primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label PAHLAWAN NASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAHLAWAN NASIONAL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Maret 2014

MARTHA CHRISTINA TIAHAHU "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

WANITA GERILYAWAN INDONESIA  

MARTHA CHRISTINA TIAHAHU "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

WANITA GERILYAWAN INDONESIA 
Ribuan, bahkan jutaan pahlawan telah gugur demi kemerdekaan bangsa ini. 
Diantara mereka yang syahid, terdapat beberapa wanita yang ikhlas bergerilya bersama kaum lelaki. Mereka ikut, turun langsung berjuang melawan para penjajah asing yang akan menguasai ibu pertiwi. 

Dari sekian banyak wanita pejuang kemerdekaan Indonesia, ada 4 orang yang masyur di blantika sejarah bangsa ini.
Mereka itu adalah:
1. CUT NYA’ DHIEN.
2. CUT NYA’ MEUTIA.
3. NYI AGENG SERANG.
4. MARTHA CHRISTINA TIAHAHU.

Foto: WANITA GERILYAWAN INDONESIA 

Saderek sadaya,
Tidak terasa, tahun 2014 ini, qt akan mengenyam 69 tahun kemerdekaan negeri tercinta ini. Ribuan, bahkan jutaan pahlawan telah gugur demi kemerdekaan bangsa ini. 
Diantara mereka yang syahid, terdapat beberapa wanita yang ikhlas bergerilya bersama kaum lelaki. Mereka ikut, turun langsung berjuang melawan para penjajah asing yang akan menguasai ibu pertiwi. 

Dari sekian banyak wanita pejuang kemerdekaan Indonesia, ada 4 orang yang masyur di blantika sejarah bangsa ini.
Mereka itu adalah:
1. CUT NYA’ DHIEN.
2. CUT NYA’ MEUTIA.
3. NYI AGENG SERANG.
4. MARTHA CHRISTINA TIAHAHU.

Disaat kini kaum wanita sibuk untuk menunjukkan dedikasinya bagi bangsa tercinta ini. Maka ke-4 wanita ini dahulu justru; masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, mengangkat senjata bergerilya dengan ikhlas merelakan nyawanya, demi mewujudkan kiprah wanita merdeka saat ini.

Sebagai wujud terimakasih kepada kaum Wanita Gerilyawan Indonesia, izinkan q menyajikan kisah ke-4 wanita perkasa tersebut.
SELAMAT MEMBACA...
-*-

1. CUT NYA’ DHIEN

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”
-Cut Nya’ Dhien- 
-*-

BIOGRAFI
Cut Nya’ Dhien lahir di Lampadang, Aceh, pada tahun 1848. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Dhien terlahir dari keturunan Kesultanan Aceh dari garis ayahnya, Teuku Hoesin Nanta Setia yang bekerja sebagai Hulubalang (Uleebalang) VI Mukim, sedangkan ibunya adalah putri Hulubalang Lampagar.  

Di masa kecilnya, Dhien memperoleh pendidikan agama dari orangtua dan guru-guru agama di Lampadang.
Saat usianya 12 tahun, ia dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, pada tahun 1862 . Mereka dikaruniai seorang putra.

Teuku Cek Ibrahim Lamnga adalah Panglima Perang wilayah Lamnga, Montasik Aceh Besar. Ia adalah putra Teuku Po Amat, Hulubalang Lamnga XIII Mukim Tungkop, Sagi XXVI Mukim, Aceh Besar. 

Saat pecah Perang Aceh ke-II pada tahun 1873, Belanda menyerang Lampadang dan wilayah VI Mukim, di bawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten. Hal ini membuat Dhien dan keluarganya bersama rakyat Aceh lainnya, terpaksa mengungsi pada tanggal 24 Desember 1875. Sementara suami dan para lelaki lainnya, maju bertempur melawan penjajah Belanda.   

Sayangnya dalam pertempuran tersebut, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur pada tanggal 29 Juni 1878, di Glee Taroen. Ia dimakamkan di samping Masjid Montasik.
Terbunuhnya suami yang sangat dikasihinya membuat Dhien marah besar, ia bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Pada tahun 1880, Teuku Umar, abang sepupu Dhien, menikahi Dhien sebagai istri yang ke-3. Mereka dikaruniai seorang anak wanita, bernama Cut Gambang.
Pasutri ini kemudian menjadi penyemangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). 

Namun kembali Dhien berduka lagi, saat penyerangan ke Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur tertembak peluru. 
-*-

BERSAMBUNG…
GERILYA SENDIRI
Disaat kini kaum wanita sibuk untuk menunjukkan dedikasinya bagi bangsa tercinta ini. Maka ke-4 wanita ini dahulu justru; masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, mengangkat senjata bergerilya dengan ikhlas merelakan nyawanya, demi mewujudkan kiprah wanita merdeka saat ini.


MARTHA CHRISTINA TIAHAHU "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "
PERANG PATTIMURA
Pada tahun 1817, pecah Perang Pattimura. Penduduk Maluku di bawah pimpinan Kapitan Ahmad Lussy (Pattimura) mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Awalnya perlawanan berkobar hanya di Saparua, kemudian meluas ke pulau-pulau lain. Salah satu di antaranya ialah Pulau Nusalaut. 

Pulau Nusalaut terletak di sebelah tenggara Pulau Saparua, yang dipisahkan oleh sebuah selat. 
Nusalaut juga disebut Nusahalowano yang berarti ”Pulau Emas”. Dijuluki demikian karena hasil cengkihnya yang terkenal bermutu tinggi dan berjumlah besar hingga dapat mengalirkan ”emas” ke kantong rakyat. 
Namun setelah cengkih dimonopoli Belanda, rakyat Nusalaut pun jatuh melarat dan tertekan hidupnya.

