primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Selasa, 28 Januari 2014

BABAT TANAH JAWA RIWAYAT SUNAN KALIJAGA (P#3)



BABAT TANAH JAWA 
RIWAYAT SUNAN KALIJAGA (P#3)
Raden Mas Sahid/Syeh Malayakusuma
(Kangjeng Susuhunan Ing Kalijaga)

RIWAYAT SUNAN KALIJAGA (3)

Diambil pupuh-pupuh dari Babad Tanah Jawa yang berkaitan dengan riwayat Sunan Kalijaga Diterjemahkan oleh : Damar Shashangka

Pupuh Dandanggula

13.
Satus dina kramatira mijil, kayu Glinggang ngrêmbuyung ronira, ngaubi nggenira sendhen, saking marma Hyang Agung, kayu mati sinendhen urip, wuwusên Sunan Benang, wau kang alangkung, anguwot aneng Galinggang, nulya mirsa kang rayi sare neng kali, winungu uluk salam.

Seratus hari sudah muncul keramatnya, pohon Galinggang sangat rimbun dedaunnya, menjuntai di tempat mana dia (Syeh Malaya) bersandar, atas kehendak Hyang Agung, pohon (Galinggang yang semula) mati (manakala dijadikan sandaran) menjadi hidup (kembali), diceritakan kemudian Sunan Benang, mendatangi yang tengah melakukan (tapa), yang bersandar di (pohon) Galinggang, lantas dilihatnya sang adik tidur dipinggir sungai, dibangunkan sembari mengucapkan salam.

14.
Syeh Malaya kaget aningali, mring kang raka gupuh njawat asta, Jêng Sunan Benang wuwuse, Paran karsanireku, tapeng alas JAGA ing KALI, yen mangkono ta sira, sun wehi jêjuluk, SUSUHUNAN ING KALIJAGA, Para sahbat sadaya samya ngêstreni, Syeh Mlaya nama Sunan.

Syeh Malaya terkejut dan mendapati, kakaknya (Sunan Benang) dan langsung menjabat tangan, (Kang)jêng Sunan Benang berkata, Apa yang kamu lakukan? Bertapa di hutan menJAGA KALI (Sungai)? Jika demikian dirimu, aku berikan nama baru, SUSUHUNAN ING KALIJAGA, Seluruh murid menjadi saksi, Syeh Malaya sekarang telah bergelar Sunan. 

15.
Wus kaiden sira aneng ngriki, adhêdhukuh aneng Kalijaga, garwane sinusulake, lamine tan winuwus, Sunan Benang milwa mbabadi, tumut karya pratapan, dhepoke apatut, wus mangkana Sunan Benang, angandika mring kang rayi Sunan Kali, Payo mring Giri Pura.

Sudah diizinkan kamu bermukin di sini, bermukim di daerah Kalijaga, sang istri telah dijemput dan dibawa (ke pedukuhan baru tersebut), lama membuka daerah baru tersebut tidak diceritakan, Sunan Benang ikut bekerja, ikut juga membuat pertapaan, padhepokan yang pantas (indah), setelah beberapa lama Sunan Benang, berkata kepada sang adik Sunan Kali, Mari kita ke Giri Pura. 

16.
Kang ng-Lurahi sakeh Para Wali, Sunan Giri ya Prabhu Satmata, kang angreh Wali Jawane, payo nyuwun pangestu, Tur sandika Sinuhun Kali, tandya samya lumampah, pra murid tut pungkur, ing marga datan winarna, sampun lêrês Jêng Sunan dennya lumaris, prapteng Giri Kadhatwan.

Yang memimpin seluruh Para Wali, (adalah) Sunan Giri atau Prabhu Satmata, yang menguasai seluruh Wali di Jawa, mari meminta restu, Sunan Kali menyetujui, keduanyapun berangkat, para murid mengikut di belakang, di jalan tidak diceritakan, sudah benar rute yang ditempuh oleh (kedua) Sunan, sehingga cepat sampai di Giri Pura.

