primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Senin, 03 Februari 2014

Sistem nilai budaya dan ajaran seks dalam Serat Nitimani (Syech SITI JENAR) (P#1 Pupuh I-VI)

Sera Nitimani

Sistem nilai budaya dan ajaran seks dalam Serat Nitimani

Sistem nilai budaya dan ajaran seks dalam Serat Nitimani (Syech SITI JENAR)
Ajaran seks dalam Serat Nitimani terbukti mengandung sistem nilai budaya Jawa yang berlandaskan pada nilai religiusitas. Pada akhirnya dapat dilihat bahwa Serat Nitimani mengandung ajaran atau pedoman moral, nilai, dan kaidah bagi orang Jawa mengenai bagaimana cara melakukan hubungan seks yang benar dan tepat, karena hal tersebut berhubungan dengan inti ajaran kebatinan Jawa yaitu sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula Gusti.


SERAT NITI MANI

Dalam budaya Jawa norma serta aturan dalam melakukan hubungan seksual diturunkan oleh orang Jawa melalui ajaran kepada keturunannya baik dalam betuk lisan atau tertulis. Dalam bentuk tertulis ajaran tersebut tertuang dalam karya sastra yang telah ada sejak zaman dulu. Karya-karya sastra yang mengangkat tema asmaragama antara lain : 

  1. Serat Gatholoco. 
  2. Serat Damogandhul. 
  3. Suluk Tambangraras (Serat Centhini). 
  4. Serat Nitimani. 
Dalam budaya Jawa diajarkan bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang baik maka proses awal penciptaan juga harus baik dan dengan restu Tuhan sebagai Sang Maha pencipta. Demikian pula dengan proses hubungan seksual yang tujuan utamanya adalah menghasilkan keturunan. 

Untuk mendapatkan keturunan yang baik dalam segala hal, kehadirannya di sunia ini haruslah melalui niat awal yang baik serta proses hubungan seksual yang benar dan tepat. Untuk dapat berhubungan seksual dengan baik maka dibutuhkan pengetahuan mengenai segala hal tentang seks. Pengetahuan mengenai hubungan seksual sangat dibutuhkan karena akan berhubungan dengan kehidupan selanjutnya. Jika prosesnya sudah salah, maka akibat yang ditimbulkan akan buruk, bukan hanya bagi anak yang dihasilkan tetapi bagi keseimbangan serta keselarasan kehidupan ini. 

Kesalahan dalam proses berhubungan seksual dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah kama salah. Maka untuk mencegah terjadinya kama salah manusia harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai tata cara hubungan seksual. Dengan pengetahuan yang memadai maka diharapkan orang dapat berpikir lebih jauh mengenai hubungan seksual sehingga tidak melakukannya dengan sembarangan karena akibatnya sangat fatal bagi keberlangsungan hidup umat manusia dan keselarahan hubungannya dengan alam sekitar tempat manusia hidup. 

Akibat yang fatal tersebut muncul pada keadaan masyarakat sekarang dimana banyak orang mulai melakukan hubungan seks tanpa mengindahkan norma serta etika yang berakibat pada munculya masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat sepeti pemerkosaan, semakin banyak anak-anak terlantar hingga terjadinya peningkatan kriminalitas. 

Dalam kasanah budaya Jawa terdapat ajaran atau pedoman moral, nilai dan kaidah bagaimana cara melakukan hubungan seks yang benar dan tepat, sebagaimana dalam Serat Nitimani berikut cuplikan-cuplikan yang berkaitan dengan Ajaran dimaksud :
dan untuk menekankan kami garis bawahi dengan warna hijau untuk pembelajaran sek dalam serat nitimani

Serat Nitimani (Syech SITI JENAR) (P#1 Pupuh I-VI)
PUPUH I

(1) Serat Nitimani punika, duk nalika murwenggita, jroning warsa lumaksana, tinengeran candra sangkala, rasaning janma kaesthi juga, *** (taun Jawi 1816).


Mangkya wau kang pustaka, ing karsa arsa tinata, kaewah ukaranira, kawewahan lan rinengga, duk kala mangriptanira, aniti pranata mangsa, almenak ing taun Jawa, purnama ing wulan sela, kuranthil ing wukunira, panuju ing mangsa sadha, tinengran candra sangkala, Raden Mas Aryasuganda, amandeng ngesti bathara, @@@ (taun Jawi 18210.

PUPUH II

Ingkang kinarya bebuka, kinantha petha saloka wangsalan tembung surasa, mung kinarya langgen driya, pralambang tumraping putra, kang supaya cinangua, mring weka kang maksih dama, ngularana kasebut ngandhap punika :

Witing luput : amarga saking kalimput, yen kadaut : sayekti amanggih puput, ywa katracut, dipunemut miwah nebut, mrih tan kerut, pa(2)karyanira kang patut.

Witing lepat : amargi saking kirang limpat, dadya mlarat, yekti datan manggih hurmat, yen kesrakat, yen kebat gonira tobat, mrih binirat, ngegungna manising ulat.

Witing siku, ya saking pugaling laku, yen katleku, tan dangu amanggih bendu, reh rinengu, ruwaten budi rahayu, akaton sumeh ing semu.

(1) Lamun tandhing, marsudiya ing tyas ening, mamrih ering, kang supadi tan kajungking, den dumeling, gone ngliling dimen eling, yen wus takluk, ywa kongsi diengkuk-engkuk.
dalam bahasa indonesia :
Apabila sedang bertanding, usahakanlah hati tetap hening, agar konsentrasi tetap terjaga, supaya tidak terkalahkan. Yang dimaksud dengan “bertanding” dalam hal ini adalah analogi dari persetubuhan

(2) Yen wus menang, manggalih aja gumampang, kudu nimbang, mrih langgenge denya numpang.
Manungseku, kudu buru winahyu, kanthi laku, lan patitising.

De manungsa, kudu ngupaya nugraha, pametira, wit saking brata laksana.

(3) Empan mapanipun makaten : yen lelewa, den bisa anuju prana, mamrih rena, lan sukaning kang miharsa.

Yen sembrana, den prayitna sampun lena, lamun ina, sayekti amanggih weda.
Apabila ceroboh, waspadalah jangan sampai lengah, sungguh sangat menyakitkan. Kata ceroboh maksudnya adalah dalam konteks persetubuhan agar tetap waspada di dalam melakukan hubungan seksual sehingga tidak mengalami hal-hal yang tidak diharapkan.

Lamun cuwa, sampun kawustareng netya, wrananana, ing suka dhanganing karsa, kang supadya, datan amanggih dirgama.
Apabila tidak puas, janganlah terlihat di wajah, tutupilah, dengan wajah yang ceria, agar supaya, tidak mendapat kesulitan. Tidak puas yang dimaksud disini, masih dalam konteks hubungan seksual yaitu keadaan dimana salah satu pihak belum mencapai titik kepuasan atau orgasme.

Lamun gela, jroning nala sampun daga, sengadiya, langkung condong ing wardaya, pamrihira, kang pinanduk tan legewa.
Apabila kecewa, janganlah membrontak dalam hati, niatilah, untuk lebih berlapang dada, dengan harapan, agar ketidakpuasan tidak berlarut-larut. Kecewa dalam ungkapan ini masih dalam konteks hubungan seksual dan tidak mencapai kepuasan.

Lamun rengu, aja kadulu ing semu, yen kaliru, graitane kang tinuju, kang saestu, anampi pamanggih dudu.
Lamun lingsem, ing gunem aja katingkem, lamun amem, yekti katara ing klecem.
Apabila terjerat rasa malu, janganlah membisu, karena bila berdiam diri, niscaya akan terlihat di wajah. Ketika seorang laki-laki mengalami kegagalan di dalam berhubungan seksual karena hal-hal tertentu, maka disitulah dia akan merasa sangat malu.

Lamun supe, panggalih sampun kalimpe, amrih sae, supadi tan manggih dede.

(4) Lamun harda, sampun dadra murang krama, mrih widada, pakartine kang utama.
Apa bila punya keinginan, janganlah lepas kendali menerjang etika, agar selamat, utamakanlah sikap luhur. Keinginan maksudnya adalah dalam hal ingin melakukan hubungan seksual maka jangan sampai lepas kendali, harus tetap memperhatikan etika.

Yen murina, angakaha ucal cihna, karya tandha, dimen antuk manuhara.
Yen sumungku, jro kalbu den ambeg sadu, kang saestu, antuk saening panemu.
Lamun bekti, jro ati den ambeg suci, kang supadi, antuka panganggep yekti.
Yen sumembah, den genah tancebing manah, dipunkekah, supada angsal berekah.
Lamun sujud, aja kalimput ing limut, pamrih turut, saening lampah tan kerut.
Yen alabuh, ywa tambuh manggih pakewuh, mamrih bakuh, yen tinempuh datan keguh.
Lamun labet, den memet uninga ubet, mrih tan ribet, yen kasrimpet ing rwruwet.

Yenn Anglaras, Panggagas aja sampun kabrangas, dimen awas, ing pamawas datan tiwas.
Jika sedang menikmati sesuatu, janganlah kesadaran terlena, agar tetap siaga, kewaspadaan tak akan tiwas. Maksudnya adalah jika sedang berada dalam kenikmatan berhubungan seksual, kewaspadaan dan kesadaran diri haruslah tetap dijaga, supaya tidak menemui tiwas atau maut.


(5) Lamun purik, ywa elik weruha sarik, mamrih apik, ywa kongsi amanggih serik.
Lamun mutung, ywa liwung kongsi kadarung, yen jinurung, yekti suwung dadya bingung.
Yen kaduwung, ywa jetung panggalih kadung, yen delarung, ing wekasan dadya kumprung.
Lamun mupus, ing pamawas dipunalus, dimen tumus, kulina panggawe bagus.
Lamun lara, den pasrah marang Hyang Suksma, yen katrima, tantara yekti nirmala.
Lamun sedih, den bisa memisah amrih, nanging rasa, malayu duhkitanira.
Lamun susah, den betah ambeg tuminah, mbok kaprenah, nugrahen Hyang saben murah.
Lamun getun, ywa bebangun ati gumun, mbok wulangun, kanduk ing ati ngungun.
Budi eram, karya limput temah kewran, ywa kataman, wimbuh kadeng kang budiman.

(6) Ywa sumengguh, mundak kataman kang tambuh, dadya wimbuh, wimbaning budi pangrengkuh.
Ywa mamengku, lamun tan pranaweng kalbu, yen kasluru, rinetu panampa eru.
Aja wangkot, yen pedhot pandadi abot, bedhat momot, wekasan tan bisa kamot.
Ajwa lumuh, yen binobot ing pakewuh, dadya wimbuh, abiprajaning tumuwuh.
Aja rikuh, yen rinaket rapu kang suh, mundak kisruh, gawe lingsem kang pada wruh.
Ywa piangkuh, yen tan wruh benering kewuh, temah tinutuh, tetuladan bangsa pajuh.
Ajwa dangkal, yen tan wruh kleru ing akal, yen katragal, dadine kaacan nakal.
Aywa doso, yen tan wruh benering bodho, temah loso, ingaranan bangsa sato.
Yen dedasih, ywa wigih panggawe luwih, ingkang pinrih, mamrih winalesa ing sih.

(7) Lamun tresna, den murina labetira, mrih santosa, widadaning abipraja.
Yen suwita, den sedya apuruhita, mrih binuka, uninga tata silaraja.
Lamun abdi, kudu bisa nyimpen wadi, dadya sidi, bakal eruh rungsiding Widdhi.
Yen santana, den rila ing labet tama, mrih tan kemba, ing lyan anggone mandarsana.
Lamun batur, kedah anut lan tumutur, amrih jujur, tan siningkur para luhur, yen tan mulur, kabanjur tan wruh ing edur.
Lamun ngenger, den ater ambeg blater, wruha teter, pakarywan ywa kongsi ngether.
Yen angunjung, neng ngarsaning pra linuhung, srana irung, mrih nganaken tandha dekung.
Yen sejarah, mrih astana janma pejah,  den cecegah, karenanira bangsa dyah, yen sinarah, temah siku manggih tulah.

