primbon


Web Site Hit Counters

Sejak:17 Agustus 2013
DAFTAR SAHABAT YG MASUK The truth seeker
Tidak harus menjadi yang pertama,yang penting itu menjadi orang yang melakukan sesuatu dengan sepenuh hati.


Disclaimer:Artikel,gambar ataupun video yang ada di blog ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain,
dan Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber lain tersebut.Jika kami salah dalam menentukan sumber yang pertama,
mohon beritahu kami
e-mail primbondonit@gmail.com HOTLINE atau SMS 0271 9530328

GAMBAR-GAMBAR dibawah ini BUKAN HANYA IKLAN tapi merupakan LINK SUMBER




Bagi sebagian masyarakat yang mengklaim diri sebagai masyarakat peradaban modern,westernism bahkan sebagian yang mengesankan perilaku agamis yakni hanya bermain-main sebatas pada simbol-simbol agama saja tanpa mengerti hakekatnya,dan kesadarannya masih sangat terkotak oleh dogma agama-agama tertentu.Manakala mendengar istilah mistik,akan timbul konotasi negatif.Walau bermakna sama,namun perbedaan bahasa dan istilah yang digunakan,terkadang membuat orang dengan mudah terjerumus ke dalam pola pikir yang sempit dan hipokrit.Itulah piciknya manusia yang tanpa sadar masih dipelihara hingga akhir hayat.Selama puluhan tahun,kata-kata mistik mengalami intimidasi dari berbagai kalangan terutama kaum modernism,westernisme dan agamisme.Mistik dikonotasikan sebagai pemahaman yang sempit,irasional,dan primitive.Bahkan kaum mistisisme mendapat pencitraan secara negative dari kalangan kaum modern sebagai paham yang kuno,Pandangan itu salah besar.Tentu saja penilaian itu mengabaikan kaidah ilmiah.Penilaian bersifat tendensius lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya sendiri,kepentingan rezim,dan kepentingan egoisme(keakuan).Penilaian juga rentan terkonaminasi oleh pola-pola pikir primordialisme dan fanatisme golongan,diikuti oleh pihak-pihak tertentu hanya berdasarkan sikap ikut-ikutan,dengan tanpa mau memahami arti dan makna istilah yang sesungguhnya.Apalagi dalam roda perputaran zaman sekarang,di mana orang salah akan berlagak selalu benar.Orang bodoh menuduh orang lain yang bodoh.Emas dianggap Loyang.Besi dikira emas.Yang asli dianggap palsu,yang palsu dibilang asli.Semua serba salah kaprah,dan hidup penuh dengan kepalsuan-kepalsuan.Untuk itulah Warisjati merangkum beragam artikel dari beberapa sumber tentang pengetahuan Budaya dan tradisi di Nusantara yang merupakan warisan para leluhur yang sarat akan makna dan berbagai artikel lainnya yang saling melengkapi.Dengan harapan membangun sikap arif dan bijaksana dan mengambil pelajaran serta pengetahuan dari budaya masa lalu sebagai warisan leluhur di Nusantara ini.

ORANG YANG DENGAN MUDAHNYA MENGATAKAN SESAT KEPADA SESEORANG
ADALAH ORANG YANG TIDAK atau BELUM PAHAM AKAN DIRINYA SENDIRI



Selasa, 24 Juni 2014

Kebermaknaan APEM JAWA (AFWAN) dan FILOSOFI "Tradisi megengan / RUWAHAN" Menjelang Bulan Suci RAMADHAN


Memahami Tradisi Bulan Arwah

Kebermaknaan APEM JAWA (AFWAN) dan FILOSOFI "Tradisi megengan / RUWAHAN" Menjelang Bulan Suci RAMADHAN
Tradisi megengan atau bisa juga ditempat lain ada yang menyebut RUWAHAN biasanya dilaksanakan menjelang bulan puasa. 

