primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label WISATA GOA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA GOA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 April 2014

Misteri Goa Langse, Dari Sunan Kalijaga, Panembahan Senopati, Hingga Soeharto

Wisata Goa 

Misteri Goa Langse, Dari Sunan Kalijaga, Panembahan Senopati, Hingga Soeharto

Misteri Goa Langse, Dari Sunan Kalijaga, Panembahan Senopati, Hingga Soeharto
Mulut Gua Langse tampak dari Gardu Pandang. Sebuah bendera ditancapkan  di depan mulut gua.  Foto: M. Hariwijaya/Ensiklopedi Gunungkidul
Giricahyo, Purwosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, Indonesia
Mulut Gua Langse tampak dari Gardu Pandang. Sebuah bendera ditancapkan di depan mulut gua
Foto: M. Hariwijaya/Ensiklopedi Gunungkidul

Gunungkidul memang kental dengan mitos. Ribuan tempat yang dipercaya memiliki nilai spiritualitas tersebar di banyak tempat. Lagi-lagi karena daerah ini memiliki sejarah panjang dan hubungan dengan banyak kerajaan seperti Majapahit dan Mataram yang menjadikan mitos itu begitu kuat. Lagi-lagi ini mitos. Ada yang meyakini ada yang tidak.

Salah satu tempat yang cukup terkenal adalah Gua Langse di tebing pantai selatan yang berada di Pedukuhan Gabug, Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari Gunungkidul. Suasana pantai, panorama laut selatan dan sunset menambah keindahan pemandangan di sekitar gua yang amat luas ini. 

Dipenuhi stalaktit dan stalakmit, sungai bawah tanah yang sangat licin, serta sebuah sumur berair tawar. Gua Langse merupakan tempat ziarah atau wisata rohani dan dibuka untuk umum sejak tahun 1948. 

Panembahan Senopati melakukan tirakat selama 40 hari di gua ini memohon tambahan kekuatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebelum memulai membuka Alas Mentaok yang akan digunakan sebagai ibukota Kerajaan Mataram.

Gua Langse pernah juga dipakai tirakatan oleh Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar, Raja-raja Mataram, Pangeran Diponegoro, bahkan Presidan RI Soekarno, Soeharto dan Jendral Sudirman. Gua Langse berada di sebelah tenggara pantai Parangtritis dan Pantai Parangndok. Akses menuju lokasi cukup jelas ketika berada di Pantai Parangtritis atau Gardu Pandang Parangndok karena sudah ada plang yang mengarahkan perjalanan. Kedalaman Gua Langse ini sekitar 100-200 meter dengan dua ruangan utama, di dalam gua terdapat tempat ritual.

Pelaku spiritual yang sungguh-sungguh bersamadi di ruang dalam yang gelap gulita. Sedangkan para pemula bisa tetirah di dekat dengan mulut gua atau di sebuah bangunan yang lokasi tidak jauh dari lokasi gua yang dibangun oleh kelompok Penghayat Kepercayaan Purnomo Sidi dari Kedunglumbu Surakarta. Gua Langse ini dulu juga merupakan tempat bersarangnya Burung Walet, namun sekarang burung-burung itu sudah tidak ada lagi di tempat ini. Dengan ketinggian tebing nyaris tegak lurus, perjalanan menuju wisata Gua Langse menjadi tantangan tersendiri. Jalan menuju ke kaki tebing tempat gua berada berupa campuran antara tangga, akar dan tonjolan bebatuan.

Di dalam gua terdapat peraturan dilarang berbicara, memotret dan menghidupkan cahaya, khususnya di ruangan semedi.

Sumber: Ensiklopedi Gunungkidul

denah goa langse

SIAPKAN MENTAL dan FISIK untuk menikmati keindahan di balik aroma mistik di Goa Langse
Untuk Memacu Adrenalin di Goa Langse

Sebagai ilustrasi awal goa langse ini dikenal sebagai tempat semadi atau "nenepi", jaraknya sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Yogyakarta. Setiap hari, selalu ada orang yang mendatangi tempat ini, dengan maksud memanjatkan doa agar memperoleh keberhasilan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Pada saat tertentu seperti malam Selasa dan Jumat Kliwon, pengunjung Goa Langse lebih banyak lagi jumlahnya, rata-rata mencapai 30 orang.

Goa Langse termasuk dalam wilayah administratif  Pedukuhan Gabug, Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari Gunungkidul. Provinsi DI Yogyakarta. 

Di bawah ini beberapa foto perjalanan menuju goa.
Demi keamanan dan keselamatan pengunjung, 
laporan terus isi buku tamu dan bayar tiket seiklasnya di pos jaga.
Untuk menuruni tebing goa, hanya tersedia tangga kecil dari bambu. ....
 ada juga tangga besi tapi sudah karatan karena terkena air laut.
Adrenalin tambah naik ketika melewati tebing yang di depannya langsung menghadap ke laut, 
tinggi tebing kurang lebih 400m yang nyaris tegak lurus, 
dan hanya bisa dilewati satu orang. Jadi kalau dari dua arah  harus gantian.
Jalan menuju goa lumayan lebar di banding jalan sebelumnya, mulut goa juga sudah terlihat.
Kondisi goa bagian depan, lembab tetapi tidak terlalu gelap karena mulut goa cukup besar, jadi memungkinkan cahaya matahari masuk.
Lokasi Pintu Goa Langse

Sendang Gua Langse

Sesampainya di gua, pengunjung bisa mandi di salah satu bilik. Air yang dipakai mandi berasal dari mata air yang keluar dari dalam gua. Airnya yang dingin dan tawar serta mengandung kadar kapur tinggi bisa menghilangkan kelelahan akibat perjalanan menuju gua.

