primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Selasa, 28 Januari 2014

BABAT TANAH JAWA RIWAYAT SUNAN KALIJAGA (P#2)



BABAT TANAH JAWA 
RIWAYAT SUNAN KALIJAGA (P#2)
Raden Mas Sahid/Syeh Malayakusuma
(Kangjeng Susuhunan Ing Kalijaga)

RIWAYAT SUNAN KALIJAGA (2)
Diambil pupuh-pupuh dari Babad Tanah Jawa yang berkaitan dengan riwayat Sunan Kalijaga. Diterjemahkan oleh : Damar Shashangka

Pupuh S i n o m
1. 
………………………………., …………………………., Ingkang kocapa malih, Kangjêng Sunan Benang iku, engêt pêndhêmanira, putra ing Tuban rumiyin, Kangjêng Sunan alon denira ngandika.

Diceritakan kembali, Kangjeng Sunan Benang, teringat akan yang tengah ditanam, putra (Adipati) Tuban dulu, Kangjeng Sunan pelan berkata. 
2. 
Mring sahbat murid pinêpak, kinen mbêkta wadung kudi, Jêng Sunan nulya lumampah, aglis prapta ing wanadri, waringin wus kapanggih, ngrêmpoyok yode ngrêmbuyung, anulya binabadan, tinêgor punang waringin, wus dhinudhuk pêndhêman putra ing Tuban.

Kepada seluruh sahabat dan murid semua, disuruh untuk membawa cangkul, Jêng Sunan lantas berjalan, telah sampai di hutan, mendapati (tempat dimana Raden Sahid ditanam telah ditumbuhi) pohon beringin, banyak akarnya dan sangat rimbun, lantas dibabati, pohon beringin ditebang, lalu dibongkarlah tempat dimana putra (Adipati) Tuban tengah ditanam. 

3. 
Pinrênah amben-ambenan, lir gana warnane putih, binêkta mantuk ing Benang, tan winarna aneng margi, wus prapta pondhok wukir, kinutugan sakul baru, emut Jaka ing Tuban, pêpungun nulya ngabêkti, glis rinangkul Ki Jaka mring Jêng Suhunan.

Diletakkan ditempat yang dibuat mirip seperti ranjang, (Raden Sahid) bagaikan mayat pucat dan putih, lantas dibawa pulang ke Benang, tidak diceritakan dalam perjalanan, telah sampai di pondok (pesantren yang terletak diatas) gunung, (sosok tersebut) diasapi dengan asap nasi yang baru matang, seketika sadarlah Jaka dari Tuban, sejenak keheranan lantas menyembah, segera dipeluk Ki Jaka (Tuban) oleh (Kang)jêng Suhunan (Benang).

4. 
Langkung sih Jêng Sunan Benang, maring Ki Jaka ing Tubin, ingaken kadang taruna, pinanggihakên kang rayi, pinaringan kêkasih, Syeh Malaya wus misuwur, panggihe tan winarna, sampun atut palakrami, Syeh Malaya andangu Jêng Sunan Benang.

Sangat sayang (Kang)jêng Sunan Benang, kepada Ki Jaka dari Tuban, dianggap sebagai adik sendiri, lantas dijodohkan dengan adik (Sunan Benang), diberi gelar, Syeh Malaya dan (gelar tersebut sudah) terkenal, (prosesi) pernikahan tidak diceritakan, (kedua pengantin) sudah rukun dalam ikatan pernikahan, Syeh Malaya berkata kepada (Kang)jêng Sunan Benang. 
PUPUH PANGKUR
1. 
……………………………, kocapa putra Tuban, Syeh Malaya kang abrangta mring Hyang Agung, kalintang bêkti Hyang Suksma, tan tolih mring anak rabi.

Diceritakan kembali kisah sang putra (Adipati) Tuban, Syeh Malaya yang tengah mabuk cinta kepada Hyang Agung (Tuhan), sangat berbakti kepada Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib), (hingga) lupa kepada anak istri. 

2. 
Saênggon-ênggon martapa, midêr ing rat aneng wana lan wukir, nênêpi guwa kang samun, keh guwa linêbêtan, mring pasantren sadaya jinajah sampun, wus tinarima mring Suksma, tan samar tingal kang gaib.

Di setiap tempat menjalankan tapa brata, mengelilingi dunia menjelajah hutan dan gunung, masuk menyepi di dalam gua yang sunyi, banyak gua telah dimasukinya, seluruh pesantren telah didatangi, sudah diterima (laku batinnnya) oleh (Hyang) Suksma (Yang Maha Gaib), sudah mampu melihat segala hal yang gaib. 

