primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label TOKOH NASIONAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH NASIONAL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2014

Sosok Pangeran Wangsakerta ~Sejarahwan Kontroversi~ (Itulah Fakta SEJARAH)


Sosok Pangeran Wangsakerta ~Sejarahwan Kontroversi~ (Itulah Fakta SEJARAH)

Biar sejarah yang bicara …….
SEJARAH MEMANG PAHIT di RASAKAN oleh sebagian Golongan dan Kepentingan....
Tetapi itulah FAKTA SEJARAH NUSANTARA .. PENUH KONFLIK, KONSPIRASI dan POLITIK di masa itu.....
PANGERAN WANGSAKERTA alias : Abdulkamil Muhammad Nasaruddin alias : Panembahan Agong Gus­ti Carbon alias : Panembahan Tohpati alias : Pangeran Arya Carbon
Dalam beberapa hari aku berupaya sekuat tenaga sampai akhirnya semua kesulitan dapat diatasi dan naskah yang kami susun dapat disetujui seutuhnya. Walaupun demikian, maafkanlah seandainya terdapat kekeliruan dalam penyusunan pustaka ini.
Lebih,dahulu aku berdoa kepada Hyang Tunggal Yang Maha Kuasa: semoga selamat sentosa. Hindarkanlah kami dari perbuatan dosa dan malapetaka. Hilangkanlah segala perbuatan jahat dan bahaya perbuatan khianat yang akan merusak negara kami semua, dan semoga berikanlah kesejahteraan kepada kami peserta musyawarah yang menyusun pustaka ini sebagai bahan pengetahuan bagi masa yang akan datang dan masa kini (natgata wartanana), terutama sebagai pengetahuan tentang raja‑raja beserta kerajaannya, agamanya, tanahnya dan masyarakatnya dalam kehidupan di bumi Nusantara ini.
Pustaka ini hendaknya dijadikan tonggak segala kisah, dan kami sama sekali tidak menyimpang dari kisah yang sebenarnya karena hal itu telah merupakan hasil penelitian yang seksama mengenai kebenarannya serta senantiasa akan berguna sebagai penuntun bagi masyarakat dan segala lapisan sejak saat ini sampai masa yang akan datang. ~Pangeran Wangsakerta dalam Pendahuluan “Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantaraparwa IV sarga 1″~
  • Pangeran Wangsakerta dari Cirebon mungkin merupakan orang Indonesia yang pertama kali berusaha menyusun sejarah bangsanya selengkap mung­kin. Untuk keperluan penyusunan “buku induk” sejarah itu, ia melaku­kan hal-hal positif yang bahkan menurut penilaian orang Indonesia se­karang masih terlalu “ilmiah” sehingga diragukan. (Ayotrohaedi 1981)
  • Sejak awal tahun 1980-an Ayatrohaedi, Saleh Danasasmita, dan Yoseph Iskandar melalui media massa mengumumkan tentang penemuan naskah-naskah Pangeran Wangsakerta beserta isinya. Sambutan masyarakat terhadap informasi tersebut dapat dibagi dua, yang satu sama lain kontradiktif. Di satu pihak, mereka menyambut baik dan sangat mengharapkan sumbangan naskah-naskah itu terhadap kelengkapan sejarah Sunda dan Sejarah Indonesia pada umumnya. Di pihak lain sambutan mereka bernada negatif dengan menyatakan bahwa naskah tersebut palsu dan isinya tak dapat dipercaya sebagai gambaran sejarah. Kontroversi itu menggegerkan berbagai kalangan.

Siapa Pangeran Wangsakerta ?

  • Saleh Danasasmita, pada tahun 1986 telah berhasil mengidentifikasi Pangeran Wangsakerta, melalui tulisan ilmiah Pangeran Wangsakerta. Sebagai Sejarawan Abad XVII. Tulisan tersebut berupa makalah, pernah disampaikan dalam Seminar Kebudayaan Sunda Proyek Sundanologi Depdikbud di Bandung, pada tanggal 9‑11 Maret 1986.
  • Menurut Saleh Danasasmita, tokoh Pangeran Wangsakerta, nyaris tidak dikenal oleh umum. Bahkan di lingkungan kerabat keraton Cirebon, ia hanya dikenal sebagai Panembahan Cirebon I, tanpa nilai khusus, kecuali sebagai Asisten Sultan Sepuh.
  • Di gedung Arsip Nasional, tersimpan sebuah dokumen, berupa naskah perjanjian antara Cirebon dengan Kompeni Belanda tanggal 7 Januari 1681. Dokumen tersebut ditulis dalam dua bahasa. Pada bagian kiri berbahasa Melayu Arab, pada bagian kanan berbahasa Belanda dengan huruf latin.
  • Di bagian bawah naskah sebelah kiri, terdapat 9 nama penandatangan perjanjian dari pihak Cirebon. Pada urutan ketiga, tertulis nama Wangsakerta dalam huruf cacarakan. Dalam naskah tersebut, dicantumkan dengan tegas, bahwa pemegang kekuasaan di Cirebon ada tiga orang, termasuk Pangeran Wangsakerta di antaranya. Berdasarkan dokumen tersebut dapat dipastikan, bahwa tokoh Pangeran Wangsakerta, sebagal salah seorang penguasa Cirebon, dalam pertengahan kedua abad ke‑17, ternyata benar-benar ada.

Pangeran Wangsakerta adalah anak ketiga Panembahan Girilaya dari Cirebon. Girilaya yang meninggal tahun 1662 adalah cucu Sunan Gunung Jati dan ber­kuasa di Cirebon menggantikan kakeknya karena ayahnya sendiri sudah meninggal ketika Sunan Gunung Jati masih berkuasa. 


Girilaya menikah dengan seorang putri Mataram, dan perkawinan itu menghasilkan tiga anak lelaki. 

  1. Anak sulung bernama Pangeran Martawijaya yang kemudian menjadi Sultan Sepuh I dan menurunkan para penguasa kesepuhan, 
  2. Anak kedua bernama Pangeran Kartawijaya yang menjadi Sultan Anom I dan menjadi leluhur para sultan Kanoman, sedangkan 
  3. Anak ketiga Pangeran Wangsakerta, tidak memperoleh warisan daerah. Ia kemudian menjadi “tangan kanan” abangnya, Sultan Sepuh I (Kosch 1979; 85; PS Sulendraningrat 1974; 66).

Hubungan baik dengan Mataram berkat perkawinan Girilaya dengan putri Mataram itu rupanya tidak berjalan mulus. Sultan Mataram tidak urung mencurigai Panembahan Girilaya sehingga akhirnya berhasil menawan Girilaya dan kedua anaknya di Mataram. Girilaya diuntang ke Mataram, disertai Martawijaya dan Kartawijaya, tetapi sesampai disana tidak diper­bolehkan kembali ke Cirebon. Karena Wangsakerta tidak ikut ke Mataram, ia pun tidak ditawan (Edi S Ekajati 1984…).

Setelah Panembahan Girilaya meninggal di Mataram, kedua anaknya kem­bali ke Cirebon, dan dengan persetujuan Sultan Banten, Cirebon dipecah menjadi Kasepuhan dan Kanoman. Walaupun Wangsakerta juga menpero­leh daerah, ia tidak diangkat sebagai sultan.

Pangeran Wangsakerta rupanya seorang “kutu buku”. Petunjuk kearah itu kita peroleh dari jilid terakhir karya utamanya yang bernama Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara ‘Kitab tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara’. 

Jilid terakhir yang merupakan daftar pustaka itu menyebut­kan tidak kurang dari 1.700 judul naskah atau karangan yang pada masa itu terdapat di perpustakaan kerajaan Cirebon, terutama Kasepuhan, me­ngingat Wangsakerta menjadi pembantu utama Sultan Sepuh I (Ayatrohaedi 1983.. ).

Usahanya menyusun buku induk itu pun nampaknya didasari oleh kegemar­annya membaca itu. Disamping itu, ada alasan lain yang secara resmi dikemukakannya dalam Purwaka ‘Kata pengantar’ tiap jilid karyanya itu. Menurut kata-katanya sendiri, karya itu dikerjakan karena :


  • “ …… di­nawuhan de ning ayayahku yata pangeran rasmi kawan namasidam panembahan adiningratkusuma athawa panembahan girilaya ngaranya waneh ri kala sang rama ta tan angemasi. Mangkang juga ngwang dinawuhan anyerat iti pustaka de ning sultan banten yata pangeran adulpatha abdulpatah lawan pramanaran abhiseka sultan ageng tirtayasa. Kumwa juga susuhunan mataram yata pangeran arya prabhu adi mataram i kang ngaran ira susuhunan amangkurat mahyun i mangkana, kumwa jugakweh manih sang pinakadi i bhumi swarnadwipa mwang jawadwipanung mahgyung ing mangkana”.

Jadi, menurut Wangsakerta, sekurang-kurangnya ada tiga orang penguasa di Jawa yang menugasinya menyusun naskah itu, yaitu :

  1. Panembahan Girilaya (Cirebon),
  2. Sultan ageung Tirtayasa (Banten),
  3. dan Sultan Amangkurat II (Mataram).

Disamping itu para penguasa daerah lain yang lebih kecil di Jawa dan Sumatra pun menunjang usaha tersebut.

Ketiga penguasa Jawa itu berkuasa sekitar paro-akhir abad ke-17. Me­ngingat keterangan Wangsakerta sendiri yang menyebutkan bahwa kedua abangnya masing-masing menjadi Sultan Sepuh dan Sultan Anom, dapat dipastikan bahwa tugas yang diterima sebelum ayahnya meninggal (1662) itu, baru dilaksanakannya pada masa pemerintahan abangnya.

  • Berdasarkan kolo­fon yang tercantum pada akhir setiap jilid memang dapat diketahui bahwa seluruh naskah itu disusun selama 21 tahun (1670-91 Masehi) (Ayatroha­edi 1983 …).

Pangeran Wangsakerta (PANGERAN TANPA WILAYAH) ternyata mempunyai nama lain, 
  1. Abdulkamil Muhammad Nasaruddin, yaitu namanya setelah ia berkedudukan sebagai Panembahan Car­bon. 
  2. Nama lainnya lagi, yang kurang dikenal, ialah Panembahan Agong Gus­ti Carbon dan Panembahan Tohpati. 
  3. Di kalangan Cirebon sendiri, Wangsa­kerta lebih dikenal sebagai Pangeran Arya Carbon yang menyusun naskah Purwaka Caruban Nagari (1720).
PANITIA WANGSAKERTA ; TUGAS NYA
Untuk melaksanakan tugas dari ketiga sultan itu, Pangeran Wangsakerta meminta bantuan tujuh orang pemuka dan ahli di Cirebon. Mereka itulah yang pada hakekatnya bertindak sebagai “Panitia Wangsakerta” dengan tugas yang cukup berat itu. Para anggota itu ialah :
- Ki Raksanagara,
- Ki Ang­gadiraksa,
- Ki Purbanagara,
- Ki Singhanagara,
- Ki Anggadiprana,
- Ki Angga­raksa,
- dan Ki Neyapati.

Kesejarahan tokoh-tokoh itu seharusnya tidak usah diragukan, mengingat enam orang diantara mereka tercatat namanya dalam Dagregister (Atja 1984)
Pangeran Wangsakerta bertindak selaku penanggungjawab, pengambil kepu­tusan terakhir, dan penyusun tunggal naskah akhir naskah setelah “bahan baku”nya tersedia. Bahan baku itu diperoleh dengan berbagai macam ca­ra, antara lain :

  • dengan pengumpulan sumber di lapangan,
  • wawancara dengan para ahli,
  • kajian kepustakaan, dan seminar atau lokakarya khusus.
  • Ki Raksanagara bertugas sebagai penulis naskah dan mengurus keperluan para ahli yang dikumpulkan di Cirebon. Sebagai penulis ia mempunyai wakil, yaitu Ki Anggadiraksa yang juga bertindak sebagai bendahara proyek itu.
  • Ki Purbanagara bertugas untuk mengambil dan mencari semua naskah yang terdapat di berbagai negara, sekaligus memilih mana yang meme­nuhi syarat untuk dipergunakan sebagai sumber penulisan.
  • Ki Sanghana­gara bertugas sebagai kepala rumah tangga keraton dan menempatkan para duta selama mereka berada di Cirebon, ia mempunyai anak buah sebanyak 70 orang.
  • Ki Anggadiprana bertugas sebagai duta keliling ke berbagai negara, mengundang mereka untuk mengikuti pertemuan di Cirebon, dan ju­ga menjadi juru bahasa dalam pertemuan.
  • Ki Anggaraksa, bertugas mengurus jamuan dan hidangan,
  • sedangkan Ki Nayapati bertanggungjawab atas pemon­dokan, pengangkutan, dan keamanan.

Tugas utama Panitia Wangsakerta ialah menyusun “buku induk” sejarah Nusantara. 
Untuk maksud tersebut, panitia menempuh tahap-tahap pengum­pulan bahan, penyaringan sumber, penyusunan naskah. Jadi, sama halnya dengan kegiatan yang pasti dilakukan oleh para sejarawan modern seka­rang ini.

Tahap pengumpulan sumber mencakup kegiatan-kegiatan pengumpulan sumber di lapangan, wawancara dengan para ahli, kajian kepustakaan, dan penyelenggaraan seminar atau lokakarya sejarah. Pengumpulan sumber di la­pangan terutama dilakukan oleh Ki Purbanagara, yang tugasnya memang me­ngambil dan mencari semua naskah yang terdapat di berbagai negara. Ki Purbanagara jugalah yang rupanya diberi tugas untuk mengundang para ahli untuk turut berperan dalam seminar atau lokakarya yang diselenggarakan di Cirebon.

Kajian kepustakaan menjadi tugas Pangeran Wangsakerta, se­suai dengan pengakuannya sendiri :

  • “…. karana mami wus akweh mangajya sarwasastra katha ning rajya-rajya i bhumi nusantara ….” “…. karena saya sudah banyak mempelajari segala macam kitab kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara …. ”.

Wawancara dengan para ahli dilakukan terutama bersamaan waktunya de­ngan penyelenggaraan lokakarya. Kegiatan itu dipusatkan di paseban keraton Kasepuhan, Cirebon. Pesertanya berasal dari seluruh Nusantara, terdiri dari :
- para mahakawi,
- para duta yang ada di Cirebon,
- mantri pa­tih,
- senapati,
- ulama (dang accaryagama),
- ahli kemasyarakatan (widya­janapada),
- ahli ilmu agama (widyagama),
- dan ahli ilmu politik (widyanagara).

Tercatat tidak kurang dari 70 daerah yang mengirimkan utusan ke loka­karya tersebut, disamping “hana juga pirang amatyanung tan taka” ada juga (banyak) ahli yang tidak datang. Mereka berkumpul di Cirebon, selain untuk bersawala dalam lokakarya, juga menulis bermacam monografi mengenai daerahnya masing-masing. Itulah sebabnya, mengapa di per­pustakaan keraton Kasepuhan pada akhir abad ke-17 itu, terdapat tidak kurang dari 1.700 buah naskah yang sempat tercatat oleh Pangeran Wang­sakerta dalam jilid terakhir karyanya.

Diantara naskah itu, ada yang isinya tentang bahasa, penduduk, para pahlawan, para raja dan penguasa yang memerintah di daerah masing-masing.

Tahap penyaringan rupanya menjadi tugas khusus panitia, terutama ketu­anya, Pangeran Wangsakerta. Penyaringan pertama juga dilakukan oleh Ki Purbanagara, yang dalam kegiatan mencari dan mengumpulkan naskah di berbagai negara, sekaligus juga sudah memilih naskah yang memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai sumber penulisan.

Tetapi jelas, pe­nyaringan itu terutama dilakukan oleh Pangeran Wangsakerta sendiri, apalagi jika terjadi sawala yang panas dan berkepanjangan diantara para peserta lokakarya. Jika suasana panas itu memuncak, Pangeran Wang­sakerta menutuskan untuk mengambil alih masalah dan menentukan pilihan terakhir, karena bukankah dengan pengetahuannya yang luas mengenai se­gala macam kitab itu ia “angasoraken sira kabeh” “mengalahkan mereka semua”?

Pilihan terakhir itu biasanya merupakan lampah tengah! “jalan tengah”, dengan senantiasa mengingatkan para peserta akan tujuan uta­ma pertemuan mereka, yaitu menyusun “buku induk” sejarah. Namun Pa­ngeran Wangsakerta tetap mengakui adanya kemungkinan kesalahan menyu­sun, dan karenanya ia meminta maaf jika sampai terjadi hal semacam itu, “yadyapin mangkana waraksamakena yan hanekang salah atau kaluputan ing panusun iti pustaka”.

Tahap penyusunan akhir menjadi tugas Pangeran Wangsakerta sendiri, dibantu oleh para anggota panitia, terutama Ki Raksanagara dan Ki Anggadiraksa sebagai penulis dan wakil penulis naskah. Nampaknya penyusunan itu memang merupakan tugas yang sangat sukar, antara lain sebagai akibat munculnya berbagai beda pendapat di antara para peser­ta lokakarya yang cenderung menyalahkan orang lain dan menganggap dirinya paling baik.


Rupanya kegiatan penyaringan itulah yang ber­langsung lama. Akibatnya, penyusunan naskahnya pun menjadi berkepan­jangan juga. Seluruh naskah yang terdiri dari 25 jilid itu baru sele­sai digarap dalam waktu 21 tahun. Dengan catatan bahwa ada masa-teng­gang selama 12 tahun antara penyusunan jilid terakhir parwa keempat (jilid 20) dengan seluruh parwa, kelima (jilid 21-5). Masa tenggang itu dipergunakan oleh Pangeran Wangsakerta untuk menyusun sejumlah naskah lain yang diantaranya bersumber kepada naskah utama itu juga.

Naskah Wangsakerta
Kehadiran naskah‑naskah kuno (pustaka) Pangeran Wangsakerta Cirebon abad ke‑17 Masehi, setelah diuji secara filologi oleh para akhli, Tim Penggarap Naskah Pangeran Wangsakerta (dipimpin oleh Prof Dr. H. Edi S. Ekadjati, Program Kerja Yayasan Pembangunan Jawa Barat, 1989‑1991), telah menjadi sumber yang berharga bagi ilmu pengetahuan sejarah.

Nama Pangeran Wangsakerta mulal menarik minat kalangan sejarah, setelah diterbitkan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon dalam tahun 1720. Pangeran Arya Cirebon alias Pangeran Adiwijaya, adalah putera bungsu Sultan Kasepuhan pertama. la kemenakan Pangeran Wangsakerta.

Dalam percaturan Sejarah Tatar Sunda, Priangan khususnya, nama Pangeran Arya Cirebon cukup dikenal, karena sejak tahun 1706 ia ditunjuk oleh Kompeni Belanda menjadi opzichter para bupati di Priangan. la dinilail amat berhasil dan amat pandai, sehingga, setelah wafat dalam tahun 1723, Kompeni Belanda tidak sanggup mencari penggantinya, karena dianggap tidak ada tokoh yang mampu menyamainya.

Naskah Purwaka Caruban Nagari, memiliki kadar kesejarahan yang jauh lebih tinggi (jika dibandingkan dengan naskah babad atau sejenisnya), karena menyebutkan sumber penulisnya. Kalimat terakhir naskah tersebut memberitakan, bahwa cerita itu disusun oleh Pangeran Arya Cirebon, berdasarkan naskah Pustaka Nagara  Kretabhumi karya Pangeran Wangsa kerta.

Sebenarnya masih ada sebuah naskah lain, yang menyebutkan Pustaka Nagara Kretabhumi sebagai sumber, yaitu Pustaka Pakungwati Cirebon (1779 M) yang disusun oleh Wangsamanggala (Demang Cirebon) bersama Tirtamanggala (Demang Cirebon Girang). Dalam naskah ini, hanya pada halaman akhir disebutkan sebagai kutipan dari Pustaka Nagara Kretabhumi, yaitu mengenai pernah adanya Kerajaan Tarumanagara, dengan raja-rajanya yang memakal nama Warman sebagal pendahulu Kerajaan Pajajaran. Bagian selebihnya, tampil dalam gaya sastra babad biasa, yang penuh dengan hal-hal sensasional dan dibumbui supranatural.

Sejak naskah Purwaka Caruban Nagari diterbitkan tahun 1972, mulallah nama Pangeran Wangsakerta dikenal umum, sebagai pujangga penyusun naskah Pustaka Nagara Kretabhumi. Namun tak seorangpun mengetahui, naskah tersebut benar‑benar pernah ada atau tidak, dan kalau ada, tak seorangpun yang mengetahui tempatnya.

Setelah pelacakan yang intensif, namun dilakukan secara diam-diam selama 5 tahun oleh Drs. Atja, akhirnya naskah Pustaka Nagara Kretabhumi mulai ditemukan dan dibeli oleh Museum Negeri Sri Baduga (Jawa Barat) dalam pertengahan tahun 1977. Setelah itu, secara berturut‑turut, naskah-naskah lain karya Pangeran Wangsakerta, disampaikan kepada Museum Negeri Sri Baduga Jawa Barat dari para pemiliknya, yang kebanyakan berdomisili di luar Jawa.

Pakar sejarah Edi S. Ekadjati, dalam buku Naskah Sunda (1988), meriwayatkan tentang penemuan 47 buah naskah Pustaka Wangsakerta. Empat buah naskah di antaranya, ditemukan di Banten, antara lain:

Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (Parwa II, Sarga 2), dikumpulkan antara tahun 1967‑1969 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (69 lembar) dari seorang pedagang, dan di Serang (Banten) sebanyak 33 lembar. Pada tahun 1977 naskah ini dijilid dan sudah lengkap. (Pemberi keterangan Siradjudin, tanggal 5‑2‑1978);

Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (Parwa II, Sarga 3). Sebagian naskah ditemukan pada tahun 1949 di Palembang dan sebagian lainnya di Banten, dari seorang dukun keliling penjual jamu. Beberapa naskah yang ditemukan di Palembang pada tahun 1964, sebagian terendam lumpur, akibat banjir Sungai Musi. Baru tahun 1979, naskah ini terkumpul lengkap, setelah digabungkan dengan naskah yang ditemukan di Banten;

Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (Parwa III, Sarga 5), dari Banten tanggal 4 September 1983;
Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa (Panyangkep), sebagian dari Palembang (Atmo Darmodjo), sebagian dari Serang (Yusuf, dan sebagian lagi dari Jambi (Hassan). Dikumpulkan tahun 1926‑1931 dan dijilid tahun 1978;

Dari 47 naskah Pangeran Wangsakerta, dapat diketahui, bahwa tebal tiap jilid bervariasi antara 100 sampal 250 halaman, dengan isi antara 21 sampal 23 baris tiap halaman. Berdasarkan laporan pengujian secara kimiawi di laboratorium Arsip Nasional (1988), kertas daluang yang digunakan dalam naskah‑naskah Pangeran Wangsakerta, sudah berusia lebih dari 100 tahun. Penelitian usia naskah‑naskah tersebut, kini sedang dilakukan di sebuah laboratorium di Jepang. Walaupun demikian, naskah‑naskah Pangeran Wangsakerta, sudah dapat dikategorikan ke dalam Naskah Kuno. Naskah‑naskah tersebut ditulis dengan tinta japaron, menggunakan aksara dan bahasa Kawi Jawa Kuno, gaya Cirebon.

