh, Penataran, Borobudur dll,
Kata kris telah tertulis dalam Prasasti Rukam, Prasasti Dakuwu dll,
Keris ditemui dalam buku sejarah, BABAD, kisah-kisah Legenda, buku-buku Padhuwungan dll.

Sudut pandang pelestarian keris kamardikan dapat mencari sumber dari aspek kesejarahannya.

Aspek Fungsi Sosial
Awalnya sebagai senjata tikam, untuk perang campuh satu lawan satu.
Bergeser menjadi jimat/piyandel/pusaka yang menjadi keyakinan.
Karena campur tangan raja (kekuasaan), keris berfungsi sebagai penanda status sosial, kepangkatan, penggolongan profesi dll.
Keris sebagai pelengkap busana.
Cinderamata persahabatan antar kerajaan.

Keris Kamardikan perlu dicari kemanfaatannya pula.


Relief di Candi Panataran (1347 SM) - dulu keris sebagai senjata tikam.


Sekarang sebagai pelengkap busana, keris semakin dibutuhkan oleh karena kesadaran terhadap budaya dan jati diri bangsa.

Aspek Tradisi
Adanya tradisi pemberian keris kepada menantu lelaki yang disebut “kancing gelung”.
Sebagai legitimasi estafet pelimpahan kekuasaan. (Misal keris Kyai Joko Piturun, Kyai Plered di keraton MATARAM).
Tradisi menjamas pusaka di bulan Suro atau Maulud dan kirab pusaka.
Tradisi membangkitkan kembali kekuatan (tuah) keris seperti upacara ‘Sidhikara Pusaka’ dan Pasupati/Tumpak landep (di Bali).

Perlunya melestarikan tradisi perkerisan dalam memberi bobot budaya pada keris kamardikan.


Upacara Pasopati/Tumpek Landep 2007 di Bali

Aspek Filosofi
Adanya ungkapan : “curigo manjing warangka, warangka manjing curigo”, filosofi menunggaling kawula Gusti.
Makna bentuk bilah (dapur) dan makna motif pamor sebagai pengharapan dapat tercapainya suatu tujuan.
Adanya penandaan dari empu untuk menuangkan pesan tertentu (semiotik).

Keris kamardikan harus memiliki konsep dan filosofi yang argumentatif.


Motif Pamor memiliki makna sebagai pengharapan dapat tercapainya suatu tujuan.

Aspek Mistik/Magis
Karena kekaguman manusia saat itu, terhadap penemuan teknologi besi yang dianggap sebagai ‘inspirasi dewa’ dan prosesi pembuatan dengan diiringi upacara–upacara.
Pengagungan terhadap profesi para empu (panday wsi) berlanjut karena para Ksatrya dan Raja membutuhkan senjata ampuh, dan para empu dianggap sakti.
Pengagungan ini melahirkan budaya spiritual ketika peristiwa-peristiwa gaib bersentuhan dalam masyarakatnya.

Proses penciptaan keris kamardikan
perlu adanya ritual atau penyertaan do’a yang bertujuan untuk kebaikan manusia.

Aspek Seni/Kesenirupaan
Bentuk keris yang a-simetri dan unik, tiada duanya di dunia.
Nilai harmoni yang sanggup dimuati oleh “kebutuhan teknomik”, keris dibuat condong dan berluk untuk memaksimalkan fungsinya sebagai senjata tikam.
Keris merupakan media ekspresi yang dituangkan dalam bentuk bilah (dapur), motif-motif pamor, rancang bangun dan variasinya, serta kelengkapan sarung dan asesorinya sebagai media seni.

Seni keris kamardikan harus kreatif untuk konteks kontemporer, dan harus tepat pakem jika dalam konteks konvensional (mutrani keris tangguh tua).


Dhapur keris merupakan media ekspresi yang dapat dituangkan dalam bentuk-bentuk bilah (dapur).

Aspek Teknologi
Terdapat banyak hal yang menjadi kekaguman para peneliti asing, misalnya :
- Pengadaan material (bahan dari meteor jatuh).
- Teknik tempa penyatuan logam heterogen secara hand-made yang merupakan metallurgy kuno sebagai unggulan yang tiada duanya.
- Teknologi kuno ’pengerasan’ (karburasi/nyepuh) besi low carbon menjadi high carbon yang keras/tajam tampaknya memiliki kekayaan variasi teknik dan rahasia yang belum diketahui secara teknologi modern. (Prof. Dr. Mardjono Siswosuwarno - ITB).