3. 
Samana ngidêri jagad, Syeh Malaya ngubêngi kang pasisir, wus prapta pasisir kidul, mênangi janma tapa, aneng guwa guwa Langse wastanipun, nênggih namane kang tapa, Syeh Maulana Maghribi.

Di kala tengah berkelana, Syeh Malaya saat itu mengelilingi pesisir (samudera), sampai di pesisir (laut) selatan, mendapati seorang manusia yang tengah bertapa, di dalam gua, gua Langse namanya, beliau yang bertapa bernama, Syeh Maulana Maghribi. 

4. 
Wus lami dennya martapa, aneng guwa tapakur tanpa muni, ngantos panjang remanipun, kukune ting carongot, datan nyandhang jarikipun ajur mumur, Syeh Malaya gawok mulat, kaelokaning Hyang Widdhi.

Sudah lama beliau bertapa, di dalam gua bertafakkur tanpa bicara, hingga panjang rambutnya, (kuku-kuku tangan dan kaki) pun mencuat panjang, tidak berbusana, pakaiannya hancur luluh, Syeh Malaya terkesima melihat, kebesaran Hyang Widdhi. 

5. 
Mangkono osiking nala, luwih têmên kaelokaning Widdhi, kang tapa sandhange mumur, kuku remane panjang, tanpa mangan suprandene nora lampus, luwih têmên kinasihan, mring Hyang Suksma Kang Linuwih.

Dalam hati keheranan dan berkata, sangat-sangat mengherankan kebesaran (Hyang) widdhi, manusia yang tengah bertapa ini busananya telah hancur luluh, kuku dan rambutnya panjang, tiada makan (dan minum) akan tetapi tidak juga mati, manusia ini sangat disayangi, oleh Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib) Yang Maha Lebih. 

6. 
Ing ngêndi pinangkanira, kang martapa ragane den sakiti, kang tapa angling ing kalbu, unandikaning nala, Syeh Malaya aja ngrêgoni maringsun, tan kobêr nampani sira, lagi ngandikan Hyang Widdhi.

Darimana asalnya orang ini, hingga menyakiti raga sedemikian rupa, yang tengah bertapa segera menjawab melalui batin, berkata dengan batinnya, Syeh Malaya jangan menggangguku, aku tidak sempat menerima kehadiranmu, aku tengah berbincang-bincang dengan Hyang Widdhi. 
7. 
Syeh Malaya datan samar, ing osike kang tapa wus udadi, ngraos kasoran pandulu, kaluhuraning cipta, Syeh Malaya saking guwa nulya mundur, lêstati ing lampahira, nurut ereng-ereng wukir.

Syeh Malaya tidak khilaf (akan ucapan dari batin yang tengah bertapa), mampu didengarnya dan dimengerti, (Syeh Malaya) merasa kalah dalam keluhuran, keluhuran batin, Syeh Malaya dari gua lantas mundur keluar, melanjutkan perjalanan, berjalan menyisir pingiran gunung. 

8. 
Wus lêpas dennya lumampah, Syeh Malaya prapta ing Crêbon Nagri, kendêl aneng ing lêlurung, nuju marga prapatan, sêsareyan ambathang aneng lêlurung, dakare ngadêg lir naga, wong liwat merang ningali.

Telah keluar dari hutan, Syeh Malaya sampai di Negeri Cirêbon, berdiam di tengah jalan, tepat di tengah perempatan, segera tertidur di sana, zakar beliau berdiri bagaikan naga yang perkasa, setiap yang lewat melihat dengan keheranan. 

9. 
Katur mrang Pangeran Modhang, lamun wontên tiyang tilêm ing margi, kang dakar ngadêg kalangkung, Pangran nulya marentah, mring garwane kinen nggodha kang neng lurung, garwa sakawan tumandang, milih ingkang lindri manis.

Dilaporkan kepada Pangeran Modhang, bahwasanya ada orang yang tidur di tengah jalan, sedangkan dzakarnya berdiri kokoh, Pangeran (Modhang) lantas memerintahkan, kepada para istrinya agar menggoda yang tengah tidur di jalan, empat orang istri berangkat, dipilih yang bertubuh indah serta cantik. 

Pupuh Dandanggula

1. 
Kawarna-a samana wus mijil, Prapteng lurung prênahing kang tapa, ginugah aneng ênggone, Sadalu neng lêlurung, garwa catur anggodha sami, nanging datan rinasa, ingkang tapa turu, dakare malah anendra, amangkêrêt nggalinting langkung dennya lir, kang garwa mundur merang.

