primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label BLAMBANGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLAMBANGAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2014

Legenda Damarwulan dan Minakjinggo

Legenda Nusantara 

Legenda Damarwulan dan Minakjinggo

Legenda Damarwulan dan Minakjinggo

Pada abad 15, Majapahit menguasai Nusantara, dengan angkatan lautnya yang kuat, kekuasaannya meliputi Amuri disebelah Barat dan Wari di sebelah Timur, bahkan Cempa dan Malaka masuk kekuasaan Majapahit. Kejayaan Majapahit ditulis oleh Empu Prapanca dalam buku Negara Kertagama pupuh 13 dan 14.

          Majapahit berdiri pada tahun 1292 M, namun Raden Wijaya sang pendiri Majapahit setelah mangkat tahun 1309 M, majapahit dipimpin oleh putra mahkota yaitu Jayanegara sampai tahun 1328 M. Jayanegara tidak mempunyai putra mahkota  maka Majapahit dipimpin oleh Ratu Tribhuwana Tunggadewi Jaya Wisnu Wardhani.

          Pada saat itu, Blambangan yang dipimpin Minak Jinggo, wilayah kekuasaannya meliputi Daha, Padang Lembada, Pabayeman, Gending, Lumajang, Pejarakan, Ketah dan Sadeng. Minak Jinggo dengfan bala tentaranya yang kuat, serta kepemimpinannya yang bijaksana, rakyatnya menjadi makmur dibawah Panji – Panji Blambangan, membawanya pada puncak kejayaannya.

Episode 1

  1. Alkisah dahulu di ujung pulau jawa ini ada sepasang pertapa Ki Lempidi  & Nyi Lempidi di Alas Purwo. Lama tidak punya anak, tiba – tiba ada wisik jika di usia yang sudah tua itu karena kesabaran & selalu berdo’a ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki – laki yang gagah & tampan, tabiatnya seperti Ki Lempidi, ilmu – ilmunya di turunkan pada anaknya itu,. Anak laki – laki itu diberi nama Joko Marcuet.
  2. Joko marcuet dititipkan untuk diasuh oleh Ki Ajar Pamengger, akhirnya karena cerdas & cepat menerima ilmu Ki Ajar Pemengger, Joko Marcuet diperintah untuk bertapa. Ternyata dalam pertapaannya, ia mendapatkan Wesi Kuning sebagai senjata yang sangat ampuh yang ia letakan di keningnya ( ubun – ubun ) juga ia mendapatkan wisik bahwa meskipun ia sakti ia akan mati dari keturunan-nya sendiri jika ia berbuat jahat.
  3. Joko Marcuet dinikahkan dengan kelonosasi yakni cucu ki Ajar Pamengger yang terkenal sebagai sesepuh ditelatah blambangan yang pernah membantu Majapahit dalam mempertahankan serangan musuh dari luar. Kelonosasi hamil 7 bulan, Joko Marcuet teringat saat ia bertapa dan mendapatkan wangsit bahwa kesaktiannya dan matinya dari anaknya sendiri.
  4. Gusar hati Joko Marcuet ingin membunuh anak yang dikandung istrinya. Ia perintahkan Angkat Buto dan Renggut Muko untuk membunuh Kelonosasi di hutan.
  5. Tidak tega untuk membunuh kelonosasi yang tak berdosa, Angkat Buto dan Renggut Muko merencanakan mengembalikan kelonosasi kepada Ki Pamengger tanpa pengetahuan Joko Marcuet.
  6. Ketika tiba dihadapan Ki Pamengger dengan cerita dari Renggut Muko dan Angkat Buto mengenai Kelonosasi yang akan dibunuh, hilang kesabaran Ki Pamengger. Namun hati Ki Pamengger jadi lunak setelah di ingatkan oleh cantriknya bahwa ini adalah ujian semata.
  7. Akhirnya Kelonosasi tinggal bersama Ki Pamengger, setelah itu Renggut Muko & Angkat Buto menghadap Joko Marcuet dan menceritakan bahwa istrinya sudah dibunuh.
  8. Kelonosasi melahirkan seorang anak laki – laki tampan di beri nama Bambang Minak. Ketika menginjak bocah ia tumbuh menjadi anak cerdas, atas didikan Ki Pamengger, ia di latih ilmu kanuragan. Bambang Minak yang suka mengembara dihutan, di laut dan \gunung, ia diganti nama Joko Umbaran.
  9. Sementara Joko Marcuet dengan Wesi Kuningnya yang membuat ia sakti itu, tabiatnya bertambah menjadi beringas, bahkan ketika menguasai blambangan ia tidak mau menghadapi Majapahit, bahkan ketika menguasai blambangan ia tidak mau menghadapi Majapahit, bahkan menganiaya dan menyiksa utusan Majapahit. Dari kesaktiannya, dari kepalanya mengeluarkan tanduk dan aumannya yang seperti kerbau liar, masyarakat menamainya Kebo Marcuet.
  10. Melihat gelatin Kebo Marcuet yang membahayakan Majapahit, Kencono Wungu mengadakan sidang tentang sayembara, hadir di persidangan Patih Logender, Minak Koncar, Ki Ronggo Wulung, Kencono Wungu menegaskan lagi bahwa siapapun yang bisa mengalahkan Kebo Marcuet, jika ia laki – laki akan di jadikan suami dan di beri tanah di wilayah ujung timur Jawa.
  11. Pada saat Joko Umbaran berburu dihutan, ia mendengar bahwa ada sayembara di Majapahit, untuk menundukan Kebo Marcuet. Tanpa sepengetahuan Kelonosasi dan Ki Pamengger, Joko Umbaran pergi ke Majapahit.
  12. Pada saat persidangan, Joko Umbaran melamar sebagai peserta sayembara. Peserta sidang sangat meremehkan Joko Umbaran yang nasih belum menginjak remaja, pakaiannya terlihat dari desa tidak mungkin akan bisa mengalahakan Joko Marcuet. Joko Umbaran disiksa oleh pengawal Majapahit dan di usir untuk pulang, namun ia tetap bersikukuh bahkan hampir semua pengawal bisa dikalahkan.
  13. Minak Koncar dan Ki Ronggo Wulung member usulan ijin kepada ratu Kencono Wungu agar Joko Umbaran di beri kesempatan untuk mengikuti sayembara ini, karena anak ini mempunyai keberanian dan keteguhan hati yang mantap.
  14. Selama 9 hari Kelonosasi da Ki Pamengger menunggu dengan hati cemas karena Joko Umbaran tidak pulang dari pengembaraannya. Saat mereka berdua merenung tiba – tiba muncul Joko Umbaran dan menyampaikan bahwa ia baru menghadapkan Ratu Kencono Wungu di Majapahit dan ia terima untuk mengikuti sayembara yang akan menumpas kejahatan Kebo Marcuet.Kelonosasi menangis mendengar cerita anaknya itu, ia tahu bahwa anaknya ynag masih bocah itu tidak akan mungkin bisa mengalahkan kesaktian Kebo Marcuet yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
  15. Usai berembug antara Ki Pamengger dan Kelonosasi, akhirnya mengijinkan Joko Umbaran Untuk mengikuti sayembara itu. Ki Pamengger member keris Eluk Limo ( keris lima lengkung ) Kepada Joko Umbaran berpesan agar keris ini jangan diberikan orang lain, karena keris ini yang akan membuat dirinya kuat. Usai dilangkahi tiga kali Joko Umbaran oleh Kelonosasi maka Joko Umbaran pamit dan pergi menemui Kebo Marcuet.
  16. Sebelum berangkat Joko Umbaran meninggalkan tanaman bunga dan berpesan pada ibunya, bahwa jika tanaman bunga ini layu atau mati itu tandanya ia mati atau kalah dalam perang, tapi jika bunga itu tetap segar dan meraka maka dirinya akan menang dalam peperangan melawan Kebo Marcuet.
  17. Didalam perjalanan Joko Umbaran bertemu seorang pencari Legen ( penderes aren ). Karena kehausan dan melihat penderes yang bernama Dayun yang sopan itu, keris pemberian Ki Pamengger dititipkan kepada Dayun hanya untuk ganti sekedar minum. Pertemanan dua orang ini begitu akrab, setelah mendengar niat Joko Umbaran melawan Kebo Marcuet yang sakti itu, Dayun merasa terpenjarat dan ingin menemani Joko Umbaran.
  18. Joko Umbaran menghadap Kebo Marcuet dan mengatakan keinginannya untuk mengikuti sayembara. Kebo Marcuet sangat meremehkan Joko Umbaran yang masih kelihatan kekanak – kanakan itu tidak mungkin bisa mengalahkannya. Peperangan terjadi, kegesitan Joko Umbaran belum mengimbangi keberingasan Kebo Marcuet. Dan akhirnya, Joko Umbaran dibanting ke tanah terjatuh pingsan tidak berdaya dan ditinggalkan begitu saja di alun – alun oleh Kebo Marcuet.
  19. Kelonosasi memeluk tubuh Joko Umbaran yang lunglai di alun – alun. Ki Pamengger menghampiri Joko Umbaran yang pingsan, dengan kesaktiannya dia membangunkan Joko Umbaran membuatnya segar kembali.
  20. Tidak tega hati Ki Pamengger melihat cucunya jadi bulan – bulannan Kebo Marcuet dalam duelnya, akhirnya Ki Pamengger berpesan agar Joko Umbaran dalam berperang harus melompat ke punggung Kebo Marcuet untuk mencabut Wesi Kuning dari ubun – ubunnya dan menempeleng pipi kanan Kebo Marcuet, karena disitulah kelemahannya.
  21. Mendengar nasehat Ki Pamengger, usai pamitan pada ibunya, Joko Umbaran menantang duel melawan Kebo Marcuet lagi. Petunjuk kakeknya yang selama ini di anggap ayahnya itu di terapkan dalam perang. Ketika Kebo Marcuet terjatuh lunglai akibat di tempeleng pipi kanannya serta akibat Wesi kuning yang sudah berhasil di cabut oleh Joko Umbaran dari ubun – ubunnya. Kebo Marcuet mengerang kesakitan dan merasa heran dengan bocah yang dihadapinya.
  22. Saat itu Ki Pamengger menghampirinya, ia mengingatkan tubuh Kebo Marcuet, bahwa kematiannya di tangan keturunannya sendiri. Pada waktu yang bersamaan Renggut Muko dan Angkat Buto juga bercerita pada kebo Marcuet, bahwa Kelonosasi yang saat itu sedang hamil yang akhirnya melahirkan anak laki – laki ini sebenarnya tidaklah mati mereka bunuh.
  23. Kebo Marcuet menangis menyesali perbuatannya dan minta maaf kepada istrinya Kelonosasi, Ki Pamengger, Angkat Buto, Renggut Muko dan kepada anaknya yaitu Joko Umbaran. Untuk menebus kesalahanya ia siap mati dan raganya masuk kedalam diri Joko Umbaran. Joko Umbaran baru tahu sekarang bahwa Ki Pamengger yang selama ini dikira ayahnya tapi ternyata kakeknya.
  24. Kematian Kebo Marcuet dan kesaktian Joko Umbaran terdengar di kerjaan Majapahit dan seluruh pelosok negeri. Kencono Wungu  mengutus Ki Ronggo Wulung untuk mendatangi Joko Umbaran. Joko Umbaran yang di dampingi Ki Pamengger, Kelonosasi, Angkatan Buto, Renggut Muko dan Dayun menceritakan hal ikwal tentang peperangan duelnya. Atas perintah Kencono Wungu sebagai imbalan atas kesaktian, keberanian dan keberasilannya Joko Umbaran membunuh Kebo Marcuet, maka Joko Umbaran di angkat menjadi Adi Pati Belambangan dengan nama baru “ Huru Bismo Minak Jinggo “ dengan didampingi Angkat Buto dan Renggut Muko sebagai Patih, serta Dayun sebagai penasehatnya.
  25. Usai di nobatkan jadi AdiPati Belambangan “ Huru Bismo Minak Jinggo “  mengadakan ketemuan di Pasewagan Agung dengan para punggawa, tak lupa hadir sang ibu Kolonosasi, Ki Pamengger , Renggut Muko, Angkat Buto serta Dayun. Ki Pamengger berpesan kepada Minak Jinggo, tentang garis hidup bahwa kelak ia akan mati di tangan pemuda yang disebut sebagai Lentera tanpa penyangga, dengan menggunakan Wesi Kuning karena satu – satunya pemuda itulah yang bisa mengangkatnya, Wesi Kuning akan berubah menjadi Gada sebagai senjata yang sangat mematikan. Ki Pamengger menambahakan, kesaktian Minak Jinggo hendaklah di pergunakan untuk menjaga Belambangan dari ancaman musuh serta harus di gunakan untuk menolong orang dan melindungi demi kemakmuran rakyatnya.
  26. Minak Jinggo yang tampan,gagah berani itu dalam memerintah Belambangan begitu bijaksana, Arif, penolong, cerdas, serta sangat memihak kepada rakyat hingga ia begitu dekat dan dicintai rakyatnya. Tanah Belambangan menjadi subur, rakyat makmur, tenteram dan aman. Hutan, pantai, persawahan yang hijau royo – royo menjadi andalan penyangga ekonomi rakyat. Ratu Majapahit, Kencono Wungu menjuluki Belambangan sebagi lumbung pangan kerajaan Majapahit.

