primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label SUNAN DRAJAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUNAN DRAJAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur, Kabupaten Lamongan

Walisongo 

Tapak Jejak "SUNAN DRAJAT"  (Walisongo Periode Ketiga)

Tapak Jejak "SUNAN DRAJAT"  (Walisongo Periode Ketiga)

Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur, Kabupaten Lamongan

Tradisi lisan menuturkan bahwa Sunan Drajat ingin menemui R.Nur Rahmat. Sunan Drajat pergi berkunjung ke Kampung Patunon tempat tinggal Nur Rahmat yang kemudian menjadi sebuah desa perdikan cukup maju dan makmur dengan nama Desa Sendang Duwur. n -eritakan bahwa Sunan Drajat mula-mula menyatakan ingin minum 2en dan makan buah siwalan. Sunan Drajat meminta izin R.Nur Rahmat untuk mengambilnya. Dengan khidmat R.Nur Setelah Sunan Drajat merasa kunjungannya sudah cukup, lalu minta diri untuk kembali ke Drajat. R.Nur Rahmat mengiringkan perjalanan beliau. Di tengah jalan, Sunan Drajat mengajak istirahat. Tatkala diketahui ada tanaman wilus, atau ubi hutan, beliau menyuruh kepada pembantunya menggali wilus itu dan membakarnya untuk dimakan. Wilus berhasil digali dan ternyata besar, lalu disuruh membelah menjadi dua, separoh untuk dibakar dan separoh dibawa pulang. R. Nur Rahmat memohon izin agar tidak terlalu repot dan lama, wilus tersebut diminta lalu dimasukkan kembali ke lubang asalnya, kemudian dicabut kembali. Ternyata wilus itu separoh matang dan yang separoh masih mentah. Sunan Drajat terkejut sampai nafasnya turun naik (Jawa = menggeh-menggeh). Dari kata menggeh-menggeh itu lalu hutan atau tanah tersebut oleh Sunan Drajat disebut Sumenggeh yang kemudian berubah menjadi Sumenggah.
Rahmat mempersilakan. Sunan Drajat menghampiri sebuah pohon siwalan /ang besar kemudian batangnya di tepuk tiga kali. Legen (air nira) dan seluruh buah siwalan tersebut jatuh tidak ada yang tersisa. R. Nur Rahmat mengatakan bahwa cara seperti itu akan membawa kerugian pada anak cucu, karena mereka tidak memperoleh bagian apa-apa nantinya. R. Nur Rahmat kemudian mengusap pohon yang besar tiga. kali dan dengan izin Allah pohon itu dapat merunduk tepat di hadapan Sunan Drajat. R.Nur Rahmat mempersilakan mengambil mana yang diinginkan legen atau siwalannya, setelah itu pohon itu kembali tegak.
Setelah menyaksikan dan yakin akan ketinggian ilmu R.Nur Rahmat,18 Sunan Drajat memberinya gelar Sunan dan nama tempat tinggalnya diberi nama Sendang dan dihubungkan dengan Drajat, sehingga R. Nur Rahmat secara Ungkap bergelar Sunan Sendang Drajat.Ada anggapan sementara orang, bahwa cerita tentang kesaktian~R.Nur Rahmat tersebut dapat merendahkan martabat Sunan Drajat dan di lain pihak mengunggulkan Sunan Sendang; padahal pengakuan umum menyatakan bahwa yang masuk dalam jajaran walisanga adalah Sunan Drajat. Anggapan itu bukannya tidak beralasan, sebab ada penutur cerita yang menggunakan kalimat yang bernada mengecilkan ‘ilmu’ (Jawa = ngelmu) bahkan martabat Sunan Drajat. Seperti misalnya cerita yang ditulis oleh R.A.Nataningrat, Wedana Paciran (1930) dalam Het Heiligdom van Sendang Doewoer :
“Sampun lami-lami kocapa kangjeng Sunan Drajat saben-saben bakda waktu Jumaah ngendika klayan ketip modin semu ngegungaken kang salira saben-saben waktu pengendikane : Wus ora nana pengocape kaya ingsun, ora ketip modin, Sunan Ratu Giripura lawan Sunan Ngampeldenta Surabaya, iku ora ana madani maring ingsun digjayane utawa kemandenaningsun. Sampune lami-lami ketip modin sami matur klayan kangjeng Sunan Drajat mergi saking kakene manahe, aturipun ketip modin : Gusti, sampun sampeyan makaten, kilen ngriki wonten tiyang maksih lare dedekah bagor siwalan, maksih sami ngamaruna, sami dipun-bogor sedaya. Kangjeng Sunan lajeng duka sajroning galih. . . . Jeng Sunan lajeng nginum legen kalayan dahar ental, kinarpat lipur rengune galih, lawan semu kalangkung sanget dukane kang galih.”
Terjemahan kutipan tersebut lebih kurang :
Sudah berkali-kali, Sunan Drajat yang merasa dirinya besar, setiap habis salat Jum’at, berkata kepada ketib dan modin : “Sudah tidak ada lagi yang dapat menandingi saya dalam hal kedigjayaan atau kehebatan, ya ketib modin, Sunan Giri maupun Sunan Ampeldenta Surabaya.” Sudah sering ketib modin menyampaikan pendapat kepada Sunan Drajat karena kekakuan hatinya itu, Paduka, janganlah tuan berkata begitu, di sebelah barat sini ada orang muda bertempat tinggal untuk mengambil nira (legen) dari pohon siwalan. Masih muda tetapi sudah diambil niranya, semuanya tanpa kecuali. Sunan Drajat merasa marah dalam hati . . . Sunan Drajat mencoba menghibur perasaan yang tidak senang sehingga perasaan marahnya yang amat sangat itu tidak kelihatan).
