primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Sabtu, 08 Maret 2014

KELUARGA BESAR NABI MUHHAMMAD (Lengkap)

KELUARGA BESAR NABI MUHHAMMAD 

KELUARGA BESAR NABI MUHHAMMAD (Lengkap)

Rasulullah saw bersabda : “Wahai Bani Hasyim ! Janganlah sampai orang-orang lain menghadap padaku pada hari kiamat nanti dengan berbagai amal shaleh (baik), sedangkan kalian menghadapku hanya dengan membanggakan nasab (keturunan).” 



KELUARGA BESAR NABI MUHAMMAD SAW

ORANGTUA
1. Ayah: Abdullah bin Abdul Muththalib (wafat 576 M).
2. Ibu: Aminah Az- Zuriyah binti Wahab (wafat 577 M).
3. Kakek (Ayah Abdullah): Syaibah (Abdul Muththalib) bin Hasyim (wafat 578 M).
4. Nenek (Ibu Abdullah): Fathimah binti Amri Al Muakhzumiyah.
5. Kakek (Ayah Aminah): Wahab bin Abdul Manaf.
6. Nenek (Ibu Aminah): Barrah binti Abdul ‘Uzzah.

ISTRI
1. Khadijah binti Khuwailid (wafat 3 SH).
2. Saudah binti Zam’ah (wafat 23 H).
3. ‘Aisyah binti Abu Bakar (wafat 57 H).
4. Hafshah binti Umar (wafat 45 H).
5. Zainab binti Khuzaimah (wafat 1 SH).
6. Hindun binti Abu Umayyah (Ummu Salamah - wafat 57 H).
7. Zainab binti Jahsy (wafat 20 H).
8. Juwairiyah binti Harits (wafat 56 H).
9. Ramlah binti Abu Sufyan (Ummu Habibah - wafat 44 H)
10. Shafiyyah binti Huyay (wafat 50 H)
11. Maumunah (Barrah) binti al-Harits (wafat 50 H)
12. Maria binti Syama’un (Maria al-Qabtiyah - wafat 16 H)

MERTUA
1. Khuwailid bin As’ad dan Fathimah binti Za'idah (orangtua Khadijah).
2. Zam’ah bin Qois dan Syamusy binti Qois bin Zaid An-Najjariiyyah (orangtua Saudah).
3. Abu Bakar As-Shiddiq dan Ummu Ruman binti Amir (orangtua ‘Aisyah).
4. Umar bin Khaththab dan Zaynab binti Madh’un (orangtua Hafshah).
5. Khuzaimah bin Harits dan Hindun binti Auf (orangtua Zainab).
6. Hudzaifah (Abu Umayyah) bin Mughirah dan Atikah binti Amir (orangtua Hindun).
7. Jahsy bin Ri'ab dan Umaymah binti Abdul Muthalib (orangtua Zainab).
8. Harits bin Abu Dhirar (orangtua Juwairiyah).
9. Shakhr bin Harb dan Shafiyah binti Abul Ash (orangtua Ramlah).
10. Huyay bin Akhtab dan Barrah binti Samaual (orangtua Shafiyyah).
11. al-Harits bin Hazm dan Hindun binti Aus (orangtua Maimunah).
12. Syama’un (orangtua Maria).

PUTRA-PUTRI
1. al-Qasim.
2. Zainab (wafat 8 H.).
3. Ruqayyah (wafat 2 H).
4. Ummu Kultsum (wafat 9 H).
5. Fathimah az-Zahra (wafat 11 H).
6. Abdullah.  catatan; No 1-6, Anak dari Khadijah.
7. Ibrahim (wafat 10 H). catatan ; No. 7, Anak dari Maria.

MENANTU
1. Utsman bin Affan (suami Ruqayah).
2. Abul ‘Ash bin Rabi' (suami Zainab).
3. Ali bin Abu Thalib (suami Fathimah).

CUCU & CICIT
1. Abdullah bin Utsman.
2. Ali bin Abul ’Ash.
3. Hasan bin Ali (wafat 50 H).
4. Husain bin Ali (wafat 61 H).
5. Ummu Kultsum bin Ali (wafat.75 H).
6. Zainal Abidin bin Husain (wafat 93 H).
No. 6, Cicit.