Episode 2

  1. Sementara di Bali, keadaan rakyat begitu menderita, sering terjadi perampokan, pembunuhan yang dilakukan oleh perampok laut disekitar pulau bali yang di pimpin Doraraja. Raja Klungkung, I Gusti Agung merasa kewalahan menghadapi ancaman ini, ia memerintahkan pengawalnya untuk minta tolong Minak Jinggo yang sakti namun penolong itu untuk menumpas pengacau ini. Raja Klungkung tahu jika Minak Jinggo masih lajang, maka ia janjikan bahwa jika Minak Jinggo bisa mengalahkan Doraraja, dua putri raja Ida Ayu Waito dan Ida Ayu Puyengan akan diserahkan sebagai istrinya, serta separuh dari kerajaan akan diberikan Minak Jinggo sebagai hadiahnya.
  2. Terpanggil hati Minak Jinggo untuk menolong Raja Klungkung. Dengan trumpahnya ia bisa berjalan di atas air laut. Dengan Gada Wesi Kuning di tangannya Minak Jinggo dengan gagh berani mulai membasmi bajak laut menumpas habis para pengacau pengikut Doraraja  dari laut hingga pesisir pantai. Doraraja yang hampir saja menguasai istana Raja Klungkung akhirnya mati dalam duel melawan Minak Jinggo.
  3. Sorak – sorai gembira bersuka cita rakyat Klungkung mengeluh – eluhkan kehebatan Minak Jinggo yang berhasil membunuh Doraraja yang di biadab itu. Sehari kemudian di istana Raja sebagai bukti janjinya, Igusti Agung menikahkan Minak Jinggo dengan Minak Jinggo dengan ke dua putrinya yaitu Waito dan Punyengan. Sang Raja berpesan kepada Minak Jinggo bahwa kesetiaan dan pengabdia kedua istrinya itu akan menambah kesaktian Minak Jinggo. Jika ia menyia – nyiakan meraka maka kesaktiannya akan hilang, Minak Jinggo menyetujui tapi Minak Jinggo menolak untuk menerima hadiah separuh wilayah kerajaan Klungkung yang telah dijanjinkan Raja.Minak Jinggo mengajukan permintaan kepada raja Klungkung yang sudah menjadi mertuanya itu agar kerajaan Klungkung, Belambangan, dan Kerajaan Maja Pahit menjadi saudara rukun saling membantu dan tidak ada peperangan.
  4. Minak Jinggo memboyong Ida ayu Waito dan Ida Ayu Puyengan ke Belambangan. Meraka hidup dengan kasih sayang, rukun dan saling mencintai,Minak jinggo didampingi istri – istrinya yang setia itu mengadakan tilik dusun mengajari bagai mana berternak dan bertani yang baik kepada rakyat Belambangan. Rakyat mengeluh – eluhkan dan menyambut dengan hangat dan selalu berharap untuk bertemu dan berdialog dengan mereka. Ini adalah kunci mengapa Minak Jinggo berhasil memimpin rakyatnya dan membawa Belambangan yang damai, tentram serta makmur.
  5. Minak Jinggo yang bijaksana itu, sebagai rasa hormat dan pengabdian pada majapahit, hasil panen yang melimpah pajak dan upeti blambangan selalu dikirim ke Majapahit tepat waktu bahkan dilebihkan dari ketentuan yang ditetapkan. Namun semua itu tidak sampai ke ratu kencono wungu melainkan dipakai sendiri oleh patih logender dan dibuat pesta pora oleh kedua putra kembarnya, layang seto dan layang kumitir, anjasmoro putrinya hanya diberi sisanya.
  6. Keberhasilan minak jinggo memimpin blambangan dan mampu merompas perompak doraja di klungkung bali terdengar di kerajaan majapahit, patih logender mulai timbul rasa iri dan dengkinya ia mulai membuat isu dan menghasut kencono wungu di depan ki ronggo wulung, minak koncar dan para punggowo. Logender mengatakan bahwa minak jinggo dengan kesaktianya itu, menjadi sombong dan tidak pernah menyerahkan upeti ke jinggo dengan kesaktianya itu, menjadi sombong dan tidak pernah menyerahkan upeti ke majapahit, bahkan ia akan merebut tahta kerajaan dan menagih janji akan memperistri kencono wungu.
  7. Ronggo wulung menjadi murka mendengar cerita logender, ia pamit kepada kencono wungu untuk menghajar minak jinggo atas tabiatnya itu. Begitu tiba di kadipaten istana blambangan, tanpa basa basi ronggo wulung langsung menghajar minak jinggo, marah dan memaki – makinya. Minak jinggo tidak melawan, akhirnya ia bertanya pada ronggo wulung apa yang terjadi. Ronggo wulung mengatakan bahwa atas laporan logender minak jinggo itu sombong, tidak menyerahkan upeti dan akan melawan majapahit serta menagih janji akan memperistri kencono wungu. Dengan sigapnya para pengawal utusan blambangan yang selalu mengantarkan upeti ke majapahit melaporkan kepada ronggo wulung bahwa blambangan selalu memberi upeti dan bahkan berlebihan, tapi sebelum ke ratu kencono wungu selalu dihadang patih logender karena patih logender sendiri yang akan menyerahkan ke gusti ratu kencono wungu.
  8. Mendengar cerita itu ki ronggo wulung menjadi malu dan murka ia menghunus keris, matanya melotot dan mukanya merah, ia ternyata termakan hasutan cerita bohong logender, ia melihat sendiri, begitu bijaksana, penyabar dan dicintai rakyatnya minak jinggo ini, tidak seperti yang diceritakan logender. Dikira murka kepada minak jinggo, para punggawa langsung berdiri mengikuti gerak minak jinggo yang juga berdiri dihadapan pamanya itu. Ki ronggo wulung berdiri tegak dengan keris di tanganya, tidak bersuara, ia akan marah kepada siapa, membunuh siapa atau bunuh dirikah untuk menebus kesalahan dan perilakunya yang yang tak pantas di depan minak jinggo dan rakyatnya. Semua orang terkejut, ternyata ki ronggo wulung mati berdiri, minak jinggo mengutus para punggawa untuk menyerahkan jasad ki ronggo wulung ke kencono wungu di majapahit.
  9. Usai menerima jasad ki ronggo wulung yang tidak ada luka sedikitpun, gundah hati kencono wungu mendengar hasutan – hasutan logender bahwa sesudah membunuh ki ronggo wulung minak jinggo akan membunuh yang lain. Kencono wungu dalam kesendirianya, ia sering melamun, di dalam doa dan memimpin ia diberi petunjuk oleh tuhan yang maha kuasa bahwa minak jinggo kelak akan mati ditangan pemuda yang disebut sebagai Lentera tanpa penyangga, pemuda inilah yang akan menduduki tahta majapahit. Dihadapan minak koncar dan logender mimpi tadi disampaikan oleh kencono wungu. Kencono wungu berjanji, jika kelak pemuda ini berhasil membunuh minak jingo, maka ia akan dijadikan suaminya dan menduduki tahta sebagai raja majapahit. Logender diperintahkan untuk mencari pemuda yang dimaksud , pucuk dicinta ulam pun tiba, piker logender. Akal busuknya mulai mengangankan bahwa anak – anaknyalah yang akan bias mengalahkan minak jingo dan menduduki tahta majapahit.
