primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label SATRIA PINANDHITA imam MAHDI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SATRIA PINANDHITA imam MAHDI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Februari 2014

Penjaga Gaib : Kaki Nini Cikal Bakal, Mbahurekso atau Pepunden ?

Khasanah Jawa 

Penjaga Gaib : Kaki Nini Cikal Bakal, Mbaurekso atau Pepunden ?

Penjaga Gaib : Kaki Nini Cikal Bakal, Mbaurekso atau Pepunden ?
Terkait dengan kepercayaan masyarakat Jawa yang menyatakan bahwa tempat-tempat tertentu di muka bumi ini pastilah ada yang menjadi penjaganya (gaib). 

Tentu saja para penjaga gaib itu akan bertugas sesuai dengan otoritas dan wewenangnya di wilayahnya masing-masing. Dan untuk mereka, masyarakat Jawa memberi sebutan dengan istilah : Kaki Nini Cikal Bakal, Mbaurekso atau Pepunden.
Sesaji Bancakan Weton
Pemahaman tentang Kaki Nini....?
Berasal dari kata “Kaki dan Nini”. Kaki dan Nini dalam bahasa Jawa artinya adalah sebutan untuk orang yang sudah tua. 
Kalau dalam dunia pewayangan seorang pendeta sepuh menyebut “kaki prabu” kepada raja yang lebih muda usia, berarti pendeta tersebut menghormati sang raja. Walaupun muda, tetapi dituakan). Orang disebut “Kaki” tidak sekedar sebagai sebutan untuk orang yang jauh lebih tua atau dituakan, tetapi juga dianggap jauh lebih pandai.
  • Kaki = Sebutan untuk orang yang jauh lebih tua (lelaki) atau dituakan, tetapi juga dianggap jauh lebih pandai.
  • Nini = Sebutan untuk orang yang jauh lebih tua (wanita) atau dituakan, tetapi juga dianggap jauh lebih pandai.
Pemahaman tentang Cikal Bakal ....?
Cikal bakal = adalah orang (sesepuh) yg mula-mula mendirikan desa atau negara; pendiri (arti)
orang yg menurunkan; nenek moyang kita dari genetika (leluhur)
Pemahaman tentang mbaurekso....?
mbaurekso = menunggui, penunggu, menguasai
“Sing Baurekso” (baca: seng mbaurekso), dalam bahasa jawa artinya “yang berkuasa” dan biasanya untuk di pakai sebagai julukan arwah penunggu atau arwah leluhur dan khodam.
(termasuk :Mustika dan Benda Ghoib)
Pemahaman tentang Pepunden....?
pe·pun·den /pepundén/ Jawa mengandung pengertian sebagai beriku :

  1. Jjunjungan; pujaan; 
  2. Sesuatu yg dihormati sekali 

Tokoh yang istimewa yang menjadikan desa itu mewujud, ter-‘baptis’-kan sebagai tokoh pujaan bagi warga masyarakat yang bersangkutan. 

Dari konsep junjungan / pujaan itulah kemudian lahir pemahaman bersama mengenai punden, yakni suatu tokoh yang dijadikan pepundian (pujaan) semi sakral yang oleh generasi sesudahnya dipahami berada dalam ruang istirah tertentu yang disebut makam. 

Dari pemahaman demikian, maka sang tokoh (pujaan) , yang berada dalam tempat istirah (makam) itulah pepunden yang diingat dan yang dipuja sebagai protektor bagi warganya. Sebagai protektor maka pepunden tidaklah “mati” tetapi ia ada dalam alam yang berbeda. Oleh karena dipersepsi demikian maka sesungguhnya antara warga masyarakat itu dengan pepundennya, dapat melakukan hubungan-hubungan simbolik.

Pepunden atau Makam

Dalam kesadaran orang Jawa tentang “ruang”, makam atau punden adalah ruang sakral (lawannya: profan) dan keramat. Konsep “keramat” di sini berarti tempat yang dimuliakan dan oleh karena itu di seputar tempat makam itu, orang tidak bisa bertindak seenaknya kalau tidak ingin dirinya terkena afadz (celaka, apes, nasib buruk).
Pepunden sangat dikeramatkan oleh folknya. Ini menjelaskan bahwa makam yang dijadikan pepunden adalah makam dalam pengertian yang sangat khusus yaitu tempat para tokoh yang memiliki kesaktian-kesaktian dalam hidupnya, dan juga memberi nilai kemanfaatan terutama bagi masyarakat yang hidup sejamannya. 
Karunia Illahi

Seperti halnya manusia yang merupakan khalifah Allah di muka bumi. Khalifah dalam hal ini memiliki arti makna yang luas. Selain sebagai penjaga, di suatu tempat khalifah juga memiliki otoritas serta kewenangan tertentu. Misal para Raja, Sultan, Ratu. Dan sosok gaib yang membawahi suatu wilayah, tentu saja merupakan karunia Sang Pencipta guna menjaga keseimbangan bumi ciptaan-Nya.

Kita harus sadar antara do’a dan tradisi memiliki ikatan yang erat bahkan seperti dua mata pedang yang tidak bisa di pisahkan. Betapa tidak, tradisi atau tata cara merupakan suatu ‘kendaraan’ untuk sampainya suatu keinginan dalam memohon. Sementara kesakralan dapat di jadikan sebagai kekusyukan kita dalam berdo’a. 

Karenanya, tradisi ritual merupakan tradisi sacral yang tidak boleh di tinggalkan. Terlebih pada masyarakat Jawa, karena hal demikian dapat menciptakan suatu keseimbangan baik bagi manusia selaku jagad cilik maupun alam yang merupakan jagad raya atau jagad besar yang kesemuanya itu sudah di titipkan oleh sang maha kuasa kepada manusia dan mahluk lain sebagai penghuni alam ini.

Ini sudah menjadi suatu hal yang jelas, dimana Tuhan sang maha pencipta yang juga maha kuasa telah menitipkan atau memberi kuasa untuk meruat dan merawat segala isi bumi kepada para penghuninya. Manusia salah satu penghuni bumi yang memiliki akal dan budi pekerti, tentu memiliki tradisi atau tata cara dalam meruwat dan merawat alam ini. 

kita tidak boleh meninggalkan adat, budaya dan tradisi yang sudah ada sebelum kita lahir. Karena hal tersebut merupakan ‘kitab tak tertulis’ yang patut di jaga dan dilestarikan.

“Ingat, sejarah masa lalu sangat menentukan peristiwa masa kini dan masa datang’. Demikian pula bencana alam yang terjadi, jelas terkait dengan peristiwa masa lalu dan perjanjian-perjanjian sakral yang dilakukan oleh para pendahulu kita. 

Seperti halnya perjanjian antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati sebagai ihwal berdirinya Kerajaan Mataram. Pada intinya Kanjeng Ratu Kidul mengiyakan berdirinya kerajaan Mataram Islam Namun harus berkulitkan jawa dalam artian tidak meninggalkan adat dan tradisi yang sudah ada. 
Dengan kata lain, Pembauran antara Islam dengan jawa harus berupa proses akulturasi sehingga adat atau tradisi yang sudah ada tidak kehilangan akar oleh peradaban yang baru. Sementara saat ini cenderung kepada peristiwa asimilasi yang berupaya mencabut akar yang sudah ada sebelumnya.


Demikian pula dialog yang terjadi antara Sabdopalon dan Syaikh Subakir yang pada akhirnya tercipta kesepakatan bahwa tanah jawa (sepenuhnya) akan dikembalikan setelah 500 tahun berlalu. Peristiwa dialog antara ‘tokoh’ Majapahit dan tokoh Islam tersebut terjadi di saat transisi Kerajaan Majapahit - Demak.

Seperti telah tersurat dan tersirat di dalam salah satu bagian Serat Jangka Jayabaya tertulis : 
pada suatu masa, Pulau Jawa seperti kapal tua yang bocor di tengahnya, kemasukan air.

Sekarang = Periode Akhir Jaman Kalabendu ?

Jika dibaca dengan teliti apa yang tersurat di dalam Kitab Jangka Jayabaya Pranitiwakya, gubahan paling akhir pada masa hidup pujangga Raden Ngabei Ranggawarsita yang berhasil dihimpun oleh Raden Tanoyo, negara ini tengah memasuki periode akhir dari jaman Kala Bendu.

Ciri-ciri Jaman Kalabendu ?

Hal ini tampak dengan jelas dari ciri-ciri Jaman Kalabendu, yaitu : pajak makin tinggi, para kalangan atas politik hanya mementingkan diri sendiri dan golongannya, banyak orang makin miskin, banyak wanita kehilangan rasa malu, hujan sering turun diluar musim semestinya, banyak bencana alam dan masih banyak lagi.

Alam Sedang Melakukan Penyaringan ?

Kita tengah memasuki akhir dari jaman Kala Bendu. Dan akan mulai memasuki zaman Sultan Herucakra (Ratu tedaking Sultan Herucakra). Dengan caranya sendiri, alam sedang melakukan penyaringan. Hal ini tidak dapat ditolak. 

Hasilnya adalah sebagaimana diisyaratkan, "Wong Jawa kari separo, Wong Cina lan Londo tinggal sak jodo". 

NB : ini adalah kiasan atau sanepan menurut kami. Sanepan adalah multi tafsir atau memiliki banyak penafsiran. Dari salah satu artikel lain, kami menemukan arti Wong Jawa = kari separo bukan berarti jumlah penduduk Jawa musnah tinggal separuh, tetapi orang Jawa tinggal memiliki separuh bagian sisi manusianya yaitu sisi materi. Sisi materi artinya aspek materi duniawi menjadi menjadi tolok ukur satu-satunya. Sisi separuh yang lain telah hilang. Sisi itu adalah aspek spiritual dan budaya. Sudah banyak yang melupakan spiritual dan budaya dengan berbagai alasan. Semua orang sibuk mengejar aspek materi duniawi belaka.

Wong Jowo kari separo
Banyak tafsir memang dalam mengartikan sandi sastra "wong jowo kari separo"

  • Secara fisik terlahir di tanah Jawa. mendapat nama Jawa tapi rohaninya bukan Jawa.
  • Secara fisik lahir di tanah Jawa. tapi namanya dari Arab, Eropa, Amerika, India, biar kelihatan iman islami, keren/modern. tidak ndeso. Tapi justru kehilangan genuenitas kepribadian asli jawa.
  • Secara fisik lahir di tanah jawa.Tapi sudah gak doyan makanan asli Jawa. Makananya Kebab, kebuli, Hamburger, steak, lasagna, pizza.
  • Secara fisik lahir di tanah jawa.Tapi ilmu bathinya bukan dari jawa. Ilmunya dari Arab, Cina, India, Tibet, eropa serta amerika.
  • Secara fisik lahir di tanah jawa, tapi sama sekali gak bisa ngomong dan berbahasa jawa.

Manuso kuwi ewuh ayaning pambudi. jejer jowo piadege monco, wiji ninggal wrangkane. modho modho ageman aji kang klarah awiya nepi ing punjere.

jati wisesame datan nate kepanggih, kebondho angen angen sesebatan suci kang adoh mring sangkan parane dhat.

Krisis Moral ?

Saat ini, disadari ataupun tidak, bangsa ini tengah mengalami krisis luar biasa besar. Krisis yang dimaksud adalah krisis moral. Krisis moral ini terlihat dari banyaknya korupsi di seluruh lapisan sosial masyarakat. Hilangnya rasa memegang amanah. Bangsa ini telah melupakan budaya nya. Salah satunya adalah wewarah Sastra Jendra Hayuningrat. Padahal budaya ini dapat membuat Memayu Hayuning Bawana dan ikut menciptakan kedamaian dunia.

