primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label WAYANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAYANG. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Februari 2014

BALADEWA "NENGGALA" dan PERWATAKAN Seorang PEMIMPIN

Pewatakan Panutan 

BALADEWA "NENGGALA" dan PERWATAKAN Seorang PEMIMPIN

Pada suatu senja,Baladewa keluar menenteng Nenggala dan memperlihatkannya kepada dunia. 
Maka sontak ribuan dewa berkuda awan turun dan menghadang langkah Baladewa, lantas berseru:
"Hai Baladewa, jangan kau bawa bawa pusaka itu keluar padepokanmu sembarangan. Simpan sampai nanti Perang Bratayudha pecah."
Nenggala adalah nama senjata pusaka asuhan Baladewa, ksatria tertangguh yang mewarisi kekuatan dewa dewa seluruh angkasa. 
Nenggala dikisahkan mampu melelehkan gunung, membelah lautan, dan mengakhiri nasib matahari hanya dalam sekali tebas.
Semua orang banyak tahu tentang Nenggala, bahkan jauh lebih dikenal daripada Sang Baladewa sendiri. Padahal, tak seorangpun pernah menyaksikan wujud Sang Pusaka Nenggala itu.
Karena begitu dahsyatnya Nenggala,maka pusaka yang satu ini tak boleh banyak diperlihatkan.

filusufi yang dapat dari pusaka Nenggala bahwasannya pusaka (Kemampuan Puncak) kita akan jadi luar biasa jika dikeluarkan di saat yang tepat,dan bukan untuk diumbar sembarang waktu.
-----------------------------------------------------------------------------------------
"Orang yang sombong bukanlah orang yang gemar memperlihatkan ilmunya, tapi orang yang enggan menerima ilmu dari orang lain karena merasa ilmu yang dimilikinya jauh lebih baik"

Baladewa
Dalam mitologi Hindu, Baladewa (Dewanagari: बलदोव; IAST: Baladeva) atau Balarama (Dewanagari: बलराम; IAST: Balarāma), disebut juga Balabhadra dan Halayudha, adalah kakak Kresna, putra Basudewa dan Dewaki. Dalam filsafat Waisnawa dan beberapa tradisi pemujaan di India Selatan, ia dipuja sebagai awatara kesembilan (versi lain menyebut ketujuh) di antara sepuluh Awatara dan termasuk salah satu dari 25 awatara dalam Purana. Menurut filsafat Waisnawa dan beberapa pandangan umat Hindu, ia merupakan manifestasi dari Sesa, ular suci yang menjadi ranjang Dewa Wisnu.

Kemunculan Baladewa
Baladewa sebenarnya merupakan kakak kandung Kresna karena terlahir sebagai putra Basudewa dan Dewaki. Namun karena takdirnya untuk tidak mati di tangan Kamsa, ia dilahirkan oleh Rohini atas peristiwa pemindahan janin.

Kamsa, kakak dari Dewaki, takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan terbunuh di tangan putra kedelapan Dewaki. Maka dari itu ia menjebloskan Dewaki beserta suaminya ke penjara dan membunuh setiap putra yang dilahirkan oleh Dewaki. Secara berturut-turut, setiap puteranya yang baru lahir mati di tangan Kamsa. Pada saat Dewaki mengandung putranya yang ketujuh, nasib anaknya yang akan dilahirkan tidak akan sama dengan nasib keenam anaknya terdahulu. Janin yang dikandungnya secara ajaib berpindah kepada Rohini yang sedang menginginkan seorang putra. Maka dari itu, Baladewa disebut pula Sankarsana yang berarti "pemindahan janin".

Akhirnya, Rohini menyambut Baladewa sebagai putranya. Pada masa kecilnya, ia bernama Rama. Namun karena kekuatannya yang menakjubkan, ia disebut Balarama (Rama yang kuat) atau Baladewa. Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna dan teman-temannya. Ia menikah dengan Rewati, putri Raiwata dari Anarta.

Baladewa mengajari Bima dan Duryodana menggunakan senjata Gada. Dalam perang di Kurukshetra, Baladewa bersikap netral. Seperti kerajaan Widarbha dan Raja Rukmi, ia tidak memihak Pandawa maupun Korawa. Namun, ketika Bima hendak membunuh Duryodana, ia mengancam akan membunuh Bima. Hal itu dapat dicegah oleh Kresna dengan menyadarkan kembali Baladewa bahwa Bima membunuh Duryodana adalah sebuah kewajiban untuk memenuhi sumpahnya. Selain itu, Kresna mengingatkan Baladewa akan segala prilaku buruk Duryodana.

Ciri-ciri fisik "BALADEWA"
Balarama seringkali digambarkan berkulit putih, khususnya jika dibandingkan dengan saudaranya, yaitu Kresna, yang dilukiskan berkulit biru gelap atau bercorak hitam. Senjatanya adalah bajak dan gada. Secara tradisional, Baladewa memakai pakaian biru dan kalung dari rangkaian bunga hutan. Rambutnya diikat pada jambul dan ia memakai giwang dan gelang. Baladewa digambarkan memiliki fisik yang sangat kuat, dan kenyataannya, bala dalam bahasa Sanskerta berarti "kuat". Selain sebagai saudara, Baladewa merupakan teman kesayangan Kresna yang terkenal.
Berkas:Balarama-dasavatara.JPG
Baladewa : Awatara Wisnu sebagai kesatria Yadawa bersenjata luku
Baladewa dalam susastra Hindu
Berkas:Balarama.jpgBerkas:Balarama9.jpg
Prabu Baladewa dalam lukisan versi India, bergaya Rajasthan.
Lukisan India modern, yang menggambarkan Baladewa berdiri di dekat sungai Yamuna.
Bhagawatapurana
Baladewa, bersama dengan Kresna dan Subadra, diasuh oleh Nanda (teman Basudewa) selama orang tua kandung mereka masih dipenjara. Pada suatu hari, Nanda menyuruh Gargamuni, pendeta keluarga, untuk mengunjungi rumah mereka dalam rangka memberikan nama kepada Kresna dan Baladewa. Ketika Gargamuni tiba di rumahnya, Nanda menyambutnya dengan ramah dan kemudian menyuruh agar upacara pemberian nama segera dilaksanakan. Gargamuni memperingatkan Nanda Maharaja bahwa Kamsa mencari putera Dewaki dan jika upacara dilaksanakan secara mewah maka akan menarik perhatian Kamsa, dan ia akan mencurigai Kresna sebagai putera Dewaki. Maka Nanda menyuruh Gargamuni untuk melangsungkan upacara secara rahasia, dan Gargamuni memberi alasan mengenai pemberian nama Balarama sebagai berikut:
“ Karena Balarama, putra Rohini, mampu menambah pelbagai berkah, namanya Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia dipanggil Baladewa. Ia mampu menarik Wangsa Yadu untuk mengikuti perintahnya, maka dari itu namanya Sankarshana.”
(Bhagawatapurana, 10.8.12)