Secara etimologi, megengan berasal dari bahasa Jawa ‘megeng’ yang berarti menahan, dalam tradisi lisan masyarakat pengguna bahasa Jawa kata megeng selalu terkait dengan megeng nafas yang mempunyai makna terasa berat, meskipun berat harus ditahan selayaknya orang menghirup nafas. 

Dengan demikian, megeng berarti suatu penanda bagi orang Islam untuk melakukan persiapan secara khusus dalam menghadapi bulan suci.

Para Waliyulloh Jawa Khususnya Walisongo mengajarkan Islam kepada masyarakat dengan berbagai simbol. Karena itu dibuatlah tradisi untuk menandainya, yang kebanyakan adalah menggunakan medium slametan meskipun namanya sangat bervariasi. Nafas Islam memang sangat kentara di dalam tradisi megengan. 

Dan sebagaimana diketahui bahwa Islam sangat menganjurkan agar seseorang bisa menahan hawa nafsu. Manusia harus menahan nafsu amarah, nafsu yang digerakkan oleh rasa marah, egois, tinggi hati, merasa benar sendiri, dan menang sendiri.


Nafsu amarah adalah nafsu keakuan atau egoisme yang paling sering membuat manusia terlena. Setiap orang memiliki sikap egoistik sebagai bagian dari keinginan untuk mempertahankan diri. 

Namun jika nafsu ini terus berkembang tanpa dikendalikan, maka justru akan menyesatkan karena seseorang akan jatuh kepada sikap yang menganggap dirinya paling hebat, sedangkan yang lain tidak sama sekali. 

Nafsu amarah merupakan simbolisasi dari sifat egoisme manusia dalam berhadapan dengan manusia atau ciptaan Tuhan lainnya.

Kemudian nafsu biologis atau nafsu fisikal, yaitu nafsu yang menggerakkan manusia untuk sebagaimana binatang yang hanya mementingkan nafsu biologisnya atau pemenuhan kebutuhan fisiknya saja. 

Nafsu ini memang penting sebab tanpa nafsu ini maka manusia tidak akan mungkin mengembangkan diri dan keluarganya. 


Manusia butuh makan, minum, berharta, dan sebagainya. Namun jika hanya ini yang dikejar maka manusia akan jatuh ke dalam pemenuhan kebutuhan fisiknya saja tanpa mengindahkan kebutuhan lainnya yang juga penting. 

Tradisi megengan secara substansial merupakan simbolisasi bahwa puasa adalah hari di mana seseorang harus menahan nafsu dan jangan sampai keliru dalam melakukan tindakan di bulan puasa. 


Nah, simbol paling wajib dalam tradisi megengan adalah kue apem. 
Apem berasal dari kata afwan atau afuan yang berarti permintaan maaf. 
Afwan merupakan bahasa arab, yang tediri dari huruf 'ain, fa, wau, biasa kalau berdiri sendiri didepannya ada huruf alif dan lam, yang dibaca al-afwa, yang artinya maaf

Kita sebagai manusia diharapkan selalu bisa memberi maaf atau memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain. Itu sebabnya mengapa dalam tradisi megengan identik dengan membagi kue apem kepada para tetangga atau saudara, sebagai simbol meminta maaf sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Memang para Walisongo mengajarkan Islam melalui simbol-simbol budaya. Namun, sayangnya yang ditangkap oleh masyarakat Islam hanya simbolnya. 


Dari masa ke masa, tak banyak orang yang tahu makna kue apem dalam tradisi ini, sehingga hanya mengikuti apa yang diajarkan leluhur sebagai kepatuhan saja. 

Padahal jika yang ditangkap tidak hanya simbolnya tetapi juga substansinya, maka sesungguhnya ada pesan moral yang sangat mendasar.

