primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Selasa, 28 Januari 2014

BABAD TANAH JAWA : RIWAYAT SUNAN KALIJAGA P#1



BABAD TANAH JAWA
RIWAYAT SUNAN KALIJAGA P#1

RIWAYAT SUNAN KALIJAGA (1)

Diambil pupuh-pupuh dari Babad Tanah Jawa yang berkaitan dengan riwayat Sunan Kalijaga. Diterjemahkan oleh : Damar Shashangka

Pupuh Dandanggula.

1. , ………………………………….., 
………………………….., kawuwusa Dipati Tuban, Ki Rangga Wilwatikta, lawan garwanipun, Kusuma Rêtna Dumilah, putri adi tariman saking Narpati, Brawijaya ping tiga.

Diceritakan kemudian tentang Adipati Tuban, Ki Rangga Wilwatikta, beserta permaisurinya, Sang Bunga Rêtna Dumillah, putri cantik pemberian dari Raja, Brawijaya ketiga.

2. Majalengka Sang Dyah wus sasiwi, jalu estri nggih pambajêngira, Ki Mas Sahid jêjuluke, abagus warnanipun, gagah grêgêk dêdêge inggil, calungan saya lantas, alus sriranipun, tan nggethek tan cirinya, amung siji cacade Rahaden Sahid, asring rêmên kasukan.

(Dari Keraton) Majalengka (Majapahit) Sang Dyah (Retna Dumilah) sudah berputra, lelaki dan perempuan yang sulung, Ki Mas Sahid namanya, sangat tampan, gagah dan tinggi, memakai perhiasan kepala semakin tampan, halus tingkah lakunya, tak bercacat dan tak berciri, hanya satu kekurangannya Ra(ha)den Sahid, yaitu suka bermain judi.

3. Kang taruna wanudya yu luwih, kêkasihe Dewi Rasawulan, kadya Ratih Dyah citrane, rêmên tapa Sang Ayu, wimbuh cahya anawang sasi, amrik ati sêmunya, jatmika ing têmbung, alon tindak-tandukira, sasolahe akarya kêpyuring galih, samya estri kasmaran.

Putra bungsu seorang wanita cantik, bernama Dewi Rasawulan, bagaikan Dyah (Dewi) Ratih rupanya, sang ayu suka bertapa, bertambah cahayanya bagaikan bulan, memikat hati jika dilihat, sopan bila berbicara, halus tingkah lakunya, setiap geraknya membuat getarnya hati, bahkan sesama wanitapun akan terpikat olehnya.

Pupuh Asmaradana

1. Samana Sang pindha Ratih, tinimbalan mring kang Rama, munggwing keringe ibune, tanapi kang putra priya, Dyan Sahid munggwing ngarsa, Sang Dipati ngandika rum, Angger sira akrama-a.

Waktu itu yang bagaikan Dewi Ratih (Dewi Rasawulan), dipanggil oleh Ramanda, menghadap tepat berada di sebelah kiri ibunya, sedangkan putra pria, (yaitu) Raden Sahid menghadap tepat di depan (Ramandanya), Sang Adipati berkata lembut, Putraku menikahlah.
2. Pilihana para putri, putrane para Dipatya, yen ana dadi karsane, matura ing ibunira, ingsun ingkang anglamar, kang putra datan umatur, lajêng kesah ngabotohan.

Pilihlah di antara para putri dari para Adipati, apabila ada yang menarik hatimu, katakan kepada ibumu, aku yang akan melamar nanti, sang putra tidak menjawab, lantas pergi ke tempat judi.

3. Angling malih Sang Dipati, marang kang putra wanudya, Rasawulan putraningong, sira bae akrama-a, pan sira wus diwasa, Dyah Rasawulan umatur, Benjang kula arsa krama.

Kembali berkata Sang Adipati, kepada putra wanita, Rasawulan putriku, kamu saja menikahlah, kamu sudah dewasa, Dyah Rasawulan menjawab, Nanti saja saya akan menikah.