PAMAN
1. Harits. 
2. Abdu Manaf (Abu Thalib - wafat 3 SH).
3. Zubair (Abu Harits). 
4. Hamzah (Abu `Umarah dan Abu Ya`la – Islam - wafat 3 H).
5. Abdul al-Uzza (Abu Lahab). 
6. Ghaidaq. 
7. Muqawwam. 
8. Dhirar. 
9. `Abbas (Islam - wafat 32 H).
10. Qusam. 
11. Abdul Ka`bah. 
12. Hajal (Mughirah).

BIBI
1. `Atikah.
2. Umaimah.
3. Baidhak (Ummu Hakim).
4. Barrah.
5. Shafiyyah (ibunda Zubair bin Awam). 
6. Arwa. 

-*-...>>>>>>> SUMBER: “Anwarul Muhammadiyah”, karangan Yusuf An-Nabhany.
..............................................................................................

Salasilah Keturunan Nabi Muhammad SA

Baik sekali kalau kita mengenali seluruh keluarga dan keturunan (salasilah) Nabi dan Rasul Allah, terutama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana melalui Bagindalah agama yang suci ini diturunkan.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan Nabi dan Rasul yang terakhir diutuskan oleh Allah SWT bagi menjadi model terulung untuk seluruh alam serta kedatangannya juga adalah untuk “Menyempurnakan Akhlak” (Makarrimal Akhlak) manusia. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keturunan kepada Nabi Allah Ismail dan Nabi Allah Ibrahim.

Dalam Kanzul Ummal 6: 106, kitab Fadhail, hadis ke 32010 disebutkan; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku dan Adam berada di surga dalam sulbinya, aku menaiki bahtera dalam sulbi ayahku Nuh, aku dilemparkan ke dalam api dalam sulbi Ibrahim, ayah-ayahku tidak pernah tersentuh oleh perzinaan. Allah senantiasa memindahkan aku dari sulbi yang baik ke dalam rahim yang suci, suci dan memberi petunjuk. Tidaklah tumbuh dua cabang kecuali aku yang terbaik. Allah menjadikan kenabian sebagai perjanjian (mitsaq)ku dan Islam sebagai perjanjian (‘ahd)ku. Allah menginformasikan sebutanku dalam Taurat dan Injil, menjelaskan sifat-sifatku kepada setiap nabi, memancarkan cahayaku ke muka bumi, menaungi wajahku dengan awan, mengajarkan kepadaku kitab-Nya, memuliakanku di langit-Nya, menjadikan namaku dari asma-Nya, Pemilik Arasy adalah Al-Mahmud dan aku adalah Muhammad. Allah berjanji padaku bahwa mereka yang mencintaiku akan berada di telaga Haudh dan Kautsar. Dia menjadikan aku orang yang pertama memberi syafaat dan diizinkan untuk memberi syafaat. Kemudian Dia menghadirkan aku pada abad yang terbaik bagi ummatku, mereka adalah orang-orang yang terpuji, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.”  Al-Muttaqi Al-Hindi mengatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Ibnu Abbas..

Nabi Adam AS  -  Nabi Muhammad SAW.