17.
Sampun cundhuk mring Suhunan Giri, tandya sami anjawat astanya, pêpak Para Wali kabeh, Jêng Sunan Benang muwus, mring kang raka Suhunan Giri, Kawula tut uninga, jangkêp Wali Wolu, pun adi ing Lepenjaga, kang jumênêng Wali Panutup ing Jawi, sinihan mring Hyang Suksma.

Sudah bertemu dengan Suhunan Giri, keduanya menjabat tangan (Sunan Giri), bertepatan waktu itu seluruh Wali tengah berkumpul, (Kang)jeng Sunan Benang berkata, kepada kakaknya yaitu Suhunan Giri, Mari menjadi saksi, lengkapnya delapan Wali (maksudnya seluruh Wali di dunia), adik kita dari Lepenjaga (Kalijaga), yang akan ditunjuk sebagai Wali Penutup dari Jawa, dia sangat di kasihi oleh Hyang Suksma (Tuhan). 

18.
Sunan Giri angling angideni, jumênênge Sunan Kalijaga, mupakat Pra Wali kabeh, Jêng Sunan Kali matur, mring kang raka Benang Sang Yogi, Kawula nama Sunan, dereng angsal tuduh, amba nuwun pangawikan, Sunan Ampel ngandika barêng lan siwi, Lah nuli kawêjanga.

Sunan Giri memberikan restu, diangkatnya Sunan Kalijaga (sebagai anggota Wali Sangha), semua Wali yang hadir sepakat, Jeng Sunan Kali(jaga) berkata, kepada kakaknya (Sunan) Benang Sang Yogi, Hamba mendapat gelar Sunan, akan tetapi belum mendapatkan petunjuk, hamba mohon diwejang ilmu sejati, Sunan Ampel berkata kepada putranya (Sunan Benang), Wejanglah dia! 

19.
Sunan Benang anulya apamit, mring kang raka Sang Prabhu Satmata, tuwin mring Jêng Sunan Ampel, wus salaman gya mundur, lajêng njujug pakuwon masjid, Sunan Benang neng rawa, anitih pêrahu, lajêng Sunan Kalijaga, nunggil palwa dhuk anitih palwa alit, palwa rêmbês tinambal.

Sunan Benang lantas mohon pamit, kepada kakaknya Sang Prabhu Satmata, juga kepada Jeng Sunan Ampel, seusai bersalaman lantas undur diri, menuju masjid (untuk mengambil air wudlu), (lantas) Sunan Benang (menuju) sebuah danau, menaiki perahu, berdua dengan Sunan Kalijaga, dalam satu perahu kecil, perahu bocor lantas ditambal. 

20.
Sunan Benang angling mring kang rayi, Kae jêbeng rêmbês kang baita, popokên ing êndhut bae, Kang rayi glis anyakup, êndhut pinopokkên palwa glis, mantun rêmbês kang palwa, winêlahan sampun, baita sampun manêngah, sirêp janma marêngi purnama siddhi, Sunan Lepen winêjang.

Sunan Benang berkata kepada adiknya, Jêbeng lihatlah perahu ini bocor, tamballah dengan lumpur saja, Sang adik (Sunan Kalijaga) segera mengambil, lumpur dan langsung ditambalkan kepada perahu, tertutuplah bagian perahu yang bocor tadi, lantas perahu didayung, sudah menuju ke tengah (danau), bertepatan dengan sepinya dunia (tengah malam) dibarengi munculnya bulan purnama, Sunan Lepen (Kalijaga) diwejang. 

21.
Pamêjange sinêmon kang rayi, Damar mati yen mati urub-nya, urube nyangdi parane, Kang rayi aris matur, Kalêrêsan dennya nampeni, lêrês kang panggrahita, duk sarta kang wau, sinêksen marang Hyang Suksma, pratandhane sinihan marang Hyang Widdhi, coblong datanpa cahya.