Selesai mandi, barulah Anda dipersilakan untuk bersemedi. Kesunyian di dalam gua sangat membantu untuk memusatkan pikiran. Suara yang terdengar hanyalah debur ombak pantai selatan.

Yang membuat puas perjalanan ini adalah pemandangan di depan goa, laut lepas dan hijaunya daun kelapa. Dari jauh juga tampak pendopo, tempat beristirahat para pelaku spiritual.

Sabtu, 01 Maret 2014

Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan "Walisongo: Periodesasi ke 9, 1650 – 1750M"

Tapak Jejak "WALISONGO" 

Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan "Walisongo: Periodesasi ke 9, 1650 – 1750M"

Periodesasi ke 9, 1650 – 1750M, terdiri dari:
  1. Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (tahun 1750 menggantikan Sunan Magelang)
  2. Syaikh Shihabuddin Al-Jawi (tahun 1749 menggantikan Baba Daud Ar-Rumi)
  3. Sayyid Yusuf Anggawi (Raden Pratanu Madura), Sumenep Madura (Menggantikan mertuanya, yaitu Sultan Hadiwijaya / Joko Tingkir)
  4. Syaikh Haji Abdur Rauf Al-Bantani, (tahun 1750 Menggantikan Maulana Yusuf, asal Cirebon )
  5. Syaikh Nawawi Al-Bantani. (1740 menggantikan Gurunya, yaitu Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus)
  6. Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir ( tahun 1750 menggantikan buyutnya yaitu Maulana Hasanuddin)
  7. Sultan Abulmu’ali Ahmad (Tahun 1750 menggantikan Syaikh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani)
  8. Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri
  9. Sayyid Ahmad Baidhawi Azmatkhan (tahun 1750 menggantikan ayahnya, Sayyid Shalih Panembahan Pekaos)
Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (tahun 1750 menggantikan Sunan Magelang)
SYEKH ABDUL MUHYI PAMIJAHAN
Lahir : Jawa Barat
Orangtua : Sembah Lebe Warta Kusumah 
Menggantikan: Syekh Abdul Qodir (Sunan Magelang)
Daerah da’wah: Jawa Barat dan Jawa Tengah 
Wafat : 1730 M 
Makam : Pamijahan, Bantarkalong, Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat 

Syeikh Haji Abdul Muhyi adalah salah seorang keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Sembah Lebe Warta Kusumah, adalah keturunan raja Galuh (Pajajaran). 
Abdul Muhyi lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 1071 H/1660 M dan wafat di Pamijahan, Bantarkalong, Tasikmalaya, Jawa Barat, 1151 H/1738 M. Abdul Muhyi dibesarkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. 
Silsilah Keturunan Syeikh Abdul Muhyi
Dari ayah:
Ratu Galuh- Ratu Puhun - Kuda Lanjar- Mudik Cikawung Ading - Entol Penengah - Sembah Lebe Warto Kusumah - Syeikh Haji Abdul Muhyi

Dari Ibu:
Rasulullah saw - Sayyidina Ali karroma Allahu wajhahu dan Fatimati Azzahro’ - Syaidina Husein - Ali Zaenal Abidin - Muhammad Al Baqir- Ja'far Ashodiq - Ali AI'Aridhi - Muhammad - Isa Albasyari - Ahmad Al Muhajir - Ubaidillah - 'Uluwi - Ali Kholi'i Qosim - Muhammmad Shohibul Murobath -‘Uluwi - Abdul Malik - Abdullah Khona - Imam Ahmad Syah - Jamaludin Akbar - Asmar Kandi Gisik Karjo Tuban - Ishak Makdhum - Muhammad Ainul Yaqin - Sunan Giri Laya - Wira Candera - Kentol Sumbirana - Rd. Ajeng Tanganziah - Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi.
Apa itu pamijahan?
Bagaimana kisah kelahiran Syekh Haji Abdul Muhyi?
Bagaimana asal-usul Gua Pamijahan?
Apa fungsi Gua Pamijahan?
Pengertian Pamijahan
Pamjihan adalah nama sebuah kampung yang letaknya dipinggir kali sehingga dimana kali itu kadang-kadang bisa membawa bencana, seperti yang pernah dialami ada beberapa punggung/rumahhanyut diwaktu banjir. Maka karena itulah sekarang bangunan-bangunan menjadi permanen terutama yang berada dipinggir kali, hal ini dengan secara terpaksa penduduk meninggalkan citra atau salah satu adat ke pamijahan.