Cerita tersebut di atas memang bernada merendahkan Sunan Drajat. Dikatakan Sunan Drajat merasa diri paling pandai, paling hebat, paling sakti, siapapun tidak ada yang menandingi sekalipun Sunan Giri atau Sunan Ampel. Sunan Drajat terlalu kaku hatinya dan merasa marah ketika diberi tahu bahwa di sebelah barat Desa Drajat ada seorang anak muda yang bertempat tinggal di suatu dukuh yang banyak pohon siwalan. Ketika beliau gagal mengambil legen dan buah siwalan (ental) lalu diambilkan oleh R.Nur Rahmat dengan cara yang mengagumkan Sunan Drajat dengan terpaksa minum legen dan makan (daging) siwalan tersebut dengan maksud menghibur (meredam) rasa marah.
Sikap perangai dan kata-kata seperti yang dituturkan oleh R.A.Nata tersebut di atas, tentu sulit dipercaya pernah keluar dari hati dan lisan Sunan Drajat,  Kutipan tersebut antara lain. menggambarkan bahwa Sunan Drajat berperangai rendah, jiwa dan nafsunya belum mengendap (Jawa = Menep), suka dan mudah marah, seperti digambarkan, “Kangjeng Sunan lajeng duko sajroning galih • • • ” dan “lawan semu kalangkung sanget dukane kang galih • • • “
Sunan Drajat tidak akan berani memandang rendah (Jawa = nyampahi) Sunan Giri yang lebih tua apalagi Sunan Ampel ayah dan sekaligus gurunya. Sunan Drajat kiranya bukan orang yang dikenal durhaka kepada orang tuanya dan kakak seperguruannya. Beliau termasuk orang yang diangkat derajatnya terpilih menjadi Wali (jinunjung derajate dadi Wali),  yaitu setelah melalui proses “tapa” dengan menahan diri dari tidur dan makan selama tiga bulan. Dengan demikian, Sunan Drajat jiwa dan nafsunya telah “meneb” yakni telah mengendap dan jernih, jadi bukan “orang sembarangan” (Jawa = wong pidak pedarakan). Boleh jadi gambaran sikap, perangai dan kata-kata tersebut di atas adalah imajinasi atau rekaan dan anggapan Nataningrat belaka.
Anggapan seperti tersebut di atas, memang bisa saja terjadi sebagai akibat sikap terlalu fanatik terhadap tokoh yang dihormati atau tokoh ikutan yang diyakini kebenaran pendapat dan kehebatan ilmunya. Anggapan seperti itu mendorong sikap kultus individu dan menganggap siapapun yang lain serba salah atau rendah. Hal seperti itu juga terjadi di kalangan pengikut Imam Mazhab, seperti sikap dan anggapan al-Karkhi karena terlalu kagum dan fanatik terhadap Imam ikutannya, ia tidak hanya memandang rendah kepada pendapat para Imam Mazhab yang lain, malah sampai keluar batas dengan mengatakan : kullu ayatin aw hadisin yukhdlifu ma ‘alaihi ashabutia fahuwa “ntawwahm aw mansukhun.” (Setiap ayat atau hadits yang tidak sesuai dengan pendapat imam kami, maka harus ditakwilkan atau dimansukh).
Kalau cerita-cerita tentang Sunan Drajat dalam hubungannya dengan Nur Rahmat itu benar terjadi, maka cerita tersebut di atas sebenarnya dapat dipahami secara wajar dan benar. Sunan Drajat dan Sunan Sendang sekalipun berbeda usia, tetapi setidaknya, menurut nuansa cerita itu keduanya hidup dalam satu masa. Keduanya mengambil tempat di pantai utara Lamongan yang waktu itu menjadi wilayah Sidayulawas) dan tidak berjauhan satu dengan yang lain. Ini mengandung makna bahwa wilayah itu strategis dalam kaitannya dengan dakwah Islam. Wilayah Jawa Timur menurut penilaian Suryanegara menjadi pusat kekuasaan politik yaitu Kerajaan Kediri dan Majapahit; itu sebabnya wali penyebar Islam sampai lima orang. Artinya wilayah ini memerlukan tenaga yang banyak dan mumpuni atau berkualitas. Wali penyebar Islam di pantai utara Jawa Timur antara Surabaya – Tuban (berjarak kurang dari 100 Km) adalah Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Drajat dan Sunan Bonang.
Dengan memahami legenda dalam konteks sejarah seperti itu maka Sunan Drajat memandang penting kehadiran R.Nur Rahmat atau Sunan Sendang yang memiliki kesaktian dan semangat juang menegakkan agama Islam di tengah- tengah masyarakat yang masih kental dengan kepercayaan lamanya. Tanda bahwa kepercayaan lama demikian kuat tergambar secara jelas pada situs makam dan masjid Sendang Duwur yang sampai sekarang masih utuh.
