primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label BUAH dan TANAMAN LANGKA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUAH dan TANAMAN LANGKA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015

UWI (Umbi Ungu) yang Langka dan berdayaguna

Tanaman Lagka

UWI (Umbi Ungu) yang Langka dan berdayaguna


Uwi merupakan jenis umbi-umbian pangan. Banyak kultivarnya yang memiliki umbi berwarna ungu sehingga dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Purple Yam dan bersifat generik. Umbi uwi yang mempunyai nama latin “Diocorea alata” ini banyak ditemukan didaerah pedesaan. 

Uwi (Dioscorea alata), atau dikenal dengan sebutan ubi saja, uwi legi, uwi manis, uwi kelapa, uwi ungu, ubi kelapa, huwi, lame (Sulawesi), ubi (Bali), lutu (Banda), same (Makassar dan Bugis), palulu luwangu (Sumba) adalah suatu ubi-ubian yang bisa dimakan dan paling digemari daripada spesies lainnya dari genus Dioscorea.

Persebaran & ekologi
Aslinya berasal dari Asia Tenggara Lalu tersebar ke India, Semenanjung Malaya, dan Pasifik.
Lagi, oleh orang Portugis dan Spanyol ke Amerika pada tahun 1500-an. 
Catatan terbaru menunjukkan, ia tersebar pula ke Florida dibawa oleh tukang bunga. Ia juga dinaturalisasikan ke utara Florida dalam jumlah banyak. Juga, di selatan Florida bisa didapati di wilayah pesisir. Di Karibia, ditanam sebagai spesies yang penting.


Di wilayah Purwodadi, sebagaimana yang dikutip dari website Kebun Raya Purwodadi, bahwasanya di Purwodadi uwi yang tumbuh di sana ada yang memang dibudidayakan, ada juga yang tumbuh liar.


Deskripsi Fisik Tanaman Uwi Ungu
  • Uwi merupakan perdu yang memanjat dan dapat mencapai ketinggian 3-10 m.
  • Tumbuhan ini semusim. berumah 2, memanjat, sistem perakarannya berserabut.
  • Umbinya beragam, bulat, pipih panjang, bercabang, atau menjari. 
  • Uwi dinamai berdasarkan bentuk umbinya. 
  • Kulit umbi berwarna coklat hingga coklat-kehitaman. 
  • Kulit umbi beralur kasar. 
  • Daging umbinya ada yang putih ungu atau warna gading. 
  • Daging umbinya berlendir.
  • Bunganya berwarna dua macam, yang jantan berwarna kuning/kuning kehijauan, sementara yang betina berwarna kuning saja. 
  • Perbungaannya majemuk, terletak di ketiak daun, bulir jantan tersusun rapat dengan ukuran 1-3 cm, sementara betina tidak. Panjangnya 12-50 cm, mahkotanya hijau, panjangnya ± 2 mm.
  • Batangnya bersayap 4,
  • Memanjat ke kanan, tidak berduri tetapi kadangkala kasar atau berbintik di bagian dasar, bersudut 4 dan berwarna hijau sampai keunguan. 
  • Daunnya berbentuk bulat telur, tunggal, berseling di bagian dasar, berhadapan dibagian atas, agak seperti anak panah atau melonjong seperti tombak, hijau terang atau seringkali agak keunguan. Berukuran 15-20 cm × 10-15 cm. Bentuk pertulangannya melengkung, dan licin.

Bisa dibedakan dengan gembili. Yang mana, umbi gembili lebih kecil dengan daun yang berselang-seling. Juga bisa dibedakan dengan Dioscorea floridana Bartl. dan D. quaternata (Walt.) Gmel., yang tumbuh di dataran banjir (floodplain) dengan daun yang berbentuk perisai dengan panjang setidaknya 15 cm.

Umbi uwi kini mulai dilupakan oleh masyarakat dikarenakan sekarang sudah banyaknya makanan yang beredar di masyarakat yang rasanya lebih enak diterima lidah manusia. 