Ayatrohaedi menjelaskan dalam tulisan Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, pada buku Pertemuan Ilmiah Arkeologi ke III, bahwa setiap jilid Pustaka Wangsakerta, terdiri dari tiga bagian, yaitu:

Purwaka
Uraian kisah sejarah dalam jilid yang bersangkutan
Kolofon
Bagian purwaka, secara terperinci memberikan keterangan yang berkaitan dengan; nama naskah, parwa dan sarga, penyusun, sumber, alasan penyusunan, tujuan penyusunan, dan cara kerja yang lebih jauh menguraikan tentang hal‑hal yang berkaitan dengan; pembentukan panitia, pencarian sumber dan bahan, pengundangan nara sumber, penyelenggaraan sawala dan penugasan sangga, dan penyelesaian masalah yang muncul dalam sawala. Bagian inilah yang bersangkut paut dengan pertanggungjawaban ilmiah para penyusun.

Bagian kedua, merupakan uraian yang lebih banyak menyita bagian terbesar dalam tiap jilid, karena berisi keterangan kesejarahan yang sesuai dengan jilid yang bersangkutan. Sedangkan kolofon berisi keterangan mengenai akhir penulisan jilid tersebut (Ayatrohaedi,1985: 530‑557).

Ambahan atau luas jelajah kisah sejarah yang ditampilkan oleh Pangeran Wangsakerta, meliputi karun waktu yang disebutnya Purwayuga, yaitu sejak Nusantara dihuni oleh mahluk manusia hewan (satwaprurusa). Secara runtut berlangsung, kira-kira sejuta tahun sebelum tarikh Saka, sampai peristiwa perjanjian antara Cirebon dengan VOC tahun 1681. Bahkan, waktu itu ia menyebutkan tokot-tokoh yang dipusarakan di Giri Saptarengga, yaitu Gunung Sembung yang oleh umum disebut makam Gunung Jati. Disana, pada salah sebuah nisan, tertulis Sultan Sepuh I yang wafat tahun 1697.

Dari naskah‑naskah yang terkumpul, baru dapat diketahui peristiwa-peristiwa dun urutan pemerintahan raja‑raja, lengkap dengan tahun pemerintahamrya di beberapa daerah yaitu: Perelak, Samudera Pasai, Sriwijaya, Tatar Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banjarmasin dun Nusa Bali. Kita pun dapat menemukan kisah patriotik Sultan Ageng Tirtayasa dari Kerajaan Islam Surasowan Banten, juga tokoh Laksamana wanita Malahayati dari Kerajaan Aceh Darussalam, dun Patih Lambung Mangkurat dari Kerajaan Banjar.

Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, dipaparkannya sejak masa pemerintahan Darmawangsa. lengkap dengan mazhab yang dianut oleh para penyiarnya. Juga ia menguraikan siapa sesungguhnya tokoh Fatimah binti Maimun, yang kehadiran makamnya di Desa Leran, masih merupakan salah satu misteri sejarah di Indonesia. Menurut pendapat Saleh Danasasmita (1984), dalam beberapa hal, uraiannya tepat sejalan dengan isi prasasti yang telah dikenal. Sedangkan beberapa hal lainnya, dapat dikatagorikan logis, dalam arti tidak bertentangan dengan prasasti yang ada.

Ciri gaya penulisan umum dalam jamannya, hanya tampak bila ia melukiskan kecantikan seorang wanita, atau melukiskan peran dengan ungkapan yang hampir selalu sama. la menyisipkan kata “meriam” sebagal peralatan perang pasukan Demak, saat mereka membantu Cirebon berperang dengan Kerajaan Galuh di Palimanan, dekat Bukit Gempol tahun 1528.


Dalam ambahan sumber, Pangeran Wangsakerta pun sering tertumbuk kepada perbedaan keterangan. Dalam hal yang demikian, ia berusaha mengambil jalan tengah (kalap langkah tengah), dengan cara mengkompromikannya. Bila hal itu tidak mungkin, maka ia menyajikan semua keterangan menurut versinya musing-masing, dengan menyebutkan siapa yang menjadi sumbernya.

Kamis, 12 Juni 2014

KH Mohammad Hasyim Asy'ari- Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)


KH Mohammad Hasyim Asy'ari- Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)

KH Mohammad Hasyim Asy'ari,  atau biasa disebut KH Hasyim Ashari beliau dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dan beliau kemudian tutup usia pada tanggal 25 Juli 1947 yang kemudian dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang, KH Hasyim Asy'ari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama yaitu sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. 
KH Hasyim Asyari merupakan putra dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah, Ayahnya Kyai Ashari merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. KH Hasyim Ashari merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH Hasyim Ashari merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). dari Ayah dan Ibunya KH Hasyim Ashari mendapat pendidikan dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh.
Biografi KH Hasyim Asy'ari

Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Ashari memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kyai Cholil.


KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. 

Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. 

Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal. Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi..

Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.

Tahun 1899, Kyai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal. Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.

Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Kyai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. 

Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf.

Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. 

Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub.

Pernah terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu Kyai dari Madura ini populer dipanggil. 
Kyai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.” 

Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kyai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.

Lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya. Sesungguhnya bisa saja terjadi seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. 

Dan itu banyak terjadi. Namun yang ditunjukkan Kyai Hasyim juga Kyai Cholil; adalah kemuliaan akhlak. Keduanya menunjukkan kerendahan hati dan saling menghormati, dua hal yang sekarang semakin sulit ditemukan pada para murid dan guru-guru kita. 
KH.MUHAMMAD KHOLIL ( MADURA)
Mbah Cholil adalah Kyai yang sangat termasyhur pada jamannya. Hampir semua pendiri NU dan tokoh-tokoh penting NU generasi awal pernah berguru kepada pengasuh sekaligus pemimpin Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, ini.

Sedangkan Kyai Hasyim sendiri tak kalah cemerlangnya. Bukan saja ia pendiri sekaligus pemimpin tertinggi NU, yang punya pengaruh sangat kuat kepada kalangan ulama, tapi juga lantaran ketinggian ilmunya. Terutama, terkenal mumpuni dalam ilmu Hadits. Setiap Ramadhan Kyai Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan suntuk. Kajian itu mampu menyedot perhatian ummat Islam. Maka tak heran bila pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, Kyai Cholil. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim. 

Setelah lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Wahid Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Siddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri Kyai Hasyim. Tak pelak lagi pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa. Zamakhsyari Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar Hadratus-Syaikh (Tuan Guru Besar) kepada Kyai Hasyim.

Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya. Justru Kyai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci). Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kyai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.
Namun sempat juga Kyai Hasyim mencicipi penjara 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan bersama Kyainya itu. 

Masa awal perjuangan Kyai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng pun tak luput dari sasaran represif Belanda. Pada tahun 1913 M., intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas.

Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kyai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan. Dalam pemeriksaan, Kyai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum. Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri 10-an tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1940an. Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang.

Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim. Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syaikh beserta sejumlah putera dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kyai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). 

Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang. Kyai Hasyim menolak aturan tersebut. Sebab hanya Allah lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kyai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah–pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya.

Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syaikh berada di pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kyai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan. Setelah penahanan Hadratus Syaikh, segenap kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng vakum total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syaikh tercerai berai. Isteri Kyai Hasyim, Nyai Masruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar, barat Kota Jombang.

Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kyai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para Kyai dan santri. Selain itu, pembebasan Kyai Hasyim juga berkat usaha dari Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta. Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda membonceng pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris, berusaha melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus tawanan Jepang, Kyai Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut.

Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham. Kyai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947. Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kyai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan gerakan Mujahidin. Bahkan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kyai Hasyim.

Kemampuannya dalam ilmu hadits, diwarisi dari gurunya, Syaikh Mahfudh At Tarmisi di Mekkah. Selama 7 tahun Hasyim berguru kepada Syaikh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping Syaikh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru. 