4. Yen sampun kakangmas krami, kawula purun akrama, ing mangke dereng masane, taksih rêmên amratapa, nênêpi guwa sunya, Kang ibu tansah rawat luh, tan sagêd malangi putra.

Apabila kangmas (Raden Sahid) telah menikah, baru saya mau menikah, sekarang belum saatnya, saya masih suka bertapa, keluar masuk gua yang sepi, Sang Ibu hanya bisa menangis (mendengar penolakan kedua putra dan putrinya), tak bisa lagi menghalangi kehendak keduanya.

5. Kuneng Sang Dipati Tubin, warnanên wau kang putra, kang kesah mring kalangane, ngabên sawung sampun kalah, kêplêk kecek tan mênang, prabote têlas sadarum, sawunge kinarya tohan.

Berganti cerita selain Sang Adipati Tuban, kini menceritakan putra beliau, yang tengah pergi ke tempat perjudian, mengadu ayam sudah kalah, dadu dan kartu tak mendapatkan kemenangan, harta yang dibawa habis sudah, ayamnya dijadikan taruhan.

6. Muring-muring Ki Mas Sahid, pan lajêng angadhang dalan, ambêbegal pakaryane, lan sabên-sabên mangkana, yen kalah ngabotohan, angrêbut aneng marga gung, tan ajrih rinampog tohan.

(Tapi tetap saja mengalami kekalahan) marahlah Ki Mas Sahid, lantas pergi menghadang setiap orang di tengah jalan, merampok pekerjaannya, seperti itulah pekerjaannya setiap hari, manakala kalah berjudi, merampok setiap orang di jalan, tidak memiliki rasa takut sedikitpun.

7. Wus kaloka putra Tubin, digdaya angadhang marga, ambêbegal pakaryane, katur Kangjêng Sunan Benang, yen putra Tuban mbegal, mêjahi lêlurung agung, Jêng Sunan alon ngandika.

Sudah terkenal sang putra (Adipati) Tuban, digdaya saat menghadang setiap orang di jalan, merampok pekerjaannya, terdengar oleh Kangjêng Sunan Benang, apabila putra (Adipati) Tuban menjadi perampok, membunuh orang yang dirampoknya di tengah jalan, (Kang)jêng Sunan pelan berkata.
8. Marang sagung para murid, Payo padha anggêgodha, mring bakal Wali kinaot, Ki Sahid putra ing Tuban, iku kêkasihing Hyang, nanging durung antuk guru, mulane maksih ruhara.

Kepada seluruh para murid, Mari ikut aku untuk menggoda, manusia yang kelak bakal menjadi seorang wali terkenal, yaitu Ki Sahid putra (Adipati) Tuban, sebenarnya dia adalah kekasih Hyang (Agung), akan tetapi belum mendapatkan seorang guru, makanya masih kebingungan batinnya.
9. Nulya pêpak para murid, Jêng Sunan Benang siyaga, apan endah busanane, angagêm srêban rinenda, dhêstare sutra bara, atêkên jungkat sinêlut, kênana tunggal mutyara.

Kemudian lengkaplah berkumpul semua murid, (Kang)jêng Sunan Benang siap sedia, sangat indah busana yang dikenakan, memakai sorban yang direnda, jubahnya dari sutra, tongkatnya sepuhan emas, ujungnya dihiasi dengan mutiara.
10. Jêng Sunan nulya lumaris, ingiring murid sahabat, kalih dasa dharat kabeh, arsa salat marang Mêkah, samana prapteng marga, ing prênahe Sang Binagus, putra Tuban kang mbêbegal.

(Kang)jêng Sunan lantas berjalan, diiringi para murid, dua puluh orang jalan kaki semua, hendak shalat ke Makkah, sampailah di sebuah jalan, tempat dimana Sang Bagus berada, yaitu Sang putra Tuban.

11. Ki Mas Sahid aningali, yen ana wong alim liwat, atêkên jungkat mencorong, ablongsong tunggal mutyara, anulya tinututan, Ki Mas Sahid asru muwus, Paman êndi jungkatira.