Saat Kapitan Paulus Tiahahu dipercaya sebagai Raja Abubu di Nusalaut, Belanda datang dan mendirikan benteng Beverwijk di Leinatu, Nusalaut.
Kapitan Paulus Tiahahu yang benci kepada penjajah Eropa ini, adalah ayah kandung seorang Srikandi Maluku yang bernama Martha Christina Tiahahu.
Kapitan Paulus Tiahahu juga merupakan teman dekat Kapitan Ahmad Lussy.

Ketika diadakan pertemuan besar di Hutan Saniri pada tanggal 14 Mei 1817, untuk mengangkat ”Sumpah Setia” bersama-sama dengan rakyat, Kapitan Paulus Tiahahu dan Martha Christina Tiahahu ikut hadir.
Sumpah setia tersebut berbunyi;
  • Tidak akan ada pengkhianatan terhadap perjuangan.
  • Siapa yang menyeleweng, akan dihukum mati di tiang gantungan.
Sumpah Setia tersebut, meninggalkan hikmah yang sangat dalam bagi si gadis belia, Martha Christina Tiahahu.
......................................................................................

MASA KECIL
Martha Christina Tiahahu adalah gadis manis asal Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Ia lahir pada tanggal 4 Januari 1800.

Sejak awal perjuangan melawan Kolonial Belanda, Martha selalu ikut mengambil bagian. Dengan rambutnya yang panjang terurai berikat kepala sehelai kain berang (merah), ia selalu mendampingi ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, di medan perang, baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua. 

Pernah di depan ayahnya dan para pejuang Nusalaut, Martha mengangkat sumpah, 
”Beta tidak akan menggulung rambut beta, sebelum mandi dengan darah Belanda.”
.....................................................................................

PERANG DAN WANITA
Martha tidak hanya berjuang dan mengangkat senjata saja, tetapi ia juga memberi semangat kepada kaum wanita di daerahnya, agar ikut maju berjuang melawan penjajah.

Hal ini terbukti saat pertempuran sengit terjadi pada tanggal 11 Oktober 1817, di Desa Ulath dan Ouw, jasirah Tenggara Pulau Saparua. Ia dan para pejuang wanita Maluku melakukan perlawanan yang luarbiasa.

Alhasil, untuk pertama kalinya Belanda menghadapi prajurit-prajurit wanita yang gagah berani.

Sebagaimana digambarkan oleh Overste Verheul, seorang perwira dan penulis Belanda, dalam catatannya sebagai berikut,
”Dalam suasana pertempuran, bukan saja ia (Martha) telah menolong memikul senjata ayahnya, tetapi ia juga telah ikut serta dengan pemimpin-pemimpin perang mengadakan tarian perang dan telah memperlihatkan kecakapan, keberanian dan kewibawaannya.”

Kala itu, 60 serdadu Belanda dibawah pimpinan Richemont berhasil dipukul mundur oleh Pasukan Rakyat. Musuh berhasil menerobos 7 kubu, namun pada waktu mencapai kubu ke-8, Richermont tertembak mati.

Tetapi sayang, pada tanggal 12 Oktober 1817, kemenangan perlawanan rakyat Maluku harus lenyap, kala Vermeulen Kringer memerintahkan “Serangan Umum”. 
Jatuhlah pertahanan terakhir kaum pejuang di Lease. Pasukan Rakyat mundur dan bertahan di hutan. 
Seluruh negeri Ulath dan Ouw diratakan dengan tanah, semua yang ada dibakar dan dirampok habis-habisan.
..........................................................................................
Foto: Lanjutan WANITA GERILYAWAN INDONESIA (VI)

4. MARTHA CHRISTINA TIAHAHU

PERANG PATTIMURA
Pada tahun 1817, pecah Perang Pattimura. Penduduk Maluku di bawah pimpinan Kapitan Ahmad Lussy (Pattimura) mengangkat senjata melawan penjajah Belanda. Awalnya perlawanan berkobar hanya di Saparua, kemudian meluas ke pulau-pulau lain. Salah satu di antaranya ialah Pulau Nusalaut. 

Pulau Nusalaut terletak di sebelah tenggara Pulau Saparua, yang dipisahkan oleh sebuah selat. 
Nusalaut juga disebut Nusahalowano yang berarti ”Pulau Emas”. Dijuluki demikian karena hasil cengkihnya yang terkenal bermutu tinggi dan berjumlah besar hingga dapat mengalirkan ”emas” ke kantong rakyat. 
Namun setelah cengkih dimonopoli Belanda, rakyat Nusalaut pun jatuh melarat dan tertekan hidupnya.

Saat Kapitan Paulus Tiahahu dipercaya sebagai Raja Abubu di Nusalaut, Belanda datang dan mendirikan benteng Beverwijk di Leinatu, Nusalaut.
Kapitan Paulus Tiahahu yang benci kepada penjajah Eropa ini, adalah ayah kandung seorang Srikandi Maluku yang bernama Martha Christina Tiahahu.
Kapitan Paulus Tiahahu juga merupakan teman dekat Kapitan Ahmad Lussy.

Ketika diadakan pertemuan besar di Hutan Saniri pada tanggal 14 Mei 1817, untuk mengangkat ”Sumpah Setia” bersama-sama dengan rakyat, Kapitan Paulus Tiahahu dan Martha Christina Tiahahu ikut hadir.
Sumpah setia tersebut berbunyi;
a. Tidak akan ada pengkhianatan terhadap perjuangan.
b. Siapa yang menyeleweng, akan dihukum mati di tiang gantungan.

Sumpah Setia tersebut, meninggalkan hikmah yang sangat dalam bagi si gadis belia, Martha Christina Tiahahu.
-*-

MASA KECIL
Martha Christina Tiahahu adalah gadis manis asal Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Ia lahir pada tanggal 4 Januari 1800.