Yen cecegah, den betah gonira ngampah, nganggah-anggah, yeku pakarti luamah.
Selama mengendalikan diri, bersabarlah menahan hawa nafsu, lepas diri tanpa kendali, merupakan prilaku serakah. Orang harus belajar mengendalikan nafsunya (nafsu dalam konteks ini adalah nafsu birahi) agar tidak kelepasan sehingga menyebabkan sesuatu yang tidak baik.

Yen sumungkem, den kojem nganti tumanem, dadya tegen, amrih antuk kang pangalem.
Yen sembahyang, ywa ginggang neng tepeting Hyang, mrih sumimpang, panggodhaning para dhayang.
Lamun salat, ulat madhepa ing keblat, jroning niyat, nut srengat Nabu Mukhamad.
Aja cihak, ngaku anake si bapak, mbok kacentak, yen pangawruh durung pepak.
Lamun mamak, panganggone cihak-cihak, yeka nracak, weh cingak kang pada cedhak.
Aja ciya, ngaku putrane si rama. Yen sanyata, durung wruh ing tata krama, yen sulaya panganggepe siya-siya, mundhak ewa, atine kang pada miyarsa.
Ywa kesusu, ngaku putrane si ibu, jroning kalbu, lamun durung ambeg merdu, yen ginuyu, marang wong kang pada ngrungu.
Ywa sumuci, ngaku wayahe si kaki, yen sajati, durung weruh ing leluri, yen tan yekti, karya ewa kang miyarsi.


(9) Ywa gumampang, ngaku wayahe si eyang, yen tan damang, alurane klayan terang, yen kasimpang, yekti bakal newu wirang.

PUPUH III

Ing sasampunipun amratelakaken pasemon tembung paribasan kasebut ing ngajeng wau, sedya andumugekaken panganggitipun kadapur cariyos, pinindha kadi sujanma sami gegineman satunggal, asesilih nama Sang Murwenggita, ingkang satunggal asilih nama Juru patanya. Anggenipun sami rermbagan kados ing ngandhap punika :

Juru Patanya :
“Sarehning kula sawetawis lami, anggen kula mboten pepanggihan kaliyan sampeyan supami lajeng kersa jenak lelenggahan saiba kados menapa badhe bingahing manah kula.”

Sang Murwenggita :
“Kisanak mbok inggih prayogi.”

Juru Patanya :
“Ing sayektosipun kula badhe nyuwun 

(10) pitulung ing sampeyan, mugi-mugi karsa andhanganaken lajeng amudari dhateng reruweding gagasing manah kula. Prasajanipun ing wektu samenika, mbok menawi ingkang binasakaken saweg nedheng birai, dene thethukulaning manah kula, teka kadereng kumedah-kedah kepengin pala krami amomong pawestri, nanging tansah mangu-mangu. Dereng saged angleksanani, karana dunungipun wanita punika, upami papan badhe pandhedhering wiji, saestunipun kedah milih ingkang prayogi. Wangsul titikan pamilihipun candraning wanita ingkang awon utawi ingkang sae ing warni, solah tenaga, tuwin pasemon ingkang kados punapa ?”.
Peranan wanita itu ibarat lahan untuk menabur benih, sehingga haruslah memilih lahan yang bagus. Dalam melakukan hubungan seksual, maka haruslah dicamkam bahwa hasil dari perbuatan itu adalah adanya seuatu mahkluk baru sehingga tidak boleh dilakukan sembarangan dan pasanganyapun harus dipilih baik-baik. 

Sang Murwenggita :
“Mugi-mugi sampun andadosaken cuwaning panggalih, kula boten saged anglegani ing karsa sampeyan, karane dereng nate sarawungan dhateng pangawruh ingkang makaten wau. Candraning wanita ingkang pantes kaagem garwa padmi (bojo), utawi pantes kaagem garwa paminggir, kalanggenan (selir), punika kacariyos kasebut wonten salebeting Serat Iman Supingi, ingkang awon utawi ingkang sae kados punapa, punika boten terang, margi kula dereng nate maos Serat Iman Supingi wau. Dene bilih kersa amirengaken kula acariyos, wonten piwulang medal saking para sepuh, tiyang dusun tanah pareden kaanggep utawi boten, gumantung wonten ing karsa sampeyan, pratelaning piwulang kados ing ngandhap punika :

Para sujanma priya yen badhe amilih dhateng wanodya, kaagem pantesing pala krami, anyeplesana dhateng suraosing tetembungan tiga : bobot, bebet, bibit. 
Kaum Pria yang bermaksud memilih sorang wanita untuk dinikahi, hendaknya memperhatikan tiga hal : bobot, bebet, bibit. Untuk mempersiapkan keturunan yang baik, maka harus juga dicari pasangan (wanita) yang baik dan memenuhi criteria-kriteria tertentu. Dalam budaya Jawa, ada tiga hal paling penting yang harus diperhatikan yaitu ; bibit, bebet, dan bobot.
Dununging tembung tiga wau makaten : ingkang rumiyin tembung bobot, pikajengipun amiliha wanita ingkang asli, dene titikanipun saking turun sarasilah bapakning pawestri ingkang 
Pertama kata bobot, maksudnya pilihlah wanita sejati. Wanita yang kita pilih hendaklah seorang wanita yang memiliki garis keturunan orang-orang terpilih...


(12) badhe kapendet wau.
Ing sapanginggil kadosta :

Darah bangsaning ngawirya, tegesipun trahing para luhur, ingkang taksih kadrajatan.
Darahing agama, tegesipun trahing para ngulama, ingkang alim ahli kitab-kitab.
Darahing ngatapa, tegesipun trahing para pandhita, ingkang alal brata leksana.
Drahing sujana, tegesipun trahing para linangkung, ing olah pangawikaning budi dhateng kalimpatan utawi kawicaksanan.
Darahing ngagune, tegesipun trahing para pinter, ingkang olah dhateng kabangkitan.
Darahing prawira, tegesipun trahing para prajuritr, ingkang olah dhateng kawanteran, sarta ingkang asub ing kasudiranipun.
Darah supatya, tegesipun trahing para tani ingkang wekel sarta temening manah.
Ingkang kaping kalih tembung bebet, inggih punika 

(13) tumrap dhateng bapakning wanita, ingkang badhe kapendet wau amiliha darah ing supudya, tegesipun : bangsa sugih arta utawi raja brana sarta ingkang taksih kathah kabegyanipun.

Juru Patanya :
“Kisanak, nyuwun pangapunten, kula anyelani cariyos sakedhap, bapakning pawestri dumugi kaki buyut, canggah, wareng, teka mawi katitik ing atasipun tumraping jejodhowan punika badhe perlu kangge punana?.”

Sang Murwenggita :
“Karsanipun para sepun tanah pareden ingkang makaten wau menggah patitisipun kula dereng terang, amung kinten-kinten mbok manawi inggih titikan lare pawestri, badhe kapendet wau, pikajengipun amiliha darahing winahyu”.

Juru Patanya :
“Inggih leres, yen ingkang badhe karabi : bapa, kaki, buyut, canggah, warengipun. Wangsul ingkang badhe kapendet bojo wau anakipun, 

(14) prabeda punapaa kaliyan anaking para bodho, sudra lan apes, angger sae ing warni, utawi seneng ing pamilihanipun.”
Sang Murwenggita :
“Punika kekilapan, kula boten terang ingkangdados karsanipun, menggah nalar ingkang makaten wau, sarehning boten kenging tiningalan kaliyan netra, pramila anitik sarasilah darajatin bapa, ing sapangingil, gerbanipun, sinten manungsa ingkang winahyu, sayekti awit saking rahayuning batos, dene rahayuning batos punika terkadang kapinujon, asring pinareng tumus mahanani dhateng wewatekaning atmajanipun.”
sehingga cara paling mudah ditempuh adalah dengan melihat garis silsilah leluhur sang ayah, karena wahyu cenderung jatuh pada orang-orang yang memiliki keseimbangan batin, dan keseimbangan olah batin tersebut biasanya mampu menurun pada sang anak.

Juru Patanya :
“Yen makaten inggih leres, pancen prelu anitik dhateng sarasilah ing bapa wau. Ingkang kasebut ing nginggil saweg kalih tembung, bobot kaliyan bebet, jangkepipun tigang tembung bibit, punika pikajengipun kados pundi?.”

(15) Sang Murwenggita :
“Ing sapunika kula dumugekaken tembung bibit, pikajengipun, tumrap dhateng wanita ingkang badhe kapendet wau, amiliha ingkang sae warninipun saha ingkang kathah kasagedanipun. 
Sekarang sampai pada istilah bibit, maksudnya, wanita yang akan dipilih, hendaklah yang rupawan sekaligus memiliki banyak ketrampilan.

Dene candra wewijanganing warni ingkang sae, saestunipun ing Serat Iman Supingi inggih sampun boten kekirangan, ananging sarehning para sepuh padusunan tur pareden,teka mdamel candra warni tuwin pasemoning wanita tanpa wewaton, bok manawi medal saking gagasaning piyambak kados ing ngandhap punika :

Warni bongoh, punika prabaning angga ingkang pupuk, ingkang mengku pangraos lega, pawestri ingkang makaten wau, mbok menawi saged ambuka don tuju langgening asmaragama.
Sengah, punika prabaning wadana ingkang pupuk, ingkang mengku pangraos sedhep, estri ingkang makaten wao bok manawi saged ambuka panggendaming 

(16) asmara tantra.
Dlongeh, (semu anggendonaken gujeng) punika sesemuning wadana tuwin liringing netra : ingkang amengkoni prabaning ambeg temen, tuwin legawa, ambuka tanduk angresepaken tuwin prasaja, inggih punika bok manawi kawontenan ingkang kasebut saged anggendam panduk senenging pramana.
Ndenakaken (edemipun angecakaken), punika pasemoning wadana liringing netya tuwin kedaling wicara, ingkang amengkoni prabawaning panggalih seneng tuwin kepareng, ingkang ambuka tanduk angkuning rumaketipun, mbok manawi punika kawontenan ingkang kasebut saged ambuka panggendaming, asmara nala.
Sumeh, punika pasemoning wadana ingkang kapraban ambeg sareh, mbok menawi punika kawontenan ingkang kasebut saged ambuka panggendaming asmara nada (dana).

(17) Manis, punika seneng ing guwaya utawi kocak ing paningal ingkang amengkoni prabawaning pramana wingit, inggih punika mbok manawi kawontenan ingkang kasebut saged ambuka panggendaming asamara tura.
Mrak ati, punika panduk ing tingal, tuwin wicara ingkang amengkoni prabaning pramana wingit, inggioh punika mbok manwi kawontenan ingkang kawastanan saged ambuka panggendaming asmara turida.
Jatmika, punika ingkang amengkoni heneng heninging cipta ingkang ambuka sorot serating pramana, inggih punika mbok menawi kawontenan ingkang kasebut saged ambabaraken prabaning prabawa.
Susila, punika ingkang kedaling ilat panduk ing mripat, polah ing solah bawa, amengkoni budi temen trima legawa, ingkang nukulaken panduk empaning pangira, benering panuju, tepaning sujana, 

(18) anggendam graita ing nugraha, ambuka wenganing mangsa kala, tinamu-tamu atining tata krama, inggih punika mbok manawi kawontenen ingkang kasebut sampun ginenglanggening pramana.
Kewes, punika pratitis, panduking wicara. Mbok manawi punika kawontenan ingkang kasebut saged amengkoni prabaning praman.
Luwes, punika cucut lemesing wicara tuwin solahing hangga, ingkang amengkoni prabaning pramana.
Gandes, punika wedaling wicara tuwin solahing raga, ingkangamemalatsih, mbok manawi punika kawontenan ingkang kasebut amengkoni prabaning pramana.
Demes, punika ayem panduk wedaling wicara tuwin lenggahing trapsila, 

(19) mbok manawi punika ingkang kasebut amengkoni prabaning pramana.
Seded, punika dedegan ingkang inggil ingkang isi, tegesipun ingkang sambada.
Lecir, punika dedegan inggil ingkang isi.
Wire, punika sarira alit ingkang singset.
Gendruk, punika badan ageng ingkang kendo nanging isi.
Srenteg, punika dedegan ageng ingkang kirang inggil kaliyan agengipun, ananging isi tuwin kenceng.
Lenjang, punika badan ingkang alit nanging panjang.
Rangkung, punika dedegan ingkang inggil kiriang isi semu ngrupak.