Sering kita dengar hal yang aneh ketika kita mengkonsumsi aneka ragam produk pangan yang sudah jarang didapat. Jika makanan seperti umbi-umbian (umbi uwi) tersedia di sebuah rumah tembok kalangan menengah ke atas diartikan penghuni tersebut sedang menikmati makanan tradisional, bernostalgia, atau mencicipi makanan langka. Namun jika makanan seperti umbi uwi di sebuah rumah kayu keluarga miskin diartikan bahwa keluarga tersebut memang benar-benar miskin hingga tak mampu membeli beras, ataupun camilan roti.

Kegunaan
Di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam dan juga Papua Nugini dianggap sangat penting sebagai makanan. 
Di Kepulauan Banggai, uwi merupakan makanan pokok masyarakat, selain itu juga huwi masih digunakan dalam barter barang dengan masyarakat luar. Umbi dan kuncup daunnya setelah dimasak dengan berbagai cara dikonsumsi sebagai bahan makanan tambahan. Umbinya dapat diproses sebagai tepung atau serpihan/potongan-potongan tipis; merupakan sumber tepung minor. Kultivarnya dengan umbi yang berwarna ungu digunakan dalam pembuatan es kream dan permen.
Di Papua Nuigini, digunakan juga dalam upacara adat. Umbi memiliki rasa yang hambar dengan tekstur umbi pulen. Dibudidayakan untuk bahan pangan.

Di Afrika Barat dan Filipina, umbi uwi dipergunakan untuk industri pembuatan pati dan alkohol. Salah satu kultivarnya digunakan untuk membuat es krim. Di musim kemarau, ia disimpan di tempat kering, di atas perapian dekat dapur, ataupun disimpan dengan abu.


Padahal umbi uwi merupakan makanan alternative pengganti karbohidrat yang menyehatka karena didalamnya terdapat kandungan-kandungan yang berguna bagi tubuh kita dan juga cocok bagi penderita Diabetes mellitus. 

Di Filipina uwi dimasak dengan gula dan dijadikan dessert atau selai yang dinamakan ube halaya. Uwi juga menjadi bahan baku utama dessert yang dinamakan halo-halo. Penggunaan masa kini bahkan dipakai sebagai komponen rasa bagi es krim, susu, kue tar, serta cake. Walaupun umbi uwi jarang kita temukan dipasar-pasar menengah keatas, akan tetapi karena umbi uwi merupakan tanaman yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tinggi sehingga sekarang masih dapat dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Sebenarnya kalau kita cermati pada musim kemarau walaupun anomali cuaca membuat hujan sesekali turun di beberapa tempat dan menyebabkan banjir. Salah satu kekawatiran yang muncul saat menghadapi musim kemarau ialah bencana kelaparan akibat kekeringan di beberapa wilayah. Kekeringan membuat tanaman (pangan) tak sanggup bertahan hidup, kelangkaan pangan pun terjadi saat dimana kekawatiran akan langkanya pangan, justru saat itulah banyak umbi-umbian yang siap untuk dipanen seperti umbi uwi.

Keunggulan
Ada beberapa keunggulan/khasiat umbi uwi diantaranya:

  • Dalam pengobatan tradisional Sumba, akar uwi dengan kepleng [Sumba:rau kabungggulu] (Stephania japonica), bawang putih, umbi jeringau [Sumba:hikiluare] (Acorus calamus) direbus dalam air bersih hingga mendidih dan diminum 2-3 kali sehari, sebanyak segelas.[8]
  • Dapat menjadi bahan pangan yang aman bagi penderita diabetes karena mengandung kadar gula rendah.
  • Mudahnya pengolahan uwi menjadi tepung, cukup menggunakan metode tradisional. Cara pembuatannya:
  • Uwi diparut kasar, kemudian direndam dengan air kapur untuk memisahkan parutan dengan getahnya. Air getah uwi itu bisa untuk pestisida yang ramah lingkungan,"
  • Parutan yang sudah dikeringkan, dapat langsung diolah menjadi tepung.
  • Tepung dari uwi ini dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai macam makanan, seperti kue dan mie. Rasa tepungnya sendiri tawar, jadi gampang divariasikan.
  • Sebagai obat bengkak. cara pembuatannya: Untuk obat bengkak dipakai ± 100 gram Uwi basah, dicuci dan ditumbuk halus, dibalurkan pada bagian yang bengkak.
  • Mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tinggi.
  • Kandungan kimiawi : alkaloida, saponin, flavonoida, politenol.
  • Glikemik rendah (lebih rendah dari nasi), sehingga dapat digunakan sebagai alternatif makanan sumber karbohidrat yang bermanfaat bagi kesehatan. Cocok dikosumsi bagi penderita Diabetes mellitus.