Mahabharata
Baladewa terkenal sebagai pengajar Duryodana dari Korawa dan Bima dari Pandawa seni bertarung menggunakan gada. Ketika perang meletus antara pihak Korawa dan Pandawa, Baladewa memiliki rasa sayang yang sama terhadap kedua pihak dan memutuskan untuk menjadi pihak netral. Dan akhirnya ketika Bima (yang lebih kuat) mengalahkan Duryodana (yang lebih pintar) dengan memberikan pukulan di bawah perutnya dengan gada, Baladewa mengancam akan membunuh Bima. Hal ini dicegah oleh Kresna yang mengingatkan Baladewa atas sumpah Bima untuk membunuh Duryodana dengan menghancurkan paha yang pernah ia singkapkan kepada Dropadi.
Akhir riwayat hidup
Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu, dan setelah ia menyaksikan Kresna yang menghilang, ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.
Tradisi dan pemujaan
Dalam tradisi Waisnawa dan beberapa sekte Hindu di India, Baladewa dipuja bersama Sri Kresna sebagai kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa dan dalam pemujaan mereka sering disebut "Krishna-Balarama". Mereka memiliki hubungan yang dekat dan selalu terlihat bersama-sama. Jika diibaratkan, Kresna merupakan pencipta sedangkan Baladewa merupakan potensi kreativitasnya. Baladewa merupakan saudara Kresna, dan kadang-kadang dilukiskan sebagai adik, kadang-kadang dilukiskan sebagai kakaknya. Baladewa juga merupakan Laksmana pada kehidupan Wisnu sebelum menitis pada Kresna, dan pada zaman Kali, beliau menitis sebagai Nityananda, sahabat Sri Caitanya.
Dalam Bhagawatapurana diceritakan, setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran antara wangsa Yadu dan Wresni, dan setelah ia menyaksikan Kresna mencapai moksa, ia duduk untuk bermeditasi agar mampu meninggalkan dunia fana lalu mengeluarkan ular putih dari dalam mulutnya. Setelah itu ia diangkut oleh Sesa dalam wujud ular.
Baladewa dalam pewayangan Jawa
 PRABU BALADEWA, Wayang Kyai Inten, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.
 PRABU BALADEWA, Wayang Kulit Purwa gagrak Jawatimuran,
seluruh tubuh dan wajahnya diberi warna putih untuk menggambarkan
bahwa raja Mandura itu seorang bule (albino)

PRABU BALADEWA wanda Rayung, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta

Dalam pewayangan Jawa, Baladewa adalah saudara Prabu Kresna. Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Nyai Sagopi, seorang swarawati keraton Mandura.

Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.

Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa berkulit putih.

Sebenarnya Baladewa memihak Kurawa, maka dalam Kitab Jitabsara ketika ditulis skenarionya oleh para dewa tentang Perang Baratayuda, Prabu Kresna tahu bahwa para dewa merencanakan Baladewa akan ditandingkan dengan Raden Anantareja dan Baladewa mati. Ketika melihat catatan itu Prabu Kresna ingin menyelamatkan Prabu Baladewa dan Raden Anantareja agar tak ikut perang sebab kedua orang itu dianggap Prabu Kresna tak punya urusan dalam perang Baratayuda. Prabu Kresna menyamar menjadi kumbang lalu terbang dan menendang tinta yang dipakai dewa untuk menulis, tinta tumpah dan menutupi kertas yang ada tulisan Anantarejo kemudian kumbang jelmaan Prabu Kresna juga menyambar pena yang dipakai tuk menulis dan pena tersebut jatuh. Akhirnya dalam Kitab Jitabsara yaitu kitab skenario perang Baratayuda yang ditulis dewa tak ada tulisan Raden Anantareja dan Prabu Baladewa. 
Jawa Tengah, Air Terjun Grojogan Sewu Karanganyar: Grojogan Sewu Karanganyar
Maka sebelum perang Baratayuda Prabu Kresna membujuk Anantareja supaya bunuh diri dengan cara menjilat telapak kakinya sendiri, akhirnya Raden Anantareja mati sebagai tawur/tumbal kemenangan Pandawa. Prabu Kresna juga punya siasat untuk mengasingkan agar Prabu Baladewa tidak mendengar dan menyaksikan Perang Baratayuda yaitu dengan meminta Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu (Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Baratayuda, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti Baratayuda terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang Baratayuda.

Ada yang mengatakan Baladewa sebagai titisan naga sementara yang lainnya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Baratayuda, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia bergelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.
 PRABU BALADEWA, gambar grafis Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.
PRABU BALADEWA, karya seniman wayang masa kini , 
Sigit Sukasman dari Yogyakarta. Wayang ciptaannya biasanya disebut 
Wayang Ukur.

 PRABU BALADEWA wanda Sembada, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.

 PRABU BALADEWA wanda Banteng, Wayang Kulit Purwa gagrak Yogyakarta.

 PRABU BALADEWA wanda Kaget dan Geger, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
 PRABU BALADEWA wanda Paripekso, Wayang Kulit Purwa gagrak Surakarta.
PRABU BALADEWA wanda Rangkung
PRABU BALADEWA wanda Sembada

 PRABU BALADEWA, Wayang Kulit Purwa Bali.

 PRABU BALADEWA, Wayang Golek Purwa Sunda.

Beberapa lakon yang melibatkan Baladewa:
  • Kakrasana Lair (Lahirnya Kakrasana)
  • Kangsa Adu Jago
  • Semar Mbarang Jantur (Kartawiyoga Maling)
  • Parta Krama
  • Rama Nitis
  • Jaladara Rabi (Endang Werdiningsih)
  • Duryudana Lena (Baratayuda)

///Source///

Rabu, 12 Februari 2014

75 Jenis Wayang Hampir Punah

Wayang Kulit 

75 Jenis Wayang Hampir Punah

75 Jenis Wayang Punah
jenis wayang punah dan tak bisa lagi ditonton masyarakat, seperti wayang suket, wayang klitik, wayang krucil, wayang gedog, dan wayang beber.
46 Negara Ikut Karnaval Wayang Dunia
Kompas, Rabu, 21 Agustus 2013 – Sekitar 75 jenis wayang yang menjadi kekayaan budaya Indonesia kini telah punah. Hanya sekitar 25 jenis wayang yang saat ini masih bertahan dengan jumlah komunitas dan penonton cukup banyak.

Semestinya, dengan diakuinya wayang oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2003, wayang bisa lebih berkembang di Tanah Air. Kenyataannya, pemerintah belum memiliki arah dan strategi yang jelas dalam pengembangan wayang.

”Pada masa Orde Baru, institusi pemerintah, mulai dari Istana hingga pemerintahan desa, sering mementaskan wayang. Kini, kami seperti dibiarkan sendiri,” kata Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Ekotjipto saat berkunjung ke Redaksi Kompas di Jakarta, Selasa (20/8).

