primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label SUNAN BONANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUNAN BONANG. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim)

Walisongo Periodesasi ke-3 

Tapak Jejak "WALISONGO"  (Walisongo Periode Ketiga)

Tapak Jejak "WALISONGO"  (Walisongo Periode Ketiga)
Periodesasi ke-3 (1463 – 1466 M), terdiri dari:
1. Sunan Ampel,
2. Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq,
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465),
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1465),
5. Sunan Kudus,
6. Sunan Gunung Jati,
7. Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin,
8. Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin, dan
9. Sunan Kalijaga yang tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir.

Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin
Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim)
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. 

Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seoran g muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan Nabi Muhammad.

Garis Nasab Beliau sebagai berikut :
Syekh Ibrahim Al-Huseini (Sunan Bonang  Dewan Dakwah “Wali Songo” Periode ke 2) dari 
Nasab Nabi Muhammad Rosullullah SAW

1. Siti Fatimah (Istri Sayyidina Ali R.A)
2. Sayyid Husein Assabti
3. Sayyid Jaenal Abidin Al-Huseini
4. Muhammad Al-Bakir Al-Huseini
5. Jafar Siddiq Al-Huseini (Irak)
6. Ali Al-Uraidhi Al-Huseini
7. Muhammad An-Naqib Al-Huseini
8. Isa Al-Rumi/Al-Azraq/An-Naqib Al-Huseini
9. Ahmad Al-Muhajir Al-Huseini
10. Ubaidillah Al-Huseini
11. Alawi Al-Huseini
12. Muhammad Al-Huseini
13. Alawi Al-Huseini
14. Ali Khali' Qasam Al-Huseini
15. Muhammad Sahib Marbat Al-Huseini
16. Alawi Ammul Faqih Muqaddam Al-Huseini
17. Abdul Malik Al-Huseini (India dari Hadramaut)
18. Abdullah Khan Al-Huseini
19. Ahmad Jalal Shah Al-Huseini
20. Jamaluddin Husain Akhbar Al-Huseini
21. Sayyid Ibrahim Zain Al-Akhbar Al-Huseini
22. Syekh Ahmad Rahmatullah Al-Huseini (Sunan Ampel Denta "Wali Songo")

23. Sayyid Ibrahim Al-Huseini (Sunan Bonang "Wali Songo")


Bonang adalah sejenis kuningan yang bagian tengahnya lebih ditonjolkan. 
Apabila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak, maka timbul suara yang merdu di telinga penduduk setempat. Terlebih lagi bila raden makdm ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik tersebut. Ia adalah seorang wali yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi. Jika ia membunyikan alat itu, maka pengaruhnya sangat hebat bagi para pendengarnya. 

Dan, tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan bonang, sekaligus melagukan berbagai tembang ciptaan beliau.


Begitulah siasat raden makdum ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya, ia tinggal menyiapkan ajaran islam dalam berbagi tembang kepada mereka. Dan, seluruh tembang yang diajarkannya adalah tembang yang berisikan ajaran agama islam. Maka, tanpa terasa penduduk sudah mempelajari gama islam dengan senan hati dan bukan dengan paksaan.

Maha Karya Sunan Bonang :
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.

Ada pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.


Beliau juga menulis sebuah kitab yang berisikan tentang Ilmu Tasawwuf berjudul Tanbihul Ghofilin. Kitab setebal 234 hlmn ini sudah sangat populer dikalangan para santri. atau lebih dikenal dengan 
KITAB PRIMBON SUNAN BONANG (Pangeraning Benang) Here

Tembang Ciptaaan Sunan Bonang Tombo Ati
Cerita sunan bonang, Di antara tembang raden makdum ibrahim yang terkenal, yaitu “Tamba ati iku lima ing wernane. kaping pisan maca qur an angen-angen sak maknane. Kaping pindho shalat wengi lakonono. Kaping telu wong kang saleh kancanana. kaping papat kudu wetheng ingkang luwe. Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe. Sopo wonge bisa ngelakoni. Insya Allah gusti Allah nyembadani”

Adapun arti tembang tersebut adalah obat sakit jiwa (hati) itu ada lima jenisnya. Pertama, membaca al qur an direnungkan artinya. kedua, mengerjakan shalat malam (Sunnah Tahajjud). Ketiga, sering bersahabat dengan orang shalih (berilmu). Keempat, harus sering berprihatin (berpuasa). Kelima, sering berzikir mengingat Allah di waktu malam. Siapa saja mampu mengerjakannya. InsyaAllah dia akan mengambulkan.

