Laman

Senin, 27 Januari 2014

Ajaran Sunan Kalijaga Tentang Cupu Manik Astagina.



Ajaran Sunan Kalijaga 
Tentang Cupu Manik Astagina.
Salah satu peninggalan dari nenek moyang kita, yang perlu diuraikan agar menjadi pedoman hidup menuju masyarakat yang sejahtera adalah Asta-brata. Asta artinya delapan, brata artinya tindakan. Jadi, Asta-brata dapat diartikan sebagai delapan macam tindakan. Asta-brata ini diambil dari inti sari wasiat Cupu Manik Asta Gina, atau pegangan hukum bagi para dewa.
Konon dengan berpegang pada hokum ini, para dewa dapat memimpin umat manusia menuju kesejahteraan dan kedamaian.
Kalau setiap orang, terutama para pemimpin, berpegang pada asta-brata, maka masyarakat yang sejahtera tidak mustahil terwujud di bumi ini. Adapun asta-brata secara mudah dan jelas digambarkan atau diwujudkan dalam rupa :

1. Wanita: wanita,
2. Garwa: jodoh
3. Wisma : rumah
4. Turangga : kuda tunggangan
5. Curiga : keris, atau senjata
6. Kukila : burung berkutut
7. Waranggana : ronggeng- penari wanita
8. Pradangga : gamelan-bebunyian berirama

Orang atau pemimpin yang utama harus memiliki (mengalami) delapan hal tersebut diatas.Banyak orang yang salah paham, berusaha mempunyai delapan rupa tersebut dalam wujud sebenarnya. Hal demikian ini takkan terwujud. Sesungguhnya delapan hal tersebut sekadar kiasan, dan bukan berarti setiap orang harus memiliki barangnya, tetapi memiliki atau mengalami arti dan wangsitnya.

Wanita, artinya seorang perempuan, yang elok dan cantik, siapapun yang melihat pasti ingin memilikinya. Maka yang dimaksud dengan wanita ini adalah suatu keindahan, sebuah cita-cita yang tinggi. Agar cita-cita itu dapat tercapai, maka orang perlu berusaha sekuat tenaga, belajar, tirakat dan sebagainnya, sebagaimana seorang pemuda yang ingin menggaet dan memiliki gadis cantik.

Garwa, artinya jodoh, suami istri, yang sehati. Garwo sering diartikan sigaraning nyawa, belahan jiwa, jiwa satu dibelah dua atau dua badan satu nyawa. Jadi garwa mengandung arti bahwa setiap orang harus dapat menyesuaikan diri, bisa bergaul dengan siapapun, semua orang dianggap sebagai kawan, hidup rukun dan damai, mencintai sesama, tidak membeda-bedakan orang. Semuanya dianggap sebagai garwa, teman sehidup semati.

Wisma, artinya rumah. Rumah adalah tempat berlindung memiliki ruangan yang luas berpetak-petak untuk menyimpan aneka macam barang. Semuannya dapat dimasukkan kedalam rumah. Demikianlah, setiap orang hendaknya bersifat rumah, yakni dapat menerima siapapun dan membutuhkan perlindungan, sanggup menyimpan dan mengatur segala sesuatu, pun dapat mengeluarkan pikiran dan bertindak bijaksana dan teratur menurut tempat, waktu dan kedaannya.

Turangga, berarti kuda tunggangan, yang kuat dan bagus. Kuda tunggangan bisa berlari cepat, bisa berlari pelan, bisa berjalan sambil menari-nari. Sebaliknya kuda tunggangan juga bisa berlari cepat dengan arah yang tak menentu, bisa terguling kedalam jurang, tergantung orang yang memegang tali kekang. Demikian halnya diri: badan jasmaniah, panca indra dan nafsu kita merupakan kuda tunggangan. Sedangkan jiwa adalah pengendaranya. Bila jiwa dapat menguasai, mengatur dan mengekang diri, maka pergaulan hidup kita akan teratur dengan baik. Sebaliknya, bila jiwa tak dapat menguasai diri, maka hidup kita akan seperti kuda tunggangan yang liar, berlari kesana kemari dan akhirnya tergelincir.

Curiga, artinya keris, senjata tajam yang dipuja-puja. Maka perlulah tiap orang terutama para pemimpin memiliki persenjataan hidup yang lengkap, kepandaian, keuletan, ketangkasan dan lain-lain. Begitu pula pikiran harus tajam, mampu menebak dengan dengan tepat, agar dapat bertindak tepat pula untuk kebahagiaan masyarakat.