Kekuatan dakwah waktu itu tidak hanya mengandalkan kefasihan bacaan Qur’an dan Hadis serta pengetahuan fikih dan tauhid, melainkan sangat mungkin harus dilambari dengan kelebihan dalam hal kesaktian. Faktor keberhasilan dakwah seringkah bukan saja terletak pada toleransi dan akomodasi kepercayaan dan praktek-praktek pra-Islam, melainkan juga pada kemampuan tokoh sufi untuk menampilkan diri sebagai orang suci yang memiliki kesaktian supernatural.25 Bahkan dakwah dapat dilakukan melalui hal-hal yang luar biasa dan aneh-aneh seperti kelebihan Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga. Sunan Giri dan Sunan Bonang diceritakan dapat berjalan di atas air, Sunan Gunung Jati dapat menyembuhkan orang perempuan yang sakit kusta.
Legenda yang paling terkenal di Jawa Tengah ialah kemampuan Sunan Kalijaga dapat mengubah tanah menjadi emas sehingga Bupati Semarang (Pandanarang) tunduk dan memeluk agama Islam. Juga diceritakan bahwa Sunan Bonang ditantang berdialog tentang agama oleh seorang pendeta Hindu tetapi buku-bukunya tenggelam di laut tatkala perahunya pecah diterpa ombak besar. Sunan Bonang dengan tersenyum ramah kemudian mengangkat ujung tongkatnya dari dalam pasir. Tiba-tiba dari lubang itu memancar air dan buku-buku milik pendeta tersebut terikut keluar dari pancaran air tersebut. Serta merta pendeta tersebut beijongkok seraya menyembah dan menyatakan Luk Islam.2
Seperti diceritakan dalam Babad Tanah Jawi terbitan Meinsma yang dikutip dan dielaborasi oleh Berg, Sunan Giri memiliki kesaktian sebagai anifestasi kekuatan gaib tidak saja ketika masih hidup, bahkan sesudah ^enjnggalpun kesaktian itu tetap ada dan tetap luar biasa. Kesaktian itu dimanifestasikan dengan sembuhnya dua penjaga makam yang pincang karena memperoleh pengaruh (bahasa Jawa = sawab) dan munculnya kumbang- kurnbang dari makam Sunan menyerang dan mengejar tentara Majapahit yang menjarah-rayah Giri.27 Cerita kesaktian seperti tersebut di atas~ memang memerlukan interpretasi dan mitologisasi, tetapi juga tetap ada makna yang tersirat, yaitu bahwa dakwah pada waktu itu memerlukan kekuatan batin dan kelebihan spiritual serta kemampuan ulah kanoragan (olah kesaktian) untuk membela diri.
Memahami hubungan Sunan Drajat dengan R.Nur Rahmat seperti itu, akan terhindar dari pemahaman cerita dengan prasangka tentang kedua tokoh penyebar. Islam di wilayah pantai utara Lamongan tersebut. Bahwa Sunan Drajat benar-benar mengagumi dan berkenan (Jawa = kepranan) terhadap tokoh R.Nur Rahmat. Dalam cerita itu dituturkan bahwa Sunan Drajat menetapkan dan menabalkan R. Nur Rahmat dengan gelar Sunan Sendang Drajat. Bila Sunan Drajat tidak bermaksud menyelidiki dan menguji pasti beliau tersinggung karena merasa dilecehkan dan penabalan Sunan untuk R. Nur Rahmat sehingga bergelar Sunan Sendang Drajat tidak mungkin dilakukan.
Selain itu masih harus dipertanyakan, apakah Sunan Drajat dan R. Nur Rahmat memang benar-benar satu generasi? Sebuah Naskah tua yang berisi daftar para Bupati Sidayu dan Gresik, menceritakan :
“Sasedane Sunan Sendang kagentosan ingkang putra Pangeran Dhuwur (2) Pangeran Dhuwur anggarwa Raden Ayu Cuwa, putrane Pangeran Wanatirta ing Drajat, kang patutan Raden Ayu Burati. “28 (Setelah Sunan Sendang wafat, beliau digantikan oleh puteranya bernama Pangeran Dhuwur yang kawin dengan Raden Ayu Cuwa puteri Pangeran Wanatirta dari Drajat hasil perkawinannya dengan Raden Ayu Burati).
Dari cerita tersebut di atas diperoleh petunjuk bahwa antara Sunan Drajat dengari Sunan Sendang ternyata tidak satu generasi. Raden Ayu Cuwa adalah keturunan Sunan Drajat keempat (generasi canggah), sedang Pangeran Dhuwur adalah putera Sunan Sendang (generasi anak). Dengan demikian Sunan Sendang sebaya (Jawa = pantaran) dengan Pangeran Subrongto yang bergelar Pangeran Wonotirto keturunan Sunan Drajat ketiga (generasi buyut).
Sekalipun antara Sunan Drajat dan Sunan Sendang tidak semasa, tetapi cerita-cerita tersebut di atas tetap mempunyai makna, yaitu bahwa keberadaan Sunan Drajat dan Sunan Sendang sebagai tokoh atau pemimpin masyarakat muslim di pesisir Lamongan tidak bisa diingkari karena ada bukti berupa makam dan diyakini adanya oleh masyarakat dari generasi ke generasi melalui legenda tersebut di atas.
Sejarah Sunan Drajat Dalam Jaringan Masuknya Islam di Nusantara, BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH HKABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2012, hlm. 85-92