Juru Patanya :
“Menggah plompanging polatan kula tuwin anjenger deleg-deleging patrap kula ing 

(20) sadangu-dangunipun, sampeyan nyariyosaken bab candraning wanita, anggitanipun para pinisepuh ing dusun tanah pareden, punika sakalangkung andadosaken gumuning manah kula. Bab tembungan utawi suraos sampun pinten-pinten yasanipun para sujana, ing jaman kina-kina ingkang kula sumerepi, dereng wonten pisan-pisan ingkang ngemperi, kados anggitan ingkang sampeyan cariyosaken punika, kenging binasakaken elok utawi langka, dene wonten anggitan ingkan makaten, kadosta :
Anyebutaken warni bongoh, punika prabaning angga ingkang pupuh, serta saged ambuka don tuju langgening asmaragama.
Warni sengoh, punika prabaning wadana ingkang pupuk sarta saged ambuka panggendaming asmara tantra.
Manis, punika ingkang amengkoni 

(21) pramana wingit.
Mrak ati, punika ingkang mengkoni prabaning pramana wingit.
Woten malih ingkang angka 8 anyebutaken jatmika, punika ingkang amengkoni heneng-heninging cipta, sadaya wau wawatonipun mendet saking punapa?, dene teka saged amestani, ingkang mengkoni warni pasemon, sarta ingkang dados gumuning manah kula dene wonten sesebutan heneng-heninging cipta. Kaliyan malih ingkang angka 9, anyebutaken susila punika ingkang kedaling ilat, panduking mripat, polahing solah bawa amengkoni budi, temen, trima, legawa, ingkang nukulaken panduk empan ing pangira, bener ing panuju, tepaning sujana, anggendam grahitaning nugraha, ambuka wenganing mangsa kala, tinamu-tamu atining tata krami, inggih punika sampun gineng langgening pramana.
Ingkang andadosaken saya wimbuh eraming 

(22) manah kula, dene wonten ngangge tetembungan ingkang makaten punika wewatonipun ukara : mendet saking punapa, saking remen kula dhateng tetembungan wau, awit manawi kamirengaken kedaling lesan sekeca, dados sanget anggen kula amarsudi, murih sageda sumerep tegesipun, dangu-dangu njungkel kraos mumet meksa dereng saged mangretos, wekasan nyuwun pitulungan ing sampeyan, mugi kersaa merdeni kados pundi suraosipun tembung wau.

Sang Murwenggita :
“Sarehning kula ingkang cariyos tembung wau, saestunipun rak inggih sampun apil mawi sanget, suprandosipun ing suraos dereng saged mangretos, dene yen sampeyan kedereng kedah uninga werdinipun tembung utawi suraos sadaya wau, benjing yen wonten tiyang pejah saged gesang malih. Ketangletna mbok manawi punika saged njarwani, kala wau kula sampun matur (23) cariyos tanpa wewaton medal saking gagasan, ananging kauningana ing sampeyan wontenipun gagasan wau medal saking  pinisepuh ing tanah pareden, kulinanipun ing lampah ngambah laladan sepi mbok manawi binuka ing mangsa kala, saking warah ingkang tambuh mangsanipun dumunung ing teja maya, momor jawata sinambi amudar weda memulang mring ajarira. Pramila wiyosipun tembung lan suraos ingkang makaten wau mbok manawi taksih caruk kamomoran saged uninga, yen dereng ngambah ing ngendra bawan.”

Juru Patanya :
“Menggah kinten-kinten sampeyan punika kisanak, kados-kados inggih leres pancen kamomoran tembung pangandikaning jawata, ing mangke sarehning prelu badhe tumunten kula leksanani, mugi-mugi arsaa paring rembag tembung ing ngarcapada, sarta ingkang turut nala-nalaripun, supados kula (24) sagda mangertos kados pundi ingkang wajib linampahan?.”

Sang Murwenggita :
“Kinsanak, inggih prayosi, sayektosipun anggen kula amratelakaken cariyos sedaya wau, amung minangka kangge ancer-ancer. Serta kangge ngrameni anggenipun sami rerembagan, sejatosipun ing palakrami, boten kadamel prelu, ndadak mratitisaken candraning wanita, awit dumunungipun makaten : 

... Kadosta manising ulat, indah ayuning warni, dhemes prigeling solah, punika among kangge minangka sarana amemalat dhateng thukuling sesenenganipun para priya, pramila lajeng wonten pralambang tembung paribasan : “bebukaning pala krami dudu banda dudu rupa amung ati pawitane”, tegesipun dudu banda punika sanes kasugihanipun raja brana, dudu rupa tegesipun sanes ayu indahing warni, ingkang binasdakaken condong utawi jodho.
kecancitan fisik seringkali hanya didudukkan sebagai wahana kepuasan kaum laki-laki, oleh karena itu ada peribahasa : “bebukaning pala krami dudu banda dudu rupa amung ati pawitane”, (permulaan pernikahan bukan harta benda dan rupa, hanyalah hati sebagai titik awal keberangkatan). Yang dimaksud bukan harta adalah bukan kekayaan, sedangkan bukan rupa adalah bukan kecantikan wajah, yang kemudian disebut sebagai jodoh. Untuk mengesahkan suatu hubungan seksual, maka pasangan haruslah melewati tahap pernikahan. Pernikahan tersebut menyatukan dua pribadi yaitu laki-laki dan wanita dalam ikatan yang abadi. Supaya tidak mengalami penyesalan, maka pernikahan haruslah didasari dengan hati sesuai dengan peribahasa tersebut, meskipun ada faktor-faktor lain yang juga harus menjadi bahan pertimbangan.


(25) ingkang binasakaken condong utawi jodho.”
Punika amung dumunung wonten seneng parenging panggalih, runtut utawi rujuk kalih-kalihipun, temahan sami angrumentah ing bapak kaliyan anak, dene pangangepe bapa binasakaken kencana wingka, pikajengipun tembung makaten wau tur kawujudanipun warni wingka, katon warni kencana. 

Genahipun makaten : sejatosipun warni awon suprandosipun katingal sae, dene empan mapanipun suraos ingkang makaten wau kadosta : wonten sujanma priya, seneng dhateng wanudya, ing kamangka wanita wau dedegipun inggil tur kera, yen lumampah mayuk-mayuk kados enggrang, punika priya ingkang seneng wau, boten kapanduk ing manah gela utawi cuwa, kepara lajeng rumntah ing kawelasanipun. Dene sirung anjenggureng ing ulat, seru kasaring 
Hal itu hanyalah terdapat pada kecocokan hati, kesesuaian dan keharmonisan antara keduanya, hingga kemudian menumbuhkan kasih sayang antara ayah dan anak, sayang ayah lantas mengiaskan sebagai kencana wingka, maksud dari ungkapan tersebut adalah meskipun kenyataan wujudnya berupa wingka (loyang) namun tampak seperti kencana (emas). Dalam memandang pasangan hidupnya, perlulah diingat ungkapan kencana wingka. Walaupun wujudnya hanyalah loyang, akan tetapi tampak seperti emas. Jadi meskipun pasangan hidup tidaklah mempunyai rupa yang sempurna, akan tetapi haruslah bisa dilihat kecantikan yang terpencar dari hatinya.

(26) pamicara, priya ingkang seneng wau boten kapanduk ing manah elik, mutung, kapok kawus tuwin merang, patrap ingkang makaten wau kepara amimbuhi seneng utawi asihipun.
Kosok wangsulipun ing tembung paribasan makaten : wong sengit ora kurang ing pamada, empan mapanipun makaten kadosta : priya sengit dhateng wanodya, tur gandes yen micara, demes luwes ing tenaga, punika boten dadosaken ena, malah amimbuhi ewa, trekadang lajeng gela. Dene sesaminipun yen katrapaken dununging pagesangan makaten kadosta : wonten sujana bilih ing kelahiran, tiningalan ing kathah sampun kawilang mukti lan wibawa, liripun : anenedha tuwin sandang pangangge mboten kekirangan, wonten ing wisma ngedingkrang, ongkang-ongkang lenggah ing kursi goyang, sarta mawi ngunjuk wedng punika dereng kintenan yen kadunungan trimah, lan senenging manah, trekadangan badanipun nglayung 

(27) saya kera, saking anggenipun ngrantes, ngraosaken daya-daya sageda langkung malih, saking ingkang sampun linampahan wau, trekadangan lajeng wonten ingkang lajeng nglambrang, kasurang-surang berangkangan mudhun jurang, munggah anggraning arga lan anusup wana-wasa, lelana jajan praja. Dene munggah tumraping kasenengan priya lan wanodya ing atasing jejodhowan wau, mbok manawi boten aprabeda.

Wonten malih saksi minangka prtandha tur kayekten, sandhunganipun sampeyan piyambak inggih sampun nate mangguli, dhateng lelampahaning para priya, ingkang aneh kang gumunaken kadosta sampun mengku garwa utawi kelanggenan tuwin selir, tur indah ing warni tuwin asli, sandunganipun inggih wonten ingkang warni bongoh utawi sengoh, garwa utawi seliripun wau. Ingkang anggumunaken teka lajeng kagungan penggalih ngupados malih, mendhet wanodya tur mboten warni boten asli. Yen tiningalan 

(28) dening priya senesipun, boten pisan tumimbang kaliyan garwa, tuwin selir kelanggenanipun ingkang sampun winengku wau, ing wasana menggah sih lan remenipun ngantos saged ngawonaken.

Juru Patanya :
“Ki sanak, kula ngengetaken ketrecetipun anggen sampeyan cariyos yen tetelanipun garwa, selir, utawi kelanggenan wau bilih wonten ingkang warni bongoh utawi sengoh, kacariyos warni bongah punika saged ambuka don tuju langgening asmaragama, utawi warni sengoh punika kacariyos saged ambuka panggendaming asmara tantra, bilih estu makaten, saiba ingkang priya anggenipun kasengsem tansah salulut, teko boten makaten kepara lajeng siningkur, punika kados pundi?.”

