primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Tampilkan postingan dengan label ADAT JAWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADAT JAWA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2014

Filosofi dan Seputar Rumah Adat JAWA "Joglo"

Rumah Adat Indonesia 

Filosofi dan Seputar Rumah Adat JAWA "Joglo"

Mengenal tata ruang rumah tradisional 
adat jawa
Susunan ruang dalam bangunan tradisional Jawa 
pada prinsipnya terdiri dari beberapa bagian ruang yaitu :

  1. Pendapa, difungsikan sebagai tempat melakukan aktivitas yang sifatnya formal  (pertemuan, upacara, pagelaran seni dan sebagainya). Meskipun terletak di bagian depan, pendapa bukan merupakan ruang penerima yang mengantar orang sebelum memasuki rumah. Jalur akses masuk ke rumah yang sering terjadi adalah tidak dari depan melalui pendapa, melainkan justru memutar melalui bagian samping rumah
  2. Pringgitan, lorong penghubung (connection hall) antara pendapa dengan omah njero. Bagian pringgitan ini sering difungsikan sebagai tempat pertunjukan wayang kulit / kesenian / kegiatan publik. Emperan adalah teras depan dari bagian omah-njero. Teras depan yang biasanya lebarnya sekitar 2 meter ini merupakan tempat melakukan kegiatan umum yang sifatnya nonformal
  3. Omah njero, kadang disebut juga sebagai omah-mburi, dalem ageng atau omah. Kata omah dalam masyarakat Jawa juga digunakan sebagai istilah yang mencakup arti kedomestikan, yaitu sebagai sebuah unit tempat tinggal.
  4. Senthong-kiwa, dapat digunakan sebagai kamar tidur keluarga atau sebagai tempat penyimpanan beras dan alat bertani.
  5. Senthong tengah (krobongan),  sering juga disebut sebagai boma, pedaringan, atau krobongan. Dalam gugus bangunan rumah tradisional Jawa, letak senthong-tengah ini paling dalam, paling jauh dari bagian luar. Senthong-tengah ini merupakan ruang yang menjadi pusat dari seluruh bagian rumah. ruang ini seringkali menjadi “ruang pamer” bagi keluarga penghuni rumah tersebut.Sebenarnya senthong-tengah merupakan ruang yang sakral yang sering menjadi tempat pelaksanaan upacara / ritual keluarga. Tempat ini juga menjadi ruang penyimpanan benda-benda pusaka keluarga penghuni rumah.
  6. Senthong-tengen, fungsinya sama dengan sentong kiwa
  7. Gandhok, bangunan tambahan yang mengitari sisi samping dan belakang bangunan inti.


Struktur ruang pada rumah tradisional Jawa ( telah diolah kembali ),
Dakung, Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Jogjakarta
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1982)

Konstruksi rangka bangunan joglo 
rumah adat jawa
Berdasarkan bentuk keseluruhan tampilan dan bentuk kerangka, 
bangunan joglo dapat dibedakan menjadi 4 bagian :
  1. Muda (Nom) : Joglo yang bentuk tampilannya cenderung memanjang dan meninggi (melar).
  2. Tua (Tuwa) : Joglo yang bentuk tampilannya cenderung pendek (tidak memanjang) dan atapnya tidak tegak / cenderung rebah (nadhah).
  3. Laki-laki (lanangan) : Joglo yang terlihat kokoh karena rangkanya relatif tebal.
  4. Perempuan (wadon / padaringan kebak) : Joglo yang rangkanya relatif tipis / pipih.
Di bagian tengah pendapa terdapat empat tiang utama yang dinamakan sakaguru. Ukurannya harus lebih tinggi dan lebih besar dari tiang-tiang / saka-saka yang lain. Di kedua ujung tiang-tiang ini terdapat ornamen / ukiran.
Bagian atas sakaguru saling dihubungkan oleh penyambung / penghubung yang dinamakan tumpang dan sunduk. Posisi tumpang di atas sunduk.
Dalam bahasa Jawa, kata “sunduk” itu sendiri berarti “penusuk”.
Di bagian paling atas tiang sakaguru inilah biasanya terdapat beberapa lapisan balok kayu yang membentuk lingkaran-lingkaran bertingkat yang melebar ke arah luar dan dalam. Pelebaran ke bagian luar ini dinamakan elar. Elar dalam bahasa Jawa berarti ‘sayap,. Sedangkan pelebaran ke bagian dalam disebut ‘tumpang-sari’. Elar ini menopang bidang atap, sementara Tumpang-sari menopang bidang langit langit joglo (pamidhangan).
Untuk lebih lengkapnya, detail dari rangka joglo adalah sebagai berikut : 
 sumber : Ismunandar, 2001 ( telah diolah )

  1. Molo (mulo / sirah / suwunan), balok yang letaknya paling atas, yang dianggap sebagai “kepala” bangunan.
  2. Ander (saka-gini), Balok yang terletak di atas pengeret yang berfungsi sebagai penopang molo.
  3. Geganja, konstruksi penguat / stabilisator ander.
  4. Pengeret (pengerat), Balok penghubung dan stabilisator ujung-ujung tiang; kerangka rumah bagian atas yang terletak melintang menurut lebarnya rumah dan ditautkan dengan blandar.
  5. Santen, Penyangga pengeret yang terletak di antara pengeret dan kili.
  6. Sunduk, Stabilisator konstruksi tiang untuk menahan goncangan / goyangan.
  7. Kili (Sunduk Kili), Balok pengunci cathokan sunduk dan tiang.
  8. Pamidhangan (Midhangan), Rongga yang terbentuk dari rangkaian balok / tumpang-sari pada brunjung.
  9. Dhadha Peksi (dhadha-manuk), Balok pengerat yang melintang di tengah tengah pamidhangan.
  10. Penitih / panitih.
  11. Penangkur.
  12. Emprit-Ganthil, Penahan / pengunci purus tiang yang berbentuk tonjolan; dudur yang terhimpit.
  13. Kecer, Balok yang menyangga molo serta sekaligus menopang atap.
  14. Dudur, Balok yang menghubungkan sudut pertemuan penanggap, penitih dan penangkur dengan molo.
  15. Elar (sayap), Bagian perluasan keluar bagian atas sakaguru yang menopang atap.
  16. Songgo-uwang, Konstruksi penyiku / penyangga yang sifatnya dekoratif



Filosofi Rumah Joglo (JAWA)
FILOSOFI RUMAH JOGLO
Rumah joglo merupakan bangunan arsitektur tradisional jawa tengah, rumah joglo mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.
Susunan ruangan pada Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit disebut pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau omah jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruang ini terdapat tiga buah senthong (kamar) yaitu senthong kiri, senthong tengah dan senthong kanan.
Terjadi penerapan prinsip hirarki dalam pola penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat umum (publik) dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat). Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendopo sampai bagian belakang (pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga sarat dengan unsur filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan terhadap dewa diwujudkan dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga) sesuai dengan mata pencaharian masyarakat Jawa (petani-agraris). Ruang tersebut disebut krobongan, yaitu kamar yang selalu kosong, namun lengkap dengan ranjang, kasur, bantal, dan guling dan bisa juga digunakan untuk malam pertama bagi pengantin baru (Widayat, 2004: 7). Krobongan merupakan ruang khusus yang dibuat sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri yang dianggap sangat berperan dalam semua sendi kehidupan masyarakat Jawa.