Kejujuran Yang Hilang ? Serat Kalatida ?

Selain hilangnya konsep memelihara dan menjaga amanah serta merajalelanya korupsi, masih ada hal lain. Hal itu adalah hilangnya kejujuran pada sebagian masyarakat. Aspek ini jauh hari sebelumnya telah diramalkan juga. 
Tertulis dalam Serat Kalatida yang berbunyi : "Sabegja bejane wong kang lali, luwih begja kang eling lan waspodo". Terjemahan bebasnya : seuntung-untungnya orang yang lupa, lebih beruntung yang selalu ingat dan waspada.

Kesimpulan :
Kegagalan manusia dalam menciptakan kehidupan rukun damai karena berebut kebenaran.
Benar dan salah bersifat dualistis, tidak memiliki titik temu. Masalahnya kebenaran selalu disertai atau berimpit dengan keberpihakan. Kebenaran tidak berdiri sendiri. selalu merujuk pada Hukum, syariat, adat dan sebagainya. kebenaran tidak berlaku universal yang dapat diterima oleh orang seluruh dunia.

Demi kebenaran banyak orang meninggalkan budi pekerti luhur yang seharusnua dijunjung tinggi. Demi kebenaran ternyata justru banyak orang memberhalakan kebenaran.

Salam Rahayu....Slamet....Slamet....

Rabu, 29 Januari 2014

Bocah Angon menurut Ugo Wangsit Silwangi


Bocah Angon menurut Ugo Wangsit Silwangi
Bocah angon

Suatu saat nanti, apabila tengah malam
terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya.

Sosok Satrio Piningit memang masih misterius. Banyak sudah yang mencoba untuk menemukannya dengan caranya sendiri-sendiri. Alhasil ada yang yakin telah menemukannya, bahkan juga ada yang mengaku dirinyalah si Satrio Piningit tersebut. Apabila diteliti maka sosok yang telah ditemukan itu masih bisa diragukan apakah memang dia si calon Ratu Adil ?

Keragu-raguan yang muncul mendorong untuk menelaah dan mempelajari kembali apa yang telah diungkapkan dalam naskah-naskah leluhur mengenai sosok Satrio Piningit sejati. Salah satu naskah yang biasa kita gunakan sebagai rujukan yaitu Ugo Wangsit Siliwangi. Siliwangi dalam Ugo Wangsitnya menyebut si calon Ratu Adil dengan sebutan Bocah Angon atau Pemuda Penggembala. 

Beberapa hal yang disebutkan dalam Ugo Wangsit Siliwangi mengenai Bocah Angon yaitu :
1. Suara minta tolong.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné.

Bait 169 - Ramalan Jayabaya
sirik den wenehi
ati malati bisa kesiku
senenge anggodha anjejaluk cara nistha
ngertiyo yen iku coba
aja kaino
ana beja-bejane sing den pundhuti
ateges jantrane kaemong sira sebrayat

pantang bila diberi
hati mati dapat terkena kutukan
senang menggoda dan minta secara nista
ketahuilah bahwa itu hanya ujian
jangan dihina
ada keuntungan bagi yang dimintai
artinya dilindungi anda sekeluarga


” Kata “suara minta tolong” sepertinya sama dengan ungkapan Joyoboyo dalam bait 169 yaitu “senang menggoda dan minta secara nista, ketahuilah bahwa itu hanya ujian, jangan dihina, ada keuntungan bagi yang dimintai artinya dilindungi anda sekeluarga“.

Bocah Angon di awal kemunculannya akan beraksi melakukan hal-hal sebagai pertanda kedatangannya. Salah satunya adalah meminta tolong kepada orang di sekitar daerah Gunung Halimun. Tidak jelas mengapa dia minta tolong kepada orang lain, apakah dia dalam kesulitan ataukah keperluan lainnya. 

Yang pasti bila telah terjadi hal demikian berarti itu pertanda akan kemunculannya.
Sementara dikaitkan dengan Ramalan Joyoboyo paba bait 169 disebutkan bila Bocah Angon tersebut “suka minta secara nista sebagai ujian”. Kalimat tersebut mengindikasikan bahwa minta tolong itu hanya sebatas ujian bagi yang dimintai pertolongan. Ujian apakah itu? belum diketahui ujian apa yang suka dilakukan Bocah Angon pada orang. Sebaiknya kita tunggu saja kejadiannya.

2. Mencari sambil melawan, 
melawan sambil tertawa.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala.” Kata terlanjur dilarang ini apa maksudnya? Apakah dilarang dalam mengungkap fakta-fakta, ato dilarang meluruskan sejarah? sepertinya masih butuh penafsiran lagi.

Yang pasti Bocah Angon sepertinya tidak peduli dengan larangan pemimpin. Bahkan bukan hanya tidak peduli dengan larangan tersebut, tetapi lebih dari itu Bocah Angon melawan larangan si pemimpin itu sambil tertawa. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan si pemimpin bila dilawan sambil tertawa. Bisa-bisa Bocah Angon dalam situasi bahaya nih karena kerjanya selalu melawan sang pemimpin pengganti.

Kata banyak yang ditemui sebagian-sebagian karena terlanjur dilarang pemimpin baru, menunjukkan bahwa yang akan ditemukan masyarakat memang hanya sebagian saja. Oleh karena sebagian saja maka yang ditemukan tersebut belumlah lengkap dan tentunya belum sempurna hasilnya. Tetapi tidak bagi Bocah Angon, dia terus saja mencari sambil melawan. Bisa jadi temuan si Bocah Angon ini kelak merupakan temuan yang paling lengkap dan mendekati kebenaran.

3. Dia gembalakan ranting daun kering dan sisa potongan pohon.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”

Bocah Angon memiliki kebiasaan mengumpulkan daun dan ranting. Kata daun dan ranting yang disebutkan Ugo Wangsit Siliwangi dalam bahasa asli Sundanya yaitu “Kalakay jeung Tutunggul“. Kalakay merupakan daun lontar yang biasa digunakan oleh orang kita pada jaman dulu kala sebagai lembaran daun untuk menulis. Sementara Tutunggul merupakan ranting pohon yang biasa digunakan orang kita pada jaman dulu kala sebagai pena untuk menulis. Sehingga Kalakay dan Tutunggul bisa diartikan sebagai kertas dan pena.

Si Bocah Angon ini memiliki kegemaran suka menggembalakan kertas dan pena. Dia terus mengumpulkan dan mengumpulkan kedua barang tersebut sebagai gembalaannya. Tidak jelas kenapa dia suka menggembalakan kertas dan pena. Kata mengumpulkan itu berarti kertas dan pena tersebut tidak hanya 1 buah, tetapi jumlahnya banyak dan itu menjadi barang kegemarannya.

Selanjutnya disebutkan “Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian“. Kalimat tersebut bisa berarti bahwa Bocah Angon menggembalakan kertas dan pena untuk menemukan sejarah dan kejadian. Ntah sejarah dan kejadian apa yang dia kumpulkan, tetapi bisa dimengerti bahwa di Nusantara banyak sekali sejarah yang dirubah, mungkin hal tersebut bisa juga terkait dengan pelurusan sejarah kita.

Dia akan terus mengumpulkan sejarah dan kejadian-kejadian penting tentunya untuk menyelesaikan masalah di Nusantara. Wajar saja bila sejarah ditelusuri karena memang untuk menyelesaikan suatu masalah tidak bisa tidak harus mengetahui awal sejarahnya bagaimana bisa terjadi. Dengan kegemarannya menelusuri sejarah dan kejadian yang dituangkan dalam kertas dan pena tersebut kelak masalah di Nusantara akan bisa dibereskan dengan mudah. Semoga.

4. Rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu”. Kata di ujung sungai menunjukkan bahwa rumah Bocah Angon letaknya berada dekat dengan hulu sungai. Siliwangi tidak memberikan gambaran berapa jarak antara rumah dengan sungai tersebut. Bisa jadi hanya beberapa meter dari sungai, tetapi bisa jadi puluhan meter dari sungai.

Siliwangi juga tidak menyebutkan nama dari sungai tersebut sehingga rada menyulitkan untuk menentukan letak sungainya. Di Jawa terdapat banyak sekali sungai membentang dari utara hingga selatan. Dan rata-rata di pinggir sungai terdapat banyak rumah penduduk dan ini tentunya sangat menyulitkan untuk menentukan letak sungainya yang sesuai kata Siliwangi. Namun yang pasti Bocah Angon rumahnya dekat sungai sehingga bila ada yang mengaku dirinya Bocah Angon tetapi rumahnya jauh dari sungai berarti itu tidak sesuai dengan Ugo Wangsit Siliwangi.

Kemudian untuk kata pintunya setinggi batu masih perlu dipertanyakan, apakah atap rumahnya terbuat dari batu? dan juga apakah pintu rumahnya juga terbuat dari batu? kok seperti rumah nenek moyang kita dulu. Bisa jadi demikian tetapi mungkin juga tidak demikian.

Kalimat tersebut bisa dipahami bahwa rumah Bocah Angon tidak hanya 1 lantai, namun bertingkat rumahnya. Hal ini diperkuat dengan ungkapan Joyoboyo pada bait 161 yaitu “berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga“. Dari ungkapan Joyoboyo menunjukkan ada 3 lantai rumah dari Bocah Angon. Tentunya bukan rumah biasa, bisa jadi rumah tingkat ekonomi menengah atau memang Bocah Angon dari keluarga kaya? belum bisa dipastikan.

Oleh karena untuk membuat suatu rumah yang bertingkat dengan bahan semen untuk lantai 2nya, maka dari bahan semen yang padat otomatis akan membentuk batu yang keras. Sehingga bisa dipahami bila pintu lantai pertama akan setinggi batu (setinggi cor semen lantai 2). Memang kebanyakan rumah orang yang bertingkat pintunya pasti akan setinggi lantai 2, tepat di bawah cor semen yang telah menjadi batu tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa rumah Bocah Angon memang bertingkat yang pintunya setinggi lantai tingkat 2nya.

5. Tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang”. Kata rimbun oleh pohon Handeuleum dan Hanjuang berarti di depan rumah Bocah Angon terdapat 2 pohon yang sangat subur dan menjadi ciri khas rumahnya. Dalam hal ini hanya disebutkan 2 buah pohon saja, artinya memang hanya ada 2 buah pohon di depan rumahnya sebagai pembeda dari rumah lainnya.

Apabila ditelusuri kedua jenis pohon tersebut dalam istilah bahasa Indonesianya memang belum diketahui apa namanya. Kedua kata tersebut sepertinya bahasa kuno dari daerah Sunda tempat Siliwangi berada. Hingga kini belum ada pihak yang merasa mengetahui kedua jenis pohon tersebut. Bahkan orang-orang asli Sundapun juga mengaku tidak mengetahui kedua jenis pohon itu. Kita tunggu saja kelak akan kita ketahui juga.

Sementara itu beberapa kalangan justru menafsirkan kata Handeuleum dan Hanjuang sebagai simbol saja. Benarkah kedua pohon itu sebenarnya bukan pohon hidup di atas tanah, tetapi sekedar simbol saja? Coba anda lihat kembali Siliwangi menyebut Pemuda Penggembala dengan “Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon.”

Kata pemuda penggembala itu cuma simbol dari Siliwangi. Kemudian simbol tersebut dijelaskan bila yang digembalakan bukan binatang, tetapi daun dan ranting. Sementara kata Handeuleum dan Hanjuang tidak ada kalimat penjelasan selanjutnya. Sehingga kedua kata tersebut dapat dipastikan memang dua buah pohon yang tumbuh di atas tanah. Apabila simbol tentunya Siliwangi akan menjelaskan maksudnya.

