primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Sabtu, 22 Februari 2014

Maulana Yusuf / SULTAN MAULANA YUSUF "WALISONGO" Periodesasi ke-7 (1546- 1591 M)

Tapak Jejak Walisongo "Periodesasi ke-7 (1546- 1591 M)" 

Maulana Yusuf / SULTAN MAULANA YUSUF "WALISONGO" Periodesasi ke-7 (1546- 1591 M)

Tapak Jejak Walisongo "Periodesasi ke-7 (1546- 1591 M)" 
  1. Syaikh Abdul Qahhar (wafat 1599),
  2. Sunan Prapen yang tahun 1570 menggantikan Raden Zainal Abidin Sunan Demak,
  3. Sunan Prawoto yang tahun 1546 menggantikan ayahnya Sultan Trenggana,
  4. Maulana Yusuf cucu Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1573 menggantikan pamannya Fathullah Khan,
  5. Sayyid Amir Hasan,
  6. Maulana Hasanuddin yang pada tahun 1569 menggantikan ayahnya Sunan Gunung Jati,
  7. Sunan Mojoagung yang tahun 1570 menggantikan Sunan Lamongan,
  8. Sunan Cendana yang tahun 1570 menggantikan kakeknya Sunan Pakuan, dan
  9. Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos) anak Sayyid Amir Hasan yang tahun 1551 menggantikan kakek dari pihak ibunya yaitu Sunan Muria.
Maulana Yusuf / SULTAN MAULANA YUSUF 
cucu Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1573 menggantikan pamannya Fathullah Khan,
SULTAN MAULANA YUSUF / Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan
Lahir : Kasemen, Serang, Banten 
Cucu dari : Sultan Maulana Hasanuddin bin Syekh Maulana Syarif Hidayatulloh bin Syarif Abdullah Umdatuddin / Sunan Gunung Jati
Menggantikan: Syekh Maulana Fadhilah Khan Al-Pasee /  Fathullah Khan
Daerah da’wah: Jawa Barat dan Jawa Tengah, Wafat : 1580 M 
Makam : Pekalangan Gede, Kasemen, Serang, Banten

Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan merupakan putra dari Maulana Hasanuddin pendiri Kesultanan Banten. Ia melanjutkan kekuasaan bapaknya di Banten dalam rentang waktu 1570 - 1585.
Berdasarkan Sejarah Banten, setelah Maulana Hasanuddin meninggal pada tahun 1570, Maulana Yusuf naik tahta, kemudian melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda, dengan menaklukan Pakuan Pajajaran pada tahun 1579

Peristiwa menjelang wafatnya Maulana Yusuf
Ketika Maulana Yusuf sakit keras, datanglah Pangeran Aria Jepara dengan membawa pasukan besar ke Banten dengan maksud untuk menjeguk. Pangeran Aria Jepara dengan pasukannya yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana, kemudian ditempatkan di Pagebangan di luar tembok batas kota. Pangeran Jepara adalah adik dari Maulana Yusuf yang pendidikannya diserahkan kepada bibinya Ratu Kalinyamat di Jepara.

Mendengar wafatnya Maulana Yusuf yang kemudian digantikan Pangeran Muhammad yang masih kecil itu, timbullah niat Pangeran Aria untuk menjadi pengganti Raja Banten. Keinginan ini mendapat sambutan baik dari Patih Mangkubumi yang semenjak Sultan sakit memegang kendali pemerintahan. Melihat keadaan demikian, Kadhi (hakim), Senapati Pontang, Dipati Jayanegara, Ki Waduaji dan Ki Wijamanggala yang ditunjuk sebagai Wali Sultan, mengirim surat kepada Mangkubumi supaya Mangkubumi tetap setia kepada raja yang baru saja mangkat.

Sindiran halus ini dapat dipahami oleh Mangkubumi, sehingga diadakanlah rapat di antara pembesar-pembesar istana tanpa diketahui Pangeran Aria Japara. Akhirnya disetujuilah usul supaya Pangeran Muhammad tetap diangkat menjadi Raja, sedangkan roda pemerintahan untuk sementara tetap ditangani oleh Patih Mangkubumi sampai Putra Mahkota dewasa.

Diaturlah cara menyampaian berita itu kepada Pangeran Japara agar tidak terjadi pertumpahan darah diantara para saudara sepupu yang akan menambah kedukaan rakyat Banten. Mangkubumi pergi dengan membawa seekor gajah kerajaan menemui Pangeran Japara di luar kota, dan minta supaya Pangeran menaiki gajah tersebut dengan memakai pakaian kebesaran lengkap ke keraton, seolah-olah memang usul Pangeran Japara diterima rakyat.