  10. Sementara itu, di tengah desa yang sunyi, dipadepokan palu ombo, seorang pemuda tampan bernama wulan sedang dilatih ilmu kanuragan oleh gurunya yang juga ayahnya sendiri yaitu ki ageng maudoro, ia pernah menjadi pelatih kanoragan dan siasat perang di kerajaan majapahit. Dengan cepat makin hari keterampilandan kegesitan dammar wulan beserta ilmu dari ayahnya ditrapkan. Ki Ageng Tunggul Manik memerintahkan anaknya agar ngenger untuk menjadi punggawa dan tentara Majapahit dan melaksanakan dengan sabar apapun perintah majikannya. Usai pamit pada ayahnya, Damar Wulan segera berangkat menuju Majapahit.
  11. Sebelum masuk pintu regol Majapahit , Damar Wulan dihadang oleh Pahit Logender, Layang Seto dan Kumitir. Akal busuk Logender muncul,ia menurut permintaan kedua anaknya agar Damar Wulan menjadi tukang rumput, membersihkan kandanmg dan merawat kuda mereka. Perlaku Layang Seto dan Kumitir begitu tidak manusiawi terhadap Damar Wulan, ia ditendang, dianiaya dan diberi makan dari sia-sia mereka. Damar Wulan begitu sabar menjalaninya , ia selalu teringat pesan-pesan ayahnya.
  12. Putri Logender, Anjasmoro merasa iba melihat Damar Wulan ,ia dengan tanpa sepengetahuan kakak-kakaknya Layang Seto dan kumitir, Sembuni-sembunyi mengirim makanan dan menolong Damar Wulan . Melihat ketampanan dan kesabaran Damar Wulan , Anjasmoro jatuh hati dan ingin menjadikan Damar Wulan suaminya. Tapi hati Damar Wulan tidak tergerak sedikitpun mendengar pengakuan Anjasmoro.
  13. Pada suatu saat ketika Anjasmoro mengirim makanan untuk Damar Wulan, ia ketahuan kakak-kakaknya Layang Seto dan Kumitir. Mereka marah dan menghajar Damar Wulan, Anjasmoro di hajar oleh kakaknya sendiri. Keesokan harinya,Logender,layang Seto dan Kumitir memergoki Anjasmoro membawa makanan lagi untuk Damar Wulan. Tidak pikir panjang, mereka kedua dihajar oleh Setpo dan Kumitir . Atas bujukan kedua Putranya itu Logender memenjarakan Anjasmoro dan Damar Wulan. Iba hati Damar Wulan melihat Anjasmoro yang mengalami nasib begini akibat dari menolongnya dan kesetiaanya.Damar Wulan pun menerima Anjasmoro sebagai istrinya  dengan hidup sengsara didalam penjara.
  14. Patih Logender memutar otak agar tidak di pecat oleh Ratu Kencono Wungu jika ia tak biasa mendapatkan pemuda yang diharapkan . Ia akan menyerahkan Damar Wulan ke Sang Ratu, ia berfikir dan yakin bahwa  Damar Wulan pemuda desa ini akan mati di tangan Minak Jinggo. Diajaklah Damar Wulan ke istana Ratu Kencono Wungu . Dihadapkan kepada Ratu yang didampingi  Minak Koncar , dan punggawa lainnya.
  15. Di hadapan Ratu Kencono Wungu, atas pertanyaannya ,pemuda desa itu menjawab bahwa ia bernama Damar Wulan berasal dari padepokan Palu Ombo. Putra dari Ki Ageng tunggul Manik. Ratu Kencono Wungu terkejut mendengar pengakuan Damar Wulan bahwa ia adalah pemuda yang muncul dalam mimpinya “ Lentera tanpa Penyangga “ . Kencono Wungu mengatakan  kepada Minak Koncar dan Logender, tentang pemuda itu, Minak Koncar pun menyarankan agar Damar Wulan diterima sebagai punggawa kerajaan , karena ia putra Ki Ageng Tunggul Manik yang pernah berjasa pada Majapahit. Bak di sambar petir, Logender tidak tahu jika Damar Wulan adalah pemuda yang dicari Kencono Wungu, ia kawatir jika Damar Wulan melaporkan kepada Kencono Wungu bahwa ia dianiaya dan dipenjara oleh Layang Seto dan kumitir  atas ijin dari Logender. Kencono Wungu mengutus Damar Wulan untuk membunuh Minak Jinggo, Adipati Belambangan.
  16. Sebelum menyanggupi perintah sang Ratu. Damar Wulan ingin tahu mengapa harus membunuh Minak Jinggo. Logender tanpa mintak ijin Kencono Wungu memfitnah dengan dengan cerita bohongnya kepada Damar Wulan tantang Minak Jinggo. Sama seperti yang diceritakannya kepada Ronggolawe. Minak Jinggo itu sakti, dengan kesaktiannya ia menjadi sombong, suka membunuh orang,tidak di sukai rakyatnya,pemerintahannya kacau, tidak pernah memberi upeti ke Majapahit,bahkan ia akan merebut tahta kerajaan dan memaksa Kencono Wungu menjadi istrinya. Mendengar cerita Logender, hati damar Wulan mendidih terdorong untuk menegakkan keadilan dan membasmi angkara murka , ia siap menyerbu Minak Jinggo.
  17. Otak busuk Logender mulai mencari cara mengelabuhi Minak Jinggo dan Damar Wulan. Logender datang lebih dulu ke Belambangan sebelum Damar Wulan tiba , sementa Layang seto dan Kumitir diminta menunggu di bukit Mrawan, untuk mencegat Damar Wulan dan merampas mahkota Minak Jinggo jika Damar Wulan menang dalam perang . Logender langsung masuk ke Kaputren Belambangan menemui Waito dan Puyengan kaget dan hampir tidak percaya jika suaminya yang baik itu tiba-tiba akan mencerainya . tanpa sepengetahuan Waito dan Puyengan , Logender meletakan keris Damar Wulan di bawah tempat istirahat mereka . Logender pamit dan menemui Minak Jinggo.
  18. Logender, meskipun sudah  memfitnah Ronggolawe dan menyebarkan isu serta mencemarkan nama baik Minak Jinggo, namun  dengan kesabarannya Minak Jinggo menerima Logender sebagai punggawa agung Majapahit. Logender mengarang cerita bohong lagi kepada Minak Jinggo bahwa ia menemukan Waito dan Puyengan bermain serong dengan seorang pemuda bernama Damar Wulan. Sebagai bukti ada keris Damar Wulan yang tertinggal di san . tanpa berfikir panjang , Minak Jinggo meloncat dengan kemarahannya ia menemuia Waito dan Puyengan , melihat ada keris Damar Wulan di bawah peristirahatan istrinya, semakin menjadi-jadi kemarahannya , dihajarlah kedua istrinya itu, dayun berusaha menyadarkan Minak Jinggo juga terkena tendangannya . penjelasan kedua istrinya tidak didengar lagi, dengan menghunus keris Minak Jinggo akan membunuh kedua istrinya itu . Akhirnya Waito dan Puyengan lari meninggalkan Kaputren Belambangan. Dayun menenangkan amukan Minak Jinggo. Logender tersenyum melihat tipu dayanya berhasil dan berkelit meninggalkan Minak Jinggo , dengan sembunyi-sembunyi.
  19. Setelah pamit pada sang Ratu dan Ki Ageng Tunggul Manik , dengan ditemani Sbdo Palon dan Noyo Genggong. Dalam perjalanan sebelum menghadap Minak Jinggo . Damar Wulan bertanya pada masyarakat Belambangan tentang tabiat dan pemerintahan Minak Jinggo , dari jawaban mereka yang jujur karena memang benar adanya , Belambangan sebagai lumbung pangan Majapahit, tanahnya subur rakyatnya makmur, Minak Jinggo sangat arif, Bijaksana,penolong,sangat dekat dengan rakyat dan patuh pada Ratu Kencono Wungu terbukti tidak pernah terlibat dalam mengirimkan upeti. Terkejut Damar Wulan mendengar  dan melihat dengan mata kepalanya sendiri begitu tentram,subur,makmur Belambangan dan mendengar  apa yang diceritakan masyarakat itu betul adanya, tapi mengapa cerita Logender itu berbeda.