Berikut merupakan kronologi salasilah keturunan berikut diterangkan penama-penama yang merupakan atuk moyang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam:
    • Muhammad bin Abdullah (Nabi Muhammad SAW)
    • Abdullah bin Abdul Muttalib
    • Abdul Mutallib bin Hashim
    • Hashim bin Abdul Manaf
    • Abdul Manaf bin Qusai
    • Qusai bin Kilab
    • Kilab bin Murrah
    • Murrah bin Kaab
    • Kaab bin Luay
    • Luay bin Ghalib
    • Ghalib bin Fahr
    • Fahr bin Malik
    • Malik bin Nadhar
    • Nadhar bin Kinanah
    • Kinanah bin Khuzaimah
    • Khuzaimah bin Mudrikah
    • Mudrikah bin Elyas
    • Elyas bin Mudar
    • Mudar bin Nizar
    • Nizar bin Ma’ad / Mu’ad
    • Ma’ad bin Adnan
    • Adnan bin Add (diriwayatkan merupakan Pemerintah Pertama bagi kota suci Makkah)(lahir tahun 122 SM)
    • Add bin Humaisi
    • Humaisi bin Salaman
    • Salaman bin Aws
    • Aws bin Buz
    • Buz bin Qamwal
    • Qamwal bin Obai
    • Obai bin Awwam
    • Awwam bin Nashid
    • Nashid bin Haza
    • Haza bin Bildas
    • Bildas bin Yadlaf
    • Yadlaf bin Tabikh
    • Tabikh bin Jahim
    • Jahim bin Nahish
    • Nahish bin Makhi
    • Makhi bin Ayd
    • Ayd bin Abqar
    • Abqar bin Ubayd
    • Ubayd bin Ad-Daa
    • Ad-Daa bin Hamdan
    • Hamdan bin Sanbir
    • Sanbir bin YathRabi
    • YathRabi bin Yahzin
    • Yahzin bin Yalhan
    • Yalhan bin Arami
    • Arami bin Ayd
    • Ayd bin Deshan
    • Deshan bin Aisar/Aizar
    • Aisar bin Afnad
    • Afnad bin Aiham
    • Aiham bin Muksar
    • Muksar bin Nahith
    • Nahith bin Zarih
    • Zarih bin Sani
    • Sani bin Wazzi
    • Wazzi bin Adwa’
    • Adwa’ bin Aram
    • Aram bin Haidir
    • Haidir bin Ismail (anak Nabi Allah Ismail) (dipanggil Kedar dalam Injil Kristian)
    • Ismail bin Ibrahim (Ishmael bin Abraham) (Nabi Ismail a.s.)
    • Ibrahim bin Tarikh (Azar) (Nabi Ibrahim a.s.)
    • Azar bin Nahur
    • Nahur bin Saru’ (Asyu’)
    • Asyu’ bin Ar’us (Ra’u)
    • Ar’us bin Faligh
    • Faligh bin ‘Abar (Hud)
    • Hud bin (Syalikh) Saleh
    • Saleh bin Arfakhsyad
    • Arfakhsyad bin Sam
    • Sam bin Nuh
    • Nuh bin Lumka
    • Lumka bin Mutawasysaleh (Matulsaleh)
    • Mutawasysaleh bin Akhnukh (Idris)
    • Idris bin Azda
    • Azda bin Qinan
    • Qinan bin Anwasy
    • Anwasy bin Syayts
    • Syayts bin Adam (as)
    • Adam (as).
Periwayatan tentang salasilah keturunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas adalah mengikut maklumat yang diperolehi dari hadis-hadis, ahli Ilmuan Islam, pakar-pakar Sejarawan. Nama betul mereka berdasarkan ejaan dalam bahasa Arab, Bahasa Aram ataupun Bahasa Ibrani. .
Dalam Kanzul Ummal 6: 300, kitab Fadhail, hadis ke 35512 disebutkan: 
Ibnu Abbas berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  “Aku adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muththalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’da bin ‘Adnan bin Adda bin Udada bin Hamyasa’ bin Yasyhab bin Nabat bin Jamil bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Asyu’ bin Ar’us bin Faligh bin ‘Abar (Hud) bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Lumka bin Mutawasysyalikh bin Akhnukh (Idris) bin Azda bin Qinan bin Anwasy bin Syayts bin Adam (as).” Al-Muttaqi Al-Hindi mengatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Ad-Daylamni.
.

NASAB NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM.

Nasab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terbahagi ke dalam tiga klasifikasi: 