Sang Murwenggita :
“Bongoh, sengoh punika anggen kula mewahi piyambak, amung kangge upami kemawon, yen nitik saben seksi-

(29)seksi sadaya upami ingkang sampun kapratelakaken ing nginggil wau, tetelanipun palakrami punika terang yen gumantung wonten ing kasenenganing priya piyambak-piyambak, dene kasenengan wau boten kenging katemtokaken, liripun makaten kadosta indah ayuning warna boten temtu ndadosaken kasenenganing priya, 
Perkawinan itu hanyalah berdasarkan kesenangan pribadi kaum lelaki masing-masing, sedangkan rasa sukanya tidak dapat ditentukan, artinya kecantikan wajah ternyata belum tentu menimbulkan rasa cinta kaum priya. Perkawinan merupakan atau ikatan yang sakral, sehingga untuk melaksanakannya harus dicari pasangan yang benar-benar tepat. Artinya, tidak bisa dilihat hanya dari fisiknya saja. 

wondene candraning wanita ingkang sampun kapratelakaken ing nginggil wau amung kangge ancer-ancer minangka penget dhateng para muda ingkang dereng winasis pamawasing ulat liring utawi guyu nuksweng semu, supados angatos-atos ing pamilihipun, karana menggah dununging wanita punika tumrapipun dhateng priya, binasakaken amung, swarga nunut liripun makaten yen pinuju saged karaharjan ing gesangipun pikantukipun wanodya wau amung saged mimbuhi dhateng seneng tuwin asringing 

(30) prajanipun, yen pinuju lepat ing pamilihipun mangka angsal wanita ingkang ambeg durta, tegesipun pawestri ingkang awon kelakuwanipun punika badhe saged narik damel sangsaraning priya, 
Berhati-hatilah dalam memilih, sebab kedudukan wanita bagi kaum priya diibaratkan swarga nunut maksudnya adalah tatkala hidupnya diliputi kebahagian, posisi wanita seolah hanya sebagai pelengkap hiasan kebahagiaan tersebut, sedangkan bila sang priya salah memilih, artinya wanita yang didapat bukan tergolong wanita baik, maka akan menimbulkan kesengsaraan bagi si pria itu sendiri. Bagian ini adalah sikap manusia Jawa dalam hal kedudukan wanita bagi kaum pria dalam hal rumah tangga (termasuk didalamnya urusan hubungan seksual) yaitu diibaratkat swarga nunut neraka katut yaitu jika suami memberikan hal-hal yang baik maka sang wanita juga pasti akan menikmati segala hal yang baik juga.

pramila saderengipun kapendhet garwa sasaged-saged kapratitisna ing pamilihipun, awit bilih sampun kalajeng rumentah ing sih kawelasan tuwin katresnan, saestu awrat ing pambiratipun, temahan badhe ngengetaken dhateng tumempuhing kasangsaran. 
Oleh karena itu sebelum menentukan pilihan terhadap pasangan hidup hendaklah berhati-hati dalam memilih, karena bila terlanjur maka cukup sulit mengatasinya, akhirnya malah sering menimbulkan ketidakbahagiaan. Jika ingin berhubungan seksual, alangkah baiknya jika pasangan sudah terikat dalam ikatan pernikahan, dan karena sifatnya yang sakral maka diharapkan jangan sampai salah memilih serta berhati-hatilah karena dampaknya sangat besar bagi kelanjutan kehidupan. ..

Ing mangke kula nandukaken ing pamuji tumrap ing sampeyan, sarta para muda jejaka ingkang saweg nedheng birai, punika amung minangka dadosa kekudangan ing tembe yen palakrami, mugi-mugi wontena sih pariparmaning Pangeran Kang Maha Kuwasa, jinurung ginanjara krama antuk wanodya ingkang indah ing warni, sarta pantes ing solah bawa lan ambeg tepa ing rasa, tuwin dana ing tepa 

(31) utawi ingkang temen tobatipun rila dhateng ing atasing kasaenan, sabab kalakuwaning wanodya ingkang makaten wau watak lajeng kasaenan sarta kinurmatan ingkang kakung, awit pambekaning wanita ingkang makaten punika angrabasa dhateng bebudhening priya ingkang lajeng saged nukulaken dumateng rumentahing kawelasan tuwin katresnan.
wanita yang cantik baik lahir maupun batin, wanita yang demikianlah yang dihormati oleh setiap laki-laki. Seorang wanita dengan modal kecantikan lahir batin sesungguhnya akan mampu meruntuhkan dinding hati laki-laki yang ada di hadapannya akan bertekuk lutut menyerahkan segenap cinta dan kasih sayangnya. Buadaya Jawa memandang tinggi posisi wanita. Ada suatu sikap dalam hal memandang soerang wanita yaitu dari kecantikannya, bukan hanya dari segi fisik tetapi juga dari kecantikan hatinya (cantik lahir dan batin), dan wanita yang memiliki kecantikan lahir dan batin itulah yang menjadi istri dambaan setiap pria untuk menjadi pasangan hidupnya.

Juru Patanya :
“Amit kisanak, kepareng kula nyelani sakedhap, kados pundi suraosipun pitembungan tigang bab nginggil wau :
Tepa ing rasa.
Dana ing tepa.
Temen tobatipun rila, dene teka gadhah suraos ngrabasa dhateng bebudining priya, ingkang lajeng nukulaken dhateng rumentahing kawelasan tuwin katresnan, lo punika kula dereng mangretos.

(32) Sang Murwenggita :
Kisana, pitembungan tiga ing nginggil wau, wewijanganipun makaten :

Tepa ing rasa (rasa tepa) punika pikajengipun sageda sumingkir saking lumuh tuwin rikuh ing loyan, sabab yen boten kadunungan tepa ing rasa (rasa tepa) wau sok ngawontenaken watak iren tuwin meren, ingkang pandukipun lajeng drengki.
Tepa ing rasa maksudnya mampu menghindarkan diri dari sikap benci terhadap orang lain, karena jika tidak memiliki sifat tersebut terkadang menimbulkan watak iri yang ujungnya adalah kedengkian. Dalam konteks pengajaran mengenai seks, hal yang paling penling utama untuk diperhatikan adalah bagaimana cara memilih qwanita yang baik agar kehidupan rumag tangga beserta seluruh aspek didalamnya dapat berjalan dengan lancar. Oleh sebab itu ada beberapa ciri-ciri wanita yang ideal sebagai pasangan agar tujuan hidupnya dapat tercapai.

Dana ing tepa, punika pikajengipun sageda sumingkir saking panyaru tuwin panyikuning liyan, sabab yen boten kadunungan dana ing tepa wau, asring ngawontenaken watak : dahwen tuwin salah open ingkang pandukipun lajeng dados srei.
Dana ing tepa, artinya mampu menjauhkan diri dari hasrat menyakiti serta menyengsarakan orang lain, sebab bila tidak memiliki sifat tersebut, cenderung memunculkan watak serakah yang akhirnya menjelma menjadi jahat. 

Temen tobatipun rila, punika pikajengipun tobat ingkang kalebetan temen lan rila. Pramila pikantukipun pawestri ingkang makaten wau lajeng kinurmatan ing kakung. 
Temen tobatipun rila, artinya taubat yang dilandasi kesungguhan dan keikhlasan, sehingga seorang wanita yang mampu bersikap demikian akan disegani oleh setiap laki-laki.

(33) kados pundi kisanak punapa sampun terang?.”
Juru Patanya :
“Menggah saking panampining manah kula inggih sampun terang kisanak, suwawi kula aturi ndumugekaken malih anggen sampeyan nglahiraken pamuji wau.”

Sang Murwenggita :
“Inggih kisanak, ing sasampunipun pikantuk garwa wanodya ingkang kalakuwanipun kados ing kasebut wau, menggah ing kasaenanipun mugi-mugi saged angsal ingkang angeblegi, kados ingkang kasebut ing Serat Darma Laksita, yen pangundang asmarangipun sageda angsal kados ing Serat Candrarini.”

Juru Patanya :
“Kisanak kula nyelani, serat kekalih Darma Laksita lanCandrarini punika anggitanipun sinten, utawi nyariyosaken punapa, amargi kula dereng nate sumerep sarta maos serat kekalih wau ?.”

(34) Sang Murwenggita :
“Menwi sampeyan tanglet serat kekali wau bilih boten klentu kados-kados anggitanipun Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Harya Mangkunegara ingkang kaping sekawan upami kula pratelakaken ing ngriki badhe kamonceran sanget, bilih sampeyan kersa badhe maos serat wau prayogi tindak ing griya kula kemawon, lakar sampun sawatawis lami anggen sampeyan boten tetuwi.”

Juru Patanya :
“Kisanak, prayogi sanes dinten kemawon kula tetinjau sampun amung nyelani bab punika, suwawi kadumugekaken kekudangan wau minangka dadosa pamuji supados aemahana saged kadugen.”

Sang Murwenggita :
“Kula dumugekaken sedyaning manah, anggengudang minangka pamuji kula 

(35) wau kasaenan tuwin pangudang asarangipun, utawi samangke pamuji kula malih mugi dageda angsal wanodya ingkang kadunungan watek : sama, beda, dana, denda lan sageda uninga dhateng panduling : guna, busana, baksana, lan sasana. Dene pambeging pangrengkuh sageda angsal ingkang sawanda, saeka praya lan sajiwa.”

Wondene wewijanganipun tembung ing inggil wau ingkang rumiyin : sama, beda, dana, denda.

Tembung sama tegesipun pada, pikajengipun gadhahana wewatek asih dhateng sakehing dumadi.
Beda tegesipun seje, geseh utawi milah, pikajengipun anggadhahana watek kulina sarta saged animbang, inggih punika putusing tepa.
Dana tegesipun nganjar, pikajengipun gadhahana watek remen asung kasenengan

(36) tuwin kabungahan dhateng sakehing dumadi.
Denda tegesipun kukum, pikajengipun gadhaha watek putus lan patitis, pamiyak tuwin malih nalar ingkang awon utawi dhateng ingkang sae, anggenipun ngempan utawi mapanaken.
Berikutnya harapan saya semoga anda mendapatkan wanita yang di dalam dirinya terdapat sifat-sifat sama, beda, dana, denda. Kata sama, berarti merasa sama, maksudnya memiliki rasa sayang pada sesama mahkluk. Kata bedha, berarti tidak sama, maksudnya memiliki sifat mengutamakan pertimbangan sebagai wujud kearifan. Kata dana berarti memberi imbalan, maksudnya hendaklah memiliki sifat mudah memberi kepada sesama. Kata dendha, berarti hukum, maksudnya memiliki sifat teliti dalam menentukan sesuatu sehingga tepat memilih mana yang baik dan yang buruk. Dalam Budaya Jawa wanita dianggap sebagai “wadah” dari benih yang akan ditanam oleh laki-laki dan karena itu maka haruslah dicari wanita yang terbaik. Selain dari tiga faktor utama (bibit, bebet, bobot), seorang wanita yang baik juga harus memiliki sifat-sifat tertentu. 

Ingkang kaping kalih kala wau sageda uninga panduking guna, busana, baksana lan sasana wewijanganipun makaten :
Guna tegesipun pangawikan utawi kapinteran, pikajengipun sageda sumerep lan mangretos dhateng wewenang lan wajibing lan pandamelaning pawestri.
Busana, tegesipun pangangge, pikajengipun sageda uninga lan ngetrapaken dhateng raja tdai darbekipun ingkang pancen kasandhang.
Baksana, tegesipun pangan, 

(37) pikajengipun sageda uninga lan nandukaken ubet kekayaning laki ingkang pancen katedha.
Sasana, tegesipun dunung utawi panggenan, pikajengipun sageda uninga tuwin memantes lan memangun anggenipun gegriya.
Yang kedua, hendaklah memiliki kepekaan terhadap guna, busana, baksana, dan sasana. Adapun penjelasannya sebagai berikut : 
  1. Guna berarti ketrampilan atau kepandaian maksudnya adalah tanggap terhadap tugas dan wewenang sebagai seorang istri. 
  2. Busana berarti seorang wanita haruslah memiliki kepekaan terhadap penampilan serta pakaian miliknya secara proporsional. 
  3. Baksana berati pangan, maksudnya memiliki ketrampilan mengatur keuangan/penghasilan suami secara proporsional. 
  4. Sasana yang berarti rumah atau papan, maksudnya memiliki ketrampilan untuk mendekar dan menghias rumah dengan indah. 
Selain sifat, wanita yang baik juga harus dapat membuat dirinya terlihat menarik agar laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya tetap setia dan tetap bisa menjaga hubungan (termasuk dalam hubungan seksual). Hal tersebut dikarenakan pria dan wanita haruslah senantiasa bekerja sama dengan baik untuk dapat mempersiapkan segala hal demi menyambut kehadiran manusia baru sebagai hasil dari hubungan seksual yang mereka lakukan.