  20. Sebagai kesatria , demi menjalankan tugas dan pengabdian pada negara, apapun yang terjadi Damar Wulan tetap menemui Minak Jinggo. Mendengar niat kedatangan Damar Wulan yang diutus Kencono Wungu,Minak Jinggo bangkit untuk mempertahankan harga dirinya, Duel maut di alun-alun terjadi, pertarungan antar kesatria yang seru dan mendebarkan, pukulan dan kesaktian Minak Jinggo membuat Damar Wulan pingsan lemas tak berdaya tergeletak di tanah , Minak Jinggo meninggalkannya begitu saja. Noyo Genggong , Sabdo palon serta Ki Ageng Tunggul Manik menghampiri tubuh Damar Wulan dan menjadikannya segar kembali, Pesan Tunggul Manik kepada anaknya, agar ia mengambil  Gada Wesi Kuning ,karena satu-satunya orang selain Minak Jinggo akan mati dengan senjata itu dan Kesaktiannya berkurang karena ia lupa telah menganiaya Waito dan Puyengan.
  21. Seperti orang linglung Minak Jinggo ditinggalkan Waito dan puyengan . pada saat Minak Jinggo tertidur, Damar Wulan berhasil mengambil senjata Gada Wesi Kuning.ketika Minak Jinggo dibangunkan Dayun dari tidurnya tiba-tiba muncul Damar Wulan persis berada di depannya dengan Gada Wesi Kuning di tangannya,murkalah Minak Jinggo menghajar Dmar Wulan, sekuat tenaganya dikerahkan , peperangan duel pun terjadi Damar Wulan memukulkan Gada Wesi Kuning ke tubuh Minak Jinggo. Amukan Minak Jinggo tidak sehebat sebelumnya, ia terjatuh dan menyadari ajalnya akan tiba. Gemetar tubuh Minak Jinggo, ia terkejut dan terperangah heran ada orang selain dirinya yang mampu mengangkat Gada Wesi Kuning. Ia jadi teringat pesan kakeknya Ki Pamenggar bahwa ia akan mati di tangan pemuda yang diibaratkan Lentera Tanpa Penyangga  yaitu Damar wulan,dan ingat pesan mertuanya I Gusti Agung   bahwa kesaktianya akan hilang jika menyia-nyiakan dan menganiaya Waito dan Puyengan.
  22. Sebaiknya kesatria Minak Jinggo menyadari akan garis hidupnya , ia berteriak memanggil Waito dan Puyengan serta punggawa lainya . di depan waito dan Puyengan , Minak Jinggo minta maaf. Renggut Muko Angkat, Buto dan Dayun menyaksikan permintaannya yang akan terakhir.Minak Jinggo minta agar Damar Wulan memukulkan Gada Wesi Kuning di pipi kanannya dan berpesan agar Damar Wulan melindungi Waito dan Puyengan , menyimpan mahkotanya,karena ia akan muksa serta minta agar hubungan antara Belambangan dan Majapahit tetap akrab dan damai. Dengan rasa berat hati dan terharu Damar Wulan memukulkan Gada Wesi Kuning ke pipi kanan Minak Jinggo, Minak Jinggo mati dengan tersenyum, segera mahkotanya di ambil oleh Damar Wulan ,dan dalam sekejap jasad Minak Jinggo hilang dan musnah.
  23. Rakyat Belambangan berduka-cita yang mendalam kehilangan pemimpinnya yang gagah berani,arif,dan bijaksana itu. Angkat Buto,Renggut Muko dan Dayun masih setia tatap berada di istana Kadipaten walaupun Minak Jinggo telah tiada. Waito dan Puyengan di ajak ke Majapahit menhadap Kencono Wungu oleh Damar Wulan dengan membawa mahkota Minak Jinggo diikuti Sabdo Palon dan Noyo Genggong, pada saat perjalanan meraka melintasi bukirt Mrawan , mereka dihadang oleh Logender dengan kedua anaknya Layang Seto dan Kumitir,mereka bertiga merampas Mahkota Minak Jinggo dan akan menghadapkan Waito dan Puyengan kepada Ratu Kencono Wungu  sebagai bukti bahwa Minak Jinggo telah mati dan kalah oleh Layang Seto dan Kumitir untuk mengelabuhi Kencono wungu . Hal ini adalah cara licik Logender . Damar Wulan, Sabdo palon dan Noyo Genggong terjatuh ke jurang dan berpura-pura mati. Seto dan Kumitir berteriak melihat Damar Wulan tergelantung di jurang , tempat ini hingga sekarang disebut Kumitir.
  24. Dengan pongahya Longende, layang Seto dan Kumitir membawa mahkota Minak Jinggo dan menyeret Waito dan Puyengan ke hadapan Ratu Kencono Wungu. Logender dengan   bohong dan liciknya bercerita kepada Ratu Kencono Wungu , bahwa Seto dan Kumitir berhasil membunuh Minak Jinggo, dan yang berhak menikahi Ratu Kenconop Wungu dan menduduki tahta Majapahit adalah kedua anaknya itu yang berpakaian rapi layaknya temanten dan siap dinikahi dan dinobatkan sebagai Raja .Kencono Wungu di dampingi Minak Koncar dan punggawa lainya terdiam sejenak, Kencono Wungu siap dan ia akan menepati janjinya.
  25. Pada saat yang bersamaan , tiba-tiba muncul Damar Wulan , Sabdo Palon dan Noyo Genggong menghadap Ratu Kencono Wungu. Terbelalak terkejut mata Logender,Layang Seto dan Kumitir melihat tiba-tiba muncul tiga orang yang dikira sudah mati di jurang bukit Kumitir,Mrawan. Suasana jadi kacau karena Logender dan kedua anaknya menendang dan mengusir Damar Wulan dan kedua abdinya untuk keluar istana . atas ijin Kencono Wungu , Minak Koncar menanyakan kedua belah Pihak apa yang terjadi . dengan berani dan lantang Waito dan Puyengan menceritakan yang sebenarnya , bahwa Damar Wulan yang behasil membunuh Minak Jinggo. Logender, Seto dan Kumitir merampas mahkota Minak Jinggo di bukit Mrawan . Geram hati Logender dan kedua anaknya menddengar kesaksian Waito dan Puyengan, mereka bertiga berteriak-teriak menyangkalnya.
  26. Untuk membuktikan siapa yang benar , Kencono Wungu membuat sayembara adu perang dalam lingkaran janur kuning. Siapa yang keluar dari lingkaran , baik itu Damar Wulan atau Seto dan kumitir berarti yang kalah dan berbohong dan dia harus dihukum serta diarak agar masyarakat tahu siapa-siapa orang pengecut dan pecundang . Gemetar dan pucat pasi muka Logender, Sto dan Kumitir mendengar hukuman yang akan diterima jika mereka kalah.
  27. Disaksikan Minak koncar , para punggawa dan masyarakat di alun-alun terbuka , di tengahnya terdapat lingkaran janur kuning . saatnya tiba pertarungan Damar Wulan melawan dua orang yakni Layang Seto dan Kumitir dipegang Damar Wulan dan dibenturkanlah kepala mereka . tubuh mereka terlempar keluar lingkaran janur kuning. Riuh…Sorak masyarakat yang menyaksikan pertarungan itu. Damar Wulan  membuktikan bahwa dialah yang berhasil membunuh Minak Jinggo. Ratu Kencono Wungu menepati janjinya. Damar Wulan diangkat menjadi Raja. Anjasmoro, Waito dan Puyengan hidup rukun di istana Raja Majapahit.