Pamijahan termasuk ibu kota Desa di Wilayah Kecamatan Bantarkalong kabupaten Tasikmalaya Propinsi Jawa Barat. Sebelum Kangjeng Syekh datang ke Pamijahan sudah ada kampung yaitu Daerah Bojong Wilayah Sukapura terletak disebelah timur laut dari kampung Pamijahan sekarang, yang kini terkenal dengan nama Kampung Bengkok. Disana terdapat makam Dalem Sacaparana yaitu, mertuanya Kangjeng Syekh Haji Abdul Muhyi.

Adapun kata pamijahan adalah nama baru, dimasa sebelum dan masa hidupnya nama tersebut belum ada dikenal, pada masa Kangjeng Syekh Pamijahan itu bernama “SAFAR WADI”, kata nama Safar Wadi ini yang diambil dari kata bahasa arab “safar” artinya jalan, “wadi” lembah (jurang) jadi Safarwadi adalah jalan yang berada diatas jurang/lembah. Hal ini sesuai dengan letaknya ada di antara dua bukit di pinggir kali. Dan mungkin juga Safar Wadi yang diberikan oleh Waliyulloh itu sebagai peringatan kepada generasi mendatang supaya hidup di bumi Pamijahan dan khususnya di Dunia pada umumnya selalu hati-hati laksana berjalan diatas jurang yang senantiasa bisa membawa bahaya atau celaka.

Adapun sekarang nama Safar Wadi ini terkenal dengan nama Pamijahan antara lain karena setelah Syekh Haji Abdul Muhyi Waliyulloh wafat, banyak orang-orang berdatangan berduyun-duyun dari tiap-tiap pelosok pulau Jawa pada khususnya umumnya wilayah kepulauan Indonesia untuk menziarahi makam Waliyulloh tersebut, laksana ikan akan bertelur (mijah dalam bahasa sunda). Maka karena itulah nama Safar Wadi menjadi nama Pamijahan sebab mempunyai arti seperti atau titik persamaan dengan tempat ikan akan bertelur (Pamijahan) bukan berarti Pemujaan. Karena itu saya sangkal apabila mereka yang datang menganggap/mengartikan Pamijahan itu sebagai tempat memuja atau mendewa-dewakan kuburan orang yang telah mati.
Biografi  Syeikh Haji Abdul Muhyi
Pada saat berusia 19 tahun beliau pergi ke Aceh/ Kuala untuk berguru kepada Syeikh Abdul Rouf bin Abdul Jabar selama 8 tahun yaitu dari tahun 1090 -1098 H/1669 -1677 M. Pada usia 27 tahun beliau beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani dan bermukim di sana selama dua tahun. Setelah itu mereka diajak oleh Syeikh Abdul Rauf ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji.

Ketika sampai di Baitullah, Syeikh Abdul Rauf mendapat ilham kalau diantara santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda maka Syeikh Abdul Rauf harus menyuruh santrinya pulang dan mencari gua di Jawa bagian barat untuk bermukim di sana.

Suatu saat sekitar waktu ashar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju Syeikh Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya (Syeikh Abdur Rauf) sebagai tanda-tanda tersebut. Setelah kejadian itu, Syeikh Abdur Rauf membawa mereka pulang ke Kuala/ Aceh tahun 1677 M. Sesampainya di Kuala, Syeikh Abdul Muhyi disuruh pulang ke Gresik untuk minta restu dari kedua orang tua karena telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di sana. Sebelum berangkat mencari gua, Syeikh Abdul Muhyi dinikahkan oleh orang tuanya dengan “Ayu Bakta” putri dari Sembah Dalem Sacaparana.

Tak lama setelah pernikahan, beliau bersama istrinya berangkat ke arah barat dan sampailah di daerah yang bernama Darma Kuningan. Atas permintaan penduduk setempat Syeikh Abdul Muhyi menetap di Darmo Kuningan selama 7 tahun (1678-1685 M). Kabar tentang menetapnya Syeikh Abdul Muhyi di Darmo Kuningan terdengar oleh orang tuanya, maka mereka menyusul dan ikut menetap di sana.
Wasiat Syekh Abdul Muhyi 
kepada putra-putri dan istri-istrinya sebelum malaikat maut menjemputnya

"Hendaklah kamu sekalian bertakwa kepada Allah, berbaktilah kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkanmu, hormati dan muliakanlah tamumu, bicaralah dengan benar, senangkanlah orang lain, sekalipun kamu tidak dapat menyenangkan orang, janganlah kamu sedikit berbuat yang dapat menyusahkan orang, kasihanilah orang yang kecil hormati orang yang besar dan hargailah sesamamu,....hiduplah di dunia ini seakan mau melintasi jurang yang penuh dengan duri...."
Goa Safarwadi, Pamijahan
Abdul Muhyi melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi dan Lebaksiuh. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia bermukim di dalam goa, yang sekarang dikenal sebagai Goa Safarwadi, dengan maksud untuk mendalami ilmu agama dan mendidik para santrinya.
Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) terletak di kaki Gunung Mujarod, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong , Tasikmalaya, Jawa Barat. Berjarak kira - kira 6km dari makam Syech Abdul Muhyi. Rumor yang beredar ketika kami mencari informasi mengenai Goa Safarwadi (Goa Pamijahan) adalah goa mistik dan angker yang berisikan orang yang datang bersemedi.