Selain kurangnya perhatian pemerintah, perkembangan zaman telah membawa perubahan kebudayaan dan peradaban sehingga wayang yang merupakan kesenian tradisional semakin ditinggalkan. 
Tak heran beberapa jenis wayang punah dan tak bisa lagi ditonton masyarakat, seperti 
  • wayang suket, 
  • wayang klitik, 
  • wayang krucil, 
  • Wayang Gedog
  • Wayang Dupara
  • Wayang Wahyu
  • Wayang Suluh
  • Wayang Kancil
  • Wayang Calonarang
  • Wayang Krucil
  • Wayang Ajen
  • Wayang Sasak
  • Wayang Sadat
  • Wayang Parwa
  • Wayang Arja
  • Wayang Gambuh
  • Wayang Cupak
  • Wayang Titi
  • Wayang Madya
  • Wayang Pancasila
  • Wayang Menak
  • Wayang Papak/Wayang Cepak
  • Wayang Timplong
  • Wayang Potehi
  • Wayang Gung
  • Wayang Topeng

Adapun wayang yang masih digemari masyarakat sehingga masih cukup eksis antara lain wayang kulit purwa Jawa dengan berbagai gaya, baik Surakarta, Yogyakarta, Jawa Timuran, Banyumasan, Cirebonan, maupun Betawi. Begitu pula wayang golek Sunda, wayang Bali, dan wayang sasak Lombok masih banyak penggemarnya.

Meski penggemar wayang menurun, kata Ekotjipto, animo masyarakat untuk terjun ke dunia pedalangan cukup tinggi. Ini ditunjukkan dengan banyaknya peserta pada setiap lomba pencarian bibit dalang yang digelar Pepadi.

”Peminat paling banyak justru untuk dalang anak-anak dan remaja,” kata Ekotjipto.

Upaya yang dapat dilakukan agar wayang terhindar dari kepunahan antara lain dengan memasukkan wayang dalam pendidikan formal. Selain itu, juga memasukkan wayang dalam perangkat komunikasi modern sehingga mudah dijangkau anak-anak atau generasi muda.

Saat ini terdapat 15.000 seniman pedalangan yang masih eksis. Sementara jumlah dalang di seluruh Indonesia tercatat 6.000 orang.
46 negara ikut WWPC

Dalam upaya pelestarian wayang, Pepadi bekerja sama dengan Yayasan Arsari Djojohadikusumo akan menggelar Wayang World Puppet Carnival (WWPC) 2013 pada 1-8 September mendatang. Ajang tersebut merupakan festival wayang internasional yang diikuti 46 negara dengan 64 penampil.

Widia Djatiningrum dari Divisi Komunikasi WWPC 2013 menuturkan, para penampil, antara lain, datang dari Turki, Bolivia, Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Kolombia, Thailand, Brasil, dan Indonesia. Dari Indonesia akan tampil lima dalang dari berbagai wilayah yang kesemuanya merupakan dalang muda.

Selain pergelaran wayang, ditampilkan pula video dan film tentang pertunjukan wayang dari lima negara. Pergelaran wayang akan dilakukan di Museum Nasional, Jakarta, dan Usmar Ismail Hall, Kuningan, Jakarta. Digelar juga wayang semalam suntuk di Taman Monas, Jakarta.

Berkaitan dengan WWPC, juga digelar seminar tentang wayang di lima perguruan tinggi negeri di Medan, Surabaya, Mataram, dan Yogyakarta.

Selasa, 21 Januari 2014

AKU JADI MEMAHAMI, BAHWA DEWI SRIKANDI TERNYATA LAKI-LAKI



AKU JADI MEMAHAMI, BAHWA DEWI SRIKANDI TERNYATA LAKI-LAKI

Dewi Srikandi Ternyata Laki-laki

 Dikisahkan Dalam Pelarian karena rasa malu  terhapat istrinya 
Dewi Srikandi bertemu dengan raksasa bernama Stuna. Sikhandi (dewi Srikandi) bercerita tentang masalahnya. Lalu mereka bersepakat untuk saling bertukar kelaminnya. Dengan janji untuk sementara. Namun ketika Sang Raja Ayah Stuna mengetahuinya, raksasa yang marah itu justru mengutuk Stuna menjadi perempuan untuk selamanya.

Kutukan yang secara tidak langsung, 
membuat Sikhandi (Dewi Srikandi)pun berubah menjadi lelaki seutuhnya.


Penggalan kisah Bharatayudha itu tiba-tiba terbayang lagi di kepala. sebuah buku komik kesayangan dikala masih anak-anak karangan RA.KOSASIH
cetak pertama di tahun 1977
Seorang resi tua, dengan tatapan tegar menjemput ajal di tengah padang gersang kurusetra. Pada sekujur badannya, dari telapak kaki hingga dada, telah tertembus ratusan anak panah. Mata panah yang menembus tubuhnya, hingga ketika dia rebah, panah-panah itulah yang menjadi penopangnya. Yang membuatnya serupa terpanggang ratusan panah penyangga tubuh rentanya, juga kepalanya.

Resi Bisma, sang Begawan telah mengetahui bahwa ajalnya akan tiba. Kutukan Dewi Amba, perempuan cantik yang pernah jatuh cinta padanya sudah di ambang mata, untuk menjemputnya. Ia yang pada waktu muda menolak cintanya, ditakdirkan akan mati oleh anak panah seorang wanita. Wanita yang dalam dirinya telah menitis sukma Dewi Amba. 
Dan perempuan itu adalah Srikandi, istri terakhir Arjuna.

Maka Bisma, senopati Astina yang sakti mandraguna pun memilih tak melawan, ketika Srikandi menyemburkan anak panahnya. Karena dalam pandangan matanya, Dewi Ambalah yang datang menjemput kematiannya. Yang cintanya ditolak di dunia, namun berharap mendapatkannya di nirwana. Hingga Bisma pun gugur dalam hujanan anak panah Srikandi, dengan ketegaran seorang brahmana.

Dalam buku karangan RA. KOSASIH dalam Seri MAHABARATHA dapat kita baca dan lihat perbedaan cerita. kita akan mendapatkan cerita yang tak sama dengan yang selama ini kita pahami secara turun temurun  srta image masyarakat tentang DEWI SRIKANDI / DEWI WARA SRIKANDI yang sudah menjadi icon Seorang sosok perempuan yang dipahlawankan serta dalam ceritera ‘Pedhalangan’ Panjebar Semangat. Salah satu cerita yang sangat membuatku terhenyak adalah tentang Wara Srikandhi.

Kita kembali ke Topik.
Dalam pemahaman kita sebelumnya, Dewi Srikandhi adalah istri Arjuna.

Namun dalam komik karya R.A Kosasih itu, tidaklah demikian adanya. Dan yang lebih mencengangkan lagi, Srikandhi pun ternyata bukan perempuan. Atau tepatnya, bukan asli perempuan. 
Karena ia adalah seorang laki-laki yang mengubah dirinya, dari seorang perempuan bernama Sikhandi.

Concept : Srikandi by kokenjoeDikisahkan di komik karya R.A Kosasih CERGAM yang kemudian melegenda, menjadi tonggak komik wayang dengan gaya India, sebagai saduran resmi Kitab Mahabharata.
bahwa Sikhandi terlahir sebagai bayi perempuan. Namun ayah ibunya, Prabu Drupada dan Dewi Gandawati yang raja Pancala memperlakukannya sebagai anak laki-laki. Sejak kecil hingga remaja, selalu dididik menjadi laki-laki. Lengkap dengan ketangkasan berkuda dan memanah yang menjadi kemahirannya. 
Keahlian yang kemudian membuat Putri Hiranyawati jatuh cinta padanya.