Sejak awal perjuangan melawan Kolonial Belanda, Martha selalu ikut mengambil bagian. Dengan rambutnya yang panjang terurai berikat kepala sehelai kain berang (merah), ia selalu mendampingi ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, di medan perang, baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua. 

Pernah di depan ayahnya dan para pejuang Nusalaut, Martha  mengangkat sumpah, 
”Beta tidak akan menggulung rambut beta, sebelum mandi dengan darah Belanda.”
-*-

PERANG DAN WANITA
Martha tidak hanya berjuang dan mengangkat senjata saja, tetapi ia juga memberi semangat kepada kaum wanita di daerahnya, agar ikut maju berjuang melawan penjajah.
Hal ini terbukti saat pertempuran sengit terjadi pada tanggal 11 Oktober 1817, di Desa Ulath dan Ouw, jasirah Tenggara Pulau Saparua. Ia dan para pejuang wanita Maluku melakukan perlawanan yang luarbiasa.
Alhasil, untuk pertama kalinya Belanda menghadapi prajurit-prajurit wanita yang gagah berani.

Sebagaimana digambarkan oleh Overste Verheul, seorang perwira dan penulis Belanda, dalam catatannya sebagai berikut,
”Dalam suasana pertempuran, bukan saja ia (Martha) telah menolong memikul senjata ayahnya, tetapi ia juga telah ikut serta dengan pemimpin-pemimpin perang mengadakan tarian perang dan telah memperlihatkan kecakapan, keberanian dan kewibawaannya.”

Kala itu, 60 serdadu Belanda dibawah pimpinan Richemont berhasil dipukul mundur oleh Pasukan Rakyat. Musuh berhasil menerobos 7 kubu, namun pada waktu mencapai kubu ke-8, Richermont tertembak mati.
 
Tetapi sayang, pada tanggal 12 Oktober 1817, kemenangan perlawanan rakyat Maluku harus lenyap, kala Vermeulen Kringer memerintahkan “Serangan Umum”. 
Jatuhlah pertahanan terakhir kaum pejuang di Lease. Pasukan Rakyat mundur dan bertahan di hutan. 
Seluruh negeri Ulath dan Ouw diratakan dengan tanah, semua yang ada dibakar dan dirampok habis-habisan.
-*-

BERSAMBUNG...
TERTANGKAP BELANDA
TERTANGKAP BELANDA
Pada tanggal 16 Oktober 1817, para tokoh pejuang Maluku yang antara lain; Raja Said Perintah, Kapitan Paulus Tiahahu, Martha Christina Tihahu, Hehanussa dari Titawai, Raja Ulat dan Patih Ouw; ditangkap dan ditahan di Kapal Perang Eversten.
Selanjutnya mereka diinterogasi oleh Laksamana Muda Buyskes dan dijatuhi hukuman mati. 

Dari Kapal Perang Eversten, pada tanggal 17 November 1817, Kapitan Paulus Tiahahu yang sudah berusia lanjut, di giring kembali ke Benteng Beverwijjk, di Nusalaut, untuk menjalani hukuman mati. Martha dengan setia selalu mendampinginya.

Selang sebulan kemudian, tanggal 16 Desember 1817, Kapitan Ahmad Lessy (Panglima Perang Rakyat Maluku) dengan 3 orang pembantu utamanya, yaitu; Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina dan Raja Said Perintah, juga menjalani hukum gantung sampai mati.
<<<<<<-*->>>>>

GERILYA SENDIRI
Sepeninggal ayahandanya, Martha diserahkan kepada Sekolahan di Nusalaut untuk mandapat pendidikan dan pengarahan. Namun ia melarikan diri dan bergerilya didalam hutan.

Na'as, dalam suatu penggerebekan di bulan Desember 1817, Martha beserta 39 orang lainnya tertangkap dan dibawa dengan Kapal Perang Eversten ke Pulau Jawa untuk dipekerja paksa di sebuah perkebunan kopi.

AKHIR HAYAT
Sejak dirinya tertangkap, Martha diam seribu bahasa. Ia tetap tegak walau tambah hari tampak semakin lesu. 

Overste Verheul, dalam catatannya kembali menulis;
”Segala sesuatu yang saya dengar dan saksikan tentangnya (Martha), merupakan bukti jiwa besar dan keberanian seorang pahlawan. 
Kasih terhadap orang tua dan bertahan dalam berkabung karena kehilangan ayahnya”. 

Tidak hanya mogok bicara, Martha juga menolak makan dan minum, apalagi minum obat. Akhirnya pada malam 1 menjelang 2 Januari 1818, selepas Tanjung Alang, diatas Kapal Perang Belanda Eversten, Martha menghembuskan nafasnya yang terakhir, 2 hari sebelum usianya genap 18 tahun.

Jasadnya disemayamkan dengan penghormatan militer dan untuk selanjutnya diserahkan kepada pelukan Laut Banda, antara Pulau Bum dan Pulau Tiga.
Laut Banda
<<<<<-*->>>>>
PENGHARGAAN
  1. Sebagai penghargaan dan penghormatan atas jasa dan perjuangannya untuk kemerdekaan, Martha Christina Tiahahu kemudian dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969, pada tanggal 20 Mei 1969.
  2. Pemerintah Maluku lalu membuat ”Monumen Martha Christina Tiahahu”, untuk mengenang jasa-jasanya, yang terletak di Karang Pajang, Kota Ambon, Maluku (menghadap ke Teluk Ambon).
<<<<--***-->>>>>
Foto: Lanjutan WANITA GERILYAWAN INDONESIA (VII)

4. MARTHA CHRISTINA TIAHAHU

TERTANGKAP BELANDA
Pada tanggal 16 Oktober 1817, para tokoh pejuang Maluku yang antara lain; Raja Said Perintah, Kapitan Paulus Tiahahu, Martha Christina Tihahu, Hehanussa dari Titawai, Raja Ulat dan Patih Ouw; ditangkap dan ditahan di Kapal Perang Eversten.
Selanjutnya mereka diinterogasi oleh Laksamana Muda Buyskes dan dijatuhi hukuman mati. 