Jadi dalam pemetaan ruang rumah Joglo ada tiga peta ruang utama yaitu :
• Pendopo
• Pringgitan, dan
• Dalem
Pendopo
Pendopo letaknya di depan, dan tidak mempunyai dinding atau terbuka, hal ini berkaitan dengan filosofi orang Jawa yang selalu bersikap ramah, terbuka dan tidak memilih dalam hal menerima tamu. Pada umumnya pendopo tidak di beri meja ataupun kursi, hanya diberi tikar apabila ada tamu yang datang, sehingga antara tamu dan yang punya rumah mempunyai kesetaraan dan juga dalam hal pembicaraan atau ngobrol terasa akrab rukun (rukun agawe santosa).
Pringgitan
Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu tempat untuk memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya hanya merupakan bayang-bayang atau wayang dari Dewi Sri (dewi padi) yang merupakan sumber segala kehidupan, kesuburan, dan kebahagiaan (Hidayatun, 1999:39). Menurut Rahmanu Widayat (2004: 5), pringgitan adalah ruang antara pendhapa dan dalem sebagai tempat untuk pertunjukan wayang (ringgit), yaitu pertunjukan yang berhubungan dengan upacara ruwatan untuk anak sukerta (anak yang menjadi mangsa Bathara Kala, dewa raksasa yang maha hebat).
Dalem (Ruang Utama)
Dalem atau ruang utama dari rumah joglo ini merupakan ruang pribadi pemilik rumah. Dalam ruang utama dalem ini ada beberapa bagian yaitu ruang keluarga dan beberapa kamar atau yang disebut senthong. Pada masa dulu, kamar atau senthong hanya dibuat tiga kamar saja, dan peruntukkan kamar inipun otomatis hanya menjadi tiga yaitu kamar pertama untuk tidur atau istirahat laki-laki kamar kedua kosong namun tetap diisi tempat tidur atau amben lengkap dengan perlengkapan tidur, dan yang ketiga diperuntukkan tempat tidur atau istirahat kaum perempuan.
Kamar yang kedua atau yang tengah biasa disebut dengan krobongan yaitu tempat untuk menyimpan pusaka dan tempat pemujaan terhadap Dewi Sri. Senthong tengah atau krobongan merupakan tempat paling suci/privat bagi penghuninya.
Di dalam dalem atau krobongan disimpan harta pusaka yang bermakna gaib serta padi hasil panen pertama, Dewi Sri juga dianggap sebagai pemilik dan nyonya rumah yang sebenarnya. Di dalam krobongan terdapat ranjang, kasur, bantal, dan guling, adalah kamar malam pertama bagi para pengantin baru, hal ini dimaknai sebagai peristiwa kosmis penyatuan Dewa Kamajaya dengan Dewi Kama Ratih yakni dewa-dewi cinta asmara perkawinan(Mangunwijaya, 1992: 108). Di dalam rumah tradisi Jawa bangsawan Yogyakarta, senthong tengah atau krobongan berisi bermacam-macam benda-benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral (suci). Macam-macam benda lambang itu berbeda dengan benda-benda lambang petani. Namun keduanya mempunyai arti lambang kesuburan, kebahagiaan rumah tangga yang perwujudannya adalah Dewi Sri (Wibowo dkk., 1987 : 63).
Sumber : Wacana Nusantara
Ragam Rumah adat Jawa Tengah
Rumah adat jawa tengah sangat beragam sekal disini kami akan mencoba memberi ilustrasi secara umum. Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang.Yang merupakan bangunan pokok dalam seni bangunan Jawa ada 5 (lima) macam, ialah :
  • Panggang-pe, yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi, Type dan sub type Panggang Pe : Pokok, Trajumas, Kios, Gedhang, Cere Gancet, Empyak Setangkep, dan Barengan.
  • Kampung, yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi, sebuah bubungan di tengah saja. Type dan sub type Kampung : Pokok, Trajumas, Gedhang Selirang, Sinom, Apitan, Gajah, Gotong Mayit, Cere Gancet, Dara Gepak, Baya Mangap, Pacul Gowang, Srontongan, Klabang Nyander, Jompongan, Semar, dan Lambang Teplok.
  • Limasan, yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan de tengahnya.Type dan sub type Limasan : Enom, Ceblokan, Cere Gancet, Gotong Mayit, Semar, Empyak Setangkep, Bapangan, Klabang Nyander, Trajumas, Lambang, Sinom, dan Apitan.
  • Joglo atau Tikelan, yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya. Type dan sub type Joglo : Tawon Goni, Ceblokan, Jompongan, Pangrawit (terdiri dari Hageng, Lambang Gantung, dan Mangkurat), Lambang sari, Kepuhan (terdiri dari Lawakan, Limolasan, dan Kepuhan Apitan), Apitan, Wantah, Sinom, dan Trajumas.
  • Tajug atau Masjid, yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi, tanpa bubungan, jadi meruncing. Type dan sub type Tajug/Masdjid: Tawon Goni, Ceblokan, Lawakan, Lambang, dan Semar.

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat.
Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. 
Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain.

Kamis, 23 Januari 2014

P#6 URUT-URUTAN PERNIKAHAN ADAT JAWA SAMPAI DENGAN BOYONG PENGANTEN (NGUNDUH)


P#6 URUT-URUTAN PERNIKAHAN ADAT JAWA SAMPAI DENGAN BOYONG PENGANTEN (NGUNDUH)

NGUNDUH MANTU (BOYONG TEMANTEN)
Konon upacara ngunduh mantu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman pada pengantin putri agar dapat hidup di lingkungan keluarga pengntin pria. Acara ini diselenggarakan sebagai ungkapan bahagia dan rasa syukur keluarga pengantin pria yang telah berhasil mendapatkan menantu sesuai harapannya.

Acara intinya penyerahan mempelai wanita yang diwakili oleh sanak saudara keluarga wanita. Dari pihak keluarga laki-laki menerima. Yang dimaksud ngunduh mantu itu dari bahasa jawa. Ngunduh artinya Mengambil. Mantu = Istri dari anak laki-laki.

NGUNDUH  ATAU  NGUNDUH TEMANTEN 
Kata-kata Ngunduh = memetik yang dilakukan khusus oleh orang tua dari mempelai lelaki, yang berarti mendatangkan mempelai berdua di rumah orang tua mempelai lelaki, biasanya setelah 5 hari anaknya lelaki itu berada di rumah mertuanya sejak hari dilangsungkan perkawinannya, untuk secara bergantian dirayakan di rumah orang tuanya sendiri (orang tua mempelai lelaki) dengan maksud untuk memperkenalkan mempelai kepada keluarganya dan handai taulan.


Contoh/Tulodho
ADICARA WIWAHA BOYONG TEMANTEN (NGUNDUH)
Bgs. ......................................bin .......... dhaup kaliyan  Rr. Ayu .................................
Tuladha Janturan & Pranatacara Wiwahan Temanten
Tuladha janturan adalah ucapan pranata adicara yang berupa penjelasan tahapan atau proses pernikahan yang menggunakan bahasa Jawa krama inggil. Karakteristik bahasa Jawa dalam tuladha janturan adalah rangkaian kata yang indah, rangkaian kata yang rapi dan tertata, dan ekspresif. 

