primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label KADIRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KADIRI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

Selomangleng, Gua Pertapaan Kilisuci (kediri Jatim)

Legenda Dewi Kilisuci

Selomangleng, Gua Pertapaan Kilisuci

Satu kilometer ke barat sejak pelabuhan Bandar atau pelabuhan Jayabaya tersebut terbentang jalan lurus menuju bukit Klotok (arti harfiahnya: kolo thok, banyak kolo, banyak penyakit).
Perbukitan Gunung KLOTOK Kediri
Sebuah prasasti batu raksasa masih menjadi misteri asal-usulnya, diperkirakan dibangun di masa jaman keemasan kerajaan Kediri, yaitu era Jayabaya. Prasasti berbentuk goa berukuran 3 x 10 meter itu diberi nama Mangleng (artinya museum). Bangunan goa Mangleng atau Selomangleng, yang juga disebut museum Jayabaya yang didirikan sekitar tahun 1150-an pada masa Jayabaya itu letaknya cukup terlindung berada di antara bukit-bukit. Di sebelah depan (50 meter( adalah bukit Mas Kumambang yang menurut penduduk setempat terkenal dengan legenda maling sakti. Maling sakti yang hidup di masa kolonial Belanda itu bernama Ki Boncolono bersama dua sahabatnya Tumenggung Poncolono dan Tumenggung Mojoroto. Kuburan ketiganya berada di puncak bukit Mas Kumambang. Pemkot Kediri telah membangun tangga cor menuju puncak Mas Kumambang.

Selomangleng, Gua Pertapaan Kilisuci
Selomangleng sendiri berasal dari dua kata, yakni selo yang berarti batu dan mangleng yang berarti miring menggantung. Jadi selomangleng dapat diartikan sebagi batu yang miring di suatu lereng. Jika ditilik, gua ini memang berada di kaki bukit Klotok yang juga fenomenal di kalangan masyarakat Kediri.

Sekarang Selomangleng dicanangkan sebagai pusat tujuan wisata di Kota Kediri. Untuk itu mulai dibangun beberapa fasilitas termasuk kolam renang. Namun, gw lebih tertarik dengan situsnya bro. Liat saja gambar-gambar yang gw jepret dengan hp 2 mp hehehe ...

 halaman gua dengan batu yang diperkirakan sebagai gapura

 patung penjaga gua (Sayangnya Kepala Patung ini hilang entah kemana..?/)

dilihat dari dekat

 relung di sayap gua sebelah utara

 pahatan relief berbentuk awan di dinding luar
 
 Patung Butolocolo, abdi setia Dewi Kilisuci
 
 Dupa dalam bilik utara

perwujudan Dewi Kilisuci di bilik tengah/utama yangditunjukkan oleh punden setempat

Gua Selomangleng.
Selomangleng berada di Dusun Boro Kelurahan Pojok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Dari  pusat kota hanya 3 kilometer ke arah barat. Dari Bunderan Sekartaji cukup ke arah barat sampai notok bro..Retribusi hanya dikenakan saat weekend dan hari libur.

Selain Gua, di lokasi wisata ini terdapat fasilitas lain yang tak kalah menarik. 
Ada Musium Airlangga, Pura Kilisuci, Makam Boncolono
Mengapa cuma membangun sebuah goa batu alam dibandingkan tigaratus tahun sebelum itu telah berdiri Candi Borobudur yang megah di Jawa Tengah?  

Diperkirakan Goa Selomangleng merupakan bagian dari bukit Mas Kumambang (emas terapung), akan tetapi kemudian dipisahkan oleh jalan melingkari bukit tersebut, sehingga goa itu dapat dicapai dari dua jurusan.