Dari Kapal Perang Eversten, pada tanggal 17 November 1817, Kapitan Paulus Tiahahu yang sudah berusia lanjut, di giring kembali ke Benteng Beverwijjk, di Nusalaut, untuk menjalani hukuman mati. Martha dengan setia selalu mendampinginya.

Selang sebulan kemudian, tanggal 16 Desember 1817, Kapitan Ahmad Lessy (Panglima Perang Rakyat Maluku) dengan 3 orang pembantu utamanya, yaitu; Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina dan Raja Said Perintah, juga menjalani hukum gantung sampai mati.
-*-

GERILYA SENDIRI
Sepeninggal ayahandanya, Martha diserahkan kepada Sekolahan di Nusalaut untuk mandapat pendidikan dan pengarahan. Namun ia melarikan diri dan bergerilya didalam hutan.

Na'as, dalam suatu penggerebekan di bulan Desember 1817, Martha beserta 39 orang lainnya tertangkap dan dibawa dengan Kapal Perang Eversten ke Pulau Jawa untuk dipekerja paksa di sebuah perkebunan kopi.
-*-

AKHIR HAYAT
Sejak dirinya tertangkap, Martha diam seribu bahasa. Ia tetap tegak walau tambah hari tampak semakin lesu. 

Overste Verheul, dalam catatannya kembali menulis;
”Segala sesuatu yang saya dengar dan saksikan tentangnya (Martha), merupakan bukti jiwa besar dan keberanian seorang pahlawan. 
Kasih terhadap orang tua dan bertahan dalam berkabung karena kehilangan ayahnya”. 

Tidak hanya mogok bicara, Martha juga menolak makan dan minum, apalagi minum obat. Akhirnya pada malam 1 menjelang 2 Januari 1818, selepas Tanjung Alang, diatas Kapal Perang Belanda Eversten, Martha menghembuskan nafasnya yang terakhir, 2 hari sebelum usianya genap 18 tahun.

Jasadnya disemayamkan dengan penghormatan militer dan untuk selanjutnya diserahkan kepada pelukan Laut Banda, antara Pulau Bum dan Pulau Tiga.
-*-

PENGHARGAAN
1. Sebagai penghargaan dan penghormatan atas jasa dan perjuangannya untuk kemerdekaan, Martha Christina Tiahahu kemudian dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969, pada tanggal 20 Mei 1969.
2. Pemerintah Maluku lalu membuat ”Monumen Martha Christina Tiahahu”, untuk mengenang jasa-jasanya, yang terletak di Karang Pajang, Kota Ambon, Maluku (menghadap ke Teluk Ambon).

--***--

SELESAI

DAFTAR PUSTAKA
1. “Cut Nyak Dien”; Deddi Armand, Pustaka Ananda.
2. “Pahlawan Repulusi Aceh”; Muhazir, 1984. 
3. “Jejak Pahlawan Indonesia”; Y.B Sudarmanto, Grasindo, 1999.
4. “Sedjarah Perdjuangan Pattimura”, M. Sapidja, 1954.
5. “Api Sejarah”, Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara, Salamadani Pustaka Semesta, 2009.

NYI AGENG SERANG "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

WANITA GERILYAWAN INDONESIA  

NYI AGENG SERANG "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

WANITA GERILYAWAN INDONESIA 
Ribuan, bahkan jutaan pahlawan telah gugur demi kemerdekaan bangsa ini. 
Diantara mereka yang syahid, terdapat beberapa wanita yang ikhlas bergerilya bersama kaum lelaki. Mereka ikut, turun langsung berjuang melawan para penjajah asing yang akan menguasai ibu pertiwi. 

Dari sekian banyak wanita pejuang kemerdekaan Indonesia, ada 4 orang yang masyur di blantika sejarah bangsa ini.
Mereka itu adalah:
1. CUT NYA’ DHIEN.
2. CUT NYA’ MEUTIA.
3. NYI AGENG SERANG.
4. MARTHA CHRISTINA TIAHAHU.


Foto: WANITA GERILYAWAN INDONESIA 

Saderek sadaya,
Tidak terasa, tahun 2014 ini, qt akan mengenyam 69 tahun kemerdekaan negeri tercinta ini. Ribuan, bahkan jutaan pahlawan telah gugur demi kemerdekaan bangsa ini. 
Diantara mereka yang syahid, terdapat beberapa wanita yang ikhlas bergerilya bersama kaum lelaki. Mereka ikut, turun langsung berjuang melawan para penjajah asing yang akan menguasai ibu pertiwi. 

Dari sekian banyak wanita pejuang kemerdekaan Indonesia, ada 4 orang yang masyur di blantika sejarah bangsa ini.
Mereka itu adalah:
1.	CUT NYA’ DHIEN.
2.	CUT NYA’ MEUTIA.
3.	NYI AGENG SERANG.
4.	MARTHA CHRISTINA TIAHAHU.

Disaat kini kaum wanita sibuk untuk menunjukkan dedikasinya bagi bangsa tercinta ini. Maka ke-4 wanita ini dahulu justru; masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, mengangkat senjata bergerilya dengan ikhlas merelakan nyawanya, demi mewujudkan kiprah wanita merdeka saat ini.

