primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Selasa, 28 Januari 2014

Sunan Kalijaga Sang Wali yang Bijaksana dan Merakyat dan Kumpulan Karya Karya beliau yang MELEGENDA



Sunan Kalijaga Sang Wali yang Bijaksana dan Merakyat
dan Kumpulan Karya Karya beliau yang MELEGENDA
Sunan Kalijaga merupakan salah satu penyebar agama Islam di Jawa yang di kenal dengan nama Walisongo. Anda pernah mendengar Walisongo bukan? Walisongo adalah para penyebar agama Islam di Jawa yang beranggotakan sembilan orang sehingga Walisongo dinamakan juga sembilan wali.
Nah, Sunan Kalijaga merupakan wali yang ke-9 dari Walisongo. Sunan Kalijaga terkenal dengan cara dakwahnya yang merakyat dengan masyarakat Jawa pada waktu penyebaran agama Islam di Jawa berlangsung.

Sunan Kalijaga bukanlah satu-satunya yang berdakwah menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Bersama dengan ke-8 wali yang lainnya, Sunan Kalijaga bahu-membahu menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa dengan paham keagamaan yang bernapas sufistik yang berdasarkan salaf.

Sunan Kalijaga – Sunan Ke-9 dari Walisongo

Sunan Kalijaga merupakan wali yang memiliki usia cukup panjang, yakni sampai menginjak usia 100 tahun. Itu artinya Sunan Kalijaga pernah mengalami kekuasaan Kerajaan Majapahit, yang runtuh pada 1478, sedangkan Sunan Kalijaga lahir pada 1450.

Sepanjang masa 100 tahun tersebut sudah tentu memiliki kisah yang panjang, berikut perjuangan Sunan Kalijaga saat menyebarluaskan ajaran agama Islam di tanah Jawa. 

Sunan Kalijaga ketika menyebarluaskan ajaran agama Islam ke tengah-tengah masyarakat Jawa dengan cara yang arif dan bijaksana. Masyarakat Jawa yang kala itu sangat menyenangi kesenian wayang, tidak dilarangnya dengan frontal. Justru kesenian wayang tersebut dijadikan Sunan Kalijaga sebagai media untuk mengambil hati masyarakat. Dengan demikian Sunan Kalijaga tidak menyakiti atau menyinggung perasaan masyarakat. 

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada 1450 di Tuban. Pada saat dilahirkan, belumlah dikenal sebagai Kalijaga. Ada beberapa versi tentang nama dari Sunan Kalijaga ini. Ada yang mengatakan nama asli dari Sunan Kalijaga ini adalah Lokajaya, ada juga yang menyebutkan nama asli sebenarnya Sunan Kalijaga adalah Raden Abdurrahman. Selain itu, ada juga yang mengatakan nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Joko Said.

Berdasarkan sumber sejarah silsilah Sunan Kalijaga, nama yang terakhir inilah yang dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat Tuban, sejak dulu hingga saat ini. Sunan Kalijaga berasal dari keluarga yang disegani dalam masyarakat Tuban. Sunan Kalijaga dilahirkan dari seorang ayah bernama Arya Wilatikta.

Ayah Sunan Kalijaga tersebut merupakan seorang Adipati Tuban. Siapa sangka Sunan Kalijaga bisa menjadi tokoh Walisongo yang termasyur menyebarkan ajaran agama Islam, mengingat riwayat keturunan Sunan Kalijaga yang merupakan sebagai keturunan Ronggolawe, seorang pemberontak yang sangat melegenda pada masa Kerajaan Majapahit.

Meski ayah Sunan Kalijaga sudah memeluk agama Islam jauh sebelum Sunan Kalijaga dilahirkan, beliau dikenal sebagai muslim yang kejam dan taklid kepada penguasa pusat Kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu.

Sebab Munculnya Nama Kalijaga untuk Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga memiliki nama asli Raden Joko Said, berbeda jauh sekali dengan Kalijaga. Lalu, dari mana sebenarnya nama Kalijaga itu muncul dan melekat dalam diri Sunan Kalijaga? Mungkin Anda juga bertanya-tanya, Sunan Kalijaga yang merupakan orang Jawa bisa mengemban nama yang bersumber dari nama sebuah desa Kalijaga di Cirebon. Bahkan desa Kalijaga tersebut dinamakan desa Kalijaga semenjak Sunan Kalijaga tinggal di sana.

Meskipun Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon, tetap saja nama Kalijaga ini menjadi pertanyaan sebagian besar orang. Ada riwayat yang mengatakan bahwa nama Sunan Kalijaga dikaitkan dengan kesukaan Sunan Kalijaga yang suka berendam di sungai. Orang Jawa menyebut sungai dengan kali. Mengingat kebiasaannya yang suka berendam di kali seperti menjaga kali sehingga disebut Sunan Kalijaga suka “jaga kali”.