Sikhandi pun kemudian dinikahkan dengan putri negeri Darsana tersebut. Pernikahan yang penuh keanehan, karena Sikhandi tak pernah sekalipun menyentuh istrinya. Sampai sang istri yang curiga memergoki, bahwa suaminya adalah ternyata seorang perempuan juga.

Sikhandi pun minggat kebingungan. Berlari tanpa tujuan, hingga akhirnya tersesat di hutan. Ia lalu bertemu dengan raksasa bernama Stuna. Sikhandi bercerita tentang masalahnya. Lalu mereka bersepakat untuk saling bertukar kelaminnya. Dengan janji untuk sementara. Namun ketika Sang Raja mengetahuinya, raksasa yang marah itu justru mengutuk Stuna menjadi perempuan untuk selamanya.

Kutukan yang secara tidak langsung, membuat Sikhandi pun berubah menjadi lelaki seutuhnya.

Dan konon, tentang Sikhandi yang laki-laki itu juga terdapat dalam Kitab Bhismaparwa Jawa Kuno, yang ceritanya mengacu pada versi Sansekerta India. 

Sedangkan Srikandi yang perempuan 
adalah cerita wayang Jawa
Kemungkinan hasil kreasi para Wali dalam menerjemahkan Islam, karena tak mungkin mengajarkan kisah tentang seorang perempuan yang menikah dengan perempuan.

Srikandi - Vrsi Surakarta
Srikandi-Solo
Dewi Wara Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada , raja negara Cempalareja dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.


Dewi Srikandi bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka mendongak, menandakan ia putri bersuara dencing. Bersanggul gede (nama bentuk sanggul). Berjamang dengan garuda membelakang. Sebagian rambut terurai bentuk polos. Berkalung bulan sabit. Berkain dodot putren (pakaian putri dalam kraton).

Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. 
Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putra.

Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. 
Dewi Srikandi bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya.
Dalam perang Bharatayuda, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, satria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Resi Bisma, senapati Agung balatentara Kurawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Resi Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, putri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang mati terbunuh oleh Resi Bisma.
Akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan : Ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Astina setelah berakhirnya perang Bharatayuda.

DEWI WARA SRIKANDI
Dewi Wara Srikandi adalah putri Prabu Drupada, raja negara Cempalareja. Waktu rnasih remaja putri ia berguru memanah pada Raden Arjuna. Kernudian ia diperistri Raden Arjuna.
Asal mula Srikandi berguru memanah pada Arjuna ialah, ketika ia menonton kawinnya Arjuna dengan Sumbadra, melihat tingkah laku kedua pengantin itu dan ingin menjadi pengantin pula.
Pada suatu hari Srikandi melihat Arjuna mengajar memanah gundiknya, Rarasati. Lalu datang Srikandi pada Rarasati untuk belajar memanah. Tetapi ini sebenarnya hanya cara untuk bisa bertemu dengan Arjuna.

Tingkah laku Srikand ini menjadikan murka Dewi Drupadi, permaisuri Prabu Puntadewa dan kakak perempuan Srikandi. Drupadi menganggap kurang baik perbuatan adiknya itu.
Menurut adat susila Jawa, seorang gadis dulu dilarang melihat pengantin.
Tetapi jaman berobah dan gadis-gadis mengerumuni pengantin sekarang dianggap biasa.
Dewi Wara Srikandi pernah dipinang oleh seorang raja, Prabu Jungkungmardea dari negara Parangkubarja. Prabu Drupada tertarik untuk menerima lamaran itu, tetapi Srikandi lalu mengadu pada Anjuna.

Srikandi dibela Arjuna dan di dalam perang yang terjadi, mati terbunuhlah Jungkungmardea. Selanjutnya Srikandi diperistri oleh Arjuna dengan adat kebesaran perkawinan seorang pangeran dengan seorang putri.

Tabiat Srikandi seperti laki-laki, gemar berperang dan oleh karena itu disebut juga putri prajurit. Hingga kini, wanita-wanita yang berani menentang hal-hal yang tidak baik, terutama yang mengenai bangsa Indonesia, disebut Srikandi-Srikandi.

Srikandi seorang putri yang gampang marah, tetapi kemarahannya lekas reda. Tanda bahwa ia sedang marah, membikin rujaklah ia dan memakannya sambil berkata-kaca keras tak berkeputusan.
Kalau sangat marah barang-barang pecah belah dipecahkannya dan burung-burung perkutut kepunyaan Arjuna dilepaskannya.

Amarah Srikandi jelas dilukiskan oleh dalang dan banyak menyebabkan penonton tertawa.
Di dalam perang Baratayuda, Srikandi diangkat sebagai panglima melawan Bisma yang menjadi pahlawan Korawa dan ditewaskan oleh Srikandi.

Srikandi seorang putri perwira yang senantiasa menjaga kehormatan suami, baik di masa damai maupun di masa perang.

Dewi Srikandi bukan saja berperang seperti yang biasa dilakukan orang. Di dalam perang Baratayuda pun ia berperang sebagai perjurit perwira.

Sehabis perang Baratayuda, Srikandi tewas oleh Aswatama karena dipenggal lehernya, sewaktu ia sedang tidur nyenyak.

Dewi Srikandi bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka mendongak, menandakan ia putri bersuara dencing. Bersanggul gede (nama bentuk sanggul). Berjamang dengan garuda membelakang. Sebagian rambut terurai bentuk polos. Berkalung bulan sabit. Berkain dodot putren (pakaian putri dalam kraton). Srikandi berwanda: Goleng dan Patrem.
///Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka - 1982///

Srikandi versi India:
Shikandi adalah seorang tokoh dalam wiracarita MAHABHARATA. Putra Drupada, ia berjuang dalam perang Kurukshetra di pihak Pandawa.

Dia telah lahir di masa sebelumnya sebagai seorang wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah.

Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba melakukan tapa dan penebusan dosa besar dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Amba kemudian dilahirkan kembali sebagai Shikhandini (wanita).

Dari dia lahir,terdengar suara dewata yang memerintahkan kepada ayahnya untuk membesarkannya sebagai anak laki-laki. Jadi Shikhandini dibesarkan seperti pria dan mengganti namanya Shikhandi, terlatih dalam peperangan dan akhirnya menikah. 

Pada malam pernikahannya, istrinya menghinanya pada saat menyadari kenyataan sebenarnya. Dengan maksud untuk bunuh diri, ia melarikan diri dari Pancala, tetapi diselamatkan oleh seorang Yaksha yang bersedia untuk menukarkan kelaminnya dengan Shikhandi . 

Shikhandi kembali ke keraton sebagai seorang pria dan telah menikah hidup bahagia bersama istri dan punya anak juga. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kepada Yaksha dan Shikhandi mati sebagai wanita. 