Ada 2 versi pendapat dalam memandang tradisi-tradisi tersebut. Ada yang tidak setuju atau mereka sering menyebutnya dengan istilah bit’ah (karena yang pada zaman Rasul hal tersebut tidak ada atau tidak dilakukan oleh Rasul), karena menurut mereka hal seperti adalah hal yang tidak penting untuk dilakukan, kemudian hal tersebut dahulunya hanya dilakukan oleh para nenek moyang yang beragama hindu atau budha untuk dipersembahkan kepada roh para leluhur. Sehingga dikatakan musrik atau menduakan Allah. 

Namun pendapat lain mengatakan, “semua perbuatan itu tergantung dari niatnya”, dari landasan tersebut tradisi-tradisi itu kini telah diadopsi sebagai salah satu budaya Jawa, yang mana memiliki tujuan yang baik yakni sebagai wujud rasa syukur atas semua nikmat yang telah diterima dari Allah SWT, sebagai media untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga. Mereka yakin bahwa yang mereka lakukan bukanlah hal yang berdosa atau bid’ah.

Dari hal tersebut, tiap manusia berhak mau ikut pendapat yang versi mana, tiap manusia memiliki kewenangan atas hidup yang dijalaninya sendiri. Namun dengan catatan, hendaknya antarmanusia tetap menjaga kerukunan dalam hidup bermasyarakat.

Tradisi Ruwahan 
(Memahami Tradisi Bulan Arwah)

Tradisi Ruwahan berisi kegiatan melaksanakan ritual yang dilakukan pada saat datangnya bulan Ruwah atau bulan Arwah.
Turis Asing Juga Tertarik Apem
Bagi masyarakat Jawa khususnya bulan Arwah mempunyai makna penting sebagai momentum bagi semua yang masih hidup untuk mengingat jasa dan budi baik para leluhur, tidak hanya terbatas pada orang-orang yang telah menurunkan kita, namun juga termasuk orang-orang terdekat, para pahlawan, para perintis bangsa yang telah mendahului kita pindah ke dalam dimensi kehidupan yang sesungguhnya. Bulan Arwah juga merupakan saat di mana kita harus “sesirih” atau bersih-bersih diri meliputi bersih lahir dan bersih batin. Membersihkan hati dan pikiran sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad kecil (mikrokosmos) yakni diri pribadi kita meliputi unsur wadag dan alus, raga dan jiwa.

Tidak  hanya sebatas pembersihan level mikrokosmos, selebihnya adalah bersih-bersih lingkungan alam di sekitar tempat tinggal kita, membersihkan desa, kampung, kuburan,  sungai, halaman dan pekarangan di sekeliling rumah, tak lupa membersihkan semua yang membuat kotor dan jorok dalam rumah tinggal kita. Bagi petani tak luput pula bersih-bersih sawah dan ladang. Semua itu sebagai bentuk pembersihan dimensi jagad besar (makrokosmos).

Selain makna tersebut, ritual ruwahan merupakan wujud bakti dan rasa penghormatan kita sebagai generasi penerus kepada para pendahulu yang kini telah disebut sebagai Leluhur (Jawa) atau Karuhun (Sunda). Pelaksanaan ritual ruwahan bukan tanpa konsep dan prinsip yang jelas. Ruwahan didasari oleh kesadaran spiritual masyarakat kita secara turun-temurun, di mana kita hidup saat ini telah berhutang jasa, berhutang budi baik kepada alam dan para leluhur pendahulu yang telah mendahului kita. Tak ada cara yang lebih tepat selain harus berbakti, setia dan berbakti kepada para leluhurnya yang telah mewariskan ilmu dan harta benda, termasuk bumi pertiwi, yang dapat dimanfaatkan oleh anak turunnya hingga saat ini.  

Ritual tradisi Ruwahan sebagai bukti kesetiaan dan sikap berbakti kepada lingkungan alam yang telah memberikan berkah berupa rejeki, tempat berlindung, hasil bumi, oksigen dan sebagainya. Karenanya hanya dengan kesetiaan serta berbakti, kita menjadi generasi penerus yang tidak mengkhianati leluhur, bangsa dan bumi pertiwinya. Berkhianat kepada para leluhurnya sendiri, maupun kepada bumi pertiwi di mana tempat kita menyandarkan hidup sudah pasti akan menyebabkan suatu akibat buruk. 