Sabtu, 01 Februari 2014

SIAPAKAH SUKU OSING di Banyuwangi (Pewaris Asli Blambangan)

Nusantara 

SIAPAKAH SUKU OSING di Banyuwangi (Blambangan)

Suku Osing

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Sejarah
Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Osing) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat osing, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.

Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya, termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan.

Bahasa
Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan.

Kepercayaan
Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebaga usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.

Demografi

Demografi

Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi,Kecamatan singonjuruh,Kecamatan Sempu, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon. Komunitas Osing atau lebih dikenal sebagai wong Osing oleh beberapa kalangan dan hasil penelitian1 dianggap sebagai penduduk asli2 Banyuwangi, sebuah wilayah di ujung paling timur pulau Jawa yang juga dikenal sebagai Blambangan. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur di bagian tengah dan timur Banyuwangi yang secara administratif merupakan kecamatan-kematan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, Cluring, Banyuwangi Kota, Genteng, dan Srono. Di tiga kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk non-Osing, migran berasal dari bagian barat Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta (wong Osing menyebutnya wong Jawa-Kulon).
banyuwangi pada tahun 1815
banyuwangi 1815
banyuwangi,rogojampi,pampang(muncar),grajagan, rajegwesi 1815
bw2
grajagan 1815
grajagan 1815
rajegwesi
banyuwangi sekarang
bwi sekarang 1
Profesi
Profesi utama Suku osing adalah petani, dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan, guru dan pegawai pemda.

Stratifikasi Sosial
Suku Osing berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali, hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya. tetapi telah ditemukan perbedaan stratifikasi di Suku tersebut, kaum Drakula, kaum sudrakula, kaum hydrakula, kaum coliba. mereka merupakan penduduk asli.

Seni
Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Kesenian utamanya antara lain Gandrung, Patrol, Seblang, Angklung, Tari Barong dan Jedor.

Desa Adat Kemiri
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku osing yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Osing. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini.
Barong Ider Bumi merupakan salah satu upacara adat tahunan yang dilakukan masyarakat suku Using, Banyuwangi. Ritual ini masih sering diadakan di desa adat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Kegiatan Barong Ider Bumi ini rutin diadakan setiap tahun, biasanya dilaksanakan dua hari setelah Hari Raya Idul Fitri.
Iring-iringan barong itu diarak keliling kampung dengan dikawal tujuh perempuan tua yang membawa ubo rampe (perkakas ritual). Kirab barong itu juga disertai lima perempuan pembawa beras kuning dan uang Rp. 99.900. Ada juga dua perempuan pembawa kendi.
Menurut tetua adat Kemiren, Barong Ider Bumi sudah berlangsung sejak tahun 1940. Pelaksanaannya serba dua, karena kekuatan pelestarian alam ada dua. Baik dan buruk, wanita dan laki-laki.
Asal muasal adanya Barong Ider Bumi berawal dari adanya wabah pagebluk (penyakit) dan bencana yang melanda Kemiren. Setelah itu, tetua adat di Desa Kemiren mendapat wangsit melalui mimpi Buyut Cili (yang merupakan tetua adat Kemiren terdahulu). Dikatakan bahwa untuk menghilangkan pagebluk itu harus dilaksanakan Barong Ider Bumi.
Dalam iring-iringan Barong Ider Bumi diharuskan ada ”barong” sebagai lambang persatuan, ”uang koin” sebagai pengusir lelembut, dan ”sembur uthik-uthik” beras kuning sebagai pelengkap.
Makna dari sebuah gending PODHO NONTON
gandrung banyuwangiGandrung adalah kesenian khas Banyuwangi. Kesenian ini merupakan bentuk manifestasi masyarakat suku Osing dalam melawan penjajah. Sejarah masa lalu suku osing yang kelam pada waktu dibawah pemerintahan kerajaan Blambangan karena masalah politik baik itu perlawanan terhadap kerajaan Majapahit walaupun akhirnya Majapahit memberikan kesempatan kepada Blambangan untuk melepaskan diri tetapi kerajaan lain seperti Mataram, Demak, Pasuruan dan Bali bahkan perlawanan terhadap penjajah VOC menyebabkan karakteristik 
masyarakat suku Osing yang tertutup dan cenderung egaliter. Pada puncaknya perlawanan yang terjadi pada tahun 1771-1772 yang dikenal dengan perang “Puputan Bayu”(puputan = habis-habisan, bayu = tempat dimana terjadinya perang, daerah Bayu yang terletak di kecamatan Songgon) yang dipimpin oleh pangeran Rempeg Jogopati, walaupun peperangan dimenangkan oleh pihak VOC. 
Kesenian gadrung merupakan bentuk perlawanan wong Osing terhadap penjajah Belanda dalam bentuk kesenian yang sifatnya mengkritik penjajah pada waktu itu. Sehingga sebagian besar gending-gending gandrung mempunyai makna perjuangan melawan para penajajah. Hingga saat ini kita masih bisa mendengar gending-gending tersebut seperti Podo Nonton yang merupakan lagu wajib yang dinyanyikan oleh penari gandrung pada saat sesi pertama pertunjukan gandrung, yang lebih dikenal dengan istilah Jejer. 
Berikut teks gending Podo Nonton.
Podo Nonton
Podo nonton, pudak sempal ring lelurung
Ya, pendite pudak sempal, lambeyane para putra
Para putra, kejalan ring kedung Lewung
Ya, jalang jala sutra, tampange tampang kencana

Kembang Menur, melik-melik ring bebentur
Ya, sun siram alum, sun petik nyirat ati
Lare angon, gumuk iku paculana
Tandurana kacang lanjaran, sak unting ulih perawan

Kembang Gadung, sak gulung ditawa sewu
Nora murah nora larang, kang nowo wong adol kembang
Wong adol kembang sun barisno ring Temenggungan
Sun iring Payung Agung, labeyane mebat manyun

Kembang Abang, selebrang tiba ring kasur
Mbah Teji balenana, sun enteni ning paseban
Paseban Agung, kidemang mangan nginum
Sleregan wong ngunus keris, gendam gendis kurang abyur

Terjemahannya :
Semua Menyaksikan
Semua menyaksikan, tubuh yang bergelimpangan di jalan
Tubuh yang bersabuk emas, pertanda mereka adalah putra-putri
Putra-putri yang tertipu di kelokan air
Ya, tertipu pada sebuah jala dari sutera yang bertatahkan Kencana
Bunga Melati, indah menawan di sudut halaman
Kusiram layu, kupetik menyentuh hati
Wahai anak gembala cangkul bukit itu
Tanamlah kacang panjang, seuntai seharga anak perawan
Bunga yang memabukkan, sekuntum ditawar seribu
Tiada murah, tiada mahal, telah ditawar penjaja bunga
Penjaja bunga, kujajarkan di Temenggungan
Kuiringi Payung Agung, melambaikan keagungan
Kembang merah, indah di petilaman
Ingatlah semangat Mbah Teji, kutunggu di depan sekali
Di Pendapa Agung, para penguasa makan dan minum
Gemerincing senjata (keris) dihunus, laksana gula jawa yang mencair

Jika kita perhatikan syair gending tersebut, kita bisa menafsirkan betapa beratnya perjuangan wong osing pada waktu itu. 

Para pejuang yang rela mengorbankan nyawa mereka hanya untuk mempertahankan tanah airnya. Pencipta gending ini berusaha memberikan semangat kepada wong osing. Uniknya, hingga saat ini tidak ada yang mengetahui siapa pencipta gending-gending gandrung karena sepengetahuan saya, ketika melihat kaset-kaset gandrung tidak mencantumkan pencipta gending. 

