primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Jumat, 21 Februari 2014

Makam/Cungkup/Petilasan Sunan Muria (Raden Umar Said) dan Misteri "Kawasan Wisata Alam Colo Kudus"

Tapak Jejak dan PERIODESASI "WALI SONGO"   

Makam/Cungkup/Petilasan Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria yang tahun 1513 menggantikan ayahnya Sunan Kalijaga.
WALISONGO Periodesasi Periodesasi ke-5 (1513 – 1533 M)
Makam/Cungkup/Petilasan Sunan Muria (Raden Umar Said)
Makam Sunan Muria terletak di Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.
Berlokasikan di atas sebuah bukit. Sehingga para peziarah yang hendak berziarah harus menapaki anak tangga sejauh + 500 meter. Di kiri kanan anak tangga berderet kios para penjual makanan dan souvenir.

Bagi yang tidak kuat mendaki anak tangga bisa memilih jasa tukang ojek. Dengan jasa ini selain bisa menghemat energi, selama perjalanan kita akan disuguhi pemandangan yang menarik.
Untuk mencapai makam, ada beberapa cara, yaitu:
  • Jalan kaki, melalui berpuluh-puluh anak tangga, siapkan saja mental dan fisik untuk menempuh tangga dimana sepanjang kanan-kiri banyak pedagang, bila lelah bisa istirahat.
  • Ojek, banyak ojek siap mengantarkan sampai dengan makam.
Tata Tertib untuk ziarah di Makam Sunan Muria ini, yaitu:
  • Para Tamu dimohon agar:
  • Berperilaku dan berbusana sopan
  • Melepas dan membungkus sandal/sepatu demi kebersihan, kerapian dan keamanan
  • Mendaftar pada petugas pendaftaran
  • Menyampaikan amanat kepada petugas penerima amanat
Para Tamu dilarang:
  • Makan, minum, merokok di sepanjang jalur antrian masuk lokasi makam
  • Duduk-duduk/tiduran si sepanjang jalur antrian masuk
  • Menggunakan pengeras suara di lokasi makam
  • Membawa benda-benda berbahaya/mudah terbakar
Para Tamu bisa:
  • Berziarah masuk ke dalam cungkup Makam Sunan Muria hanya pada hari Kamis Wage s.d Jumat Kliwon dan Kamis Legi s.d Jumat Pahing. Selain hari-hari tersebut ziarah dilakukan di luar makam inti
  • Minta bantuan pengurus makam untuk memimpin tahlil/berdoa dan lain-lain
  • Membantu perawatan/pengelolaan Makam Sunan Muria dengan memasukkan amal/sumbangan ke dalam kotak amal yang tersedia. Untuk sumbangan/hal-hal khusus agar menghubungi petugas penerima amanat
  • Bermalam maksimal 2 hari/malam dengan menyerahkan kartu identitas ke kantor/petugas keamanan
  • Minta informasi di sekretariat Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria untuk hal-hal yang belum tercantum di sini

Lihat Peta Lokasi Makam Sunan Muria kudus t di peta yang lebih besar
gerbang pintu masuk pertama menuju makam sunan muria



Makam Sunan Muria adalah salah satu tujuan wisata ziarah di Kota Kudus, selain Makam Sunan Kudus di Masjid Menara Kudus. Makam Sunan Muria sangat ramai dikunjungi peziarah yang berasal dari berbagai daerah, terutama pada saat Upacara Buka Luwur yang diselenggarakan setiap tanggal 6 Muharam. Dalam Upacara Buka Luwur ini, para peziarah berusaha mendapatkan luwur (bekas kain penutup makam) yang  dipercaya dapat membawa keberuntungan.
Gubah Makam Kanjeng Sunan Muria, atau Syaikhuna Maulana Umar Sa’id bin Syaikhuna Maulana Sahid Abdurrahman. Beliau adalah putra Kanjeng Sunan Kali Jogo, Waliyullah yang masyhur di tanah Jawa pada kurun waktu tahun 1500 awal. Sungguh, bagi saya suatu pengalaman bathin yang luar biasa, ketika merasakan kesejukan hawa atmosfera alam Jabal Murwahnya tanah Jawa itu. Alam yang berdzikir lebih syahdu daripada dzikir makhluk.