Sementara itu, riwayat Kejawen mengatakan nama Kalijaga pada Sunan Kalijaga muncul karena Raden Joko Said diminta bertapa di pinggir kali oleh Sunan Bonang selama 10 tahun. Namun, apakah benar demikian? Bila kita mencermati dari segi pelafalan atau pengucapan kata, masyarakat di tanah Jawa suka melafalkan kata dari bahasa Arab yang tidak sesuai dengan struktur bahasa itu sendiri. Contohnya, kata Sekaten berasal dari Syahadatain, kata Kalimosodo berasal dari Kalimah Syahadah, kata Mulud berasal dari Maulid, kata Suro berasal dari Syura’, serta Sulkangidah berasal dari Dzulqaidah.

Pada saat Demak didirikan di 1478, Sunan Kalijaga mengemban sebagai Qadli atau Hakim di Demak oleh Sunan Giri sehingga Sunan Kalijaga disebut dengan Qadli Joko Said. Berdasarkan hal tersebut, ditambah dengan pelafalan masyarakat Jawa sehingga Qadli Joko kemudian disebut dengan Kalijogo atau Kalijaga.

Ajaran Dakwah Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga ketika berdakwah selalu mengucapkan kalimat Bismillahirrahmanirrahim, serta sehabis berdakwah selalu menutupnya dengan kalimat Kersaning Allah, yang artinya adalah atas kehendak Allah Swt..

Dalam menjalankan tugasnya menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga menggunakan paham yang bernapas Sufistik berbasis salaf. Sufistik yang dianut oleh Sunan Kalijaga bukan seperti Sufi panteistik, yang merupakan ajaran pemujaan semata. Tetapi Sufistik yang dianut oleh Sunan Kalijaga ini lebih dari segi pemujaan saja.

Sunan Kalijaga tidak menggunakan cara yang radikal dalam menyebarluaskan agama Islam ke tengah masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga melakukan tugasnya dengan menggunakan jalur kebudayaan, salah satunya melalui pertunjukkan wayang, pembuatan syair Macapat, gamelan, serta Kidung Purwajati.

Sunan Kalijaga dalam berdakwah dikenal dengan wali yang memiliki ilmu yang tinggi dan berpengetahuan yang sangat luas lagi bijaksana. Sunan Kalijaga selalu menjaga perasaan masyarakat ketika berdakwah.

Pribadinya yang bijak ditambah dengan pandai menempatkan diri, membuat Sunan Kalijaga dikenal sebagai pendakwah yang luwes serta berpegang teguh pada tata krama pergaulan masyarakat. Melihat cara berdakwahnya yang demikian, tidak mengherankan jika ajaran dari Sunan Kalijaga mudah diterima oleh pengikutnya.

Sunan Kalijaga tidak hanya piawai dalam mengemas pokok-pokok ajaran agama Islam, beliau juga dikenal sebagai wali yang sangat sakti, memiliki ilmu Mu’jizad yang sangat mengagumkan dan tetap rendah hati. Oleh karena itu, Sunan Kalijaga sangat disegani, disayangi, dan dihormati oleh semua lapisan masyarakat di tanah Jawa.

Sunan Kalijaga memiliki jiwa seni yang tinggi, dan itu diperlihatkan dengan kepiawaiannya menembangkan karya syairnya berupa syair Macapat dan Kidung Purwajati. Melalui dua karyanya tersebut, Sunan Kalijaga memasukkannya di sela-sela beliau menyampaikan dakwah.

Ditambah dengan kedua bentuk karya Sunan Kalijaga yang disampaikan dengan bahasa Jawa, membuat masyarakat Jawa bisa menerimanya dengan mudah. Apa saja karya Sunan Kalijaga dari kedua bentuk seni Jawa tersebut? Berikut beberapa karya Sunan Kalijaga yang sarat makna Sufistik.

Kumpulan Karya Karya beliau yang MELEGENDA
Babad dan serat mencatat mencatat Sunan Kalijaga sebagai pengubah beberapa tembang. Ilir-ilir yang lyriknya punya tafsir yang sarat dengan dakwah. Misalnya tak ijo royo-royo dak sengguh pengenten anyar. Ungkapan ijo royo-royo bermakna hijau, lambang Islam, sedangkan Islam, sebagai agama baru, diasumsikan penganten anyar, alias penganten baru.

Peninggalan karya Sunan Kalijaga lainnya adalah wayang dan gamelan yang diberi nama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu, yang sekarang tersimpan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.