Semoga saja, lare osing saat ini bisa meneruskan perjuangan para pahlawan. Membangun kota Banyuwangi agar lebih maju dengan rahmat Allah, dan tentunya Lare Osing harus Jenggirat Tangi.
Ojo lali yo dulur-dulur, konco-konco lare osing kabeh, riko ojo sampek lali ambi tanah kelahiran riko dhewek Banyuwangi. Kanggo poro pemuda laros utamane, tetep semangat nggayuh cita-cita masa depan lan ojo sampaek riko parek-parek nang arane NARKOBA kerono biso mateni masa depan lan awak riko dhewek. Lan kanggo poro pejabat ojo sampek riko ngelakoni KORUPSI, KOLUSI lan NEPOTISME, kerono iku biso nggarai ancure negoro.

OSING ( PEWARIS BLAMBANGAN )

SISA –SISA LASKAR BLAMBANGAN 2
Osing merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dalam lingkup lebih luas. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan, yang berkembang di daerah ujung timur pulau Jawa. Keberadaan komunitas Osing berkaitan erat dengan sejarah Blambangan (Scholte, 1927). 

Menurut Leckerkerker (1923:1031),orangorang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya (Stoppelaar, 1927). sebagai kelompok budaya yang keberadaannya tidak ingin dicampuri budaya lain. Penilaian masyarakat luar terhadap orang Osing menunjukkan bahwa orang Osing dengan budayanya belum banyak dikenal dan selalu mengaitkan orang Osing dengan pengetahuan ilmu gaib yang sangat kuat (Engel, 1990:3)Perjalanan sejarah tidak bisa di belokan .walau pembelokan sejarah/pembunuhan karat er terus mengrogoti.Using adalah sebutan orang luar yang tidak Tahu sebenarnya siapa sebenarnya masyarakat ini…Kalau diselidiki kembali kebelakang menelaah sejarah yang terjadi .

Novi Anoegrajekti, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember, dalam pengantar novel Kerudung Santet Gandrung, punya pendapat menarik tentang bahasa Osing. Masyarakat Osing adalah masyarakat Blambangan, sebuah kerajaan kecil di ujung timur pulau Jawa yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit. Penyerbuan terus-menerus oleh Majapahit membuat masyarakat Osing cenderung defensif, mengisolasi diri dari pengaruh luar. Dan itulah potensi oposisi terhadap orang-orang Jawa Kulon.

Sikap oposisi ini diwujudkan dalam bentuk sosio-kultural. Masyarakat Osing enggan mengidentifikasi diri sebagai orang Jawa. Mereka menegaskan identitas diri yang berbeda. Salah satunya, “Menggunakan bahasa Osing,” kata Novi. Selain itu, muncul kesenian gandrung  “Ini contoh mereka menegaskan identitas dirinya,” katanya.
Istilah Osing sendiri berasal dari kata sing atau hing, yang berarti “tidak”. Menurut Novi, penduduk “asli” Banyuwangi yang menolak hidup bersama pendatang dari luar, sikap defensif ini buah dari trauma psikologi penyerbuan orang-orang Majapahit ke Kerajaan Blambangan dan trauma perang bayu. Penegasan identitas diri itu melahirkan bahasa, tradisi, dan pranata sosial yang berbeda dengan masyarakat Jawa kebanyakan.

juga bisa ditelusuri estafet blambangan dari sejarah gandrung ,
Kesenian gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibabadnya hutan “Tirtagondo” (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa Mas Alit yang dilantik sebagai bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang
Demikian antara lain yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu.

            Mengenai asalnya kesenian gandrung Joh Scholte dalam makalahnya antara lain menulis sebagai berikut:
Asalnya lelaki jejaka itu keliling ke desa-desa bersama pemain musik yang memainkan kendang dan terbang dan sebagai penghargaan mereka diberi hadiah berupa beras yang mereka membawanya didalam sebuah kantong. (Gandroeng Van Banyuwangi 1926, Bab “Gandrung Lelaki”).
            Apa yang ditulis oleh Joh Scholte tersebut, tak jauh berbeda dengan cerita tutur yang disampaikan secara turun-temurun, bahwa gandrung semula dilakukan oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana (terbang). Mereka setiap hari berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Balambangan sebelah timur (dewasa ini meliputi Kab. Banyuwangi) yang jumlahnya tinggal sekitar lima ribu jiwa, akibat peperangan yaitu penyerbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 untuk merebut Balambangan dari kekuasaan Mangwi, hingga berakirnya perang Bayu yang sadis, keji dan brutal dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772. jumlah rakyat yang tewas, melarikan diri, tertawan, hilang tak tentu rimbanya atau  di selong (di buang) oleh Kompeni lebih dari enam puluh ribu jiwa. Sedang sisanya yang tinggal sekitar lima ribu jiwa hidup terlantar dengan keadaannya yang sangat memprihatinkan terpencar cerai-berai di desa-desa, di pedalaman, bahkan banyak yang belindung di hutan-hutan, terdiri dari para orang tua, para janda serta anak-anak yang tak lagi punya orang tua.(telah yatim piyatu) dan selain itu ada juga yang melarikan diri menyingkir ke negeri lain. Seperti ke Bali, Mataram, Madura dan lain sebagainya.
            Setelah usai pertunjukan gandrung menerima semacam imbalan dari penduduk yang mampu berupa beras atau hasil bumi lainnya dan sebagainya. Dan sebenarnya yang tampaknya sebagai imbalan tersebut, merupakan sumbangan yang nantinya dibagi-bagikan kepada mereka yang keadaannya sangat memprihatinkan dipengungsian dan sangat memerlukan bantuan, baik mereka yang mengungsi di pedesaan, di pedalaman, atau yang bertahan hidup dihutan-hutan dengan segala penderitaannya walau peperang telah usai.
            Mengenai mereka yang bersikeras hidup di hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan tersebut, disinggung oleh C. Lekerkerker yang menulis beberapa kejadian  setelah Bayu dapat dihancurkan oleh gempuran Kompeni pada tanggal; 11 Oktober 1772, antara lain sebagai berikut;
Pada tanggal 7 Nopember 1772, sebanyak 2505 orang lelaki dan perempuan telah menyerahkan diri ke Kompeni, Van Wikkerman mengatakan bahwa Schophoff telah menyuruh menenggelamkan tawanan laki-laki yang dituduh mengobarkan amuk dan yang telah memakan dagingnya dari mayatnya Van Schaar. Juga dikatakan bahwa orang-orang Madura telah merebut para wanita dan anak-anak sebagai hasil perang. Sebagian dari mereka yang berhasil melarikan diri kedalam hutan telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka. Sehingga udara yang disebabkan mayat-mayat yang membusuk sampai jarak yang jauh. Yang lainnya menetap dihutan-hutan seperti; Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan sebagainya. Dan mereka bersikap keras tetap tinggal dalam hutan dengan segala penderitaannya. (Balambangan Indisch Gids II th. 1923 h. 1060).
            Berkat munculnya gandrung yang dimanfaatkan sebagai alat perjuang dan yang setiap saat acap kali mengadakan pagelaran dengan mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat yang hidup bercerai-berai di pedesaan, di pedalaman dan bahkan sampai yang masih menetap di hutan-hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan, kemudian mereka mau kembali kekampung halamannya semula untuk memulai membentuk kehidupan baru atau sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang kemudian tinggal di ibukota yang baru di bangun atas prakarsa Mas Alit. Setelah selesai ibu kota yang baru dibangun dikenal dengan nama Banyuwangi sesuai dengan konotasi dari nama hutan yang dibabad (Tirta-arum). Dari keterangan tersebut terlihat jelas bahwa tujuan kelahiran kesenian ini ialah menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan oleh Kompeni dan membangun kembali bumi Belambangan sebelah timur yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni
tidak bisa dipungkiri lagi wong osing adalah sisa wong blambangan yang masih ada.sebutan wong blambangan bisa kita telusuri dari sejarah tawang alun.sampai Pemberontakan Rempeg jogopati.dimana tawang alun adlah seorang raja besar yang mempunya banyak selir.yang menurunkan tokoh-tokoh blambangan.
Sejarah penguat kanapa wong osing adalah sisa wong blambangan bisa dilihat dari perjalanan sejarah ;
  1. sinuhun tawang alun yang mendirikan kerajaan di daerah hutan Sudiamara  atau macan putih.daerah tsb berada di wilayah kec kabat.sampai sekarang penduduknya masih penutur bahasa osing.
  2. Pemberontakan Rempeg jogopati terkonsentrasi di daerah bayu,songgon.(songgon terletak di kec songgon.dan sampai sekarang masih penutur aktif osing)
  3. Pemberontakan wong Agung Willis di banyuwangi.
  4. Sayu Wiwit yang di tugaskan Rempeg Jogopati menghadang belanda di jember,sampai sekarang menyisakan sebagian masyarakat daerah jember masih menggunakan bahasa osing.seperti daerah puger……………….
  5. Banyaknya nama-nama desa (yang tercantum dalam Babad blambangan)sampai sekarang nama desa tsb masih  ada terutama di lingkaran segitiga emas.
  6. Susuhunan Tawang Alun adalah raja blambangan terakhir, melahirkan/mempunyai hubungan keluarga tokoh-tokoh seperti agung wilis,Rempeg Jogopati.rempeg jogopati/mas pakis berasal dari desa pakis.
  7. Makam mas Surongganti di desa gladag ( penutur osing aktif).Tawang Alun I memiliki Putra :Gede Buyut,Mas Ayu Widharba,Mas Lanang Dangiran (Mbah Mas Brondong),Mas Senepo/Mas Kembar,Mas Lego.selanjutnya Mas Lego menurunkan MAS SURANGGANTI dan MAS SURODILOGO (MBAH KOPEK)
  8. kutipan Van Wikkerman mengatakan  ”Sebagian dari mereka yang berhasil melarikan diri kedalam hutan telah meninggal karena kesengsaraan yang dialami mereka. Yang lainnya menetap dihutan-hutan seperti; Pucang Kerep, Kali Agung, Petang dan sebagainya. Dan mereka bersikap keras tetap tinggal dalam hutan dengan segala penderitaannya. (Balambangan Indisch Gids II th. 1923 h. 1060)..———-petang berada di daerah kec kabat,kaligung-rogojampi,pucang kerep?….
  9. Kutipan makalah sri margana, “tahun 1930-an yang menyebut dirinyanya ‘insider‘‘menyatakan ,Nama “oesing” yang biasa digunakan untuk menyebut orang Blambangan di ujung timur (Jawa).
  10. Dengarlah dia menyanyikan gendingnya, “Cengkir Gading” dan menggerakan kipasnya, lalu rakyat Blambangan yang dewasa dan masih anak-anak mengalir ke suatu tempat dan di luar kesadaran mereka riwayat yang telah lampau diproyeksikan kembali, irama yang gembira dari tarian Ciwa di Chidambaram, tariannya si Gandri di Cungking, pusat dari segala-galanya, yakni dalam hati manusia.  (Gandroeng Van Banjoewangi, John Scholte, 1927).
  11. Nama desa dan lurahnya sebagaimana disebutkan dalam Babad Bayu pupuh vi 11-20 dalam Winarsih PA, op.cit., hal.153-154.