6. Pergi bersama pemuda berjanggut.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Siapakah pemuda berjanggut itu? Penyebutan pemuda berjanggut ini masih perlu dipertanyakan. Apakah pemuda tersebut merupakan kerabat atau keluarga atau teman ataukah pengasuh si Bocah Angon? Belum jelas diketahui karena memang dalam Ugo Wangsit Siliwangi tidak menyinggung mengenai hal tersebut.

Dalam naskah-naskah lain memberitahukan bahwa Ratu Adil memiliki pengasuh yaitu Sabdo Palon. Mungkinkah pemuda berjanggut tersebut adalah Sabdo Palon? Sepertinya tidak karena Sabdo Palon merupakan sosok Jin, sementara penyebutan kata pemuda menunjukkan dia adalah manusia. Jadi pemuda berjanggut bukanlah Sabdo Palon.

Misteri ini masih sulit untuk diungkap yang sebenarnya. Pada saat Bocah Angon masih menjadi sosok yang misteri, pada saat yang sama pula ada sosok lain yaitu pemuda berjanggut yang jati dirinya juga masih misteri. Namun yang pasti pemuda tersebut memiliki janggut dan kelak akan kita ketahui setelah tiba waktu kemunculan Bocah Angon.

7. Pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!” Bocah Angon sepertinya tidak akan ditemukan sebelum kemunculannya. Ketika orang-orang sudah menemukan rumahnya yang di ujung sungai, dia telah pergi bersama pemuda berjanggut ke Lebak Cawéné.

Siliwangi tidak menyebutkan kemudian orang-orang akan berhasil menemukan Bocah Angon di Lebak Cawéné setelah gagal menemukan di rumahnya. Tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit Siliwangi. Karena tidak ada kata itu maka bisa disimpulkan bahwa jarak antara rumah dengan Lebak Cawéné tidak dekat bahkan mungkin sangat jauh.

Siliwangi juga tidak menyebutkan setelah pergi ke Lebak Cawéné si Bocah Angon kemudian kembali lagi ke rumahnya. Karena tidak ada kalimat yang menyebutkan hal tersebut berarti Lebak Cawéné merupakan tempat baru yang ditinggali Bocah Angon setelah rumahnya yang di ujung sungai di tinggal pergi. Apabila Bocah Angon kembali lagi ke rumahnya yang di ujung sungai, maka tentunya Siliwangi akan menyebutnya berhasil ditemukan di rumahnya. Sudah pasti bila orang telah menemukan rumahnya maka akan ditunggui kapan kembalinya. Tetapi ternyata tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit Siliwangi.

Sampai saat ini belum diketahui dimana letak Lebak Cawéné berada. Dalam peta Jawa maupun peta Indonesia, tidak ada daerah yang diberi nama Lebak Cawéné. Oleh karena namanya yang masih asing inilah maka banyak kalangan menafsirkan menurut keyakinannya masing-masing.

Ada yang menafsirkan Lebak Cawéné berada di lereng sebuah gunung. Ada juga yang mengatakan berada di petilasan Joyoboyo. Yang lain mengatakan berada di tempat yang ada guanya dan sebagainya membuat semakin tidak jelas saja letak Lebak Cawéné dimana. Tetapi apabila anda meyakini sebuah tempat merupakan Lebak Cawéné, maka bisa dipastikan anda akan memaksakan kehendak untuk menentukan 1 orang di daerah tersebut sebagai calon Ratu Adil. Wah jadi kasian pada orangnya kena sasaran.

Ketahuilah bahwa Siliwangi tidak menyebutkan Bocah Angon akan berhasil ditemukan di Lebak Cawéné. Di sisi lain Siliwangi juga tidak memberikan ciri-ciri Lebak Cawéné yang dia katakan sehingga mustahil Lebak Cawéné bisa diketahui sebelum Ratu Adil muncul, kecuali anda lebih sakti dari Siliwangi. Kemampuan sama dengan Siliwangi aja tidak mungkin apalagi lebih tinggi dari Siliwangi, jelas tidak mungkin lagi.

8. Gagak berkoar di dahan mati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati”. Kata Gagak berkoar mungkinkah memang burung Gagak yang suka berkicau, ataukah itu merupakan simbol saja.

Banyak kemungkinan mengenai Gagak berkoar tersebut. Namun dalam naskah-naskah lain seperti yang diungkap Ronggowarsito dan Joyoboyo bahwa Bocah Angon sebelum menjadi Ratu Adil hidupnya menderita, dia sering dihina oleh orang. Apabila dikaitkan dengan hal tersebut maka Gagak berkoar itu bisa juga diartikan sebagai orang-orang yang suka menghina si Bocah Angon.
Oleh karena hidupnya yang selalu saja dihina orang, maka akhirnya Bocah Angonpun pergi meninggalkan rumahnya. Kemudian dia bersama pemuda berjanggut menuju ke Lebak Cawéné untuk membuka lahan baru disana. Semua mencari tumbal bisa saja diartikan sebagai mencari berita dan ketika yang dicari si Bocah Angon sudah tidak ada, maka tidak bisa tidak mencari berita dari para Gagak yang berkoar tersebut.

9. Ratu Adil sejati.
Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.” Kita disuruh Siliwangi untuk mencari Bocah Angon, karena dialah yang kelak akan menjadi Ratu Adil sejati.

Sepertinya SIliwangi bermaksud memberikan pesan untuk berhati-hati dalam mencari Bocah Angon. Hal ini dikarenakan banyak sekali Bocah Angon palsu akan bermunculan di Jawa ini. Kemunculan Bocah Angon palsu bisa jadi karena dukungan orang lain akan dirinya sehingga dipaksa cocok menjadi Ratu Adil, tetapi juga bisa jadi karena terburu-buru meyakini dirinyalah si Bocah Angon.

Lihatlah saat ini telah banyak terdengar dimana-mana dari Jawa bagian barat hingga Jawa bagian timur, orang-orang yang muncul diyakini sebagai Ratu Adil. Bahkan juga bermunculan dimana-mana orang yang mengakui dirinyalah Ratu Adil tersebut. Apabila dimintai bukti maka orang-orang tersebut akan mencocok-cocokkan diri dengan naskah-naskah yang ada untuk meyakinkan orang. Padahal kenyataan tidak semuanya cocok.

Untuk itulah Siliwangi berpesan agar kita mencari Ratu Adil sejati, karena Ratu Adil sejati hanya satu sementara Ratu Adil palsu banyak sekali. Walaupun banyak Ratu Adil palsu, hal itu tidak akan mengubah kepastian munculnya yang asli. Apabila yang asli telah muncul maka semua akan terbukti mana yang asli dan mana yang palsu sesuai kata Siliwangi “Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.”

Demikianlah beberapa hal mengenai Bocah Angon sesuai yang disebutkan dalam naskah Ugo Wangsit Siliwangi. Siliwangi sengaja tidak begitu jelas menggambarkan si Bocah Angon dalam naskahnya sehingga sangat menyulitkan kita untuk menemukannya. 

Kesengajaan ini dimengerti karena memang akan banyak pihak-pihak yang tentunya menghalangi kemunculan Ratu Adil dengan berbagai alasannya.

Pada saat Siliwangi tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai Bocah Angon. Di waktu yang sama pula kita disuruh untuk mencari si Bocah Angon tersebut, memangnya kita ini terlahir sebagai detektif semua. Namun yang pasti kelak akan diketahui juga mana Ratu Adil palsu dan mana Ratu Adil yang sejati tentunya setelah tiba waktu kemunculannya. Untuk itu baik ditunggu, dicari maupun tidak sama sekali sepertinya hasilnya tetap sama. 

Waktunya akan segera tiba.

Satria Piningit Semakin Dekat (Sekarang Umur Beliau 6-7th) Pasca Letusan Merapi tahun 2007


Satria Piningit Semakin Dekat 
(Sekarang Umur Beliau 6-7th)
Pasca Letusan Merapi tahun 2007
Satria Piningit Semakin Dekat

Budaya Jawa Dianjurkan Kepada Setiap Orang Untuk Arif Dan Bijaksana Dalam Membaca Tanda Dan Gejala Alam, Sehingga Manusia Bisa Memahami Maksud Dan Kehendak Tuhan, 
(Jawa:nggayuh kawicaksananing Gusti).
Satria Piningit Semakin Dekat

Sudah menjadi kehendak hukum alam, menjadi rumus Tuhan, 
bahwa kebenaran tak pernah kalah oleh kebathilan. Sekalipun kebenaran itu datang terlambat.
Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha.
Berjuang tanpa perlu membawa massa. Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan atau keturunan. 
Kaya tanpa didasari kebendaan.
Wirayat Gaib

Menyibak misteri siapa sejatinya sang tokoh kembar bersaudara Sabdopalon dan Noyogenggong
Banyak analisa dan penafsiran yg mendekati pemaknaan yg masuk akal dan dapat menjelaskan secara rinci kronologi dan eksistensi Sabdapalon-Noyogenggong. Prediksi-prediksi atau ramalan yang ditulis sejak zaman dahulu seperti dalam 
  • Serat Kalatida R Ronggowarsito,
  • Jongko Joyoboyo ing Kadhiri,  
  • KPH Cakraningrat, ISKS PB III,IV (serat Centini) dan 
  • PB VI berupa sanepan/cangkriman/ tebakan yg sulit ditafsirkan secara harfiah/wadag semata melainkan hrs melalui olah batin yg mendalam. 
Kecuali KPH Cakraningrat ada juga yg lebih lugas ditafsirkan yakni dalam serat Wedhatama karya Gusti Mangkunegoro IV dan Babad Centini sejak PB III s/d PB V, lebih eksplisit anda dapat meraba-raba siapa sebenarnya Sabdapalon & Noyogenggong.

Beliau Sabdapalon dan Noyogenggong bukanlah Satrio Piningit (SP)seperti disebut sebagian orang. Beliau entitasnya sudah ada sejak 2500 tahun lebih, tentu saja sebelum dialektika misteri SP muncul dalam satra-sastra kuna. 

Beliau bukan pemimpin atau raja tetapi sosok yang selalu mengasuh (Jawa:momong) kepada setiap raja-raja besar di bumi nusantara. 
SP konotasinya adalah kesatria yang berperan sebagai pahlawan atau pemimpin spiritual dan negarawan namun statusnya sebagai ksatria sulit disangka diduga. 

Sebelum beliau memimpin bangsa figurnya sulit terekspose oleh masyarakat umum, kecuali orang yang memiliki mata batin tinggi. SP tidak lain adalah Ratu Adil (RA). 
SP atau Ratu Adil adalah kesatria yg amat tersamar jati dirinya, maka disebut juga Satrio Piningit. 
Beliau TIDAK AKAN PERNAH MENGAKU (mengklaim) kepada khalayak apalagi mengekpose dirinya di depan publik sebagai Satrio Piningit atau Ratu Adil. 

Tetapi orang lain lah yang akan menjulukinya, karena seluruh karakter pribadi dan perjuangannya sesuai dengan misi sang Kalipatullah Paneteb Panatagama, Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu, Ratu Adil Herucakra, yang tanda-tandanya telah diungkapkan lebih dahulu dalam prediksi-prediksi kuno. 

Ratu Adil akan menjadi asuhan penasehat/pembimbing/dahyang para raja-raja besar dan pengasuh seluruh manusia Jawa yakni Sabdopalon dan Noyogenggong. 