Dengan diapit oleh Mangkubumi dan Ki Demang Laksamana, Pangeran Japara dan pasukannya beriringan pergi ke keraton. Sampai di tepi sungai di luar tembok benteng keraton, sebelum darpalagi, Mangkubumi memberi aba-aba untuk berhenti. Di seberang sungai, di bawah atap srimanganti, yaitu gerbang di luar istana, sudah menanti Putra Mahkota yang duduk dalam pangkuan Kadhi dikelilingi para ponggawa dan para menteri kerajaan dengan pasukan Banten yang cukup kuat. Selanjutnya, Mangkubumi menyeberangi sungai sendirian, untuk kemudian menyiagakan pasukan Banten supaya waspada apabila terjadi yang tidak dikehendaki.

Setelah persiapan beres, Mangkubumi kembali menemui Pangeran Jepara, dan mengatakan bahwa ia diperintahkan Putra Mahkota untuk menghalang-halangi Pangeran Jepara dan rombongan menyeberangi sungai, dan dengan segala hormat minta supaya Pangeran segera meninggalkan Banten dengan kapal-kapal yang telah disediakan.

Mengetahui muslihat Mangkubumi itu, marahlah Pangeran Jepara dan memerintahkan pasukannya untuk menyerbu keraton. Maka terjadilah pertempuran hebat di luar benteng istana. Dalam pertempuran itu Ki Demang Laksamana tewas di tangan Mangkubumi sehingga akhirnya pasukan Pangeran Aria Japara melarikan diri kembali ke Jepara. Setelah kejadian tersebut dinobatkanlah Pangeran Muhammad menjadi Raja Banten ke-3 dengan gelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan. Kadhi menyerahkan perwaliannya kepada Mangkubumi (Djajadiningrat, 1983: 39-41).
Makam Sultan Maulana Yusuf 
Makam : Pekalangan Gede, Kasemen, Serang, Banten
Suasana Komplek Makam Sultan Maulana Yusuf yang menjadi tempat perjiarahan orang untuk meminta keselamatan di Kasuyatan, Kasemen, Kota Serang, Banten, Dulunya tempat ini menjadi penjiarahan para jawara atau pendekar sebelum maju perang. 
MASJID PENINGGALAN Maulana Yusuf / SULTAN MAULANA YUSUF
Masjid Kenari Kasunyatan
Masjid ini terletak di Kampung Kenari kecamatan Kasemen,Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Masjid Kenari bisa ditempuh dengan jarak, 6 km dari Kota Serang atau sekitar 3 km dari Mesjid Agung Banten.
Detail Bangunan Masjid Kenari Kasunyatan adalah sebuah nama perkampungan selatan.

Kira-kira 50 m dari keraton Kaibon dari beberapa hasil penelitian masjid Kasunyatan diperkirakan berdiri antara tahun 1552 – 1570 yakni masa pemerintahan Maulana Yusuf bekerja sama dengan tokoh masyarakat (ulama) yang sangat berperan pada masa itu yaitu Syekh Abdul Syukur. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya makam beliau didalam cungkup di kompleks mesjid, yang oleh masyarakat setempat sangat dihormati dan dikeramatkan.
Masjid Kasunyatan ini pernah di pugar pada tahun 1932 oleh Bupati Serang pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang bernama RTA Soerianata Adnadja. Bentuk gapura ini dibentuk dari batu bata yang ditumpuk sedemikin rupa dengan memakai semacam perekat khusus sehingga gapura tersebut sangat kuat dan mempesona. Di utara masjid terdapat komplek pemakaman Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir Sultan Banten keempat, Sultan Abdul Mauli Achmad dan beberapa makam para pahlawan Islam Banten. Sampai sekarang keadaan masjid tetap terpelihara.
MASJID KASUNYATAN
Masjid Kasunyatan letaknya di Jl. Raya Pelabuhan Karangantu Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen Kabupaten Serang sekitar 2 km sebelah selatan Masjid Agung Banten atau sekitar 7 km dari kota Serang.

Masjid ini berada diatas tanah seluas kurang lebih 2544 m2 persegi.

Komplek masjid ini dibatasi tembok sekelilingnya yang mempunyai tiga buah gapura yang terletak di sisi barat, selatan dan timur. Gapura disebelah barat merupakan pintu masuk kehalaman makam sisi utara dan sekaligus sebagai pembatas dengan makam dihalaman timur. Bangunan utama masjid kasunyatan ini terletak ditengah-tengah komplek berbentuk persegi empat dengan ukuran 11,30 X 11,50 m dan menghadap ke selatan dengan atap berbentuk tumpang tiga terbuat dari genteng dengan hiasan mamolo pada puncaknya.

Mihrab tempat imam memimpin shalat terletak di sisi barat menjorok keluar berbentuk bilik tanpa jendela berukuran 163 X 88 cm dengan tinggi 177 cm pada kiri kanan mihrab terdapat masing-masing dua buah tiang semua dengan tinggi 181 cm, lebar 24 cm dan tebal 8 cm. Mimbar terletak didepan mihrab agak disamping kiri, menghadap ke timur, mimbar terbuat dari kayu berbentuk kursi, berukuran panjang 260 cm, lebar 92 cm dan tinggi 240 cm mempunyai tiang penyangga sebanyak empat buah.

Pada sisi utara, timur dan selatan ruang utama terdapat serambi. Denah ruang serambi utara berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 11,5 X 6 m, lantainya terbuat dari tegel berwarna putih ruangan serambi ini mempunyai empat buah pintu, dua pintu pada sisi selatan yang menghubungkan pada serambi ini dengan ruang utama, dan dua buah lagi berada di sisi utara. 

Pada sisi barat daya terdapat menara berukuran 3,10 X 3 m, tinggi 10,84 m mempunyai tiga tingkat, sejajar dengan lantai pertama terdapat sebuah ruangan yang menghubungkan menara dengan serambi utara. Ruang tingkat pertama menara berukuran 2,60 X 2,45 m, tingkat sampai pelapon 2,90 m. Didalam ruang ini terdapat sebuah tangga naik ketingkat dua. Badan menara terdiri dari dua tingkat yaitu tingkat kedua dan tingkat ke tiga lantai kedua menara berukuran 2,60 X 2,50 m tinggi sampai pelapon 2,80 m. Selain menara terdapat juga kolam, kolam masjid Kasunyatan terletak di barat laut, berdenah empat persegi dengan ukuran 7,3 X 6,1 m. Bagian tengah setiap sisinya dibentuk menjadi keluar, pada tempat yang menjorok ini terdapat tangga untuk ke kolam. Di dalam komplek masjid ini dapat terdapat beberapa makam diantaranya makam Syekh Abdul Syukur yaitu salah satu tokoh masyarakat atau ulama yang sangat berperan pada masanya.
Bagaimana Sejarah Mesjid Kasunyatan.? 
Kasunyatan adalah sebuah nama perkampungan selatan. Kira-kira 50 m dari keraton Kaibon dari beberapa hasil penelitian masjid Kasunyatan diperkirakan berdiri antara tahun 1552 – 1570 yakni masa pemerintahan Maulana Yusuf bekerja sama dengan tokoh masyarakat (ulama) yang sangat berperan pada masa itu yaitu Syekh Abdul Syukur. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya makam beliau didalam cungkup di kompleks mesjid, yang oleh masyarakat setempat sangat dihormati dan dikeramatkan. Masjid Kasunyatan ini pernah di pugar pada tahun 1932 oleh Bupati Serang pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang bernama RTA Soerianata Adnadja.
SILSILAH KESULTANAN BANTEN
Tawasul silsilah merupakan salah cara untuk mempermudah mendapat keilmuan sejarah, untuk kita semua.

Nabi Muhammad SAW

Fatimah Az-Zahra
Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad
Al-Imam Sayyidina Hussain
Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
Sayyid Muhammad An-Naqib bin
Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
Ahmad al-Muhajir bin
Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
Sayyid Alawi Awwal bin
Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin
Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan @ ‘Ali Nurul ‘Alam
Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin
Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan
SYARIF HIDAYATULLAH – SUNAN GUNUNG JATI berputera :

Ratu Ayu Pembayun
Pangeran Pasarean
Pangeran Jaya Lelana
Maulana Hasanuddin
Pangeran Bratakelana
Ratu Wianon
Pangeran Turusmi
PANGERAN HASANUDDIN – PANEMBAHAN SUROSOWAN (1552-1570) berputera :

Ratu Pembayun
Pangeran Yusuf
Pangeran Arya Japara
Pangeran Suniararas
Pangeran Pajajara
Pangeran Pringgalaya
Pangeran Sabrang Lor
Ratu Keben
Ratu Terpenter
Ratu Biru
Ratu Ayu Arsanengah
Pangeran Pajajaran Wado
Tumenggung Wilatikta
Ratu Ayu Kamudarage
Pangeran Sabrang Wetan
MAULANA YUSUF PANEMBAHAN PAKALANGAN GEDE (1570-1580) berputra :

Pangeran Arya Upapati
Pangeran Arya Adikara
Pangeran Arya Mandalika
Pangeran Arya Ranamanggala
Pangeran Arya Seminingrat
Ratu Demang
Ratu Pecatanda
Ratu Rangga
Ratu Ayu Wiyos
Ratu Manis
Pangeran Manduraraja
Pangeran Widara
Ratu Belimbing
Maulana Muhammad
MAULANA MUHAMMAD PANGERAN RATU ING BANTEN (1580-1596) berputra :

Pangeran Abdul Kadir
SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD ‘ABDUL KADIR KENARI (1596-1651) berputra :

Sultan ‘Abdul Maali Ahmad Kenari (Putra Mahkota)
Ratu Dewi
Ratu Ayu
Pangeran Arya Banten
Ratu Mirah
Pangeran Sudamanggala
Pangeran Ranamanggala
Ratu Belimbing
Ratu Gedong
Pangeran Arya Maduraja
Pangeran Kidul
Ratu Dalem
Ratu Lor
Pangeran Seminingrat
Ratu Kidul
Pangeran Arya Wiratmaka
Pangeran Arya Danuwangsa
Pangeran Arya Prabangsa
Pangeran Arya Wirasuta
Ratu Gading
Ratu Pandan
Pangeran Wirasmara
Ratu Sandi
Pangeran Arya Jayaningrat
Ratu Citra
Pangeran Arya Adiwangsa
Pangeran Arya Sutakusuma
Pangeran Arya Jayasantika
Ratu Hafsah
Ratu Pojok
Ratu Pacar
Ratu Bangsal
Ratu Salamah
Ratu Ratmala
Ratu Hasanah
Ratu Husaerah
Ratu Kelumpuk
Ratu Jiput
Ratu Wuragil
PUTRA MAHKOTA SULTAN ‘ABDUL MA’ALI AHMAD, berputera:

Abul Fath Abdul Fattah
Ratu Panenggak
Ratu Nengah
Pangeran Arya Elor
Ratu Wijil
Ratu Puspita
Pangeran Arya Ewaraja
Pangeran Arya Kidul
Ratu Tinumpuk
Ratu Inten
Pangeran Arya Dipanegara
Pangeran Arya Ardikusuma
Pangeran Arya Kulon
Pangeran Arya Wetan
Ratu Ayu Ingalengkadipura
SULTAN AGENG TIRTAYASA -’ABUL FATH ‘ABDUL FATTAH (1651-1672) berputra :

Sultan Haji
Pangeran Arya ‘abdul ‘Alim
Pangeran Arya Ingayudadipura
Pangeran Arya Purbaya
Pangeran Sugiri
Tubagus Rajasuta
Tubagus Rajaputra
Tubagus Husaen
Raden Mandaraka
Raden Saleh
Raden Rum
Raden Mesir
Raden Muhammad
Raden Muhsin
Tubagus Wetan
Tubagus Muhammad ‘Athif
Tubagus Abdul
Ratu Raja Mirah
Ratu Ayu
Ratu Kidul
Ratu Marta
Ratu Adi
Ratu Ummu
Ratu Hadijah
Ratu Habibah
Ratu Fatimah
Ratu Asyiqoh
Ratu Nasibah
Tubagus Kulon
SULTAN ABU NASR ABDUL KAHHAR – SULTAN HAJI (1672-1687) berputra :

Sultan Abdul Fadhl
Sultan Abul Mahasin
Pangeran Muhammad Thahir
Pangeran Fadhludin
Pangeran Ja’farrudin
Ratu Muhammad Alim
Ratu Rohimah
Ratu Hamimah
Pangeran Ksatrian
Ratu Mumbay (Ratu Bombay)
SULTAN ABUDUL FADHL (1687-1690) berputra :
- Tidak Memiliki Putera

SULTAN ABUL MAHASIN ZAINUL ABIDIN (1690-1733 ) berputra :