Kawasan Wisata Alam Colo
Kabupaten Kudus – Jawa Tengah – Indonesia

A.  Selayang Pandang
Obyek wisata Colo merupakan kawasan wisata yang berada di Pegunungan Muria. Pegunungan Muria memiliki ketinggian sekitar 1.602 m dpl (di atas permukaan laut) dan merupakan kawasan dataran tinggi yang terdiri dari beberapa gunung atau bukit, antara lain: Gunung Argo Jembangan, Gunung Argo Ploso, Gunung Rahtawu, Bukit Pasar, dan Bukit Ringgit.


Obyek Wisata Colo Kudus terletak di sekitar 18 Km ke arah utara dari pusat kota Kudus, tepatnya di kawasan Pegunungan Muria, Desa Colo Kecamatan Dawe Kudus. Disini pengunjung dapat menikmati panorama alam yang indah dan udara yang sangat sejuk.
Nama colo sendiri diambil dari nama sebuah desa yang terletak di puncak Gunung Muria. Karena colo adalah nama yang konon diberikan secara langsung oleh Sunan Muria, maka nama inilah yang kemudian digunakan untuk menyebut kawasan wisata ini. Obyek wisata Colo merupakan sebuah kawasan yang memiliki beberapa obyek wisata yang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu obyek wisata religius dan obyek wisata alam.
B. Keistimewaan
Di kawasan obyek wisata Colo, pengunjung dapat menikmati panorama alam pegunungan yang indah dengan udara yang bersih dan sejuk. Selain itu, di kawasan obyek wisata ini juga terdapat beberapa tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Pertama, Makam Sunan Muria. Makam Sunan Muria (Syekh R. Umar Said, salah satu dari walisanga/wali sembilan) menyatu dengan Masjid Sunan Muria yang terletak di salah satu puncak Gunung Muria. Makam Sunan Muria dapat dicapai dengan berjalan kaki melewati sekitar 700 tangga dari pintu gerbang di dekat lokasi parkir mobil/bus.
Makam Sunan Muria adalah salah satu tujuan wisata ziarah di Kota Kudus, selain Makam Sunan Kudus di Masjid Menara Kudus. Makam Sunan Muria sangat ramai dikunjungi peziarah yang berasal dari berbagai daerah, terutama pada saat Upacara Buka Luwur yang diselenggarakan setiap tanggal 6 Muharam. Dalam Upacara Buka Luwur ini, para peziarah berusaha mendapatkan luwur (bekas kain penutup makam) yang  dipercaya dapat membawa keberuntungan.
 loket tempat karcis menuju montel
Kedua, Air Terjun Monthel. Dari Makam Sunan Muria, Air terjun dengan ketinggian sekitar 25 meter ini dapat dicapai dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Untuk mencapainya, pengunjung dapat menyusuri jalan setapak yang membelah hamparan kebun kopi—sambil menikmati kesejukan udara dan panorama alam pegunungan yang asri dan indah. Selain itu, sepanjang perjalanan pengunjung juga akan dihibur oleh alunan irama musik alam dari bunyi gemericik air terjun yang jatuh di bebatuan yang diselingi kicauan burung-burung dan bunyi-bunyian satwa liar khas pegunungan. Sesampainya di Air Terjun Monthel, pengunjung dapat mandi atau bermain air sepuasnya—sambil menikmati sejuk dan segarnya air yang bersumber dari Gunung Muria.
Air Terjun montel salah satu objek wisata andalan Kudus

"1km lagi" sambil membaca arah panah, jika anda sebelumnya berjalan dari arah air terjun monthel pasti akan menemukan papan seperti gambar disamping ketika telah berhasil melalui jalan yang cukup terjal. selanjutnya? 1km tersebut merupakan jalan yang telah rapi(di cor semen dengan lebar kira-kira 2 meter), namun tetap harus berhati-hati karena kondisinya curam.  
Ketiga, Wisata Alam Rejenu. Kawasan wisata alam (ecotourism) Di kawasan Eko Wisata Rejenu, pengunjung dapat menyaksikan dan mengamati berbagai jenis tumbuhan pegunungan. Selain menikmati panorama alam pegunungan, wisatawan juga dapat berkunjung ke obyek wisata lainnya yang berada di kawasan ini, antara lain:
Kawasan Wisata Alam Rejenu dengan ketinggian kurang lebih 1.150 M DPL, terletak dipegunungan Argo Jembangan Gunung Muria, berjarak kurang lebih 3 Km dari Pesanggrahan Colo. Masih banyak yang belum mengetahui kompleks ziarah ini, keadaan alamnya masih alami. Untuk mencapai lokasi, dari Desa Rejenu cukup jauh kurang lebih sekitar 3 km. Bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kendaraan bermotor roda dua. Banyak dimanfaatkan oleh para Alim Ulama atau santri Pondok Pesantren setempat setempat untuk beruzlah, menyepi dan memperoleh ketenangan bathin.