1. 09.30 
Para among tamu lan paraga sampun siap wonten gedung / Griyo Para tamu sampuh sami rawuh
Persiapan temantening dalem .................... wisma rinengga

2. 90.45
Protocol maosaken reroncening adidara Manten sarimbit lan tiyang sepah bidal dateng gedung nitih andong dipun pandegani juru rias (dipun pandu saking pemuda/pengawal) ... illustrasi

3. 10.00
Rombongan manten dumugi gedung kalajengaken upocara serah tinampen.
Badhe pasrah
Wus samekta ing gati, nun inggih sri atmaja temanten kekalih sampun jumeneng sangajenging wiwara pawiwahan, kepareng badhe hanetepi upacara pasrah serah tinampen.

Cucuking cundaka Pasrah saking pihak Besan tedak saking tlatah ................................ ingkang dipun sarirani panjenenganipun Bapa ........................ miwah pengapiting temanten kekalih Panjenenganipun Bapa .................. saha Bapa ................. kados sampun samekta, kepareng badhe masrahaken risang pinanganten kekalih  dhumateng ngarsanipun Bapa .................. ingkang kalenggahan mangke badhe dipun sarirani panjenenganipun Bapa .......................... Wondene ingkang kepareng hanjajari panjenenganipun Bapa ........................ saha Bapa ................................. 
Ing salajengipun, dhumateng panjenenganipun para2 ingkang piniji, sasana saha swasana kawula sumanggakaken. Sumangga, nuwun.

Badhe nampi
Satuhu tatas titis wijang gamblang cetha trewaca tumata datan tumpang suh, atur pangandikanipun risang cundaka hamasrahaken pinanganten kekalih saking tlatah ............................... Salajengipun, Bapa ................ talanging basa Bapa ........................
kepareng badhe hanampi sang pindha narendra. Ing wasana, sasana saha swasana kawula sumanggakaken. Sumangga, nuwun.

4. Saksampunipun pasrah tinampi temanten sarimbit kaaturan toyo weningdening kang rayi ........................... datan Ngunjukipun dipun Bantu romo lan ibu ........................................

5. Sak cekapipun ngunjuk toyo wening temanten sarimbit harso lumebet gedung pahargyan tumuju wasana wisuda, kanti urut urtuan lampah
  1. Temanten sarimbit
  2. Romo lan ibu ........................... (Pengantin Lelaki)

( pun ibu nyapuraken SINDUR wonten bahunipun pun temanten kekalih tumuju wasana pahargyan 

SINDUR  Semacam selendang yang warnanya merah bertepikan putih, melambangkan persatuan dari unsur bapak dan unsur ibu. Sindur ini dalam upacara perkawinan :
a) Dipakai sebagai ikat pinggang oleh orang tua (bapak dan ibu) yang menyelenggarakan peralatan mantu.
b) Dipakai sebagai salah satu sarana dalam upacara perkawinan yaitu setelah mempelai bergandengan tangan (Jawa : kanthen) berjalan menuju ke tempat duduk pengantin, maka salah seorang pinisepuh putri (biasanya ibunda mempelai) mengikuti berjalan dekat di belakang mempelai berdua sambil menyelimutkan sehelai sindur sebagai lambang persatu paduan jiwa raga suami istri yang abadi.

Sindur diartikan kependekan dari sin = isin/malu, Ndur = mundur (malu untuk mundur)
Bahwa tujuan perkawinan antara lain adalah untuk meneruskan kehidupan generasi melalui pembangunan keluarga sejahtera.

Segala rintangan/hambatan tidak akan melemahkan keyakinan dirinya terhadap apa yang harus diperjuangkan dalam usaha membangun suatu keluarga sejahtera, terlebih-lebih dengan disertai do’a restu orang tua kedua pengantin, maka apapun yang akan dihadapinya akan terus diperjuangkan sampai terwujudnya harapan serta cita-citanya tersebut.

Tresna asih Gusti Ingkang Mahasuci mugi tansah manunggal ing kita sadaya.
Kalajengaken urutan lampah
  1. Romo lan ibu ........................... (Besan)
  2. Waginem lan Wagino pangapit
  3. Rombongan besan

6. Lampahing temanten manjing wasana pahargyan kanti gending……..
Adicara sungkeman (dipun pandegani juru rias)
Sungkem angka sepisan romo .....  lan ibu .................. ( Penganten Kakung)
Sungkem angka sepisan romo .....  lan ibu .................. ( Penganten Putri )

7. Pambuka saking Protokol kanti waosan Basmallah

8. Waosan kitab suci Al Qur’an kasariro bp. ...................................
Badhe pambagyaharja
Para tamu kakung sumawana putri, panjenenganipun Bapa .................. badhe marak ngabyantara sami, saperlu ngatruraken pambagyaharja, miwah wudharing gantha, lekas wekasing sedya, wigatosing gati. Inggih kabekta saking raos bombong miwah mongkoging manah, karana karoban ing sih sedaya ingkang sampun kepareng hanjenengi, saengga boten kuwawi matur piyambak, jrih menawi boten saged kawiyos ing lathi, namung kandheg wonten ing jangga, mila lajeng hanyaraya dhumateng panjenenganipun Bapa ............... 
kaampingan Bp. ........................... lan Bp. ................................ 
Ing salajengipun dhumateng para2 ingkang piniji, sasana saha swasana kawula sumanggakaken. 
Sumangga, nuwun.
Bakdha pambagyaharja
Satuhu tatas titis terang gamblang wijang wijiling pangandika, kaduk ruruh hangarah prana panjenenganipun Bapa D anggenipun ngaturaken pambagyaharja miwah wosing gati sampun paripurna. Ing salajengipun, keparenga para tamu pinarak ing palenggahan kanthi mardu-mardikaning penggalih sinambi nglaras rarasing gendhing2 saking pita swara ngantos dumugi parpurnaning panghargyan. Sumangga, nuwun.
Badhe waosan donga
Sanggya para tamu, ngancik adicara salajengipun nun inggih waosan donga dening tetuwangga ingkang piniji. Atur donga konjuk dhumateng Gusti, mugi-mugi panjenenganipun ............................. anggenipun hanetepi darmaning sepuh, hamiwaha putra mahargya siwi, tansah winantu ing suka basuki. Semanten ugi temanten sarimbit anggenipun badhe lelumban wonten madyaning bebrayan agung, tansah atut runtut dumugi kaken2 lan ninen2 bagya mulya ingkang sinedya rahayu ingkang tinemu basuki ingkang kahesti gagah ingkang jinangkah. Wondene ingkang piniji kepareng badhe ngaturaken donga panjenenganipun Pengaosan lan Do’a kasariro Bp. ....................................................... ingkang punika sasana saha swasana kawula sumanggakaken. Sumangga nuwun.
Sasampunipun waosan donga
Sanadyan wus paripurna atur donga dening tetuwangga ingkang piniji, parandene maksih kapireng suwantenipun lamat2 dumeling ing akasa, sumusup hima himantaka, saya ndedel nggayuh wiyati, satemah maweh prabawa hanelahi. Mratandani katarima pamintane mring Gusti, mbabar wahyu kanugrahan suci, tumanduk panjenenganipun ingkang hamengku gati, ingkang katemben hamiwaha putra mahargya siwi, mugi tetep winengku ing suka basuki, lestari salami-lami, tur kathah rejeki, lumintu dhumateng para tamu kakung-putri. Sanadyan namung reroncening purwakanthi, mugi anthuk berkahing Gusti, numusi dhumateng panjenengan lan kula sami ingkang hanjenengi pawiwahan mriki.
Badhe selingan gendhing (Hiburan (Suko Parisuko))
Para rawuh saha para lenggah, kinarya hangrantu laksitaning tata adicara salajengipun, kasuwun panjenenganipun para tamu lelenggahan kanthi mirunggan, sinambi nglaras rarasing gendhing2 ingkang badhe kaaturaken dening Paguyuban Organ Tunggal / Camprsari ............................., ingkang dipun sesepuhi panjenenganipun Bapa ...................................... 
Dhumateng para wirapradangga, keparenga ngaturaken gendhing2 ingkang jumbuh kaliyan swasana pahargyan ing hari/ratri kalenggahan punika.
Sasampunipun selingan gendhing
Satuhu edi endah, babaring budaya ingkang winahya ing salebeting gendhing2 [dening] Paguyuban Organ Tunggal / Camprsari ............................., ingkang dipun sesepuhi panjenenganipun Bapa ......................................  mugi2 handayani dhumateng para tamu ingkang katemben wawan pangandikan, langkung2 dhumateng ............................... sakulawangsa anggenipun hanetepi darmaning sepuh hangrakit sekar cepaka mulya hamiwaha putra mahargya siwi.
13. Tedak sungging (Ingkang hamratitisaken dening Bp. ................................)

Badhe paripurnaning gati
Para tamu kakung miwah putri ingkang winantu ing karahayon.
Nuwun, ngaturi uninga bilih Bapa ................ sakulawangsa ngambali sugeng rawuh kairing atur panuwun ingkang tanpa upami, dene Bapa/Ibu ........................... sampun kepareng rawuh paring berkah pangestu dhateng putra temanten kekalih, inggih Adimas ...................... lan Dhiajeng ................... ing wiwawahan jumeneng wekdal punika. 

Para tamu kakung miwah putri ingkang sinudarsana.
......................... sakulawangsa saestu bombong ing manah, pramila sanget2 ngaturaken agenging panuwun dhumateng para tamu kakung putri ingkang sampun kersa rawuh saha paring berkah pangestu. Saksampunipun angrahabi/angresepi pasugatan ingkang sarwo prasaja saha wawan pangandikan kaliyan para kadang karuh, menawi kepenggalih cekap, saha ngersakaken kondur, kawula sedaya namung saged ngaturaken sugeng kondur, mugi winantua ing karahayon. 

Wahyaning mangsakala wus ndungkap paripurnaning adicara, jumbuh kaliyan urut reroncening adicara: purwa, madya, wasana sampun kalampahan kaleksanakaken dening para kulawangsa, kanthi wilujeng kalis ing rubeda nir ing sambekala. 

Minangka pratandha paripurnaning adicara, kasuwun panjenenganipun romo ibu kekalih, keparenga hanjengkaraken putra temanten sarimbit tumuju wiwaraning wisma pawiwahan, saperlu hanguntapaken konduring para tamu saha nyuwun tambahing berkah pangestu. Kanthi mekaten pratandha pawiwahan prasaja ing hari/ratri kalenggahan punika sampun paripurna, sinartan sesanti jaya2 wijayanti, mugi rahayuha ingkang samya ginayuh. Jengkaring putra temanten sarimbit binarung ungeling Ladrang Gleyong laras pelog pathet nem. Sumangga nuwun.

Panutup pranatacara
Sampun paripurna pahargyan prasaja ing hari/ratri kalenggahan punika, lumantar pangendhaliwara sepindah malih panjenenganipun ................................................
ngaturaken gunging panuwun saha hambok bilih anggenipun hanampi menggah karawuhan panjenengan sami, wonten kuciwaning bojakrami, wonten aruh ingkang kirang wanuh, wonten lungguh ingkang kirang mungguh, wonten suguh ingkang kirang lawuh, mawantu-wantu ingkang hamengku gati nyuwun lumunturing sih samodra pangaksami. Semanten ugi, kawula minangka pangendaliwara, hambok bilih wonten gunyak-gunyuking wicara miwah kiranging subasita ingkang singular ing reh tata krama, jenang sela wader pari sesonderan, apuranta menawi lepat atur kawula. Sepindah malih: tahu kecap Purwasari menawi wonten keladuking patrap lan pangucap nyuwun pangaksami. Nuwun, matur nuwun.
Tuladha Pasrah saking Pihak Besan (Pengantin Perempuan)
[ngunduh manten]

Nuwun, kulanuwun. Panjenenganipun para pepundhen, para sesepuh, para pinisepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyaning kautamen, ingkang pantes pinundhi-pundhi saha kinabekten. Para tamu kakung sumawana putri ingkang dahat kalingga murdaning akrami. 

Kanthi pepayung budi rahayu, saha hangunjukaken raos suka syukur dhumateng Gusti, mugi rahayuha sagung dumadi tansah kajiwa kasalira dhumateng kawula lan panjenengan sadaya.

Amit pasang aliman tabik, mugi tinebihna ing iladuni myang tulak sarik, dene kawula cumanthaka sowan mangarsa hanggempil kamardikan panjenengan ingkang katemben wawan pangandikan. Inggih awratipun hamestuti jejibahan luhur kawula piniji minangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan, kawula kadhawuhan ngundhuh putra temanten putri mugi katur panjenenganipun Bapa Y sekalihan garwa.

Panjenenganipun Bapa B ingkang jumeneng hangembani wuwus minangka sulih sarira saking panjenenganipun Bapa Y sekalihan garwa ingkang winantu sagunging pakurmatan. Wondene menggah wigatosing sedya sowan kawula wonten ngarsa panjenengan, ingkang sepisan: ngaturaken sewu agenging kalepatan dene panjenenganipun Bapa X boten saged hanindakaken piyambak ngundhuh putra temanten putri, kapeksa namung saged ngaturaken salam taklim mugi katura ing panjenenganipun Bapa X ingkang lumantar kawula.

Jangkep kaping kalih, ing nguni sampun kadhaupaken Bagus Santo putra kakung Bapa X kaliyan Rr Ratih putra sesilih Bapa Y, rikala …………………………………………….. . Pramila ing kalenggahan punika, Bapa X ngaturaken angsal-angsal miwah upakarti minangka jangkeping tatacara salaki rabi.

Dhumateng panjenenganipun Bapa B dalah pangaraking ngundhuh temanten, katuran pinarak kanthi mardhika miwah hanjenengi sedaya adicara.

Minangka pungkasaning atur, hambok bilih wonten kekiranganipun Bapa X anggenipun ngaturaken angsal-angsal dalah upakarti, mugi lumeberna sih samodra pangaksami. Semanten ugi, kula minangka talanging atur, hambok bilih anggen kula matur wonten kiranging subasita ingkang singlar ing reh tata krama, kupat janure klapa menawi lepat nyuwun pangapura.

Nuwun.

Tresna asih Pangeran Yehuwah mugi tansah manunggal ing kita sadaya.
Tuladha Panampi Pasrah saking Pihak (Pengantin Kakung)
[nampi ngunduh manten]

Nuwun, kulanuwun. Dhumateng panjenenganipun Bapa A ingkang piniji hangembani wuwus, mangka duta saraya sulih sarira saking panjenenganipun Bapa X sekalihan garwa ingkang pantes katuran sagunging pakurmatan.

Kanthi linambara trapsila ing budi, miwah ngaturakan sewu agunging aksama, inggih awit mradapa keparengipun Y kaliyan garwa, kula Untung saking Rejomulyo Semarang, piniji minangka talanging basa, kinen hanampi menggah wosing gati lekasing sedya ingkang luhur saking panjenenganipun Bapa X sekalihan, lumantar panjenenganipun Bapa A.