////Sumber ////

Sejarah Perjuangan Mbah Banjar, Mbah Mayang Madu dan Kanjeng Sunan Drajat

Walisongo 

Tapak Jejak "SUNAN DRAJAT"  (Walisongo Periode Ketiga)

Tapak Jejak "WALISONGO"  (Walisongo Periode Ketiga)

Sejarah Perjuangan Mbah Banjar, Mbah Mayang Madu dan Kanjeng Sunan Drajat

Al kisah diceritakan, pada tahun 1440-an ada seorang pelaut dari banjar yang sudah memeluk agama Islam tengah melakukan pelayaran di laut Jawa, persisi di utara desa Banjaranyar. Kapal yang tengah berlayar itu tertimpa musibah sehungga karam di lautan. Sedangkan mbah Banjar terdampar di tepian pantai desa Banjaranyar yang pada waktu itu masih berbnama kampong njelaq, mbah Banjar kemudian ditolong oleh mbah Mayang Madu, seorang penguasa di kampong njelaq yang berasal dari Solo dan merupakan penganut ajaran agama Hindu.
Pada saat itu, keadaan perkehidupan masyarkat njelaqmasih dipenuhi dengan berbagai macam kepercayaan terhadapkekuatan ghaib dan roh-roh leluhur, animisme dan dinanisme, adapun agama yang sedang berkuasa di pulau Jawa pada masa itu adalah agama Hindu dan Budha.

Melihat kedaan dan situasi masyarakat yang sudah terseret kedalam lembah kesesatan dan kemusyrikan ini, beliau terketuk hatinya untuk berusaha menyebarkan ajaran agama yang haq, yakni dienul Islam demi li ila kalimatillah. Akhirnya beliau menetap di kampung Njelaq untuk memulai tugas sucinya. Pertama-tama beliau mengajak Mbah Mayang Madu agar mau mengikuti jejaknya. Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan beliau berda’wah kepada masyarakat kampong njelaq dan sekitarnya
Berkat keteguhan, kesabaran dan ketekunan beliau dalam berjuang akhirnya beliau berhasil meng-Islamkan Mbah Mayang Madu. Dengan masuk Islamnya Mbah Mayang Madu maka hal ini mempunyai arti yang sangat penting bagi proses penyebaran Islam selanjutnya, karena mbah Mayang Madulah yang menyokong dan memberi dukungan penuh kepada baliau serta tidak segan-segan membantu mbah Banjar demi tercapainya tujuan yang mulia itu. Untung mengenang jasa-jasa di dalam merintis jalan dalam menyebarkan Islam di daerah tersebut, maka desa ini yang asalnya bernama kampong njelaq, diganti menjadi desa Banjaranyar, dengan demikian bertambah luaslah wilayah penyebaran Islam.
Selanjutnya, beliau bersama Mbah Mayang Madu saling bahu-membahu di dalam memperjuangkan misi sucinya, yakini menyebarkan ajaran Illahi yang agung demi tegaknya kalimat tauhid “laa ilaha illallah”. Dengan berbagai macam rintangan mereka hadapi dengan penuh kesabaran, ketabahan dan semangat perjuangan.
Pada suatu saat, Mbah Banjar berunding dengan Mbah Mayang Madu untuk mewujudkan keinginan beliau yaitu mendirikan tempat pondokan di desa Banjaranyar, namunagaknya hal tersebut menemui kendala dikarenakan tidak adanya tenaga pengajar yang ahli dan menguasai bidang tersebut. Akhirnya Mbah Banjar bersama dengan Mbah Mayang Madu sowan menghadap kanjeng Sunan Ampel di Ampeldenta, Surabaya. Di sana beliau menyampaikan keinginannya untuk nmendirikan pondok pesantren dan sekaligus mohon bantuan tenaga pengajar yang ahli dibidang ilmu-ilmu Diniyah. Kanjeng Sunan Ampel sangat senang mendengar tujuan beliau dan dengan senang hati beliau mengabulkan permohonan dan berjanji akan menugaskan putranya, R. Qosim untuk pergi ke Banjaranyar agar dapat membantu perjuangan Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu di tempat tersebut.
Di situlah R. Qosim mulai merintis pondok, tempat pendidikan Islam, sebagai bukti nyata adalah peninggalan beliau yang berupa sumur, tempat wudlu’ (padasan)dan musholla yang dibangun di atas pondasi bekas langgar dimana R. Qosim mangajar yang sampai sekarang masih ada dan dapat di manfaatkan.
R. Qosim atau Kanjeng Sunan Drajat dikenal sebagai seorang ulama’ yang berjiwa sosial tinggi, perjuangan beliau lebih dititik beratkan pada da’wah bil hal dan usaha-usahanya untuk meninggalkan ksejahteraan social dan upaya mengentas kemiskinan seperti menyantuni anak yatim, faqir miskin, menolong orang yang lemah dan sebagainya. Diantara ajaraajaran beliau yang terkenal adalah :
  • Wenehono teken marang wong kang wutho
  • Wenehono mangan marang wong kang luwe
  • Wenehono busono marang wong kang wudho
  • Wenehono iyupan marang wong kang kudanan
Maksud dari paada ajaran-ajaran tersebut, adalah antara lain bahwa manusia sebagai makhluq yang berakal budi dianjurkan :
  • Memberikan ilmu agar orang menjadi pandai
  • Berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang miskin
  • Mengajari kesusilaan terhadap orang yang tidak punya rasa malu
  • Memberikan perlindungan kepada orang yang lemah/menderita
hingga saat ini ajaran-ajaran beliau tersebut sama sekali tiada bertentangan dengan keadaan, situasi dan kondisi alam pemikiran masyarakat pada umumnya, hal ini secara jelas menunjukan bahwa R. Qosim merupakan sebuah figur ulama yang berpandangan luas dan jauh ke depan, berkepribadian penyantun dan welas asih serta ucapannya penuh dengan nilai hikmah yang tinggi.
Dalam usahanya untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat yang ada di sekitarnya, R. Qosim juga menggunakan pendekatan seni budaya. Pendekatan ini dilakukan dengan menggunakan metode kesenian guna menarik perhatian masyarakat sekitar yang pada waktu itu masih beragama Hindhu-Budha. Sehingga karena itulah beliau menciptakan tembang pangkur dan menggunakan alunan suara gamelan atau gending untuk mengumpulkan masa di masjid yang telah didirikan oleh Mbah Mayang Madu tersebut dinamakan masjid Nggendingan. Demikian luwesnya R. Qosim dalam memfungsikan masjid benar-benar mengena di masyarakat.
Adapun cara R. Qosim untuk menarik minat masyarakat agar mau mempelajari dan mendalami ilmu diniyah, maka beliau menjanjikan bagi siapa saja yang mau belajar kepadanya bahwa ia akan mempaeroleh derajat yang luhur. Maka dari itu tempat di mana beliau mengajar ilmu agama tersebut dinamakan dengan rumah Drajat.
Tidak beberapa lama kemudian Mbah Banjar berpulang ke Rahmatullah. Beliau dimakamkan di desa Banjaranyar bagian utara.
Beberapa tahun kemudian, Mbah Mayang Madu pun wafat, beliau dimakamkan di belakang masjid Jelaq dan mendapat julukan Sunan Jelaq.
Sepeninggalan Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu, maka tinggallah Kanjeng Sunan Drajat yang melanjutkan usaha-usaha yang sebelumnya dirintis oleh beliau bersama almarhum.