Sekarang, lagu ini sering dilantunkan para santri ketike hendak shalat jamaah baik di pedesaan maupun di pesantren. Sebenarnya, para murid raden makdum ibhramim sangat banyak, baik itu mereka yang berada di Tuban, pulau bawean, jepara, maupun madura. Sebab, ia sering mempergunakan bonang dalam berdakwah, maka masyarakat memberinya gelar sunan bonang.  Tembang ciptaan Sunan Bonang semakin populer lagi sejak dinyanyikan oleh salah satu penyanyi religi dari Indonesia, yaitu Opick, jadi tidak hanya para santri saja yang tahu lagu itu, tapi juga masyarakat luas.

Pada masa hidupnya, Sunan bonang termasuk pendukung kerajaan islam demak dan ikut membantu mendirikan masjid agung demak di jawa tengah. Saat itu, ia lebih dikenal sebagai pemimpin bala tentara demak oleh masyarakat setempat. Ia juga memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung, ayah sunan kudus, sebagai panglima tentang islam demak. Ketika sunan ngudung gugur, sunan bonang pula yang mengangkat sunan kudus sebagai panglima perang. Bahkan, ia pun memberikan nasihat yang berharga pada sunan kudus tentang strategi perang menghadapi majapahit.


Sunan bonang sangat memperhatikan ajaran islam, sehingga ia sering menunjukkan tata cara hidup yang baik agar orang islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaan kepada Allah SWT. Para penganut islam haruskan menjalankan, seperti shalat, berpuasa, dan membayar zakat.  Selain itu, mereka juga harus menjauhi tiga musuk utama, yaitu dunia, hawa nafsu, dan setan. Untuk menghindari ketiga musuh itu, mereka dianjurkan untuk lebih banyak berdiam diri, bersikap renda hatih, dan tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah SWT. Sebaliknya, mereka harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah, serta gila pangkat dan kehormatan.

Keilmuan Sunan Bonang

Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernapasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. 

Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. 

Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia

Makam Cungkup Petilasan SUNAN BONANG "Sayyid Ibrahim Al-Huseini" Exclusive

Walisongo 

Tapak Jejak"WALISONGO" (Walisongo Periode Pertama)

Tapak Jejak"WALISONGO" (Walisongo Periode ketiga)

Makam Cungkup Petilasan SUNAN BONANG
(Raden Maulana Makdum Ibrahim) "Sayyid Ibrahim Al-Huseini"
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465,dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim.Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila.Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang.Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M,dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang.Namun,yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. 

Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon,saat beliau meninggal,kabar wafatnya beliau sampai pada seoran g muridnya yang berasal dari Madura.Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura.Namun,murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau.Saat melewati Tuban,ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang.Mereka memperebutkannya.

SUNAN BONANG,WALI YANG MEMBUJANG DENGAN EMPAT MAKAM
Mereka yang melacak jejak Sunan Bonang setidaknya akan mendapatkan tiga lokasi pemakaman,yang jika para juru kuncinya ditanggapi terlalu serius,tentu akan menjadi bingung-karena tiada cara untuk membuktikan kesahihannya.

Kerancuan ini disebabkan antara lain karena sejak awal tidak terbedakan,mana yang makam dan mana yang petilasan:tempat para wali pernah tinggal,mengajar,atau sekadar lewat saja.Meski begitu,petilasan boleh dianggap tak kalah penting dengan makam, karena makam sebetulnya hanyalah tempat para beliau dikubur, sedangkan petilasan justru merupakan atmosfer lingkungan hidup seorang wali ratusan tahun silam.

Apabila petilasan yang menjadi ukuran,maka jumlah lokasi yang terhubungkan dengan Sunan Bonang menjadi empat.