Jadi konsep Sabdopalon-Noyogenggong, dengan Satrio Piningit atau Ratu Adil konsepnya berbeda, berdiri sendiri tetapi memiliki untaian atau rangkaian peranan yang sangat erat. Mereka akan hadir sebagai kepanjangan tangan Tuhan (kalifatullah), pemimpin (imam mahdi/messiah/ herucakra) yang bersifat universal meliputi seluruh agama, bangsa, suku, ras, golongan dalam upaya penyelamatan bumi khususnya bumi nusantara.

Ratu Adil Berbeda dengan konsep Sabdopalon-Noyogenggong, Ratu Adil memiliki konsep sendiri yang jelas dan tegas. Ratu adalah sosok atau tokoh jenis kelamin perempuan yang menjadi ‘raja’ atau pemimpin, atau negarawan. Menjadi ‘ratu’ atas bangsa ini, dengan dasar sikap adil, bijaksana, jujur dan tegas (senjata trisula wedha) dan ‘pedang katresnan‘ sangat tajam berupa niat suci, dengan lautan kasih sayang. Bernaung di bawah payung kuning (kebenaran). Ratu adil berasal dari gunung srandil (puncak keprihatinan, topo broto, topo ngrame, loro wirang).

Berada di dalam kandungan/rahim ibu selama lebih dari telung podho (3 tahun) sebagai topo brotonya. Jiwanya telah digembleng oleh para leluhur besar bumi nusantara. Ratu adil dari tanah arab (kebetulan agama Islam) yang menegakkan ‘gomo budi’.  Gomo budi bukan berarti secara harfiah adalah agama budha, tetapi menjunjung tinggi budi pekerti (Islam:hablum minannas) yang luhur apapun landasan agamanya. (lihat; Betal Jemur Quraisyin Adammakna/kitab betal jemur jilid 7). Kelak bumi nusantara akan adil, subur, makmur, menjadi ‘kiblat’ dunia, pada saat nanti masing-masing suku bangsa akan menghidupkan kembali nilai budaya leluhur bumi nusantara yang pernah mengalami masa jayanya di masa silam. Perbedaan suku, ras, agama justru menjadi bahan untuk membakar semangat Bhineka Tunggal Ika, bermuara pada keutuhan dan kesatuan bangsa, di Bumi Nusantara.

Ciri-ciri Ratu Adil

  1. Ratu Adil: ratu memiliki makna seorang perempuan pemimpin nan cantik luar dalam, adil dan bijaksana sebagai pemimpin bumi nusantara menggapai kemakmuran, kesejahteraan,  ketenteraman dan kebahagiaan.
  2. Seorang yang memakai Nama Tua ; bukan berarti sebutan spt embah, ki, kyai, dst, melainkan nama tua yang sesungguhnya spt misalnya ‘Sekar Kedaton …..’
  3. Senjata Ratu Adil; Pedang sirullah (pedhang katresnan) rahsa sejati, senjata ratu adil antara lain berupa ‘pedang sangat tajam’ berupa niat suci dan lautan kasih sayang kepada sesama tanpa membedakan apa agamanya, suku bangsanya, ras dan golongannya.
  4. Di bawah payung kuning; keberanian berdiri di atas dasar kebenaran yang bersifat universal.
  5. Lumuh bandha; walaupun Ratu Adil kelak merupakan sosok yang sukses ekonominya dan makmur, sejahtera, tetapi hidupnya tidak gila harta, justru dengan kekayaannya akan didermakan kepada orang-orang yang sangat membutuhkan, sebab Ratu Adil gemar membantu orang-orang yang menderita, kesusahan dan kesulitan.
  6. Kalipatullah panetep panatagama; lahir di bumi nusantara untuk mengemban amanat Tuhan YME, sebagai pemimpin yang memberikan banyak pelajaran tentang makna hidup di muka bumi (nusantara) agar supaya manusia mampu memahami makna sejatinya dari agama. Pemahaman agama yang mendalam akan menumbuhkan rasa saling menghargai, bahu membahu, serta membantu seluruh umat beragama agar dapat memahami apa hakikat sesungguhnya agama itu sendiri, sehingga tidak ada lagi konflik antar agama, primordialisme, rasisme, sikap ipokrit. Minimal di bumi nusantara.
  7. Bayi calon Ratu adil dilahirkan oleh seorang ibu yg rambutnya sudah keluar uban, didampini dua bayi laki-laki yg  wajahnya tampan rupawan  sebagai saudara kembarnya. Bayi calon ratu adil lahir dari rahim ibu sekaligus kembar tiga (triplet), satu perempuan di tengah yang dua laki-laki sebagai kakak dan adik kembarnya. Kakak kandung Ratu Adil, sejak masih di dalam rahim ibu sudah terdapat tanda-tanda memiliki talenta luarbiasa dalam bidang medis, sedangkan adik kandung ratu adil, sejak masih di dalam rahim ibunya pula telah memiliki keajaiban super jenius yg kemampuan otaknya tidak bisa diukur. Kelak, sejak lahir ketiganya menjadi aset bangsa Indonesia yang akan mampu membawa kemakmuran dan keadilan seluruh rakyat.
  8. Ketiga bayi tersebut, sejak lahir (bahkan sejak dlm kandungan ibu) sudah bisa berkomunikasi dgn ibu dan bapaknya. Sebagai persiapannya menjadi aset besar bangsa dan calon penyelamat bumi nusantara, ketiganya digembleng sejak masih di dalam rahim ibunya tentang berbagai ilmu pengetahuan dan ilmu ‘linuwih’. Karenanya Ratu Adil sejak lahir sudah membawa talenta dan kemampuan luar biasa dalam hal ilmu agama, kesaktian, joyokawijayan, olah kanuragan (beladiri), kawaskitan lahir batin yg sangat tinggi, arif bijaksana, luhur budi pekertinya (sebagai warisan dari ibunya). Ratu adil memiliki keahlian dlm bidang tatanegara, politik, hingga kesenian misalnya beksa atau menari, seni tembang jawa, dan pandai pula dalam tataboga.


Sejak masih di dlm kandungan rahim ibu, badan halus/ruhnya, sudah digembleng oleh para leluhur eyang-eyangnya sendiri dari kalangan priyayi dan bangsawan (garis keturunan dari sang ibu) yang dahulu menjadi Natapraja Ratu Gung Binatara. 
Dengan materi pelajaran meliputi ilmu kesaktian, kedigjayaan, tatanegara, hukum, politik, ekonomi, kesenian (menari dan tembang), memasak. 
Materi pelajarannya termasuk di antaranya : 
  • Serat Wulang Reh, 
  • Wulang Sunu, 
  • sejarah, 
  • berbagai macam suluk, 
  • kitab Wedhatama, 
  • Babad Centini, 
  • Pangreh Praja dan masih sekian banyak lagi kitab-kitab Jawa masa lampau. 
Keluhuran budi pekerti Ratu Adil diperoleh dari ibunya yang telah banyak sekali mengajarkan tentang keluhuran budi pekerti dan kebersihan hati sejak masih di dalam kandungan. 

Calon Ratu Adil juga mendapat bimbingan oleh para leluhur garis keturunan dari bapaknya yang dari kalangan rakyat biasa sekaligus  keturunan kyai, meliputi kesaktian, sipat kandel, diajarkan pula makna makrifat islam dan hakikat dari semua agama yang ada di bumi nusantara. 

Ruh calon ratu adil, atas kehendak Tuhan YME, sudah dipersiapkan dan direstui oleh para leluhur besar bumi nusantara, termasuk para raja dan seluruh ratu/raja dari jagad gaib, di antaranya Kanjeng Ratu Kidul, Betara Kala, serta seluruh pembesar dari jagad maya di seluruh bumi nusantara memberikan doa dan memberikan restu kepada Calon Ratu Adil untuk kelak menyelamatkan dan memimpin bangsa ini menuju masa kejayaannya kembali.

PREDIKSI; 
Atas dasar ketajaman RAHSA SEJATI
Kanjeng Mbok Ratu Kidul
Kanjeng Ratu Kidul. Beliau entitasnya sebagaimana manusia adalah tetap sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Beliau sangat religius, arif bijaksana, juga menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beliau bukan jin, bukan siluman, bukan sebangsa setan. Kanjeng Ratu Kidul adalah titisan dari bidadari yang diizinkan Tuhan menjadi ratu jagad maya pesisir selatan. 


Tuhan menciptakan entitas Ratu Kidul supaya menjadi bandul keseimbangan antara alam gaib dan alam nyata. Semestinya antara manusia dengan makhluk gaib, membangun sinergisme; dengan saling “silaturahmi”, menghargai, memiliki hubungan simbiosis mutual, serasi dan harmoni dalam bahu membahu menjaga alam semesta dari kerusakan. Manusia dengan makhluk gaib pada arasnya dapat saling melengkapi, saling mengisi kelemahan masing-masing. 

Tetapi manusia sering takabur, merasa sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna sehingga lebih suka menyia-nyiakan, menghina, aniaya, dan merendahkan, terhadap makhluk gaib (yang juga ciptaan Tuhan) secara pukul rata. Padahal kesempurnaan manusia hanya tergantung akalnya saja. Bila akal digunakan untuk mendukung kejahatan bukankah manusia tidak lebih mulia daripada binatang yang paling hina sekalipun.

Tidak seluruh makhluk gaib itu berkarakter jahat, seperti halnya manusia ada yang berkarakter jahat, suka mengganggu, tetapi ada yang berkarakter baik pula. Tetapi makhluk gaib terlanjur sering menjadi kambing hitam, oleh  manusia-manusia “jahat” agar dapat berkilah bahwa mereka melakukan kejahatan karena ulah “si setan”. Bukankah, manusia akan menjadi lebih bijaksana jika mengatakan bahwa manusia melakukan kejahatan karena menuruti hawa nafsunya (NAR/api/ke-aku-an) sendiri yang menjelma menjadi ’setan’. 

Betara Kala disebut-sebut raja makhluk gaib dari ‘dunia kegelapan’. Sebutan itu muncul karena Betara Kala mencari korbannya yakni manusia. Tetapi seyogyanya jangan terburu-buru pada kesimpulan bahwa Betara Kala merupakan makhluk jahat dari dunia gaib yang ‘hitam’. Karakter ‘jahat’nya, karena Betara Kala hanya menjalankan titah atau kodrat Tuhan, sebagai eksekutor/algojo bagi orang-orang  yang melawan kodrat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan termasuk eksekutor bagi orang yang melanggar paugeran dan wewaler. 

Peranan Betara Kala sama halnya dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai penyeimbang antara jagad kecil dan jagad besar. Membangun sinergisme antara dunia manusia dengan dunia makhluk gaib. Jika manusia mempercayai peran-peran tersebut, manfaatnya dalam kehidupan kita sehari-hari justru membangun sikap religius, kita menjadi lebih hati-hati dalam menjalankan roda kehidupan yang penuh “ranjau”. Manusia selalu menjaga diri dengan sikap eling lan waspada. Semakin banyak orang lupa diri; tidak eling waspada, suka melanggar wewaler,  maka cepat atau lambat Tuhan pasti memberikan azab, baik dalam bentuk bencana kemanusiaan maupun bencana alam di bumi nusantara.