Dalam pertempuran di Kurukshetra, Bisma mengenalinya sebagai titisan dari Amba yang terlahir kembali, dan tidak ingin untuk melawan 'seorang wanita', sehingga dia menurunkan senjatanya. Mengetahui bahwa Bisma akan bereaksi demikian terhadap Shikhandi, Arjuna bersembunyi di belakang Shikhandi dan menyerang Bisma dengan tembakan anak panah yang mematikan.

Jadi, hanya dengan bantuan Shikhandi, Arjuna mengalahkan Bisma, yang telah hampir tak terkalahkan sampai saat itu. Shikhandi akhirnya dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 pertempuran.

Srikandi seorang putri perwira yang senantiasa menjaga kehormatan suami, baik di masa damai maupun di masa perang.

Kita kembali ke Topik.
Maka begitu pula yang kemudian ketika membuka-buka lembaran Serat Centhini. Dalam naskah yang dianggap sebagai ensiklopedi terlengkap budaya Jawa itu, sosok Srikandi pun adalah salah seorang istri Arjuna. Dan dalam karya sastra yang aslinya berjudul Suluk Tambangraras itu, pribadi Srikandi menjadi salah satu contoh kepribadian wanita Jawa. Teladan yang juga menceritakan 4 istri Arjuna lainnya, yakni Wara Sumbadra, Dyah Manuhara, Dewi Ulupi, dan Dewi Gandawati.

Dalam Serat Centhini pupuh ke-86 yang bertembang Asmarandana, dari bait 68 hingga 79 digambarkan dengan detail pribadi Srikandi. 
Yakni seorang perempuan yang mampu bersikap sangat tegas, keras hati, namun tidak kasar, dan terhadap suami sangat sayang dan cinta. Banyak ilmunya, karena suka membaca kitab-kitab, pandai dalam soal sastra, tembang dan kesenian. Terampil merias diri, luwes dan ramah dalam pergaulan. Hormat sekali pada mertuanya, Dewi Kunti, serta pandai melayaninya.

Semoga menjadi khasanah yang bermanfaat....

SHAKUNTALA, KISAH CINTA, KEKEBEBASAN, KETERHEMPASAN NAMUN SEKALIGUS PENGABDIAN KEPADA KEHIDUPAN.



SHAKUNTALA, KISAH CINTA, KEKEBEBASAN, KETERHEMPASAN NAMUN SEKALIGUS PENGABDIAN KEPADA KEHIDUPAN.

SHAKUNTALA
KISAH SHAKUNTALA DAN DUSYANTA

Berkas:Sakuntala.jpgShakuntala, dalam cerita legenda India masa lalu, sarat akan pergumulan kisah cinta, kekebebasan, keterhempasan namun sekaligus pengabdian kepada kehidupan. Dalam kisah diceritakan Shakuntala adalah anak dari bidadari yang turun dari kahyangan dan bercinta dengan Bagawan yang bertapa. Shakuntala hidup tanpa cinta kasih orangtuanya namun ia mendapatkan cinta dan kepedulian dari burung Sakuni.

Shakuntala yang berarti dibesarkan oleh burung-burung, menjadi sebuah nama atas mengalirnya semua imagi untuk melepaskan semua hasrat akan rasa dan jiwa.

Sakuntala (Sanskerta: शकुन्‍तला; Shākuntalā) adalah nama permaisuri Raja Duswanta, leluhur Pandawa dan Korawa dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan Ibu dari Raja Bharata yang menurunkan keluarga Bharata. Ia juga merupakan anak angkat Bagawan Kanwa. Konon Ibu kandungnya adalah bidadari Menaka dari kahyangan.

Cerita lain lagi dalam Mahabharata...

Dalam Hindu mitologi, Shakuntala dianggap ibu dari raja Bharata dan istri dari raja Dushyanta yang adalah pendiri dari Dinasti Kaurava, leluhur para Pandava. Shakuntala dilahirkan dari Visvamitra rsi dan Menaka. Dan rsi Kanva menemukannya di hutan, dikelilingi dan dilindungi oleh burung (Shakunton dalam bahasa Sanskerta), jadi dia diberi nama Shakuntala.

Pada suatu hari, raja pergi keluar untuk berburu dengan pasukannya, Dushyanta melewati sebuah hutan yang penuh dengan aneka binatang dan pepohonan yang lebat. Hutan yang bergelombang dengan perbukitan kecil berbatu terjal dan selama beberapa yojana (abad)  tidak ada jejak dari siapa pun. Tempat itu penuh dengan satwa liar.

Dushyanta, bersama dengan tentaranya yang kuat, kebetulan melewati sebuah padang pasir yang sangat  luas setelah itu, dia mencapai hutan yang asri. Hutan ini penuh dengan ashrama dan ada pohon buah-buahan, tetapi tidak ada pohon liar. Dan selanjutnya Dushyanta memasuki asrama dari rsi Kanva, anak dari Kashyapa muni. Tempat itu dikelilingi oleh sungai Malini.

Cerita sebelumnya, ketika Shakuntala belum dilahirkan. Suatu hari, seorang penari surga yang bernama Menaka datang ke tempat rsi Visvamitra atas perintah deva Indra, untuk mengalihkan perhatian dari meditasi yang mendalam. Dia berhasil mengganggu rsi itu, kemudian mereka menikah lalu lahirlah seorang anak perempuan. Rsi Visvamitra, merasa kehilangan kebajikan yang diperoleh melalui pertapaan bertahun-tahun dengan keras dari kedisiplinan yang ketat, lalu beliau menjauhkan diri dari anak dan istrinya untuk kembali melakukan pertapaan. Lalu dewi Menaka menyadari bahwa dia tidak bisa bersama dengan anaknya lagi, karena dia harus kembali ke alam surgawi, lalu Menaka meninggalkan Shakuntala, hanya beberapa saat  setelah lahir, di tepi sungai Malini di puncak pegunungan Himalaya. Sebagaimana dinyatakan di atas, lalu Rsi Kanva menemukan seorang anak perempuan yang baru lahir di hutan yang dikelilingi dan dilindungi oleh burung Shakuntala dan dengan demikian rsi Kanva memberikannya dia nama, Shakuntala. Menurut sumber Titwala, sebuah kota kecil dekat Kalyan di Maharashtra, dianggap sebagai tempat pertapaan di mana Shakuntala lahir.
Kelanjutan cerita, mengenai Dushyanta yang sedang mengejar rusa jantan yang terluka oleh panahnya masuk ke dalam ashrama. Raja itu melihat Shakuntala sedang merawat rusa yang terluka, hewan itu adalah peliharaannya, dan kemudian raja jatuh cinta kepadanya. Dia memohon maaf padanya atas kesalahan yang dilakukannya dan menghabiskan beberapa waktu di ashrama itu. Mereka jatuh cinta kemudian raja Dushyanta dan Shakuntala menikah di ashrama tersebut. Setelah tinggal selama beberapa waktu di asram tersebut, raja Dusyanta kembali ke kerajaannya karena ada kerusuhan di ibukotanya, raja Dushyanta memberikan Shakuntala cincin kerajaan sebagai tanda cinta mereka, dan menjanjikan bahwa ia akan kembali menemuinya.