Minangka purwakaning atur, ngaturaken sugeng rawuh saha ngaturaken gunging panuwun ingkang tanpa pepindhan dene lampah panjengan sampun kasembadaning karya, kanthi wilujeng nirbaya nirwikara boten wonten pringga bayaning marga.

Sanget katampi kanthi bingahing manah, atur salam taklim saking panjenenganipun kadang besan lumantar panjenengan kula tampi, mugi dhumawaha sami-sami. Sadaya SIH pisumbang salajengipun bade kula aturaken wonten ngarsanipun Bapa Y sarimbit, mugi-mugi awit saking pangestunipun, sageda handayani anggenipun mengku karya.

Sadaya peparingipun kadang besan katampi. Semanten ugi, inggih ngundhuh manten katampi, kanthi suka renaning penggalih. Mugi-mugi anggenipun mbangun bale wisma enggal tansah manggih bagya mulya ingkang sinedya, rahayu ingkang tinuju, basuki ingkang kaesthi, miwah tansah gagah ingkang jinangkah.

Dhumateng panjenenganipun Bapa A dalah pangaraking ngundhuh temanten, katuran pinarak kanthi mardhika saperlu hanjenengi sedaya adicara.

Minangka puputing atur, menawi wonten kuciwaning boja krami, anggen kula hangacarani menggah ing rawuh panjenengan sami, mugi lumeberna sih samodra pangaksami. Semanten ugi, kula minangka talanging basa, hambok bilih anggen kula matur wonten kiranging subasita ingkang singlar ing reh tata krama, kupat janure klapa menawi lepat nyuwun pangapura.

Nuwun.


Note : (Kosakata penting dalam Pernikahan) atau Istilah Peralatan Perkawinan dan Maknanya
Istilah Peralatan Perkawinan dan Maknanya

Bismillahirrohman nirrokhimi...
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuuh...

1. TARUB:
“ Bangunan darurat “ yang khusus didirikan pada dan di sekitar rumah orang yang mempunyai hajat, dengan tujuan rasional dan irrasional.

  • Rasional : Membuat tambahan ruang untuk tempat duduk tamu dan lain-lainnya.
  • Irrasional : Karena pembuatan tarub menurut adat harus disertai dengan macam macam persyaratan khas yang disebut srana-srana / sesaji, maka yang demikian itu mempunyai tujuan “ keselamatan lahir batin “ dalam memangku-kerja-perkawinan itu dalam arti luas

Adapun Srana Tarub yang pokok disebut tuwuhan dengan maksud supaya berkembang di segala bidang bagi kedua mempelai terdiri dari :

  • Sepasang pohon pisang-raja yang berbuah, maknanya secara singkat adalah : Agar mempelai kelak menjadi pimpinan yang baik bagi keluarganya/ lingkungannya/bangsanya. Seperti pohon pisang dapat tumbuh dan hidup di mana saja maka diharapkan bahwa mempelai berdua pun dapat hidup dan menyesuaikan diri di lingkungan mana pun juga dan berhasil (berubah).
  • Sepasang Tebu Wulung Tebu : antipening kalbu = tekad yang bulat. Wulung : mulus = matang Maknanya, dari mempelai diharapkan agar segala sesuatu yang sudah dipikir matang-matang dikerjakan/dilaksanakan dengan tekad yang bulat, pantang mundur (“mulat sarira hangrasawani”).
  • Dua janjang kelapa gading yang masih muda Kelapa gading : Kelapa yang kulitnya kuning. Kelapa muda : cengkir. Maknanya, kencengin pikir = kemauan yang keras. Dari mempelai diharapkan agar memiliki “kemauan yang keras” untuk dapat mencapai tujuan.
  • Daun : beringin , Daun : Maja, Daun : Koro, Daun : Andong, Daun : Alang-alang, Daun : Apa-apa , (daun dadap srep) Maknanya, diharapkan dari mempelai kelak dapat tumbuh seperti pohon beringin, menjadi pengayom lingkungannya dan agar semuanya dapat berjalan dengan selamat sentosa lahir batin (aja ana-sekoro-koro kalis alangan sawiji apa) .

2. SRANA/SESAJI TARUB
Menunjukkan pengertian baik kata benda maupun kata kerja, yang berarti membuat/mempersiapkan semua persyaratan barang-barang baik yang berujud (materiil) maupun yang tidak berujud (spirituil) yang diperlukan untuk pelengkap syarat pembuatan tarub sesuai dan menurut kepercayaan dan pengertian tradisi/adat.

3. NGUNDUH ATAU NGUNDUH TEMANTEN
Kata-kata Ngunduh = memetik yang dilakukan khusus oleh orang tua dari mempelai lelaki, yang berarti mendatangkan mempelai berdua di rumah orang tua mempelai lelaki, biasanya setelah 5 hari anaknya lelaki itu berada di rumah mertuanya sejak hari dilangsungkan perkawinannya, untuk secara bergantian dirayakan di rumah orang tuanya sendiri (orang tua mempelai lelaki) dengan maksud untuk memperkenalkan mempelai kepada keluarganya dan handai taulan.

4. PETANEN ATAU KROBONGAN
Kata benda petanen atau krobongan yakni kamar tengah dari dalem = bangunan rumah yang dibelakang.
Bangunan rumah yang didepan namanya Pendapa 
Kamar tengah yang disebut petanen ini biasanya selalu dihiasi atau bahasa Jawa di robyong. Tempat yang dirobyong itu lalu disebut Krobongan .
Petanen atau juga disebut krobongan ini adalah kamar yang disediakan untuk DEWI SRI yaitu dewinya pertanian (Jawa = petanen).
Dalam upacara perkawinan, maka setelah temu atau panggih, kedua mempelai lalu duduk di muka petanen ini. Disitulah dilakukan ucapan-ucapan kelanjutannya, misalnya: nimbang, kacar-kucur atau sungkem dan lain-lainnya. Sesuai dengan perkembangannya sekarang krobongan disebut pelaminan yang bentuknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

5. KEMBAR MAYANG
Terdiri dari 2 kata,
Kembar : dua benda yang sama bentuknya dan ukurannya
Mayang : bunga pohon pinang
Jadi artinya, sepasang benda yang dirangkai dalam bentuk tertentu dengan bunga pinang guna keperluan mempelai. Akan tetapi arti sebenarnya dimaksudkan disini melambangkan suatu “pohon hayat” dalam bentuk sekaligus berfungsi sebagai dekorasi.

6. TEMANTEN ATAU PENGANTIN
Artinya Mempelai.

7.  PRABOT TEMANTEN
Segala sesuatu yang perlu bagi seorang temanten, terutama sekali mengenai pakaian tradisional temanten menurut adat.

8.  “ PINISEPUH “ PUTRI
Dalam arti sempit : 
Ahli waris wanita yang dekat hubungannya dengan keluarga dan yang kedudukannya dalam lingkungan keluarga itu lebih tua dari sang mempelai, misalnya :
• Dari garis lurus ke atas (adscendenten) Ibu, nenek putri, eyang buyut dan seterusnya
• Dari garis samping Kakak perempuan, bibi (tante, oudtante) dan seterusnya.
Dalam arti luas : 
Yang disebut di atas + wanita-wanita lain yang tua usianya dan sangat akrab hubungannya dengan keluarga yang bersangkutan (bahasa Jawa disebut Kewula-keraga).