Uwi-uwian (Dioscorea) : 
Pangan Alternatif yang Belum Banyak Dieksploitasi
Ketahanan pangan adalah tersedianya pangan yang cukup, merata dan terjangkau dan setiap orang mampu mengkonsumsi pangan, yang aman, dan  bergizi sesuai pilihannya guna menjalani kehidupan sehat dan produktif. Salah satu kebijakan ketahanan pangan adalah penganekaragaman konsumsi pangan. 

Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa ketahanan pangan yang hanya bergantung pada satu jenis pangan rentan terhadap perubahan lingkungan global. Saat ini mulai sering terjadi kekeringan dan musibah banjir sebagai dampak perubahan iklim global, dan berpengaruh terhadap ketersediaan pangan yang terbatas dengan harga yang semakin mahal dan tidak terjangkau penduduk berpenghasilan rendah. Pada kondisi demikian, perlu alternatif pangan murah, terjangkau dan tersedia. Tanaman uwi-uwian (Dioscorea)merupakan tanaman sumber karbohidrat dan sudah dikenal lama penduduk Indonesia, namun terdesak oleh komoditas pangan yang bernilai ekonomis. 

 Uwi-uwian (Dioscorea) secara alami bersifat toleran naungan dan kekeringan, hidup merambat dan menghasilkan umbi di dalam tanah. Sebagai bahan pangan tradisional, uwi-uwian juga potensial sebagai bahan pangan fungsional. Umbi Dioscorea mengandung lendir kental yang terdiri dari glikoprotein dan polisakarida larut air. Glikoprotein dan polisakarida merupakan bahan bioaktif yang berfungsi sebagai serat pangan larut air dan bersifat hidrokoloid yang bermanfaat untuk menurunkan kadar glukosa darah dan kadar total kolesterol, terutama kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein).

Tanaman uwi-uwian tumbuh melilit pada tanaman keras, biasanya mulai tumbuh pada musim hujan dan pada musim kemarau mulai dipanen, namun di lapang tidak selalu ada di setiap musim. Spesies uwi-uwian terdiri dari Dioscorea bulbifera (huwi buah), Disocorea nummularia (huwi upas), Dioscorea pentaphylla  (huwi sawut/fibrous yam), Dioscorea pentaphyla,  Dioscorea alata, Dioscorea esculenta(gembili), Disoscorea hispida (gadung), dan beberapa sub spesies lainnya. Secara umum yang membedakan satu dengan sub spesies lainnya adalah arah lilitan batang, bentuk batang, ada tidaknya duri pada batang, bentuk dan jumlah helaian daun, ada tidaknya buah di atas atau biasa disebut “katak” atau “aerial bulbil”.

Jenis uwi yang masih terdapat di pasar lokal, khususnya di Pulau Jawa adalah gadung, gembili dan uwi dengan nama daerah yang terkadang sama namun jenisnya berbeda.  Gadung biasanya dipasarkan dalam bentuk keripik, sedangkan uwi dan gembili dipasarkan dalam bentuk umbi segar. Hingga tahun 1980-an uwi-uwian masih menjadi cadangan pangan penting pada musim paceklik (krisis pangan). Dengan kemajuan ekonomi,  sebagian besar masyarakat beralih ke nasi, dan uwi-uwian jarang dikonsumsi, kecuali kripik gadung masih dijumpai di pasar. Tersingkirnya tanaman uwi-uwian akan diikuti oleh musnahnya gen-gen berguna yang terkandung di dalamnya. Karenanya, upaya konservasi tanaman uwi-uwian melalui kegiatan koleksi, diteruskan dengan karakterisasi dan penelitian lainnya terutama pengembangan produk. Dari tepung uwi-uwian dapat dibuat aneka produk pangan “modern” sehingga secara potensial dapat  dikembangkan dalam industri pedesaan. Tanaman uwi-uwian dapat ditanam di pekarangan guna menopang kebutuhan pengembangan produk di pedesaan.

Koleksi plasma nutfah uwi-uwian di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian sebanyak 64 aksesi menunjukkan adanya  keragaman bentuk daun, bentuk ujung daun, warna daun, warna tulang daun, warna tangkai daun, warna tepi daun, bulu pada daun, dan permukaan daun. Dari karakteristik batang, daun, dan umbi teridentifikasi bahwa koleksi  terdiri dari Dioscorea esculenta, Dioscorea alata, dan Disoscorea hispida. Selain itu, terdapat pula Dioscorea bulbifera, Dioscorea pentaphylla, dan Dioscorea nummularia.Keragaman uwi-uwian tersebut terlihat pada arah lilitan batang (searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam), batang ada yang berduri dan tidak berduri, bentuk dan ukuran daun beragam, serta ada tidaknya buah di atas (aerial bulbil) (Gambar 1).
Gambar 1. Koleksi plasma nutfah aneka uwi-uwian (Dioscorea)
Gambar 1. Koleksi plasma nutfah aneka uwi-uwian (Dioscorea)

UWI (Umbi Ungu) yang Langka dan berdayaguna

Jumat, 21 Februari 2014

Buah Parijotho "Buah Khas Lereng Pegunungan Muria" Penuh dengan Mitos

Buah dan Tanaman Langka 

Buah Parijotho "Buah Khas Lereng Pegunungan Muria" Penuh dengan Mitos

Bila anda berkunjung ke kawasan wisata religi makam Sunan Muria yang terletak sekitar 18 Km ke arah utara dari pusat kota Kudus, tepatnya di kawasan Pegunungan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe Kudus, dengan ketinggian yang mencapai ± 800 m dpl, anda akan menemukan buah parijoto yang dijajakan sepanjang jalan menuju makam Sunan Muria. “Bentuknya itu bulat seperti klenteng (red, biji pohon randu) lebih besar sedikit ukurannya, dan berwarna menarik”

Tanaman khas yang tumbuh melimpah ruah di pegunungan muria itu, konon memiliki mitos yang turun temurun sejak dahulu kala. “katanya kalau dimakan ibu hamil nanti anaknya yang lahir akan menjadi ganteng jika laki-laki, dan ayu jika perempuan”
Harga satu ikat kecil Parijoto dijual seharga Rp 5.000 ,-, sedangkan seikat agak besar dihargai cukup Rp 10.000 ,-. “nek sak ombyok regane rong puluh ewu mbak,” terang Muti’ah pedagang asal Desa Japan yang sudah berjualan selama sepuluh tahun dan biasa buka dari jam 08.30 WIB hingga pukul 17:00 sore.
Karena rasanya yang asam, pahit dan tidak enak jika dimakan langsung, biasanya ibu yang hamil menyiasatinya dengan cara dibuat rujak, pecel atau direbus sebelum parijoto tersebut dikonsumsi. Umumnya ibu-ibu hamil yang mengonsumsi parijoto saat usia kandungannya mencapai lima bulan ke atas, namun ada pula yang sudah mengonsumsi buah yang tumbuh di dataran tinggi di kawasan lereng gunung Muria itu pada usia kehamilan baru mencapai dua hingga tiga bulan.

Buah dengan nama latin Medinella speciosa L. ini secara medis sebenarnya memiliki kandungan bahan kimia saponin dan kardenolin pada daun dan buahnya, sedangkan pada buahnya mengandung flavonoid dan daunnya mengandung tannin yang berkhasiat sebagai obat sariawan dan obat diare. Anda penasaran untuk mencoba kahsiat buah unik asal Muria yang satu ini? Mempercantik keturunan atau sekadar obat diare dan sariawan semata

Tanaman Parijoto(medinilla speciosa)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Parijotho mengandung zat kimia berupa kardenolin, saponin, flavonid dan tanin. Inilah kenapa Parijotho sangat dianjurkan sebagai penambah nutrisi bagi ibu yang sedang mengandung. Selain berkhasiat mendatangkan keturunan bagi mereka yang belum memilikinya dan menjadikan buah hati terlahir cantik jelita atau tampan rupawan, kandungan Parijotho juga dapat mengobati diare serta sariawan. Tak heran jika dari sekian banyak orang yang pernah berkunjung atau berziarah ke Muria, nyaris tidak ada yang pernah melewatkan kesempatan untuk membawa pulang buah ini.


Spesifikasi tanamannya,Perdu, tegak, tinggi 1-2 meter.
Habitat;Merupakan tumbuhan liar di lereng-lereng gunung atau di hutan-hutan dan kadang dibudidayakan sebagai tanaman hias. Tumbuh baik pada tanah yang berhumus tinggi dan lembab, pada ketinggian 800 m sampai 2.300 m di atas permukaan laut. Berbunga pada bulan November-Januari dan waktu panen yang tepat bulan Maret-Mei.
Parijoto banyak dijumpai di desa-desa di lereng Gunung Muria, di lereng Ungaran, di daerah Dataran Tinggi Dieng, dan juga banyak dijumpai di daerah Gunung Perahu,Pegunungan Pakuwojo, serta Pegunungan Nganjir dan sebagian di gunung Andong Magelang

Obat sariawan :
buah parijoto segar sebanyak 5 gram,dicuci, ditumbuk halus dan larutkan dalam 100 ml air matang kemudian gunakan untuk berkumur-kumur, sedangkan sisanya diminum.
Obat diare :

daun parijoto segar sebanyak 20 gram,dicuci direbus. dengan 400 ml air sampai mendidih selama 15 menit, disaring, setelah dingin diminum 2 kali sehari pagi dan sore.

Minggu, 09 Februari 2014

Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) Kegemaran Para Raja dan Putri Keraton

Buah dan Tanaman Langka 

Buah Kepel (Stelechocarpus burahol)

Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) Kegemaran Para Raja dan Putri Keraton

Kepel adalah nama pohon dan buah yang mempunyai nama ilmiah Stelechocarpus burahol. Tumbuhan penghasil buah yang menjadi kegemaran para Raja dan putri keraton Jawa sejak jaman dulu ini kini termasuk salah satu tanaman langka di Indonesia. 

Pohon Kepel yang dipercaya mempunyai nilai filosofi adhiluhung ini merupakan flora identitas provinsi Daerah Istimewa Jogyakarta dan Surakarta.
Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) di beberapa daerah di Indonesia dikenal juga sebagai buah dan pohon kecindul, cindul, simpol, burahol, dan turalak. Dalam bahasa Inggris tumbuhan langka ini dikela sebagai Kepel Aple. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) disebut Stelechocarpus burahol.

Pohon Kepel menjadi kegemaran para raja dan putri keraton di Jawa selain lantaran memiliki nilai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik, buah kepel juga dipercaya mempunyai berbagai khasiat dibidang kecantikan. Buah Kepel telah menjadi deodoran (penghilang bau badan) bagi para putri keraton. Sayang justru karena itu masyarakat jelata tidak berani menanam pohon ini sehingga menjadi langka.



Pohon Kepel, diadopsi sbg identitas kota Jogjakarta, selain pohon Sawo Kecik dan Tanjung.Ciri-ciri Kepel. Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) mempunyai tinggi hingga 25 m dengan diameter batang mencapai 40 cm. Pada kulit batangnya terdapat benjolan-benjolan. 

Benjolan-benjolan ini merupakan bekas tempat bunga dan buah karena bunga dan buah kepel memang muncul di batang pohon bukannya di pucuk ranting atau dahan.

Daun Kepel tunggal, lonjong meruncing dengan panjang antara 12 – 27 cm dan lebar 5 – 9 cm. Warna daun Kepel hijau gelap. Bunga berkelamin tunggal, harum. Bunga jantan terdapat pada batang bagian atas atau cabang yang tua bergerombol antara 8 sampai 16. Sedangkan bunga betina hanya terdapat pada batang bagian bawah.

Pohon kepel (Stelechocarpus burahol)
Buah Kepel tumbuh memenuhi batang pohonnya. Bentuk buah Kepel bulat lonjong dengan bagian pangkal agak meruncing. Warna buah Kepel (Stelechocarpus burahol) coklat agak keabu-abuan, dan ketika sudah tua akan berubah menjadi coklat tua. Daging buah berwarna agak kekuningan sampai kecoklatan membungkus biji yang berukuran cukup besar. Rasa buah Kepel manis.

Habitat dan Persebaran. Pohon Kepel atau Burahol tersebar di kawasan Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Indonesia hingga Kepulauan Solomon bahkan Australia. Di Indonesia, terutama di Jawa, Pohon Kepel mulai jarang dan langka.
Pohon Kepel dapat tumbuh di habitat yang berupa hutan sekunder yang terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.

Konservasi Pohon Kepel. Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) menjadi salah satu pohon yang langka. Kelangkaan tanaman ini lebih disebabkan oleh adanya anggapan pohon ini sebagai pohon keraton yang hanya pantas di tanam di istana. Rakyat jelata, khususnya masyarakat Jawa akan merasa takut mendapatkan tuah (kuwalat) jika menanam pohon ini.

Selain itu, sebagian masyarakat juga merasa buah ini malas untuk membudidayakannya. Meskipun memiliki rasa yang manis tetapi sebagian besar isi buah dipenuhi biji sehingga mengurangi minat orang untuk membudidayakannya.

Kini, pohon langka ini masih dapat ditemui di kawasan keraton Yogyakarta, TMII, Taman Kiai Langgeng Magelang, dan Kebun Raya Bogor.
Filosofi dan Manfaat Kepel. Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) yang buahnya seukuran kepalan tangan orang dewasa mempunyai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik karena seperti tangan yang terkepal.
Buah Kepel sejak zaman dahulu telah dipergunakan oleh para putri keraton sebagai penghilang bau badan dan pewangi badan. Selain itu juga dipercaya sebagai salah satu sarana kontrasepsi sebagai sterilitas wanita (KB).



Daging buah kepel dipercaya mempunyai khasiat memperlancar air kencing, mencegah inflamasi ginjal. Kayu pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) dapat digunakan sebagai bahan industri atau bahan perabot rumah tangga  dan bahan bangunan yang tahan lebih dari 50 tahun. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol.

Sebuah ironi, pohon Kepel yang sarat filosofi dan manfaat lagi digemari oleh para putri keraton justru pohon tersebut menjadi langka dan terancam punah lantaran rakyat jelata takut kuwalat jika ikut menanamnya. 

Adakah ini menyiratkan kepada kita bahwa kita tidak boleh terlalu menggantungkan asa pada para penguasa. Kitalah, segenap rakyat yang bisa menentukan lestari tidaknya alam ini termasuk pohon Kepel, pohon Burahol.

Tanaman Khas Rembang "Pohon Kawis/Kawista" COLA VAN JAVA

Buah Langka 

"Pohon Kawis/Kawista"

Tanaman Khas Rembang  
"Pohon Kawis/Kawista"
Kawis alias kawista (Limonia acidissima), nama buah unik yang mungkin jarang diketahui oleh orang. Buah yang khas dengan aroma yang menusuk hidung dan warna daging buah yang coklat kehitaman. Bahkan apabila kita mendapatkan kawis yang benar-benar telah matang, warna daging buahnya akan hitam kelam.

Menurut Wikipedia, kawis termasuk pohon yang tahan banting. Buah Kawis mampu hidup di daerah dengan curah hujan rendah alias lahan kering, selain itu mampu bertahan pada tanah dengan salinitas yang tinggi. kawis juga dapat dimanfaatkan sebagai batang bawah dalam okulasi tanaman jeruk. Okulasi ini menghasilkan Kajer alias kawis jeruk.


Kawista (Limonia acidissima syn. Feronia limonia) adalah kerabat dekat maja dan masih termasuk dalam suku jeruk-jerukan (Rutaceae). Tumbuhan yang dimanfaatkan buahnya ini sudah jarang dijumpai meskipun sekarang beberapa daerah mulai mengembangkannya. Kawista relatif tahan kondisi buruk (kering atau tanah salin) dan tahan penyakit. Asalnya adalah dari India selatan hingga ke Asia Tenggara dan Jawa.

Kawista dapat digunakan sebagai batang bawah bagi jeruk, namun mempengaruhi rasa buah jeruk yang dihasilkan. Buah jeruk semacam ini dikenal sebagai “kajer” (dari “kawista” dan “jeruk”) dan bisa ditemui di Galis, Madura. Di Kabupaten Rembang dikembangkan sirup kawista. Orang Jawa menyebutnya kawis.

Menurut Sentra Informasi Iptek, Setiap 100 g bagian daging buah yang dapat dimakan mengandung: 74 g air, 8 g protein, 1,5 g lemak, 7,5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Dalam 100 g bagian biji yang dapat dimakan terkandung: 4 g air, 26 g protein, 27 g lemak, 3 5 g karbohidrat, dan 5 g abu. Daging buah yang kering mengandung 15% asam sitrat dan sejumlah kecil asam-asam kalium, kalsium, dan besi. Kayu kawista berwarna putih kekuningan, keras, agak berat, dan berserat kasar, tetapi urat kayunya rapat dan dapat dipolis sampai berkilap.
Ciri-ciri pohon Kawista
Pohon Kawista (Kawis) menyukai daerah kering. Batangnya relatif kecil dan bisa mencapai tinggi hingga 12 meter dengan cabang dan ranting yang ramping, serta memiliki kebiasaan meluruhkan daunnya. 

Cabang pohon Kawista (Limonia acidissima) biasanya ditumbuhi duri. Daunnya majemuk berukuran panjang hingga 12 centimeter, dan anak daunnya berhadapan, dua sampai tiga pasang. 

Bunga Kawista biasanya bergerombol dengan warna putih atau hijau dan kemerahan. Bunga keluar dari ketiak daun atau terletak di ujung ranting. Buah Kawista berbentuk bulat, berkulit keras dan bersisik, dan berwarna coklat putih. Daging buahnya berbau harum berwarna coklat kehitaman. Buah Kawista yang telah cukup masak akan jatuh dengan sendirinya. 

Karena kulit buahnya yang keras, meskipun jatuh buah ini tidak akan rusak.

Masyarakat Rembang tentu mengenal buah karena banyak terdapat pohon kawis di pekarangan rumah-rumah. Pohonnya tumbuh tinggi menjulang, bahkan kelewat tinggi. Pohon ini kebanyakan tumbuh liar, tetapi ada juga yang membudidayakan kawis. Sehingga sekarang sudah mulai dikenal di berbagai daerah di luar rembang.

Habitat dan Penyebaran Kawista

Pohon Kawista tumbuh di daerah tropis dengan kondisi tanah yang kering. Tumbuhan penghasil buah ini merupakan tanaman dataran rendah yang mampu tumbuh hingga pada ketinggian 400 mdpl. Kawista tumbuh alami di daerah Sri Lanka, India, Myanmar, dan Indocina, kemudian menyebar hingga ke Malaysia dan Indonesia. Pohon Kawista juga sudah diintrodusir ke Amerika. Di Indonesia, Kawista tumbuh alami di daerah pesisir utara pulau Jawa.

Buah ini bisa diklaim sebagai buah asli Rembang, Jawa Tengah. Entah benar atau tidak, namun sangat wajar apabila buah ini bisa menyebar hingga ke daerah sekitarnya di pesisir utara Jawa seperti Pati dan Tuban.

Bagaimana cara memanen kawis? Sabar kuncinya. Kenapa? Buah yang siap konsumsi adalah buah yang telah benar-benar masak. Tanda buah yang telah masak sempurna adalah telah jatuh dari pohonnya. Ingat, syarat “telah jatuh dari pohonnya” adalah dengan cara alami. Jatuh dari ketinggian tidak berarti akan menurunkan kualitas buah ini. Kulit buah yang sangat keras membuat kawis tetap aman mendarat ke permukaan bumi.
Bagaimanakah pemanfaatan 
buah Kawista ini?
Buah Kawista dapat dimakan langsung. Atau diolah menjadi berbagai komoditas seperti sirup dan dodol. Selain itu Buah kawista yang matang dipercaya mampu menjadi obat menurunkan panas dan sakit perut, serta dimanfaatkan sebagai tonikum. Kulit batang pohon Kawista dipercaya juga dapat menjadi campuran jamu untuk mengatasi haid yang berlebihan, gangguan hati, mengatasi mual-mual, bahkan untuk mengobati luka akibat gigitan serangga.

Cara menikmati KAWIS secara tradisional adalah dengan membantingnya hingga retak kemudian setelah terbelah, dagingnya dikeruk ke dalam gelas, ditaburi gula pasir, lalu dimakan, atau agar lebih joss dapat ditambah es dan sedikit air seperti limun. Keunikan rasa Kawista ini akhirnya dilirik oleh pasar dan dikembangkanlah sirup Kawista, dirintis di Rembang dan kini menjadi oleh-oleh khas serta identitas daerah Rembang, daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur di Pantai Utara.