Shakuntala menghabiskan banyak waktunya dalam lamunan dan memimpikan suaminya. Suatu hari, seorang Resi yang kuat, Durvasa muni, datang ke ashram, tetapi Shakuntala tenggelam dalam pikiran tentang suaminya raja Dushyanta, sehingga Shakuntala tidak menyambut dan melayani rsi itu dengan benar. Durvasa muni menjadi marah lalu mengutuk Shakuntala, bahwa orang yang sedang dia mimpikan akan melupakan dirinya sama sekali. Setelah itu, rsi itu pergi dengan marah, lalu salah satu teman dari Shakuntala dengan cepat menjelaskan kepada Durvasa muni alasan dari keadaan Shakuntala. Rsi itu menyadari bahwa kemarahan yang besar tidak dibenarkan, maka dia mengubah kutukannya dan mengatakan bahwa orang yang telah melupakan Shakuntala akan mengingat semuanya lagi jika dia menunjukkan tanda bukti yang telah diberikan kepadanya.

Waktu terus berlalu, dan Shakuntala, bertanya-tanya mengapa Dushyanta tidak kembali untuknya, akhirnya ia berangkat ke ibu kota dengan ayahnya rsi Kanva dan beberapa temannya. Di perjalanan, mereka menyeberangi sungai dengan perahu dan, tergoda oleh birunya air sungai, Shakuntala memainkan jari-jarinya di air, cincin yang dia gunakan terlepas dari jarinya tanpa dia sadari.

Sesampainya di istana Dushyanta, Shakuntala terkejut dan sakit hati, ketika suaminya tidak mengenalinya, atau teringat sesuatu tentang dirinya lagi. Merasa di hina, Shakuntala kembali ke hutan dan berkumpul dengan anaknya, menetap di hutan belantara yang liar. Di sini dia menghabiskan hari demi hari dengan anaknya Bharata. Hanya dikelilingi binatang buas, Bharata tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan membuat permainan olahraga, yaitu membuka mulut harimau dan singa lalu menghitung gigi mereka satu persatu!

Sementara itu di tempat lain, seorang nelayan terkejut menemukan cincin kerajaan di dalam perut ikan yang ia tangkap. Menyadari ada tanda segel kerajaan, ia mengembalikan cincin itu ke istana dan, setelah raja melihat cincin itu, kenangan raja Dushyanta kembali teringat. Dia segera berangkat untuk menemukan istrinya dan, tiba di ashram ayahnya, menemukan bahwa ia tidak ada lagi disana. Dia terus masuk lebih dalam lagi ke tengah hutan untuk mencari istrinya dan tiba-tiba dia melihat sebuah adegan yang mengejutkan di hutan, seorang pemuda telah membuka mulut singa dan sedang sibuk menghitung giginya! Raja menyapa anak itu dengan kagum, karena keberanian dan kekuatan yang dimiliki, dia menanyakan namanya. Raja terkejut ketika anak itu menjawab bahwa ia adalah Bharata, putra Raja Dushyanta. Anak itu membawanya ke tempat di mana Shakuntala tinggal, dan dengan demikian keluarga itu bersatu kembali.
Shakuntala Showing a Letter of Dushyanta to Her Friend
Shakuntala Showing a Letter of Dushyanta to Her Friend
Shakuntala... An Eternal Love Story

Sangkuni Sang Patih yang tangkas, pandai bicara, buruk hati, dengki dan licik



Sangkuni Sang Patih yang tangkas, pandai bicara, buruk hati, dengki dan licik

Sangkuni Sang Patih yang tangkas, pandai bicara, buruk hati, dengki dan licik
Konon Sangkuni merupakan reinkarnasi dari Dwapara, yaitu seorang dewa yang bertugas menciptakan kekacauan di muka bumi.
Sangkuni, atau yang dalam ejaan Sanskerta disebut Shakuni (: शकुनि ; śakuni) atau Saubala adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu. Sangkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Korawa agar memusuhi Pandawa. Antara lain, ia berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui sebuah permainan dadu.
Dalam pewayangan Jawa, Sangkuni sering dieja dengan nama Sengkuni. ketika para Korawa berkuasa di Kerajaan Hastina, ia diangkat sebagai patih. Dalam pewayangan Sunda, ia juga dikenal dengan nama Sangkuning.
Sengkuni - Versi Surakarta
Sengkuni-Solo

ARYA SENGKUNI yang waktu mudanya bernama Trigantalpati adalah putra kedua Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan permaisuri Dewi Gandini.

Arya Sengkuni mempunyai tiga orang saudara kandung masing-masing bernama 
  1. Dewi Gandari, A
  2. rya Surabasata dan 
  3. Arya Gajaksa.

Arya Sengkuni menikah dengan Dewi Sukesti, putri Prabu Keswara raja negara Plasajenar.
Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra bernama ; 
  1. Arya Antisura/Arya Surakesti, 
  2. Arya Surabasa dan 
  3. Dewi Antiwati yang kemudian diperistri Arya Udawa, patih negara Dwarawati. 
  • Arya Sengkuni mempunyai sifat perwatakan ; tangkas, pandai bicara, buruk hati, dengki dan licik. 
  • Arya Sengkuni bukan saja ahli dalam siasat dan tata pemerintahan serta ketatanegaraan, tetapi juga mahir dalam olah keprajuritan.
  • Arya Sengkuni mempunyai pusaka berwujud Cis (=Tombak pendek untuk memerintah gajah) yang mempunyai khasiat dapat menimbulkan air bila ditancapkan ke tanah.
  • Dalam perang Bharatayuda, Arya Sengkuni diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa setelah gugurnya Prabu Salya, raja negara Mandaraka. 
  • Arya Sengkuni mati dengan sangat menyedihkan di tangan Bima.
  • Tubuhnya dikuliti dan kulitnya diberikan kepada Dewi Kunti untuk melunasi sumpahnya.
  • Mayat Sakuni kemudian dihancurkan dengan gada Rujakpolo.
PATIH HARYA SAKUNI
Patih Harya Sakuni putra raja negara Palasajenar. Ia kelak akan menggantikan sebagai raja. Sewaktu mudanya bernama Harya Suman.
Berkas:Sangkuni-kl.jpg
Pada waktu negara Madura diperintah Prabu Kuntiboja, baginda mengadakan perlombaan memilih calon suami bagi Dewi Kunti. Dengan diikuti adiknya perempuan, Dewi Gendari, hendak ikut serta di dalam perlombaan, tetapi terlambat datangnya. Di jalan ia berjumpa dengan Raden Pandu yang telah menang di dalam perlombaan itu. Harya Sakuni hendak merebut Dewi Kunti dan terjadilah perang. Sakuni kalah dan menyerahkan adiknya, Gendari, sebagai penebus kekalahannya itu.

Setibanya di Astina, Dewi Gendari dikawinkan dengan Raden Destarastra. Setelah Destarastra menjadi raja Astina, Harya Sakuni diangkat menjadi Patih.

Harya Sakuni pandai berbicara, tetapi ia tidak jujur. Kepandaiannya selalu digunakannya untuk bertipu daya. Tetapi karena kepandaiannya itu, ia berguna juga bagi negara Astina. Adat kelakuan yang demikian menyebabkan terjadinya di dalam bahasa Jawa perumpamaan Seperti Sakuni bagi seseorang yang banyak akalnya.