Yang perlu ditekankan, saat Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Dan sebagaimana diketahui, buah pikiran Abduh itu sangat mempengaruhi proses perjalanan ummat Islam selanjutnya. Sebagaimana telah dikupas Deliar Noer, ide-ide reformasi Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian santri-santri Indonesia yang sedang belajar di Mekkah. Termasuk Hasyim tentu saja. Ide reformasi Abduh itu ialah pertama mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang sebenarnya bukan berasal dari Islam.

Kedua, reformasi pendidikan Islam di tingkat universitas; dan ketiga, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern; dan keempat, mempertahankan Islam. Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan. 

Dengan alasan inilah Abduh melancarkan ide agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran para mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk praktek tarekat. Syaikh Ahmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syaikh Khatib ketika kembali ke Indonesia ada yang mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak demikian dengan Hasyim. Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mazhab.

Ia berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama besar yang tergabung dalam sistem mazhab. Untuk menafsirkan Al Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, demikian tulis Dhofier. 
Dalam hal tarekat, Hasyim tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat. 
Dalam perkembangannya, benturan pendapat antara golongan bermazhab yang diwakili kalangan pesantren (sering disebut kelompok tradisional), dengan yang tidak bermazhab (diwakili Muhammadiyah dan Persis, sering disebut kelompok modernis) itu memang kerap tidak terelakkan.

Puncaknya adalah saat Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di Bandung. Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan dari berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di Mekkah. Karena aspirasi golongan tradisional tidak tertampung (di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi kebebasan, terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah sampai para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz.

Komite yang dipelopori KH Abdullah Wahab Chasbullah ini bertugas menyampaikan aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu Kyai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang artinya kebangkitan ulama. Setelah NU berdiri posisi kelompok tradisional kian kuat. 

Terbukti, pada 1937 ketika beberapa ormas Islam membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal dengan sebuta MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kyai Hasyim diminta jadi ketuanya. Ia juga pernah memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang pernah ada di Indonesia. Penjajahan panjang yang mengungkung bangsa Indonesia, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Pada tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang kini disebut Gerakan Kebangkitan Nasional.

Semangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke mana-mana, sehingga muncullah berbagai organisai pendidikan, sosial, dan keagamaan, diantaranya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, dan Taswirul Afkar tahun 1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. 

Dengan adanya Nahdlatul Tujjar, maka Taswirul Afkar tampil sebagi kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh utama dibalik pendirian tafwirul afkar adalah, KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh muda pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid hadratus Syaikh. Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama terhadap tantangan zaman di kala itu, baik dalam masalah keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik. Pada masa itu, Raja Saudi Arabia, Ibnu Saud, berencana menjadikan madzhab Salafi-Wahabi sebagai madzhab resmi Negara. Dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap bid’ah. 

Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak dengan alasan itu adalah pembatasan madzhab dan penghancuran warisan peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres Al Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut. 

Didorong oleh semangat untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta rasa kepedulian terhadap pelestarian warisan peradaban, maka Kyai Hasyim bersama para pengasuh pesantren lainnya, membuat delegasi yang dinamai Komite Hijaz. Komite yang diketuai KH. Wahab Hasbullah ini datang ke Saudi Arabia dan meminta Raja Ibnu Saud untuk mengurungkan niatnya.

Pada saat yang hampir bersamaan, datang pula tantangan dari berbagai penjuru dunia atas rencana Ibnu Saud, sehingga rencana tersebut digagalkan. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekah sesuai dengan madzhab masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

Tahun 1924, kelompok diskusi Taswirul Afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah. Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu belum datang juga. Kyai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan.

 Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Kyai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kyai Hasyim. Kyai Kholil lalu mengutus salah satu orang santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tasbih kepada Kyai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kyai Hasyim.

Ketika Kyai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergentar. ”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan airmata. Waktu terus berjalan, akan tetapi pendirian organisasi itu belum juga terealisasi. Agaknya Kyai Hasyim masih menunggu kemantapan hati. Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syaikh. ”Kyai, saya diutus oleh Kyai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kyai Kholil di lehernya. Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih. Ia memiliki prinsip, ”kalung ini yang menaruh adalah Kyai, maka yang boleh melepasnya juga harus Kyai”.

Inilah salah satu sikap ketaatan santri kepada sang guru. ”Kyai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat hati Kyai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syaikh menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama kawan-kawannya mendirikan organisai/jam’iyah. 

Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat istikharah. Sayangnya, sebelum keinginan itu terwujud, Kyai Kholil sudah meninggal dunia terlebih dahulu. Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926M, organisasi tersebut secara resmi didirikan, dengan nama Nahdhatul Ulama’, yang artinya kebangkitan ulama. 

Kyai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan anggota terbesar di Indonesia, bahkan di Asia.


Sebagaimana diketahui, saat itu (bahkan hingga kini) dalam dunia Islam terdapat pertentangan faham, antara faham pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh antara lain bertujuan memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi pendidikan Islam di tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern. 

Dengan ini Abduh melancarakan ide agar umat Islam terlepas dari pola pemikiran madzhab dan meninggalkan segala bentuk praktek tarekat. Semangat Abduh juga mempengaruhi masyarakat Indonesia, kebanyakan di kawasan Sumatera yang dibawa oleh para mahasiswa yang belajar di Mekkah.

Sedangkan di Jawa dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912). Kyai Hasyim pada prinsipnya menerima ide Muhammad Abduh untuk membangkitkan kembali ajaran Islam, akan tetapi menolak melepaskan diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam pandangannya, umat Islam sangat sulit memahami maksud Al Quran atau Hadits tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama madzhab. 

Pemikiran yang tegas dari Kyai Hasyim ini memperoleh dukungan para Kyai di seluruh tanah Jawa dan Madura. Kyai Hasyim yang saat itu menjadi ”kiblat” para Kyai, berhasil menyatukan mereka melalui pendirian Nahdlatul Ulama’ ini. Pada saat pendirian organisasi pergerakan kebangsaan membentuk Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI), Kyai Hasyim dengan putranya Kyai Wahid Hasyim, diangkat sebagai pimpinannya (periode tahun 1937-1942).
KH Mohammad Hasyim Asy'ari tutup usia pada tanggal 25 Juli 1947 yang kemudian dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang, KH Hasyim Asy'ari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama yaitu sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. 

Kompleks Pemakaman



Selasa, 04 Maret 2014

CUT NYA’ DHIEN "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

WANITA GERILYAWAN INDONESIA  

CUT NYA’ DHIEN "WANITA GERILYAWAN INDONESIA "

WANITA GERILYAWAN INDONESIA 
Ribuan, bahkan jutaan pahlawan telah gugur demi kemerdekaan bangsa ini. 
Diantara mereka yang syahid, terdapat beberapa wanita yang ikhlas bergerilya bersama kaum lelaki. Mereka ikut, turun langsung berjuang melawan para penjajah asing yang akan menguasai ibu pertiwi. 

Dari sekian banyak wanita pejuang kemerdekaan Indonesia, ada 4 orang yang masyur di blantika sejarah bangsa ini.
Mereka itu adalah:
1. CUT NYA’ DHIEN.
2. CUT NYA’ MEUTIA.
3. NYI AGENG SERANG.
4. MARTHA CHRISTINA TIAHAHU.

Disaat kini kaum wanita sibuk untuk menunjukkan dedikasinya bagi bangsa tercinta ini. Maka ke-4 wanita ini dahulu justru; masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, mengangkat senjata bergerilya dengan ikhlas merelakan nyawanya, demi mewujudkan kiprah wanita merdeka saat ini.
Foto: WANITA GERILYAWAN INDONESIA 

Saderek sadaya,
Tidak terasa, tahun 2014 ini, qt akan mengenyam 69 tahun kemerdekaan negeri tercinta ini. Ribuan, bahkan jutaan pahlawan telah gugur demi kemerdekaan bangsa ini. 
Diantara mereka yang syahid, terdapat beberapa wanita yang ikhlas bergerilya bersama kaum lelaki. Mereka ikut, turun langsung berjuang melawan para penjajah asing yang akan menguasai ibu pertiwi. 