Bagaimana cara menikmatinya? Gampang saja!
Ambil buah kawis, pegang erat, sempatkan menghirup aroma khas buah ini dengan mendekatkan pangkal buah ke hidung anda. Hirup dalam-dalam… Ahhh…

Setelah puas dengan aroma terapi kawis, segera cari permukaan lantai yang keras dan bersih. Dengan gerakan lambat namun bertenaga, hantamkan buah kawis ke lantai hingga terbelah menjadi dua bagian. Prakkk…. Hmmmm… Coklat kehitaman bahkan mungkin hitam legam daging buah kawis akan membelalakkan mata. Daging buah bercampur dengan sedikit biji dan serat daging siap untuk kita santap.


Untuk menambah sensasi rasa, biasanya saya menambahkan gula pasir beberapa sendok. Ya, tinggal kita aduk rata daging buah tersebut dengan gula pasir. Gak usah memakai piring! Lebih alami apabila makan langsung dari batok kulit buah kawis ituh.

Bagaimana dengan bijinya? Tekstur biji yang tidak keras, memungkinkan kita untuk mengunyahnya bersama dengan daging buah dan juga serat yang ada. Tidak ada rasa pahit sama sekali.
Habitat dan Penyebaran Kawista. Pohon Kawista tumbuh di daerah tropis dengan kondisi tanah yang kering. Tumbuhan penghasil buah ini merupakan tanaman dataran rendah yang mampu tumbuh hingga pada ketinggian 400 mdpl.

Kawista tumbuh alami di daerah Sri Lanka, India, Myanmar, dan Indocina, kemudian menyebar hingga ke Malaysia dan Indonesia. Pohon Kawista juga sudah diintrodusir ke Amerika. Di Indonesia, Kawista tumbuh alami di daerah pesisir utara pulau Jawa.

Pemanfaatan Kawista. Di Indonesia pohon Kawista belum banyak dibudidayakan dan sekedar tumbuh alami secara liar di pekarangan dan kebun. Padahal dibeberapa negara seperti Sri Lanka, Kawista telah dibudidayakan bahkan buah Kawista yang diolah menjadi menjadi krim kawista menjadi salah satu komoditas eksport.

Buah Kawista dapat dimakan langsung. Atau diolah menjadi berbagai komoditas seperti sirup dan dodol. Selain itu Buah kawista yang matang dipercaya mampu menjadi obat menurunkan panas dan sakit perut, serta dimanfaatkan sebagai tonikum.

Kulit batang pohon Kawista dipercaya juga dapat menjadi campuran jamu untuk mengatasi haid yang berlebihan, gangguan hati, mengatasi mual-mual, bahkan untuk mengobati luka akibat gigitan serangga.
Sayangnya tidak banyak yang mengenal dan membudidayakan pohon Kawista. Pohon dan buah Kawista ini memang kalah populer dengan aneka buah lainnya, tetapi bukankah ini juga termasuk salah satu kekayaan yang menunggu eksplorasi kita. Sri Langka saja mampu mengekspor buah ini kenapa kita tidak?

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Sapindales; Famili: Rutaceae; Genus: Limonia; Spesies: Limonia acidissima; Nama binomial Limonia acidissima


COLA VAN JAVA, begitulah nama sirup Kawista ini populer di kalangan masyarakat Internasional. Begitu dituang ke dalam segelas air akan muncul gelembung-gelembung layaknya minuman bersoda, dan ada sensasi mengigit di lidah serta gas yang menyelusup hidung ketika kita meminum sirup kawista ini, persis seperti ketika kita minum cola berkarbonasi. 

Amerika, Finlandia, dan Jepang adalah sederet tujuan ekspor produk sirup Kawista ini. ‘Rasa menggigit pada minuman kola dan kawista kemungkinan muncul dari senyawa berbentuk kristal yang berubah menjadi gas CO2 saat diolah,’ kata Dr Ir Raffi Paramawati, ahli teknologi pangan dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang, Banten. Sayangnya tidak banyak yang mengenal dan membudidayakan pohon Kawista. Pohon dan buah Kawista ini memang kalah populer dengan aneka buah lainnya, tetapi bukankah ini juga termasuk salah satu kekayaan yang menunggu eksplorasi kita.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...