Sekalipun saat ini semakin banyak orang-orang yang tampak sangat religius, mengaku sebagai pahlawan agama, jago ceramah, namun banyak pula di antara mereka yang sesungguhnya amat dangkal pengetahuannya, ilmunya sebatas “kulit”. Golongan ini tak menyadari jika sedang kekenyangan makan ‘kulit’(syari’at) saja. Selanjutnya muncul gejala semakin gencar manusia tampil sebagai pembela agama baik dengan menghalalkan cara-cara kekerasan maupun pedagog verbal. Semakin banyak jumlah orang-orang yang seolah-olah soleh-solehah, giat pergi ke tempat ibadah, tetapi semakin banyak pula mereka terbukti melakukan perbuatan keji, korupsi, selingkuh, merampok hak orang lain, memperkosa, mencuri, menipu, mencelakai orang, pagar makan tanaman. Tentusaja mereka melakukannya dengan kesadaran sambil mencari-cari dalil yang mengada-ada sebagai alasan pembenar. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, namun jelas-jelas kejahatan besar tidak dihiraukan.


PERTANDA KEDATANGAN CALON SATRIA PININGIT
Jangkajayabaya; Sabda Gaib
Babon asli kagunganipun Dalem Bandara Pangeran Harya Suryanegara ing Ngayugyakarta

Sinom
Wirayat kanthi dahuru, 
lalakone jaman wuri, 
kang badhe Jumeneng Nata, 
amengku bawana jawi, 
kusuma trahing Narendra, 
kang sinung panggalih suci.

(Tanda-tanda dengan diawali munculnya huru-hara, kejadian zaman nanti, yang akan menjadi Pemimpin di tanah Jawa (Nusantara), seorang keturunan raja, yang memiliki hati suci.
Ing mangke karseng Hyang Agung, taksih sinengker marmaning, akeh ingkang katambuhan, mung kang para ulah batin, sinung weruh dening pangeran, iku kang saged mastani.

(Di saat nanti, sudah menjadi kehendak Tuhan Maha Agung, tetapi sekarang masih di dalam tabir rahasia Tuhan, banyak orang tidak mengetahui, hanya orang yang mau mengolah batinnya, diijinkan Tuhan mengetahui (sebelum terlaksana), itulah orang yang tiada diragukan lagi)

Dene wontene dahuru, 
sasampune hardi Mrapi, 
gung kobar saking dahara, 
sigar tengahira kadi lepen mili toya lahar, 
ngidul ngetan njog pasisir.

(Sedangkan munculnya huru-hara (ditandai) setelah Gunung Merapi berkobar hebat (meletus) oleh sebab adanya bencana (gempa bumi), (Merapi) terbelah tengahnya seperti sungai, mengalir di dalamnya air (hujan) membawa lahar dingin, arahnya ke tenggara, lahar dingin yang dibawa oleh air, hanyut hingga masuk ke laut selatan.
Keterangan: pertanda ini sudah terjadi pada tahun 2007 lalu.
Glacap Gunung yang bernama Gegerboyo Merapi (punggung buaya) kini tinggal kenangan
ini sebagai salah satu pertanda yang telah diprediksi ratusan tahun silam
Geger Boyo. Istilah ini adalah sebutan untuk dinding kubah lava di puncak Merapi yang terbentuk karena letusan antara tahun 1906 – 1911.

Minggu malam tanggal 4 Juni 2006 kemarin geger boyo runtuh karena terus menerus dihempas oleh aliran lava yang keluar tak hanya lewat kubah, tapi juga mencari jalan keluar melalui kaki kubah, sehingga kemungkinan besar hal itu yang semakin melemahkan kekuatan si ‘punggung buaya’ tersebut.

Bekas Geger Boyo
Sebelah kiri nampak sisa punggung geger boyo setelah 2006 dan 26 oktober 2010 
diambil dr balerante 29 Oktober 2010 Foto by: Iskandar Wibisono


Myang amblese Glacap gunung, 
sarta ing Madura nagri, 
meh gathuk lan Surabaya, 
sabibaripun tumuli, 
wiwit dahuru lonlona, 
soyo lami soyo ndadi.

  • Pertanda punggung G Merapi (populernya disebut punggung buaya atau geger boyo) 
  • amblas/longsor. Serta Surabaya dan Madura hampir bertemu daratan.

Keterangan: 

  • Geger boyo runtuh terjadi Mei-Juni tahun 2006 setelah terjadi gempa Jogja, disusul letusan Gunung Merapi yang dahsyat.
  • Pulau atau wilayah Surabaya-Madura hampir bertemu daratan, sudah terjadi karena jebolnya lumpur lapindo yang dibuang ke selat Madura. Penafsiran lainnya; jembatan yang menghubungkan kota Surabaya dengan Madura atau jembatan Suramadu hampir selesai.

Temah peperangan agung, 
rurusuh mratah sabumi mungsuhe datan karuwan, 
polahe jalma keha sami, 
kadi gabah den interan, 
montang-manting rebut urip. 
Papati atumpuk undhung,desa-desa morat marit, 
kutha-kutha karusakan,
kraton kalih manggih kinkin,
ing Sala kaleban toya, 
Ngayugyakarta Sumingkir.

(Setelah itu terjadi konflik besar, kerusuhan merata di seluruh bumi, penyebabnya tidak jelas, tingkah manusia sama saja, bagaikan gabah ditampi, kocar-kacir berebut hidup. Kematian massal terjadi di mana-mana, desa carut-marut, kota-kota banyak terjadi kerusakan, dua kerajaan (Jogja dan Solo) terjadi musibah, di Solo kerajaannya “terendam banjir”*. Yogyakarta tersingkir**.
Keterangan; *konflik antar pewaris tahta antara Hangabehi dengan Tejowulan,
**sementara Keraton Jogja tersingkir karena tidak mendapatkan anak laki-laki sebagai Pangeran Putra Mahkota calon pewaris tahta. Saat ini sudah terjadi. Ratunya murca sing Kraton, ngilang kalingan cecendis, sanget kasangsayanira, wus karsaning Hyang Widi, gaib ingkang kelampahan, kinarya buwana balik. (Ratu/rajanya meninggalkan keraton, kemasyhurannya kalah dengan gaung keonaran para penghianat, semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan, gaib yang terjadi, membuat keadaan zaman serba terbalik.


Jangka Jayabaya ; Catursabda
Pethikan seratan tangan
Kangge sambetan jangka triwikrama
Pameca wontening jaman dahuru, 
Tuwin rawuhipun ratu adil panetep panatagama kalipatullah.
Pamecanipun sang prabu Jayabaya ing kadhiri. 
Kulup ingsun mangsit marang sira, 
yen ing tembe tanah Jawa wis kesingget-singget saenggon-enggon, 
desa-desa wus sigar mrapat, 
pasar-pasar ilang kumarane, 
kali ilang kedhunge, 
kereta tanpa turangga, 
lan ana satriya teka kang putih kulite, 
saka kulon pinangkane, 
nuli ana agama tatakonan padha agama.

(Mencermati terjadinya zaman kesengsaraan, hingga kedatangan Ratu Adil panetep panatagama, utusan Tuhan. Kewaskitaan Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri. Anak-anakku, ingsun berpesan (secara gaib) kepadamu, bilamana kelak tanah Jawa (nusantara)telah terpilah-pilah, pasar (tradisional) kehilangan gaungnya, sungai-sungai semakin surut airnya, kereta tanpa kuda, segera datanglah kesatria berkulit putih, dari barat asalnya, sejak itu terjadi perselisihan antar agama)
Apamaneh dhayoh mbagegake kang duwe omah, ana kebo nusu gudhel, endah-endah cacahing gendhing sekar kaendran, sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, sanajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik,
lah ing kono kulup, ora suwe bakal katon alat-alate kang minangka dadi cacaloning Sang Ratu Adil panetep panata agama kalipatulah utusan kang ngemban dhawuhing Allah, paribasane sumur marani timba, guru luru murid, prajurit ngunus pedang katresnan,
(apalagi (pertanda) tamu mempersilahkan tuan rumah, orang tua berguru pada yang muda, muncul beragamnya nyanyian dan musik yang populer, seketika itu pula banyak orang Jawa yang berkacamata tempurung (walaupun melotot, tetap tidak bisa melihat), tahi lalat di wajah (yang nyata ada pada diri sendiri tidak dapat diketahuinya), nah di situlah anakku, tidak lama lagi akan mulai tampak tanda-tandanya siapa yang akan menjadi calon Ratu Adil, utusan yang mengemban perintah Tuhan, diumpamakan sumur mendatangi timba, guru berburu murid, prajurit menghunus pedang kasih sayang)

nanging akeh wong-wong kang padha mangkelake atine, 
nyumpelake kupinge, ngeremake matane.
(tetapi banyak orang-orang yang membuat kesal hati, mentulikan telinganya, dan menutup mata (tidak peduli).

Nanging sapiro anane wong kang melek, 
padha ngrungu lan padha anggarubyung tut wuri lakune cacala mau mesthi slamet.
(tetapi seberapapun adanya orang yang peduli, mau mendengar, dan mengikuti jejak langkah Ratu Adil, maka mereka pasti selamat hidupnya)

…….awit sadurunge ratu adil rawuh, 
ing tanah Jawa ana setan mindha manungsa rewa-rewa anggawa agama, 
dhudhukuh ing glasah wangi, 
dadine manungsa banjur padha salin tatane, 
satemah ana ilang papadhange, 
awit padha ninggal sarengate, 
dadi kapiran wiwit timur mula.
(….sebab sebelum RA datang, di tanah Jawa (nusantara) muncul “setan” berlagak manusia “berbulu” lebat mengaku pembela agama, menetap di “glasah wangi” menjadikan manusia berganti tatanan, menyebabkan datangnya kegelapan, karena orang-orang meninggalkan tradisinya, lalai sejak masih muda)

Mulane wekas ingsun marang sira, 
sira kang ngati-ati, 
krana  gusti sang ratu adil, lagi tapa mungsang ana sapucuking gunung sarandhil,
(Maka pesanku pada kalian, kalian harus berhati-hati, karena gusti sang Ratu Adil baru melakukan penempaan diri dalam ‘pertapaan’nya)

mung gagamane bae golekana kongsi katemu, 
awit ing tembe bakal ana jumeneng ratu kang padha baguse, 
padha pangagemane lan iya padha paraupane, 
lah ing kono para wong-wong padha pakewuh pamulihane, 
satemah padha bingung,


(..hanya saja, carilah “senjata”nya (RA) sampai ketemu (budi pekerti luhur), sebab kelak bakal ada berdiri ratu yang sama cakapnya, sama pakaiannya dan juga sama wajahnya, nah di situlah orang-orang akan merasa malu sendiri, sebagian yang lain kebingungan (ket: karena orang yang sangka calon SP ternyata bukan).
Keterangan; Cermatilah ciri-ciri Ratu Adil sejati, karena ada yang seolah dianggap sebagai Ratu Adil, padahal ia palsu. Maka banyak orang yang menyangka, lantas menjadi malu dan bingung telah salah sangka.


…nanging luwih beja wong kang wis mangerti kang dadi pangerane, 

mulane sira kulup, 
dipoma aja nganti lali marang tetengering sang ratu Adil panetep panata gama.
(…tetapi lebih beruntung orang yang sudah mengerti siapa yang menjadi pemimpin dan panutannya, makanya kalian semua jangan sampai lupa akan ciri-khas atau tanda khusus siapa sang Ratu Adil panetep panata gama).