Kawasan Wisata Alam Rejenu berlokasi di Pegunungan Argo Jambangan sekitar 3 km dari Pesanggrahan Gunung Muria. Menurut cerita rakyat dari desa Rejenu, Syech Hasan Sadzali adalah seorang Ulama, Guru Besar Spiritual dari Wali Songo. Beliau berasal dari Negeri Seberang, Timur Tengah. Berkelana untuk sampai ke Tanah Jawa untuk syiar agama Islam.


Sebuah makam di sebelah utara makam Sunan Muria, di atas objek air terjun Montel. Tepatnya di Japan Utara yang dikenal dengan Rejenu yang berdasarkan astronomi berada di koordinat 6° 39′ 6″ LS 110° 54′ 10″ BT. Di sini terdapat sebuah makam yang banyak diziarahi orang. Orang mengenalnya sebagai makam Syeh Sadzali. Salah satu murid Sunan Muria yang disegani.
Makam Syekh Sadzali. Menurut masyarakat setempat, Syekh Sadzali adalah murid/santri Sunan Muria yang sangat setia mendampingi dan membantu Sunan Muria dalam menyebarluaskan agama Islam di sekitar lereng Gunung Muria. Oleh karena itu, Syekh Syadzali senantiasa dihormati oleh masyarakat dan makamnya tidak pernah sepi dari para peziarah.


Sejarah Syeh Sadzali masih penuh misteri. Pengurus Yayasan setempat sedang mengumpulkan data. Yang mereka yakini, Syeh itu salah satu murid Sunan Muria yang konon berasal dari Inegeri seberang, yang mengelana hingga ke tanah Jawa selepas menuntut ilmu Tasawwuf di Negeri Baghdad, Iraq. Beliau adalah Salah satu murid yang dikasihi karena pegang peranan penting ketika Sunan Muria mengadu kesaktian dengan Dampo Awang. Karena banyak yang iri kemudian tersisih atau disisihkan. Ada dugaan beliau menyingkir ke tempat dia dimakamkan sekarang ini di Rejenu.


Untuk mencapai makam ini memang tidak segampang bila ingin ziarah ke makam Sunan Muria. Kawasan ini boleh dikatakan belum tersentuh ”tangan” pembangunan yang menyediakan fasilitas kemudahan. Masih alami. Listrikpun belum tersedia. Walau sekarang jalan menuju tempat tersebut telah diperlebar dan dilapisi beton sehingga banyak tersedia jasa ojek (melalui rute desa Japan). Sedangkan bila melalui Air terjun Montel masih harus melewati jalan setapak.
Yang datang berziarah tidak hanya dari Kudus. Banyak yang berasal dari kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Sebagian lagi dari Palembang dan Kalimantan. Bahkan, dari Singapura dan Irlandia. Selain itu, ternyata masih ada beberapa objek lain yang berdekatan dengan makam Syeh Sadzli dan Air Tiga Rasa ini. 
Objek-objek itu antara lain : 

  • [1] Air terjun Langgar Bubrah. Cukup tinggi, tak kalah dengan air terjun Montel di Colo. Namun, jalan ke arah sana baru jalan setapak atau lewat aliran Sungai Rejenu. 
  • [2] Gua Jepang. 
  • [3] Petilasan / Cungkup Makam Syeh Subakir dan Ali Murtadho. Di sebelah atas melalui jalan setapak yang terjal. 
  • [4] Sendang Anglingdarmo. Selain itu, Rejenu (Makam Syeh Sadzli dan Air Tiga Rasa) merupakan pos pendakian terakhir bagi yang ingin mendaki ke Puncak Argowiloso maupun Argojembangan. Dua diantara beberapa puncak tertinggi Gunung Muria.