Ingkang kaping tiga kala wau ambeging pangrengkuh ingkang sawanda, saeka praya lan sajiwa, wewijanganipun makaten :
Sawanda, tegesipun sarupa, sawangu utawi sawarna, pikajengipun sedya nyawiji badan, empan mapanipun gadhahana ambeg pangrengkuhipun lan rumeksanipun dhateng priya dipun kadosn rumeksa dhateng badanipun piyambak.
Saeka praya, tegesipun sawiji budi, pikajengipun gadhahana ambeg pangrengkuhipun dhateng priya anedya nunggil kapti.
Sajiwa, tegesipun satunggiling nyawa, 
Yang ketiga adalah dalam hal kesetiaan hendaklah memiliki sifat-sifat sawanda, saeka praya, dan sajiwa, penjelasannya sebagai berikut : 
  1. Sawanda yang berarti serupa, sebangun, atau sewarna. Maksudnya, wanita tersebut bersedia menyatu tubuh dengan cara saling memahami, menjaga suaminya sama seperti menjaga dirinya sendiri. 
  2. Saeka praya artinya dapat menyatukan kehendak dengan kehendak suaminya yang tujuannya demi kebaikan, maka sang istri harus merasakan sebagaimana kehendak diri pribadi. 
  3. Sajiwa berarti sehati. Maksudnya adalah sikap istri terhadap suami sama seperti terhadap diri sendiri.
(38) pikajengipun gadhaha ambeg pangrengkuhipun dhateng priya dipun kados dhateng nyawanipun piyambak.
Kajawi ingkang kasebut ing inggil wau, wonten malih wajibing pawestri ingkang sampun apalakrami, pepiridan saking serat Pustaka Raja Weda inggih punika piwulanganipun Sang Begawan Drawa dhateng putrinipun peparab Dewi Rara Sarawasri, ingkang pawingkingipun dados prameswarining Batara Aji Jayabaya ing Kediri, manawi kula cariyosaken sedaya mindhak kemonceren, pramila amung badhe kula petik saprelunipun kemawon pratelanipun kados ing ngandhpa punika :

Menggah pawestri ingkang sampun nambut silaning akrami, punika kedah netepi punapa ingkang dados wajibing estri kathahipun tigang pangkat, satungi-tunggiling pangkat wonten tigang pakarti :

(39)Kedah gemi, nastiti, ngati-ati.
Jedah tegen, rigen, mugen.
Kedah titi, rukti, rumanti.
Bagi wanita yang telah berumah tangga hedaklah melaksanakan apa yang menjadi tugas seorang istri, dalam hal ini berjumlah tiga tingkatan, masing-masing terdapat tiga komponen perilaku : 1. Hendaklah gemi (hemat), nastiti (cermat), ngati-ati (hati-hati). 2. Hendaklah tegen (tidak mengecawakan, rigen (trampil), mugen (meyakinkan). 3. Hendaklah titi (teliti), rukti (manfaat), rumanti (merata).

Dene panduking damel kedah nglenggahi gangsal prakawis :
Kedah rikat. 
Cukat.
Cakut.
Prigel.
Trampil.
Perihal pengabdian, hendaklah seperti di bawah ini : 
Hendaklah dilandasi kejernihan berpikir, niat, kesungguhan, rajin.

Menggah labetipun kedah kados ing ngandhap punika :
Kedah idhep, madhep, mantep, sregep.
Kedah wekel, petel, mungkul, atul.
Hendaklah tekun, telaten, tanpa kenal lelah, sabar.

Kejawi punika ingkang dados wigaripun sadaya lelampahan wau manawi kadunungan pambekan, tamban, tamben, tambuh tuwin lumuh.
Wondene wewijanganipun ingkang dados wajibing estri tigang pangkat ing inggil wau makaten :
Kedah gemi, nastiti, ngati-ati, tegesipun gemi boten mborosi. 

(40)Nastiti boten anyelakaken dhateng pakewed. Ati-ati boten anyelakaken dhateng kalepatan.
Kedah tegen, mugen, rigen tegesipun tuwin pakangsalipun makaten : tegesn boten andamel gela, rigen dados pakolih, mugen dadosaken ing piyandel.
Kedah titi, rukti, rumanti tegesipun tuwin pakangsalipun makaten : titi boten kenging weya, rukti kedah mrayogi, rumanti kedah nyekapi.
Sampun kisanak, samanten kemawon manawi panginten kula sampun nyekapi ingkang wajibing estri wau.

Juru Patanya :
“Inggih sanget ing panyuwun kula kisanak, ananging sampeyan kersaa nggancaraken rumiyin menggah wajibing estri wau empan mapanaken kados pundi?.”

(41) Sang Murwenggita :
“Menggah empan mapanipun makaten : ing sasaged-saged wanita punika kedah kadunungan pambekan makaten kados ing ngandhap punika :

Manawi dipun pasrahi sampun mborosi, ananging kedah ingkang gemi.
Manawi dipun pitados sampun weya, ananging kedah ingkang nastiti.
Manawi dipun andel sampun sampun dleya, ananging kedah ing ngati-ati.
Manawi dipun tambuhi sampun ngresula ananging kedah ingkang nelangsa.
Manawi dipun eringi sampun daga, ananging kedah ingkang nggrahita.
Menawi dipun ajeni sampun piangkuh, ananging kedah ingkang rumangsa.
Menawi dipun welasi sampun lelewa, ananging kedah ingkang susila.

(42)Manawi dipun asihi sampun andaluya, ananging kedah ingkang waskita.
Menawi dipun tresnani sampun ngadi-adi ananging kedah ingkang wicaksana.
Yen dipun remeni sampun langguk, ananging kedah nglanggatana.
Makaten ugi estri punika kedah anguningana tumaduking tembung : sabar, maklum, tawekal, liripun makaten :
Manawi dipun sabari sampun dadra, ananging kedah ingkang narima.
Manawi dipun maklumi sampun sumangkeyan, ananging kedah weweka.
Manawi dipun tawekali sampun mamengku, ananging kedah ingkang pasrah.
Sampun kisanak, ing wasana pamuji kula mugi sampeyan nunten sageda kaleksanan. Amengku garwa ingkang indah ing warni sarta ingkang 

(43) gadhahi pambekan kados ingkang kula cariyosaken ing inggil wau.

Juru Patanya :
“Amin, amin, mugi pinaringana dening Allahutangala, pujinipun mitra kula tumunten anemahana. Kisanak sekelangkung ing panuwun kula, ananging taksih wonten uwas lan sumelanging manah kula, mbok menawi ing tembe milih dhateng wanita ingkang wajib tinampik. Punika kula dereng uninga, wnita ingkang kados punapa?.”

PUPUH IV

Sang Murwenggita :

“Menggah titikan ciri-diri sarandhuning badan ingkang nandakaken wanodya ingkang awon kelakuwanipun, punika ugi sampun kasebut ing salebeting Serat Iman Supingi wau. Kamonceran saupami kapratelakaken ing ngriki, kula amung badhe nyariosaken ingkang medal saking gagasan kula 

(44) piyambak. Bilih sedya angupaya rasa kenya, tegesipun estri ingkang taksih prawan. Panitikanipun ingkang rumiyin manawi payudara ngadeg margi alit sampun katingal anggandhul, utawi yen ngandhulipun wau margi saking ageng, kawaspaosaken katawis sampun boten isi panthenging wana-wana katingal sampun kendo, sarta wanguning guwaya warni sulak wilis kawistara kirang seneng, lambung ramping, bokong mekar, mbok manawi saged ningali wuluning baga warni cemeng sarta kasar punika dipun tampika, awit sedaya punika titikan tetengering kenya ingkang sampun nate sinanggama ing kakung. Utawi malih yen wonten pawestri ingkang ababipun mambet bener utawi letenging arus bacin kawoworan nduleking ambek kecut. Punapa malih yen githok mambet wangining sekar kawoworan gnda amis, arus, wengur, utawi yen tlampukaning mripat tipis sarta ketingal seret biru, utawi sanadyan tlampukaning mripat ugi ketingal biru, senadyan palapukaning maripat katingal kandel, manawi pethak dhelenging maripat ugi katingal biru punika prayogi dipun tampika, awit adat pawestri ingkang makaten wau asring gadhahi simpenan penyakit dumunung wonten ing wadosipun.

Utawi malih yen wonten wanodya ingkang swaranipun drabah kadi swaraning jalma priya ingkang awor sumurak, punika yen saged inggih dipun tampika, sebab pawestri ingkang makaten wau ing adat sok asring nggadhahi watek hewan utawi panasen dhateng sesaming jalma, sarta boten triman ing pandum, watak daya-daya kesesa boten saranta ing manah.

(46) Juru Patanya :

“Punika sampun radi lega raosing manah kula, mugi kisanak kersaa dumugekaken ing sesampunipun daup dados jatu krami, patrapipun tiyang anggenipun mengku dhateng wanodya, wajib lan rumeksanipun kados pundi?.”

PUPUH V

Sang Murwenggita :

“Yen bab prekawis punika saking pamanah kula manwi kenging tamban tegesipun sareh, benjing kemawon manawi sampeyan saestu tetinjo dhateng pondok dunung kula, amaosa Serat Wulang anggitanipun para sujana ing kina-kina antawis inggih wonten, ingkang amratelakaken bab rumeksaning estri wau tur pratitis sarta terang, lajeng gampil anggen sampeyan nampeni suraosipun.”

Juru Patanya :

“Kisanak, bab anggen kula 
(47) badhe sowan sarta nggledahi serat-serat kagungan sampeyan punika prekawis temtu, sampun boten susah kerembag malih. Wangsul atur kula kala wau tembung tat lair wicanten panjawab kula nywun rembag, ananging sejatosipun rak nyuwun wulan ingkang tulen, medal saking gagasan sampeyan piyambak, bab rumeksaning pawestri wau kados pundi prayoginipun?”

Sang Murwenggita :

“Kisanak, manawi sampeyan tanglet saking pamanggih kula piyambak, dereng mangertos pisan-pisan dhateng prakawis punika, ewa dene manawi karsa pamanggih dadakan, mendhet saking rerancangan tethukulaning manah kula bab rumeksaning wanita wau, kinten-kinten murih prayogi kados ing ngandhap punika :

Ingkang rumiyin bab pawestri ingkang taksih rara kenya, ingkang dereng mangsa binasakaken manawi dereng kel (ngarapsari) 

(48) sampun ngantos sinanggama ing kakung, awit ing adat sok asring lajeng dados pawestri lenjeb. Terkadang sok asring lajeng boten saged ngadahi anak, dene ingkang makaten wau mbok manawi margi saking kudup sarining rasa wigar, jalaran saking kasengka rinabasa ing mangsa, wekasan kekayanganing Sanghyang Asmara saben-saben ketaman ing raos kadi kaagar, saestu lajeng karaos bigar, kinten-kinten mbok manawi inggih punika ingkang binasakaken dados purusente. Dene bab rumeksaning estri tumraping palakrami, punika kedah jembar, sabar utawi paramarta, ananging kedah ngenggeni tepa, prayitna, liripun sampun ngantos lena karana wewatekaning wanita punika asring kadunungan, manah cekak, budi rupak, calak mapak, jangkah cendak. Utawi sampun kacariyos 

(49) kasebut ing warah saking pangandikanipun Kangjeng Nabi Sulaeman, yen sujanma pawestri punika kang kadunungan kirang jejeg ing piyandelipun, liripun manah kirang antepan gampil dhateng ewah gingsiripun, asring kelayu dhateng priya sanesipun ingkang jalaran kepengin saking sabab wirya, rahsa, sarjana, guna, rupa.