Dari sekian banyak wanita pejuang kemerdekaan Indonesia, ada 4 orang yang masyur di blantika sejarah bangsa ini.
Mereka itu adalah:
1.	CUT NYA’ DHIEN.
2.	CUT NYA’ MEUTIA.
3.	NYI AGENG SERANG.
4.	MARTHA CHRISTINA TIAHAHU.

Disaat kini kaum wanita sibuk untuk menunjukkan dedikasinya bagi bangsa tercinta ini. Maka ke-4 wanita ini dahulu justru; masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, mengangkat senjata bergerilya dengan ikhlas merelakan nyawanya, demi mewujudkan kiprah wanita merdeka saat ini.

Sebagai wujud terimakasih kepada kaum Wanita Gerilyawan Indonesia, izinkan q menyajikan kisah ke-4 wanita perkasa tersebut.
SELAMAT MEMBACA...
-*-

1. CUT NYA’ DHIEN

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”
-Cut Nya’ Dhien- 
-*-

BIOGRAFI
Cut Nya’ Dhien lahir di Lampadang, Aceh, pada tahun 1848. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Dhien terlahir dari keturunan Kesultanan Aceh dari garis ayahnya, Teuku Hoesin Nanta Setia yang bekerja sebagai Hulubalang (Uleebalang) VI Mukim, sedangkan ibunya adalah putri Hulubalang Lampagar.  

Di masa kecilnya, Dhien memperoleh pendidikan agama dari orangtua dan guru-guru agama di Lampadang.
Saat usianya 12 tahun, ia dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, pada tahun 1862 . Mereka dikaruniai seorang putra.

Teuku Cek Ibrahim Lamnga adalah Panglima Perang wilayah Lamnga, Montasik Aceh Besar. Ia adalah putra Teuku Po Amat, Hulubalang Lamnga XIII Mukim Tungkop, Sagi XXVI Mukim, Aceh Besar. 

Saat pecah Perang Aceh ke-II pada tahun 1873, Belanda menyerang Lampadang dan wilayah VI Mukim, di bawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten. Hal ini membuat Dhien dan keluarganya bersama rakyat Aceh lainnya, terpaksa mengungsi pada tanggal 24 Desember 1875. Sementara suami dan para lelaki lainnya, maju bertempur melawan penjajah Belanda.   

Sayangnya dalam pertempuran tersebut, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur pada tanggal 29 Juni 1878, di Glee Taroen. Ia dimakamkan di samping Masjid Montasik.
Terbunuhnya suami yang sangat dikasihinya membuat Dhien marah besar, ia bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Pada tahun 1880, Teuku Umar, abang sepupu Dhien, menikahi Dhien sebagai istri yang ke-3. Mereka dikaruniai seorang anak wanita, bernama Cut Gambang.
Pasutri ini kemudian menjadi penyemangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). 

Namun kembali Dhien berduka lagi, saat penyerangan ke Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur tertembak peluru. 
-*-

BERSAMBUNG…
GERILYA SENDIRI

1. CUT NYA’ DHIEN
“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”
-Cut Nya’ Dhien- 
.............................................................................

BIOGRAFI
Cut Nya’ Dhien lahir di Lampadang, Aceh, pada tahun 1848. Ia adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Dhien terlahir dari keturunan Kesultanan Aceh dari garis ayahnya, Teuku Hoesin Nanta Setia yang bekerja sebagai Hulubalang (Uleebalang) VI Mukim, sedangkan ibunya adalah putri Hulubalang Lampagar. 

Di masa kecilnya, Dhien memperoleh pendidikan agama dari orangtua dan guru-guru agama di Lampadang.
Saat usianya 12 tahun, ia dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, pada tahun 1862 . Mereka dikaruniai seorang putra.

Teuku Cek Ibrahim Lamnga adalah Panglima Perang wilayah Lamnga, Montasik Aceh Besar. Ia adalah putra Teuku Po Amat, Hulubalang Lamnga XIII Mukim Tungkop, Sagi XXVI Mukim, Aceh Besar. 

Saat pecah Perang Aceh ke-II pada tahun 1873, Belanda menyerang Lampadang dan wilayah VI Mukim, di bawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten. Hal ini membuat Dhien dan keluarganya bersama rakyat Aceh lainnya, terpaksa mengungsi pada tanggal 24 Desember 1875. Sementara suami dan para lelaki lainnya, maju bertempur melawan penjajah Belanda. 

Sayangnya dalam pertempuran tersebut, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur pada tanggal 29 Juni 1878, di Glee Taroen. Ia dimakamkan di samping Masjid Montasik.
Terbunuhnya suami yang sangat dikasihinya membuat Dhien marah besar, ia bersumpah hendak menghancurkan Belanda.

Pada tahun 1880, Teuku Umar, abang sepupu Dhien, menikahi Dhien sebagai istri yang ke-3. Mereka dikaruniai seorang anak wanita, bernama Cut Gambang.
Pasutri ini kemudian menjadi penyemangat perjuangan Aceh melawan Kaphe Ulanda (Belanda Kafir). 

Namun kembali Dhien berduka lagi, saat penyerangan ke Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur tertembak peluru. 

..........................................................
GERILYA SENDIRI
”Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadah kita dirusak!! (Masjid Baiturrahman di bakar Belanda) Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?”
-Cut Nya’ Dhien-
<<<<<<<-*->>>>>>>

Kini kemarahan Dhien sudah tidak terbendung lagi, dengan pasukan kecilnya, ia bergerilya sendiri di pedalaman Meulaboh, hingga tahun 1901.

Melihat usia Dhien yang mulai sepuh, mata yang rabun dan penyakit encok yang cukup parah, salah satu anak buahnya, Pang Laot, terpaksa meminta pertolongan kepada Belanda.
Namun Dhien, justru mengamuk menghunuskan rencongnya kepada Belanda yang akhirnya dapat membekuk wanita perkasa ini di Beutong Le Sageu. Sedangkan putrinya, Cut Gambang, berhasil kabur ke hutan dan meneruskan perjuangan Dhien. 

Belanda kemudian menggiring Dhien ke Banda Aceh. Di sana, ia dirawat dan berangsur penyakitnya pun sembuh. 
Walau ia berada dalam perawatan Belanda, Dhien tetap menjadi obor semangat perlawanan rakyat Aceh. Ia tetap menjalin hubungan dengan para gerilyawan Aceh. 
Akibatnya, Belanda terpaksa mengasingkan Dhien ke Sumedang. 
..................................................................................................
AKHIR HAYAT
Bersama dengan tahanan politik Aceh lainnya, Dhien di asingkan ke Sumedang, Jawa Barat.
Berkat pemahaman ilmu agama Dhien yang cukup mumpuni, membuat Bupati Sumedang, Surya Atmaja menaruh hormat pada wanita luarbiasa ini.
Dhien kemudian dipanggil “Ibu Perbu” oleh mereka yang mengenalnya di Sumedang.

Pada tanggal 6 November 1908, ketika pergerakan nasional Indonesia baru dimulai, Cut Nya’ Dhien wafat dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Pada tanggal 2 Mei 1964, atas semua jasa besarnya dalam perjuangan melawan Belanda, Presiden RI I, Ir. Soekarno, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia untuk Cut Nya’ Dhien, lewat SK Presiden RI No. 106, tahun 1964.

Perjalanan hidup Dhien yang didominasi perjuangan bergerilya dan cinta, membawanya pada akhir yang sendiri, sunyi dan papa. Namun satu yang tetap ada melekat erat didalam dirinya adalah SETIA HINGGA MATI, kepada tanah airnya, Aceh dan Nusantara.