dikisahkan
Perjalan Mencari Goa Pamijahan
Disamping untuk membina penduduk, beliau juga berusaha untuk mencari gua yang diperintahkan oleh gurunya, dengan mercoba beberapa kali menanam padi, ternyata gagal karena hasilnya melimpah. Sedang harapan beliau sesuai isyarat tentang keberadaan gua yang di berikan oleh syeikh Abdur Rauf adalah apabila di tempat itu ditanam padi maka hasilnya tetap sebenih artinya tidak menambah penghasilan maka di sanalah gua itu berada. Karena tidak menemukan gua yang dicari akhirnya Syeikh Abdul Muhyi bersama keluarga berpamitan kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan mencari gua.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah di daerah Pamengpeuk (Garut Selatan). Di sini beliau bermukim selama 1 tahun (1685-1686 M), untuk menyebarkan agama Islam secara hati-hati mengingat penduduk setempat waktu itu masih beragama Hindu. Setahun kemudian ayahanda (Sembah LebeWarta Kusumah) meninggal dan dimakamkan di kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan.

Beberapa hari seusai pemakaman ayahandanya, beliau melanjutkan perjalan mencari gua dan sempat bermukim di Batu Wangi. Perjalanan dilanjutkan dari Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiu dan bermukim di sana selama 4 tahun (1686-1690 M).

Walaupun di Lebaksiu tidak menemukan gua yang di cari, beliau tidak putus asa dan melangkahkan kakinya ke sebelah timur dari Lebaksiu yaitu di atas gunung kampung Cilumbu. Akhirnya beliau turun ke lembah sambil bertafakur melihat indahnya pemandangan sambil mencoba menanam padi.

Bila senja tiba, beliau kembali ke Lebaksiu menjumpai keluarganya, karena jarak dari tempat ini tidak begitu jauh, +.6 km. Suasana di pegunungan tersebut sering membawa perasaan tenang, maka gunung tersebut diberi nama “ Gunung Mujarod' yang berarti gunung untuk menenangkan hati.

Pada suatu hari, Syeikh Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan waktunya untuk dipetik. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah. Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang, hanya mendapat sebanyak benih yang ditanam. Ini sebagai tanda bahwa perjuangan mencari gua sudah dekat. Untuk meyakinkan adanya gua di dalamnya maka di tempat itu ditanam padi lagi, sambil berdo'a kepada Allah, semoga goa yang dicari segera ditemukan. Maka dengan kekuasan Allah, padi yang ditanam tadi segera tumbuh dan waktu itu juga berbuah dan menguning, lalu dipetik dan hasilnya ternyata sama, sebagaimana hasil panen yang pertama. Disanalah beliau yakin bahwa di dalam gunung itu adanya goa.

Sewaktu Syeikh Abdul Muhyi berjalan ke arah timur, terdengarlah suara air terjun dan kicaun burung yang keluar dari dalam lubang. Dilihatnya lubang besar itu, di mana keadaannya sama dengan gua yang digambarkan oleh gurunya. Seketika kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah. Telah ditemukan gua bersejarah, dimana ditempat ini dahulu Syeikh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yang bernama Imam Sanusi.
Goa yang sekarang di kenal dengan nama Goa Pamijahan adalah warisan dari Syeikh Abdul Qodir Al Jailani yang hidup kurang lebih 200 tahun sebelum Syeikh Abdul Muhyi. Gua ini terletak diantara kaki Gunung Mujarod. Sejak goa ditemukan Syeikh Abdul Muhyi bersama keluarga beserta santri-santrinya bermukim disana. Disamping mendidik santrinya dengan ilmu agama, beliau juga menempuh jalan tharekat.

Menurut pendapat yang masyhur sampainya Syeikh Abdul Muhyi ke derajat kewalian melalui thoriqoh mu’tabaroh Satariyah, yang silsilah keguruan/ kemursyidannya sampai kepada Rasulullah Saw. 

Berikut silsilahnya:
Rasululah Saw, Ali Bin Abi Tholib, Sayyidina Hasan, Sayyidina Zainal Abidin, Imam Muhammad Bakir, Imam Ja’far Shodiq, Sultan Arifin, Yazidiz Sulthon, Syeikh Muhammad Maghribi, Syeikh Arabi Yazidil Asyiq, Sayyid Muhammmad Arif, Syeikh Abdulah Satari, Syeikh Hidayatullah Syarmad, Syeikh Haji Hudori, Sayyid Muhammmad Ghoizi, Sayyid Wajhudin, Sayyid Sifatullah, Sayyidina Abdi Muwhib Abdulah Ahmad, Syeikh Ahmad Bin Muhammmad (Ahmad Qosos), Syeikh Abdul Rouf, Syeikh Haji Abdul Muhyi.

Sekian lama mendidik santrinya di dalam goa, maka tibalah saatnya untuk menyebarkan agama Islam di perkampungan penduduk. Di dalam perjalanan, sampailah di salah satu perkampungan yang terletak di kaki gunung, bernama kampung Bojong. Selama bermukim di Bojong dianugerahi beberapa putra dari istrinya, Ayu Bakta. Diantara putra beliau adalah Dalem Bojong, Dalem Abdullah, Media Kusumah, Pakih Ibrahim.

Beberapa lama setelah menetap di Bojong, atas petunjuk dari Allah, Syeikh Abdul Muhyi beserta santri-santrinya pindah ke daerah “Safarwadi". Di sini beliau membangun Masjid dan rumah sebagai tempat tinggal sampai akhir hayatnya. Sedang para santri menyebar dengan tugasnya masing-masing yaitu menyebarkan agama Islam, seperti Sembah Khotib Muwahid yang makamnya di Panyalahan, Eyang Abdul Qohar bermukim di Pandawa sedang Sembah Dalem Sacaparana (Mertua Syeikh Abdul Muhyi) tetap di Bojong sampai akhir hayatnya yang kini makamnya terkenal dengan nama Bengkok.

Makam ini banyak diziarahi oleh kaum muslimin. Masih banyak lagi santrinya yang tersebar hingga pelosok- pelosok kampung di sekitar Jawa Barat untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam menyebarkan agama Islam Syeikh Abdul Muhyi mengunakan metode Tharekat Nabawiah yaitu dengan akhlak yang luhur disertai tauladan yang baik. Salah satu contoh metode dalam mengislamkan seseorang adalah sewaktu beliau melihat seseorang yang sedang memancing ikan. Namun orang itu kelihatan sedih karena tidak mendapat seekor ikanpun. Lalu dihampirinya dan disapa, "Bolehkah saya meminjam kailnya?" Orang itu memperbolehkannya. Syeikh Abdul Muhyi mulai memancing sambil berdo'a, "Bismillaah hirroh maa nir roohiim, Asyhadu Allaa ilaaha illallaah, Wa asy hadu anna Muhammaddur Rasulullah."

Setiap kail dilemparkan ke dalam air, ikan selalu menangkapnya. Tidak lama kemudian ikan yang didapat sangat banyak sekali sampai membuat orang tersebut keheranan dan bertanya, "Apa do’a yang dibaca untuk memancing? Beliau menjawab, "Basmalah dan Syahadat". Akhirnya orang tersebut tertarik dengan do’a itu dan masuk Islam.

Disamping ahli dalam llmu agama Syeikh Abdul Muhyi juga ahli dalam ilmu kedokteran, ilmu hisab, ilmu pertanian dan juga ahli seni baca AIQur’an. Maka pada saat itu banyak para wali yang datang ke Pamijaian untuk berdialog masalah agama seperti waliyullah dari Banten Syeikh Maulana Mansyur, putra Sultan Abdul Patah Tirtayasa keturunan Sultan Hasanuddin bin Sultan G. Jatijuga Syeikh Ja’far Shodiq yang makamnya di Cibiuk, Limbangan- Garut.

Fungsi Gua Pamijahan
Bila ditinjau dari segi alamiah, gua itu mungkin juga banyak didapatkan di beberapa tempat, namun gua di Pamijahan sangat berlainan dengan gua-gua ditempat lain, sehingga gua Pamijahan terus dikerumuni orang dari tiap-tiap pelosok.

Gua Pamijahan terletak di dalam gunung, luas dan besar bentuk di dalamnya indah dihiasi batu-batuan yang berkilauan menyambut sinar lampu yang dibawa di tangan para petunjuk jalan yang berjalan di ketengahan air yang jernih keluar dari sela-sela batu licin, hingga membuat terpesona orang yang masuk kedalamnya. Alangkah indahnya dan agungnya ciptaan Tuhan, makin kokoh dan kuat gua itu.
Kemudian kita tinjau secara ilmiah gua tersebut mempunyai beberapa fungsi sosial kehidupan dari masa ke masa antara lain:
  • Fungsi Gua di Masa Syekh H. Abdul Qodir Jaelani Sampai Masa Syekh H. Abdul Muhyi Waliyulloh
  1. Gua sebagai alamiah langsung ciptaan Tuhan dengan sababiah Karomatnya Waliyulloh
  2. Gua sebagai tempat beribadat para Wali-wali, sebagai bukti terdapat “Masjid dan Menara” didalamnya.
  3. Gua Pamijahan sebagai tempat pertemuan-pertemuan para wali buktinya adanya jalan yang menghubungkan ke Mekah, ke Surabaya, ke Cirebon dan ke Banten.
  4. Gua Pamijahan sebagai tempat mendidik kader yang akan disebarkan dalam mengembangkan agama Islam ke seluruh pelosok tanah air, sebagai bukti terdapat di dalamnya tempat “pendidikan” (pesantren).
  5. Gua sebagai tempat Tajrid Taqorub menyirnakan dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan bermacam-macam peribadatan para wali yang ditempuhnya. Sebagai bukti adanya “Pengtapaan” didalamnya.
  • Fungsi Gua di Masa Setelah Syekh H. Abdul Muhyi Sampai Sekarang
  1. Gua Pamijahan salah satu ciptaan yang betapa hebatnya serta indah dan kokohnya.
  2. Gua sebagai tempat mengenang kembali kepada pada Solihin yang telah mendapatkan karunia Allah berkat perjuangannya yang suci lagi tulus di dalam mengembangkan dan menyebarkan agama Islam.
  3. Gua sebagai salah satu untuk mendekatkan diri satu kepada Tuhan.
  4. Gua sebagai salah satu tempat mencari keberkahan/menambah kebaikan (Ziadatul Khoer), dimana terdapat didalamnya “air jam-jam, air kahuripan, air kejayaan” yang sudah biasa dipakai semenjak Syekh H. Abdul Muhyi bersama para pengikutnya sampai sekarang ini. Perlu diketahui, air jam-jam bukanlah air jam-jam yang berada di Mekah sebagai peninggalan Nabi Ismail, namun mereka mengharapkan dengan barokah keramatnya para wali sehingga air ini membawa barokah sebagaimana air jam-jam yang berada di Mekah maka dari masa kangjeng Syekh air tersebut dinamai “air jam-jam”, begitu halnya dengan air kahuripan dan air kejayaan. Kini setiap orang yang datang ke gua masing-masing, menggunakannya dengan cara yang ada yang memercikannya ke dalam mata, ada juga yang diambil untuk diminum atau bermandi dalam kejayaan.
  5. Gua sebagai sosial ekonomi, dalm arti karena dengan gua itulah penduduk mendapatkan salah satu rezeki dari Allah.
KAMPUNG BEBAS ROKOK. Seorang pejalan kaki melintasi plang larangan merokok di Kampung Pamijahan, Desa Pamijahan, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu. Warga Kampung Pamijahan yang ditempati sekitar 2500 jiwa masih mempertahankan adat larangan merokok sebagai aturan yang sudah diperintahkan oleh leluhurnya Waliyullah Syekh Abdul Muhyi sejak ratusan tahun lalu, apabila melanggar khawatir menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan.
Dilarang Merokok
Pada suatu hari Syeikh Abdul Muhyi dan Maulana Mansyur berada di Makkah dan hendak pulang ke Jawa. Mereka berdua berunding, barangsiapa yang sampai dulu di Jawa hendaklah menunggu di tempat yang telah disepakati.
Syeikh Maulana Mansyur berjalan diatas bumi dan Syeikh Abdul Muhyi berjalan di bawah bumi. Masing- masing menggunakan kesaktiannya.

Ketika Syeikh Abdul Muhyi berjalan di bawah laut tiba-tiba beliau kedinginan lalu berhenti. Sewaktu hendak menyalakan api untuk merokok tiba-tiba sekelilingnya menjadi gelap dikelilingi kabut dan kabut itu semakin tebal. Maka beliau teringat bahwa merokok itu perbuatan makruh dan dirinya merasa berdosa.

Akhirnya beliau segera bertaubat minta Ampunan dari Allah, seketika itu kabut hilang dan perjalananpun dilanjutkan. Dan mulai saat itu Syeikh Abdul Muhyi meninggalkan rokok, bahkan bisa dikatakan mengharamkan rokok untuk dirinya sedang untuk keluarga dan pengikutnya dilarang merokok bila berdekatan dengannya. 
Karena itu sampai saat ini di daerah Pamijahan dilarang merokok kecuali di tempat yang telah ditentukan.

Pada suatu hari beliau jatuh sakit. Ketika malaikat maut datang menjemput Syeikh Abdul Muhyi berpesan kepada istri dan putra- putrinya, "Wahai anak dan istri ku yang tersayang, hendaklah kamu sekalian bertaqwa kepada Allah, berbaktiiah kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkanmu, hormati dan mulyakanlah tamumu, bicaralah dengan benar, senangkanlah orang /ain, sekalipun kamu tidak dapat menyenangkan orang janganlah berbuat yang menyusahkannya, kasihanilah orang kecil, hormatilah orang yang besar dan hargailah sesamamu. Hiduplah di dunia ini seakan mau melintasi jurang yang penuh dengan duri."

Pada hari senin tanggai 8 Jumadil Awai tahun 1151 H/ 1730 M ba'dal sholat shubuh, belau pergi untuk selamanya menghadap Allah swt. dalam usia 80 tahun. Jenazah ulama besar ini dimakamkam di Pamijahan. Hingga saat ini banyak orang berduyun-duyun berziarah ke makamnya sambil membacakan do'a sebagai wujud kecintaan terhadap Syeikh Abdul Muhyi, seorang waliyullah yang telah berjuang menyebarkan agama Islam di tanah air dan Jawa Barat pada khususnya.

Selasa, 18 Februari 2014

" Gua Sriti " PERSINGGAHAN TERAKHIR PANGERAN DIPONEGORO

Tapak Jejak Walisongo "Pangeran Diponegoro"  

" Gua Sriti " PERSINGGAHAN TERAKHIR PANGERAN DIPONEGORO

" Gua Sriti " PERSINGGAHAN TERAKHIR PANGERAN DIPONEGORO
Gua Sriti menjadi saksi Perjuangan P Diponegoro pada tahun 1925-1930. 
Gua Sriti menjadi tempat persembunyian P Diponegoro selain Gua Selarong dikabupaten Bantul. Gua Sriti berada dikabupaten Kulon Progo, Kecamatan Samigaluh, Desa Tukharjo. 
di ketinggian 200 meter dan memasuki mulut Goa dengan lebar 50 meter.
Pegunungan Bukit menoreh

Belum dikelolanya Gua Sriti sebagai tempat wisata secara optimal masih minim wisatawan berkunjung. Dinding-dinding Gua banyak coretan-coretan yang mengurangi keindahan dinding gua. Tetesan air membentuk staltit dan stalagmit diareal gua.