Kisah empat lokasi Petilasan/Cungkup
  • Makam Cungkup Petilasan SUNAN BONANG"Sayyid Ibrahim Al-Huseini"di TUBAN-Jawa Timur
Makam Sunan Bonang


Suasana Dalam Makam Sunan Bonang
Lokasi pertama,dan yang paling populer,adalah makam di belakang Mesjid Agung Tuban. 
Makam Sunan Bonang terletak di Kabupaten Tuban,Jawa Timur,sekitar 200 meter dari alun-alun kota.
Alun-alun depan Makam / Masjid Sunan Bonang
Barang siapa berkunjung ke sana akan melihat suatu kontras,antara Mesjid Agung Tuban yang arsitekturnya megah dan berwarna-warni itu,dengan astana masjid Sunan Bonang di
belakangnya yang sederhana. 
Masjid Sunan Bonang Sangat Disayangkan Wujud Aslinya sudah Direnovasi 
Masjid di dalam kompleks makam
Di dekat astana mesjid yang mungil itulah terletak makam Sunan Bonang.Untuk mencapai tempat itu kita harus menyusuri gang sempit di samping mesjid besar,bagaikan perlambang atas keterpinggiran alam mistik dalam kehidupan pragmatik masa kini.
Sayang Banyak Piring Keramik Asli yang Hilang
piring''kaligrafi di dinding Gapura

Keistimewaan
Para peziarah yag datang ke makam Sunan Bonang umumnya melakukan doa tahlil maupun membaca surat Yasin.Akan tetapi, selain untuk berdoa,mengunjungi makam ini peziarah juga dapat menyaksikan jejak penyebaran agama Islam khususnya yang dilakukan oleh Sunan Bonang.

Masjid yang menyambut pengunjung ketika memasuki gapura,misalnya,merupakan masjid tua yang menjadi pusat penyebaran agama yang dilakukan oleh Sunan Bonang.Di pelataran masjid ini,terdapat salah satu peninggalan Sunan Bonang,yaitu tempat wudhu yang terbuat dari batu.Hingga kini,batu tersebut terawat dengan baik dan dipagari.

Sebagaimana makam Walisongo lainnya,di komplek makam ini pengunjung dilarang mengambil gambar.Seorang juru kunci akan setia mendampingi rombongan yang masuk ke dalam cungkup dan akan memperingatkan pengunjung yang coba-coba mengambil gambar makam Sunan Bonang.
  • Makam Cungkup Petilasan SUNAN BONANG"Sayyid Ibrahim Al-Huseini" di Lasem-Jawa Tengah
Makam dan Pasujudan Sunan Bonang
Lokasi kedua adalah petilasan di sebuah bukit di pantai utara Jawa, antara Rembang dan Lasem,tempat yang dikenal sebagai mBonang,dan dari sanalah memang ternisbahkan nama sang sunan.Di kaki bukit itu konon juga terdapat makam Sunan Bonang,tanpa cungkup dan tanpa nisan,hanya tertandai oleh tanaman bunga melati. 


Namun atraksi utama justru di atas bukit,tempat terdapatnya batu yang digunakan
sebagai alas untuk shalat-di batu itu terdapat jejak kaki Sunan Bonang,konon kesaktiannya membuat batu itu melesak.
Batu/Selo Pasujudan SUNAN BONANG
di berada di desa Bonang,Kecamatan Lasem,dengan jarak 17 kilometer dari kota Rembang ke timur jurusan Surabaya. 

Selain mengunjungi makam,ketika anda sampai lokasi objek wisata,anda bisa mengunjungi tempat pasujudannya yang berada di sebuah bangunan mushalla dengan kamar berisi batu besar yang di gunakan oleh Sunan Bonang sebagai sajadah,tempat bershalawat(bertapa)atas perintah Nabi Haidir. 
Batu itulah yang akhirnya dikenal dengan nama pasujudan(tempat sujud kepada Allah SWT)Sunan Bonang,karena ada bekas anggota badan Sunan Bonang.

Untuk bisa sampai ke lokasi pasujudan,pengunjung harus menaiki tangga dengan waktu tempuh sekitar 10 menit karena berada di atas perbukitan yang berada tak jauh dari Jalan Surabaya-Rembang.
Setelah mengunjun gi tempat pasujudan,tak jauh dari lokasi terdapat Makam Putri Campa,yaitu makam Dewi Indrawati(Ibu Raden Patah Sultan Demak)yang menjadi mubalighah di Bonang sampai akhir hayatnya.

Kesan sebagai makam mungkin bisa dibayangkan bangunannya tidak ada yang spesial,tetapi khusus Makam Putri Campa ini mempunyai alas tiang berupa umpak dari tulang ikan paus.