Karena pandainya menggunakan bahasa dan berputar lidah, kata-kata Sakuni selalu dalam maksudnya dan bisa menjerat lawannya. Katakatanya enak untuk didengar dan mereka yang mendengarnya tertarik seperti kena guna pengasih saja.

Mengingat asal-usulnya, seorang orang yang mulia dan berhak menjadi raja negara Palasajenar, tetapi sesudah ia mengikuti saudara perempuannya yang kemudian diperistri Prabu Destarastra, raja negara Astina yang mempunyai seratus orang anak, maka ia pun memberatkan Astina.

Di negara Astina, Sakuni mempunyai sahabat karib, ialah Pandita Durna yang bersamaan tabiat dengan dia. Kedua tokoh itu memimpin Astina di dalam keadaan dan persoalan yang sulit-sulit. Di dalam pewayangan mereka umumnya dianggap tokoh-tokoh tak baik, padahal mereka bukan orang-orang sembarangan dan hanya oleh karena mereka berpihak pada Astina, dianggaplah mereka sebagai tokoh-tokoh tak baik.

Dalam perang Baratayuda, Sakuhi mati dirobek-robek mulutnya oleh Wrekodara. Sakuni bermata kedondongan, berhidung mungkal gerang, berbentuk batu asahan yang sudah aus, bergigi gusen, berjenggot. Kedua tangannya berlainan bentuk, yang satu tangan raksasa dan yang lainnya menunjuk, seperti tangan dagelan. Bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Kepala berketu udeng. Bersunting kembang kluwih. Berkalung ulur-ulur. Berkain rapekan tentara, bercelana cindai.

Dalam cerita Sakuni mengidap sakit napas. Digambar tampak bahu
tangan belakang agak naik, menandakan, bahwa orangnya mempunyai sakit napas.

Matinya Sakuni melambangkan, bahwa orang pandai bicara yang tak jujur sepantasnya kalau dirobek-robek mulutnya.

Sumber : Sejarah Wayang Purwa - Hardjowirogo - PN Balai Pustaka - 1982




Asal-Usul Versi Mahabharata
Menurut versi Mahabharata, Sangkuni berasal dari Kerajaan Gandhara. Ayahnya bernama Suwala. Pada suatu hari adik perempuannya yang bernama Gandari dilamar untuk dijadikan sebagai istri Dretarastra, seorang pangeran dari Hastinapura yang menderita tunanetra. Sangkuni marah atas keputusan ayahnya yang menerima lamaran tersebut. Menurutnya, Gandari seharusnya menjadi istri Pandu, adik Dretarastra. Namun karena semuanya sudah terjadi, ia pun mengikuti Gandari yang selanjutnya menetap di istana Hastinapura.

Gandari memutuskan untuk selalu menutup kedua matanya menggunakan selembar kain karena ia sangat setia kepada suaminya yang buta. Dari perkawinan mereka lahir seratus orang Korawa, yang sejak kecil diasuh oleh Sangkuni.

Di bawah asuhan Sangkuni, para Korawa tumbuh menjadi anak-anak yang selalu diliputi rasa kebencian terhadap para Pandawa, yaitu putra-putra Pandu. Setiap hari Sangkuni selalu mengobarkan rasa permusuhan di hati para Korawa, terutama yang tertua, yaitu Duryodana.

Konon Sangkuni merupakan reinkarnasi dari Dwapara, yaitu seorang dewa yang bertugas menciptakan kekacauan di muka bumi.

Asal-Usul Versi Pewayangan
Dalam pewayangan, terutama di Jawa, Sengkuni bukan kakak dari Dewi Gendari, melainkan adiknya. Sementara itu Gandara versi pewayangan bukan nama sebuah kerajaan, melainkan nama kakak tertua mereka. Sengkuni sendiri dikisahkan memiliki nama asli Harya Suman.

Pada mulanya raja Kerajaan Plasajenar bernama Suwala. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Gandara. Pada suatu hari Gandara ditemani kedua adiknya, yaitu Gendari dan Suman, berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan Dewi Kunti, putri negeri tersebut.

Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara Kunti. Pertempuran pun terjadi. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gendari dan Suman menuju Hastina.
Sesampainya di Hastina, Gendari diminta oleh kakak Pandu yang bernama Drestarastra untuk dijadikan istri. Gendari sangat marah karena ia sebenarnya ingin menjadi istri Pandu. Suman pun berjanji akan selalu membantu kakaknya itu melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad akan menciptakan permusuhan di antara para Kurawa, anak-anak Drestarastra, melawan para Pandawa, anak-anak Pandu.

Asal-Usul Nama Sangkuni
Menurut versi pewayangan Jawa, pada mulanya Harya Suman berwajah tampan. Ia mulai menggunakan nama Sengkuni semenjak wujudnya berubah menjadi buruk akibat dihajar oleh Patih Gandamana.
Gandamana adalah pangeran dari Kerajaan Pancala yang memilih mengabdi sebagai patih di Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Pandu. Suman yang sangat berambisi merebut jabatan patih menggunakan cara-cara licik untuk menyingkirkan Gandamana.

Pada suatu hari Suman berhasil mengadu domba antara Pandu dengan muridnya yang berwujud raja raksasa bernama Prabu Tremboko. Maka terciptalah ketegangan di antara Kerajaan Hastina dan Kerajaan Pringgadani. Pandu pun mengirim Gandamana sebagai duta perdamaian. Di tengah jalan, Suman menjebak Gandamana sehingga jatuh ke dalam perangkapnya.

Suman kemudian kembali ke Hastina untuk melapor kepada Pandu bahwa Gandamana telah berkhianat dan memihak musuh. Pandu yang saat itu sedang labil segera memutuskan untuk mengangkat Suman sebagai patih baru. Tiba-tiba Gandamana yang ternyata masih hidup muncul dan menyeret Suman. Suman pun dihajar habis-habisan sehingga wujudnya yang tampan berubah menjadi jelek.

Sejak saat itu, Suman pun terkenal dengan sebutan Sengkuni, berasal dari kata saka dan uni, yang bermakna "dari ucapan". Artinya, ia menderita cacad buruk rupa adalah karena hasil ucapannya sendiri.

Peristiwa Minyak Tala
Versi pewayangan selanjutnya mengisahkan, setelah Pandu meninggal dunia, pusakanya yang bernama Minyak Tala dititipkan kepada Drestarastra supaya kelak diserahkan kepada para Pandawa jika kelak mereka dewasa. Minyak Tala sendiri merupakan pusaka pemberian dewata sebagai hadiah karena Pandu pernah menumpas musuh kahyangan bernama Nagapaya.

Beberapa tahun kemudian, terjadi perebutan antara para Pandawa melawan para Kurawa yang ternyata juga menginginkan Minyak Tala. Dretarastra memutuskan untuk melemparkan minyak tersebut beserta wadahnya yang berupa cupu sejauh-jauhnya. Pandawa dan Kurawa segera berpencar untuk bersiap menangkapnya.