Sebagai wujud terimakasih kepada kaum Wanita Gerilyawan Indonesia, izinkan q menyajikan kisah ke-4 wanita perkasa tersebut.
SELAMAT MEMBACA...
-*-

1. CUT NYA’ DHIEN

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”
-Cut Nya’ Dhien- 
-*-

BIOGRAFI
Cut Nya’ Dhien lahir di Lampadang, Aceh, pada tahun 1848. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Dhien terlahir dari keturunan Kesultanan Aceh dari garis ayahnya, Teuku Hoesin Nanta Setia yang bekerja sebagai Hulubalang (Uleebalang) VI Mukim, sedangkan ibunya adalah putri Hulubalang Lampagar.  

Di masa kecilnya, Dhien memperoleh pendidikan agama dari orangtua dan guru-guru agama di Lampadang.
Saat usianya 12 tahun, ia dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, pada tahun 1862 . Mereka dikaruniai seorang putra.

Teuku Cek Ibrahim Lamnga adalah Panglima Perang wilayah Lamnga, Montasik Aceh Besar. Ia adalah putra Teuku Po Amat, Hulubalang Lamnga XIII Mukim Tungkop, Sagi XXVI Mukim, Aceh Besar. 

Saat pecah Perang Aceh ke-II pada tahun 1873, Belanda menyerang Lampadang dan wilayah VI Mukim, di bawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten. Hal ini membuat Dhien dan keluarganya bersama rakyat Aceh lainnya, terpaksa mengungsi pada tanggal 24 Desember 1875. Sementara suami dan para lelaki lainnya, maju bertempur melawan penjajah Belanda.   

Sayangnya dalam pertempuran tersebut, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur pada tanggal 29 Juni 1878, di Glee Taroen. Ia dimakamkan di samping Masjid Montasik.
Terbunuhnya suami yang sangat dikasihinya membuat Dhien marah besar, ia bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Pada tahun 1880, Teuku Umar, abang sepupu Dhien, menikahi Dhien sebagai istri yang ke-3. Mereka dikaruniai seorang anak wanita, bernama Cut Gambang.
Pasutri ini kemudian menjadi penyemangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). 

Namun kembali Dhien berduka lagi, saat penyerangan ke Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur tertembak peluru. 
-*-

BERSAMBUNG…
GERILYA SENDIRI
Disaat kini kaum wanita sibuk untuk menunjukkan dedikasinya bagi bangsa tercinta ini. Maka ke-4 wanita ini dahulu justru; masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, mengangkat senjata bergerilya dengan ikhlas merelakan nyawanya, demi mewujudkan kiprah wanita merdeka saat ini.

NYI AGENG SERANG "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

Di masa Kesultanan Mataram Islam berkuasa di Jawa Tengah dan sekitarnya, tersebutlah sebuah Kadipaten yang kelak masyur sebagai tempat lahir seorang Srikandi Yogyakarta yang gagah berani. Kadipaten ini bernama Serang, dengan adipatinya yang bernama Kanjeng Pangeran Adipati Notoprojo.

Sebagai seorang pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, Notoprojo lebih senang memakai gelar Panembahan ketimbang sebutan Pangeran maupun Adipati. Ia juga adalah Panglima perang Sultan Hamengku Buwono I, yang bergelar Panembahan Serang.

Wilayah kekuasaannya saat itu meliputi; Grobogan sampai dengan Semarang bagian selatan.

Notoprojo kemudian menikah dengan seorang wanita ’trah’ Sunan Amangkurat III. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai 2 orang anak. Yang sulung lelaki, bernama Notoprojo Anom, sementara si bungsu adalah wanita bernama Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi.
Anaknya yang wanita inilah kelak menjadi Srikandi Yogyakarta yang dikenal dengan nama Nyi Ageng Serang.
<<<<<-*->>>>>

MASA MUDA
Nyi Ageng Serang lahir pada tahun 1752, di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, dengan nama kecil Kustiyah. Ia masih keturunan ke-9 dari Sunan Kalijaga

Sejak kecil, Kustiyah sudah tekun berlatih ilmu keprajuritan dan agama. Ia sering ikut ayahnya berperang melawan Belanda.
Menginjak dewasa, ia menikah dengan Raden Mas Kusumowijoyo. 

Setelah ayahandanya wafat akibat ulah Kompeni, Kustiyah lalu menggantikan kedudukan sang ayah sebagai junjungan di Serang dengan gelar Nyi Ageng Serang. 
<<<<<-*->>>>>

GERILYA
Dengan menggunakan taktik perang gerilya, Kustiyah dan suaminya, secara diam-diam sering melakukan serangan terhadap Belanda. Sehingga oleh pengikutnya ia dijuluki ”Jayeng Sekar”, sebuah sebutan penghormatan bagi wanita yang memiliki sifat-sifat pendekar. Pasukannya sendiri diberi nama Laskar Gula Kelapa wilayah Jawa Tengah daerah timur laut.

Sayangnya, suaminya, Raden Mas Kusumowijoyo, harus gugur di medan laga.

Saat Perang Diponegoro meletus pada tahun 1825, Kustiyah bersama menantunya, Raden Mas Papak, dan Pasukan Notoprojan ikut bertempur.

Walau usianya saat itu sudah 73 tahun dan harus ditandu, tetapi Kustiyah tetap teguh memimpin langsung pasukannya menyusuri Sungai Progo dan mendirikan markas di Bukit Traju Mas (Bukit Menoreh).

Oleh Pangeran Diponegoro, Kustiyah diangkat menjadi Ahli Siasat Perang. 
Sampai Pangeran Diponegoro akhirnya tertangkap Belanda, ia tetap bersikeras melakukan perang gerilya melawan Belanda. 
<<<<<-*->>>>>
Foto: Lanjutan WANITA GERILYAWAN INDONESIA (IV)


3. NYI AGENG SERANG

ORANGTUA
Di masa Kesultanan Mataram Islam berkuasa di Jawa Tengah dan sekitarnya, tersebutlah sebuah Kadipaten yang kelak masyur sebagai tempat lahir seorang Srikandi Yogyakarta yang gagah berani. Kadipaten ini bernama Serang, dengan adipatinya yang bernama Kanjeng Pangeran Adipati Notoprojo.