Ki Mas Sahid melihat, bahwa ada seorang ulama tengah lewat, tongkatnya berkilauan, bersepuh emas dan berhias mutiara, segera diikuti, Ki Mas Sahid berkata, Paman mana tongkatmu.
12. Dene mencorong sun ambil, yen tan aweh ingsun rêbat, yen arsa nyuduk maring ngong, lah mara nyuduka sira, ing wuri lan ing ngarsa, Jêng Sunan mêsem amuwus, Jêbeng sira salah karya.

Yang terlihat berkilauan aku minta, jika tidak diberikan akan aku rebut, jika hendak menusuk diriku, segeralah kamu tusuk, pilih tubuh yang belakang atau yang depan, (Kang)jêng Sunan tersenyum dan berkata, Jêbeng kamu telah salah sasaran.

13. Sira njaluk jungkat mami, tiwas ambutuhkên lampah, datan akeh pangajine, yen sira rêmên ing dunya, intên miwah kancana, lah iya ambilên gupuh, kancana intên ganjaran.

Kamu meminta tongkatku, hanya melelahkan dirimu saja, sebab tidak begitu mahal harganya, jika kamu suka harta duniawi, intan dan kencana, sekarang ambillah cuma-suma, kencana dan intan anugerah.

14. Ya ta ponang kolang-kaling, tinudingan Kangjêng Sunan, malih dadi mas mêncorong, pan dadya intên kumala, gumlar pating gêlêbyar, Ki Mas Sahid gawok ndulu, mitênggêngên tanpa ngucap.

Sebuah pohon kolang-kaling, ditunjuk oleh Kangjêng Sunan (Benang), berubah menjadi emas berkilauan, menjadi intan dan mutiara, tergelar indah menyilaukan, Ki Mas Sahid terkesima melihatnya, terpaku tak bisa berkata-kata.

15. Jêng Sunan nulya lumaris, alon denira lumampah, den jarag nggodha karsane, sêmu ngênteni kang mbegal, dhuh lagya saonjotan, Ki Mas Sahid nulya emut, ngraos lamun kaluhuran.

(Kang)jêng Sunan lantas berjalan, pelan langkahnya, memang disengaja, maksudnya hendak menanti yang tengah merampok, baru saja satu langkah, Ki Mas Sahid seketika ingat, merasa jika kalah luhur (utama).

16. Ki Mas Sahid wus pinanthi, mring Hyang Suksmana Kawêkas, ngriku prapta nugrahane, osik marang kaluhuran, pratandha trah kusuma, kêpencut ilmu pitutur, kramatnya ingkang sarira.

Sudah menjadi takdir Ki Mas Sahid, takdir Hyang Suksmana Kawêkas (Yang Maha Gaibnya Gaib), saat itulah sudah sampai waktunya, tergerak hatinya pada keutamaan, pertanda dirinya adalah keturunan para kusuma (para luhur juga), terpikat ilmu sejati, keluhuran jiwa raga.

17. Akêbat dennya tut wuri, mring lampahe Sunan Benang, tan matur anginthil bae, wus prapta madyaning wana, kendêl Kangjêng Suhunan, angandika mring kang nusul, Lah ki jêbeng paran karsa.

Cepat dia mengikuti, langkah kaki Sunan Benang, tidak bersuara hanya mengikut saja, hingga tiba di tengah hutan, berhenti Kangjêng Sunan (Benang), dan berkata kepada yang tengah mengikuti (Raden Sahid), Jêbeng (anakku) apa maumu?
18. Anusul mring laku mami, anginthil wong arsa salat, apa arsa makmum angger, Mas Sahid matur anêmbah, Mila kula tut wuntat, ing Paduka Sang Awiku, amba arsa puruhita.

Hingga terus menguntit jalanku, mengikut orang yang hendak shalat, apa ingin menjadi makmum oh anakku, Mas Sahid menjawab sambil menyembah, Hamba mengikut, jalan paduka oh Sang Wiku, hamba berkehendak untuk berguru.