Dene sira wis ketemu aja nganti sira katilapan, 

tutu buriya ing satindake lan embunan tumetesing banyu janjam, 
mesthi slameta langgeng ing salawas-lawas…mung iki piweling ingsun marang sira kulup, 
poma den estokna.
(jika kalian sudah bertemu (calon SP), jangan sampai kalian terlena, ikutilah jejak langkahnya, pasti selamat, abadi selamanya…hanya ini pesan ku kepada kalian semua, maka patuhilah)

Jangka Jayabaya, pethikan serat tangan

Bilih sampun wonten tandha-tandha ingkang sampun celak rawuhipun calon Ratu Adil;
(Tanda-tanda kehadiran Ratu Adil sudah dekat:

Padha kaping 1
Besuk ing jaman akhir, sawise jaman hadi, ratu Adil Imam mahdi saka tanah Arab meh rawuh, tengarane tatanduran suda pametune, para pandhita kurang sabare, ratu kurang adile, wong wadon ilang wirange, akeh wong padu lan padha goroh, akeh wong cilik dadi priyayi, wong ngelmu kurang lakune lan nganeh-anehi.
(Kelak, pada saat Ratu Adil “imam mahdi” (pemimpin umat manusia) ”dari tanah arab” (semacam kiasan: orang asli Indonesia tetapi kebetulan beragama Islam) sudah hampir tiba waktunya, tanda-tandanya adalah; tanaman berkurang hasilnya, para pemuka agama kehilangan watak sabarnya, pemimpin kurang rasa keadilannya, perempuan kehilangan rasa malu, banyak orang bertengkar dan berbohong, banyak orang kecil menjadi priyayi, orang berilmu kurang pengamalannya dan tindak-tanduknya janggal/aneh.

Dene yen rawuhe ratu Adil wis cedhak banget, ana tengarane maneh:
Tanda-tanda jika datangnya Ratu Adil sudah dekat sekali;

  1.  yen sasi sura ana tundhan dhemit. (bulan sura ini terjadi pada sekitar Januari-Februari 2007, sebagai bulan sura duraka, di tahun kalabendu; maka banyak musibah dan kecelakaan mengerikan baik di udara, darat, laut (kereta, pesawat, kapal laut, bus, kendaraan)
  2. srengenge salah mangsa mletheke. (awal 2007 matahari terbit setelah jam 06.00 wib; seharusnya terbit mulai jam 05.30 wib)
  3. rembulan ireng rupane (dibarengi dengan kejadian gerhana bulan berturut-turut selama tiga hari, di tiga lokasi wilayah nusantara).
  4. banyu abang rupane. (awal bulan februari 2007 hampir diseluruh  wilayah Indonesia terjadi banjir, airnya keruh berwarna coklat kemerahan, lamanya sekitar 3-5 hari)

Tengara iki telung dina lawase, yen wis ana tengara mangkono, kabeh wong bakal ditakoni, sing ora bisa mangsuli bakal dadi pakane dhemit, sebab ratu adil mau rawuhe anggawa bala jim, setan lan seluman pirang-pirang tanpa wilangan.
(tengara ini 3 hari lamanya, bila sudah terdapat tengara itu, mulai memasuki zaman di mana semua orang akan ditanyai, yang tidak bisa menjawab bakal menjadi makanan makhluk halus, sebab ratu Adil kedatangannya membawa berjuta malaikat, jin dan makhluk halus (siluman) banyak tak terhitung.

Keterangan; semua orang “ditanyai”; dalam arti disodorkan dua pilihan, ingin jalan yang baik dengan mengikuti langkah RA atau memilih jalan kegelapan dengan menentang RA. 
Yang tidak bisa menjawab, berarti termasuk orang-orang menentang kedatangan RA utusan Tuhan. 
RA dibimbing dan dituntun (jangkung dan jampangi) berjuta leluhur bumi nusantara (mayuta malekat), sedangkan orang-orang yang melawan RA akan mendapatkan celaka sebagai hukuman tuhan.

Padha kaping 2
Dene pitakone lan wangsulane mangkene;
(Pertanyaan dan jawabannya sebagai berikut)

  • asalmu saka ngendi = saking kodratulah,
  • yen bali apa sangumu = sahadat iman tokid makripat islam,
  • apa kowe weruh aranku = Gusti Ratu Adil Idayatullah,
  • apa agamamu = sabar darana,
  • apa kowe weruh bapakku = Gusti ratu adil Idayat Sengara,
  • apa kowe weruh ing ngendi panggonanku dilairake = Kalahirake Hyang Wuhud wonten sangandhaping cemara pethak.

Keterangan : ratu adil imam mahdi dari tanah arab maksudnya, pemimpin umat manusia di bumi nusantara yang bersifat universal, kebetulan sebagai pemeluk Islam. “berbaju” Islam tetapi memperoleh “makrifat” seluruh agama di bumi.
Dari mana asalmu ? Jawab; atas kehendak Gusti Allah. Ratu adil lahir di bumi nusantara,  sudah menjadi kehendak Tuhan. Jika ‘pulang’ mempertanggungjawabkan tugas manusia sebagai utusan Tuhan, bekalnya adalah ikrar janji dan menepati janjinya, sebagai manusia yang menggapai makrifat. Kesaksian bahwa Ratu Adil membawa amanat bagi kebahagiaan seluruh rakyat melalui ilmu makrifat yang  universal melampaui semua agama, suku, ras, golongan.
  • Apa kamu tahu namaku? Jawab; gusti Ratu Adil pembawa petunjuk dari Tuhan.
  • Apa agamamu? Jawab; kesabaran yang seluas samudera.
  • Apa kamu tahu bapakku? Jawab; gusti Ratu Adil Idayah Sengara, orang selalu mengutamakan keadilan dan keluhuran budi pekerti, dan hidupnya berada selalu dalam ‘laku prihatin’.
  • Apa kamu tahu dimana aku dilahirkan? Jawab; Dilahirkan oleh Hyang Wuhud, di bawahnya pohon cemara putih.

Maknanya; dilahirkan oleh seorang ibu yang berbudi pekerti amat luhur, suci hatinya, bersih lahir batinnya, cerdas pikirannya. Lahir di bawah (pohon) cemara putih, artinya RA dilahirkan dari rahim seorang ibu yang rambutnya sudah mempunyai uban, atau seorang ibu (yang secara teori), sudah tak mungkin bisa melahirkan anak.


Jangka Jayabaya Salebare Raja Kuning
Babon asli kagungan Dalem Bandara Pangeran Harya Suryawijaya ing Ngayugyakarta


padha kaping 16
Ana ratu kinuya-kuya, mungsuhe njaba njero, ibarate endhog ngapit sela, gampang pecahe, nanging rineksa Hyang Suksma, mungsuhe kaweleh-weleh,
(ada ratu yang teraniaya, musuhnya luar dalam, ibarat telur terhimpit batu, mudah pecah, tetapi selalu dijaga keselamatannya oleh Tuhan, sehingga musuhnya menanggung malu sendiri)

ratu mau banget teguhe kinuya-kuya ora rinasa, malah weh suka raharja, kaesa mbelani negara sigar semangka, ambeg utama tan duwe pamrih, mung netepi kasatriyane, tambal bandha mau, mung ngengeti kawukane,
(ratu tadi sangat tabah teraniaya tidak dirasakannya, sebaliknya memberikan kesejahteraan kepada yang menganiaya, demi membela negara secara adil seperti membelah semangka, budi pekertinya yang sungguh mulia tidak memiliki pamrih, hanya memenuhi tanggungjawabnya sebagai kesatria (kodratulah), bersedia mengeluarkan hartanya karena ingat sejatinya tugas dan tanggungjawab manusia lahir ke dunia (sangkan paraning dumadi).

ratu mau putrane mbok randha kasiyan, kawelas arsa wit timur mial, sinuyudan mring pra kawula,
(ratu tadi putranya ibu yang (lama) menjanda dan selalu prihatin dan teraniaya, namun penuh belas kasih sejak usia muda, sehingga sangat disayangi dan hormati oleh banyak orang)

ratu mau ijih sinengker Hyang Widhi, mapan samadyaning rananggana, sajroning babaya, minangka tapa bratane, kesampar kesandhung nora kawruhan, kajaba wong kang wis kabuka rasane, meruhi mas tulen lan kang palsu, ing kono katon banyu sinaring, wong becik ketitik ala ketara, wong palsu mecucu.
(ratu tadi masih disembunyikan oleh Tuhan, bertempat di dalam wahana rahasia Tuhan, di antara berbagai marabahaya, sebagai wujud tapa brata-nya, dianggap remeh dan tidak disangka oleh banyak orang, kecuali orang yang sudah terbuka rasanya, mampu mengetahui mana emas tulen dengan yang palsu, kebenaran ibarat air yang tersaring, orang baik akan tampak baiknya, orang jahat akan  terlihat jahatnya)
Begjane wong sing padha eling, cilakane kang padha lali. Sing sapa krasa lan rumangsa, bakal antuk kamulyan lan karaharjan.
(beruntung bagi orang yang selalu ingat, celaka bagi yang lupa diri. Barang siapa yang dapat mawas diri, tahu diri, bakal mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan)

pada kaping 17
nuli ana ratu kembaran atismak bathok,
(kemudian ada ratu yang lahir bersama-sama saudara kembarnya,(atismak bathok = senajan melorok ora ndelok artinya walaupun orang bertatapan atau bertemu langsung, tetapi tidak menyadari bahwa dialah sesungguhnya calon RA dan saudara-saudara kembarnya)

dhepe-dhepe marang wong pidak pedarakan,
(Menjadi anak yang berlindung kepada bapaknya dari kalangan rakyat biasa)

nagara dadi siji, pinilih endi kang asih
(negara bersatu dalam kesatuan, akan terseleksi siapa yang mencintai negara)

pada kaping 19
ahire Pangeran anitahake, ratu adil imam mahdi, iya putrane mbok randha kasiyan, kang kesampar kesandhung, durung kinawruhan, ijih sinengker Hyang Widhi.
(akhirnya Tuhan mengutus, ratu adil imam mahdi, yakni putranya “mbok randa kasiyan” yang terlunta, belum terungkap jati dirinya, masih dirahasiakan Tuhan)

Keterangan: akhirnya Tuhan mencipta dan mengutus ratu adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusian dan bencana alam,
Ia adalah putrinya seorang ibu yang hidupnya selalu dalam lara lapa (penderitaan batin) tetapi banyak dikasihi orang dan menjadi tempat berlindung orang-orang yang lemah dan menderita. Seorang ibu yang hidup lama menyendiri seperti ‘menjanda’ karena perjuangan hidupnya sebagai single parrent dan single fighter, dalam kurun waktu lama puluhan tahun, kemudian bertemu laki-laki yang menjadi jodoh sejatinya (garwa), juga calon ayah sang ratu adil. Tetapi di mana mereka sekarang tidak banyak diketahui orang keberadaanya, karena masih tengah ‘menyamar’, dan dalam ‘persembunyian’ di dalam perlindungan Tuhan.

Hanya orang-orang yang beruntung, juga orang-orang linuwih yang memiliki kawaskitan sangat tinggi yang dapat mengetahui sejatinya siapa ‘mbok rondo kasiyan’, bapaknya, dan calon ratu adil, dan di mana keberadaannya pada saat ini.

pada kaping 20
Ratu iku asikep mbelani bangsa tansah ana samadyaning ranggana, nanging setengah ijih dadi buburon, marga dicurigani dening jaba jero,
luwih-luwih para pidak pedarakan sebab yen iku katon bakal mbabarake sakehing lalakon kang oran bener,

temah ora bisa kakeeh utawa aji mumpung, 
Karsa Allah wus cedak titimangsane,
arep binabar kanggo mlerat sakehing piala kang rumangsuk samungsa Jawa.
Babare (lahirnya) ratu iki mawa gara-gara sindhung riwut karawati ngakaka,
kilat thatit liliweran bledeg ngampar-ampar, 
kasusul panjebluging gunung Tidhar,
sasideming gara-gara, 
ing jagad padhang sumilak, 
pangeran paring pangapura, 
kang pepulasan melecet pulase, 
katon sawantahe, 
kang emas katon emas, 
kang timah katon timah, 
satriyo katon satriyo, 
kere katon kere, 
kang ala ketara, 
kang becik ketitik, 
kang salah seleh, 
rawe-rawe rantas, malang-malang putung.
Ratu mau ambleg utama, 
lumuh bandha, 
dahare mung sajung, 
marga saking welas asih mring kawula.
Julukane imam mahdi iya Kalana jayeng palugon, 
akedhaton ing grjiwati, 
tengah-tengahing bumi Mataram,
saiki kasangsaya lagi tarakbrata anglindhung mring pra kawula, 
entenana den saranta kalayan madhep Hyang Suksma.
Dene rawuhe Ratu Adil iku saka lor kulon, 
mulih mring pakuwone, 
ing kono mulyaning Nungsa Jawa, 
harja Kreta tan ana sakara-kara.