Perjuangan Cut Nya’ Dhien yang pantang menyerah tersebut, membuat MH. Szekely-Lulofs, seorang sejarawan Belanda, mengukir kisah heroik wanita yang digelari ”Ratu Aceh” ini, dalam bukunya “Tjoet Nya Din: Riwajat Hidup Seorang Puteri Atjeh”. Buku ini telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh A. Muis.
..................................................................................

MAKAM CUT NYA’ DHIEN
Hingga tahun 1959, tidak ada yang mengetahui secara pasti di mana makam Cut Nya’ Dhien berada. Baru setelah Pemda Aceh dengan sengaja melakukan penelusuran, makamnya pun ditemukan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Makam Dhien pertama kali dipugar dan ditandatangani langsung oleh Gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan, pada tanggal 7 Desember 1987.
Pada batu nisannya, tertulis riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surah At-Taubah dan Al-Fajr, serta hikayat cerita Aceh.
Di belakang makam terdapat mushala, sementara di sebelah kiri makam terdapat pemakaman keluarga ulama H. Sanusi.

<<<<<<<<--***-->>>>>>>>>
Cut Nyak Dien wafat tanggal 6 Nopember 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan,  tidak jauh dari Alun-Alun Sumedang. Tempat ini merupakan salah satu tempat bersejarah di Kota Sumedang.

Minggu, 02 Maret 2014

Kyai Mojo (Kyai Muslim Muhammad Halifah) "Walisongo" Periodesasi ke-10, 1751 – 1897

Tapak Jejak Walisongo 

Kyai Mojo (MUSLIM MUHAMMAD KHOLIFAH) "Walisongo" Periodesasi ke-10, 1751 – 1897

Periodesasi ke-10, 1751 – 1897 terdiri dari:
  1. Pangeran Diponegoro ( menggantikan gurunya, yaitu: Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan)
  2. Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, (menggantikan Syaikh Shihabuddin Al-Jawi)
  3. Kyai Mojo, (Menggantikan Sayyid Yusuf Anggawi (Raden Pratanu Madura)
  4. Kyai Kasan Besari, (Menggantikan Syaikh Haji Abdur Rauf Al-Bantani)
  5. Syaikh Nawawi Al-Bantani. …
  6. Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fattah, (menggantikan kakeknya, yaitu Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir)
  7. Pangeran Sadeli, (Menggantikan kakeknya yaitu: Sultan Abulmu’ali Ahmad)
  8. Sayyid Abdul Wahid Azmatkhan, Sumenep, Madura (Menggantikan Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri)
  9. Sayyid Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek), Bangkalan, Madura, (Menggantikan kakeknya, yaitu: Sayyid Ahmad Baidhawi Azmatkhan)
Kyai Mojo, (Menggantikan Sayyid Yusuf Anggawi (Raden Pratanu Madura)
Kyai Mojo (Kyai Muslim Muhammad Halifah)
MUSLIM MUHAMMAD KHOLIFAH
Alias : Kyai Mojo 
Lahir : Mojo, Pajang, Jawa Tengah
Orangtua : Iman Abdul Ngarip
Menggantikan: Sultan Ageng Tirtayasa
Daerah da’wah: Pulau Jawa dan Sulawesi Utara 
Wafat : 1848 M 
Makam : Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara

Kyai Modjo lahir sekitar tahun 1792 dan kemudian menjadi guru agama (ulama) yang sangat berpengaruh daerah Pajang dekat Delanggu, Surakarta. Nama sebenarnya adalah Muslim Mochammad Khalifah.

Masa Kecil

Ayah Kyai Modjo bernama Iman Abdul Arif, yang merupakan seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, kedua dusun tersebut berada dekat Pajang dan merupakan tanah pemberian (perdikan / swatantra) Raja Surakarta kepada beliau. Belum diketahui latar belakang keluarga beliau, kecuali menurut suatu sumber (Babcock, 1989) Iman Abdul Ngarip memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Sedangkan ibu Kyai Modjo adalah saudara perempuan HB III, dan dengan demikian ditinjau dari hubungan kekerabatan Kyai Modjo adalah kemenakan Pangeran Diponegoro karena ibu Kyai Modjo (R.A Mursilah bersepupu dengan Pangeran Diponegoro).

Meskipun ibunya seorang ningrat kraton, Kyai Modjo dibesarkan di luar kraton. Setelah menunaikan ibadah haji ke Mekah dan menetap di sana selama beberapa waktu (Ali Munhanif, 2003) Kyai Modjo kemudian memimpin satu pesantren di negeri Modjo .

Pernikahan
Kyai modjo menikah dengan R.A Mangubumi (Babcock, 1989), janda cerai dari Pangeran Mangkubumi - paman Pangeran Diponegoro dan karena perkawinan ini Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Modjo dengan sebutan “paman”, meskipun dari garis ayah Kyai modjo adalah “kemenakan” Pangeran Diponegoro (ibu Kyai modjo (R.A Mursilah) adalah sepupu Pangeran Diponegoro).

Karier
Kyai Mojo mempelajari agama Islam dengan berguru kepada Kyai Syarifudin di Gading Santren Klaten. Setelah dewasa, ia berguru kepada kyai di Ponorogo. Disinilah Kyai Mojo mendapatkan pengajaran tentang ilmu kanuragan. Sejak saat itulah beliau terkenal akan kesaktiannya, di samping terkenal akan pendidikan agama dan pesantrennya. Ia termasuk salah seorang kepercayaan Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono VI (PB VI).

Sepeninggal ayahnya, Kyai Modjo melanjutkan tugas ayahnya sebagai guru agama di (pesantren) Modjo di mana banyak putra dan putri dari Kraton Solo belajar di pesantrennya di Modjo. Kelak nama Muslim Mochammad Khalifah menjadi terkenal sebagai Kyai Modjo. Keulamaannya dan ada pertalian darah dengan Kraton Yogyakarta (baca Pangeran Diponegoro) kemungkinan membuat Pangeran Diponegoro memilih Kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya.

Dekadensi moral yang terjadi di kraton kemudian berimbas pada kehidupan masyarakat luas semakin menderita, telah menjadi sebab keluarga Iman Abdul Ngarip, khususnya Muhammad Muslim (Kyai Modjo) beserta saudara-saudaranya (Kyai Khasan Mochammad, Kyai Khasan Besari, dan Kyai Baderan) dan masyarakat luas mengangkat senjata menentang Belanda.

Akhir Hayat Kyai Mojo (Kyai Muslim Muhammad Halifah)
Setelah di "penangkapan" oleh Belanda pada 17 Nopember 1828 di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah, Kyai Modjo dibawa ke Batavia dan selanjutnya diasingkan ke Tondano - Minahasa (Sulawesi Utara) hingga wafat di sana pada tanggal 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun. Ikut bersama beliau dalam pengasingan di Tondano adalah satu putranya (Gazaly), 5 orang kerabat dekat – ada pertalian darah (Tumenggung Reksonegoro Kyai Pulukadang, Tumenggung Zess Pajang, Ilyas Zess, Wiso/Ngiso Pulukadang, dan Kyai Baderan/Kyai Sepuh) serta lebih dari 50 orang pengikut lainnya yang semuanya laki-laki. Istri beliau menyusul ke Tondano setahun kemudian. 

Kecuali Kyai Modjo, hampir semua pengikutnya menikah dengan wanita Tondano (Tombokan, Walalangi, Tumbelaka, Rumbayan, dan lain-lain) dan dari perkawinan ini lahir beberapa keluarga yang dewasa ini dikenal dengan nama keluarga (marga,fam) antara lain "Pulukadang", "Modjo", "Baderan", "Zess", "Kyai Demak", "Suratinoyo", "Nurhamidin", "Djoyosuroto", "Sutaruno", "Kyai Marjo", dan lain-lain.