9.  “ PINISEPUH “ KAKUNG
Dalam arti sempit : 
Ahli waris pria yang dekat hubungannya dengan keluarga dan yang kedudukannya dalam lingkungan keluarga itu lebih tua dari sang mempelai, misalnya :
• Dari garis lurus ke atas (adscendenten) ayah, kakek, eyang buyut dan seterusnya
• Dari garis samping Kakak laki-laki, paman (om) dan seterusnya.
Dalam arti luas : 
Yang disebut di atas + pria-pria lain yang tua usianya dan sangat akrab hubungannya dengan keluarga yang bersangkutan (bahasa Jawa disebut Kewula-keraga).

10.  NGANTHI
Kata kerja Nganthi berarti membimbing fisik = mendampingi dan memegangi tangan dari sang mempelai.

11.  SINDUR
Semacam selendang yang warnanya merah bertepikan putih, melambangkan persatuan dari unsur bapak dan unsur ibu. Sindur ini dalam upacara perkawinan :
a) Dipakai sebagai ikat pinggang oleh orang tua (bapak dan ibu) yang menyelenggarakan peralatan mantu.
b) Dipakai sebagai salah satu sarana dalam upacara perkawinan yaitu setelah mempelai bergandengan tangan (Jawa : kanthen) berjalan menuju ke tempat duduk pengantin, maka salah seorang pinisepuh putri (biasanya ibunda mempelai) mengikuti berjalan dekat di belakang mempelai berdua sambil menyelimutkan sehelai sindur sebagai lambang persatu paduan jiwa raga suami istri yang abadi.
Sindur diartikan kependekan dari sin = isin/malu, Ndur = mundur (malu untuk mundur)
Bahwa tujuan perkawinan antara lain adalah untuk meneruskan kehidupan generasi melalui pembangunan keluarga sejahtera.
Segala rintangan/hambatan tidak akan melemahkan keyakinan dirinya terhadap apa yang harus diperjuangkan dalam usaha membangun suatu keluarga sejahtera, terlebih-lebih dengan disertai do’a restu orang tua kedua pengantin, maka apapun yang akan dihadapinya akan terus diperjuangkan sampai terwujudnya harapan serta cita-citanya tersebut.

12.  NGABAKTEN / SUNGKEM
Suatu kewajiban moral tradisional bagi sang mempelai untuk secara fisik menunjukkan/menyatakan bakti dan hormatnya lahir batin kepada orang tua dan para pinisepuhnya dengan gerakan tertentu, seraya mohon do’a restu dan mendapat ridho dari Tuhan agar selalu mendapatkan bimbingan dan petunjuk di dalam membangun keluarga dan berguna bagi Nusa dan Bangsa.
Pada saat akan sungkem kedua pengantin melepas selop dan keris yang dikenakan pengantin pria. Hal ini dimaksudkan bahwa kedua mempelai dengan sepenuh hati telah siap akan bersujud kepada orang tua pengantin dan pinisepuh.

13.  GANTI BUSANA
Upacara mempelai untuk sementara waktu meninggalkan tempat duduknya berjalan menuju kamar rias untuk ganti pakaian dengan diiringi oleh beberapa orang pinisepuh, saudara-saudaranya (laki-laki dan perempuan) dan lain-lain anggota keluarga terdekat yang ditunjuk.

14.  BESAN
Sebutan yang dipakai untuk menunjukkan hubungan kekeluargaan antara orang tua dari mempelai lelaki dan orang tua dari mempelai wanita.

15.  MERTUA
Sebutan yang dipakai untuk menunjukkan hubungan kekeluargaan bagi mempelai lelaki terhadap orang tua dari mempelai wanita dan bagi mempelai wanita terhadap orang tua dari mempelai lelaki.

16.  AMONG TAMU
Tugas khusus untuk menerima dan mengantar para tamu ke tempat duduknya, menurut ketentuan protokol.

17.  GAMELAN
Seperangkat alat musik khas Jawa yang disiapkan untuk lebih menyemarakkan suasana dan mengiringi upacara adat sesuai dengan urut- urutan protocol.

18.  KERIS
Suatu benda semacam senjata-tajam yang mempunyai bentuk khusus dan dianggap keramat berfungsi antara lain sebagai salah satu perabot dari pada pakaian kebesaran secara adat Jawa.

19.  PAKAIAN SIKEPAN CEKAK / ALIT
Salah satu model pakaian pengantin yang dipakai setelah kembali dari ganti menuju ketempat duduknya. Model ini yang biasa digunakan oleh para pangeran saat upacara2 kebesaran.

20.  DIJEJERKAN
Diatur agar mempelai berdua berdiri berjajar.

21.  NANDUR
Gerakan dari orang tua laki-laki untuk mendudukan kedua pengantin di pelaminan dengan menekankan tangan di pundak pengantin pria dan wanita yang dapat diartikan bahwa setiap orang tua dengan kasih sayangnya tetap akan selalu memberikan petunjuk2 dan pengarahan yang benar dengan harapan hendaknya segala sesuatu yang dilaksanakan selalu didasari budi yang baik dan luhur.
Nandur = menanam
Dimaksudkan bahwa akan tumbuh hidup subur dan dari kesuburan tersebut dihasilkan buah yang bagus dan berguna.

22.  IMBAL WICARA
Dialog/percakapan yang dilaksanakan pada saat serah terima kedua pengantin dari orang tua pengantin putri kepada orang tua pengantin putra.

23.  BOMBYOK KERIS / KOLONG KERIS
Suatu kelengkapan busana kebesaran bagi pengantin yang terdiri dari untaian / rangkaian bunga dan mawar dengan warna putih dan merah yang artinya sama dengan arti sindur

24.  OMBYONG
Sebutan bagi rombongan pengiring pengantin yang biasanya terdiri dari para keluarga terdekat pengantin pria/wanita yang telah ditentukan.

25.  NGARAK TEMANTEN
Kata kerja “ngarak” berarti membimbing secara bersama-sama dalam bentuk rombongan.

26.  MENGAPIT
Dapat diartikan mendampingi di sebelah kanan dan kiri yang dapat dilakukan dalam posisi duduk, berdiri atau berjalan.

27.  BUCALAN = BUANGAN
Kata benda dari sesaji yang akan ditempatkan / dibuang di tempat-tempat tertentu (route perjalanan dan kompleks penyajiannya telah diuraikan di depan / skenario)
Kata kerja dari pelaksanaan penyajian sesaji bucalan gecok mentah dengan maksud mengharapkan partisipasi dari para bahu rekso (makhluk yang tidak kelihatan) maupun yang kelihatan, untuk menjaga jalan-jalan yang akan dilalui pengantin dan juga ditempat-tempat yang akan dipakai tempat upacara/perhelatan dan diminta supaya tidak mengganggu pengantin sekalian, beserta orang tuanya, keluarganya, pengiringnya, tamu-tamunya, para panitia dan pembantunya dan lain-lain. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan hajat Ngunduh Temanten tersebut selamat hingga upacara selesai dengan paripurna khususnya kepada pengantin sekalian diberikan rakhmat, sejahtera dan bahagia lahir batin.

28.  SIRAMAN
Menunjukkan pengertian kata benda dari kata “siram” yang berarti suatu perbuatan tradisional mandi bagi setiap orang calon mempelai wanita maupun pria menjelang akad nikah.
Untuk keperluan ini diperlukan pula syarat-syarat atau sesaji-sesaji yang disebut “sirna siraman” yang ujudnya sesuai dengan uraian pada skenario.
Upacara siraman (mandi mempelai) ini dipimpin dan dilakukan/dibantu oleh para ahli waris terdekat yang sudah tua usianya baik dari garis bapak maupun dari garis ibu (sesuai masyarakat adat yang bersifat ke bapak ibuan = perenteel).