Pengkhianatan (ketidaksetiaan) dan kedurhakaan (tidak berbakti)  yang dilakukan generasi penerus, akan menimbulkan kesengsaraan pada diri pribadinya (mikrokosmos) dan sangat memungkinkan tertransformasi ke dimensi makrokosmos lingkungan alamnya. Sebaliknya, kesetiaan pada bumi pertiwi  yakni bumi di mana nyawa kita berpijak, kita hirup udara, kita mencari makan, dan berbakti kepada para leluhur yang menurunkan kita, merupakan satu rangkaian berupa kunci meraih kesuksesan hidup secara hakiki. Ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan lahir dan batin akan berlimpah menghampiri kita setiap saat.
APA YANG TERJADI ?
Namun yang paling penting dari tradisi Ruwahan yang sudah turun temurun sejak ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun silam itu adalah terjadinya interaksi dan bahkan komunikasi dua pihak. 
Yakni pihak orang-orang yang masih hidup dengan pihak leluhur. Bahkan saat bulan Arwah tiba, para leluhur menghentikan “aktivitasnya” untuk suatu “aktivitas” khusus yakni menyambut anak cucu keturunannya, maupun semua orang yang melakukan kegiatan bakti kepadanya, yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti membersihkan makam, sedekah dan sesaji, komat-kamit mengucapkan doa, dikir, mengucapkan mantera dan berbagai kalimat yang keluar dari hati nuraninya yang intinya berusaha sambung rasa dengan para leluhurnya. 

Artinya sejauh apa yang dapat kami saksikan, Tradisi Ruwahan ternyata bukanlah kegiatan yang sia-sia saja. Selain manfaat yang nyata dari kegiatan kebersihan, sungguh ada makna tersirat yang mendalam dan manfaat inheren yang sangat besar di dalamnya. Manfaat itu akan dialami bagi siapapun yang tulus dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya. 


Sebab apa yang kami dan teman-teman pernah saksikan, pada bulan arwah ini komunikasi dan interaksi dengan para leluhur terjadi lebih intens. Bisa diartikan bahwa para leluhur juga menganggap bulan arwah ini sebagai momentum rutin yang dulakukan setahun sekali untuk lebih intens berkomunikasi dengan anak cucu keturunan dan semua orang yang menghaturkan sembah bekti kepadanya. Itu artinya, leluhur mencurahkan perhatian kepada siapapun yang mewujudkan sembah baktinya kepada leluhur. Perhatian leluhur tidak sekedar “sowang-sowang nyawang saka kadohan” atau mengikuti sepak terjang kehidupan anak cucu keturunannya, lebih dari itu, mereka bahkan membimbing dan mengarahkan apabila anak cucu keturunannya akan menempuh jalan yang salah. 

Leluhur yang semakin tinggi derajat kemuliaannya tentu akan lebih mampu melakukan segala sesuatu kepada anak cucu keturunannya dan semua orang yang berbakti kepadanya. Anda jangan pernah pesimis tidak yakin apakah leluhurnya ada yang berprestasi meraih kemuliaan yang sejati. Di antara sekian ribu leluhur kita tentu tidak hanya satu dua saja yang mencapai kamulyan sejati. Persoalannya kemudian ada pada diri kita masing-masing, apakah masih mau menganggap penting sikap berbakti pada leluhur ataukah sebaliknya menganggap mereka sudah tak bisa apa-apa lagi, nun jauh di negeri antah berantah, tak bisa lagi berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak cucu keturunannya. Atau sikap lebih ekstrim yang menganggap interaksi dan kehadiran leluhur sebagai perwujudan godaan iblis setan jin peri prayangan. Jika demikian yang terjadi sangat mungkin leluhur sudah enggan membimbing dan mengarahkan kita sehingga sikap ekstrim kita semakin menjadi-jadi. Namun juga tak jarang terjadi sebaliknya, pada saat ada salah satu anak keturunannya bersikap terlampau ekstrim, ada satu dua leluhurnya yang kemudian menyadarkannya.