  • Pertama, yang disepakati oleh ahlus Siyar wal Ansaab (Para Sejarawan dan Ahli Nasab), iaitu susunan nasab Baginda hingga kepada Adnan. 
  • Kedua, yang masih diperselisihkan antara yang mengambil sikap diam dan tidak memberi komen dengan yang mengatakan sesuatu tentangnya, iaitu susunan nasab Baginda dari atas Adnan hingga Ibrahim ‘alaihissalam. 
  • Ketiga, yang tidak diragukan lagi bahawa di dalamnya terdapat riwayat yang tidak sahih, iaitu susunan nasab Baginda dari atas Ibrahim hingga Nabi Adam ‘alaihissalam..
Berikut ini penjelasan detail tentang ketiga klasifikasi tersebut :
Klasifikasi Pertama : Muhammad bin ‘Abdullah bin’ Abdul Muththalib (nama asalnya; Syaibah) bin Hasyim (nama asalnya: ‘Amru) bin’ Abdul Manaf (nama asalnya: al-Mughirah) bin Qushai (nama asalnya: Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr (julukannya: Quraisy yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya) bin Malik bin an-Nadhar (nama asalnya: Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama asalnya: ‘Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin Adnan..
Klasifikasi Kedua : (dari urutan nasab di atas hingga ke atas Adnan) iaitu, Adnan bin Adad bin Humaisa ‘bin Salam sejahtera bin’ Iwadh bin Buuz bin Qimwaal bin Abi ‘Awwam bin Naasyid bin Hiza bin Buldaas bin Yadlaaf bin Thaabikh bin Jaahim bin Naahisy bin Maakhi b in ‘Iidh bin’ Abqar bin ‘Ubaid bin ad-Di’aa bin Hamdaan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalhan bin Ar’awi bin’ Iidh bin Diisyaan bin ‘Aishar bin Afnaad bin Ayhaam bin Miqshar bin Naahits bin Zaarih bin Sumay bin Mizzi bin ‘Uudhah bin’ Uraam bin Qaidaar bin Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam..
Klasifikasi Ketiga : (dari urutan nasab kedua-dua klasifikasi di atas hingga ke atas Nabi Ibrahim) iaitu, Ibrahim ‘alaihissalam bin Taarih (namanya: Aazar) bin Naahuur bin Saaruu’ atau Saaruugh bin Raa’uw bin Faalikh bin ‘Aabir bin Syaalikh bin Arfakhsyad bin Saam bin nuh ‘alaihissalam bin Laamik bin Mutwisylakh bin Akhnukh (ada yang mengatakan bahawa dia adalah Nabi Idris’ alaihissalam) bin Yarid bin Mahlaaiil bin Qainaan bin Aanuusyah bin Syits bin Adam ‘alaihissalam. Keluarga besar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
.

NASAB DAN KETURUNAN TERBAIK.

Allamah Sayyid Murtadha, penulis kitab “Fadhail al-Khamsah min As-Shihhah As-Sittah”, mengatakan : Hadis tentang bahawa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan dari perkahwinan bukan dari perzinaan banyak sekali..