Jika kita mendaki bukit Klotok itu lurus saja tepat setelah menempuh sekitar dua kilometer ke arah puncak bagian tengah, kita dapat menjumpai dan menemukan petilasan Dewi Kilisuci, tepat di sisi air terjun kecil mengalir ke bawah, menjadi sungai kecil. Dewi Kilisuci merupakan salah seorang anak Prabu Erlangga atau Airlangga yang bertakhta di Kediri pada 1035.
PATUNG DEWI KILISUCI 
Petilasan Prabu Jayabaya yang dikenal sekarang di desa  Mamenang atau Pamenang kec. Pagu berada sekitar enam kilometer ke arah timur pusat kota Kediri berada di kawasan kaki gunung Kelud.
Goa Selomangleng
Pusat kerajaan Kediri diperkirakan berada di sekitar Goa Selomangleng, ada sebuah daerah Boto Lengket yang sekarang dijadikan markas Brigif (Brigade Infantri) XVI. Di lokasi Boto Lengket dekat desa Bujel itu tanpa sengaja telah ditemukan batu-batu bata berukuran besar terpendam dalam tanah yang mungkin merupakan bekas bahan pondasi bangunan. Penemuan itu belum pernah dipublikasikan, karena masih bersifat penemuan pribadi. 
Dari Goa selomangleng, belok ke-kanan ( akan tembus ke-Markas Brigif 16 ).
Diperkirakan tepat di markas Brigif XVI yang baru dibangun dalam dua tahun terakhir itulah letak pusat Kerajaan Kediri di masa pemerintahan Prabu Sri Aji Jayabaya.

Mengapa Brigif XVI Kediri berada secara kebetulan dibangun di sana? Dari segi strategi perang, maka lokasi itu sangat strategis untuk medan pertahanan dari serangan musuh. Letaknya berada di antara bukit-bukit yang berhutan lebat di masa lalu, cocok untuk berlindung sementara bila diserang musuh. Dan untuk mengundurkan diri dari serangan besar-besaran dapat masuk hutan di kaki bukit Klotok. Ditambah lagi pada masa silam, dari puncak bukit Mas Kumambang seorang prajurit dapat mengawasi pelabuhan dan seluruh kota Kediri, sekaligus memberikan isyarat kedatangan musuh yang menyerang dari sungai atau dari daratan.

Memang benar-benar strategis tempat itu dalam strategi perang kuno.
Di sekitar daerah hipotesis kraton di bagian sebelah utara kawasan itu terdapat sumber mata air yang sampai hari ini tidak pernah kering sekalipun kemarau panjang.

Demi efektifnya roda pemerintahan maka lokasi kraton itu tidak begitu jauh dari pelabuhan hipotesis Bandar. Tatkala tamu kehormatan kerajaan datang melalui sungai brantas, perjalanan tidak begitu jauh untuk sampai tujuan di kraton Kediri.
Museum Airlangga
Museum Airlangga di sisi selatan bukit Mas Kumambang yang dibangun oleh Pemkot Kota Kediri letaknya persis di seberang Museum Jayabaya yang dibangun Prabu Jayabaya, Goa Selomangleng. 
Goa Selomangleng selama ribuan tahun menjadi prototipe rumah-rumah penduduk di tanah Jawa. Ada senthong kiri, ada senthong kanan. Dan ada dua ruang tengah.  Dalam tradisi Jawa senthong tengah tidak boleh dihuni. Dan hanya dipergunakan untuk upacara tertentu atau meletakkan sesaji. 
Goa Batu itu di dalamnya penuh dengan hiasan gambar-gambar dinding, dan pada senthong kanan (dilihat dari luar goa) terdapat tempat pemujaan patung prabu Airlangga penjelmaan Wishnu. yang masih mulus belum dirusak tangan jahil Pada pintu masuk sebelah kiri ada penyambut berupa patung garuda tumpangan Sang Prabu Erlangga yang rusak oleh tangan jahil.

Salah satu ramalan Jayabaya, Ronggowarsito, dan uga Siliwangi yakni menyangkut kemunculan ratu adil atau satrio piningit yang berwujud bocah angon bertempat tinggal di tepi sungai,  bukankah hingga sekarang  masih misteri dan juga nama sungai tersebut  juga sebuah misteri. 

Akan tetapi diperkirakan sungai yang dimaksud adalah sungai Brantas bila menurut ramalan itu sang ratu adil muncul di Jawa Timur.

Sebagai sebuah hipotesis saat ini samar-samar sang ratu adil dengan ciri-ciri tersebut memang sudah muncul bahkan mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di NKRI, akan tetapi belum berhasil terganjal undang-undang pemilihan calon presiden. 

Satrio piningit itu mendapat dukungan kuat langsung maupun tak langsung dari sebuah perusahaan raksasa G2 yang berada di tepi Sungai Brantas kota Kediri, kantor pusatnya tepat di seberang pelabuhan wisata Jayabaya. 