Saat memberikan wejangan diiringi dengan bahasa perlambang, Pelita yang padam jika sudah padam cahayanya, kemanakah perginya cahaya itu? Telah dipahami oleh yang menerima, paham di dalam hati, saat itu pula, telah disaksikan oleh Hyang Suksma, tanda telah mendapat kasih dari Hyang Widdhi, telah terang melebihi cahaya (kesadaran Sunan Kalijaga). 

22.
Langkung nuwun Kangjêng Sunan Kali, atur sêmbah mawi ngaras pada, Jêng Sunan Benang sabdane, Yayi den awas emut, aja kongsi kawêdhar nglathi, Iku sabda larangan, yen kawêdhar ngrungu, mring sagunging kang tumitah, yen mangrêti dadi Manusa Sejati, Kapir Kupur Sampurna.

Sangat berterima kasih Kangjêng Sunan Kali, menghaturkan sembah sembari mencium kaki (Sunan Benang), Jêng Sunan Benang bersabda, Adikku waspadalah dan senantiasa ingatlah, jangan sampai semua yang aku wejangkan tadi keluar dari mulutmu, itu semua sabda larangan, manakala terdengar, oleh semua makhluk, jika memahami akan menjadi Manusia Sejati, (jika tidak memahami) akan menjadi Kafir dan Kufur Sempurna! 

23.
Nulya wonten cacing lur mangrêti, mring wangsite Sunan kang wasita, cacing katut lêmpung popok, duk Sunan Kali iku, ngambil êndhut katutan cacing, wor popoking baita, mangrêti kang sêmu, nulya ruwat dadya janma, aglis matur Kawula inggih mangrêti, ajênga puruhita.

Lantas ada seekor cacing memahami, wejangan Sunan (Benang) yang tinggi tersebut, cacing yang tidak sengaja terambil, saat Sunan Kali (jaga), mengambil lumpur tidak sengaja terbawa, bercampur dengan lumpur penambal perahu, cacing memahami wejangan tersebut, lantas berubah menjadi manusia, seketika berkata Hamba juga memahami, hamba ingin berguru juga. 

24.
Sunan Benang kagyat amiyarsi, ngandika Sapa ingkang angucap, dene tan katon warnane, Ponang cacing umatur, Kawula lur mangrêti wangsit, duk wau asasmita, tinampenan sêmu, sêmune Jati Manusa, pan kawula tumut tampi sewu wadi, ngraos dados kawula.

Sunan Benang terkejut mendengar, berkata Siapa yang berbicara? Tidak terlihat wujudnya, Sang cacing menjawab, Hamba cacing memahami wejangan tuan, saat tadi mewejang, mewejang ilmu rahasia, rahasia kesejatian manusia, tidak sengaja saya ikut menerima segala yang tuan wejangkan tadi, dan hamba ‘merasa’ jadi manusia (sekarang). 

25.
Sunan Benang angandika aris, Wus pasthine kodrating Hyang Suksma, cacing ngrungu dadi uwong, Mandi sabda Sang Wiku, Iya uwis tarima mami, sêtyanira maring wang, karsane Hyang Agung, datan kêna sumingkira, sêtyanira iya marang ingsun iki, arana SITI JÊNAR.

Sunan Benang berkata, Sudah menjadi takdir Hyang Suksma, cacing mendengar dan berubah menjadi manusia, Terkabul sabda Sang Wiku (Sunan Benang, dan cacing-pun berubah menjadi manusia seketika itu juga), Sudah pula aku terima, kesanggupanmu untuk berguru kepadaku, sudah menjadi kehendak Hyang Agung, tidak lagi bisa ditolak, pertemuanmu denganku ini, (mulai sekarang) kamu bernama SITI JÊNAR!

26.
Ya arana SYEH LÊMAHBANG bêcik, de asale saka ing Lemahbang, Kang liningan tur sêmbahe, angling malih Sang Wiku, mring kang rayi, Susuhunan Kali, iku yayi pratandha, luwihing Hyang Agung, tan kêna kinayangapa, kaki sira duk durung winulang bangkit, sinihan ing Hyang Suksma.