( Timbul GORO-GORO yang akan menyisakan Manusia Pilihan (Kiamat Kecil yang Meluluh Lantahkan Tanah Jawa dan Sekitarnya dan lahir dan  Munculah Ratu Adil / SP dari LOR KULON dan masih di JAWA (Tengah Tengah bumi Mataram))

Kapan lahirnya calon ratu adil dapat dipahami dari tanda-tanda kehadiran kembali Sabdapalon-Noyogenggong. Sebab tugas Sabdapalon-Nayagenggong kembali hadir di bumi nusantara adalah dalam rangka mendampingi dan momong sejak Ratu Adil lahir dari rahim ibunya. Jika dilihat  tanda-tandanya maka pada saat ini sudah dekat kelahiran sang ratu adil;

Jangka Jayabaya Sabda Gaib
KPH Suryanegara ing Ngayugyakarta
SINOM

  1. Sesotyaning tanah Jawa. Oncat embananeki, owahing kang tata cara, golongan patang prakawis, aluluh dadi siji angrasuk kasudranipun, nagara tanpa tata, mung ngluru kasil pribadi, tingalira tumuju salak rukma.
  2. Kusuma taruna tama, mbeg suci ngupala wening, linawuran dening Allah, wus mantun denya piningit, kinen anyapih sami, kang samya gung perang pupuh, lan nyirnaken durmala, mamalaning Nungsa Jawi, gya tumindak nglakoni pakoning Allah.
  3. Ngrabaseng prang mung priyangga, prasasat tan ngadu jalmi prajurite mung sirolah (baca;sirullah), tutunggaleng langgeng eling, parandene kang san ara mangsah kabarubuh, duhaka tutumpesan, tan lami pan sirep sami, ginantyaning ing jaman kreta raharja.
  4. Pan wus ilang malaningrat, sinalin tulusing becik, lire murah sandang tedha, durwiala, dursila enting, enak atine sami, wong Jawa sadayanipun, sawusnya tentram samya, neng gih Sang Satriya Suci, pan jinunjung wong ngakathah madeg nata.
  5. Ambawani tanah Jawa, julukira Narpati, Kanjeng Sultan Herucakra, ugi kangjeng Ratu Adil, kawentar asmaneki, tekeng tanah Sabrang kemput, tuhu musthikeng jana, nyata kekasihing Widhi, mila tansah pinuji mring wong sajagad.
  6. Duh sanggyaning sanakingwang, mangga sami den titeni, dora tanapi temenya, ujare wirayat gaib, mugi saget netesi, yeku pitulungan agung, nging kedah sawi srana, sranane tobat mring Widhi, tobatira mung suci manah raharja.
  7. Wirayat gaib kang weca, yekti nora cidra pasti, rawuhaw Sri Herucakra, lamun para pamugari, kang ngasta pusaraning, Tanah Jawa sami emut, marang para kawula, nanging yen katungkul sami salah wengweng rerebatan mas salaka.
  8. Yen mangkono pasti gila, Herucakra Ratu Adil, nora teka malah lunga, sarwi nabda nyupatani, dhuh Allah mugi-mugi, maringi enget pukulan, mring pra manggaleng praja, suci jujur eka kapti, yen mangkono Ratu Adil enggal prapta.
Jangka Jayabaya ‘Sabdapalon’
Babon asli Kagungan Dalem Bandara Pangeran Harya Suryanegara ing Ngayugyakarta
Sinom
pada kaping 5
…….pratanda tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar
(…pertanda kadatanganku, Gunung Merapi bila telah meletus keluar lahar)

pada kaping 6
ngidul ngetan purug ira, ngganda banger ingkang warih, manggih punika medal kula, wus nyebar gama budi, Merapi jangji mami, anggereng jagad satuhun Rarsanireng jawata, sadaya gilir gumanti, mboten kenging kalamunta kaewahan.
(ke tenggara arahnya, berbau busuk airnya, itulah tanda kedatanganku, sudah mulai menyebar ajaran budi pekerti luhur, Merapi adalah janjiku, bumi bergemuruh menjadi hukuman Tuhan, semua bergilir silih berganti, tidak dapat dipungkiri dan dirubah lagi)

Keterangan: 
Tahun 2007 merapi sudah meletus ke arah tenggara (selatan-timur) yakni ke arah kali Kuning, laharnya menimbun sungai terbawa air hujan menyusuri sungai tanggung (tidak besar tidak kecil), memisahkan tanah antara Kraton Yogya dan Solo, dan di pertengahan 2007 lahar dingin merapi telah sampai di pesisir selatan masuk kedalam lautan. Peristiwa ini baru terjadi sekali pada tahun 2007.
Kawah Gunung Merapi Saat meletus dahsyat 7 Juni 2006 atau seminggu setelah gempa Jogja. Tampak kawah sudah jebol ke arah tenggara. Baru kali ini terjadi fenomena seperti itu. (+- 500 tahun setelah Sabdapalon Nayagenggong muksa)
merapi4merapi5
Ngidul Ngetan (Tenggara) purug ira
dadi kali Tanggung nami

Jangka Jayabaya,
Pethikan Serat Tangan
Pangkur
Sekar pangkur ginupito, wonten resi saking ing ngatas angin, ngajawi njujug ing gunung, kondhang tanah Ngayugya, asung weca yen hardi Merapi njeblug, benjing pecah hardi sigal, dadi kali Tanggung nami
(Tembang pangkur berkumandang, ada lah resi turun dari atas angin, keluar menuju ke gunung, sehingga tersohor tanah Jogjakarta, memberi tanda bahwa gunung Merapi meletus, besok akan terbelah gunungnya, kemudian menjadi sungai Tanggung (baca; sungai sedang)namanya.


2. Ngayugyakarta kalawan Sala, dadya pisah datan atunggal siti, sinela kali Tanggung, ilining ponang tirta, langkung banter anjog ing seganten kidul, para dhemit gegeran, wadyane sang Ratu Dewi



3. Jeng Ratu Kidul punika, lan para dhemit darat amor lan jalmi, sarengan lindu ping pitu, obah bumi prakempa, gara-gara gonjang-ganjing agumuruh, gunung kendheng lorot gempal udan awu wah kerikil.

(nomer 2&3: Jogjakarta dan Solo, menjadi pisah daratan, dipisah oleh sungau Tanggung, mengalirnya air lebih kencang memasuki laut selatan, sehingga membuat para makhluk halus geger, yakni rakyatnya sang Ratu Dewi Kanjeng Ratu Kidul, dan para makhluk halus pergi ke daratan bercampur aduk dengan manusia, bersamaan dengan terjadinya gempa sehari tujuh kali, bumi berguncang, gogo-goro gonjang ganjing bergemuruh di mana-mana, gunung merapi longsor, hujan abu dan kerikil)
Keterangan: menunjuk peristiwa 13 Mei dan 27 Mei 2006 di Yogyakarta.


4. Caleret tahun ngregancang, kilat tathit kukuwung obar-abir, rakarta pindahipun, tan kenging yen dinuwa, apen sampun pepesthi nira Hyang Agung, yeku negri Surakarta, karatone benjing angadeg



5. Kacrita wonten bengawan, pan ing wara ketangga manggih mukti, suli wirayat wau, longsor pecahing harga, ingkang tirta amili awor lan lendhut, lan rawa pening Bahrawa, mubal geni keh jalma

(…(geger boyo/glacap gunung Merapi) longsor karena pecahnya gunung (Merapi), muncul air yang mengalir bercampur lumpur, dan Rawapening di Ambarawa berkobar api,


6. Sinareng ing tanah Jawa, nuli wonten penyakit andhatengi, lamon triwulan iku, satanah Jawa wrata, pra kawula sami giris manahipun, kataman bebenduning Hyang, nyarengi mangsa paceklik.

(bersamaan di tanah Jawa, muncul berbagai macam penyakit, dalam tiga bulan itu, tanah Jawa rata, orang-orang kecil sangat ketakutan, terkena hukuman Tuhan, bersamaan dengan musim paceklik)


7. Jumenengira Narendra, kalamrecu candrane srinarpati, kalasesatihipun, ngalamat praja rengka, nagri pindah akathah bot reipun, kawulane saya ndadra, ing prakarti kan tan yukti

8. Kawastanan jaman edan, kathah jaman nglampahi sungsang balik taman ing kalabendu, mukarda ngambra-ambra para ambleg sarjan kontit kasingkur, kasor hardaning angkara murka candhalaning.
(Disebut sebagai zaman edan, zaman yang serba terbalik, terkena hukuman Tuhan,


9. Wong agung reren mbehahak, marang raja branartane wong cilik, lang tabete budyayu, kisruh adiling praja, pra kawula sami andhang pakewuh, wuwuh-wuwuh tanpa mendha, pinupu pajeg mas picis



10. Kathah solahing kawula, kukumpulan arsa ngupaya budi, nanging tawur-tawur tinalen ing pepacak, dening praja ingkang ngasta kum apus, kang tan welas mring kawula, ratu nakoda mbeg juti



11. Puniku pinanggihira, nanging wuri badhe atimbul malih, angsa tulung Hyang Agung, wangsul wahyu nurbuwat, tanah Jawa pulih di duk rumuhun, Majapahit du ing kina, nagri mandhiri pribadi.

(Ini pendapatku, tetapi kelak akan muncul lagi, sudah menjadi kehendak Illahi, kembalinya wahyu nurbuat, nusantara kembali seperti zaman dahulu, seperti waktu kejayaan Majapahit, negeri yang mandiri secara pribadi.


12. Gemah ripah harja kreta, tata tentrem ing salami-lami, ilang kang samya laku dur, murah sandang lan boga, kang hamangkuasih mring kawulanipun, lumintu salining dana, sahasta pajeg saripis.

(kemakmuran melimpah ruah, langgeng, tertib tenteram selamanya, hilang lah kedurjanaan, murah sandang pangan, pemimpin yang penuh tanggungjawab dan kasih sayang kepada rakyatnya, selalu tidak kekurangan uang, ibaratnya tanah satu hektar pajaknya satu rupiah.


13. Siti sajung mung sareal, tanpa ubarampe sanese malih, antinen bae meh rawuh, mulyaning tanah Jawa, awit saking tan karegon liyanipun, nakoda wus tan kuwasa, pulih asal mung gagrami.

Kelak, tanah yang sangat luas pajaknya hanya satu real, tidak ada tambahan pajak lainnya, tunggulah saja 
(Ratu Adil)hampir tiba saatnya kemuliaan untuk nusantara,
Piweling (Peringatan)
Nuli ana janget ing ngatelon, nalika iku Jawa kari separo, walanda kari loro, sedulur ilang kangene, wong lanang ninggal lanange, wong wadhon ilang wirange, saenggon-enggon akeh ratu apung gawane pating belasak, wong nonoman akeh kang dadi mantri Bupati lan punggawane.