Satrio Piningit calon ratu adil yang masih samar-samar itu berasal dari daerah yang lokasinya tepat simetris di tengah daripada ujung barat dan timur pulau Jawa.

Saat ini permunculan Satrio Piningit memimpin Nusantara memang belum tiba masanya, momen itu akan datang jika telah terjadi goro-goro/huru-hara besar terjadi atas kehendak tuhan; huru-hara usai akan terbentuklah tatanan dunia baru berikut peran dan kedudukan Nusantara tertinggi di bumi selatan. 

Musium Airlangga
Musium ini menjadi tempat penyimpanan barang antik yang ditemukan di sekitar Kediri, baik yang merupakan peninggalan jaman Kahuripan maupun jaman Kerajaan Kediri. Musium ini terbagi dua, yakni musium dalam dan musium luar. 
Museum Airlangga berada di Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kotamadya Kediri, Jawa Timur dan masih satu komplek dengan areal wisata Gua Selomangleng, Waterpark dan bersebelahan dengan Pura Penataran Agung Kilisuci.

Pada awalnya, Museum Airlangga berada di areal Pemandian Tirtoyoso (Kuwak) Kota Kediri yang berada di Jl. A.Yani dan bersebelahan dengan Stadion Brawijaya. Bangunan awal museum pada zaman Belanda sangat unik dengan gapuranya yang berhias kalamakara. Namun, seiring berjalannya tahun, kondisi museum benar – benar menyedihkan dan sangat rawan pencurian, hingga pada akhirnya ada tukar guling lahan antara Gudang Garam dengan Pemkot Kediri di areal Gunung Maskumambang, letak museum yang sekarang ini berdiri. Bangunan museum yang lamapun berubah menjadi kafe dan sekarang dihancurkan untuk perluasan dan perbaikan Pemandian Tirtoyoso.

Pada tahun 1992, pembangunan Museum Airlanggapun telah selesai. Museum Airlangga sendiri mengambil nama dari Raja Airlangga, Pendiri Kerjaaan Kahuripan dan ayah dari Dewi Kilisuci yang erat hubungannya dengan legenda maupun sejarah Gua Selomangleng. Untuk mengungukuhkan kesan Airlangga ini, di depan museum dipajang Arca Garuda Menunggangi Wisnu yang tentu saja merupakan replika dan arca yang aslinya sekarang berada di PIM (Pusat Informasi Majapahit) serta aslinya berasal dari Candi Belahan.

Koleksi Museum Airlangga arkeologi Kediri :
Sayangnya, walaupun memiliki banyak benda koleksi cagar budaya, kebanyakan dan hampir semua koleksinya minim informasi serta sangat kurang dalam penjelasan tempat diketemukannya benda – benda cagar budaya tersebut dan hanya sebatas keterangan definisi benda koleksi tersebut. Yang ada tulisan asal muasalnya hanyalah fragmen batu candi berupa hiasan suluran tanaman yang berasal dari Dusun Kedaton, Desa Lirboyo dan bata kuno yang diketemukan di Dusun Botolengket, Desa Bujel. Juga, banyak prasasti dan batu berangka tahun yang tidak ada penjelasannya tentang isi prasasti maupun tahun yang terukir pada batu angka tahun tersebut.

 Patung Siva ; merupakan koleksi terbesar dimusium ini, dengan tinggi lebih dari dua meter
 Jambangan ; Jambangan batu terbesar yang pernah diketemukan
 
 Prasati di Museum airlanga :
Ancestor statues at the Airlangga Museum

Koleksi Museum Yang Berada Di Luar Bangunan Museum
Selain di dalam gedung, beberapa arca, yoni dan jambangan batu di letakkan di taman di luar gedung. Peletakkan disini kurang tepat karena membuat benda – benda tersebut rawan dicuri serta berlumut disana – sini saat musim hujan tiba.
An oxcart at the Airlangga Museum
 Cikar
 Arca
 Reco Pentung
 Yoni
 Kaki Pecahan Prasasti
Kereta Kencana
Koleksi musium ini banyak lagi koleksi di museum arlanga ini

Senin Tetap Buka

            Jika kebanyakan museum libur pada hari Senin, hal itu tidak berlaku pada Museum Airlangga. Pada awalnya, memang hari Senin museum libur, tapi mengingat ramainya kunjungan ke Selomangleng pada hari Minggunya dan banyaknya sampah pengunjung yang bertumpuk pada Senin harinya, maka diputuskanlah untuk tetap membuka museum pada hari Senin serta untuk bersih – bersih area sekitar museum. Sebagai gantinya, museum tutup pada hari Jum’at. Museum Airlangga sendiri buka pada pukul delapan pagi hingga pukul dua siang.

            Walau memiliki banyak benda cagar budaya yang penting, namun hal itu berbanding terbalik dengan kondisi museum. Museum Airlangga yang dijaga dua orang, mbak Yuni dan Mas Andi ini kondisinya sangat menyedihkan. Bagian langit – langit museum rusak dan jebol disana – sini serta bocor pada musim penghujan.
Museum Airlangga

Walau menyandang gelar sebagai Museum teramai Kedua di Jawa Timur, kenyataannya Museum Airlangga benar – benar sepi dan hanya ramai pada hari – hari libur saja, terutama hari Minggu. Saking sepinya, banyak orang yang ingin masuk jadi ragu untuk masuk. Selain sepi, Museum Airlangga juga kurang promosi, bahkan pamflet atau selebarannyapun tidak ada. Saya sendiri sempat minta ke kantornya dan setelah dapat ternyata selebaran tersebut merupakan selebaran tahun 2007 yang masih sisa banyak !! --- Kok ya ga dibagi – bagi ke pengunjung museum dan kapan mencetak yang baru untuk menggantikan selebaran yang terlihat ala kadarnya ini ?

Juga mendapat informasi dari Mr. Olivier Johannes yang memiliki koleksi Kartoe Pos Lama yang luar biasa. Menurut catatan sejarah kolonial, pada zaman sekitar tahun 1900, pendiri Museum Airlangga mengumpulkan arca-arca dari berbagai lokasi, banyak yang sebelumnya berfungsi sebagai hiasan halaman petinggi pribumi.

Pencurian Koleksi Museum
            Menurut berita dari internet, katanya beberapa koleksi Museum Airlangga telah dipalsu, sedangkan benda yang asli telah dijual kepada kolektor. Hal ini bercermin pada kasus yang menimpa Museum Radya Pustaka Solo yang banyak benda koleksinya dipalsu dan yang asli dijual, serta melihat betapa minimnya penjagaan di Museum, terutama pada malam hari.

Pihak Disbudparpora pemkot Kediripun menepis anggapan tersebut karena berdasarkan inventarisasi terbaru mereka, semua benda koleksi museum masih utuh dan tak hilang satupun. Karena belum adanya penelitian lanjutan, sepertinya banyak masyarakat yang tak akan tahu mana yang benar diantara dua pernyataan ini. Saya sendiri lebih berharap bahwa berita ini tidak benar karena akan sangat sayang sekali jika benda museum dijual ke para kolektor. Juga, adanya berita bahwa Pemerintah Pusat berniat mengucurkan anggaran sebesar Rp 1,8 milliar untuk memugar Museum Airlangga mengingat keadaan museum yang menyedihkan dan museum tak pernah dipugar sejak dibangun.

Kartu Pos Lama koleksi Mr. Olivier Johannes
Courtesy Tropen Museum --- Museum Tirtoyoso (Kuwak) Cikal Bakal Museum Airlangga
alun-alun Kediri seabad yang lalu, dalam buku Pekerdja di Djawa Tempoe Doeloe
PEKERDJA DI DJAWA TEMPO DOELOE — OLIVIER JOHANNES RAAP
Judul : Soeka Doeka Djawa Tempo Doeloe
Penulis : Olivier Johannes Raap
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, 2013
Tebal : 189 hlm ; 17 x 22 cm
ISBN : 978-979-91-0649-0
Kartu pos-kartu pos, atau obyek bergambar dalam buku Mr Olivier ini menjadi daya tarik yang luar biasa. Membukakan rahasia-rahasia yang tentu sulit bisa kita ketahui tanpa adanya detail deskripsi. Latar belakang tindakan, aktivitas dan sebagainya yang diceritakan dalam gambar tidak sedikit yang membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah gambar bisa bercerita bahkan tentang bunyi yang dihasilkan, respon masyarakat saat ada pertunjukan dan sebagainya, bagi kami, tentulah ini menunjukkan studi dan penelitian yang tidak sederhana.

Oke lanjut ke titik selanjutnya, tepat di timur musium ada pura.

Pura Agung Penataran Dewi Kilisuci
Pura ini merupakan pura satu-satunya yang berada di dalam kota kediri. dan seperti pura lainya sebagi tempat peribadatan sangat dijaga kebersihannya. Beberapa waktu lalu pura ini di pugar, dan inilah wajah pura yang baru. Sayang waktu mampir ke sini pura benar-benar sepi. Jadi tak bisa masuk bro, soalnya pintu di gerbang ke dua ditutup.
 Gapura ke dua
Suasana Pura yang Hening

Minggu, 02 Februari 2014

Arca (redjo) Totok Kerot (Blitar)

Nusantara 

Arca (redjo) Totok Kerot

Arca Totok Kerot

Arca Totok Kerot merupakan prasasti zaman Raja Sri Aji di Lodaya, Kerajaan Pamenang. Konon kabarnya, dulu ada seorang putri cantik dari Blitar. 
Sang putri, waktu itu datang ke Pamenang untuk melamar Joyoboyo, yang sangat tersohor kedigdayaannya. Malang bagi sang putri, karena Joyoboyo menolak lamaran itu.

Akhirnya, terjadilah pertempuran hebat di antara keduanya. Karena kalah sakti, putri cantik itu mendapat kutukan dari Joyoboyo, dan berubahlah ia menjadi raksasa wanita berbentuk Dwarapala. Patung raksasa itulah yang hingga kini dikenal sebagai arca Totok Kerot.


Arca ini dulunya terpendam dalam tanah. Karena oleh penduduk, di tempat tersebut dikabarkan ada benda besar, maka pada 1981 lokasi itu digali. Hingga akhirnya, arca itu muncul separuh. 

Entah pada tahun berapa dilakukan penggalian ulang yang jelas saat tahun 2005, patung tersebut telah muncul secara utuh di atas permukaan tanah.

Sepintas arca Totok Kerot yang berada di Desa Bulusari, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, tidak jauh beda dengan sepasang Arca Dwarapala yang berada di Singosari. Hanya saja kondisinya lebih mengenaskan karena terdapat bagian tubuh yang hilang terutama tangan kirinya. Arca ini juga tidak memegang gada seperti halnya Arca Dwarapala, atau mungkinkah bagian tangan yang hilang dari arca ini memegang senjata tersebut ? Tidak ada penjelasan yang pasti. Yang jelas arca ini tegak duduk seorang diri di antara areal sawah penduduk berteman pagar besi yang mengitarinya dan sebuah pos jaga .

Menilik ke Dwarapala Singhasari (Malang); 
Arca Raksasa yang Menjaga Singhasari
300 meteran dari lokasi Candi Singhasari, ada sepasang dwarapala.

Arca setinggi 3,7 meter itu tampak tenang seperti tak terusik oleh satu apapun. Di seberangnya, terpisah oleh sebuah jalan berdiri teman sejawatnya. Mereka adalah arca dwarapala dari Singosari. Arca dwarapala ini adalah yang terbesar di Indonesia
Dwarapala yang berada di sisi utara jalan menyangga gadanya di sisi dalam kaki kirinya. Sementara itu tangan kirinya diletakkan di atas pegangan gada. Tangan kanannya diangkat setinggi pundak dengan sikap hampir mendekati simbol “peace” jaman sekarang. Dua taring menyembul keluar dari mulutnya. Dan matanya digambarkan besar dan melotot namun entah mengapa, menurutku wajah mereka ramah. Bahkan seperti sedang nyengir
Di telinganya dipasangkan anting-anting (kundala) bergambar tengkorak. Lehernya dihias dengan kalung (hara). Tali kasta (upavita) berupa ular besar menjuntai dari bahu ke perutnya. Kalau sekarang mungkin lebih mirip selempang yang sering dipakai oleh ratu-ratu kecantikan. Ia juga mengenakan kelat bahu (keyura), gelang tangan (kankana), dan juga gelang kaki.