Pasujudan Sunan Bonang
Situs Pasujudtan ini berdampingan dengan makam Putri Cempo(Cempa,Campa)dan ini terjelaskan oleh cerita tutur bahwa Sunan Bonang adalah putra Sunan Ngampel Denta yang berasal dari Cempa tersebut-seperti teruraikan dalam Intisari bulan lalu.Sunan Bonang telah memindahkan
makam putri Darawati atau Andarawati yang merupakan maktuanya tersebut dari makam lama di Citra Wulan(bertarikh Jawa 1370 alias 1448 Masehi,mungkin maksudnya di wilayah ibukota Majapahit)ke
Karang Kemuning,Bonang,tak dijelaskan kenapa.Namun keterangan ini muncul sebagai catatan kaki atas cerita tentang perampasan barang-barang berharga Demak ketika direbut Mataram,dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa:Peralihan dari Majapahit ke Mataram(1974) karya Graaf dan Pigeaud.
Di bawah ini adalah foto-foto yang diambil dari lokasi Pasujudan Sunan Bonang 
Pintu Gerbang Pasujudan Sunan Bonang
Di bawah ini adalah foto yang diambil dari lokasi Ndalem/Makam Sunan Bonang.

Makam Sunan Bonang terkesan sangat sederhana,karena tidak ada batu nisan yang menunjukkan makam tersebut merupakan seorang wali.
Makam Putri Campa
Sejarah Putri Cempo/Campa di Desa Bonang
Setengah riwayat menyebutkan bahwa Putri Campa nama aslinya Dewi kasyifah putri S.Ibrahim Asmarakandi.Ketika masih kecil Putri Campa pergi menutut ilmu hingga sampai di negeri Campa. 

Seorang ahli sejarah meyebutkan bahwa Campa terletak di Kamboja(Indocina),tetapi yang lain menyebutkan bahwa Campa terletak di Aceh. 
Di Negara Campa tersebut Kasyifah diambil anak angkat oleh seorang Tionghoa(Cina).Setelah diambil sebagai anak angkat,nama Kasyifah diganti dengan nama Indrawati.Setengah riwayat juga meyebutkan bahwa Kasyifah juga bernama Asiyah. 

Oleh orang Cina tersebut Indrawati dihadiahkan kepada Raja Majapahit Prabu Brawijaya ke V,dengan suatu permintaan agar bangsa Cina diperbolehkan untuk tetap tinggal di tanah Jawa dan dijaga keselamatanya. 

Prabu Brawijaya sangat terkesan dan tertarik akan kecantikan Dewi Indrawati,beliau menerima hadiah tersebut dengan senang hati,serta meluluskan permintaan Cina tersebut.Dari hasil perkawinan Prabu Brawijaya dengan Dewi Indrawati lahirlah R.Sultan Patah yang nantinya akan bergelar sebagai Sultan Kerajaan Islam Demak Bintoro. 

Setelah Raden Patah ditetapkan oleh para Wali Tanah Jawa dalam musyawarahnya di Ngampel sebagai Sultan Kerajaan Demak yang berkuasa sekitar tahun 1500-1518 M.Saat itu Dewi Indrawati berkeinginan untuk menengok putranya yang dikabarkan telah menjadi Raja Kerajaan Islam Demak Bintoro.Kedatangan Dewi Indrawati,di Demak sedang berlangsung Musyawarah Para Wali untuk membahas perkembangan agama Islam di tanah Jawa.Atas permintaan R.Ibrahim Sunan Bonang,serta persetujuan R.Patah beserta Ibunya Dewi Indrawati diajak ke Bonang Lasem untuk mengajar dan dan memimpin para Muslimat di Bonang.Akhirnya Putri Campa/Dewi Indrawati ibu Raden Patah menjadi muballighah hingga akhir hayatnya.Beliau wafat dan dimakamkan di dekat Pasujudan Kanjeng Sunan Bonang di desa Bonang Lasem. 

Setelah mengunjungi tempat pasujudan dan makam Putri Campa,pengunjung bisa menuju lokasi Makam Sunan Bonang yang berjarak dari lokasi petisalannya sekitar 300 meter dengan menyusuri jalan menuju perkampungan warga.
Makam Sunan Bonang terkesan sangat sederhana,karena tidak ada batu nisan yang menunjukkan makam tersebut merupakan seorang wali.
Makam Sunan Bonang terkesan sangat sederhana,karena tidak ada batu nisan yang menunjukkan makam tersebut merupakan seorang wali.Pengunjung hanya bisa melihat sebuah pohon yang tumbuh yang dilindungi pagar.
Sedangkan di luar pagar terdapat tulisan Makam Sunan Bonang(R.Maulana Makdum Ibrahim).
Perdebatan Makam Sunan Bonang memang masih terjadi,karena ada yang mengatakan makam beliau ada di Tuban serta ada yang meyakini berada di Madura(wallahu a’lam bissowab). 