Kukila, artinya burung, burung berkutut yang dipelihara di Jawa, untuk didengarkan suaranya, yang merdu, enak didengar, menentramkan sanubari. Demikianlah, setiap kata yang keluar dari mulut hendaknya enak didengar, lemah lembut, menentramkan orang yang mendengarkannya. Setiap kata yang keluar harus tegas dan bersifat memperbaiki dan membangun, agar siapapun yang mendengar bisa terpikat dan mengindahkannya.

Waranggana, artinya tandak atau ronggen, untuk pandangan waktu menari. Pada zaman dewa-dewa, ini disebut Lenggot-bawa. Peraturannya seperti ini : seorang warangga menari di tengah kerumunan orang, bersama seorang lelaki yang ikut menari. Diempat penjuru ada penari laki-laki yang menari, seakan-akan ikut menggoda si waranggana agar memalingkan mukanya dari yang lelaki yang tengah menari.

Makna gambaran di atas adalah: dalam usaha meraih cita-cita yang muliah ( waranggana), pasti akan banyak kita jumpai godaan yang mencoba menghalang-halangi pencapaian cita-cita tersebut.

Artikel Lain juga menggambarkan
Cupu Manik Astagina posted by: tomyarjunanto repoted by : donyt.blogspot.com


KIDUNG SENGGANA

Duk semana Jayabaya mantu,
bebesanan Wanara Seta,
Senggana iku arane,
Jaya Sudarma wus kapacak kagyat leng-lenging ndriya,
tinantang Prabu Mawenang,
prang tandhing tumekeng sirna.
Senggana sigra hamipit wayahipun Jaya Sudarma,
Sukeksi araning dewi sayekti putra Kedhiri,
Mukswaning Sang Jayabaya lair kakung Anglingdarma



Prabu Mawenang gugur ing madyaning prang, kasarekaken ing Bergas ingkang ugi katelah Bagasri. Pasareyanipun  tinengeran reca Ganesha.
Gantining jaman ngancik Kamasiya taun 1943 sedane Herucakra nenggih Jatikusuma, peputra Kusna ingkang jejuluk Putra Sang Fajar…..

Kados ingkang kawejang dening Ki Jangkung ing Sendang Cupu Manik Astagina



Kabupaten Semar_ang, dalam naungan Gunung Ungaran…
Ong Aran, Hong, asal mula sagung dumadi. Di laladan Bergas, dulu disebut Bagasri, berasal dari kata Baga, perangkat kemaluan perempuan pasemon dari Bumi Suci, dan Sri, Sang Dewi Kesuburan. Teruntai kisah pingitan, torehan sejarah, ilham kebangkitan para hanom-hanomaning bangsa.

Bagasri, bumi suci yang penuh kesuburan, tempat menyemai & menuai benih-benih kehidupan, dasanama dari Sang Ibu Bumi, Ibu Pertiwi.

Terbetik keinsyafannya akan cinta Ibu yang agung, Resi Subali mendapatkan Aji Pancasona, karunia yang membuatnya tak akan mati selama jasadnya tetap dalam rengkuhan kasih Ibu Pertiwi. Dan dalam embanan kasih Ibu pula Sang Anoman mendapatkan Aji Wundri, sebuah kekuatan mahadahsyat mampu mengangkat gunung mengguncang dunia.

Di pereng Kendhalisada ini teringat kembali aku akan semangat yang digelorakan Bapak Bangsaku, “…Tetapi beri aku 10 pemuda, karena dengan mereka aku akan mengguncang dunia…”
Maka dalam keheningan malam di dingin udara pegunungan,
selepas membasuh tubuh di sendang bermata air hangat,
kehangatan yang mengalir dari dalam perut bumi ibuku,
kuwiridkan pengharapan,
kulantunkan kidung pujian,
bagi kebangkitan Hanoman… Hanom-hanomaning Bangsa

Hong ngawigena sekaring bawana langgeng,
Dalem angluhuraken saha nyuwun sabdanipun Pepundhen Mayangga Seta,
 ingkang lenggah wonten ing Kendhalisada,
Mugya enggal manuksma para hanom-hanomaning bangsa
Mbengkas kumayan Ratu Ngalengka,
Wus titi wancine pamungkase kang dur angkara
Hayu… Hayu… Rahayu Sagung Dumadi…
Aji Wundri adalah ajian yang diberikan Dewi Sinta kepada Hanoman 
untuk memerangi Dasamuka si angkaramurka. 
Sesungguhnya Aji Wundri adalah 
pengejawantahan kekuatan seorang Ibu yang menghangatkan, 
yang mencintai kehidupan, tulus, perkasa dan sabar tak terbatas. 
Hanya orang-orang yang merasa lemah tak berdaya seperti layaknya 
seorang bayi yang dapat meyerap Aji Wundri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU