primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label ENSIKLOPEDIA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ENSIKLOPEDIA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Januari 2014

Emas Indonesia Hilang Dalam Penerbangan RI-002



Misteri Emas Indonesia Hilang Dalam Penerbangan RI-002
Emas Indonesia Hilang Dalam Penerbangan RI-002
Tiga puluh tahun kemudian dua orang petani menemukan bagian dari puing-puing di sebuah hutan Gunung Punggur-Lampung, bersama dengan sisa-sisa tengkorang manusia yang tersebar, tapi 20 kilogram emas tidak ditemukan disana.
Dalam memerangi kolonial Belanda setelah kemerdekaan Republik Indonesia, tersiar kabar bahwa pesawat RI-002 mengangkut emas 20 kilogram yang akan digunakan untuk membeli pesawat. Beberapa sumber sejarah menyatakan bahwa pesaawat RI-002 dengan pilot Robert Earl Freeberg kehilangan kontak, dan jejak emas seberat 20 kilogram hingga kini tidak pernah ditemukan.
Cerita Tragis Penerbangan Terakhir Pesawat RI-002

Penerbangan RI-002 Hilang Membawa Emas Indonesia

Dalam ulasan yang diberitakan Smithsonian Magazine dua tahun lalu, Robert Earl Freeberg dinyatakan menjadi pahlawan yang meninggal dalam perjalanan tugas. Robert Earl Freeberg juga dikenal sebagai tentara bayaran untuk misi penerbangan asing, dia berencana menghemat uang untuk kembali ke Amerika dan akan menikahi seorang perawat yang pernah ditemuinya di Manila. Freeberg pernah menulis surat kepada keluarganya tentang ketidakadilan yang dialami Indonesia di tangan Belanda.
Bagi Freeberg sebagai seorang pilot Angkatan Laut menunggu waktu yang lama untuk diakui sebagi orang yang berjasa. Freeberg diakui sebagai seorang Amerika yang membantu pembebasan Indonesia. Marsha Freeberg Bickham meyakini bahwa pamannya tidak tewas dalam kecelakaan pesawat tapi ditangkap dan dipenjarakan Belanda dan kemudian meninggal di penangkaran.
Emas
Menurut Bickham tidak lama setelah RI-002 lenyap, Senator Kansas (Clyde Reed) seorang teman keluarga dari Parsons mengatakan kepada orang tua Freeberg bahwa anak mereka masih hidup dan Senator berusaha agar dia dibebaskan dari penjara. Tetapi Senator Reed meninggal karena penyakit Pneumonia pada tahun 1949. Freeberg dikenal sebagai pilot Amerika yang bekerja di Indonesia, namun arsip Belanda tidak menunjukkan catatan penangkapannya. Sementara pihak penjamin menolak untuk membayar pesawat Freeberg yang hilang.
Marsha Freeberg Bickham yang juga keponakannya mengatakan bahwa Freeberg pergi ke Indonesia karena dirinya mencintai penerbangan dan mengagumi Indonesia. Freeberg seorang yang berambut pirang bermata biru, berusia 27 tahun asal Parsons-Kansas,

Misi Membawa Emas Untuk Pembelian Pesawat RI-001

Salah satu orang yang ikut mengambil kesempatan menjadi penerbang di Indonesia dalam pembebasan adalah Freeberg yang pada waktu itu telah meninggalkan Angkatan Laut tahun 1946. Di Filipina dia menjadi pilot CALI (Commercial Airlines Incorporates), sebuah maskapai penerbangan di Manila dengan harapan bisa mengumpulkan uang untuk membeli DC-3. Pesawat RI-002 kabarnya dibeli Freeber dengan mengunakan uang tabungan pribadi.
Pada masa setelah Perang Pasifik, banyak pesawat bekas dijual bebas kepada umum yang bisa dibeli dengan pilot atau tanpa pilot. Dikabarkan bahwa Feeberg dan pesawatnya di-charter untuk menembus blokade udara yang dilakukan militer Belanda. Kemudian dia mulai menjalani penerbangan khusus diwilayah Republik Indonesia dengan pesawat RI-002.
Sebuah pesawat kargo lepas Douglas DC-3 landas dari Jogjakarta pada pagi hari 29 September 1948. Penerbangan itu mengangkut lima awak, satu penumpang, obat-obatan dan 20 kilogram emas, terdaftar dengan identitas RI-002 sebagai pesawat tulang punggung angkatan udara Indonesia dalam gerakan kemerdekaan yang berjuang melawan tentara kolonial Belanda.
Dalam setahun Belanda dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada Republik Indonesia, mengakhiri perang empat tahun pembebasan setelah kekalahan Jepang tahun 1945. Namun enam awak pesawat RI-002 termasuk kapten Bobby Freeberg, menghilang setelah pesawat lepas landas dari kota Tanjung Karang di ujung selatan Sumatera.
Diketahui bahwa RI-001 akan digunakan sebagai pesawat masa depan presiden pertama Indonesia setelah kemerdekaan. Feeberg pernah membawa Soekarno keliling Sumatera untuk meminta sumbangan rakyat dalam membantu perjuangan Republik Indonesia. Rakyat Aceh dikabarkan menyumbang emas seberat 20 Kilogram yang nantinya akan digunakan membeli pesawat Dakota dengan nama Seulawah (Gunung Emas) bernomor registrasi RI-001 (Id.Wikipedia).
Dan 20 kilogram emas dibawa pada akhir penerbangan RI-002 yang tidak pernah kembali,emas Indonesia dimaksudkan untuk membeli pesawat lebih banyak. Isu yang beredar menyatakan bahwa emas batangan tersebut disita militer Belanda sewaktu pesawat mendarat di Landasan udara Gorda-Serang, Jawa Barat.
Setelah itu pesawat RI-001 diperbolehkan terbang tanpa membawa emas menuju Tanjung Karang, dan Landasan Udara Maguwo kehilangan kontak pada 1 Oktober 1948.

Selasa, 28 Januari 2014

Sejarah Pesawat pertama Indonesia hasil sumbangan rakyat Sumatra (RI 001 s/d RI 006)



Tiga pesawat pertama di Indonesia hasil sumbangan rakyat Sumatra
Tahukah Anda, bila pesawat angkut setelah masa kemerdekaan dulu merupakan hasil sumbangan rakyat Sumatra?
Dua tahun paska kemerdekaan, 1945 pemerintah RI yang masih bayi membutuhkan angkutan udara untuk jual beli barang, mengirim seorang diplomat, atau untuk mengirim pasukan secara cepat. Pesawat angkut pertama kali adalah : 
RI-002, disusul RI-003, kemudian RI-004, kemudian RI-005, RI-006, dan terakhir adalah pesawat RI-001.

Lalu dari mana pemerintah membeli pesawat-pesawat itu? Seperti ditulis dalam buku Sejarah Operasi Penerbangan Indonesia periode 1945-1950 yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AU, setidaknya ada tiga pesawat dibeli dari hasil sumbangan rakyat Sumatra, yakni; pesawat Avro Anson pada Desember 1947.


Pesawat itu dibeli dari bangsawan Australia, H Keegan, dengan nomor registrasi VH-BBY. Pembelian pesawat dilakukan dengan cara barter emas seberat 12 kg sumbangan rakyat Sumatra. Pesawat ini kemudian diberi nama RI-003. Kemudian pesawat Avro Anson kedua yang dibeli pada 1948. Pesawat ini diberi nama RI-004.

Terakhir adalah pesawat Dakota yang juga hasil sumbangan rakyat Sumatra. Untuk mengumpulkan dana itu, Soekarno berpidato pertama kali pada 16 Juni 1948 di Aceh Hotel, Kuta Raja, dan berhasil menggugah semangat rakyat Sumatra khususnya Aceh. 

Lalu panitia Dakota dibentuk, dan diketuai oleh Djunet Yusuf, Said Ahmad Al Habsji.

Dalam tempo dua hari, masyarakat Aceh berhasil mengumpulkan uang 130.000 straits dollar, lalu digunakan oleh pemerintah membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah. Pesawat ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.///Source///
Dakota RI-001 Seulawah
Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut yang merupakan pesawat ke-2 milik Republik Indonesia. Pesawat jenis Dakota dengan nomor sayap RI-001 yang diberi nama Seulawah ini dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. 
Berkas:Seulawah.jpg
Replika Dakota RI-001 Seulawah
Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.


Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Sejarah dan Museum
KSAU Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma memprakarsai pembelian pesawat angkut. Biro Rencana dan Propaganda TNI-AU yang dipimpin oleh OU II Wiweko Supono dan dibantu oleh OMU II Nurtanio Pringgoadisuryo dipercaya sebagai pelaksana ide tersebut.

Biro tersebut kemudian menyiapkan sekira 25 model pesawat Dakota. Kemudian, Kepala Biro Propaganda TNI AU, OMU I J. Salatun ditugaskan mengikuti Presiden Soekarno ke Sumatra dalam rangka mencari dana.


Pada tanggal 16 Juni 1948 di Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Melalui sebuah kepanitiaan yang diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh setara dengan 20 kg emas.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti "Gunung Emas".
Kehadiran Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan Jawa-Sumatra, bahkan hingga ke luar negeri. Pada bulan November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatra dengan rute Maguwo-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Maguwo.
Di Kutaraja, pesawat tersebut digunakan joy flight bagi para pemuka rakyat Aceh dan penyebaran pamflet. Pada tanggal 4 Desember 1948 pesawat digunakan untuk mengangkut kadet ALRI dari Payakumbuh ke Kutaraja, serta untuk pemotretan udara di atas Gunung Merapi.

Pada awal Desember 1948 pesawat Dakota RI-001 Seulawah bertolak dari Lanud Maguwo-Kutaraja dan pada tanggal 6 Desember 1948 bertolak menuju Kalkuta, India. Pesawat diawaki Kapten Pilot J. Maupin, Kopilot OU III Sutardjo Sigit, juru radio Adisumarmo, dan juru mesin Caesselberry. Perjalanan ke Kalkuta adalah untuk melakukan perawatan berkala. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, Dakota RI-001 Seulawah tidak bisa kembali ke tanah air. Atas prakarsa Wiweko Supono, dengan modal Dakota RI-001 Seulawah itulah, maka didirikanlah perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways, dengan kantor di Birma (kini Myanmar).

Seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya di bidang kedirgantaraan, beberapa jenis pesawat terbang generasi tua pun dinyatakan berakhir masa operasinya. Salah satunya adalah jenis Dakota.
Namun, karena jasanya yang dinilai besar bagi cikal bakal berdirinya sebuah maskapai penerbangan komersial di tanah air, TNI AU memprakarsai berdirinya sebuah monumen perjuangan pesawat Dakota RI-001 Seulawah di Banda Aceh.

Pada tanggal 30 Juli 1984, Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani pun meresmikan monumen yang terletak di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Pesawat aslinya tersimpan di Taman Mini Indonesia Indah
Berkas:Seulawah 001.JPG
Monumen pesawat Dakota Seulawah 001 di lapangan Blang Padang, Banda Aceh
Berkas:Prasasti Seulawah 001.JPG
Prasasti monumen pesawat Dakota Seulawah 001


Monumen ini menjadi lambang bahwa sumbangan rakyat Aceh sangatlah besar bagi perjuangan Republik Indonesia di awal berdirinya.

Cerita Tragis Penerbangan Terakhir Pesawat RI-002
Sejarah perjalanan AU di langit Nusantara, di antaranya terbentuk dari peran pilot asal Amerika Serikat, Bob Freeberg dan pesawat miliknya Douglas C-47, belakangan diberi nama R1-002 (RI-002 diberikan karena RI-001 dicadangkan untuk pesawat kepresidenan yang akan dibeli dengan dana sendiri). Pesawat RI-002 ini berakhir tragis di Sumatra. Berikut ceritanya.


Cerita Tragis Penerbangan Terakhir Pesawat RI-002

Dini hari, 1 Oktober 1948 pesawat RI-002 lepas landas meninggalkan Pangkalan Udara Maguwo dengan tujuan Bukittinggi. Rute yang ditempuh adalah; Maguwo-Gorda-Tanjung Karang-Bukittinggi. Menurut rencana pesawat akan meneruskan ke luar negeri untuk membeli pesawat baru dengan mengangkut 20 kg emas murni.

Seperti tertulis dalam buku Sejarah Operasi Penerbangan Indonesia periode 1945-1950 yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AU, RI-002 waktu itu diterbangkan pilot Robert Earl Freeberg alias Bob. Sedangkan co-pilot adalah Opsir Udara Bambang Saptoadji, engineer Opsir Muda Udara I Sumadi, dan radio operator Sersan Udara Suryatman.

Selama penerbangan, beberapa kali RI-002 berhubungan dengan stasiun radio udara atau call sign PCI di Sagan, Yogyakarta. Saluran radio ini dikenal dengan Aeradio, yaitu hubungan radio antara pesawat dengan stasiun radio di darat. Waktu itu radio dijaga oleh Sersan Mayor Udara Sumarno.

Komunikasi antara RI-002 dengan stasiun radio dilaporkan berjalan lancar hingga Tanjung Karang. Tetapi kenyataannya, hubungan radio antara pesawat dengan stasiun radio baik di Jawa maupun di Sumatera tidak berjalan baik. Sesuai prosedur, seharusnya komunikasi dilakukan secara periodik dengan jangka waktu satu jam setelah lepas landas. Namun itu tidak terjadi.

Sersan Mayor Sumarno beberapa kali memerintahkan RI-002 agar stand-by dan sewaktu-waktu, tetapi tidak ada jawaban. Sehingga sejak saat itu pesawat angkut sewaan itu dianggap hilang beserta para penumpang. RI-002 selama melaksanakan penerbangan tidak pernah disergap pesawat Belanda, meskipun dalam salah satu penerbangan ke Sumatra pernah kesasar karena cuaca buruk.

Surat kabar di Belanda ramai memberitakan hilangnya pesawat itu karena disergap pesawat Belanda. Namun pemerintah kolonial itu tidak pernah membenarkan atau membantah. Dengan demikian AURI menyatakan RI-002 dinyatakan hilang, dan tidak diketahui sebab musababnya.

Namun setelah 30 tahun menghilang, baru pada 14 April 1978 reruntuhan pesawat beserta kerangka jenazah ditemukan seorang penduduk yang hendak mencari kayu bakar di pegunungan Sumatera Selatan. RI-002 diperkirakan jatuh di Bukit Pungur, Kecamatan Kasui, Kabupaten Lampung, menabrak bukit akibat cuaca buruk.

Hal itu dibuktikan dengan penemuan kepingan bekas sayap pesawat yang telah disusun kembali bertuliskan RI-002. Kerangka jenazah sudah tidak bisa dikenali. Akhirnya, secara simbolik mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang dalam rangka peringatan Hari Bhakti TNI AU pada 29 Juli 1978. (Merdeka)


Monumen Pesawat Avro Anson RI-003
Monumen yang terletak di Nagari Gadut Kecamatan Tilatang Kamang berjarak 5 km dari kota Bukittinggi ini, merupakan bukti dari sejarah panjang perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajahan Belanda.
1313492376882091158
Avro Anson RI 003 adalah pesawat ke tiga yang dimiliki Pemerintah Republik Indonesia yang diperloeh dari sumbangan masyarakat Minang terutama amai-amai (baca: ibu-ibu) yang dengan sukarela menghibahkan perhiasan emas dan peraknya untuk memperjuangkan kedaulatan Indonesia.
Sejarah ini bermula pada tanggal 27 September 1947 di Kota Jam Gadang, Bukittinggi, alm. Dr. Mohammad Hatta membentuk â€Å“Panitia Pusat Pengumpul Emas” untuk mengumpulkan sumbangan dari rakyat yang nantinya berfungi untuk membeli sebuah pesawat terbang untuk diterjunkan dalam misi-misi khusus guna menyelamatkan Republik Indonesia dari serangan Belanda yang terkenal sebagai Agresi Militer.

Selang beberapa hari setelah pembantukan panitia tersebut, Dr. Mohammad Hatta mengadakan sebuah apel besar di Lapangan Kantin (lapangan depan Makodim 0304/Agam, sekarang). Selaku Wakil Presiden Republik Indonesia beliau menyampaikan kepada masyarakat Minang akan situasi negara saat itu sekaligus menghimbau rakyat untuk mengulurkan tangan membantu perjuangan.


Tanpa pikir panjang, spontan orang aceh orang di sana terutama amai-amai mendaftarkan diri untuk menyumbangkan semua perhiasan emas dan peraknya, berupa liontin, anting, kalung, gelang, bahkan cincin kawin mereka sumbangkan. 

Selain itu di tempat tempat lain, seperti Padang Panjang dan di pinggiran kota Bukittinggi juga diadakan pengumpulan sumbangan. Dari hasil sumbangan itu, datanglah sebuah pesawat terbang buatan Inggris tipe Dakota dengan call sign RI 003 dari Lanud Maguwo Yogyakarta menuju Lanud Gadut Agam. Melihat proses landing tersebut makin menggeloralah semangat perjuangan masyarakat Minangkabau.

Pada awal Desember 1947, Halim  Perdanakusuma dan Iswahyudi mendapat tugas untuk membeli dan mendapatkan senjata (yang dibeli dengan perantara candu atau narkotika) ke Siam (Muangthai) dengan menggunakan RI 003.

Tetapi malang, sebelum mencapai tujuannya, pesawat itu mengalami kerusakan mesin sehingga jatuh ke laut dekat Tanjung Hantu, perairan selat Malaka. Pesawat itu hilang bersama pilotnya. Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi gugur sebagai bunga bangsa, dan namanya diabadikan sebagai nama dua bandara di Nusantara, yaitu Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta dan Lanud Iswahyudi di Madiun.

Misi belum selesai, beberapa hari setelah hilangnya RI 003, mendarat sebuah pesawat dengan jenis yang sama dengan call sign RI 004, berpilot Wade Palmer, seorang penerbang Royal Air Force (RAF) berkebangsaan Skotlandia.

Beberapa orang dari Central Trading Company (CTC) yaitu Haji Tahir, Baharudin Dt. Bagindo, Mas Said, Tahi Siregar, Ali Alkadri, dan Letnan Udara Jacoeb berangkat dengan pesawat ini ke Siam untuk menukarkan emas dengan candu, lalu ke China untuk menukarkan candu dengan persenjataan. Misi yang diemban sukses, tetapi dengan pengorbanan yang tidak sedikit, jalan yang tidak mulus, dan perjuangan yang penuh resiko. ///Source///

Masih dalam pencarian artikel untuk Pesawat RI-004, RI-005 dan RI-006

Pemilik Mobil Pertama di Indonesia



Pemilik Mobil Pertama di Indonesia
Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X (lahir di Surakarta, 29 November 1866 – meninggal di Surakarta, 1 Februari 1939 pada umur 72 tahun) adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1893 – 1939.
 Pemilik Mobil Pertama di Indonesia
Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Studioportret van Pakoe Boewono X Susuhunan van Solo TMnr 60034669.jpg
Sri Susuhunan Pakubuwana X
Orang Indonesia pertama yang tercatat sebagai pemilik mobil adalah Sunan Solo, pada tahun 1894. Mobilnya bermerk Benz, tipe Carl Benz, beroda empat. 

Diperlukan waktu satu tahun persiapan pembuatannya, karena tipe ini memiliki banyak variasi sesuai dengan pesanan Sunan. John.C.Potter seorang penjual mobil mendapat kepercayaan untuk mengurusi pengirimannya dari Eropa. Tahun 1907 salah seorang keluarga raja lain di Solo, Kanjeng Raden Sosrodiningrat membeli sebuah mobil merk Daimler. Mobil merk ini memang tergolong mobil mahal dan hanya dimiliki oleh orang-orang berkedudukan tinggi. 