Keyakinan penduduk sekitar tentang Makam Sunan Bonang karena sejumlah barang-barang yang biasa digunakan semasa hidup masih ada di daerah tersebut. 

Jika pengunjung ingin melihat keramaian di lokasi objek,dapat berkunjung pada setiap bulan Selo(Dulkangidah)Hari Rabu Pahing sebagai acara haul Sunan Bonang. 
Di bawah ini adalah foto-foto yang diambil dari lokasi Pasujudan Sunan Bonang 
dan Makam Putri Cempo.

RIWAYAT BENDE BECAK-SUNAN BONANG
Bende Becak yang terdapat di desa Bonang,yang pada setiap tanggal 10 Besar/Dzulhijjah diadakan upacara penyuciannya.Menurut dongeng kuno bahwa Bende Becak itu asalnya nama orang penabuh bendenya Prabu Brawijaya.Entah apa masalahnya akhirya ia kena sabda Kanjeng Sunan Bonang menjandi bende,dinamakan Bende Becak. 

Setelah menjadi bende ia menjadi pusakanya Kanjeng Sunan Bonang dan para wali lainnya.Adapun kegunaanya sewaktu-waktu ada keperluan penting bende tersebut dapat berbuyi tanpa ditabuh.Pada zaman kewalian bende itu berguna untuk mengumpulkan para wali,karena adanya sesuatu keperluan atau sebagai tanda(pemberitahuan)akan adanya sesuatu peperangan/musibah. 
Karena kekeramatan dari seorang wali,setiap peninggalan ataupun bekasnya akan mengandung hikmah yang besar.Sampai saat ini pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Bonanag masih tersimpan dan terpelihara dengan baik di rumah kediaman Bapak Juru Kunci Pesarean Sunan Bonang.
Sedangkan Acara Penjamasan Pusaka Sunan Bonang berupa“bende”yang di beri nama“Bende Becak”pada setiap tanggal 10 Dzulhijah(Hari Raya Idul Adha)pukul 09.00 WIB diadakan upacara penjamasan di rumah juru kunci Desa Bonang,Kecamatan Lasem.Bende Becak berukuran garis tengah 10 centimeter.Bende ini berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan para wali atau sebagai tanda pemberitahuan akan terjadinya sesuatu peperangan/musibah. 

Pada upacara ini dibagi-bagikan ketan kuning dengan enti/selai(dari kelapa manis)serta memperebutkan air bekas penjamasan Bende Becak yang konon dapat memberikan berkah.Dan untuk lebih dulu mendapatkan barang tersebut,pengunjung berusaha lebih dahulu datang karena ada pula yang menginap.

Makam Cungkup Petilasan SUNAN BONANG 
"Sayyid Ibrahim Al-Huseini"diPulau Bawean

Lokasi ketiga adalah makam Sunan Bonang di Tambak Kramat,Pulau Bawean. 
Ketika kami melacak ke pulau terpencil antara Jawa dan Kalimantan tersebut,terdapat dua makam Sunan Bonang di tepi pantai- dan tiada cara untuk memastikan mana yang lebih masuk akal,meski untuk sekadar"dikira"sebagai makam Sunan Bonang. 
Berkas:Bawean relief.png
Makam Sunan Bonang di kampung Tegal Gubuk(Barat Tambak Bawean)
Danau Kastoba 
Kastoba,terdapat sebuah desa pesisir yang bernama Tambak.Desa ini terletak di wilayah administrasi Kecamatan Tambak,dan merupakan pusat kota kecamatan.Desa ini memiliki lima buah dusun,yaitu Tambak Kramat,Tambak Barat,Tambak Tengah,Tambak Timur,dan Tambak Gunung. 