Dalam perjuangannya beliau dibantu oleh para santrinya yang menjadi pembantu setia dalam mengemban misi. Suka duka perjuangan silih berganti mewarnai kehidupan Kanjeng Sunan Drajat dan para santrinya di Banjaranyar. Masa-masa sulit beliau jalani dengan tabah dan tawakal. Saegala macam rintangan dan halangan yang dating silih berganti dari orang-orang yang iri dan dengki serta usaha-usaha yang dilakukan untuk menjegal perjuangan, beliau hadapi dengan tenang.
Pernah suatu hari beliau dilempari batu oleh penduduk desa setempat ketika sedang berda’wah, namun beliau tetap bersiteguh untuk berjuang di jalan Allah swt. Dan untuk mengenang peristiwa tersebut, maka kampung tersebut dinamakan kampung Mbandilan yang sekarang telah menjadi areal pondok pesantren Sunan Drajat pula.
Waktupun terus berlalu, kian hari perkembangan pondok pesantren di Banjaranyar mengalami kemajuan yang sangat pesat, sikap permusuhan yang dating dari para penduduk berubah menjadi kecintaan yang dalam. Para pemuda banyak yang berdatangan dari daerah-daerah ke pondok pesantren guna menimba ilmu agama kepada beliau. Mereka itulah yang kemudian dikader menjadi para da’I dan mubaligh yang tangguh, tabah dan berkompeten lalu disebarkan kepelosok negeri atau kembali ke kampung halamannya sambil membawa misi Islam.
Keberhasilan perjuangan Kanjng Sunan Drajat di Banjaranyar tidaklah membuat beliau menjadi puas, lalu duduk berpangku tangan sambil berongkang-ongkang kaki menikmati hasil perjuangannya, akan tetapi hal tersebut justru mendorong beliau untuk lebih giat dalam mengembangkan agama Islam tempat lain. Karena itulah, beliau membangun sebuah masjid di kamoung sentoro yang letaknya persis di sebelah timur komplek makam Sunan Drajat, seabagai tempat beliau memberikan pengajian mengajar dan emndidik para santrinya. Desa di mana beliau mendirikan masjid tersebut akhirnya diberi nama desa Drajat, adapun masjid yang telah dibangun Kanjeng sunan Drajat sendiri pada tahun 1424 Jawa atau 1502 M. kini telah musnah akibat gempa bumi yang pernah terjadi dua ratus tahun yang silam, namun sebagai gantinya, di tempat tersebut kini telah didirikan masjid yang direnovasi sebagaiman bentuk aslinya.
Pada masa Kanjeng Sunan Drajat inilah desa Banjaranyar, Drajat dan sekitarnya menjadi sentral pendidikan dan aktifitas keagamaan serta menjadi mercusuar penyebaran Islam di daerah pesisir pantai utara khususnya di daerah Paciran. Akhirnya beliau wafat pada tanggal 25 Sya’ban dan dimakamkan di belakang masjid tempat beliau mengajar sebagaimana yang telah kita saksikan saat ini.
Dalam kehidupan berumah tangga. Kanjeng Sunan Drajat mempunyai dua istri beliau yang pertama adlah putrid Mbah Mayang Maduyang makamnya terletak di belakanhg masjid Jelaq, Banjaranyar dank arena itulah setelah Mbah Mayang Madu meninggal. Kanjeng Sunan Drajat mendapatkan gelar Sunan Mayang Madu. Adapun istri beliau yang kedua adalah seorang putri Kediri yang bernama Retno Condro Sekar Putri Adipati Surya dilaga, beliau dimakamkan berdampingan dengan makam Kanjeng Sunan Drajat. Dari kedua istri beliau inilah Kanjeng Sunan Drajat mendapat keturunan yang akhirnya berkembang dalam suatu keluarga besar yang tersebar hingga saat ini.
Sepeninggalan Kanjeng Sunan Drajat. Tongkat estafet perjuangan diteruskan oleh para keturunan beliau. Namun lambat laun, perkembangan pondok pesantren di Banjaranyar mengalami kemunduran seiring dengan perjalananwaktu dan akhirnya lenyap tanpa bekas, yang tertinggal hanya pondasi bekas musholla dan sumur yang tertimbun tanah sebagai saksi bisu terhadap sejarah yang pernah tergores di atasnya. Keadaan tatanan kehidupan masyarakat pada waktu itu benar-benar memprihatinkan. Tempat di masa Islam pertama kali berkembang, saat itu telah menjadi pusat kegiatan kemaksiatan dan kemusyrikan. Di dersa Banjaranyar muncullah beberapa tempat pelacuran, gedung-gedung pertunjukan yang menjadi ajang kemungkarang, munculnya beberapa germo dan Bandar judi nyang terkenal di daerah pesisir utara pada masa itu. Bahkan tanah bekas pondok pesantren yang didirikan oleh Kanjeng Sunan Drajat dijadikan sebagai tempat pemujaan. Namun kejadian-kejadian tersebut segera berakhir setelah di tanah bekas pondok tersebut didirikan kembali pondok pesantren yang bertujuan untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis oleh Wali songo.
Pada tahunn 1977, berdirilah “pondok pesantren Sunan Drajat” dengan pengasuh tunggal serta generasi muda, beliau inilah sebagai penerus dan pembangkit tenggelamnya sejarah dan penyebar Islam.
Siapakah beliau tersebut? Tidak lain adalah Prof. DR. KH. Abdul Ghofur. Dengan malang melintang serta usaha yang tak kunjung padam, sehingga saat ini perkembangan pondok pesantren Sunan Drajat semakin mencuat dan maju sebagaiman tuntunan zaman. Perkembangan tersebut sengaja tidak kami muat, agar pembaca melihat sendiri dari dekat.
Demikianlah sekilas hikayat sejarah masuknya agama Islam dan perkebangannya di pesisir pantai utara kabupaten Lamongan khususnya di wilayah Paciran yang tidak lepas kaitannya dari perjuangan dan jasa Mbah Banjar, Mbah Mayang Madu dan Wali songo, dalam hal ini adalah Kanjeng Sunan Drajat atau Sunan Mayang Madu. Karena itulah untuk mengenang jasa-jasa beliau semua, maka di setiap tanggal 23-24 Sya’ban pondok pesantren mengadakan acar Haul akbar yang bersamaan dengan acara haulnya Mbah Martokan, ayahanda Romo K.H. Abdul Ghofur.