Dulu kami berjalan kaki dari Masjid Agung Demak Bintoro menuju Makam Kanjeng Sunan Kudus, kemudian melanjutkan perjalanan kaki hingga ke Alas Rejenu untuk berziarah ke Makam Kanjeng Syaikh Maulana Hasan asy-Syadzily dan beberapa tempat petilasan Wali Songo lainnya di sekitar Gunung Muria. Dan berlanjut ke atas Gunung Muria untuk berziarah ke Makam Kanjeng Sunan Muria melalui jalur Puncak Sanga Likur, sehingga kami sempat berziarah sebelumnya ke Makam Pangeran Kembar, serta beberapa Makam kerabat Kanjeng Sunan Muria lainnya.
Sumber Air Tiga Rasa. Di kawasan wisata Rejenu terdapat mata air yang memiliki tiga rasa, yaitu: rasa tawar-tawar masam yang bekhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, rasa yang mirip dengan minuman ringan bersoda yang bekhasiat menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup, dan rasa mirip minuman keras sejenis tuak/arak yang bekhasiat memperlancar rezeki.
Legenda Sumber Air Tiga Rasa
Tuk Tiga Rasa, atau sumber mata air tiga rasa, konon kisahnya dahulu bermula dari kedatangan Syaikh Sadzali atau Mbah Kasan Sadali sebutan masyarakat Muria untuk Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily ke Pesantren Kanjeng Sunan Muria pada masa Wali Songo. Beliau adalah seorang musafir dari Baghdad Iraq yang ingin memuntut ilmu di tanah Jawa, hingga bermukim sampai akhir hayatnya di tengah Alas Rejenu yang terletak di utara lereng Gunung Muria.

Ketika Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily menghadap Kanjeng Sunan Muria, yakni Raden Umar Said untuk berguru. Dan selanjutnya, Kanjeng Sunan Muria meminta Syaikh Maulana Hasan Asy-Asyadzily untuk pergi ke sebelah utara, tepatnya di daerah Rejenu. Belakangan diketahui oleh masyarakat Japan di lembah Gunung Muria, bahwa Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily ternyata mempunyai banyak pemahaman tentang ilmu hikmah serta rahasia karomah. Sehingga, dari waktu ke waktu ada beberapa orang yang ingin berguru kepada beliau, lama-lama orang yang datang untuk mejadi santrinya pun semakin banyak. Melihat perkembangan itu, maka Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily bersama para santri dengan bantuan para penduduk sekitar Alas Rejenu kemudian membangun sebuah Langgar, atau mushola yang dibawahnya terdapat sebuah mata air yang digunakan para santri beliau untuk berwudhlu dan memenuhi kebutuhan hidup.
suasana alam  rejenu dan ketiga sendang mata air dan terlihat Langgar  yang berdiri kokoh
Langgar Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Ali Asy-Syadzily
Petilasan Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Ali Asy-Syadzily
Berdasarkan sanad silsilah yang terdapat dalam Kanzul Wasilah wa Sanads Silsilah  Bani Maulana  Al daly Asy-Syadzily Langkat di Pulau Sembilan, Langkat, Sumatera Utara, berikut adalah sanad silsilah daripada Kanjeng Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily yang dipusarakan di Pertapan Alas Rejenu, Kudus, antara lain sebagai berikut :


1)Syaikh Maulana Hasan Ali Nuruddin Asy-Syadzily Al Jawi
2)Syaikh Maulana Muhammad Shalih Asy-Syadzily Al Bantani
3)Syaikh Maulana Malik Abdurrahman Asy-Syadzily Al Malaka
4)Syaikh Maulana Malik Abdullah Asy-Syadzily Waliyul Qutubuddin Al Jawi
5)Syaikh Maulana Asy-Syarif Malik Ahmad Asy-Syadzily Al Jawi
6)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abdul Malik Asy-Syadzily
7)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abu Ahmad Awwaluddin Asy-Syadzily Al Quds
8)Syaikh Maulana Asy-Syarif Abu Hasan Ali Nurruddin Asy-Syadzily
9)Syaikhuna Maulana Al Quthub Asy-Syarif Abu Hasan Ali Asy-Syadzily
10)Maulana Asy-Syarif Abu Abdullah Al Maghribi Al Aqsha
11)Maulana Asy-Syarif Abdul Jabar
12)Maulana Asy-Syarif Abu Thamiim
13)Maulana Asy-Syarif Abu Hurmuz
14)Maulana Asy-Syarif Abu Qushaiy
15)Maulana Asy-Syarif Abu Yusuf
16)Maulana Asy-Syarif Abu Yushaqq
17)Maulana Asy-Syarif Abu Wardha
18)Maulana Asy-Syarif Abu Batthal
19)Maulana Asy-Syarif Abu Ali
20)Maulana Asy-Syarif Abu Ahmad
21)Maulana Asy-Syarif Abu Muhammad
22)Maulana Asy-Syarif Abu Issa
23)Maulana Asy-Syarif Abu Idhris
24)Maulana Asy-Syarif Abu Umar
25)Maulana Asy-Syarif Abu Idhris
26)Maulana Asy-Syarif Abu Abdullah
27)Asy-Syarif Hasan Al Mutsanna Radhiyallahu ‘anhu
28)Sayyiduna Asy-Syarif Al Imam Hasan As-Sabti Radhiyallahu ‘anhu