TATA CARA TRADISI RUWAHAN
Tradisi Ruwahan mempunyai tatacara yang sederhana saja. Yakni diawali dengan membuat sesaji, yakni sesuatu yang bermakna. 
Berupa kolak pisang, kolak ubi jalar, ketan kukus, serta makanan tardisional bernama kue apem

Kolak pisang dan ubi jalar berupa kolak kering (hanya direbus dengan air gula dan santan kelapa, jangan lupa ditambah sedikit garam agar lebih nikmat). Dapat juga ditambahkan dan ditambahkan sedikit garam, kayu manis, dan cengkeh. 

Sementara itu kue apem dibuat dengan bahan dasar terdiri dari kue yang terbuat dari tepung beras, santan, garam, gula pasir  dan tape sebagai pengembang alami.
Adapula yang menambahkannya dengan buah nangka ke dalam adonan kue apem. 
Selanjutnya adonan dicetak bundar-bundar di atas tungku api. 

Untuk ketan, cukup dikukus atau diliwet sebagaimana umumnya memasak ketan. 
Setelah ubo rampe sesaji ruwahan selesai dibuat dan siap saji, selanjutnya siap untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga. Upayakan kita berbagi minimal kepada 7 kk, syukur bisa lebih hingga 17 kk. Seluruh sesaji itu seluruhnya berupa makanan tradisional. 

Makanan tradisional yang dipilih dalam sesaji tentunya masing-masing mempunyai arti dan makna yang terkandung. Sehingga dapat dikatakan, makanan atau ragam sesaji merupakan bahasa simbul yang dapat mewakili sejuta kata dan ribuan kalimat. Dengan sesaji, maksud dan tujuan yang sangat luas jika dijabarkan satu-persatu, dikemas menjadi ringkas padat dan berisi. 
Sebagaimana pepatah dalam spiritual Jawa yang mengatakan,”ngelmu iku yen ginelar bakal ngebaki jagad, yen ginulung sak mrico jinumput”. Ilmu jika digelar akan memenuhi jagad raya, jika dilipat (diringkas) dapat menjadi sekecil biji merica.
Ragam & Makna Sesaji Tradisi Ruwahan
Ketan; “ke-mut-an” artinya terkenang, teringat. 
Makanan berwujud ketan karena jika dilihat dari namanya, yakni ketan berasal dari kata khotan dari bahasa Arab yang memiliki arti kesalahan. Khotan bisa menjadi ketan karena orang-orang Jawa yang sering kali merubah sebutan nama suatu hal agar mudah dalam pengucapan maupun dalam mengingatnya. Khotan yang memiliki arti kesalahan tadi, memiliki makna filosofi bahwa dari kesalahan inilah kita sebagai manusia dituntut supaya selalu mengingat akan perbuatan salah itu, yang berawal dari diri sendiri, kemudian diharapkan kita bisa selalu mengoreksinya.


Maksudnya teringat akan apa yang dilakukan di masa lalu. Jangan melupakan sejarah (jasmerah), yakni jasa kepahlawanan, pusaka warisan, dan peninggalan para leluhur yang hidup di masa lalu. Yang dapat dinikmati oleh generasi penerus, anak turunnya yang hidup di masa kini. Ketan bersifat lengket bermakna pula harapan adanya tali rasa yang akan menjadi perekat hubungan antara leluhur dengan anak cucu keturunannya dan semua orang yang menghaturkan sembah bakti kepadanya. kata lain adalah “keep contact”.

KOLAK PISANG
Kolak pisang ; mewakili pala gumantung, hasil bumi yang buahnya menggantung. 
Sementara kolak mengandung maksud pada kata kholaqo yang memiliki arti ‘mencipta’. Arti kholaqo tersebut tercipta sebuah kata kholiq atau khaliq. Ini artinya diharapkan agar kita bisa semakin mendekatkan diri kepada-Nya, yaitu untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal dan berada di alam barzah.


Dibuat untuk mengingatkan kita selalu teringat akan kesalahan (Jawa; keluputan) yang pernah kita lakukan kepada orang tua dan para leluhur serta kepada Sang Jagadnata. 
Sehingga kita menjadi orang yang selalu mengevaluasi diri dan setiap saat mau berbenah diri. Selain itu, pala gumantung mengingatkan kita supaya batin dan rasa sejati masih tetap tersambung dengan Gusti Sang Jagadnata, termasuk kepada para leluhurnya yang telah hidup di alam sejati.

  • Pisang sebagai pala gumantung mengingatkan kita, hendaknya Selalu memiliki sifat tabiat langit atau angkasa. 
  • Kolak ubi jalar ; mewakili pala kependem, hasil bumi yang buahnya berada di dalam tanah. 

Dibuat untuk melambangkan adanya kesalahan para leluhur kepada sesama manusia. Selain itu, pala kependem, memiliki pesan bahwa manusia hendaknya tetap berpijak di bumi. Memiliki sifat-sifat humanis, serta mulat laku jantraning bumi, yakni perilaku manusia yang andap asor tidak sombong, congkak, takabur, sikap mentang-mentang, golek benere dewe, golek butuhe dewe, golek menange dewe. 

Sebaliknya harus mencontoh sifat-sifat bumi yang selalu memberikan berkah sekalipun bumi diinjak-injak oleh manusia dan seluruh makhluk penghuninya. Pala kependem yang diolah menjadi makanan kolak ubi jalar, mengingatkan kita hendaknya menjadi orang selalu melakukan “tapa mendhem” (bertapa mengubur diri) yakni mengubur segala amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain dari ingatan kita. Agar supaya tidak mencemari ketulusan kita dan di suatu saat tidak membangkit-bangkit kebaikan kita pada orang lain.

Apem 
Yang tak asing lagi yakni apem. Apem berasal dari kata afwam atau afuan yang berarti permintaan maaf. Kita sebagai manusia diharapkan selalu bisa memberi maaf atau memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain.
Kue ApemApem ; dibuat untuk melambangkan adanya harapan suatu ampunan akan kesalahan di masa lalu. 

Kue apem berbentuk bundar atau bulat melingkar. Sebagai perlambang adanya kebulatan tekad dalam melaksanakan ritual, yakni kemantaban hati untuk mewujudkan rasa berbakti   kepada leluhur bukan hanya sebatas lips-service, sebatas ucapan dan kata-kata dalam doa. 

Lebih dari itu diwujudkanlah dalam sikap, tindakan, dan perbuatan nyata dalam kehidupaan sehari-hari, dalam hal ini kegiatan bersih-bersih meliputi jagad kecil dan jagad besar. Di dalam kue apem terdapat bahan-bahan berupa beras ketan, kelapa/santan, gula dan sedikit garam, serta bahan pengharum makanan. semua bahan dibuat adonan, kemudian dibakar dalam cetakan bundar-bundar. 
Semua itu memuat pesan yakni adanya proses dalam kehidupan dan pentingnya penyelarasan dan harmonisasi antara jagad kecil dengan jagad besar dalam kehidupan semesta ini.
Ritual Membuat Kue Apem di Keraton YogyakartaRitual Membuat Kue Apem di Keraton Yogyakarta
Ritual Membuat Kue Apem di Keraton Yogyakarta
Ritual Membuat Kue Apem di Keraton YogyakartaRitual Membuat Kue Apem di Keraton Yogyakarta

Berbagi Sedekah. Selanjutnya semua ubo rampe dapat dikemas dalam dus, atau cukup disajikan di atas piring untuk selanjutnya dibagi-bagikan kepada para tetangga. Maknanya adalah manusia hidup di bumi ini hendaknya mau saling berbagi, bersedekah, dan berwatak saling mengasihi, welas asih, asah asih asuh kepada sesama dan seluruh makhluk.