Sebagai seorang pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, Notoprojo lebih senang memakai gelar Panembahan ketimbang sebutan Pangeran maupun Adipati. Ia juga adalah Panglima perang Sultan Hamengku Buwono I, yang bergelar Panembahan Serang.
Wilayah kekuasaannya saat itu meliputi; Grobogan sampai dengan Semarang bagian selatan.

Notoprojo kemudian menikah dengan seorang wanita ’trah’ Sunan Amangkurat III. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai 2 orang anak. Yang sulung lelaki, bernama Notoprojo Anom, sementara si bungsu adalah wanita bernama Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi.
Anaknya yang wanita inilah kelak menjadi Srikandi Yogyakarta yang dikenal dengan nama Nyi Ageng Serang.
-*-

MASA MUDA
Nyi Ageng Serang lahir pada tahun 1752, di Serang, Purwodadi, Jawa Tengah, dengan nama kecil Kustiyah. Ia masih keturunan ke-9 dari Sunan Kalijaga
 
Sejak kecil, Kustiyah sudah tekun berlatih ilmu keprajuritan dan agama. Ia sering ikut ayahnya berperang melawan Belanda.
Menginjak dewasa, ia menikah dengan Raden Mas Kusumowijoyo. 

Setelah ayahandanya wafat akibat ulah Kompeni, Kustiyah lalu menggantikan kedudukan sang ayah sebagai junjungan di Serang dengan gelar Nyi Ageng Serang. 
-*-

GERILYA
Dengan menggunakan taktik perang gerilya, Kustiyah dan suaminya, secara diam-diam sering melakukan serangan terhadap Belanda. Sehingga oleh pengikutnya ia dijuluki ”Jayeng Sekar”, sebuah sebutan penghormatan bagi wanita yang memiliki sifat-sifat pendekar. Pasukannya sendiri diberi nama Laskar Gula Kelapa wilayah Jawa Tengah daerah timur laut.
Sayangnya, suaminya, Raden Mas Kusumowijoyo, harus gugur di medan laga.

Saat Perang Diponegoro meletus pada tahun 1825, Kustiyah bersama menantunya, Raden Mas Papak, dan Pasukan Notoprojan ikut bertempur.
Walau usianya saat itu sudah 73 tahun dan harus ditandu, tetapi Kustiyah tetap teguh memimpin langsung pasukannya menyusuri Sungai Progo dan mendirikan markas di Bukit Traju Mas (Bukit Menoreh).

Oleh  Pangeran Diponegoro, Kustiyah diangkat menjadi Ahli Siasat Perang. 
Sampai Pangeran Diponegoro akhirnya tertangkap Belanda, ia tetap bersikeras melakukan perang gerilya melawan Belanda. 
-*-

AKHIR HAYAT
3 tahun Kustiyah ikut bertempur membantu Pangeran Diponegoro, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh menantunya, Raden Mas Papak.

Pada tahun 1828, tepatnya 2 tahun sebelum Perang Diponegoro usai, dan di usianya yang ke 76 tahun, Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi alias Nyi Ageng Serang akhirnya berpulang ke Rahmatullah.
Jasadnya kemudian dimakamkan di Bukit Menoreh, sesuai permintaannya sebelum wafat.  

Salah satu keturunan ke-5  dari Nyi Ageng Serang, yang juga menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, adalah, Ki Hajar Dewantoro. 
-*-

BERSAMBUNG...
PENGHARGAAN

AKHIR HAYAT
3 tahun Kustiyah ikut bertempur membantu Pangeran Diponegoro, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh menantunya, Raden Mas Papak.

Pada tahun 1828, tepatnya 2 tahun sebelum Perang Diponegoro usai, dan di usianya yang ke 76 tahun, Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi alias Nyi Ageng Serang akhirnya berpulang ke Rahmatullah.
Jasadnya kemudian dimakamkan di Bukit Menoreh, sesuai permintaannya sebelum wafat. 

Salah satu keturunan ke-5 dari Nyi Ageng Serang, yang juga menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, adalah, Ki Hajar Dewantoro. 
<<<<<-*->>>>>

Makam Nyi Ageng Serang Yogyakarta
Beliau dimakamkan di perbukitan menoreh sebagai permintaan beliau sebelum wafatnya.  Komplek pemakaman tersebut terletak di dusun Beku, desa Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo sekitar 30 km dari kota Yogyakarta.

Pada  saat kita masuk komplek makam yang pertama kita jumpai adalah Nyi Ageng Serang monumen yang berisikan keterangan mengenai Nyi Ageng Serang sebagai Pahlawan Nasional. Ditempat ini juga merupakan makam beberapa keluarga Nyi Ageng Serang dan juga beberapa prajurit yang berjuang bersama sama dengan beliau.

 Makam Nyi Ageng Serang berada ditengah tengah makam yang berupa bangunan joglo. Bangunan berbentuk joglo tersebut berjumlah dua, yang satu merupakan makam dari Nyi Ageng serang, putrinya, serta abdi dalem Nyi Ageng Serang sedangkan bangunan kedua merupakan makam dari Suami Nyi Ageng Serang yakni R.M. Kusuma Wijaya, ibu dan juga para keluarga Nyi Ageng Serang yang lainnya.
Masyarakat dimana Nyi Ageng Serang dimakamkan sering menggelar acara pementasan seni untuk mengenang kepahlawan beliau yang digelar setiap bulan sura (muharram). Kesenian tersebut antara lain Tarian Dolalak, Kuda Lumping, Shalawatan dan beberapa kesenian yang lain.  Selain mengenang kepahlawanan Nyi Ageng Serang  hal tersebut dilakukan sebagai sarana untuk melestarikanNyi Ageng Serang budaya lokal. Disamping itu juga ada pameran produk makanan yang dihasilkan desa tersebut.