29)Sayyidina Al Imam Ali Al Haidar bin Abi Thalib Karamallahu wajhah

Namun, pada suatu ketika muncul berita bahwa air dari mata air tersebut mempunyai khasiat dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal. Lama-kelamaan masyarakat Gunung Muria dan sekitarnya semakin banyak yang datang berbondong-bondong untuk melakukan persembahan atau ritual-ritual karena ingin mendapatkan berkah dari mata air tersebut. Ketika Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily melihat hal tersebut, maka beliau menjadi muraka dan langsung menutup sumber mata air tersebut, karena banyak hal yang dianggap musyrik telah dilakukan oleh penduduk setempat di daerah itu.
Beberapa waktu kemudian, di sebelah barat Langgar yang berjarak kurang lebih 100 meter, muncul tiga buah mata air yang kemungkinan besar dibuat oleh beliau untuk mengambil air wudhlu. Para santri pun menggunakan ketiga mata air tersebut sebagai tempat berwudhlu, mandi, mencuci dan lain-lain sebagai pengganti mata air telah yang di tutup oleh Syaikh Maulana Hasan Asy-Syadzily. Setelah beliau wafat dipanggil untuk menghadap Allahu Rabbul Khaliq, jenazah beliau dimakamkan di sekitar tiga mata air yang lazim disebut Tuk Tiga Rasa tersebut.
Mengenai istilah air tiga rasa, menurut Mbah Abdullah kuncen makam yang pertama, istilah tersebut berasal dari lidah para musafir yang datang. Ketika pengunjung meminum ketiga sumber mata air tersebut, mereka merasakan rasa air yang berbeda-beda dari ketiga lubang mata air itu. Ada yang tawar, payau dan sedikit asin. Maka sejak saat itulah masyarakat sekitar gunung muria dan para musafir yang singgah menamakan mata air tersebut dengan sebutan “ Air Tiga Rasa”. ///Source///

Air Terjun Gonggomino. Di kawasan wisata Rejenu terdapat Air Terjun Gonggomino yang merupakan air terjun kedua selain Air Terjun Monthel. Air Terjun Gonggomino dapat dicapai dengan menyusuri sebuah sungai  yang terdapat di kawasan Rejenu.
Keempat, Bumi Perkemahan dan Wana Wisata Kajar. Obyek wisata ini terletak di kawasan hutan pinus, berjarak sekitar 3 km ke arah selatan dari Makam Sunan Muria. Dengan ketinggian mencapai 600 m dpl, kawasan Kajar merupakan lokasi yang cocok untuk kegiatan perkemahan dan jelajah medan/lintas alam.  

C. Lokasi
Obyek wisata Colo terletak sekitar 18 km ke arah utara dari pusat Kota Kudus (Alun-alun), tepatnya di kawasan Pegunungan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

D. Akses
Meskipun obyek wisata Colo berada di sekitar puncak Pegunungan Muria, namun tidak terlalu sulit untuk menjangkaunya. Dari arah Semarang, pengunjung dapat menggunakan bus jurusan Semarang—Kudus. Setelah sampai di Terminal Kudus, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota jurusan Colo dengan ongkos perjalanan sekitar Rp 5.000 (April 2008).

E. Tiket
Tiket masuk yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus terbilang murah, yaitu Rp 2.500 untuk setiap pengunjung (April 2008).

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

  • Pati-Colo: 1 jam
  • Sungai-Montel: 40 menit
  • Montel-Rejenu: 50 menit
  • Rejenu-Puncak: 4 jam
  • Waktu lain-lain (cadangan): 1 jam

Di sekitar obyek wisata Colo tersedia berbagai macam akomodasi dan fasilitas, antara lain: Graha Muria yang dibangun Pemerintah Kabupaten Kudus sebagai tempat peristirahatan, penginapan, dan ruang pertemuan, lahan parkir mobil dan bus, mushola, dan warung makan yang menjual masakan khas Colo, yaitu nasi pecel pakis, ayam bakar, dan buah parijoto. Selain itu, di sekitar kawasan ini juga terdapat kios-kios yang menjual cenderamata khas Colo, seperti tongkat colo dan kayu pengusir tikus
buah parijoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...