Dikisahkan ;
Pada masa perlawanan Pangeran Diponegoro, banyak para prajurit Kraton Yogyakarta yang mencari persembunyian di tempat yang dianggap aman untuk kelangsungan perjuangan dan hidup mereka. Mereka menyusuri hutan di daerah-daerah pegunungan termasuk pegunungan Menoreh sebelah utara.

Dari arah kraton mereka pergi ke barat laut menuju pegunungan. Mulai dari daerah yang sekarang dikenal dengan Samigaluh (Kabupaten Kulonprogo) naik hingga puncak Suralaya menyusuri igir pegunungan dan turun di lereng pegunungan Menoreh yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.

Dalam perlawanan melawan Kompeni Belanda, Pangeran Diponegoro senantiasa menyambangi para pengikutnya. Termasuk mereka yang menetap di perbukitan Menoreh.

Ketika di daerah ini, Pangeran Diponegoro tidak tidur di rumah para pengikutnya, namun beliau bermalam di sebuah gua yang menjadi sarang kelelawar, di sebuah bukit yang penuh batu marmer. Kemudian gua itu dikenal dengan sebutan ‘guwo Sriti’.
Gua ini yang kemudian di masa merdeka banyak dikunjungi anak muda atau para pecinta alam. Lantai gua berupa kolam beberapa meter panjangnya. Kemudian di seberang kolam berupa batuan marmer yang licin. Ada tempat datar di dalamnya yang dahulu digunakan Pangeran Diponegoro untuk bermalam selama di daerah itu. Baru pada pagi hari Pangeran Diponegoro turun menemui para pengikutnya. Menyusun strategi dan rute gerilnya.
Gua di lereng bukit itu tidak lagi digunakan untuk bermalam oleh Pangeran Diponegoro, karena ketika mengadakan pertemuan dengan para pengikutnya dan tokoh masyarakat di Langgar Agung (sekarang termasuk wilayah Desa Menoreh), datang Kompeni Belanda membujuk Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang, yang ternyata ditipu dan ditangkap Belanda.

‘Gua Sriti'  ini menjadi tempat yang dihormati mengingat sejarahnya. Tersiarnya gua ini, maka banyak yang kemudian mengunjungi sekedar melihat tempat bersejarah atau memang sebagai pecinta alam yang gemar tantangan mendaki perbukitan. Nyaman dikunjungi dan menarik.

Kemudian sejak tahun 1998 area ‘Gua Sriti’ masuk dalam area penambangan marmer dan mulai beroperasi tahun 2003, sehingga tidak dapat lagi dikunjungi secara umum. Hanya lewat izin tertentu dengan tujuan kunjungan tertentu yang diperbolehkan. Mengingat sekarang menjadi lokasi penambangan marmer.

GOA SELARONG "Pangeran DIPONEGORO"

Tapak Jejak Walisongo "Pangeran Diponegoro" 

GOA SELARONG "Pangeran DIPONEGORO"

Gua Selarong adalah gua bermuatan sejarah yang berlokasi di di Dukuh Kembangputihan, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta. Gua yang terbentuk di perbukitan batu padas ini digunakan sebagai markas gerilya Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830) melawan tentara Hindia Belanda. Pangeran Diponegoro pindah ke gua ini setelah rumahnya di Tegalrejo diserang dan dibakar habis oleh Belanda.

Gua Selarong sekarang merupakan objek wisata dengan dilengkapi area bumi perkemahan. Objek ini berlokasi sekitar 14 km arah selatan Kota Yogyakarta, di puncak bukit yang ditumbuhi banyak pohon. Di sekitar Gua Selarong juga sedang dikaji pengembangan objek agrowisata dengan klengkeng sebagai daya tarik utama.

Gua Selarong

Dukuh Kembangputihan, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta.
Gua Selarong pada masanya sekitar 1825 – 1830 merupakan markas gerilya Pangeran Diponegoro, letaknya sekitar 10 km selatan kota Yogyakarta terletak di puncak bukit dengan dikelilingi banyak pohon jambu biji dan sawo kecik walaupun sekarang sudah mulai berkurang.
Untuk sampai ke Goa Selarong kita harus meniti tangga dengan tingkat kemiringan cukup curam. Goa ini berbentuk sempit dengan lebar sekitar 3m dan tinggi hanya sekitar 2m, goa ini sebenarnya lebih mirip ‘cekungan batu (cadas)’ tanpa ada tembusan ke dalam batu seperti kebanyakan goa lainnya.
Untuk sampai ke Goa Selarong kita harus meniti tangga dengan tingkat kemiringan cukup curam.