Sunan Drajat (Raden Syarifudin) (Walisongo Periode Ketiga)

Walisongo 

Tapak Jejak "SUNAN DRAJAT"  (Walisongo Periode Ketiga)

Tapak Jejak "WALISONGO"  (Walisongo Periode Ketiga)
Periodesasi ke-3 (1463 – 1466 M), terdiri dari:
1. Sunan Ampel,
2. Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq,
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465),
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1465),
5. Sunan Kudus,
6. Sunan Gunung Jati,
7. Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin,
8. Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin, dan


9. Sunan Kalijaga yang tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir.

Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin
Sunan Drajat (Raden Syarifudin)
Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. 
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. 

Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.

Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam beliau menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. 

Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi

Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels (Anyar-Panarukan), namun bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaraan pribadi.

Sejarah singkat
Biografi SUnan Drajat

Semasa muda ia dikenal sebagai Raden Qasim, Qosim, atawa Kasim. Masih banyak nama lain yang disandangnya di berbagai naskah kuno. Misalnya Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat. Dia adalah putra Sunan Ampel dari perkimpoian dengan Nyi Ageng Manila, alias Dewi Condrowati. Empat putra Sunan Ampel lainnya adalah Sunan Bonang, Siti Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah, dan seorang putri yang disunting Sunan Kalijaga. Akan halnya Sunan Drajat sendiri, tak banyak naskah yang mengungkapkan jejaknya.


Ada diceritakan, Raden Qasim menghabiskan masa kanak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya. Setelah dewasa, ia diperintahkan ayahnya, Sunan Ampel, untuk berdakwah di pesisir barat Gresik. Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda.

Syahdan, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, ia ditolong ikan cucut dan ikan talang –ada juga yang menyebut ikan cakalang.

Dengan menunggang kedua ikan itu, Raden Qasim berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati. Menurut tarikh, persitiwa ini terjadi pada sekitar 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar.

Konon, kedua tokoh itu sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.

Jelak, yang semula cuma dusun kecil dan terpencil, lambat laun berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Namanya berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak, ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan. Tempat itu dinamai Desa Drajat.

Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap tempat itu belum strategis sebagai pusat dakwah Islam. Sunan lantas diberi izin oleh Sultan Demak, penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan di selatan. Lahan berupa hutan belantara itu dikenal penduduk sebagai daerah angker.

Menurut sahibul kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan lahan itu. Mereka meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit. Namun, berkat kesaktiannya, Sunan Drajat mampu mengatasi. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare.

Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan dinamai Ndalem Duwur. Sunan mendirikan masjid agak jauh di barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.

Sunan menghabiskan sisa hidupnya di Ndalem Duwur, hingga wafat pada 1522. Di tempat itu kini dibangun sebuah museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Sunan Drajat –termasuk dayung perahu yang dulu pernah menyelamatkannya. Sedangkan lahan bekas tempat tinggal Sunan kini dibiarkan kosong, dan dikeramatkan.

Sunan Drajat terkenal akan kearifan dan kedermawanannya. Ia menurunkan kepada para pengikutnya kaidah tak saling menyakiti, baik melalui perkataan maupun perbuatan. ”Bapang den simpangi, ana catur mungkur,” demikian petuahnya. Maksudnya: jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.

Sunan memperkenalkan Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan
cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah.

Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan. Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat sangat memperhatikan masyarakatnya. Ia kerap berjalan mengitari perkampungan pada malam hari. Penduduk merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, merajalela selama dan setelah pembukaan hutan. Usai salat asar, Sunan juga berkeliling kampung sambil berzikir, mengingatkan penduduk untuk melaksanakan salat magrib.

”Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,” katanya dengan nada membujuk. Ia selalu menelateni warga yang sakit, dengan mengobatinya menggunakan ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktiannya. Sumur Lengsanga di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan Sunan ketika ia merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan meminta pengikutnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Ketika Sunan kehausan, ia berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening –yang kemudian menjadi sumur abadi. Dalam beberapa naskah, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.

Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada 1465 Masehi. Menurut Babad Tjerbon, istri pertama Sunan Drajat adalah Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Alkisah, sebelum sampai di Lamongan, Raden Qasim sempat dikirim ayahnya berguru mengaji kepada Sunan Gunung Jati. Padahal, Syarif Hidayatullah itu bekas murid Sunan Ampel.

Di kalangan ulama di Pulau Jawa, bahkan hingga kini, memang ada tradisi ‘’saling memuridkan”. Dalam Babad Tjerbon diceritakan, setelah menikahi Dewi Sufiyah, Raden Qasim tinggal di Kadrajat. Ia pun biasa dipanggil dengan sebutan Pangeran Kadrajat, atau Pangeran Drajat. Ada juga yang menyebutnya Syekh Syarifuddin.

Bekas padepokan Pangeran Drajat kini menjadi kompleks perkuburan, lengkap dengan cungkup makam petilasan, terletak di Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi. Di sana dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Nur Drajat. Naskah Badu Wanar dan Naskah Drajat mengisahkan bahwa dari pernikahannya dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat dikaruniai tiga putra.

Anak tertua bernama Pangeran Rekyana, atau Pangeran Tranggana. Kedua Pangeran Sandi, dan anak ketiga Dewi Wuryan. Ada pula kisah yang menyebutkan bahwa Sunan Drajat pernah menikah dengan Nyai Manten di Cirebon, dan dikaruniai empat putra. Namun, kisah ini agak kabur, tanpa meninggalkan jejak yang meyakinkan.

Tak jelas, apakah Sunan Drajat datang di Jelak setelah berkeluarga atau belum. Namun, kitab Wali Sanga babadipun Para Wali mencatat: ”Duk samana anglaksanani, mangkat sakulawarga….” Sewaktu diperintah Sunan Ampel, Raden Qasim konon berangkat ke Gresik sekeluarga. Jika benar, di mana keluarganya ketika perahu nelayan itu pecah? Para ahli sejarah masih mengais-ngais naskah kuno untuk menjawabnya.

Beliau wafat dan dimakamkan di desa Drajad, kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tak jauh dari makam beliau telah dibangun Museum yang menyimpan beberapa peninggalan di jaman Wali Sanga. Khususnya peninggalan beliau di bidang kesenian.