29.  PAES
Menunjukkan kata benda dari kata kerja maesi, yang berarti merias dahi calon mempelai wanita oleh seorang wanita ahli dalam tugas ini, agar wajah si calon mempelai wanita terlihat lebih cantik lagi mirip gambaran wajah seorang bidadari.

30.  KEMBANG SETAMAN 
Beberapa macam bunga yang dicampur satu dalam sebuah tempat/wadah yang berisi air tawar

P#5 URUT-URUTAN PERNIKAHAN ADAT JAWA SAMPAI DENGAN BOYONG PENGANTEN (NGUNDUH)


P#5 URUT-URUTAN PERNIKAHAN ADAT JAWA SAMPAI DENGAN BOYONG PENGANTEN (NGUNDUH)



BABAK V (PUNCAK ACARA)

Puncak dari rangkaian acara dan merupakan inti acara.

a. Upacara Ijab
Sebagai prosesi pertama pada puncak acara ini adalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri.

b. Upacara Panggih
Setelah upacara ijab selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:

  • Liron kembar mayang atau saling menukar kembang mayang dengan makna dan tujuan bersatunya cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan.
  • Gantal atau lempar sirih dengan harapan semoga semua godaan hilang terkena lemparan itu.
  • Ngidak endhog atau pengantin pria menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.
  • Minum air degan (air buah kelapa) yang menjadi lambang air suci, air hidup, air mani dan dilanjutkan dengan di-kepyok bunga warna-warni dengan harapan keluarga mereka dapat berkembang segala-segalanya dan bahagia lahir batin.
  • Masuk ke pasangan bermakna pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.
  • Sindur yaitu menyampirkan kain (sindur) ke pundak pengantin dan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup. 


Setelah upacara panggih, kedua mempelai diantar duduk di sasana rinengga. Setelah itu, acara pun dilanjutkan.
  • Timbangan atau kedua pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin wanita sebagai simbol sang ayah mengukur keseimbangan masing-masing pengantin.
  • Kacar-kucur dijalankan dengan cara pengantin pria mengucurkan penghasilan kepada pengantin perempuan berupa uang receh beserta kelengkapannya. Simbol bahwa kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga.
  • Dulangan atau kedua pengantin saling menyuapi. Mengandung kiasan laku perpaduan kasih pasangan laki-laki dan perempuan (simbol seksual). Ada juga yang memaknai lain, yaitu tutur adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng.


Resepsi
Sesudah seluruh rangkaian upacara perkawinan selesai, dilakukan resepsi, dimana kedua temanten baru, dengan diapit kedua belah pihak orang tua, menerima ucapan selamat dari para tamu.

Didepan pengantin wanita, dua gadis kecil yang disebut patah  membawa kipas. Dua anak laki-laki muda atau dua orang ibu, masing-masing membawa sebuah rangkaian bunga khusus yang namanya kembar mayang.

Seorang ibu pengiring pengantin pria maju dan memberikan Sanggan kepada ibu pengantin putri sebagai tanda penghormatan untuk penyelenggaraan upacara perkawinan. 

Sanggan itu berupa buah pisang yang dibungkus rapi dengan daun pisang dan ditaruh diatas nampan.


Pada saat yang telah ditentukan, penganten pria diantar oleh saudara-saudaranya  kecuali kedua orang tuanya yang tidak boleh hadir dalam upacara ini, tiba didepan rumah pengantin putri dan berhenti didepan pintu rumah. Sementara itu, pengantin wanita  dengan dikawal saudara-saudaranya dan diikuti kedua orang tuanya, menyongsong kedatangan rombongan pengantin pria dan berhenti dipintu rumah depan
Ritual Wiji Dadi

Penganten pria menginjak sebuah telur ayam  kampung hingga pecah dengan telapak kaki kanannya, kemudian kaki  tersebut dibasuh oleh penganten putri dengan air kembang.

Pralambang nya : rumah tangga yang dipimpin seorang suami yang bertanggung jawab  dengan istri yang baik, tentu menghasilkan hal yang baik pula termasuk anak keturunan.
Pengantin pria dan wanita berdiri  berhadapan tepat. Telapak kaki kanan mempelai pria dibasuh dengan air kembang oleh mempelai putri dengan sikap jongkok. Perias temanten sebagai pembimbing  upacara, memegang telur ayam kampung itu ditangan kanannya.Ujung telur tersebut oleh perias ditempelkan pada  dahi pengantin pria dan kemudian pada dahi pengantin wanita.Kemudian telur itu dipecah oleh perias diatas tumpukan bunga yang berada diantara kedua pengantin Ini penggambaran kedua pengantin sudah mantap dalam satu pikiran, sadar saling kasih  membina rumah tangga yang  bahagia sejahtera dan menghasilkan anak keturunan yang  baik-baik
Sinduran
Berjalan perlahan-lahan dengan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa kedua mempelai sudah diterima sebagai keluarga.
Ritual Kacar Kucur atau Tampa Kaya.

Sepasang pengantin  dengan bergandengan  dengan jari kecilnya berjalan menuju depan krobongan, tempat dimana upacara tampa kaya diadakan.Upacara kacar kucur ini menggambarkan : suami memberikan seluruh penghasilannya kepada istri. Dalam ritual ini suami memberikan kepada istri : kacang, kedelai, beras, jagung, nasi kuning, dlingo bengle, beberapa macam bunga dan uang logam dengan jumlah genap.Istri menerima dengan segenap hati dengan selembar kain putih yang ditaruh diatas selembar tikar tua yang diletakkan diatas pangkuannya. Artinya istri akan menjadi  ibu rumah tangga yang baik dan berhati-hati
Ritual Dhahar Klimah atau  Dhahar Kembul

Dengan disaksikan orang tua pengantin putri dan kerabat dekat, sepasang pengantin makan bersama, saling menyuapi. Mempelai pria membuat tiga kepal nasi kuning dengan lauknya berupa telor goreng,tempe, kedelai, abon, ati ayam. Lalu ia menyuapkan kepada istrinya, sesudah itu ganti sang istri menyuapi suaminya, diakhiri dengan minum teh manis bersama. Ini melambangkan bahwa mulai saat ini keduanya akan mempergunakan dan menikmati bersama  apa yang mereka punyai.
Mertui atau Mapag Besan 

Kedua orang tua pengantin putri menjemput kedua orang tua pengantin pria didepan rumah ( untuk perkawinan digedung menjemputnya didepan ruangan tempat berlangsungnya acara ritual) dan mempersilahkan  mereka masuk rumah/ ruangan tempat upacara, selanjutnya mereka berjalan bersama menuju ketempat upacara. Ibu-ibu berjalan didepan, bapak-bapak mengiringi dari belakang. Kedua orang tua pengantin pria didudukkan  sebelah kiri pengantin, orang tua pengantin putri duduk disebelah kanan penganten.
Upacara Sungkeman

Sepasang pengantin melakukan  sungkem kepada kedua belah pihak orang tua. Mula-mula kepada orang tua pengantin wanita kemudian kepada orang tua pengantin pria. Sungkem adalah merupakan bentuk penghormatan tulus kepada orang tua dan pinisepuh.

Pada waktu sungkem ( menghormat dengan posisi jongkok , kedua telapak tangan menyembah dan mencium lutut yang di-sungkemi), keris yang dipakai pengantin pria dilepas dulu dan dipegangi oleh perias, sesudah selesai sungkem , keris dikenakan kembali.