Atau bisa juga disebut SYEH LÊMAHBANG, karena asalmu dari Lemahabang (bisa berarti lumpur merah atau juga bisa berarti daerah Lemah Abang di Cirebon. Cerita ini hanyalah simbolik belaka), Yang diberikan perintah menghaturkan sembah, berkata lagi Sang Wiku (Sunan Benang), kepada sang adik (Sunan Kalijaga), Susuhunan Kali, inilah tanda, bukti kebesaran Hyang Agung, tidak bisa disangka-sangka, dirimu sebelum mendapat wejangan ilmu sejati dariku, sesungguhnya sudah mendapat anugerah dari Hyang Suksma. 

27.
Duk kalane sira arsa kaji, kinen wangsul mring Syeh Maulana, sira neng kali arane, tigang candra pan antuk, krasanira sakêdhap guling, yen aja sinêlira, pasti ajur mumur, yayi jiwaraganira, prabhawane sira brangta ing Hyang Widdhi, tanpa guru tindaknya.

Saat kamu hendak berangkat haji, diperintahkan agar pulang (ke Jawa) oleh Syeh Maulana (Maghribi), di pinggir sungai dirimu (bertapa), selama tiga bulan, akan tetapi kamu hanya merasa seperti tidur sejenak, jika bukan manusia pilihan, pasti hancur lebur, jiwa dan ragamu, itu semua karena kekuatan cintamu kepada Hyang Widdhi, kamu telah berjalan tanpa guru. 

28.
Luhung yayi sira wus sinêlir, mring Hyang Suksma langgêng Ananira, badan tan langgêng anane, Urip tan kêna lampus, Urip datan ana nguripi, dunya prapteng akherat, langgêng Ananipun, sagung kang para Oliya, durung ana anyabrang sagara pati, patitis kaya sira.

Sangat utama dirimu adikku sungguh telah terpilih, oleh Hyang Suksma Dirimu itu Abadi, hanya badanmu yang fana, URIP (Hidup) mu itu tak bisa mati, URIP (Hidup) mu itu tidak ada yang menghidupi/menciptakan, dari dunia hingga akhirat, abadi Keberadaan Hidupmu itu, seluruh para Auliya’, belum ada yang mampu menyeberangi lautan kematian, tepat dan pas seperti dirimu. 

29.
Ingsun iki upamane yayi, ngadhêp madu aneng jroning gêdah, mung wêruh maya-mayane, durung wruh rasanipun, sun kêpingin kaya sireki, nyabrang sagara rahmat, yen kêna riningsun, ingsun yayi pirsakêna, basa lêmbu nusu ing anakireki, nggêguru marang sahbat.

(Bahkan) diriku ini seumpama oh adikku, mendapati madu yang berada di dalam batok kelapa, hanya mampu melihat kemilaunya belaka, akan tetapi belum tahu bagaimana rasanya, aku ingin seperti dirimu, mampu menyeberangi lautan kasih, jika boleh oh adikku, ajarilah diriku, ada peribahasa kerbau menyusu kepada anaknya, orang tua berguru kepada anak muda. 

30.
Alon matur Kangjêng Sunan Kali, Pan sumangga ngaturkên kewala, marginipun gampil angel, tan kenging was ing kalbu, langkung rungsit dhêmit kang margi, Sigra madêg kalihan, Jêng Sunan manêkung, asta ngrangkul samya madya, suku jajar kêrêp katingal kang Jati, sakêdhap prapteng Mêkah.

Kangjêng Sunan Kali pelan menjawab, Saya hanya bisa memberikan petunjuk belaka, jalannya gampang-gampang susah, tidak boleh memiliki keraguan di dalam hati sedikitpun, sangat banyak dhemit (setan/gangguan) di tengah perjalanan, Segera berdiri keduanya, Jêng Sunan menutup mata, keduanya berangkulan, kaki mereka lurus sejajar sejenak kemudian terlihat kesejatian, tidak berapa lama tibalah di Makkah. 

31.
Siti Jênar tumut anututi, nut ing guru ngadêg suku tunggal, mateni pancadriyane, sakêdhap netra rawuh, prapteng Mêkah anulya panggih, lan sagunging Waliyullah, ing Kakbatullahu, sagunging Wali sadaya, munggah Kakbah Wali Wolu sinung wangsit, kasanga Siti Jênar.

(Syeh) Siti Jênar pun mengikuti, mengikuti sang guru berdiri dengan kaki lurus sejajar, menarik seluruh panca indranya, hanya satu kedipan mata telah sampai, di Makkah dan segera bertemu, dengan seluruh para Waliyullah, tepat di Ka’batullah, seluruh para Wali, masuk ke dalam Ka’bah delapan Wali dan mendapat wangsit sudah, yang kesembilan (Syeh) Siti Jênar-(pun ikut masuk pula). 

32.
Wali Wolu wus wênang nimbangi, masjid Mêkah ginambar ing Dêmak, pinaring surat kutbahe, bakda jawat amantuk, Para Wali sakêdhap prapti, ing Jawa njujug Dêmak, anulya kapangguh, lan Dipati ing Bintara, Natapraja gupuh gupuh angaturi, Pra Wali nuli lênggah.

Delapan Wali diperbolehkan mengukur, masjid Makkah untuk dijadikan contoh model Masjid Dêmak (yang hendak dibangun), telah diberikan surat ijin (oleh Sultan Arab), selesai bertemu (Sultan Arab) lantas pulang, hanya sekejap Para Wali telah sampai, di tanah Jawa menuju kota Dêmak, lantas bertemu, dengan Adipati ing Bintara (Raden Patah/Panembahan Jin-Bun), sang penguasa (Dêmak) bersuka cita menyambut, Para Wali lantas duduk. 

33.
Adipati midêr angawaki, Para Wali pan asih sadaya, angsung pandonga luhure, Adipati jrih lulut, gung Pra Wali den kawulani, rinojong sakarsanya, pamangsulnya arum, sadaya samya nênêdha, mring Hyang Suksma tulusa Sang Adipati, mangkuwa ing rat Jawa.

Adipati (Dêmak) menyambut sendiri, Para Wali sangat mengasihi (Sang Adipati), semua memberikan doa keluhuran, Adipati (Dêmak) sangat patuh dan menurut, seluruh Para Wali dilayani, dipenuhi segala yang diinginkan mereka, sehingga mereka semua, mendoakan, agar Hyang Suksma senantiasa menjaga langgengnya kekuasaan Sang Adipati (Dêmak), dalam memimpin tanah Jawa. 

34.
Sunan Giri angandika aris, mring kang rayi Dipati Bintara, Yayi saosa kayune, kinarya masjid agung, Para Wali ingkang ngideni, anepa masjid Mekah, sira kang katêmpuh, angkat junjunge kang wrêksa, usuk sirap reng blandar lawan têtali, pangrêt lawan wuwungnya.

Sunan Giri berkata pelan, kepada sang adik Adipati Bintara (Raden Patah), Yayi (adikku) mulai persiapkanlah kayu, untuk membangun masjid agung, Para Wali semua telah merestui, modelnya tiruan masjid Makkah, dirimu yang bertanggung jawab, seluruh proses pembangunannya, sekaligus bertanggung jawab untuk mempersiapkan bahan-bahannya usuk (pasak) sirap (genting dari daun sirap) blandar (balok kayu yang terletak di atas bangunan) berikut tali, begitu juga pangêrêt (bagian dari belandar) dan wuwung (atap) nya. 

35.
Sun tempuhkên maring sira yayi, dene kanca sagung Pra Oliya, sun bubuhi sêsakane, sagung kang saka guru, sun têmpuhken kang Para Wali, dene kang saka rawa, pra Mukmin sadarum, sun bubuhi saka rawa, kayu jati milihana kang prayogi, nuli padha ngambila.

Kepada dirimu (Adipati Bintara) aku berikan tanggung jawab ini, kepada seluruh Para Auliya’, aku beri tanggung jawab untuk membuat Saka (Tiang), seluruh Saka Guru (Tiang Utama), aku serahkan tanggung jawab untuk membuatnya kepada Para Wali, sedangkan Saka Rawa (Tiang Tambahan), aku berikan tanggung jawab untuk membuatnya kepada para mukmin semua, aku ingin bangunan Saka (Tiang) ditambah dengan Saka Rawa (Tiang tambahan), dibuat dari kayu jati pilihan yang bagus, segeralah dikerjakan. 

36.
Kang liningan sandika wot sari, Para Wali wus rêmbag sadaya, nulya bubar mring alase, pan sami ngambil kayu, Para Wali lan Para Mukmin, mring alas ting salêbar, na ngalor angidul, ana ngulon ana ngetan, kawarna-a lampahe Jêng Sunan Kali, wus prapta wana pringga.

Yang diperintahkan semua segera menuruti, Para Wali selesai berembug, lantas bubar menuju hutan, untuk mengambil kayu, Para Wali dan Para Mukmin, menyebar di hutan, ada yang menuju utara ada yang ke selatan, ada yang menuju ke arah barat ada pula yang menuju ke arah timur, diceritakan perjalanan Sunan Kali, telah sampai pula di dalam hutan. 

37.
Madik kayu lurusa kang uwit, tinêngêran kang badhe sêsaka, pan sakawan bubuhane, Jêng Sunan nulya ndulu, wontên kodhok ginondhol wêling, Kangjêng Sunan sang sabda, wijiling sabda HU, kang sarpa glêpeh mangsanya, kang canthoka ucul manculat atêbih, matur kang punang sarpa.

Mencari pohon yang berbentuk lurus, lantas diberi tanda, empat buah jumlahnya, (tiba-tiba) Jêng Sunan lantas melihat, ada sekor katak dibawa lari oleh seekor ular, Kangjêng Sunan mengeluarkan sabda, bunyi sabda beliau adalah HU, sang ular terkejut dan terlepaslah mangsanya, sang katak lepas dan melompat lari menjauh, berkatalah sang ular. 

38.
Punapa Jêng Susuhunan Gusti, ngandika HU hucul mangsan kula, de ta paran ing artine, Jêng Sunan ngandika rum, Ya HULUNEN mangsanireki, punang sarpa glis kesah, canthoka lon rawuh, muwus matur Punapa-a, ngandika HU luwar kawula asakit, langkung nuwun sih tuwan.

Mengapa Gusti Kangjêng Susuhunan, berkata HU sehingga hucul (lepas) mangsa hamba, apa maksud tuan? Jêng Sunan berkata pelan, Artinya HULUNEN (TELANLAH) mangsamu, mendengar akan hal itu sang ular segera pergi, sepeninggal sang ular kini sang katak yang datang, bertanya Apa maksud (Kangjêng Sunan) tadi berkata HU sehingga terlepas saya dari kematian, hamba menghaturkan terima kasih yang tidak terkira. 

39.
Lon nauri Kangjêng Sunan Kali, Artine HU HUCULA kang sarpa, aja mangsa salamine, Punang canthoka nuwun, Datan sagêd mangsuli kang sih, amung pakarya tuwan, arsa ngusung kayu, kula sagah ndhatêngna, mring Bintara yen sampun glondhongan Gusti, kawula kang ambêkta.