Sultan Muhammad Syifa
Sultan Muhammad Wasi’
Pangeran Yusuf
Pangeran Muhammad Shaleh
Ratu Samiyah
Ratu Komariyah
Pangeran Tumenggung
Pangeran Ardikusuma
Pangeran Anom Mohammad Nuh
Ratu Fatimah Putra
Ratu Badriyah
Pangeran Manduranagara
Pangeran Jaya Sentika
Ratu Jabariyah
Pangeran Abu Hassan
Pangeran Dipati Banten
Pangeran Ariya
Raden Nasut
Raden Maksaruddin
Pangeran Dipakusuma
Ratu Afifah
Ratu Siti Adirah
Ratu Safiqoh
Tubagus Wirakusuma
Tubagus Abdurrahman
Tubagus Mahaim
Raden Rauf
Tubagus Abdul Jalal
Ratu Hayati
Ratu Muhibbah
Raden Putera
Ratu Halimah
Tubagus Sahib
Ratu Sa’idah
Ratu Satijah
Ratu ‘Adawiyah
Tubagus Syarifuddin
Ratu ‘Afiyah Ratnaningrat
Tubagus Jamil
Tubagus Sa’jan
Tubagus Haji
Ratu Thoyibah
Ratu Khairiyah Kumudaningrat
Pangeran Rajaningrat
Tubagus Jahidi
Tubagus Abdul Aziz
Pangeran Rajasantika
Tubagus Kalamudin
Ratu Siti Sa’ban Kusumaningrat
Tubagus Abunasir
Raden Darmakusuma
Raden Hamid
Ratu Sifah
Ratu Minah
Ratu ‘Azizah
Ratu Sehah
Ratu Suba/Ruba
Tubagus Muhammad Said (Pg. Natabaya)
SULTAN MUHAMMAD SYIFA’ ZAINUL ARIFIN (1733-1750) berputra :

Sultan Muhammad ‘Arif
Ratu Ayu
Tubagus Hasannudin
Raden Raja Pangeran Rajasantika
Pangeran Muhammad Rajasantika
Ratu ‘Afiyah
Ratu Sa’diyah
Ratu Halimah
Tubagus Abu Khaer
Ratu Hayati
Tubagus Muhammad Shaleh
SULTAN SYARIFUDDIN ARTU WAKIL (1750-1752 )
- Tidak Berputera

SULTAN MUHAMMAD WASI’ ZAINUL ‘ALIMIN (1752-1753)
- Tidak Berputera

SULTAN MUHAMMAD ‘ARIF ZAINUL ASYIKIN (1753-1773) berputra :

Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin
Sultan Muhyiddin Zainusholiohin
Pangeran Manggala
Pangeran Suralaya
Pangeran Suramanggala
SULTAN ABUL MAFAKHIR MUHAMMAD ALIYUDDIN (1773-1799) berputra :

Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin
Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II)
Pangeran Darma
Pangeran Muhammad Abbas
Pangeran Musa
Pangeran Yali
Pangeran Ahmad
SULTAN MUHYIDDIN ZAINUSHOLIHIN (1799-1801) berputra :

Sultan Muhammad Shafiuddin
Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II) (1803-1808)
Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

SEJARAH KEBUYUTAN BANTEN

PRABU DEWARATU PULO PANAITAN
PRABU LANGLANG BUANA GUNUNG LOR PULASARI
PRABU MUNDING KALANGON PUNCAK MANIK GUNUNG LOR PULASARI
PRABU SEDASAKTI TAJO POJOK
PRABU MANDITI GUNUNG KARANG
PRABU BANGKALENG CANGKANG
NYAIMAS RATU WIDARA PUTIH SERAM TENGAH LAUTAN
NYAIMAS DJONG
KYAI AGUS DJU
INDRA KUMALA GUNUNG KARANG PEPITU PAKUAN
MANIK KUMALA SUNGAI CIUJUNG
SEJARAH PERGURUAN PARA WALI TANAH BANTEN

SYEIKH MUHAMMAD SHOLEH GUNUNG SANTRI CILEGON
SYEIKH MUHAMMAD SHIHIB TAGAL PAPA MENGGER
SYEIKH ABDUL RO ’UF PARAJAGATI CINGENGE
SYEIKH ABDUL GHANI MENES
SYEIKH MAHDI CARINGIN LABUAN
SYEIKH ABDURROHMAN ASNAWI CARINGIN LABUAN
SYEIKH WALI DAWUD CINGINDANG LABUAN
SYEIKH KIYAI MACHDUM ABDUL DJALIL KALIMAH BARRONI GUNUNG RAMA SUKOWATI LABUAN
SYEIKH CINDRAWULUNG GUNUNG SINDUR TANGERANG
SYEIKH HAJI KAISAN
SYEIKH HAJI SILAIMAN GUNUNG SINDUR
SYEIKH KANJENG KYAI DALEM MUSTOFA GUNUNG SINDUR
SYEIKH KYAI BAGUS ATIK SULAIMAN CHOLIQ SERPONG

///Sumber ; dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...