Kembali ke Arca (redjo) Totok Kerot (Blitar)


Pintu masuk pagar besi ini digembok, dan tidak ada penjaga yang datang ke lokasi Arca Totok Kerot ini, sampai kami meninggalkan tempat itu. Tidak pula terlihat ada nomor telepon penjaga yang bisa dihubungi, meskipun di bagian samping depan situs Arca Totok Kerot terdapat sebuah pos jaga.

mitos yang berkembang di masyarakat itu Arca Totok Kerot ini bisa tersenyum atau cemberut, kalau Arca Totok Kerot ini dipuji katanya sih, bisa tersenyum, n kalau di ejek, malah dia sedih/cemberut. dan juga ada mitos yang beredar, dia akan mengahantui ketika kita ngejek dia. ini si mitos yang beredar di kalangan masyarakat yang berada di daerah Kediri
Arca Totok Kerot setinggi tiga meter ini diduga merupakan peninggalan dari Kerajaan Kediri atau Panjalu (1042-1222) yang beribukota di Daha (baca: “Doho”), atau sekitar Kota Kediri sekarang ini. Dugaan ini berasal dari adanya lambang Kediri berupa ornamen tengkorak di atas bulan sabit pada dahi atas Arca Totok Kerot, yang disebut Candrakapala.
Terlepas dari legenda diatas, Arca Totok Kerot menjadi bukti perkembangan seni pahat pada era Kerajaan Kadiri. Pahatan pada Arca Totok Kerot ini cukup mendetail, baik pahatan pada candrakapala maupun pada bagian yang lain. Jika diamati dengan seksama, akan tampak pahatan tipis berbentuk sulur pada sebagian permukaan arca.
Arca Totok Kerot ini memakai ornamen tengkorak pada lengan, anting kiri kanan, dahi dan juga untaian kalung di lehernya. Kepalan tangan kanan Arca Totok Kerot ini terlihat telah hancur tidak berbentuk. Arca Totok Kerot ini sebelumnya terbenam di bawah tanah ketika ditemukan penduduk pada 1981, dan baru sepenuhnya diangkat pada 2003.
Pepohonan di sekitar Arca Totok Kerot tidak cukup untuk menaungi pengunjung dari sengat matahari Kediri yang terik, namun cukup untuk memberi keasrian situs itu. Arca Totok Kerot yang terbuat dari batu andesit utuh ini kakinya terlihat dihiasi dengan lilitan ular bermahkota di atas kepalanya.
Rambut gimbal Arca Totok Kerot, yang memang merupakan sebuah arca raseksi (raksasa perempuan). Legenda setempat menceritakan bahwa Arca Totok Kerot adalah jelmaan seorang putri cantik dari Lodoyo, Blitar yang dikutuk oleh Sri Aji Jayabaya setelah dikalahkan dalam adu kesaktian lantaran keinginannya untuk diperistri Raja Kediri itu ditolak.
Dari samping sebelah kiri, Arca Totok Kerot ini terlihat masih cukup baik, meski kepalan tangannya tidak ada lagi dan bagian atas mata kanannya seperti sobek terkena parang.

Jika dilihat dari depan baru terlihat bahwa tangan kiri Arca Totok Kerot telah hilang sampai ke pangkal lengannya.
Tangan kiri sebatas lengan Arca Totok Kerot yang telah hilang sama sekali. Barangkali jika dilakukan penggalian di sekitar situs ini, potongan lengan Arca Totok Kerot ini bisa ditemukan.


Jalanan menuju Arca Totok Kerot, diambil dari lokasi dimana Arca Totok Kerot berada. Jalanan ini terlihat cukup lebar dan ditata dengan cukup rapi. Pada jarak yang sedikit agak jauh, terdapat warung sederhana yang menjual minuman dan makanan ringan. Tidak terlihat ada cindera mata yang dijual.

Pos Penjagaan disana dibiarkan kosong tidak terjaga, yang bisa jadi ini karena jarangnya orang yang datang berkunjung ke situs ini.

Arca Totok Kerot merupakan situs terbesar peninggalan Kerajaan Kediri yang pernah ditemukan di daerah itu. Mungkin ada baiknya area situs ini diperluas, dan ditanami pohon peneduh, serta dibuat tengara yang memberi informasi kepada pengunjung seputar situs Arca Totok Kerot ini.

Arca Totok KerotDusun Kunir, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten KediriGPS: -7.79801, 112.07018
Lihat peta Arca Totok Kerot dalam ukuran besar

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...