Tempat ini ramai pada masa masa liburan, hari kemerdekaan, hari Pahlawan dan juga hari hari besar Islam serta hari hari tertentu bagi yang melakukan ritual Ziarah yakni pada hari selasa Kliwon atau jumat Kliwon.  Pada saat berziarah ketempat ini perlu diperhatikan beberapa hal yakni dialrang membawa senjata tajam, minuman beralkhohol atau yang menyebabkan mabuk. Serta bagi peziarah wanita yang sedang haid serta masa nifas dilarang memasuki makam tersebut. Dan bagi siapa saja yang emmasuki makam tersebut harus melepas alas kaki saat memasuki pintu komplek makam.

How to get there :

Dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi dari Yogyakarta yang mempunyai rute arah Kenteng kemudian menuju arah Sendang sono. Tempat ini searah dengan Sendangsono, yakni sesampainya di pertigaan Piton belok kiri hingga sejauh kurang lebih 4 km

CUT NYA’ DHIEN "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

WANITA GERILYAWAN INDONESIA  

CUT NYA’ DHIEN "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

WANITA GERILYAWAN INDONESIA 
Ribuan, bahkan jutaan pahlawan telah gugur demi kemerdekaan bangsa ini. 
Diantara mereka yang syahid, terdapat beberapa wanita yang ikhlas bergerilya bersama kaum lelaki. Mereka ikut, turun langsung berjuang melawan para penjajah asing yang akan menguasai ibu pertiwi. 

Dari sekian banyak wanita pejuang kemerdekaan Indonesia, ada 4 orang yang masyur di blantika sejarah bangsa ini.
Mereka itu adalah:
1. CUT NYA’ DHIEN.
2. CUT NYA’ MEUTIA.
3. NYI AGENG SERANG.
4. MARTHA CHRISTINA TIAHAHU.

Disaat kini kaum wanita sibuk untuk menunjukkan dedikasinya bagi bangsa tercinta ini. Maka ke-4 wanita ini dahulu justru; masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, mengangkat senjata bergerilya dengan ikhlas merelakan nyawanya, demi mewujudkan kiprah wanita merdeka saat ini.
Foto: WANITA GERILYAWAN INDONESIA 

Saderek sadaya,
Tidak terasa, tahun 2014 ini, qt akan mengenyam 69 tahun kemerdekaan negeri tercinta ini. Ribuan, bahkan jutaan pahlawan telah gugur demi kemerdekaan bangsa ini. 
Diantara mereka yang syahid, terdapat beberapa wanita yang ikhlas bergerilya bersama kaum lelaki. Mereka ikut, turun langsung berjuang melawan para penjajah asing yang akan menguasai ibu pertiwi. 

Dari sekian banyak wanita pejuang kemerdekaan Indonesia, ada 4 orang yang masyur di blantika sejarah bangsa ini.
Mereka itu adalah:
1.	CUT NYA’ DHIEN.
2.	CUT NYA’ MEUTIA.
3.	NYI AGENG SERANG.
4.	MARTHA CHRISTINA TIAHAHU.

Disaat kini kaum wanita sibuk untuk menunjukkan dedikasinya bagi bangsa tercinta ini. Maka ke-4 wanita ini dahulu justru; masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, mengangkat senjata bergerilya dengan ikhlas merelakan nyawanya, demi mewujudkan kiprah wanita merdeka saat ini.

Sebagai wujud terimakasih kepada kaum Wanita Gerilyawan Indonesia, izinkan q menyajikan kisah ke-4 wanita perkasa tersebut.
SELAMAT MEMBACA...
-*-

1. CUT NYA’ DHIEN

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”
-Cut Nya’ Dhien- 
-*-

BIOGRAFI
Cut Nya’ Dhien lahir di Lampadang, Aceh, pada tahun 1848. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Dhien terlahir dari keturunan Kesultanan Aceh dari garis ayahnya, Teuku Hoesin Nanta Setia yang bekerja sebagai Hulubalang (Uleebalang) VI Mukim, sedangkan ibunya adalah putri Hulubalang Lampagar.  

Di masa kecilnya, Dhien memperoleh pendidikan agama dari orangtua dan guru-guru agama di Lampadang.
Saat usianya 12 tahun, ia dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, pada tahun 1862 . Mereka dikaruniai seorang putra.

Teuku Cek Ibrahim Lamnga adalah Panglima Perang wilayah Lamnga, Montasik Aceh Besar. Ia adalah putra Teuku Po Amat, Hulubalang Lamnga XIII Mukim Tungkop, Sagi XXVI Mukim, Aceh Besar. 

Saat pecah Perang Aceh ke-II pada tahun 1873, Belanda menyerang Lampadang dan wilayah VI Mukim, di bawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten. Hal ini membuat Dhien dan keluarganya bersama rakyat Aceh lainnya, terpaksa mengungsi pada tanggal 24 Desember 1875. Sementara suami dan para lelaki lainnya, maju bertempur melawan penjajah Belanda.   

Sayangnya dalam pertempuran tersebut, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur pada tanggal 29 Juni 1878, di Glee Taroen. Ia dimakamkan di samping Masjid Montasik.
Terbunuhnya suami yang sangat dikasihinya membuat Dhien marah besar, ia bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Pada tahun 1880, Teuku Umar, abang sepupu Dhien, menikahi Dhien sebagai istri yang ke-3. Mereka dikaruniai seorang anak wanita, bernama Cut Gambang.
Pasutri ini kemudian menjadi penyemangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). 

Namun kembali Dhien berduka lagi, saat penyerangan ke Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur tertembak peluru. 
-*-

BERSAMBUNG…
GERILYA SENDIRI

1. CUT NYA’ DHIEN
“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”
-Cut Nya’ Dhien- 
.............................................................................

BIOGRAFI
Cut Nya’ Dhien lahir di Lampadang, Aceh, pada tahun 1848. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Dhien terlahir dari keturunan Kesultanan Aceh dari garis ayahnya, Teuku Hoesin Nanta Setia yang bekerja sebagai Hulubalang (Uleebalang) VI Mukim, sedangkan ibunya adalah putri Hulubalang Lampagar. 

Di masa kecilnya, Dhien memperoleh pendidikan agama dari orangtua dan guru-guru agama di Lampadang.
Saat usianya 12 tahun, ia dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, pada tahun 1862 . Mereka dikaruniai seorang putra.

Teuku Cek Ibrahim Lamnga adalah Panglima Perang wilayah Lamnga, Montasik Aceh Besar. Ia adalah putra Teuku Po Amat, Hulubalang Lamnga XIII Mukim Tungkop, Sagi XXVI Mukim, Aceh Besar. 

Saat pecah Perang Aceh ke-II pada tahun 1873, Belanda menyerang Lampadang dan wilayah VI Mukim, di bawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten. Hal ini membuat Dhien dan keluarganya bersama rakyat Aceh lainnya, terpaksa mengungsi pada tanggal 24 Desember 1875. Sementara suami dan para lelaki lainnya, maju bertempur melawan penjajah Belanda. 

Sayangnya dalam pertempuran tersebut, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur pada tanggal 29 Juni 1878, di Glee Taroen. Ia dimakamkan di samping Masjid Montasik.
Terbunuhnya suami yang sangat dikasihinya membuat Dhien marah besar, ia bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Pada tahun 1880, Teuku Umar, abang sepupu Dhien, menikahi Dhien sebagai istri yang ke-3. Mereka dikaruniai seorang anak wanita, bernama Cut Gambang.
Pasutri ini kemudian menjadi penyemangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). 

Namun kembali Dhien berduka lagi, saat penyerangan ke Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur tertembak peluru. 

..........................................................
GERILYA SENDIRI
”Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadah kita dirusak!! (Masjid Baiturrahman di bakar Belanda) Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?”
-Cut Nya’ Dhien-
<<<<<<<-*->>>>>>>

Kini kemarahan Dhien sudah tidak terbendung lagi, dengan pasukan kecilnya, ia bergerilya sendiri di pedalaman Meulaboh, hingga tahun 1901.

Melihat usia Dhien yang mulai sepuh, mata yang rabun dan penyakit encok yang cukup parah, salah satu anak buahnya, Pang Laot, terpaksa meminta pertolongan kepada Belanda.
Namun Dhien, justru mengamuk menghunuskan rencongnya kepada Belanda yang akhirnya dapat membekuk wanita perkasa ini di Beutong Le Sageu. Sedangkan putrinya, Cut Gambang, berhasil kabur ke hutan dan meneruskan perjuangan Dhien. 

Belanda kemudian menggiring Dhien ke Banda Aceh. Di sana, ia dirawat dan berangsur penyakitnya pun sembuh. 
Walau ia berada dalam perawatan Belanda, Dhien tetap menjadi obor semangat perlawanan rakyat Aceh. Ia tetap menjalin hubungan dengan para gerilyawan Aceh. 
Akibatnya, Belanda terpaksa mengasingkan Dhien ke Sumedang. 
..................................................................................................
AKHIR HAYAT
Bersama dengan tahanan politik Aceh lainnya, Dhien di asingkan ke Sumedang, Jawa Barat.
Berkat pemahaman ilmu agama Dhien yang cukup mumpuni, membuat Bupati Sumedang, Surya Atmaja menaruh hormat pada wanita luarbiasa ini.
Dhien kemudian dipanggil “Ibu Perbu” oleh mereka yang mengenalnya di Sumedang.

Pada tanggal 6 November 1908, ketika pergerakan nasional Indonesia baru dimulai, Cut Nya’ Dhien wafat dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Pada tanggal 2 Mei 1964, atas semua jasa besarnya dalam perjuangan melawan Belanda, Presiden RI I, Ir. Soekarno, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia untuk Cut Nya’ Dhien, lewat SK Presiden RI No. 106, tahun 1964.

Perjalanan hidup Dhien yang didominasi perjuangan bergerilya dan cinta, membawanya pada akhir yang sendiri, sunyi dan papa. Namun satu yang tetap ada melekat erat didalam dirinya adalah SETIA HINGGA MATI, kepada tanah airnya, Aceh dan Nusantara.

Perjuangan Cut Nya’ Dhien yang pantang menyerah tersebut, membuat MH. Szekely-Lulofs, seorang sejarawan Belanda, mengukir kisah heroik wanita yang digelari ”Ratu Aceh” ini, dalam bukunya “Tjoet Nya Din: Riwajat Hidup Seorang Puteri Atjeh”. Buku ini telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh A. Muis.
..................................................................................

MAKAM CUT NYA’ DHIEN
Hingga tahun 1959, tidak ada yang mengetahui secara pasti di mana makam Cut Nya’ Dhien berada. Baru setelah Pemda Aceh dengan sengaja melakukan penelusuran, makamnya pun ditemukan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Makam Dhien pertama kali dipugar dan ditandatangani langsung oleh Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan, pada tanggal 7 Desember 1987.
Pada batu nisannya, tertulis riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surah At-Taubah dan Al-Fajr, serta hikayat cerita Aceh.
Di belakang makam terdapat mushala, sementara di sebelah kiri makam terdapat pemakaman keluarga ulama H. Sanusi.

<<<<<<<<--***-->>>>>>>>>
Cut Nyak Dien wafat tanggal 6 Nopember 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan,  tidak jauh dari Alun-Alun Sumedang. Tempat ini merupakan salah satu tempat bersejarah di Kota Sumedang.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...