…kelak di kemudian hari, 

Jawa tinggal separo, 
belanda tinggal dua, 
saudara kehilangan rasa rindunya, 
laki-laki meninggalkan sifat kelelakiannya, 
perempuan tidak punya rasa malu lagi, 
di mana-mana banyak ditemukan pemimpin palsu, 
kerjaannya tidak karuan, anak muda-mudi banyak yang menjadi pejabat.
Sajabane tanah Jawa ana perang gedhe, 
saenggon-enggon ana pailan, 
pageblug, 
rupa-rupa sangsarane, 
bebaya warna-warna, 
wong-wong padha mangan watu, 
mangan wedhi, 
omben-omben peresan blonthong, 
wong wadhon akeh kang kolu endhonge dhewe, 
amarga saka rusuhe wong lanang wadon akeh kang ketaman lelara bubrah paribasane jaman edan, 
yen ora ngedan samar yen ora keduman, 
mangkono wong kang ora duwe iman.


Di luar Jawa ada peperangan (konflik) besar, di mana-mana terjadi kejahatan dan pembunuhan, beraneka ragam kesengsaraan dan marabahaya, orang-orang pada makan batu, makan pasir, minum tirisan busuk, perempuan tega makan rahimnya sendiri, sebab saking rusuhnya laki-laki perempuan banyak terserang penyakit rusak, ibaratnya zaman gila, jika tidak ikut gila maka tidak akan kebagian, tetapi yang seperti itu orang tidak memiliki iman.



Nanging piweling ingsun, 

diawas dieling,
 jejegna imanira, 
turuten gustinira ratu adil panetep panata gama. 
Golekana gegamane sing nganti ketemu, 
turuten dalane, 
ngetutburia saparane, 
lumebuwa oparibasaning wadya balane, 
ora suwe bakal katon tanda tandhane rawuhing ratunira ngagem kamulyan gedhe, 
rawuhe liar kilat kairingake bala “malekat” mayuta-yuta cacahe, 
ngadeg payunge kuning, 
tegese bang-bang wetan karepe, 
wus ndungkap paletheking papadhang.


Tetapi pesanku, waspadalah dan ingatlah, tegakkan iman mu, jadilah pengikut Ratu Adil penegak kebenaran. Carilah ‘senjatanya’ (trisula wedha; tentang budi pekerti luhur) sampai ketemu, ikuti jalannya kemanapun perginya, jadilah, ibaratnya sebagai pasukannya Ratu Adil, tidak lama akan tampak tanda tanda datangnya ratumu yang mendapat kemuliaan agung, datangnya tiba-tiba secepat kilat, diiringi berjuta-juta “malaikat” (berjuta leluhur bumi nusantara), berdiri dengan payung kuning (kebenaran sejati), maknanya ‘bang-bang’ timur keinginannya (gerakan dari wilayah timur nusantara), maka terbitlah sinar yang terang.



Umbul-umbule alaras bendera pare anom, 

yaiku tandhane pangeran pati, 
denen titihane jaran napas, 
cumathine penjalin tinggal, 
jemparinge tekad suci kang mingis-mingis pucuke, 
mubyar-mubyar pamore, 
kakedher kendhenge, 
membat-membat gandhewane, 
lang ilang nalika iku kulup, 
kocapo ing kono banjur ana perang kang luwih gedhe, 
marga saka gedhene, 
gandarwa, thethekan, ilu-ilu, banaspati, sakehing iblis, jajalanat kabeh, 
padha buyar sar-saran padha ngungsi, 
saenggon-enggon mamangan wong padha ora sumurup marang ratu adil panata gama.


…umbul-umbul ditingkahi ‘bendera pare anom’ itulah pertanda pangeran pati, tunggangannya kuda nafas, cambuknya tunggak rotan, membawa panah berupa tekad suci yang sangat tajam ujungnya, sangat elok kharismanya, sangat berwibawa wajahnya, lengannya rampng tetapi amat kokoh, …

…ada perang yang lebih besar, saking besarnya, makhluk halus genderuwo, hantu, jin, berbagai macam iblis laknat, semua buyar lari tunggang langgang menyingkir, di sembarang tempat makan korban orang-orang yang tidak peduli dan tidak mengerti kepada Ratu Adil petunjuk kebenaran.

……………………………..ora antara lawas tumuli rawuh (ratu adil) jumeneng angratoni jagad rating kono,

 sawah sajung pajege mung sedinar, 
denen panggaweyan negara bakal padha ora anan, 
awit wong akeh kaperdi sembahyang marang Gusti Allah bae. 
sarta memuji saben dina tanpa kendat.
…tidak berapa lama segera datang Ratu Adil duduk menjadi pemimpin dan suri tauladan di wilayah tersebut, sehingga menjadi makmur diibaratkan sawah yang sangat luas pajaknya sangat kecil, diibaratkan tidak ada lagi yang harus dilakukan negara, sebab saking adil makmurnya nusantara, ibaratnya kegiatan orang-orang tinggal terfokus untuk sembahyang kepada Tuhan saja, serta memanjatkan puji-pujian tanpa henti.


…………………………….iku kang ambuka agama kang samar-samar nanging sira do awas den eling, awit sadurunge ratu adil rawuh,

 ing tanah Jawa ana setan mindha menungsa rewa-rewa anggawa agama, 
dudukuh ana ing glasah wangi, dadine manungsa banjur padha salin tatane, 
satemah ana ilang papadhange, 
awit padha ninggal sarengate, dadi kapiran wiwit cilik mula.
…itu yang membuka mata hati manusia yang memaknai agama secara tidak karuan, tetapi kalian harus waspada dan selalu ingat, sebab sebelum Ratu Adil datang, di tanah Jawa ada setan berkedok manusia berbulu lebat seolah sebagai penegak agama, bertempat tinggal di ‘glasah wangi’, sehingga mengakibatkan manusia berganti tatanan, berakibat hilangnya petunjuk dan tatakrama kehidupan, sebab banyak orang meninggalkan syariat (sebelumya), sehingga menjadi terlantar hidupnya sejak kecil.


Keterangan; menungsa rewa-rewa anggawa agama maksudnya manusia dengan wajah penuh ditumbuhi bulu-bulu menyeramkan yang (mengaku-aku) sebagai penegak dan pembela agama. Tetapi perilakunya justru sebaliknya tidak simpatik, tidak tampak aura kasih sayang sesama manusia, dapat diumpamakan menyerupai karakter ‘setan’ yang membawa kerusakan di mana-mana, kerusakan baik lahir/fisik maupun kerusakan batin (fanatisme), pikiran (irrasional, egois (negative thinking) dan kerusakan hati, menjadi penuh dengan kedengkian dan nafsu angkara murka.


Wirayat Gaib;
Sastrajendra Hayuning-Rat (ilmu linuwih, ilmu tertinggi, sumber dari segala ilmu).
Ilmu yang dapat dicapai siapapun, yang dapat menyatukan hakikatnya sebagai mahluk Tuhan dengan dzat Sang Khaliq.  Sastrajendra adalah Makrifat daru Gusti Allah yang kita peroleh setelah berhasil ‘manunggal ing kawula-gusti’.

Mungkin, jika Tuhan sudah menghendaki, kelak di awal hingga pertengahan 2011 (11 = tahun kawelasan) masehi, jika adalah seorang ibu telah beruban melahirkan bayi triplet, dua laki-laki, dan satu perempuan yang lahir dengan tangan kanannya menggenggam keris kecil (jawa;cundrik), tangan kiri menggenggam berlian, mungkin telah tiba saatnya, bagi beliau calon Ratu Adil imam mahdi menjadi kalifatullah. 

Walaupun ibunya dari keturunan raja-raja besar, dan bapaknya rakyat jelata, namun beliau lahir di tengah bumi Mataram, mungkin berdomisili di sekitar keraton, Yogyakarta.

Kelahirannya ditandai dengan diiringi aktivitas vulkanik gunung-gunung berapi yang serempak menyemburkan isi bumi, gempa bumi menghentak mengguncang bumi nusantara, air laut pasang menghantam daratan, bukit kecil Tidar di kota Magelang sebagai pusat gravitasi pulau Jawa (puser bumi) 
membuat kejutan dahsyat 
  • dengan aktivitas-anehnya keluar lava, 
  • Rowopening di kota Ambarawa mengagetkan perhatian khalayak dengan berkobarnya api besar dari dalam bumi(mubal geni). 
  • Guntur, kilat menyambar-nyambar. 
  • Badai menyapu daratan, dan 
  • hujan lebat turun mengguyur bumi. 
Namun semua tidak akan mencelakai manusia sebab fenomena alam tersebut sebagai pertanda bahwa alam turut bersyukur atas lahirnya bayi Ratu Adil, yang serta merta lahir bersama dua bayi laki-laki calon aset besar bumi nusantara. Semua akan kita sambut sebagai anugrah Tuhan bagi bumi nusantara.

Sekar kinanti karya Gusti MN IV tersirat;
jebeng…canggahku, Anjasmoro, besuk ingsun bakal titip getih kang edi peni kang bakal jumeneng ratu ing tanah Jawa. Genepono lakumu telung padha (tiga langkah –3 tahun– untuk laku prihatin yg amat sangat berat) kanggo njangkepi tapa brata mu, ojo parang tumulih, supaya antuk pitulungan saking ngarsaning Gusti Kang Maha Wisesa. Ing mbesuk tanah Jawa nemahi gemah ripah loh jinawi adil makmur tata titi tentrem kertaraharja dadi keblating dunyo.
Cucu ku, Anjasmoro, kelak aku akan titip darah yang elok, yang akan menjadi ratu di tanah Jawa. Genapilah perjalanan hidupmu tiga langkah lagi, untuk memenuhi tapa bratamu, jangan ragu, supaya mendapatkan pertolongan Tuhan yang Maha Kuasa. Supaya kelak tanah Nusantara mengalami subur makmur melimpah, adil, tertib, tenteram, selamat selamanya, menjadi tolok ukur dan contoh untuk negara-negara di seluruh dunia.

Keterangan;
Telung podho maksudnya untuk melengkapi laku prihatin, supaya genap tujuh langkah (7; jawa; pitu= pitulungan; pertolongan Tuhan) yang 4 langkah adalah jumlah kaki sang ibu dan bapa yg telah lama dalam menempuh laku lara lapa, lara wirang, tapa brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli.

Keterangan:
  • Tapa brata; mengekang semua hawa nafsu; nafsu lauwamah (hitam), amarah (merah), supiyah (kuning), untuk mencapai nafsul mutma’inah (putih).
  • Lara wirang; sering difitnah, dipermalukan, dihina, dicemooh
  • Tapa ngrame; ramai dalam bekerja (giat menolong sesama), sepi dalam pamrih (ikhlas).
  • Tapa mendhem; mengubur ingatannya, tidak pernah mengungkit-membangkit segala amal kebaikannya yang telah dilakukan kepada orang lain, dalam rangka hubungan dengan sesama manusia (hablum minan nas) dengan kadar keikhlasan yang mutlak.
  • Tapa ngeli; menghanyutkan diri ke dalam ‘aliran sungai’(kehendak Illahi) agar dapat mencapai muara dalam ‘lautan’ keberuntungan (kabegjan)
  • Kelak Sabdapalon dan Nayagenggong menitis sebagai Garujita dan Garumukti yg akan mengasuh kodratullah; Ratu Adil imam mahdi kalifatullah, panetep panatagama.

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...