(Keempat istri Pangeran Modhang) Sudah keluar dari keraton, sampai di tempat manusia yang tengah bertapa (tidur), dibangunkan dan digoda, semalaman mereka di jalan, keempat istri (Pangeran Modhang) terus mencoba menggoda, akan tetapi tidak dihiraukan oleh yang tengah bertapa tidur, bahkan zakar beliau langsung mengecil, mengkerut sangat kecil, keempat istri (Pangeran Modhang) mundur keheranan. 

2. 
Prapteng Pura matur marang laki, tur uninga solahe anggodha, tan pêpayon panggodhane, malah dakar kang wungu, dadi alum sacabe aking, Jêng Pangran angandika, Yen Wali kang turu, Jêng Pangran apan tumindak, mring lêlurung ingiring kang para murid, prapteng nggon Syeh Malaya.

Pulang ke dalam keraton dan melaporkan kepada sang suami, menceritakan hasil usaha mereka, yang tiada dianggap (diacuhkan) saat menggoda, bahkan zakar yang tengah bangun berdiri, menjadi kecil sebesar cabe kering, (Kang)jêng Pangeran (Modhang) berkata, Dia adalah seorang Wali, Bergegas Pangeran (Modhang), pergi ke jalanan diiringi para muridnya, sampai di tempat Syeh Malaya (yang masih tidur). 

3. 
Uluk salam Pangeran duk prapti, Syeh Malaya nauri kang salam, nanging taksih eca sare, Jêng Pangran malah tunggu, aneng lurung angsal sapta ri, nulya wungu kang nendra, sêsalaman sampun, Syeh Malaya aris nabda, Sun aturu aneng ing marga puniki, tan idhêp yayi prapta.

Begitu sampai Pangeran (Modhang) segera mengucapkan salam, Syeh Malaya menjawab salam (Sang Pangeran Modhang), namun tetap tidur dengan nikmatnya, Jêng Pangeran (Modhang) menunggu, di pinggir jalan hingga tujuh hari lamanya, (genap tujuh hari kemudian) bangunlah yang tengah tidur, (Syeh Malaya dan Pangeran Modhang) saling bersalaman, Syeh Malaya berkata pelan, Aku tidur di tengah jalan ini, tidak tahu kalau yayi (adik) tengah datang. 

4. 
Matur nuwun Pangran Wukirjati, Dhuh kakangmas suwawi katuran, mampir aneng jro kadhaton, Syeh Malaya lon muwus, Sun tarima sihira yayi, pun kakang mbujang lampah, apan arsa laju, anusul mring guruningwang, Panêmbahan Sunan Benang munggah kaji, lah wis kantuna mulya.

Pangeran Wukirjati (Gunungjati) menghaturkan terimakasih, Dhuh kakangmas mari silahkan, mampir sejenak ke dalam keraton, Syeh Malaya pelan menjawab, Aku sangat berterima kasih yayi (adik), akan tetapi aku tengah mengejar waktu, hendak cepat-cepat berangkat lagi, menyusul guruku, Panêmbahan Sunan Benang yang tengah naik haji, sudahlah yayi (adik) aku mohon pamit dan semoga selamat sepeninggalku.

5. 
Syeh Malaya pan lajeng lumaris, Pangran Crêbon kondur mring kadhatwan, klintang ngungun jroning tyase, ya ta malih winuwus, Syeh Malaya kang arsa kaji, sampun nabrang sêgara, Pulo Upih rawuh, lampahe nulya kapapag, lawan Kangjêng Syeh Maulana Mahgribi, Syeh Mlaya tinakonan.

Syeh Malaya lantas berjalan, Pangeran Cirêbon (Modhang) pulang ke keraton, masih juga belum hilang keheranannya, kembali yang diceritakan, Syeh Malaya yang hendak berangkat haji, telah menyeberangi lautan, sampai di pulau Upih, namun di sana dia dihadang, oleh Syeh Maulana Maghribi, Syeh Malaya lantas ditanya. 
6. 
Heh ya jêbeng arsa mênyang ngêndi, dene sira anabrang sagara, Syeh Malaya alon ture, Manira arsa nglangut, maring Mêkah amunggah kaji, Angling Syeh Maulana, Bêbakal sireku, wong wus antuk kanugrahan, tingal padhang ciptanira pan wus dadi, arsa kaji mring Mêkah.

Wahai jêbeng (anakku) hendak kemanakah, hingga kamu menyeberangi lautan? Syeh Malaya pelan menjawab, Hamba hendak bepergian, ke Makkah untuk menunaikan haji, Berkata Syeh Maulana (Maghribi), Mencari apakah? Dirimu telah mendapat anugerah besar, kesadaranmu telah terang, batinmu telah kokoh, lantas hendak berhaji ke Makkah. 

7. 
Basa Mêkah dudu Kakbah jati, Mêkah tiron têngêrane sela, kang gumantung tanpa centhel,iya tilasanipun, Nabi Ismail kala lair, Nabi Brahim kang yasa, sariat kang tinut, dene wong ahli Makripat, nut ing keblat Kakbah iku sale sami, asline Jati Suksma.

Sesungguhnya arti Makkah bukanlah tempat dimana ada bangunan Ka’bah, di Makkah yang terdapat batu (Hajar Aswad) di sana hanyalah tiruan semata, tiruan dari yang GUMANTUNG TANPA CANTHELAN (SESUATU YANG TERGANTUNG TANPA TEMPAT PENGGANTUNGAN), di sana hanya bekas tempat, kelahiran Nabi Isma'il saat dia lahir, Nabi Ibrahim yang membuat, hanya untuk mereka yang masih belajar dengan tata cara lahir (syari’at), akan tetapi yang sudah sampai pada tataran Ma’rifat, menuruti kiblat Ka’bah itu sudah tidak sepatutnya, sesungguhnya Ka’bah Sejati itu adalah Jati Suksma (Ruh). 

8. 
Ya wus aneng ing sira pribadi, Kang Linuwih Purba Amisesa, aneng sira paesane, pama ngilo sireku, ing carêmin katon kêkalih, Jatine mung Satunggal, Wayangan kadulu, Ana ndulu Wêwayangan, saking tan wruh marang ingkang ngilo carmin, lah jêbeng awangsula.

Sudah ada di dalam dirimu, Yang Maha Lebih Maha Berkuasa dan Maha Berwenang, di dalam dirimu dan kamulah perhiasan-Nya, oleh karenanya bercerminlah dirimu, di dalam cermin terlihat dua sosok (orang yang bercermin dan bayangannya), padahal sesungguhnya kedua-duanya adalah Tunggal, ada bayangan, dan ada yang tengah melihat bayangan, yang tengah bercermin tidak menyadari jikalau keduanya adalah Satu juga. Sudahlah jêbeng pulanglah (ke Jawa). 

9. 
Syeh Malaya kascaryan sabdaning, asru mêndhak arsa ngaras pada, Sang Wiku njawat tangane, Syeh Maulana muwus, Aja nêmbah jêbeng tan kêni, sira padha lan ingwang, lan Wali Panutup, sagung kang Wali atapa, tan madhani brangtane marang Hyang Widdhi, lan wis ingsun tarima.

Syeh Malaya terkesan sabda dari (Syeh Maulana Maghribi), cepat membungkuk dan hendak mencium kaki, Sang Wiku (Syeh Maulana Maghribi) mencegah dengan memegang tangan (Syeh Malaya), Syeh Maulana (Maghribi) berkata, Jangan menyembah aku, dirimu sama dengan diriku, dirimu adalah Wali penutup (Wali terakhir di zaman itu. Dipercaya di setiap zaman akan muncul para Wali atau Manusia Berkesadaran tinggi di seluruh dunia, jumlahnya sudah ditetapkan dalam setiap seratus tahun. Dan pada waktu itu, Raden Sahid/Syeh Malaya/Sunan Kalijaga adalah seorang Wali penutup di zamannya), penutup dari seluruh Wali di dunia yang ahli tapa, tiada yang bisa menyamaimu (seluruh ulama yang disebut Wali di tanah Jawa) akan kecintaanmu pada Hyang Widdhi, sudahlah aku telah menerima penghormatanmu. 

10. 
Syeh Malaya matur atanya ris, Tuwan pundi sintên kang pinudya, amba ayun andhêdherek, Ngandika Sang Awiku, Sun Syeh Maulana Maghribi, ngasrama Pamancingan, Arab asalingsun, aja susah melu mring wang, sira arsa anggêguru maring mami, Ki jêbeng ora kêna.