Perlu pengadaan material bermutu, serta penjiwaan yang dalam dan sakral, walau telah menggunakan modernisasi peralatan.

Dengan semangat membara, tulus dan sadar budaya. Pelestarian akan berlanjut hingga anak cucu kita, keris sebagai warisan budaya adiluhung bangsa Nusantara, tidak lagi dikawatirkan punah.
Terima kasih kepada teman-teman yang koleksi kerisnya terpampang disini, etikad pembuatan makalah ini adalah untuk sebuah kemanfaatan bersama.


Petilasan Raja Kerajaan Blambangan Banyuwangi

arkeologi Kerajaan Blambangan. Kerajaan ini termasuk bercorak Hindu yang pernah berjaya di Jawa Timur. Tepatnya di Kabupaten Banyuwangi. Kalau berbicara soal Kerajaan Blambangan tentu tak luput dari penemuan arkeologinya.
Petilasan Kerajaan Blambangan Banyuwangi
Ada banyak tentunya, mulai dari benteng, guci, patung, dan lain-lain. Namun, kali ini perjalanan gua khusus menuju petilasan persemadian Prabu Tawang Alun. Kawasan ini terletak di Keraton Macan Putih, tepi jalan raya Banyuwangi sebelum memasuki Kecamatan Rogojampi.

Petilasan Umpak Songo Banyuwangi

Petilasan tersebut berada di dusun krajan desa tembokrejo kecamatan muncar Banyuwangi dan bernama umpak songo. “Umpak Songo” merupakan situs peninggalan Kerajaan Blambangan yang menyerupai punden berundak yang di atasnya terletak beberapa batu besar dan tertata rapi menyerupai bentuk persegi. Umpak Songo diartikan sebagai batu berjumlah sembilan yang bagian tengahnya terdapat lubang bekas tiang-tiang penyangga, bagian bangunan Kerajaan Blambangan pernah berdiri. 


Referensi:
  • Beatty, Andrew. 2001. Variasi Agama di Jawa: Suatu Pendekatan Antropologi. Jakarta: Murai Kencana.
  • Brandes, J. 1920. Verslag Over Een Babad Blambangan. TBG:XXXVI.
  • Darusuprapta, 1984. Babad Blambangan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Epp. F. 1849. Banjoewangi. TNI I.ii: 242-246
  • DR. Dharsono, MSn; KERIS NUSANTARA Revitalisasi melalui upaya konservasi; 1926 thesis.
  • Groneman, J. DR. (1910). Wet er van de Pamor Smeedkunts worden zal (The condition of pamor art in the future), Semarang: Harian De Lokomotif, 19 July.
  • Harsrinuksmo, Bambang (tth), Katurangganing Dhuwung-dhuwung, Surakarta: Mangkunegaran Library H 124 & H 125.
  • Haryono Haryoguritno; Keris Sebagai Warisan Budaya Dunia; Puri Wiji thesis, December 2007.
  • Lekkerkerker. 1926. Banyuwangi 1880-1910. Indische Gids.
  • Raharjo, Sunaryo. (1977). Andalan Bab Pusoko Tosan Aji. Surakarta: Mangkunegaran Library H 128.
  • Stoppelaar, J.W. 1927. Blambangan Adatrecht. Wageningen: H. Veenman & Zonen.
  • Worsley, P.J. 1972. Babad Buleleng: A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague: KITLV-BI No.8.
  • Wikipedia; Sites on internet, oral sources.

Selasa, 28 Januari 2014

KERIS KYAI CARUBUK, SENJATA PUSAKA KANJENG SUNAN KALIJAGA



KERIS KYAI CARUBUK, SENJATA PUSAKA KANJENG SUNAN KALIJAGA
Keris Kyai Carubuk
Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga. Terkait keris pusaka dan sakti di Indonesia, dalam khanazah sejarah dan budaya nusantara, kebanyakan keris sakti berasal dari pulau Jawa, terutama di era kejayaan Kerajaan Majapahit. Banyak cerita, kisah dan juga mitos seputar keris. Konon, keris yang memiliki kesaktian tidak sembarangan bisa dimiliki, harus memiliki kecocokan atau berjodoh dengan yang memegangnya. Banyak yang meyakini juga keris yang sakti bisa berdiri sendiri jika diminta oleh pemegangnya, dan banyak lagi cerita lainnya tentang kesaktian keris ini. Kali ini, infomistik akan membawa anda ke wilayah kajian keris pada konteks sejarah. Terkait sejarah ini, ada bebeberapa keris yang terkenal dan paling populer di Indonesia, salah satunya adalah Keris Kyai Carubuk, Senjata Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga

Keris Kyai Carubuk ini adalah mahakarya ketiga dari Mpu Supa Madrangi selain Keris Kyai Sangkelat dan Keris Kyai Nagasasra. Keris ini juga merupakan peninggalan Mahapahit.

Dalam satu legenda dikisahkan, Kanjeng Sunan Kalijaga meminta tolong kepada Mpu Supa Mandragi untuk dibuatkan sebuah keris coten-sembelih (untuk menyembelih kambing). Sunan Kaljaga memberikan besi yang ukurannya sebesar biji asam jawa sebagai bahan pembuatan keris kepada Mpu Supa Mandrangi. Mengetahui besarnya calon besi tersebut, Empu Supa sedikit terkejut. Namun setelah Mpu Supa menerima besi tersebut dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Ia berkata “besi ini bobotnya berat sekali, tak seimbang dengan besar wujudnya dan tidak yakin apakah cukup untuk dibuat keris”. Lalu Sunan Kalijaga berkata “besi itu tidak hanya sebesar biji asam jawa tetapi besarnya seperti gunung”. Karena ampuhnya perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga, pada waktu itu juga besi yang sebesar biji asam jawa tersebut menjelma menjadi sebesar gunung. Hati empu Supa menjadi gugup, karena mengetahui bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga memang benar-benar wali yang dikasihi oleh Sang Pencipta Kehidupan, yang bebas mencipta apapun. Lantaran itu, empu Supa berlutut dan takut.

Ringkas cerita, besipun kemudian dikerjakan oleh Mpu Supa Mandrangi. Tidak lama kemudian, jadilah sebilah keris, kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Begitu melihat bentuk kerisnya, Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi kaget karena hasil kejadian keris itu berbeda jauh sekali dengan yang dimaksudkan. Semula ia bermaksud meminta dibuatkan keris untuk menyembelih kambing, ternyata yang dihasilkan adalah keris Jawa (baca Nusantara) asli Majapahit, luk tujuhbelas. Begitu mengetahui keindahan keris, perasaan Kanjeng Sunan Kalijaga tersentuh, oleh karena itu mengamatinya sempai puas tidak bosan-bosannya. Kemudian ia berkata sambil tertawa dan memuji keindahan keris itu.

Kemudian Kanjeng Sunan Kaljaga memberikan besi sebesar biji kemiri kepada Mpu Supa Mandrangi dan meminta Mpu Supa Mandrangi untuk membuatkannya sebilah keris lagi. Lalu Empu Supa mengerjakannya, dan setelah dikerjakan, jadilah sebilah keris mirip pedang suduk (seperti golok atau belati). Kemudian Mpu Supa Mandrangi menyerahkan keris tersebut kepada Kanjeng Sunan Kaljaga. Begitu mengetahui wujud keris yang dihasilkan, Kanjeng Sunan Kalijaga sangat senang hatinya dan menamai keris tersebut dengan nama “Keris Kyai Carubuk”.

Keris Kyai Carubuk ini kemudian menjadi senjata pusaka Sultan hadiwijaya, dan pernah digunakan bahkan sanggup mengalahkan keris Kyai Setan Kober milik arya penangsang yang ketika itu digunakan oleh pesuruh Arya Penangsang untuk melakukan percobaan pembunuhan kepada Sultan Hadiwijaya.  

Karena utusan Arya Penangsang dapat dikalahkan, keris Kyai Setan Kober diambil oleh Sultan Hadiwjaya, lalu dikembalikan sendiri oleh Sultan Hadiwjaya kepada Arya Penangsang yang membuat Arya Penangsang tersinggung dan marah.  Karena Arya Penangsang tersinggung dan marah, maka timbul kerbutan antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya, dan keributan tersebut dapat dihentikan oleh Kanjeng Sunan Kudus.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...