  1. Dalam Thabaqat Al-Kubra Ibnu Saad, jilid 1, bahagian 1: 31, dzikr ummahat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wasallam, disebutkan: Imam Ali bin Husein (sa) berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya aku dilahirkan dari perkahwinan, aku tidak pernah dilahirkan dari perzinaan sejak dari Adam. Aku belum pernah sedikit pun tersentuh oleh perzinaan kaum jahiliyah, aku belum pernah dilahirkan kecuali dari kesucian perkahwinan.”
  2. Dalam Shahih At-Tirmidzi 2: 269, kitab manaqib, bab keutamaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, hadis ke 3608 disebutkan : Abu Wida’ah berkata: pada suatu hari Ibnu Abbas datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seakan-akan Baginda mendengar sesuatu, kemudian Baginda naik ke mimbarnya dan bersabda: “Siapakah aku?” Sahabat menjawab: “Engkau Rasul Allah, salam atasmu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdil Mutalib. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, maka menjadikan aku yang terbaik dari mereka dalam golongan, kemudian menjadikan mereka dua golongan, dan menjadikan aku yang terbaik dari mereka dalam golongan. Kemudian menjadikan mereka bersuku-suku, dan menjadikan aku yang terbaik dalam suku. Kemudian menjadikan mereka dalam keluarga-keluarga, dan Allah menjadikan keluargaku yang terbaik di dalam semua keluarga mereka, dan yang terbaik dalam nasab (garis keturunan).”
  3. Dalam Mustadrak Al-Hakim 4: 73, kitab ma’rifah As-shahabah, fadhail Quraisy, disebutkan: Abdullah bin Umar berkata: Pada suatu hari ketika kami duduk di halaman rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ada seseorang perempuan lalu berhampiran kami, kemudian salah seorang lelaki dari suatu kaum berkata: “Ini puteri Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Kemudian Abu Sufian berkata: “Muhammad di Bani Hasyim seperti tanaman di tengah-tengah jerami.” Kemudian perempuan itu pergi dan menceritakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan nampak marah di wajahnya lalu bersabda: “Alangkah menyakitkan kata-kata yang sampai padaku tentang suatu kaum? Sesungguhnya Allah SWT menciptakan tujuh langit dan memilih yang tertinggi, kemudian menempatkan padanya makhluk yang dikehendaki-Nya. Kemudian Dia menciptakan makhluk lalu memilih keturunan Adam dari makhluk-Nya, memilih arab dari keturunan Adam, memilih keturunan Mudhar dari kalangan arab, memilih suku Quraisy dari keturunan Mudhar, memilih Bani Hasyim dari suku quraisy, dan memilih aku daripada Bani Hasyim. Aku adalah dari Bani Hasyim dari orang-orang pilihan. Sesiapa yang mencintai orang arab kerana mencintaiku maka aku mencintai mereka; Sesiapa yang membenci orang arab kerana membenciku maka aku membenci mereka.”
  4. Dalam Dzakhair Al-’Uqba: 10, bab keutamaan quraisy, Muhibuddin At-Thabari menyebut: Watsilah bin Asqa berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya Allah memilih Ibrahim dari keturunan Adam dan menjadikan ia kekasih-Nya. Dia memilih Ismail dari keturunan Nabi Ibrahim, kemudian memilih Nizar dari keturunan Ismail, kemudian memilih Mudhar dari keturunan Nizar, kemudian memilih Kinanah dari Mudhar, kemudian memilih Quraisy dari Kinanah, kemudian memilih Bani Hasyim dari Quraisy, kemudian Bani Abdul Mutalib dari Bani Hasyim, kemudian memilihku dari Bani Abdul Mutalib.” Muhibuddin At-Thabari berkata: Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Qasim bin Yusuf As-Sahmi, diriwayatkan juga secara ringkas oleh Muslim, At-Tirmidzi dan Abu Hatim.
  5. Dalam Kanzul Ummal 6: 108, kitab Fadhail, hadis ke 32044 disebutkan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah manusia yang paling mulia dalam garis keturunan, tapi aku tidak membanggakan. Aku adalah manusia yang paling mulia dalam kadarnya, tapi aku tidak membanggakan. Wahai manusia, sesiapa yang datang kepada kami maka kami akan datang kepadanya. Sesiapa yang memuliakan kami, maka kami akan memuliakannya. Sesiapa yang mencatat kami, maka kami akan mencatatnya. Sesiapa yang membawa mayat kami, maka kami akan membawa mayatnya. Sesiapa yang melaksanakan hak kami, maka kami akan melaksanakan haknya. Wahai manusia, hitunglah manusia sesuai dengan kadar perhitungan mereka, bergaullah dengan manusia sesuai dengan kadar agama mereka, datangilah manusia sesuai dengan kadar pemikiran mereka, dan ajaklah manusia berfikir dengan akal kamu.” Al-Muttaqi Al-Hindi mengatakan: Hadis ini diriwayatkan oleh Ad-Daylami dari Jabir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
  6. Dalam tafsir Ad-Durrul Mantsur, surah Al-Ahzab: 33, Jalaluddin As-Suyuthi menyebutkan: Ibnu Abbas berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah membahagikan makhluk kepada dua golongan, kemudian menjadikan aku yang terbaik dari dua golongan itu. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah: “Golongan kanan .. dan golongan kiri. (Al-Waqi’ah: 27, 41). Aku adalah dari golongan kanan, dan golongan kanan yang terbaik. Kemudian membahagi dua golongan itu menjadi tiga golongan, dan menjadikan aku yang terbaik daripada tiga golongan itu. Inilah yang dimaksudkan oleh firman-Nya: “Iaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk syurga).” Aku adalah dari golongan orang-orang yang dahulu beriman, dan aku yang terbaik dari golongan orang-orang yang paling dahulu beriman. Kemudian Allah menjadikan tiga golongan itu menjadi suku-suku, dan menjadikan aku yang terbaik dari suku-suku itu. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah SWT: “Dan Aku jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia dari kalian adalah kamu yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13). Aku adalah orang yang paling bertakwa dan paling mulia dari keturunan Adam, tetapi aku tidak membanggakannya. Kemudian Allah menjadikan suku-suku itu menjadi keluarga-keluarga, lalu Dia menjadikan aku dan keluargaku yang terbaik dari keluarga-keluaga itu. Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah berkehendak menjaga kamu dari dosa-dosa hai ahlul bait, dan mensucikan kamu dengan sesuci-sucinya.” (Al-Ahzab: 33). Dengan demikian, maka aku dan ahlul baitku adalah orang-orang yang disucikan dari dosa-dosa.” Jalaluddin As-Suyuthi berkata: Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, At-Tirmidzi, At-Thabrani, Ibnu Mardawaih, Abu Na’im dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas.
................................................................................................................


Dalam berbagai kitab umat Islam yang berkaitan dengan ilmu fiqih dan ilmu hadits, diantaranya ditulis hukum-hukum yang berkenaan dengan ahlu bait atau keluarga nabi saw, baik yang berkaitan dengan masalah zakat, pernikahan, wasiat dan lain sebagainya. Begitu pula dalam buku sejarah Islam, banyak ditulis mengenai prikehidupan ahlu bait, bahkan ulama-ulama yang menulis buku tersebut berpesan dan memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menjaga kehormatan keluarga Nabi saw dengan mencatat keturunan ahlu bait, sebagaimana hal itu telah terjadi di zaman Rasulullah saw dan para sahabatnya dengan menerima keterangan-keterangan tentang keturunan bangsa Arab dari para ahli nasab saat itu. Dalam kitab Irtiqau al-Ghuruf Fi Mahabbah al-Qurba Dzawi al-Syaraf, Imam Hafidz Syamsuddin al-Sakhawi berkata :

Bahwa ilmu nasab adalah suatu pengetahuan khusus dalam ilmu-ilmu atsar (hadits-hadits dan lainnya). 
Kemudian ia berkata : Dan yang lebih khusus lagi, ilmu itu mengandung pengetahuan tentang keturunan nabi Muhammad saw dan siapa saja yang tersangkut atau terikat nasabnya kepada beliau saw. Dengan pengetahuan itu dapatlah dibedakan antara keturunan Abdi Manaf dan keturunan Hasyim, keturunan Abdi Syam dan keturunan Naufal, Quraisy dan Kinanah, Aus dan Kharzraj, antara Arab dan yang bukan Arab (Ajam), antara yang berasal dari budak dan yang bukan budak‘. 

Selanjutnya Imam Hafidz Syamsuddin al-Sakhawi berkata : Dan daripada manfaatnya dalam urusan agama (syara’) ialah untuk mengetahui para khalifah dan urusan kafa’ah, jangan sampai kejadian perkawinan antara siapa-siapa yang diharamkan kawin yang satu dengan yang lainnya disebabkan adanya hubungan keturunan dan keluarga yang dekat, dan lebih jauh untuk mengurus siapa saja yang wajib diberi nafqah, dan berhak menerima warisan, …‘

Imam al-Mawardi al-Syafii dalam kitabnya al-Ahkam al-Sulthoniyahberkata : ‘Bahwa wajib atas seorang yang dipilih dan diangkat untuk mengurus keturunan dari golongan-golongan yang mempunyai turunan, yaitu menjaga keturunan mereka jangan sampai orang lain masuk di dalamnya, atau ada yang keluar dari keturunan itu, serta membedakan famili-famili dan keturunannya supaya jangan sampai timbul kekeliruan antara anak-anak dari satu bapak dan satu ibu‘.

Jamaluddin Muhammad bin Abubakar al-Asykhor dalam kitabnya yang berisi fatwa-fatwa pada fasal pembagian harta pusaka (faraidh), mengatakan : ‘Dan manakala diterangkan tentang nasab seseorang oleh seorang imam yang terpandang dan seorang alim yang tinggi pengetahuannya dalam ilmu nasab atau terdapat dalam karangan yang pengarangnya sangat perhatian terhadap karangan tersebut, untuk menjaga keturunannya, serta terkenal ia mempunyai pengetahuan yang cukup dalam ilmu nasab, berpegang kuat kepada agamanya dan selalu menjauhkan dirinya dari dari perbuatan yang melanggar agama dan menjaga dirinya dari bicara yang sia-sia, tidak ada satupun masyarakat yang ragu kepada dia, maka keterangannya itu dapat dijadikan alasan bagi hakim untuk hal itu’.