Syeh Malaya bertanya dengan nada pelan, Tuan darimanakah dan siapakah nama tuan? Hamba ingin ikut dengan Tuan, Menjawab Sang Wiku (Syeh Maulana Maghribi), Aku adalah Syeh Maulana Maghribi (yang pernah kamu temui di dalam gua Langse dulu), padepokanku ada di daerah Pamancingan (sekarang daerah Jogjakarta), aku berasal dari Arab, jangan kamu mengikuti aku, jangan kamu berguru kepadaku, itu tidak boleh. 
11. 
Lamun sira ora den lilani, marang gurunira kang kawitan, wênang sun mlambangi bae, Bêcik wong setya tuhu, Tinarima marang Hyang Widdhi, Tuhu amêrtapa-a, Aneng kali tunggu, Wot Galinggang aneng alas, Aneng alas ndhêkukuwa guruneki, Pêrak tanpa gêpokan.

Manakala dirimu tidak diizinkan oleh gurumu yang pertama (Sunan Benang), aku hanya berhak memberikan perlambang saja (dalam menuntunmu), Sangatlah baik manusia yang setia dan mantap, akan diterima oleh Hyang Widdhi, sungguh-sungguh menjalankan tapa, di pinggir sungai menunggu, pohon Galinggang di dalam hutan, di dalam hutan tersebut tunggulah kedatangan Guru Sejatimu, yang sangat dekat tetapi tidak bersentuhan denganmu.
12. 
Iya têbih tan wangênan nênggih, Nyatakêna den kanthi satmata, Yen karasa ing dheweke, lah uwis tuturingsun, Njawat tangan lajêng lumaris, Kascaryan Syeh Malaya, Kantun neng dêlangggung, Saksana uwit Galinggang, ……………………………., ………………………………………..

Yang sangat jauh tanpa batasan, nyatakanlah dengan kewaspadaanmu, pasti nanti kamu akan mengalami-Nya didalam dirimu, sudah cukup aku memberi petunjuk, (Syeh Maulana Maghribi) menjabat tangan lantas pergi, terkesima Syeh Malaya, sendiri di tengah jalan, lantas dicarinya pohon Galinggang, ………………………………., ……………………………………………

h Jawa !a `� ��� mu pada Hyang Widdhi, sudahlah aku telah menerima penghormatanmu.

10. 


Syeh Malaya matur atanya ris, Tuwan pundi sintên kang pinudya, amba ayun andhêdherek, Ngandika Sang Awiku, Sun Syeh Maulana Maghribi, ngasrama Pamancingan, Arab asalingsun, aja susah melu mring wang, sira arsa anggêguru maring mami, Ki jêbeng ora kêna.
Syeh Malaya bertanya dengan nada pelan, Tuan darimanakah dan siapakah nama tuan? Hamba ingin ikut dengan Tuan, Menjawab Sang Wiku (Syeh Maulana Maghribi), Aku adalah Syeh Maulana Maghribi (yang pernah kamu temui di dalam gua Langse dulu), padepokanku ada di daerah Pamancingan (sekarang daerah Jogjakarta), aku berasal dari Arab, jangan kamu mengikuti aku, jangan kamu berguru kepadaku, itu tidak boleh. 

11. 
Lamun sira ora den lilani, marang gurunira kang kawitan, wênang sun mlambangi bae, Bêcik wong setya tuhu, Tinarima marang Hyang Widdhi, Tuhu amêrtapa-a, Aneng kali tunggu, Wot Galinggang aneng alas, Aneng alas ndhêkukuwa guruneki, Pêrak tanpa gêpokan.

Manakala dirimu tidak diizinkan oleh gurumu yang pertama (Sunan Benang), aku hanya berhak memberikan perlambang saja (dalam menuntunmu), Sangatlah baik manusia yang setia dan mantap, akan diterima oleh Hyang Widdhi, sungguh-sungguh menjalankan tapa, di pinggir sungai menunggu, pohon Galinggang di dalam hutan, di dalam hutan tersebut tunggulah kedatangan Guru Sejatimu, yang sangat dekat tetapi tidak bersentuhan denganmu.

12. 
Iya têbih tan wangênan nênggih, Nyatakêna den kanthi satmata, Yen karasa ing dheweke, lah uwis tuturingsun, Njawat tangan lajêng lumaris, Kascaryan Syeh Malaya, Kantun neng dêlangggung, Saksana uwit Galinggang, ……………………………., ………………………………………..

Yang sangat jauh tanpa batasan, nyatakanlah dengan kewaspadaanmu, pasti nanti kamu akan mengalami-Nya didalam dirimu, sudah cukup aku memberi petunjuk, (Syeh Maulana Maghribi) menjabat tangan lantas pergi, terkesima Syeh Malaya, sendiri di tengah jalan, lantas dicarinya pohon Galinggang, ………………………………

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...