Desa Dhadhap (Kidang Wulung),= dadapan(sekarang )—kabat
Songgon (Ki Sapi Gemarang), = songgon
Derwana (Ki Kendit Mimang),=derwono—-songgon
Tembelang (Ki Lembupasangan), =tembelang—-kabat
Bareng (Ki Kuda Kedhapan),=bareng—kabat
Balungbang (Ki Sumur Gumuling), =belumbang—-rogojampi
Lemahbang (Ki Suranata),= lemahbang/mabang—-rogojampi
Gitik (Ki Rujak Watu),= gitik—rogojampi
Banglor (Ki Suragati),= LATENG—rogojampi
Labancina (Ki Rujak Sinte),= laban cina—laban asem?—kabat
Kabat (Ki Pandholan),= kabat
Kapongpongan (Ki Kamengan),=popongan—–kabat
Welaran ( Ki Jeladri),= welaran
Tambong (Ki Reksa), = tambong–kabat
Bayalangun (Ki Sukanandi), =boyolangu——giri
Desa Penataban (Ki Singadulan),= penataban—–giri
Majarata (Ki Maesandanu),= mojoroto
Cungking (Ki Jangkrik Suthil),= cungking—kabat
Jelun (Ki Lembu Singa),= jelun—–licin
Banjar (Ki Bakul).=banjar (sebelah timur glagah)
Pegambuiran (Ki Serandil),=gambiran
Ngandong (Ki Seja),= andong
Kebakan (Ki Kebo Waluratu),= bAbakan?
Gagenteng (Ki Kudha Serati),= genteng
Kadhal (Ki Jaran Sukah),= Kendal Ds sragi—-songgon
Sembulung (Ki Gagak Sitra),= sembulung—–cluring
Jajar (Ki Gajah Anguli), = Nongko Jajar tambong—-kabat
Benculuk (Ki Macan Jingga),benculuk
Keradenan (Ki Jala Sutra),= keradenan
Gelintang (Ki Maesagethuk), =gintangan—-rogojampi
Grajagan (Ki Caranggesing).= grajagan —grajagan
Mamelik (Ki Surya), = melik —singonjuruh
Kelonthang (Ki Lembu-Ketawan),= dusn kelonthang Ds Gendoh—sempu
Rerampan (Ki Kidang Bunto),= dsun Rampan Ds Cantuk
Singalatrin (Ki Banyak Ngeremi).=singolatren
Bubuk (Ki Marga-Supana),= bubuk——–rogojampi
Gebang (Ki Jangkrik-Gondhul),=gebang(mlebu deso benelankidul)——–singojuruh
Gambor (Ki Bajuldahadhi),=gambor——–singonjuruh
Gembelang (Ki Butakorean),=gombolirang—kabat
Muncar (Ki Genok),=muncar
Bama (Ki Baluran),= bomo—-rogojampi
Geladhag (Ki Margorupit), gladag—-rogojampi
Susuhan ( Ki Tambakboyo),= susukan—songgon
Ngalian (Ki Kidang-Garingsing)=alian
Tamansari (Ki Gajah Metha),= taman sari——-licin
Danasuke (Ki Kebowadhuk),= donosuko
Kalisuca (Ki Jaransari). = kaligung—-rogojampi
Lalerangan (Ki Menjangan Kanin),= larangan= cangkring —rogojampi
Rewah-Sanji (Kidang Wulung),=….(belum diketahui)
Suba/Kuwu (Kidang Wulung), =
Tulah (Ki Lempu Putih), =
Kadhu (Ki Sidamarga), =
Mumbul (Ki Rujak Sentul),=
Cendana (Ki Kebo Waleri),=
Cekar (Ki Gundol), =
Pelancahan (Ki Butangerik)=
Dhulangan, Pruwa/Purwa (Ki Tulup Watangan),=
Papencan (Ki Bantheng Kanin),=
Jongnila (Ki Gagakngalup)=
Konsul (Ki Maesasura).=
Repuwan (Ki Butānguri),=

desa desa tersebut  95%  penutur osing aktif. seperti desa macanputih bekas kerajaan prabu tawang alun/1655-1692), dari dulu sampai sekarang masih menggunakan bahasa osing atau tidak dijumpai penutur bahasa lain di daerah macanputih.
Fakta penguat .

1. menurut Novi Anoegrajekti, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember dalam “seblang-using studi tentang ritus dan identitas using” Dalam peta geografi kebudayaan Banyuwangi, komunitas Using menempati wilayah tengah hingga ke arah timur Banyuwangi. Mereka berdiam secara menyebar di Kecamatan Giri, Kabat, Glagah, Rogojampi, Singojuruh, Genteng, dan Srono. Dalam kenyataannya sekarang, terutama di dua kecamatan terakhir, mereka telah bercampur dengan penduduk nonUsing yang kebanyakan datang dari Jawa Kulon. Secara geografis, wilayah ini berada di ujung timur pulau Jawa dan berseberangan dengan pulau Bali. Kondisi geografis tersebut tenyata menempatkan komunitas dan budaya Using berada di paling pinggir Jawa dan Bali.   Sejumlah ahli antara lain, Scholte (1927); Stoppelaar (1927), Herusantosa (1987); dan Wolbers (1992), menyebut bahwa komunitas Using terbentuk melalui proses sosial-politik yang cukup panjang, penuh

dengan ketegangan dan konflik antara penduduk -penguasa di Banyuwangi di satu pihak dengan penduduk-penguasa Jawa bagian barat (wong kulonan) dan Bali di pihak lain. Secara historis, Banyuwangi merupakan pusat kekuasaan politik kerajaan Blambangan yang pada awalnya lebih merupakan bagian dari kerajaan Majapahit, seperti yang tertera dalam berbagai babad berikut: Babad Wilis, Babad Sembar, Babad Tawang Alun, Babad Mas Sepuh, Babad Bayu, dan Babad Notodiningratan (Arifin, 1995). Runtuhnya Majapahit diakhir abad XV memberi kesempatan bagi Blambangan untuk melepaskan diri dari kekuasaan manapun. Tetapi kerajaan-kerajaan yang muncul kemudian seperti Demak, Pasuruan, Mataram, dan Bali ternyata tetap menempatkan Blambangan sebagai daerah yang harus ditaklukkan dan dikuasai. Bahkan, Mataram bekerja sama dengan VOC, berusaha menaklukkan Blambangan pada tahun 1767. VOC yang masih menganggap Blambangan belum aman, melancarkan serangan berikutnya (1771-1772) yang memperoleh perlawanan keras dari Blambangan di bawah pimpinan Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati sebuah pertarungan yang dikenal dengan perang Puputan Bayu.