 Goa ini berbentuk sempit dengan lebar sekitar 3m dan tinggi hanya sekitar 2m, goa ini sebenarnya lebih mirip ‘cekungan batu (cadas)’ tanpa ada tembusan ke dalam batu seperti kebanyakan goa lainnya.
Perjuangan Pangeran Diponegoro di Selarong
Pada tanggal 21 Juli 1825, pasukan Belanda pimpinan asisten Residen Chevallier mengepung Dalem Pangeran Diponegoro di Tegalrejo untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Akan Tetapi Pangeran Diponegoro berhasil meloloskan diri dan menuju ke Selarong. Di tempat tersebut secara diam-diam telah dipersiapkan untuk dijadikan markas besar. Selarong sendiri merupakan desa strategis yang terletak di kaki bukit kapur, berjarak sekitar enam pal (sekitar 9 Km) dari kota Yogyakarta. Setelah Peristiwa di Tegalrejo sampai ke Kraton, banyak kaum bangsawan yang meninggalkan istana dan bergabung dengan Pangeran Diponegoro. Mereka adalah anak cucu dari Sultan Hamengkubuwono I, II dan III yang berjumlah tidak kurang dari 77 orang dan ditambah pengikutnya.


Dengan demikian pada akhir juli 1825. di Selarong telah berkumpul bangsawan-bangsawan yang nantinya menjadi panglima dalam pasukan Pangeran Diponegoron. Mereka adalah Pangeran Mangkubumi, Pangeran Adinegoro, Pangeran Panular, Adiwinoto Suryodipuro, Blitar, Kyai Mojo, Pangeran Ronggo, Ngabei Mangunharjo dan Pangeran Surenglogo.
Pangeran Diponegoro juga memerintahkan Joyomenggolo, Bahuyudo dan Honggowikromo untuk memobilisasi pendulduk desa sekitar Selarong dan bersiap melakukan perang. Di tempat ini juga disusun strategi dan langkah-langkah untuk memastikan sasaran yang akan djserang. Pada tanggal 31 Juli 1825 Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi menulis surat kepada masyarakat Kedu agar bersiap melakukan perang. Dalam surat itu beliau mengatakan bahwa sudah saatnya Kedu kembali ke wilayah Kasultanan Yogyakarta setelah dirampas oleh Belanda.

Di Selarong dibentuk beberapa batalyon yang dipimpin oleh Ing Ngabei Joyokusumo, Pangeran Prabu Wiromenggolo dan Sentot Prawirodirja dengan pakaian dan atribut yang berbeda. Sepanjang bulan Juli 1825 hampir seluruh pinggiran kota diduduki oleh pasukan Diponegoro. Markas besar Pangeran Diponegoro di Selarong dipimpin oleh lima serangkai yang terdiri dari Pangeran Diponegoro sebagai ketua markas, Pangeran Mangkubumi merupakan anggota tertua sebagai penasehat dan pengurus rumah tangga, Pangeran Angabei Jayakusuma sebagai panglima pengatur siasat dan penasehat di medan perang Alibasah Sentot Prawirodirjo yang sejsk kecil di didik di Istana dan setelah perang Diponegoro bergabung dengan Pangeran Diponergoro dan Kyai Maja sebagau penasehat rohani pasukan Pangeran Diponegoro.

Pada tanggal 7 Agustus 1825 Pasukan Diponegoro dengan kekuatan sekitar 6.000 orang menyerbu Negara Yogyakarta dan berhasil menguasainya. Meski demikian Pangeran Diponegoro tidak menduduki kota Yogyakarta dan Sri Sultan HB V berhasil diselamatkan dan diamankan di Benteng Vredeburg dengan pengawalan ketat dari Kraton.

Peristiwa 21 Juli 1825 di Yogyakarta sampai kepada Komisaris Jenderal van Der Capellen pada tanggal 24 Juli 1825. Selanjutnya diputuskan untuk mengangkat Lentan Jenderal H.M. De Kock sebagai komisaris pemerintah untuk Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang diberikan hak istimewa di bidang militer maupun sipil.

Berbagai upaya dilakukan oleh Jenderal De Kock antara lainmenulis surat kepada P. Diponegoro yang isinya mengajak P.Diponegoro untuk berdamai. Tetapi ajakan berunding tersebut ditolak secara tegas oleh Pangeran Diponegoro. Dengan penolakan tersebut maka Jenderal De Kock memerintahkan untuk menyerbu Selarong. Akan tetapi ketika pasukan Belanda tiba di Selarong, desa itu sepi karena pasukan Pangeran Diponegoro sudah berpencar di berbagai arah. Menurut babad, selanjutnya Pangeran Diponegoro mendirikan markas di Dekso yang berlangsung kurang lebih 10 bulan dari tanggal 4 November 1825 sampai dengan 4 Agustus 1826.


Selama bermarkas di Selarong pasukan Belanda telah melakukan penyerangan tiga kali Serangan pertama pada tanggal 25 Juli 1825 yang dipimpin oleh Kapten Bouwes. Serangan ini merupakan aksi perlawanan Pangeran Diponegoro di Logorok dekat Pisangan Yogyakarta, yang mengakibatkan 215 pasukan Belanda menyerah. Serangan kedua pada bulan September di bawah pimpinan Mayor Sellwinj dan Letnan Kolonel Achenbac dan serangan ketiga tanggal 4 November 1825. Setiap pasukan Belanda menyerang Selarong maka Pasukan Pangeran Diponegoro menghilang di goa-goa sekitar Selarong.







KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...