Dalam hal pewayangan, Sunan Kalijaga dikenal dengan karya/lakon Dewa Ruci, Jimat Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu. Cerita Dewa Ruci ditafsirkan sebagai kisah Nabi Khidir, sedangkan Jimat Kalimasada tak lain perlambang dari kalimat syahadat.

Menurut Babad Tanah Jawi, Sunan Kalijaga adalah putra dari Wilwantikta, Adipati Tuban. Nama aslinya  Raden Said  (Raden Syahid), sementara menurut babad, serat, Sunan Kalijaga juga disebut Syekh Malaya, Raden Abdurrahman, dan Pangeran Tuban. Sedangkan gelar “Kalijaga” sendiri banyak berbagai tafsir. Salah satu tafsir, ada yang menyatakan asal kata jaga (menjaga), dan kali (sungai). Versi ini dilandasi dasar pada penantian Lokajaya akan kedatangan Sunan Bonang selama tiga tahun di tepi sungai. Ada juga kata itu diambil dari nama sebuah desa di Cirebon, tempat ia melakukan dakwah.

Diantara beberapa karya Sunan Kalijaga yang terkenal adalah tembang 

Sarat Makna Tembang Lir-ilir oleh Sunan Kalijaga 
Lirik Lagu tembang jawa Lir-ilir ciptaan sunan kalijaga sekitar tahun 1478 Masehi).
Sunan Kalijaga atau Raden Saleh, Lokajaya, Pangeran Tuban
Download lagu lir-ilir.mp3
(versi 
Cak Nun, size 7.28 Mb)

Lir-ilir, Lir ilir....
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
tak senggoh temanten anyar
Bocah angon bocah angon
penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro
Dodot-iro dodot-iro
lumintir bedah ing pinggir
Dondomono jlumatono
kanggo sebo mengko sore
Mumpung jembar kalangane
Mumpung padhang rembulane
Yo surako... Surak hiyo...

dowbload mp3 lir ilir, download lir ilir cak nun.mp3, download lir ilir cak nun kanjeng sunan,mp3, cak nun kanjeng sunan lir ilir.mp3
"Sunan Kalijaga yakin jika islam sudah dipahami dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. metode dakwah tersebut sangat efektif. sebagian besar adipati dijawa memeluk islam meleui sunan kali jaga."
Makna lagu lir ilir (Video)
Tembang Lir-ilir yang diciptakan oleh sunan kali jaga ini memang begitu populer hingga saat ini. Perlu diketahui selain dikenal sebagai mubaligh / Da'i keliling, ulama besar, sunan kalijaga dikenal sebagai seorang wali yang memiliki kharisma tersendiri diantara wali-wali yang lain. Beliau adalah putra adipat tuban yang bernama tumenggung wailwatikta / Raden Sahur yang merupakan keturunan Ranggalawe yang beragama hindu. Namun Sunan Kali jaga diperkenalkan agama islam oleh guru agama kadipaten tuban sejak kecil.
Arti dan makna tembang jawa lir-ilir
** Lir-ilir, lir-ilir
** tandure wus sumilir
** tak ijo royo-royo
** tak sengguh temanten anyar
Lirik tersebut secara harafiah mendeskripsikan tentang hamparan tanaman padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan pula dengan pengantin baru. Jadi ini merupakan penggambaran usia muda yang penuh dengan harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya.

> Bocah angon, bocah angon
> penekno blimbing kuwi
> lunyu-lunyu penekno
> kanggo mbasuh dodot-iro

Anak gembala, panjatlah (Petiklah) buah belimbing itu (dari pohonnya). Petiklah meskipun licin, karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.

Makna Dibalik Lagu LIR ILIR
Buah belimbing yang seringkali bergigir (bersisi) lima itu dilambangkan sebagai lima rukun Islam; dan sari-pati buah belimbing berguna untuk membersihkan perilaku (cara bergaul) serta sikap mental kita. Ini harus diupayakan betapapun begitu licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi. Anak gembala disini diartikan sebagai anak remaja yang masih polos & masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi inilah yang kerap muncul seketika bila orang Jawa menyebut ‘bocah angon’. Namun pengertiannya bisa pula ditingkatkan menjadi seorang pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan dari ketua RT sampai pimpinan negara.

** Dodot-iro, dodot-iro
** kumitir bedah ing pinggir
** dondomono, jlumatono
** kanggo sebo mengko sore

Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya. Jahitlah serta rapikan supaya pantas dikenakan untuk “menghadap” nanti sore. “Sebo” adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan ‘sowan’ atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.

Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita. Menghadap bermakna menghadap Allah. Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang kematian kita.

> Mumpung padhang rembulane
> mumpung jembar kalangane

Mumpung padhang rembulane Selagi masih terang manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan menunggu sampai kegelapan tiba. Mumpung jembar kalangane Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.

** Yo surako. surak hiyo...
Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَتُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ 

'Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)'

Menurut kasetnya Emha Ainun Najib kurang lebih adalah Sebagai berikut :

Negeri yang amat kaya raya namun dimanage dengan buruk....
Bocah angon (penggembala kebangsaan, pemimpin nasional, bukan pemuka gerombolan atau tokoh golongan) yang harus memanjat pohon selicin apapun untuk memperoleh blimbing yang bergigir lima..
Sari blimbing ini dipakai untuk mencuci pakaian nasional yang robek-robek (krisis moral yang melahirkan krisis politik)....
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane....sepanjang masih sangat mungkin krisis ini diatasi...

Tafsir Cak Nun ini adalah tafsir kontemporer yang sudah disesuaikan dengan kondisi sekarang, & dialamatkan untuk tokoh pemimpin bangsa atas kebobrokan moral yang sudah terjadi pada negara. Kelak, kita boleh saja menafsirkannya ke dalam situasi baru yang muncul kemudian.

Memang Satu tembang tidak habis ditafsirkan dengan seribu jilid buku, satu syair tidak cukup ditelaah dengan seribu bulan dan seribu orang namun yang terinti adalah bahwa lagu tersebut mempunyai makna yang begitu dalam dan bisa dipikir dengan nalar.


PEMAKNAAN KIDUNG RUMEKSO ING WENGI CIPTAAN SUNAN KALIJAGA

KIDUNG RUMEKSO ING WENGI CIPTAAN SUNAN KALIJAGA

Kidung Rumekso Ing Wengi 

MENATAP zaman edan yang begitu menyengsarakan sendi- sendi kehidupan rakyat, hidup serba tidak menentu, semuanya serba sulit menentukan sikap, serta tidak ada fundamen keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang benar dan kokoh, sebenarnya sudah diantisipasi nenek moyang kita jauh hari sebelum hal itu terjadi. Orang- orang yang Waskita ”wong kang limpad ing budi” (orang-orang yang mampu membaca tanda jaman). 

Salah satu alternatif dari sumbangan orang Jawa menghadapi jaman edan ialah membaca ”Kidung Rumekso Ing Wengi”(KRIW), yang merupakan karya Sunan Kalijaga sehabis sembahyang malam, kidung ini sudah terkenal di wilayah Nusantara dan sering dilantunkan di pedesaan pada pertunjukkan ketoprak, wayang kulit dll atau peronda di malam hari yang sunyi. 

Bait yang utama dari KRIW itu sangat dikenal karena berisi mantra tolak balak, sedangkan bait selanjutnya yang berjumlah delapan jarang dinyanyikan karena dianggap terlalu panjang. 

PEMAKNAAN KRIW
Laku kidung ini mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Sedangkan fungsi kidung secara eksplisit tersurat dalam kalimat kidung itu, yang antara lain; Penolak balak di malam hari, seperti teluh, santet, duduk, ngama, maling, penggawe ala dan semua malapetaka. 
  1. Pembebas semua benda . 
  2. Pemyembuh penyakit, termasuk gila. 
  3. Pembebas pageblug. 
  4. Pemercepat jodoh bagi perawan tua. 
  5. Menang dalam perang . 
  6. Memperlancar cita-cita luhur dan mulia. 
Kidung Rumeksa ing wengi - 
Sunan Kalijaga
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno //

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak//

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa//

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging Ngumar singgih
Balung baginda ngusman//

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal//

Terjemahan dalam bahasa indonesia:

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas
dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun
tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan
pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh
dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak.
Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan
sarang merak.

Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya
semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang
dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku
Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi
Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman
menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi
rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.
Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai
kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh
didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi
Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka
lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

MP3 Versi JARANAN Downloads Kidung Rumekso Ing Wengi - Djodik Seboel - New Cobra ( Gending Jaranan )

Kidung Sedulur Papat Sunan Kalijogo


Kidung Sedulur Papat Sunan Kalijogo
Siang dan malam keempat pendekar gaib ini setia menunggu kita. Saat genting dan bahaya, dia menyeret kita ke tempat yang aman. Saudara penjaga gaib ini bukan jin bukan pula gendruwo.

Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.

Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul. Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa. Jadi? Klop sudah!

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).

Saudara gaib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:

  1. JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),
  2. IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
  3. MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
  4. IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).


Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? 
Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:

Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah

Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.
Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya seagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...