19. Kapengin kadya Sang Yogi, mandi cipta kang kahanan, nuwun winêjang wakingeng, kêdah amba tuduhêna, ilmu kadya Jêng Sunan, anuwun wêjanging ilmu, kawula atur prasêtya.

Ingin menjadi seperti Sang Yogi, terlaksana apapun yang dikehendaki, mohon hamba diberi wejangan, berilah petunjuk kepada hamba, ilmu yang seperti Jêng Sunan miliki, hamba benar-benar memohon untuk diberi wejangan, hamba berjanji setia (menjalani sebagai murid).

20. Kangjêng Sunan mangkya angling, Apa têmên jêbeng sira, ora dora mring Hyang Manon, sira sanggup puruhita, kapengin kadya ingwang, mandi cipta kang satuhu, yen têmên ya tinêmênan.

Kangjeng Sunan (Benang) lantas berkata, Benarkah kamu anakku, tidak bohong kepada Hyang Manon (Tuhan), tidak bohong jika kamu sanggup untuk berguru, ingin seperti diriku, terlaksana apa yang dikehendaki, apabila benar-benar mantap pasti akan dikabulkan.

21. Ning abot patukoneki, wong dadi Wali utama, dudu brana panukune, mung lila setya lêgawa, tan mingsêr yen wus ngucap, sih mring Guru jrih Hyang Agung, sun tan ngandêl basa swara.

Tetapi berat maharnya, untuk menjadi Wali utama, bukan harta untuk dijadikan mahar, hanya rela setia dan pasrah, tak ingkar jika sudah berjanji, mengasihi guru takut kepada Hyang Agung (Tuhan), aku tidak percaya jika hanya ucapan saja.

22. Yen ora kalawan yêkti, yêktine wong sanggup sêtya, apa wani sira jêbeng, sun pêndhêm madyaning wana, lawase satus dina, yen wani sira satuhu, jumênêng Syeh Waliyullah.

Aku percaya jika sudah dinyatakan, kenyataan sebagai bukti ucapan orang yang sanggup setia, apakah kamu berani anakku, aku tanam di tengah hutan belantara, selama seratus hari, jika kamu berani, pasti akan menjadi Syeh Waliyullah (Wakil Allah).

23. Nêmbah matur Ki Mas Sahid, Kawula sumangga karsa, tan nêdya cidra Hyang Manon, sanadyan tumêkeng lena, kawula tan suminggah, Jêng Sunan nulya angrangkul, sarwi mesêm angandika.

Ki Mas Sahid menyembah sembari berkata, Hamba mematuhi kehendak (Kangjêng), tak akan berbohong kepada Hyang Manon, walau harus mati, hamba tidak akan takut. Jêng Sunan lantas memeluk, sembari tersenyum dan berkata.

24. Ingsun darmi angsung margi, mring sira Ki Syeh Malaya, satuhune sira dhewe, ing sakarsa-karsanira, anrima Ingkang Murba, heh murid sahabat gupuh, ki jêbeng karyakna luwang.

Sesungguhnya aku hanya penunjuk jalan semata, kepada dirimu Ki Syeh Malaya (Raden Sahid), sesungguhnya kamu sendiri yang bisa menemukan kesejatian, pasrahlah kepada Yang Maha Kuasa, wahai para murid segeralah, Ki Jêbeng (Raden Sahid) buatkan lobang (untuk bertapa).
25. Samana Ki Jaka Tubin, pinêndhêm madyaning wana, wana Gêmbira namane, kang pinêtak wus tinilar, Jêng Sunan lajêng salat, mring Mêkah sakêdhap rawuh, bakdane salat Jumungah.

Waktu itu Ki Jaka Tuban (Raden Sahid), ditanam di tengah hutan belantara, hutan Gêmbira namanya, yang tengah ditanam lantas ditinggalkan, Jêng Sunan lantas shalat, ke Makkah sekejap sudah tiba, seusai shalat Jum’at.
26. Nulya kondur panggih murid, pan lajêng nganglang buwana, ………………………………, 

Lantas pulang bertemu para murid, kemudian mengembara mengitari dunia,………………………..,

, J u `� �{� m amuwus, Jêbeng sira salah karya.

Yang terlihat berkilauan aku minta, jika tidak diberikan akan aku rebut, jika hendak menusuk diriku, segeralah kamu tusuk, pilih tubuh yang belakang atau yang depan, (Kang)jêng Sunan tersenyum dan berkata, Jêbeng kamu telah salah sasaran.
13. Sira njaluk jungkat mami, tiwas ambutuhkên lampah, datan akeh pangajine, yen sira rêmên ing dunya, intên miwah kancana, lah iya ambilên gupuh, kancana intên ganjaran.

Kamu meminta tongkatku, hanya melelahkan dirimu saja, sebab tidak begitu mahal harganya, jika kamu suka harta duniawi, intan dan kencana, sekarang ambillah cuma-suma, kencana dan intan anugerah.
14. Ya ta ponang kolang-kaling, tinudingan Kangjêng Sunan, malih dadi mas mêncorong, pan dadya intên kumala, gumlar pating gêlêbyar, Ki Mas Sahid gawok ndulu, mitênggêngên tanpa ngucap.

Sebuah pohon kolang-kaling, ditunjuk oleh Kangjêng Sunan (Benang), berubah menjadi emas berkilauan, menjadi intan dan mutiara, tergelar indah menyilaukan, Ki Mas Sahid terkesima melihatnya, terpaku tak bisa berkata-kata.

15. Jêng Sunan nulya lumaris, alon denira lumampah, den jarag nggodha karsane, sêmu ngênteni kang mbegal, dhuh lagya saonjotan, Ki Mas Sahid nulya emut, ngraos lamun kaluhuran.

(Kang)jêng Sunan lantas berjalan, pelan langkahnya, memang disengaja, maksudnya hendak menanti yang tengah merampok, baru saja satu langkah, Ki Mas Sahid seketika ingat, merasa jika kalah luhur (utama).

16. Ki Mas Sahid wus pinanthi, mring Hyang Suksmana Kawêkas, ngriku prapta nugrahane, osik marang kaluhuran, pratandha trah kusuma, kêpencut ilmu pitutur, kramatnya ingkang sarira.

Sudah menjadi takdir Ki Mas Sahid, takdir Hyang Suksmana Kawêkas (Yang Maha Gaibnya Gaib), saat itulah sudah sampai waktunya, tergerak hatinya pada keutamaan, pertanda dirinya adalah keturunan para kusuma (para luhur juga), terpikat ilmu sejati, keluhuran jiwa raga.

17. Akêbat dennya tut wuri, mring lampahe Sunan Benang, tan matur anginthil bae, wus prapta madyaning wana, kendêl Kangjêng Suhunan, angandika mring kang nusul, Lah ki jêbeng paran karsa.

Cepat dia mengikuti, langkah kaki Sunan Benang, tidak bersuara hanya mengikut saja, hingga tiba di tengah hutan, berhenti Kangjêng Sunan (Benang), dan berkata kepada yang tengah mengikuti (Raden Sahid), Jêbeng (anakku) apa maumu?

18. Anusul mring laku mami, anginthil wong arsa salat, apa arsa makmum angger, Mas Sahid matur anêmbah, Mila kula tut wuntat, ing Paduka Sang Awiku, amba arsa puruhita.

Hingga terus menguntit jalanku, mengikut orang yang hendak shalat, apa ingin menjadi makmum oh anakku, Mas Sahid menjawab sambil menyembah, Hamba mengikut, jalan paduka oh Sang Wiku, hamba berkehendak untuk berguru.

19. Kapengin kadya Sang Yogi, mandi cipta kang kahanan, nuwun winêjang wakingeng, kêdah amba tuduhêna, ilmu kadya Jêng Sunan, anuwun wêjanging ilmu, kawula atur prasêtya.

Ingin menjadi seperti Sang Yogi, terlaksana apapun yang dikehendaki, mohon hamba diberi wejangan, berilah petunjuk kepada hamba, ilmu yang seperti Jêng Sunan miliki, hamba benar-benar memohon untuk diberi wejangan, hamba berjanji setia (menjalani sebagai murid).
20. Kangjêng Sunan mangkya angling, Apa têmên jêbeng sira, ora dora mring Hyang Manon, sira sanggup puruhita, kapengin kadya ingwang, mandi cipta kang satuhu, yen têmên ya tinêmênan.

Kangjeng Sunan (Benang) lantas berkata, Benarkah kamu anakku, tidak bohong kepada Hyang Manon (Tuhan), tidak bohong jika kamu sanggup untuk berguru, ingin seperti diriku, terlaksana apa yang dikehendaki, apabila benar-benar mantap pasti akan dikabulkan.

21. Ning abot patukoneki, wong dadi Wali utama, dudu brana panukune, mung lila setya lêgawa, tan mingsêr yen wus ngucap, sih mring Guru jrih Hyang Agung, sun tan ngandêl basa swara.

Tetapi berat maharnya, untuk menjadi Wali utama, bukan harta untuk dijadikan mahar, hanya rela setia dan pasrah, tak ingkar jika sudah berjanji, mengasihi guru takut kepada Hyang Agung (Tuhan), aku tidak percaya jika hanya ucapan saja.

22. Yen ora kalawan yêkti, yêktine wong sanggup sêtya, apa wani sira jêbeng, sun pêndhêm madyaning wana, lawase satus dina, yen wani sira satuhu, jumênêng Syeh Waliyullah.

Aku percaya jika sudah dinyatakan, kenyataan sebagai bukti ucapan orang yang sanggup setia, apakah kamu berani anakku, aku tanam di tengah hutan belantara, selama seratus hari, jika kamu berani, pasti akan menjadi Syeh Waliyullah (Wakil Allah).
23. Nêmbah matur Ki Mas Sahid, Kawula sumangga karsa, tan nêdya cidra Hyang Manon, sanadyan tumêkeng lena, kawula tan suminggah, Jêng Sunan nulya angrangkul, sarwi mesêm angandika.

Ki Mas Sahid menyembah sembari berkata, Hamba mematuhi kehendak (Kangjêng), tak akan berbohong kepada Hyang Manon, walau harus mati, hamba tidak akan takut. Jêng Sunan lantas memeluk, sembari tersenyum dan berkata.

24. Ingsun darmi angsung margi, mring sira Ki Syeh Malaya, satuhune sira dhewe, ing sakarsa-karsanira, anrima Ingkang Murba, heh murid sahabat gupuh, ki jêbeng karyakna luwang.

Sesungguhnya aku hanya penunjuk jalan semata, kepada dirimu Ki Syeh Malaya (Raden Sahid), sesungguhnya kamu sendiri yang bisa menemukan kesejatian, pasrahlah kepada Yang Maha Kuasa, wahai para murid segeralah, Ki Jêbeng (Raden Sahid) buatkan lobang (untuk bertapa).
25. Samana Ki Jaka Tubin, pinêndhêm madyaning wana, wana Gêmbira namane, kang pinêtak wus tinilar, Jêng Sunan lajêng salat, mring Mêkah sakêdhap rawuh, bakdane salat Jumungah.

Waktu itu Ki Jaka Tuban (Raden Sahid), ditanam di tengah hutan belantara, hutan Gêmbira namanya, yang tengah ditanam lantas ditinggalkan, Jêng Sunan lantas shalat, ke Makkah sekejap sudah tiba, seusai shalat Jum’at.

26. Nulya kondur panggih murid, pan lajêng nganglang buwana, ………………………………, 

Lantas pulang bertemu para murid, kemudian mengembara mengitari dunia,………………………..,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...