Pelan berkata Kangjêng Sunan Kali, Arti ucapanku HUCULA (Lepaslah) dari mulut ular, jangan sampai dimakan dirimu itu, Sang katak sangat berterima kasih, tiada saya bisa membalas kasih (Kangjêng), mungkin dengan memberikan bantuan saya bisa membalasnya, membantu agar mudah pekerjaan tuan untuk mengangkat kayu, hamba sanggup mendatangkan banyak kayu, ke kota Bintara jika sudah berbetuk balok terpotong, sungguh hamba sanggup membawanya. 

40.
Kacarita Jêng Suhunan Kali, nulya lajêng denira lumampah, akapêthuk lan arine, Rasawulan Dyah Ayu, kang atapa ngidang wus lami, tan engêt ing wardaya, supe prajanipun, wus amor lan kidang sangsam, supe kadi cinêluk lumayu nggêndring, ngungun Kangjêng Suhunan.

Diceritakan Jêng Suhunan Kali, lantas meneruskan perjalanannya, tak disangka bertemu dengan adik (kandung)nya, Dyah Ayu Rasawulan, yang sudah lama tengah menjalani Tapa Ngidang (Bertapa di hutan meniru cara hidup binatang Kijang), sudah lupa segalanya, lupa pada tempat tinggal, bercampur dengan binatang kijang, manakala dipanggil malah berlari menghindar, terheran-heran Kangjeng Suhunan (Kalijaga). 

41.
Nulya tindak tan dangu kêpanggih, lan muride kang aran Ki Supa, turune Empu kinaot, angsal sih gurunipun, mila Supa sêkti linuwih, lan malih muridira, wong mukmin satuhu, Iman Sumantri wastanya, inggih sêkti kinasihane pan sami, binêkta mbujung kidang.

Kembali berjalan (Sunan Kalijaga) tidak lama bertemu, dengan muridnya yang bernama Ki Supa, pemuda keturunan Empu terkenal (zaman Majapahit, yaitu Empu Supa Mandrangi atau Ki Pitrang), medapat belas kasih gurunya, sehingga Ki Supa sangat sakti, dan bertemu juga dengan seorang murid yang lain, manusia yang benar-benar beriman, Imam Sumantri namanya, juga terkenal sakti, lantas diajak untuk menangkap kijang (Dyah Ayu Rasawulan). 

42.
Kinen sangu kêpêlan sacêngkir, pan kinarya mbalang kang atapa, Jêng Sunan wangsul pan age, glis prapta prênahipun, kidang estri kang neng wanadri, Sang Rêtna Rasawulan, kêpanggih lumayu, binujung cinêgat-cêgat, binalangan kêpêlan sêga kaping tri, tutut nuli kacandhak.

Disuruh membawa nasi yang dikepal sebanyak satu bulatan kelapa muda kecil (cengkir), hendak dipakai melempar dia yang tengah bertapa, Jêng Sunan (Kalijaga beserta dua orang muridnya) segera kembali, ke tempat dimana, kijang betina yang ada di tengah hutan belantara, Sang Rêtna Rasawulan, ditemukan tetapi dia berlari menghindar, dikejar dan dihadang berkali-kali, dilempar kepalan nasi sampai tiga kali lemparan, menurut lantas dipegang. 

43.
Jaka Supa kang nyêkêl Sang Dewi, Rasawulan supe tanpa sinjang, budi cinêkêl astane, aglis nuli tinimbul, mring Jêng Sunan pinudya eling, bêntinge Jaka Supa, tinapihkên sampun, apan sampun kinêmbenan, mring Ki Supa Sang Rêtna cinêluk eling, eling manusanira.

Jaka Supa yang berhasil menangkap Sang Dewi, (Dewi) Rasawulan lupa tidak memakai busana, hendak memberontak dipegang erat tangannya, segera ditiup ubun-ubunnya, oleh Jêng Sunan (Kalijaga) agar supaya ingat, kêmbên Jaka Supa, dilepas dan dipakaikan kepada Dyah Rasawulan, sesudah memakai kemben, oleh Ki Supa Sang Retna (Rasawulan) dipanggil agar ingat, seketika kembali kesadarannya sebagai manusia. 