Belanda tidak hanya berhasil memenangkan peperangan itu, karena tidak lama kemudian ia memboyong sejumlah tenaga kerja dari Cirebon, Banyumas, dan Kebumen untuk diperkerjakan di perkebunan-perkebunan milik Belanda yang ada di bumi Blambangan. Kehadiran tenaga kerja ini kemudian disusul oleh gelombang migrasi dari Jawa Kulon untuk berbagai pekerjaan, khususnya di bidang perkebunan dan pertanian yang tampak membanjir sejak akhir abad XVIII atau awal abad XIX (Stoppelaar, 1927:6; Herusantosa, 1987: 14; 84). Tidak hanya dari Jawa bagian barat, migrasi serupa juga berdatangan dari Madura, Bali, Bugis, dan Mandar sehingga sejak awal abad XIX Banyuwangi tidak lagi dihuni oleh komunitas Using yang homogen melainkan bercampur dengan berbagai pendatang. Jika pada akhir abad XIX penduduk Banyuwangi berjumlah 100.000 jiwa, maka lebih dari separohnya diperkirakan berasal dari kaum migran (Ali, 1993: 5).
Penegasan identitas diri terlihat sangat urgen bagi komunitas Using. Keengganan bahkan ketidakmauan orang Using untuk mengidentifikasikan diri sebagai orang Jawa, terwujud dalam penggunaan bahasa Using, panggilan-panggilan keakraban yang khas, pembentukan pranata sosial warung bathokan, sebutan-sebutan seperti wong Banyuwangi asli, wong Banyuwangen, wong blambangan masih sering terdengar sampai sekarang, bahkan mereka membangun dan mengembangkan ritus serta kesenian.

2.Traumatik terhadap Kerajaan Majapahit.
Didasari dari pengalaman traumatik terhadap kerajaan Majapahit, masyarakat Using atau Blambangan menutup diri dari pengaruh Jawa. Akibat serangan kerajaan Majapahit yang terus menerus terhadap mereka, membentuk sikap antipati terhadap segala yang identik dengan Majapahit atau Jawa. Ada keinginan dari diri mereka sendiri untuk berkata tidak, dan mengembangkan sebuah bahasa dan budaya sendiri yang berbeda dari tetangga mereka di sebelah barat. Di sinilah terlihat bagaimana sikap isolatif dapat menyebabkan sebuah variasi bahasa yang berbeda dengan sekitarnya. Ada faktor historis yang membentuk sikap seperti ini.

3.Keadaan Geografis yang isolatif.
Secara geografis, wilayah Using Banyuwangi memang agak terisolasi, yaitu tertutup oleh pegunungan Ijen dan raung di sebelah utara, Selat Bali disebelah timur, dan Pesisir Selatan Pantai Selatan di sebelah selatan. Keadaan ini sudah barang tentu menyebabkan frekuensi interaksi sosial suku Using dengan masyarakat di luar tidak terlalu tinggi. Selain karena faktor historis yang sudah dijelaskan sebelumnya, ketertutupan ini membuat bahasa Using yang sama-sama berakar dari bahasa Jawa Kuno, memiliki pembeda bila dibandingkan dengan bahasa Jawa atau Bali. Ada interaksi yang lebih intensif sesama orang Using daripada keluar masyarakat Using. Hal ini menyebabkan masyarakatnya cenderung untuk mengembangkan ciri khasnya sendiri, bukan meniru atau mengadaptasi pengaruh luar. Selain itu, fakta masih adanya kata Maning atau Riko yang merupakan kata asli dari Bahasa Jawa Kuno, menegaskan keadaan isolatif yang mereduksi masyarakat Using dari pengaruh luar.

4. Keinginan untuk Memiliki Identitas.
Faktor sosial inilah yang paling menentukan dalam pencirian Bahasa Using terhadap Bahasa Jawa pada khususnya. Orang Using tidak ingin diidentifikasikan sama dengan orang Jawa atau Majapahit yang secara historis ada relasi tidak baik sebelumnya. Berangkat dari prestige inilah, ada kecenderungan orang Using untuk membentuk identitasnya sendiri. Salah satunya adalah dengan mengembangkan Bahasa Using yang berbeda dengan Bahasa Jawa pada umumnya.

5. Bahasa sendiri.
Sejarah wong Using atau Osing kabupaten Banyuwangi tidak bisa dipisahkan dari sejarah kerajaan majapahit. Masyarakat Using hakikatnya adalah keturunan dari kerajaan Blambangan yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Kata using sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno Sing atau Hing yang artinya tidak. Sebutan ini menurut Dosen fakultas Sastra Universitas Jember Novi Anoegrajekti(dalam Majalah Tempo on-line, http://www.tempointeraktif.com, mengacu pada pengalaman traumatik masyarakat Blambangan akibat serangan kerajaan Majapahit yang terus-menerus,pemberontakan Rempeg Jogopati, Pengalaman ini mengakibatkan sikap defensif masyarakat Using terhadap orang Majapahit, sehingga kata Using yang berarti tidak itu tercetus. Ada sikap antipati dari orang Blambangan terhadap masyarakat Jawa Kulon yang berbahasa Jawa mataraman itu. Pernyataan ini diperkuat dengan penelitian Prof. Dr. Suparman Heru Santosa yang telah mengadakan uji linguistik terhadap bahasa Using. Dari penelitian Prof. Suparman, disimpulkan bahwa Bahasa Using merupakan dialeg dari bahasa Jawa Kuno. Jadi sama dengan Sunda, atau Bali..

Using bukan istilah yang dipakai untuk menyebut penduduk keseluruhan Kabupaten Banyuwangi. Suku orang orang Using terdapat hanya di bagian tengah dan bagian utara Kabupaten Banyuwangi, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi, kec kabat, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon.Dari ciri vonologis bahasa, dapat terlihat perbedaan dengan pengucapan dalam Bahasa Jawa modern. Meski ada kesamaan secara kosakata, namun cara pengucapan yang berbeda terkadang membuat orang yang biasa berbahasa Jawa tak mengerti ketika mendengar ucapan dalam Bahasa Using (Priantono, 2005). Perbedaan inilah yang menjadi salah satu penciri Bahasa Using dari Bahasa Jawa. Meski sama-sama berasal dari akar Bahasa Jawa Kuna, ada perbedaan yang menghasilkan Bahasa Using sebagai bahasa yang berdiri sendiri.

Dalam teknis penggunaan, pilihan varian dapat digunakan oleh penutur Bahasa Jawa untuk mengidentifikasi status sosial mereka. Ketika digunakan varian bahasa yang semakin tinggi, maka hal tersebut mengindikasikan status sosial yang semakin tinggi pula. Dari sini terlihat jelas perbedaan register antara Bahasa Jawa dan Using. Jika Bahasa Jawa mendasarkan pada status sosial, sedangkan Bahasa Using didasari pada fungsi okasional.

Kosakata Bahasa Using berakar langsung dari bahasa Jawa Kuna, dimana banyak kata-kata kuna masih ditemukan disana, disamping itu, pengaruh Bahasa Bali juga sedikit signifikan terlihat dalam bahasa ini. Seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet). Lebih jauh lagi, ada pula kata seperti maning yang biasanya kita dengar di penduduk daerah Tegal. Kata tersebut merupakan salah satu kata asli dari Bahasa Jawa Kuna yang masih dipergunakan sampai sekarang di masyrakat Using. Sehingga demikian, menurut Bambang Priantono (dalam blognya di
http://bambangpriantono.multiply.com/, diunduh pada 21 Maret 2010 jam 19:30 WIB) daerah seperti Banten, Cirebon, Tegal, Tengger, Banyumas, dan Banyuwangi adalah sisa-sisa Bahasa Jawa yang masih kuno dan masih tersimpan di dalamnya kosakata Jawa Kuna.Ciri khas lain dari bahasa Using adalah dalam gaya penggunaan. Tidak seperti Bahasa Jawa yang mengenal unggah-unggahan bahasa seperti Ngoko, Kromo, dan seterusnya, Dalam Bahasa Using tidak ditemukan hal serupa. Yang ada hanya gaya bahasa berbeda untuk situasi yang berbeda, bukan karena status sosial. Selain itu, ada pula perbedaan penggunaan pronomina (kata sapaan) untuk orang dengan umur atau kedudukan yang berbeda, sekali lagi bukan karena status sosialnya.

salamun wataslimun
talam watase limun
dari berbagai sumber dan sumber  artikel : http://osingkertarajasa.wordpress.com/

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...