Syekh al-Qassar berkata : ‘Patutlah bagi setiap keluarga Nabi Muhammad saw, bahkan bagi sekalian kaum muslimin agar berkasih sayang dan menjaga keturunan yang mulia itu dengan mencatat keluarga dan keturunannya dengan teliti, agar tidak seorangpun bisa mengaku dirinya termasuk keturunan Rasulullah saw melainkan dengan alasan yang kuat, yaitu menurut apa–apa yang telah dilakukan oleh umat Islam yang lebih dulu, karena hal itu merupakan kehormatan dan kebesaran baginya’.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitsami berkata, ‘Dan wajib bagi setiap orang bersikap kasih sayang kepada keturunan Nabi saw yang mulia ini dengan mencatatnya secara benar, agar tidak ada seorangpun yang mengaku bahwa dirinya termasuk keturunan nabi Muhammad saw dengan tanpa alasan’.

Berkata syekh Muhammad bin Ahmad Nabis dalam kitab salinan (syarah)Hamaziyah, yang dikutip dari Qadhi al-Asjhar Bardalah, sebagai berikut : ‘Bahwa sebenarnya tatkala umat Islam diperintah dengan hukum-hukum yang berkenaan dengan keluarga nabi Muhammad saw tentang urusan zakat dan sholawat kepadanya, dan haknya seperlima dari satu perlima (khumus) dan lain sebagainya, maka ditentukanlah untuk membedakan pelaksanaan hukum-hukum ini untuk keluarga nabi Muhammad saw dari yang lainnya. Untuk membedakannya agar dilakukan pemeriksaan yang luas dan penyelidikan yang mendalam, maka untuk keperluan itu diadakanlah Naqib (kepala dari bangsa sayid untuk melakukan urusan yang berkenaan dengan keluarga nabi Muhammad saw) baik di waktu dulu maupun diwaktu sekarang di semua kerajaan Islam. 

Kitab silsilah mengenai keturunan Rasulullah saw
Ahli sejarah terdahulu seperti : 

  • al-Kalabi dan yang datang kemudian banyak menulis karangan-karangan yang terkenal mengenai keturunan Rasulullah saw. 
  • Kemudian yang datang belakangan memperbaiki dan menyempurnakan kembali seperti syarif Abinizam Muayiddin Ubaidillah al-Asytari al-Huseini yang menduduki jabatan Naqib di negeri Wasit, di dalam kitabnya yang berjudul al-Thobat al-Musan, 
  • Syarif Muhammad bin Ahmad al-Amidi di dalam kitabnya al-Musajjar al-Kasyaf Li Ushul 
  • al-Saadah al-Asyraf, sayid Amiduddin bin Ali al-Huseini, syarif Abu al-Harits Muhammad bin Muhammad al-Wasiti al-Huseini, sayid Ja’far bin Muhammad dengan kitabnya al-Sirath al-Ablaj, 
  • begitu pula dengan kitab al-Anwar al-Mudhi’ah Wa Nafhah al-Anbariah Fi Ansab Khair al-Barriyah dan Bahr al-Ansab karangan sayid Hasun al-Buraqi al-Najafi
  • kitab Durar al-Ma’ali Fi Dzurriyah Abi al-Ma’ali dan kitab al-Gusun Fi Musajjarah al-Yasin karangan Husein bin Ahmad
  • kitab Sabaik al-Zhahab Fi Syabki al-Nasab karangan Tajuddin Ibnu Majjah, dan 
  • kitab Umdah al-Thalib al-Sughra karangan sayid Ahmad bin Anbah al-Huseini
  • kitab Tuhfah al-Tholib, al-Mujdi, dan Tuhfah al-Azhar Fi Ansab Aali Nabiy al-Mukhtar karangan sayid Dhamin bin Sadqam
  • Begitu juga dengan kitab Umdah al-Thalib al-Kubra karangan sayid Ahmad bin Anbah al-Huseini telah dicetak. 
  • Kitab Raudah al-Albab Fi Ma’rifah al-Ansab karangan syarif Abi Alamah al-Muayyad al-Yamani merupakan kitab yang sangat penting berisi uraian tentang asal usul keturunan sayid dan bangsa Arab di Yaman dan Hadramaut. 
Lebih dari seratus ahli sejarah, ahli fiqih dan ulama di Yaman Hadramaut yang telah menulis keturunan ahli bait, khususnya keturunan Ahmad bin Isa al-Muhajir. 
Diantaranya adalah : 