Mobil ini bekerja dengan empat silinder sama dengan kendaraan yang dipakai oleh Gubernur Jenderal di Batavia. Malahan ada kabar burung, bahwa dibelinya mobil Daimler tersebut oleh keluarga Sunan Solo, disebabkan karena Sunan tidak mau kalah gengsi dengan Gubernur Jenderal. 

Sebelumnya, ketika Gubernur masih menggunakan mobil merk Fiat atau sebuah kereta yang ditarik dengan 40 ekor kuda, tidak seorang pun berani menyainginya. Tetapi tiba-tiba saja Sunan Solo memesan mobil dari pabrik dan merk yang sama, Kanjeng Raden Sosrodiningrat memesan mobil Daimlernya lewat Prottel & Co.

Orang Indonesia lainnya yang juga dari keluarga kesultanan yang memiliki mobil pribadi ialah Sultan Ternate pada tahun 1913. Keinginannya untuk memiliki dan mengendarai sendiri 'kereta setan', setelah merasakan nikmatnya duduk di kendaraan merk King Dick yang dibawa oleh seorang Belanda dalam perjalanan keliling Maluku.

Sultan begitu terkesan dan langsung memesan sebuah mobil yang disesuaikan dengan kondisi daerahnya, tidak seperti King Dick yang beroda tiga, tetapi Sultan Ternate menginginkan kendaraan roda empat yang bisa dibawa kemana saja bila ia inginkan. Ada juga orang Indonesia yang lain, sebagai pemilik mobil pertama untuk daerahnya, di Pekalongan. 
Namanya Raden Mas Ario Tjondro, Bupati Berebes. Di tahun 1904 mobilnya sudah kelihatan mondar-mandir di kotanya. Mobilnya merk Orient Backboard, mobil ini dilengkapi dengan persneling maju dan mundur. Tetapi hanya memiliki satu silinder dan berkekuatan delapan PK, serta menggunakan tenaga rantai untuk menggerakan roda-rodanya.

Ramainya pasar jual-beli mobil, menggugah minat para pengusaha kuat untuk bertindak sebagai importir mobil. Gagasan untuk terjun ke dalam dunia dagang sektor impor kurun waktu itu memang masih sangat langka. Disamping belum adanya kepastian hukum, juga semangat beli masih bisa dihitung dengan jari. Maka bermunculanlah perusahan-perusahaan baru yang menjanjikan jasa kepengurusan pengiriman mobil dari negeri asal. Baik dari Eropa maupun dari Amerika.
Namun hanya ada beberapa nama saja yang bisa bertahan sampai tahun-tahun menjelang Perang Dunia ke II. Diantara mereka adalah R.S Stockvis & Zonnen Ltd, yang tidak saja mengurus pesanan mobil-mobil Eropa maupun Amerika tetapi juga menyediakan suku-suku cadang lain yang diperlukan untuk mobil dan motor. Juga nama Verwey & Lugard dan Velodrome yang berkantor pusat di Surabaya. 

Nama-nama lain yang kurang menerima pesanan impor seperti pemilik mobil O'herne yang juga memiliki mobil Peugeot juga akhirnya berminat menjadi perantara importir mobil seperti merk yang dimilikinya. Juga nama H.Jonkhoff yang berangkat dari pengusaha Piano kemudian menanamkan modalnya untuk bertindak sebagai agen impor mobil dari Amerika seperti merk Ford, Studebaker dan mobil-mobil keluaran Jerman, Darraq, Benz, Brasier, Berliet dan lainnya. Ada juga usaha untuk mendatangkan mobil-mobil Italia dan Perancis yang pada saat itu di Batavia kurang mendapat pasaran.


Namun ternyata, setelah ditangani dengan publikasi/promosi yang baik produksi kedua negara tersebut jadi banyak dibeli, terutama mobil merk Fiat yang mungil bentuknya namun bertenaga besar. Cabang para importir mobil tersebut bukan hanya di Batavia dan Surabaya, tetapi ada juga di Semarang, Bandung, Medan dan kota lainnya. Mobil Tempo Dulu

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...