44.
Kangjêng Sunan Kali ngandika ris, Luwih bangêt ing tarimaningwang, sira bisa nyêkêlake, marang ing ariningsun, Rasawulan kang wus alali, mring kamanusanira, saiki wus emut, lawan sira wehi sandhang, iya sira mangkuwa Nagari Tubin, Supa karyanên krama.

Kangjeng Sunan Kali berkata pelan, Aku sangat berterima kasih (kepadamu Jaka Supa), karena kamu bisa menangkap adikku, Rasawulan yang tengah lupa, lupa kesadarannya sebagai manusia, dan sekarang sudah ingat, dan telah pula kamu berikan busana, oleh karena itu ambillah tahta Negara Tuban, (dan engkau adikku) menikahlah dengan (Jaka) Supa. 

45.
Tur sandika Sang Rêtna ing Tubin, Kangjêng Sunan angatêring Tuban, datan winarna lampahe, Nagri Tuban wus rawuh, panggih Rama lan Ibuneki, Sang Dyah Rêtna Dumilah, asru tangisipun, rinangkul kang putra kênya, angarangkul marang putrane kêkalih, tan nyana maksih gêsang.

Sang Rêtna dari Tuban (Rasawulan) menghaturkan kesediaannya, Kangjêng Sunan (Kalijaga) menghantarkan mereka pulang ke Tuban, telah sampai di Negeri Tuban, bertemu dengan Rama dan Ibu, Sang Dyah Rêtna Dumilah, pecah tangisnya, dipeluknya putri satu-satunya (yang baru pulang), lantas merangkul kedua putranya, tak mengira keduanya masih berumur panjang. 

46.
Dene titi lami tan kawarti, tata tita kang nangisi putra, kalih wus atur sêmbahe, mring Rama lawan Ibu, Sang Dipati ngandika aris, Dhuh nyawa putraningwang, ingsun pan wus sêpuh, sira aja lunga-lunga, ngadhêpana nagaranira ing Tubin, sun meh prapteng sêmaya.

Tidak diceritakan pertemuan, pertemuan dia yang tengah menangisi putranya, kedua (putra) menghaturkan sembah, kepada Rama dan Ibunya, Sang Adipati (Tuban) berkata pelan, Duh putra belahan jiwaku, aku sudah tua, janganlah pergi-pergi lagi, ambillah tahta Negerimu Tuban, diriku sudah mendekati janji (kematian).

47.
Tur sandika Kangjêng Sunan Kali, nulya matur ngaturi pariksa, ing lampahe sarirane, katur sadayanipun, saking purwa wasana prapti, myang salahe arinya, katur Rama Ibu, langkung ngungun Ki Dipatya, myarsa atur kalintang ngêrêsing galih, dhumatêng ingkang putra.

Kangjêng Sunan Kali menghaturkan kesediaan, lantas berkata untuk menceritakan, perjalanan dirinya (selama pergi dari Tuban), diceritakan semuanya, dari awal hingga akhir, berikut juga keadaan adiknya (Rasawulan), diceritakan semua kepada Rama dan Ibunya, sangat heran Ki Adipati (Tuban), mendengarkan cerita yang membuat hati terenyuh, kepada sang putra. 

48.
Sang Dipati angandika aris, Luwarana kulup arinira, tumuliya ing dhaupe, lan Ki Supa puniku, tumuliya dhaupna nuli, lan rinta Rasawulan, Enggale wus dhaup, sampun panggih kang pangantyan, tan winarna panggihanira Sang Putri, atut apalakrama.

Sang Dipati (Tuban) berkata pelan, Sudah segera laksanakan, pernikahan adikmu, dengan Ki Supa, nikahkanlah, adikmu Rasawulan, Segera dilangsungkan pernikahan, sudah dipertemukan dalam sebuah resepsi, tak diceritakan resepsi pernikahan Sang Putri (Rasawulan), keduanya rukun dalam ikatan pernikahan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...