Wewijanganipun makaten : wirya tegesipun kaluhuran, pikajengipun wanita punika asring melik dhateng priya ingkang langkung luhur saking bojonipun.

Rahsa, tegesipun inggih rahsa, pikajengipun wanita punika asring kadunungan raos kepingin kedah sinanggama ing kakung sanes ingkang sebab saking bosen, kemba utawi kirang marem sesaminipun.

Sardana, tegesipun sugih arta utawi raja brana, pikajengipun wanita punika asring 

(50) kepingin dhateng arta utawi raja-brana, ingkang sabab saking kirang kasamektanipun.

Guna, tegesipun kasagedan, pikajengipun wanitra punika asring kepingin dhateng priya sanesipun ingkang sugih kasagedan, utawi dedamelan ingkang langkung saking bojonipun.

Rupa, tegesipun inggih rupa, pikajengipun wanita punika asring kelayu, dhateng priya ingkang warni bagus langkung saking bojonipun. Punapa malih ingkang kasebut wonten serat panitisastra punika sesaminipun lepen utawi oyoding kajeng, lampahipun amenggak-menggok yen kekenceng sok lajeng ical manisipun. Mila lajeng kakiyasan, benjing manawi wonten peksi gagak awulu petak tuwin tunjung tuwuh ing sela, punika bok manawi pawestri saged leres lampahipun, bilih saking pangandikanipun maha Prabu Widayaka (Ajisaka) pakareman utawi senggama punika bilih pawestri satunggal saminipun kaliyan priya 

(51) wolu, pramila awit saking pangandikanipun wara Dewi Drupadi : boten wonten tiyang estri tuwuk ing kakung. Sareng wanten suraos ingkang makaten panengahing pandawa Raden Arjuna lajeng memarsudi dhateng solah kridhaning sanama. Analangsa ing Bathara wekasan katarima ing sasedyanira sinungan Aji Asmaragama.”

PUPUH VI

Juru Patanya :

“Sarehning ing lami-laminipun kula dereng nate sumerep saha mireng, ingkang binasakaken nama aji asmaragama punika warni punapa, sarta patrap pangangge anggenipun nandukaken kados pundi ?”

Sang Murwenggita :

“Manawi tanglet kawujudanipun warni punapa punika kula dereng terang, amung kinten-kinten ingkang nama aji asmaragama wau bok manawi tegesipun makaten : aji punika tegesipun kaaji-aji rerenggan 

(52) utawi pakurmatan, dene asmara tegesipun sengsem, sanggama salulut, dene ingkang binasakaken salulut wau tegesipun pepuletan, momoran utawi kekumpulan. Dados pikajengipun ingkang binasakaken aji asmaragama wau bok menawi boten klintu anggen kula mastani rerenganing sengsem, pepuletan amoring jalu lan wanita.”

Juru Patanya :

“E…., e….., boten nyana pisan-pisan, yen ingkang binasakaken aji asmaragama punika patrap amoring jalu lan wanita. Duk wau saking panginten kula warni dedamel, curiga utawi sayaka, wangsul bab patrap amoring priya lan wanodya teka mawi rerengan nami aji asmaragama punika kados pundi pangetrapipun?.”

Sang Murwenggita :

“Sayektosipun kula dereng terang, bebasan inggih sagaduk-gaduk  

(53) ing manah kula badhe mratelakaken, ananging sarehning medal saking kinten-kintening panggagas bilih wonten geseh sulayaning suraos utawi kithal kiranging tembung, boten langkung nyuwun pangapunten sarehning patrap amoring jalu lan wanita limrahipun binasakaken wados, sakalangkung saru yen kemelokaken prayogi jroning pratela dinapuring panca kara, kinarya warananging pamicara, campuhira kasebut ngandhap punika :

Lampahing asmaragama, kalamun pasta purusa dereng kiyat lan santosa, ing driya aywa kasesa, nandukaken pancakara, kang mangkono wau mbok manawa, blenjani neng wiwara, dayane datan widada, temah dela (gela) kang wardaya, terkadang amanggih ewa, lan wanita lawannya, marga tan kapadung karsa, riwas wadi wus kabuka wekasan tan mantra-mantra, tumimbang serenging 

(54) driya, wangune salah mangkana, yeka kena ing rubeda, aran katitih asmara, awit dereng abipraja, duk wau kagyating pasta, iku uga mbok manawa lagya kaserenging daya, mung sengseming driya harda, sinerus lumaksana, kasengka mangsa ing yuda, marma dayane sapala, tan lama nulya marlupa, kacarita inggih punika, awit rahsa tuwin jiwa, dereng winengku samya dening prabanira Hyang Pramana.”

Juru Patanya :

“Amit kisanak, nyuwun pangapunten, kula nyelani cariyos sakedhap. Sarehning boten wonten tiyang sanes, kula badhe matur sampeyan ananging kadamela wados  bebasan suket godong aja krungu sayektosipun kula punika golongan kerep kepranggul dhateng tindak ingkang makaten, ananging ing sarehning bodho kirang pambudi, dados datan mawi dipun-nganglangi dhateng nalar-nalaripun saben-saben kepanggih sabab ingkang 

(55) makaten, lajeng kepanduk ing raos pegel utawi anyeling manah kawimbuhan sanget lingsem saupami wujuding pasta purusa punika boten gegandhengan kaliyan angga kita, bok manawi lajeng kula gebagi sanalika, supados lajeng kapok lan mituruta, sareng pakewed panggenanipun ing wekasan amung muring-muring ananging boten kantenan ingkang kula rengoni, pramila kula sareng mirengaken cariyos sampeyan ingkang binasakaken tembung katitik asmara, punika kados pundi tegesipun?.”

Sang Murwenggita :

“Yen sampeyan tanglet tegese utawi werdi bab tembung basa sastra kawi sapanunggalanipun, punika ing sayektosipun kula rak dereng sumerep sarta dereng terang menggah patitisipun, dene anggen 

(56) kula cariyos sadata wau sayektosipun saking aneniru, nurut serat uatawi anurut cariyos liyan, dene bilih sampeyan sidanak, kersa teges utawi werdi bebasan ing sawonten-wontenipun kula inggih angaturi kasebut ing ngandhap punika :

Kala wau ingkang sampeyan tangletaken tembung katitih asmara, mbok manawi wewijanganipun makaten : katitih punika tegesipun kalindih utawi kaendih, werdinipun kadesek, kasesek, kaseselan, katumpangan utawi kasoran, dene tembung asmara tegesipun birai, brangta utawi kasengsem. Dados pikajengipun tembung katitih asmara wau mbok manawi katumpangan utawi kasoran ing sengsem.”

Juru Patanya :

“Kisanak, menggah kasenengan ing alam donya punika punapa wonten ingkang 

(57) ngungkuli malih kados senenging priya dhateng wanodya, tuwin wanodya dhateng priya teka wonten tembung katumpangan utawi kasoran ing sengsum.”

Sang Murwenggita :

“Yen menggah kasenengan ing alam donya, punika kula boten saged amestani, dumunung wonten pinaringipun piyambak-piyambak, dene ingkang binasakaken katitih asmara wau sebab kalindih ing rubeda, menggah kawujudan ingkang asring murugaken dhateng tumanduking asmara, kinten-kinten kathahipun gangsal golongan, pepencaran kaperang dados kalih dosa bab, kapratelakaken kados ing ngandhap punika :

Golongan yen kepanduk : 1. Arip, 2. Sakit, 3. Luwe, 4. Susah.
Golongan yen kepanduk : 1. Geg, 2. Neg, 3. Gigu, 4. Elik.
(58)Golongan yen kepanduk : 1. Mutung, 2. Kapok, 3. Kawus. 4. Merang.
Golongan yen kapanduk : 1. Jeleh, 2. Manuh, 3. Kemba, 4. Bosen.
Golongan yen kepanduk : 1. Gela, ewa, 3. Cuwa, 4. Jinja.
Menggah pepacaring rubeda kalih dasa bab wau upami pinuju tumanduking salah satunggil, mbok manawi punika inggih dumunung wonten sesirikan busananing sarira, kadosta dhateng raga, driya jiwa sesaminipun sanadyan tumadukipun amung dhateng tri busana, yen menggah tetabetanipun bok manawi inggih tumus dhateng dunung kekayanganing prasa, utawi rahsa, pramila duk wau daya sarenging driya, ingkang tumus ing pasta purusa kirang santosa karana dereng kawinbuhan saking daya kridhaning prasa, utawi rahsa, amargi prasa utawi rahsa : katitih 

(59) brangta kasengsem saweg pinuju ngraosaken tumanduking rubeda wau ing salah satunggilipun.

Kajawi ingkang kasebut ing inggil, wonten malih kalebet rubeda ingkang asring murugaken tumanduking asmaragama, ingkang binasakaken kasor prabawa wonten kalih bab kados kang kasbut ing ngandhap punika :

Yen priya boten kepadan karsa, ingkang solah asmaragama.
Saking sabab boten nunggil bangsa prasaning rahsa utawi rahsaning rahsa.
Dene ingkang binasakaken kasor prabawa wau mbok manawi patrapipun makaten, empaning cipta boten kapandan dening mapaning pramana, ing wekasan prasa tuwin rahsa katamaning raos welas utawi engah, inggih rubeda patrap makaten wau ingkang binasakaken tumanding kang sanes bangsa.

(60) Juru Patanya :

“Sareng kula sampun mirengaken bab rubedaning asmaragama ingkang kasbut ing inggil wau, sadaya lajeng kapanduk narimah ing manah, layak awis saged kaleksanan, kerep kuciwanipun jalaran saking kathahipun rubeda ingkang murungaken, dene rubeda kathahipun samanten wau murih sageda sumimpang setiyaripun kados punapa?.”

Sang Murwenggita :

“Prasajanipun kisanak, yen kagungan sampeyan punika saupami yen sinentor ing udaka wimba, tegesipun sinentor ing toya padasan sampun boten kersa wungu, punika sampun boten kenging dipunsetiyari malih, sesaminipun upami suku dipunwastani apus utawi tali, pikajengipun lemes dados tali saestunipun boten kenging kadamel lumampah, dene yen boten tumindakipun wau manawi amung jalaran saking kenging rubeda, 

(61) kados ingkang sampun kapratelakaken ing inggil wau, kinten-kinten mbok manawi setiyaripun kedah maluya krida, wewijanganipun tembung wau, amaluya tegesipun memulih, krida tegesipun gagas utawi osik pikajengan kedah amemulih dhateng ngujar gelenging prasa tuwin rahsa, bilih katarimah saged golong gumelening prasa tuwin prasa, mbok manawi lajeng saged lumaksana, kang tanpa sangsaya.

Pramila pamilihing kedah ngatos-atos, karana bilih kaleresan angsal wanodya ingkang prasaning rahsa, ingkang nunggil bangsa, punika lajeng nggendam langgengin asmara, saniskaraning rubeda, temah mahanani susila pamoring lulut, awit binuka langgening pramana, dene ingkang binasakaken susila pamoring lulut wau, woring sekaliyan binuka tanpa rubeda, amung pinanggih seneng pareng.

(62) Juru Patanya :

“Sarehning dereng sumerep nalar-nalaripun dados namung kapanduk eram tuwin gumuning manah, kadosta : namung kapanduk gela, ewa, cuwa, jinja sesaminipun kalih dasa bab wau, teka kalajeng boten tumindak ingkang binasakaken daya santosaning pasta purusa punika warni punapa?.”

Sang Murwenggita :

…………………………………

Juru Patanya :

“………………………………………………………. pangraos cuwa, engah, utawi cengah, alawanan kaliyan wanita ingkang sanget kuciwa 

(64) ing warni, inggih boten kapanduking raos gela, ewa, kemba lelawanan kaliyan wanita ingkang gandanipun awon, inggih boten kapanduking raos, geg, gigu, elik, punika ingkang sanget nggumunaken, dene anggenipun saged sumingkir nyimpang pepalanging jurang, sageda dhateng sakathah ing rubeda punika mugi kawastanana priya ingkang gadhah lampah makaten wau, punapa pancen boten kadunungan apiking pangraos utawi raos, punapa pancen tanpa sebut.”

Sang Murwenggita :

“Priyan ingkang gadhah patrap makaten wau inggih leres gumunaken anggenipun sumimpang saking rubeda, katandha saben-saben tumanduk dene widada saged gembira ing asamarangipun, ing mangke kula cariyos kangge timbangan minangka saksi, supados katingala nalar-nalaripun, kinten-kinten priya ingkang 

(65) makaten punika kados sujanma ingkang binasakaken lembon, inggih punika sujanma ingkang karem sanget dhateng nendra, mila binasakaken karem sanget margi tanpa mawi mangsa, saben dinten netranipun karaos sanget arip, kadereng kumedah anendra, sarta boten mawi milih tuwin anampik ing dunung, bebasan inggih sadawah-dawahing badanipun inggih lajeng saged nendra tur kalayan sakeca, terkadang ngantos kelantur ing wanci, wonten malih sesaminipun sujanma ingkang binasakaken anggrangsang ing dremba, inggih punika sujanma ingkang ngangsa-angsa karem ambukti, mila binasakaken karem boten mawi mangsa, saweg tuwuk teka kadereng kedah anedha, tanpa mawi pilih tampik ing tetedhan, bebasan ing sawonten-wontenipun inggih purun bukti tur kalayan eca terkadhangan ngantos kelanduk ing taker, 

(66) punika saking kinten-kinten kula piyambak, bab asmaragama wau bok manawi inggih boten aprabeda. Samangke sareng katitik saking lelampahanipun para sujanma ingkang remen dhateng bukti, utawi sujanma ingkang remen nendra kados-kados inggih sampun terang, priya ingkang gadhah kelakuwan tanpa tampik dhateng wanodya wau mbok manawi inggih pancen karem dhateng raosing asmara.”

Juru Patanya :

“Yen saking pamanggih kula kados-kados inggih sampun leres, janma priya ingkang tanpa tampik wanita punika. Jalaran saking karem asmara. Sapunika kula pitanglet saking pamanggih sampeyan piyambak kenging dipun wastani priya ingkang boten kadunungan apiking pangraos utawi raos, punapa priya tanpa sebut sarta kelakuan makaten wau sae punapa awon?.”

Sang Murwenggita :

“Kisanak, dunungipun wanita ingkang makaten wau yen kula kapurih mastani, nyuwun pangapunten ingkang kathah-kathah, senadyan dipun peksa kalayan santosa meksa mopo boten saged amratelakaken, awit kula sampun sumerep yen sampeyan piyambak inggih sampun saged mastani dunungipun priya ingkang makaten wau, saestu inggih terang yen tanpa sebut jalaran saking anggenipun sanget ngungun dhateng sabiyantuning daya ingkang ngangsa-angsa karem dhateng asmara ngantos kalimput, boten ngalih dhateng sakathah ing rubeda ingkang dados sesirikaning busana. Suwawi kisanak sami nggalih ingkang sampun kula sipati kemawon, pinten-pinten kathah ing priya ingkang sami nandhang sangsara inggih jalaran saking penyakiting senggama wau 

(68) kinten-kintening manah kula, mbok manawi punika inggih jalaran wektu sanggama, kapanduking rubeda sesirikan busana, boten mawi milih nampik ing dunung, mangka ingkang dipun dunungi nalika nendra wau, kang talemek nuju wonten barang ingkang gateli kadosta : uler, rawe, kemaduh, semut, klabang sesaminipun, rak inggih badhe kapanduk damel sesakiting seliranipun. Punapa malih sujanma ingkang karem ambukti tanpa tampik ing tetedan kadosta : pepedes, kekecut, lelegi, sesepet, utawi gurih sesaminipun tanpa mawi kagalih panedhanipun, sarampunging panedha mbok manawi inggih kraos, tumrap 

(69) penyakiting sariranipun. Suwawi kisanak, kula aturi mestani piyambak sadaya pakareman ingkang dadosaken kasangsaraning sarira punika kenging dipun wastani awon puna sae?.”

Juru Patanya :

“Sampun kaping rambah-rambah anggen kula pitanglet dhateng lare ingkang saweg umur kawan tahun tur wicantenipun taksih pelo, suprandosipun teka saged amestani bab pakareman ingkang dadosaken sengsaraning badan punika boten pakoleh, kilap pamanggihipun lare wau, kula boten terang. Dene yen kula kaliyan sampeyan, sarehning janma sampun sepuh sarta priksa ing nalar, kilap anggenipun mastani saestunipun amung dumunung wonten ing batos kemawon, yen ta menggah saking panampining manah kula, cariyos sampeyan bab 

(70) katitih ing asmara utawi priya ingkang tanpa tampik wanita, kados-kados inggih sampun terang. Sapunika saking atur pamuji kula saupami pinareng karenan ing panggalih, kisanak kersa anglajengaken cariyos malih bab tumanduking asmaragama ingkang tanpa sangsaya, saiba badhe bingah ing manah kula.”

Sang Murwenggita :

“Kisanak inggih prayogi, bilih kersa mirengaken lahiring gagasan, sagaduk-gaduking manah kula dumugekaken cariyos malih bab tumaduking asmaragama ingkang tanpa sangsaya, inggih punika nami susila pamoring lulut tuwin babar langgen mangsah ing pancakara, kinarya warananing pamicara kados ing ngandhap punika :

(71) Kalamun pasta purusa wus kiyeng kiyat santosa, kwehning daya wus samekta, iku nulya tindakena umangsah ing ronanggana, sayekti datan kuciwa tumempuhing banda yuda. Nanging ta dipun prayitna, ing tindak ajwa sembrana, gyaning bakal nuju prasa, mring wanita mengsahira, supaya leganing driya, wruhanta dipun waspada,jroning pasti kono ana musthikaning rasa mulya, rineksa para jawata, aram sanghyang Utapatra, utawa Sanghyang Gambira, dumunung wuri puruna, yen tinempuh dening gada, watakira prasanira, nuli bebantuning prapta, pepinginan ing jro baga,ingaran Sanghyang Asmara, sesilih Hyang Cakra, kang abipraya saraya, wimbuh keri griminira, anarik daya ajunya, mring Sanghyang Purnamasangka, ya Sanghyang Asmara Tantra, utawa Sang Kamajaya. Pameying rahsa mangkana, srana ngagema 

(72) wisaya, pratingkah ukeling pasta, kacarita solahira, duk murwani lumaksana, karsa pepucuking yuda, kwehning daya saniskara, ajwa sineru sarosa, ing tindak kesah saranta, pangangkah amung muriha, keri prasaning wanita, kalamun wus sawetara, jumpuhing prang lama-lama pepalu tumempuhira, pininda upama gada, tinangkis ing bada baya (tameng) saking rosaning panggad, kuwating panangkisira, wekasan metu dahana, mubal sumundul ngakasa, sesumuke nemu pega, kukus katut samirana, prapta tumaduking prasa, kekerining mengsahira, gumiringing saya dadra.

Gantya wau wanita, denya gadah banda yuda, mubal metuning dahana, semrambah ing sarira, tan kuwawa anahana keri gumrining prasa, saya harda ngambra-ambra, wantu wataking wanodya, yen wus liwung kridhanira, 

(73) ing budi datan saranta, sigra amusti sanjata, warastra mangka pusaka, teturunaning sang jawata, ganjaran Hyang Girinata, piningit sajroning baga, yeka kang hru baru nastra, sumembur metu tirta, toya lir yiyiding mina, kumembeng sajroning baga, angelem pasta purusa.

Wau ta sir pasta, silem kinelem ing tirta, tan mantra ririna ing solah saya gembira, anebur ing barunastra, lir ombak samodra bena nganggen lumut satepinya, samodra karoban toya, nempel ngumpul lir tinata, bebarising warhat bala, kadi gelar cakra byuha, bondhot bebudheting pasta, ning tan surut saya rosa, liwung pamukireng yuda.

Mangkya gantya kacarita, remening prang bratayuda, anulya ana suwara lamat-lamat kapiyarsa, surasa asung wasita, wiyose kadya mangkana, e kulup sira sang pasta, poma 

(74) ngger dipun prayitna, panarik sendaling gada, maju miwah undurira, papane lunyu sedaya wus tan kena tinulaka, wit iluning barunastra, saya dres panyemburnya, dene nemu lumaksana, lamun lena pasti ina, yen kepleset ansahira, rebabe nindihi gada, katikel dadya rubeda ing jro aran roga brata, pileg ing kadadeyanya, adate ingkang mangkana, benjang maning lamun yuda, tumus mahanani roge, tumular mring pasti baga, yen iku tan sinucekena, ing sawusing pancakara, manawa pasta purusa kataman ing roga jaba, ubengan ing aranira. Kang iku den engetana, tembe sakaro tan kena, yen maning mangsah angayuda, kalamun durung nirmala, kudu temen tinumana, waluya sakalihira, mangka ujaring salaka, yen priya anandang raga, kaprenah jro pasti boga, lamun harsa 

(75) mangsah yuda, yoga rumuhun seniya, prelu nurutna memala, murih ajwa tumular, mring wanodya mengsahira, lan kulup sira weruha, adat wataking wanodya, yen wus ngedalaken tirta, kang kadi yiyiting mina, gumringinge saya harda, mempeng dereng ngireng prasa, kawistara sarabira, kiyat kiyeng saliranya, sawanda kejeng sedaya, dene lamun wus mangkana, sira darbeya sedya, tetulung mring mengsahira, tumraping asmara tantra, tan liya amung wisaya, solahing pasta purusa, sinengkakna pamukira, tempuh pamukuling gadha, kang ajeg lan den kerepna, kalawan dipun waspada, amawasa ing sasmita, adat wantuning wanita yen wus liwung pamuhira, nulya agawe lelewa, pratingkah solah ing angga, wit saking kirang prasaja, sejatine karsanira, biyantu solahing pasta, kinen nuju amrenakna, mring dununging prasanira, kang supaya tinrajanga, 

(76) sinenggol pucuking pasta, ing kono dipun turuta, sakarsanireng wanodya, yen pinareng datan lama, wanita amudar prasa, yekti ana wataranya, gara-gara jroning baga, anyendhol pucuking pasta, iku saka kira-kiram laraping reca gupala, kabukaning kang wiwara, jenenging Hyang Kamajaya, aliya tandha mangkana, kang sayekti kawistara, kawawas sawarnanira, ing hangga sakojur wanda, angler kaoncatan yitma, lesu ngalumpruk marlupa, kadi-kadi tan kuwawa, anyandhang enaking rahsa, sesambate melas arsa, karya trenyuh ing wardaya.”

Yen tan menggah tetakeran, panimbang mendhet saking tepa, pamawas wujuding warni, panuja kaleganing wanita ingkang makaten wau, kados-kados sampun nyekapi, pratandha dene sang wanita sampun kapanduking marlupa sariranira, ewa semanten sarehning tetakeraning 

(77) panggalih manungsa punika beda-beda, wonten ingkang sanget karsa, wonten ingkang amung sawatawis, trekadangan asring wonten priya ingkang muda tama, tegesipun priya ingkang taksih katabetan lare, tuwin busuk tumandukipun amung kangge memainan, nalar ingkang makaten punika, mboten kenging dinugi, amung gumantung wonten seneng lan keparingipun priya piyambak, wondene menggah patrap salebitipun sanggama wau, priya kedah mawas ulat lirining wanita punapa dene saliranipun piyambak, yen sampun kapanduking panggalih : lega, carem, tuwin marem sesaminipun upami tiyang nenedha, karaos sampun tuwuk, duk wau sang wanita amudhar prasa, priya anyarengana sami wedalipun, dene manawi panggalihing priya taksih kapanduking raos cuwa, utawi gela, jalaran saking 

(78) kirang lega, punika pamudar ing prasa priya sampun anyarengi, nanging menggah leksananing patrap ingkang mekaten wau, priya asring kapanduk ing raos kadi kalayu pamudharing prasa punika dipun gantosa ing pamaretipun. Dene anggenipun kesesa wau awit kadereng wiyosipun Hyang Kamajaya, punika tinulaka dening japa mantra, kados ing nngadhap punika :

Kedah manggen wonten gajeging gela, sampun kadamel lega, prasaning rahsa badeh rasa kawudhara, ing riku wujuding wisaya, sang pasta purusa kedah kakendelaken rumiyin dumunung wonten sajawi, utawi salebeting wiwara punika gumantung wonten seneng lan pinareng ing kalih-kalihipun, sarehning sang wanita duk wau wus saweg kaleson sayah denira panca kara, priya darbeya sedya jangkah tindak utami tetulung dumateng mengsah, paring usada mrih 

(79) waluya kasrakat ing salira denya ketiban gada, punika usadanipun kedah tinuju ing prana (ati), dene lelantaran tumandukipun wau kalayan angagema sarana kados ing ngandhap punika :

Dingin tembung manuhara, manis sedheping wicara, lelewa solahing angga, lan kedap liringing netya, tuwin den biyantono, ing solah ukeling pasta, agugah kerining prahsa, kedah sareh tindakira, datan kena daya-daya, bok manawa pinarengna, usada saged tumama, tumanduk marang ing prana (ati), suka giranging driya, sumarambah ing sarira, nirmala temah waluya, ngadeg malih kasarangnya, tandangira lir raksasa, kadi arsa amemangsa, kang priya tanggap prayitna, ing solah datan prabeda, kedah nuju ing prasa, kadi duk wau bebuka, klawan priya engeta, wewadine sang wanita, darbe aji suksmayana, 

(80) dumunung thelenging baga, yeka kang krasa, anyendol pucuking pasta, lamun harsa mungkasana, kono kerep den godan, ing adate datan lama, raksasa nulya palastra.makaten ing salajengipun ngantos kaping pinten rambahan, dene manawi dampun kraos marem ing panggalih, yen wanita amudar prasa, priya kedah nyarengana sami wedalipun, mbok manawi inggih punika ingkang binasakaken priya widagda nuju prasa, tuwin undagi ing asmaragama, wondene enggal lan danguning wanci nalika prang bratayuda wau, punika boten kenging dinugi, muhung gumantung wonten seneng lan peparengipun piyambak-piyambak.”

Juru Patanya :

“Elo, boten nyana, yen dangu-dangu kisanak lucu, kok sampuna kula sumerep rumiyin wiwitaning rembag, bab asmaragama sarta ing ngandhap sampun mawi anyebutaken yen 

(81) wanita amudar prasa, priya kedah tanggap anyarenggana, kula meh pangling boten sumerep pisan-pisan seg, kula wastani sampeyan wau anyariyosaken serat wiwaha, perangipun Prabu Nuwatakawaca, dene teka mawi anyebutaken lir buta mangsa daging satra darbe aji sukmanyana.”

Sang Murwenggita :

“Sampun klentu panampi, tembung makaten wau gagasaning manah kula piyambak, dene kok pejah gesangipun boten prabeda sami dumunung wonten ing lak-lakan.”

Juru Patanya :

“Leres kisanak, boten aprabeda sami dumunung wonten ing cetak, kaot ngandhap kaliyan nginggil, kula sampun midangetaken cariyos gagasan sampeyan bab asmaragama kasebut ing inggil wau saking pamanggihing manah kula inggih sampun ajeng sanget, kados-kados 

(82) panguja kalenganing wanita samanten wau inggih sampun anyekapi katandha saking saliranipun sampun kapanduk ing marlupa, kados saupami kasengkakaken malih langkung saking punika anggenipun panca barkah, bok manawi lajeng kataman rubeda sesirikaning busana temah akarya roganing hangga. Ananging kula mangke ngengetaken, duk wau pratelan rumeksaning pawestri sampeyan sampun nyebutaken, suraosing serat Paniti Sastra nyebutaken awit saking pangandikanipun Maha Prabu Widayaka (Ajisaka), sadaya pakareman tuwin ing atasing asmaragama satunggal janma pawestri sesaminipun kaliyan priya wolu, punapa malih pangandikanipun Wara Dewi Drupadi, boten wonten wanodya tuwuk ing kakung, wasana tumraping asmaragama wau daya kekuwataning wanita kenging binsakaken mung sapele, teka boten pisan pisan tumimbang kekuwataning 

(83) priya, duk wau nalika saweg sapisan warninipun sang wanita kados sampun kapanduking raos lega, carem, utawi marem, katandha saking marlupaning sarira, dene ingkang rambah kaping kalih purunipun tumindak malih jalaran saking kapeksa, kataman usada saking panembranganing priya, sarehning rumaos dunungipun wanita punika kawenang kapurba lan kawisesa dening pangwasaning priya, mangka ing laksananipun bebasan tumindak kaliyan tanpa banda, saestunipun sang wanita datan lena tan ketang kataman rubeda, inggih lajeng lumaksana, suwawi kisanak kagaliha geseh sulayaning suraos, ingkang makaten wau kados pundi katrangipun?.”

Sang Murwenggita :

“Inggih leres kisanak wonten sulayanipun, ananging teka leres kemawon, punapa gunanipun pinarsudi yen boten makatena. Menggah tetukulaning manah panggagas kula ingkang 

(84) samanten wau, tetimbanganing utawi pipiridan mendhet saking kekiyasaning suraos, wonten wicaraning sujanma wanita ingkang sampun yayah ing priya, inggih punika pawestri ingkang sampun yayah sinanggama ing kakung, kacariyos menggah carem tuwin marem leganing manah sarta sakecaning raos yen nuju anglampahi sinanggama ing kakung, punika boten awit saking gora lan antering pasta tuwin danguning wanci namung kumedah sageda kaprenah alelawanan akaliyan priya ingkang undagi ing asmaragama, sarta waskita anuju prasa.

Karana yen punuju kaprenah sinanggamadening priya ingkang cubluk, mangka gora antaraning pasta tambah danguning – wanci, punika lajeng kapanduk ing raos boten sakeca, wewijanganipun makaten : gora antaraning pasta andamel sebab, antaraning pasta temahan damel sakit tumrap dhateng raosing baga, danguning wanci damel raos pegel 

(85) tuwin kanyel, tumraping manah, dene yen kaprenah lelawanan kaliyan priya ingkang cubluk mangka nuju alit lan celaking pasta tambah enggaling wanci, punika lajeng kapanduk ing raos congah, cela, cuwa, gela, kemba, ewa menggah wicaraning janma wanita ingkang makaten wau, kangge minangka saksi lajeng katimbang malih, kadosta : gora antaraning pasta tuwin danguning wanci sesaminipun, upami kadi sujanma buktii, kekathahen ngantos keladuking taker, saestunipun inggih badhe kapanduk ing raos sakit tumraping saliranipun, upami kadi sujanma nendra ngantos kelanturing wanci, saestunipun inggih badhe kapanduk lesu, lungkrah, lesah, tumraping saliranipun, dene yen alit celaking pasta enggaling wanci sesaminipun, kadi sujanma ambukti utawi nendra kirang saking taker, saestunipun 

(86) inggih lajeng kapanduk ing raos congah, cela, cuwa, gela, kemba, mbok manawi raosing wanita ing atasing bab asmaragama wau inggih boten aprabeda.”

Yen tan menggah bebakunipun ingkang prelu patrap tuwin solah ing asmaragama, ing atasing priya kedah santosa, pamenggah wiyosing Hyang Kamajaya, tuwin kedaha widagda lan waskita, nuju prasaning wanita. Wondening empan lan mapanipun makaten : ingkang rumiyin tumrap dhateng bedanipun piyambak, kedah nyerahaken saniskara tuwin angadem-adema angkara dhatenging driya, pikantukipun boten adamel kaget ing para  jawata wekasan katarima, saged kuwawa menggah kasesaning wiyosing Sanghyang Kamajaya, temahan badhe saged kadugen ing sakarsa-karsanira. Ingkang kaping kalih : kedah nggegasah tuwin 

(87) nyenyongah dhateng angkara serenging driya, lajeng cumepak dunung enggen kahyanganing Sang Hyang Kamajaya, utawi Hyang Asmara, sayekti datan lama wiyosira amudar prasa.”

Juru Patanya :

“Mangke ta kisanak, anggen sampeyan ngiyas bakunipun ingkang prelu bab asmaragama, tumraping priya kedah nyarehaken saniskara, lan gegasah dhateng hawa angkaraning wanita makaten wau wewatonipun mendet saking punapa?.”

Sang Murwenggita :

“Menggah tetukulaning panggagas, ingkang makaten wau inggih medet saking murad maksuding cariyos kula, bab asmaragama kasebut ing inggil wau, dene yen sampeyan kirang pitados kenging kanyatakaken, saupami wonten sujanma priya nyanggama sanget harda kaserenging driya ing tindak tanduk kaliyan daya-daya, ing adatipun asring boten saged lama wiyosing 

(88) kama amudhar prasa. Dene kasok wangsulipun yen wanita sinanggama pinuju boten rena wus sepen nir harda serenging driya, kinten-kinten sandyan kinrubuta dening priya lan sepinten danguning wanci, mbok manawi amung dadosaken raganing baga tan saged amudar prasa.

Wondene ingkang kasebut saking pangandikanipun Maha Prabu Widayaka tuwin Wara Drupadi wau, saking kinten-kintening manah kula mbok manawi tembung dedamelanipun pra sujanma, saking karsanipun pamacakipun tembung wau amung kinarya pasemon, ngerang-ngerang tumrap dhateng para sujanma ingkang cubluk ing manah tuwin cekak cupeting pambudi, pikajenganipun supados amarsudiya dhateng saolah kridaning aji asmara (utawi jampi yasaning Batara), awit menggah musthikaning rahsa mulya jenaking Hyang Kamajaya, ingkang piningit dumunung satelenging baga punika, tangeh sanget yen kenginga 

(89) tinarik saking bodho bundu budening manah, kajawi amung gumantung wonten wasisi lan undagining priya, kanti katariman wahyaning mangsa kala saged binuka saking pranawaning rahsa kang sampurna, dene pumurihing para sujanma, pamarsudining kawruh ingkang makaten wau, awit aji asmara punika kangge sarana lelantaran anggenipun badhe nyumerepi dhateng asal wijinira manungsa sejati, karana ingkang kasebut tembung paribasan makaten : sinten manungsa ingkang boten uninga dhateng sejati asal wijilira, sayektine inggih datan uninga dhateng sejati paraning sedya, kacariyos ing tembe inggih badhe kirang sampurna ing kamuksanira, pae ingkang sampun angudaneni ing purwa madya wasananing sarira, wekasan sirna uwas sumelanging driya, tetep jumeneng manungsa jati kang sampurna.

Berlanjut Ke :
Sistem nilai budaya dan ajaran seks dalam Serat Nitimani 
(Syech SITI JENAR) (P#2 Pupuh VII - XVII).................KLIK DISINI......

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...