Penghargaan
Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singo meng­kok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.
Untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-­benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam. Museum ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.



Upaya Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, S.H. untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah bangsa ini mendapat dukungan penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD I yaitu pada tahun 1992 dengan pemugaran Cungkup dan pembangu­nan Gapura Paduraksa senilai Rp.98 juta dan anggaran Rp.100 juta 202 ribu untuk pembangunan kembali Mesjid Sunan Drajat yang diresmikan oleh Menteri Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993. Pada tahun 1993 sampai 1994 pembenahan dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat dilanjutkan dengan pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paséban, balé ranté serta Cungkup Sitinggil dengan dana APBD I Jawa Timur sebesar RP. 131 juta yang diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.

Filosofi Sunan Drajat
Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :

  • Memangun resep tyasing Sasoma (kita selalu membuat senang hati orang lain)
  • Jroning suka kudu éling lan waspada (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
  • Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
  • Mèpèr Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
  • Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
  • Mulya guna Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)
  • Mènèhana teken marang wong kang wuta, Mènèhana mangan marang wong kang luwé, Mènèhana busana marang wong kang wuda, Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderitan
Makam Cungkup / Petilasan SUNAN DRAJAT di Lamongan Jatim Klik Here

Makam Cungkup Petilasan "Sunan Drajad" di Paciran Lamongan

Walisongo 

Tapak Jejak "SUNAN DRAJAT" (Walisongo Periode Ketiga)

Tapak Jejak "WALISONGO"  (Walisongo Periode Ketiga)
Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin
Makam Cungkup Petilasan Sunan Drajat (Raden Syarifudin)

Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari surabaya maupun Tuban lewat Jalan Dandeles ( Anyer – Panarukan ), namun bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaran pribadi.
Paciran - Lamongan - Jawatimur
Makam Sunan Drajat. Makam ini adalah salah satu wisata religi yang sangan terkenal di Jawa Timur dan kerap penuh sesak dipenuhi oleh peziarah terutama pada hari libur dan hari Minggu.
Pintu masuk kompleks makam Sunan Drajad di Paciran Lamongan
Memasuki kompleks makam, peziarah atau wisatawan akan menjumpai gapura joglo yang terbuat dari kayu. Di bagian bawah joglo terdapat kayu berukir dengan motif masjid.
Ornamen cantik memasuki pusara Sunan Drajad
Pepohonan rindang dan makam dengan batu nisan kuno tampak tersebar di kanan-kiri jalan masuk ke makam Sunan. 
Uniknya makam Sunan Drajat ini memiliki tujuh trap (tingkatan) jalan hingga bisa sampai ke trap makam utama Sunan. Masing-masing trap jalan memiliki makna filosofis Jawa yang begitu mendalam.
Trap ketujuh (terakhir) sebelum menuju makam utama inilah yang menyita perhatian kami. Sangat relevan buat pengingat kita yang saat ini sedang gencar-gencarnya memerangi kemiskinan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Adapun bunyi trap ketujuh itu ialah : 
  • Wenehana teken marang wong kang wuta, 
  • Wenehana Pangan marang wong kang Keluwen, 
  • Wenehana Payung marang wong kang Kaudanan, 
  • Wenehana Sandang marang wong kang kawudan

Maksud dari paada ajaran-ajaran tersebut, adalah antara lain bahwa manusia sebagai makhluq yang berakal budi dianjurkan :
Memberikan ilmu agar orang menjadi pandai
Berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang miskin
Mengajari kesusilaan terhadap orang yang tidak punya rasa malu
Memberikan perlindungan kepada orang yang lemah/menderita
Ruangan makam utama Sunan Drajat seketika itu penuh sesak dengan rombongan peziarah. Mereka banyak berdatangan dari luar Kota lamongan.


Lantunan ayat-ayat suci Al Quran yang dibacakan para peziarah, semakin menambah khusuknya setiap doa dan munajah yang mereka panjatkan ke hadirat Illahi.
Ajaran Sunan Drajad tentang pengentasan kemiskinan
Makam Sunan Drajad dengan para kerabatnya
Upaya Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, S.H. untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah bangsa ini mendapat dukungan penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD I yaitu pada tahun 1992 dengan pemugaran Cungkup dan pembangu­nan Gapura Paduraksa senilai Rp.98 juta dan anggaran Rp.100 juta 202 ribu untuk pembangunan kembali Mesjid Sunan Drajat yang diresmikan oleh Menteri Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993. Pada tahun 1993 sampai 1994 pembenahan dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat dilanjutkan dengan pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paséban, balé ranté serta Cungkup Sitinggil dengan dana APBD I Jawa Timur sebesar RP. 131 juta yang diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.
Masjid Kayu Makam Sunan Drajat
MASJID KAYU MAKAM SUNAN DRAJAT
MUSEUM SUNAN DRAJAT
Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singo meng*kok-nya Sunan Drajat kini tersimpan di Museum Daerah.


Untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-*benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Museum Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam. Museum ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.
Peninggalan Sunan Drajat............
Panggung......... Tempat bermusyawarah para wali .... 

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...