Namun, Sengkuni dengan licik lebih dahulu menyenggol tangan Drestarastra ketika hendak melemparkan benda tersebut. Akibatnya, sebagian Minyak Tala pun tumpah. Sengkuni segera membuka semua pakaiannya dan bergulingan di lantai untuk membasahi seluruh kulitnya dengan minyak tersebut.
Sementara itu, cupu beserta sisa Minyak Tala jatuh tercebur ke dalam sebuah sumur tua. Para Pandawa dan Kurawa tidak mampu mengambilnya. Tiba-tiba muncul seorang pendeta dekil bernama Durna yang berhasil mengambil cupu tersebut dengan mudah. Tertarik melihat kesaktiannya, para Kurawa dan Pandawa pun berguru kepada pendeta tersebut.

Sengkuni yang telah bermandikan Minyak Tala sejak saat itu mendapati seluruh kulitnya kebal terhadap segala jenis senjata. Meskipun ilmu bela dirinya rendah, namun tidak ada satu pun senjata yang mampu menembus kulitnya.


Usaha-Usaha untuk Menyingkirkan Pandawa
Baik dalam versi Mahabharata maupun versi pewayanagan, Sengkuni merupakan penasihat utama Duryudana, pemimpin para Kurawa. Berbagai jenis tipu muslihat dan kelicikan ia jalankan demi menyingkirkan para Pandawa.

Dalam Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa, Sangkuni menciptakan kebakaran di Gedung Jatugreha, tempat para Pandawa bermalam di dekat Hutan Waranawata. Namun para Pandawa dan ibu mereka, yaitu Kunti berhasil meloloskan diri dari kematian. Dalam pewayangan, peristiwa ini terkenal dengan nama Bale Sigala-Gala.

Usaha Sengkuni yang paling sukses adalah merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa melalui permainan dadu melawan pihak Kurawa. Kisah ini terdapat dalam Mahabharata bagian kedua, atau Sabhaparwa.

Peristiwa tersebut disebabkan oleh rasa iri hati Duryudana atas keberhasilan para Pandawa membangun Indraprastha yang jauh lebih indah daripada Hastinapura. Atas saran Sengkuni, ia pun mengundang para Pandawa untuk bermain dadu di Hastinapura. Dalam permainan itu Sengkuni bertindak sebagai pelempar dadu Kurawa. Dengan menggunakan ilmu sihirnya, ia berhasil mengalahkan para Pandawa. Sedikit demi sedikit harta benda, istana Indraprastha, bahkan kemerdekaan para Pandawa dan istri mereka, Dewi Drupadi jatuh ke tangan Duryudana.

Mendengar Drupadi dipermalukan di depan umum, Dewi Gendari ibu para Kurawa muncul membatalkan semuanya. Para Pandawa pun pulang dan mendapatkan kemerdekaan mereka kembali. Karena kecewa, Duryudana mendesak ayahnya, Drestarastra, supaya mengizinkannya untuk menantang Pandawa sekali lagi. Drestarastra yang lemah tidak kuasa menolak keinginan anak yang sangat dimanjakannya itu.
Maka, permainan dadu yang kedua pun terjadi kembali. Untuk kedua kalinya, pihak Pandawa kalah di tangan Sengkuni. Sebagai hukuman, mereka harus menjalani hidup selama 12 tahun di dalam hutan, dan dilanjutkan dengan menyamar selama setahun di suatu negeri. Jika penyamaran mereka sampai terbongkar, mereka harus mengulangi kembali selama 12 tahun hidup di dalam hutan dan begitulah seterusnya.

Kematian di Kurukshetra
Setelah masa hukuman selama 13 tahun berakhir, para Pandawa kembali untuk mengambil kembali negeri mereka dari tangan Kurawa. Namun pihak Kurawa menolak mengembalikan Kerajaan Indraprastha dengan alasan penyamaran para Pandawa di Kerajaan Wirata telah terbongkar. Berbagai usaha damai diperjuangkan pihak Pandawa namun semuanya mengalami kegagalan. Perang pun menjadi pilihan selanjutnya.

Pertempuran besar di Kurukshetra antara pihak Pandawa melawan Kurawa dengan sekutu masing-masing akhirnya meletus. Perang yang juga terkenal dengan sebutan Baratayuda ini berlangsung selama 18 hari, di mana Sengkuni tewas pada hari terakhir.

Menurut versi Mahabharata bagian kedelapan atau Salyaparwa, Sengkuni tewas di tangan Sadewa, yaitu Pandawa nomor lima. Pertempuran habis-habisan antara keduanya terjadi pada hari ke-18. Sengkuni mengerahkan ilmu sihirnya sehingga tercipta banjir besar yang menyapu daratan Kurukshetra, tempat perang berlangsung.

Dengan penuh perjuangan, Sadewa akhirnya berhasil memenggal kepala Sengkuni. Riwayat tokoh licik itu pun berakhir.

Kisah versi asli di atas sedikit berbeda dengan Kakawin Bharatayuddha yang ditulis pada zaman Kerajaan Kadiri tahun 1157. Menurut naskah berbahasa Jawa Kuna ini, Sengkuni bukan mati di tangan Seadewa, melainkan di tangan Bima, Pandawa nomor dua. Sengkuni dikisahkan mati remuk oleh pukulan gada Bima. Tidak hanya itu, Bima kemudian memotong-motong tubuh Sengkuni menjadi beberapa bagian.
Kisah tersebut dikembangkan lagi dalam pewayangan Jawa. Pada hari terakhir Baratayuda, Sengkuni bertempur melawan Bima. Kulitnya yang kebal karena pengaruh Minyak Tala bahkan sempat membuat Bima menjadi pusing karena tidak bisa mengalahkan Sengkuni.

Penasihat Pandawa selain Kresna, yaitu Semar muncul memberi tahu Bima bahwa kelemahan Sengkuni berada di bagian dubur, karena bagian tersebut dulunya pasti tidak terkena pengaruh Minyak Tala. Bima pun maju kembali. Sengkuni ditangkap dan disobek duburnya menggunakan Kuku Pancanaka yang tumbuh di ujung jari Bima.

Ilmu kebal Sengkuni pun musnah. Dengan beringas, Bima menyobek dan menguliti Sengkuni tanpa ampun. Meskipun demikian, Sengkuni hanya sekarat tetapi tidak mati.

Pada sore harinya Bima berhasil mengalahkan Duryudana, raja para Kurawa. Dalam keadaan sekarat, Duryudana menyatakan bahwa dirinya bersedia mati jika ditemani pasangan hidupnya, yaitu istrinya yang bernama Dewi Banowati. Atas nasihat Kresna, Bima pun mengambil Sengkuni yang masih sekarat untuk diserahkan kepada Duryudana. Duryudana yang sudah kehilangan penglihatannya akibat luka parah segera menggigit leher Sangkuni yang dikiranya Banowati.

Akibat gigitan itu, Sengkuni pun tewas seketika, begitu pula dengan Duryudana. Ini membuktikan bahwa pasangan sejati Duryudana sesungguhnya bukan istrinya, melainkan pamannya yaitu Sengkuni yang senantiasa berjuang dengan berbagai cara untuk membahagiakan para Korawa.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...