TItik pusat desa berada pada Dusun Tambak Tengah.Lebih dari 50%wilayah Desa Tambak adalah pesisir,dan sisanya merupakan perbukitan.Desa Tambak Kramat,Tambak Barat,Tambak Tengah,dan Tambak Timur merupakan pedusunan pesisir yang berbatasan langsung dengan laut,sehingga hampir keseluruhan warganya berprofesi sebagai nelayan.Sedangkan,wilayah Dusun Tambak Gunung berada di daerah perbukitan yang tanahnya cocok untuk kegiatan bercocok tanam,sehingga mayoritas warganya bekerja sebagai petani. 


Salah satu makam memang tampak lebih terurus,karena dibuatkan"rumah"dan diberi
kelambu-sedang makam satunya masih harus bersaing pengakuan dengan spekulasi lain bahwa itu sebenarnya makam seorang pelaut dari Sulawesi yang kapalnya karam di sekitar Bawean.


Dengan begitu,sudah terdapat tiga situs yang disebut sebagai makam Sunan Bonang.Tentang makam di Bawean terdapat legenda yang bisa diikuti dari Islamisasi di Jawa:Walisongo,Penyebar Islam di Jawa, Menurut Penuturan Babad(2000)karya Ridin Sofwan,Wasit,dan

Mundiri. 


Konon setelah Sunan Bonang wafat di Bawean,murid-muridnya di Tuban menghendaki agar Sunan Bonang dimakamkan di Tuban,tetapi para santri di Bawean berpendapat sebaiknya dimakamkan di Bawean saja,mengingat lamanya perjalanan menyeberangi laut.Syahdan,para

penjaga jenazah di Bawean telah disirep(ditidurkan dengan mantra) oleh mereka yang datang Bawean telah disirep(ditidurkan dengan mantra)oleh mereka yang datangmalam hari dari Tuban.


Dikisahkan betapa kuburan dibongkar{versi lain,dalam Misteri Syekh Siti Jenar:Peranan Walisongo dalam Mengislamkan Tanah Jawa(2004) karya Hasanu Simon,jenazah masih di tengah ruangan dan jenazah dibawa berlayar ke Tuban malam itu juga,untuk dimakamkan di dekat astana mesjid Sunan Bonang.Meskipun begitu,menurut para santri Bawean,yang berhasil dibawa ke Tuban sebetulnya hanyalah salah satu kain kafan;sebaliknya menurut para santri Tuban,yang terkubur di Bawean juga hanyalah salah satu kain kafan.




Makam Cungkup Petilasan SUNAN BONANG "Sayyid Ibrahim Al-Huseini"di TUBAN - Singkal Jawa Timur


Lokasi keempat adalah sebuah tempat bernama Singkal di tepi Sungai Brantas di Kediri.
Konon dari tempat itu,seperti dituturkan dalam Babad Kadhiri,Sunan Bonang melancarkan dakwah tetapi gagal mengislamkan Kediri.Ketika laskar Belanda-Jawa pada 1678 menyerang

pasukan Trunajaya di daerah itu,mereka menemukan mesjid yang digunakan sebagai gudang mesiu,seperti dilaporkan Antonio Hurdt.
Menurut Graaf dan Pigeaud,"Adanya mesjid yang cukup penting di Singkal pada abad ke-17 menyebabkan legenda yang mengisahkan tempat itu sebagai pusat propaganda agama Islam pada permulaan abad ke-16 menjadi agak lebih dapat dipercaya."Tentang Babad Kadhiri itu
sendiri,yang disebutkan telah dibicarakan G.W.J.Drewes,dianggap Graaf dan Pigeaud sebagai"kurang penting bagi sejarawan, yang mencari peristiwa-peristiwa yang serba pasti."


Meskipun Hasanu Simon meragukan Sunan Bonang pernah pergi ke Bawean, berdasarkan faktor usia dan kesulitan perjalanan masa lalu, tersebutnya Sunan Bonang di berbagai tempat ini membenarkan penemuan Graaf dan Pigeaud."Menurut cerita, Wali Lanang di Malaka memberikan tugas-tugas berbeda tetapi senada kepada kedua muridnya: Santri Bonang pada umumnya harus menyebarkan (dan memang, kenyataannya kelak Sunan Bonang banyak menjelajahi daerah-daerah), tetapi Raden Paku harus menetap di Giri (dan tentang dia tidak diberitakan perjalanan-perjalanan jauh)."Kedua sejarawan ini juga sama sekali

tidak menghubungkan Sunan Bonang dengan Bawean.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...