Kyai Modjo merupakan pendiri Kampung Jawa Tondano di Minahasa dan menjadi cikal bakal masuknya Agama Islam di Minahasa. Di Tondano beliau menyalurkan ilmu kesaktiannya (yang dipelajarinya di Ponorogo) kepada pengikutnya dalam bentuk ilmu bela diri dan kemudian menjadi cikal bakal pencak silat. ///Source///

Kampung Jawa, Tondano Utara, Minahasa
Kampung Jawa disebut juga Kampung Jawa Tondano, merupakan salah satu kelurahan yang berada di kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Tempat ini berada di sebelah utara Danau Tondano dan berjarak sekitar 65 km arah selatan dari kota Manado sekitar 90 menit perjalanan menggunakan mobil, atau berjarak 2 km dari kota Tondano. dengan populasi yang semuanya Muslim.

Sejarah berdirinya Kampung Jawa, Tondano Utara, Minahasa
Berawal dari ditangkapnya Kyai Modjo yang merupakan Penasehat Agama sekaligus Panglima perang dari Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830), pada 1828. 

kemudian dibawa ke Batavia, selanjutnya Kyai Modjo dan 63 orang pengikutnya diasingkan Belanda sebagai tahanan politik ke Minahasa Sulawesi Utara. Kyai Mojo tiba di Tondano pada tahun 1829 hingga meninggal di sana pada tanggal 20 Desember 1848 dalam usia 84 tahun. Kecuali Kyai Mojo, semua pengikutnya (semuanya pria Jawa) menikahi perempuan Minahasa asli Tondano dan keturunan mereka mendiami kampung yang saat ini dikenal dengan Kampung Jawa Tondano. 

Selain Rombongan Kyai Modjo, ada juga Rombongan atau tokoh tokoh lain yang diasingkan ke Tondano oleh Belanda setelah rombongan Kyai Modjo berada di Tondano. diantaranya dari Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Maluku. Termasuk Pangeran Perbatasari dari Kerajaan Banjar yang ditangkap Belanda saat berada di Kutai untuk meminta bantuan perang pada tahun 1885..

Penduduk Kampung Jawa Tondano sendiri adalah merupakan Etnis Baru percampuran Suku Jawa, Suku Sumatera ( Palembang, Aceh ), Suku Banjar, Suku Arab dengan Suku Minahasa. Percampuran Etnis ini mempengaruhi Budaya dan Kesenian di Jawa Tondano. ////Source///
Berkas:Makam-kyai-modjo-1 Djoko Sanudin.jpg
Berkas:Makam-kyai-modjo-2 Djoko Sanudin.jpgBerkas:Makam-kyai-modjo-3 Djoko Sanudin.jpg
Makam Kyai Mojo Minahasa
Makam Kyai Mojo terletak di sebuah daerah perbukitan di Desa Wulauan, Kecamatan Tolimambot Minahasa, Sulawesi Utara, hanya beberapa menit setelah melewati Kampung Jawa Tondano, atau kampung “Jaton”, sebuah perkampungan berpenghuni lebih dari 1800 jiwa yang merupakan keturunan pengikut Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Tondano pada tahun 1929, serta keturunan para pejuang lainnya yang dibuang Belanda ke Kampung Jaton ini.


Kyai Mojo adalah penasehat spiritual Pangeran Diponegoro yang mengobarkan Perang Jawa melawan pasukan kolonial Belanda pada 1825 – 1830. Kompleks Makam Kyai Mojo ini jauh lebih baik lokasi dan suasananya ketimbang Kompleks Makam Pangeran Diponegoro yang relatif sempit dan berada di tengah keramaian kota Makassar.
Di puncak bukit inilah kompleks Makam Kyai Mojo berada

Undakan yang menuju ke arah puncak bukit dimana Makam Kyai Mojo berada, dengan papan nama serta penjelasan singkat tentang Makam Kyai Mojo yang mulai terlihat usang, serta papan nama Pahlawan Nasional KH Ahmad Rifa’i yang terlihat masih baru. Undakan ini berjarak sekitar 100 meter dari tepi jalan dimana pintu pagar pertama berada. Beruntung bahwa pintu pagar kedua di undakan ini tidak terkunci.
Papan nama di pintu undakan Makam Kyai Mojo itu menceritakan bahwa rombongan Kyai Mojo yang tiba di Tondano pada akhir tahun 1929 itu berjumlah 63 orang, dan semuanya laki-laki. Mereka kemudian menikah dengan wanita Minahasa, diantaranya bermarga Supit, Sahelangi, Tombokan, Rondonuwu, Karinda, Ratulangi, Rumbajan, Malonda, Tombuku, Kotabunan, dan Tumbelaka, dan kemudian beranak pinak di Kampung Jaton di Tondano itu.

Papan itu juga menyebutkan bahwa Kyai Mojo, yang nama aslinya adalah Kyai Muslim Muhammad Halifah, lahir pada 1764 dan wafat pada 20 Desember 1849. Kampung Jawa Tondano adalah merupakan komunitas yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, di tengah mayoritas penduduk Tondano yang beragama Kristen, namun mereka hidup berdampingan dengan baik.


Ada sebuah tengara yang dipahat di dinding tembok sebelah kiri pintu gerbang undakan, yang menunjukkan tahun pemugaran kompleks Makam Kyai Mojo yang diresmikan oleh Prof. Dr. Haryati Soebadio pada 1981.
Anak tangga yang ujung atasnya berada di kompleks Makam Kyai Mojo di bukit yang paling bawah. Untuk sampai ke Makam Kyai Mojo, ada beberapa undakan lagi di sebelah kanan yang harus di daki sebelum sampai ke cungkup makam. Anak tangga ini terlihat rapi dan bersih, diteduhi rimbun dedaunan dan dihiasi rerumputan hijau segar.
Cungkup Makam Kyai Mojo dan KH Ahmad Rifa’i, dengan latar depan makam para pengikut dan keluarganya. Kompleks Makam Kyai Mojo ini terasa ‘wingit’
Cungkup dan Makam Kyai Ahmad Rifa’i yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 10 November 2004 oleh Presiden SBY. Kyai Ahmad Rifa’i yang lahir di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah, adalah salah satu dari sekian tokoh yang bukan bagian pengikut Pangeran Diponegoro yang diasingkan di Kampung Jawa Tondano oleh Belanda.


Kyai Rifa’i adalah seorang ulama yang terkenal sangat anti penjajah Belanda, yang secara terbuka diungkapkannya melalui dakwah dan tulisan-tulisannya. Kyai Rifa’i konon mengajarkan bahwa pemerintah kolonial Belanda adalah Kafir karena menindas rakyat; kaum birokrat tradisional adalah antek Belanda, dan karena itu juga Kafir, dan praktek beragama tidak boleh bercampur dengan kepercayaan nenek moyang, yang dinilainya sesat dan musyrik. Kyai Rifa’i juga menikah dengan wanita Minahasa dan memiliki banyak keturunan, yang diantaranya menjadi juru kunci Makam Kyai Mojo.
Makam Kyai Mojo, satu-satunya makam di dalam kompleks yang memiliki undakan sembilan. Di dalam cungkup Makam Kyai Mojo, juga terdapat makam beberapa orang pengikutnya.

Cungkup Makam KH Hasan Maulani, yang dikenal juga dengan sebutan Eyang Lengkong, karena berasal dari Desa Lengkong, Garawangi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kyai Hasan, yang oleh orang Kuningan disebut ”Eyang Menado”, ditangkap Belanda pada 1837 lalu dibawa ke Ternate. Dari sana dipindahkan ke Kema, dan tiga bulan kemudian dibawa ke Kampung Jaton.

Selain Kyai Ahmad Rifa’i dan Kyai Hasan Maulani, Kampung Jaton juga menjadi tempat pembuangan para pejuang penentang penguasa kolonial Belanda yang berasal dari Aceh, Banjarmasin, Padang, Palembang, Saparua, dan Sumatera Selatan.
Sebuah makam yang berada di ruang terbuka, dengan tulisan arab yang rapi pada nisannya.

MAKAM KYAI MOJO
Desa Wulauan, Kecamatan Tolimambot Minahasa.
Sekitar 38 km dari Manado, 1 km dari Kampung Jawa Tondano
///Source////

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...