Orang tua dengan haru menerima penghormatan berupa sungkem dari putra putrinya dan pada waktu yang bersamaan juga memberikan restunya supaya  keduanya menempuh hidup rukun, sejahtera. Tanpa mengucapkan kata-kata itu, sebenarnya para orang tua pengantin sudah memberikan restu yang dilambangkan dari kain batik yang dikenakan yang polanya truntum , artinya punyailah rejeki yang cukup selama hidup. Kedua orang tua juga menggunakan ikat pinggang besar  yang namanya sindhur dengan pola gambar dengan garis yang melekuk-lekuk, artinya orang tua mewanti-wanti kedua anaknya supaya selalu bertindak hati-hati, bijak dalam menjalani kehidupan nyata didunia ini.

Kirab

adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saat pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana.

Upacara Tambahan
c. Upacara Babak Kawah
Upacara ini khusus untuk keluarga yang baru pertama kali hajatan mantu putri sulung. Ditandai dengan membagi harta benda seperti uang receh, beras kuning, umbi-umbian dan lain-lain. 
Upacara Adat Tambahan Bubak Kawah (Punya hajat pertama kali)
Bubak Kawah
1. Pengertian
          Secara bahasa Bubak berarti mbukak ( membuka ), kawah artinya adalah air yang keluar sebelum kelahiran bayi, sedang secara istilah bubak kawah berarti : membuka jalan mantu atau mantu yang pertama ( Poerwadarminta, 1939 : 51 & Sudaryanto & Pranowo, 2001 : 123 ). Sutawijawa dan Yatmana ( 1990 : 25 ) menyatakan bahwa bubak kawah adalah upacara adat yang dilaksanakan ketika orang tua mantu pertama atau terakhir, mantu pertama disebut tumpak punjen, sedang mantu terakhir disebut tumplak punjen.

           Dan Drs. Suwarna Pringgawidagda, M.Pd. menyimpulkan dari kedua pendapat tersebut : bahwa bubak kawah adalah upacara adat yang dilaksanakan ketika orang tua mantu pertama, khusus untuk pengantin jaka lara ( perjaka-gadis ) pada mantu yang pertama ( tidak harus mantu anak sulung ). ( Tata Upacara dan Wicara, Acara-acara Khusus Bab 10, Kanisius 2006 : 276 ).

2. Tujuan dan makna
Beberapa tujuan dari pada upacara bubak kawah ini adalah sebagai berikut :

Pernyataan syukur kepada Tuhan YME, bahwa telah dapat mengawali mantu.
Permohonan kepada Tuhan agar pengantin diberikan kekuatan, kesegaran jasmani dan rohani, ayem tentrem.

Harapan agar pengantin di karuniai anak.
Menunjukan tanggung jawab orang tua terhadap putrinya, walaupun susah payah untuk melaksanakan perhelatan, tetapi badan dan pikiran tetap segar bugar seperti segarnya rujak degan yang di sajikan.
Menunjukan kepada kerabat tamu bahwa ini perhelatan mantu yang pertama.
3. Pelaksanaan
Setelah panggih, pengantin berjalan menuju ke pelaminan untuk duduk bersanding :

Pengantin duduk berdua di pelaminan.
Bapak – ibu mengambil rujak degan dan rujak tape.
Bapak terlebih dahulu mencicipi rujak degan dan rujak tape, kemudian ibu, ketika bapak minum rujak degan dan rujak tape ada dialog singkat sebagai berikut :
Ibu      : “ Pak,, kepiye mungguh rasane rujak degan lan rujak tape..??”

            ( “ Pak..bagaimana rasa rujak kelapa muda dan rujak tapenya..? )

Bapak : “ Bu..Rasane seger sumyah, muga-muga warata sak omah..! “

   ( “ Bu..Rasanya sangat segar, semoga merata bagi seluruh anggota   keluarga.! )

Kemudian ibu mencicipi rujak degan dan rujak tape.
Ibu dan bapak menghampiri pengantin, kemudian ibu menyuapi rujak degan dan rujak tape kepada mempelai berdua.
Setelah selesai, bapak ibu kembali ke tempat duduk.
Kemudian di lanjutkan acara tanpa kaya, dhahar klimah, ngunjuk toya wening, mapag besan dan sungkeman.

d. Tumpak punjen, & Tumplak punjen
Numplak artinya menumpahkan, punjen artinya berbeda beban di atas bahu. Makna dari Tumplek Punjen yaitu lepas sudah semua darma orangtua kepada anak. 

Tata cara ini dilaksanakan bagi orang yang tidak akan bermenantu lagi atau semua anaknya sudah menikah. 
Mantu pertama disebut tumpak punjen, sedang mantu terakhir disebut tumplak punjen

e. Tumplak Punjen (Punya hajat terakhir kali)
Bismillahirrohman nirrokhimi...

Ritual ini dilakukan oleh orang tua yang mengawinkan putra/ putrinya untuk terakhir kali.  Tumplak artinya menuang atau memberikan semua. Punjen adalah harta orang tua yang telah dikumpulkan sejak mereka berumah tangga.
*Sambutan dari wakil putra putri yang ditujukan untuk bapak ibu

Dalam ritual ini, orang tua yang berbahagia, didepan krobongan, memberikan miliknya( punjen) kepada semua anak-anak dan keturunannya. Secara simbolis kepada masing-masing diberikan sebuah bungkusan kecil yang berisi bumbu-bumbu,nasi kuning,uang logam dari emas, perunggu dan tembaga dll.
Dengan mengadakan tumplak punjen, orang tua ingin memberi teladan kepada anak keturunannya,bahwa mereka sudah purna tugas dan  supaya generasi penerus selalu menyukuri karunia Tuhan dan mampu melaksanakan tugas hidupnya dengan baik dan benar.

Tujuan dan Makna

  • Tasyakur (puji syukur) kepada Allah SWT, karena telah menuntaskan tanggung jawab untuk menikahkan   putra/ putrinya
  • Memberitahukan kepada kerabat bahwa tugas untuk menikahkan putra/ putrinya telah selesai
  • Memberutahu kepada anak bahwa tugas orangtua telah selesai
  • Tanda cinta kasih orangtua kepada anak
  • Tanda bakti anak kepada orangtua (ditandai dengan sungkeman)
  • Teladan agar suka bersedekah kepada sesama.
  • Harapan dan doa orangtua untuk kebahagiaan anak cucu.

*Sungkeman, mulai dari anak sulung sampai ke anak bungsu (penganten) beserta pasangan masing - masing (menantu). Saat sungkem orang tua memberikan katung kecil yang berisi biji - bijian, beras kuning, empon - empon, bunga sritaman, dan uang logam. Boleh juga berupa hadiah yang lebih besar nilainya (misal : perhiasan). Kantung - kantung kecil tersebut diambil dari bokor kencana (bokor keemasan). Isi bokor selengkapnya adalah : kantung - kantung kecil, biji - bijian (beras kuning, kedele, jagung, empon - empon, kembang sritaman, dan uang. Isi bokor tersebut biasa juga disebut udhik - udhik.
*Setelah sungkeman selesai, orangtua menyebar isi bokor (udhik - udhik) dan semua anak cucu dan para tamu, boleh berebut. Udhik - udhik agar disisakan sedikit untuk tata laksana berikutnya.
*Sisa udhik - udhik ditumplak (ditumpahkan) di depan pelaminan.

Berlanjut ke :  NGUNDUH 

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...