  • Imam Abu Hafs bin Sumrah al-Yamani dengan kitanya yang berjudul Tabaqat Fuqaha al-Yaman, 
  • Imam Husein bin Abdurrahman al-Ahdal dengan kitabnya Tuhfah al-Zaman Fi Tarikh al-Yaman, Abbas bin Ali al-Rasuli dengan kitabnya al-Athaya al-Saniyah, 
  • syekh Abdurrahman bin Muhammad al-Chatib al-Anshari dengan kitabnya al-Jauhar al-Syaffaf. 
  • Di kalangan Alawiyin terdapat kitab al-Jawahir al-Saniyyah Fi Nasab al-Ithrah al-Huseiniyyah karangan sayid Ali bin Abubakar al-Seqqaf
  • sayid Ahmad bin Husein bin Abdurrahman al-Alawi, sayid Abdullah bin Syech bin Abdullah Alaydrus, kitab-kitab karangan mereka disempurnakan lagi melalui kitab yang dikarang oleh sayid Abdullah bin Ahmad bin Husein Alaydrus, sayid Abdurrahman bin Muhammad Alaydrus, sayid Abdullah bin al-Faqih Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi, sayid Abdullah bin Ahmad al-Faqih, sayid Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih dalam kitabnya al-Ithaf Bi Nasab al-Sadah al-Asyraf, sayid Ali bin Syech bin Syahabuddin, sayid Abdullah bin Husein Bin Thahir, sayid Ali bin Abdullah bin Husein Bin Syahab, sayid Umar bin Abdurrahman bin Syahab 
  • dan yang paling akhir adalah kitab Syamsu al-Zhahirah karangan sayid Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur yang terdiri dari tujuh jilid. Kebanyakan dari kitab tersebut masih dalam bentuk tulisan tangan dan hanya beberapa saja yang sudah dicetak seperti kitab Syamsu al-Zhahirah. 
Pesan Keluarga Rasul saw tentang nasab
Rasulullah saw bersabda : “Wahai Bani Hasyim ! Janganlah sampai orang-orang lain menghadap padaku pada hari kiamat nanti dengan berbagai amal shaleh (baik), sedangkan kalian menghadapku hanya dengan membanggakan nasab (keturunan).” 

Ali Bin Abi Thalib berkata : “Barangsiapa yang bermalas-malasan (menangguhkan) amalnya, tidaklah tertolong atau dipercepat naik derajat karena mengandalkan nasab (keturunan).” Diriwayatkan oleh Sufyan al-Tsauri, 
dan Sufyan al-Tsauri berkata bahwa Daud al-Thoi pernah mendatangi Ja’far al-Shaddiq untuk minta pendapat dan nasehat, padahal beliau adalah seorang imam sufi ahli zuhud pada masanya. 

Daud al-Thoi : Wahai anak Rasulullah saw, wahai cucu nabi saw, Engkau adalah orang termulia, nasehatmu wajib menjadi pegangan kami, sampaikanlah/ berikanlah nasehatmu kepada kami.

Ja’far al-Shaddiq : Sungguh aku takut, datukku akan memegang tanganku di hari kiamat nanti, dan berkata : mengapa engkau tidak mengikuti jejakku dengan sebaik-baiknya. 

Demikian jawaban al-Shaddiq kepada Daud al-Thoi, padahal beliau tidak pernah meninggalkan jejak datuknya, Rasulullah saw. 

Maka menangislah Daud al-Thoi dan berkata : “Ya Allah, Ya Tuhanku, jika demikian sifat orang dari keturunan Nabi saw, berakhlaq dan berbudi seperti datuknya dan Fathimah al-zahra, dalam kebingungan, khawatir belum sempurna dalam mengikuti jejak Nabi saw, bagaimana halnya dengan aku, Daud ini, yang bukan dari keturunan Nabi saw.


والله أعلم بالصواب
Wallahu A’lam bishowab
(Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...