Setelah berbagi makanan ubo rampe sesaji tersebut kepada para tetangga, barulah selanjutnya diisi dengan kegiatan ziarah atau menabur bunga ke makam para leluhurnya sendiri satu persatu. Ziarah bisa dilakukan pada hari berikutnya, karena waktunya tersedia cukup leluasa hingga sebulan penuh selama bulan Arwah belum habis.
Makna Ritual "RUWAHAN"
Selama bulan arwah atau Ruwah, masyarakat melakukan ritual bersih-bersih desa, kampung, makam, dan rumah.
Bersih-Bersih Makam; merupakan wujud kesetiaan dan rasa berbakti generasi penerus atau anak turun kepada para leluhurnya. Kesetiaan dan bakti akan tumbuh seiring kesadaran spiritual seseorang yang dapat memahami betapa kita hidup sekarang ini telah berhutang budi, berhutang nyawa, berhutang kemerdekaan bangsa, berhutang hutan yang hijau dan tidak rusak, sungai yang jernih, lautan masih menyimpan kekayaaan besar, berhutang budi baik dan pengorbanan, maupun berhutang harta benda warisan dari orang-orang yang menurunkan kita semua. Bersih-bersih makam merupakan salah satu cara berbakti yakni untuk membalas kebaikan para leluhur atau pendahulunya.

Bersih-bersih sungai, desa, ladang dan rumah; merupakan wujud penghargaan dan rasa terimakasih kita kepada alam, kepada bumi yang telah melimpahkan rejeki bagi manusia. Tanah yang subur, hutan yang menghijau, sungai-sungai mengalir jernih. Semua itu merupakan berkah agung dari Sang Hyang Jagadnata, berkah yang masih mengalir karena perilaku dan sikap bijaksana para leluhur pendahulu bangsa yang hidup di masa lalu. 

Mereka  tidak merusak dan mengeksploitasi hutan, gunung, sungai, lautan karena kesadaran super-egonya bahwa anak cucu keturunannya, dan generasi penerus bangsa kelak masih sangat membutuhkan semua itu. Al hasil, anak turunnya, generasi penerus bangsa di masa kini masih bisa merasakan limpahan anugrah agung tersebut di masa kini.  Lantas pertanyaannya, apakah yang telah dilakukan oleh generasi sekarang serupa dengan apa yang dilakukan leluhur para pendahulu kita di masa lalu ?
Ziarah/Nyekar, atau menabur bunga di pusara leluhur. 
Kegiatan itu bermakna sebagai “atur sembah bekti” atau sikap menghaturkan rasa berterimakasih, sikap berbakti, sekaligus wujud nyata rasa welas asih, dan penghormatan setingginya atas seluruh jasa dan budi baik leluhur di masa lalu. Meskipun menabur bunga belumlah  sebanding dengan jasa-jasa leluhur kepada kita semua, kepada bangsa ini namun hal itu masih lebih berharga daripada hanya sekedar di rumah duduk manis sambil komat-kamit mengirim doa. 

Itu namanya perilaku golek penake dewe, lebih suka mencari-cari alasan pembenar atas sikapnya yang selalu mencari enaknya sendiri, daripada berkorban beaya, waktu dan berusaha yang nyata. Ironisnya “penyakit kejiwaan” golek benere dewe seperti itu biasanya menjadi lahan subur untuk bersemainya sikap pamrih dibarengi harapan-harapan tidak realistis & melambung tinggi. 

Lantas bagaimana seseorang bisa belajar tentang arti sebuah ketulusan? 
Uborampe Ruwahan
Uborampe Ruwahan

Ngapem atau membuat kue apem
Ngapem atau membuat kue apem memang sudah menjadi tradisi  bagi orang jawa dalam menyambut bulan Suci Ramadhan yang sering disebut Ruwahan. membuat apem atau kue yang terbuat dari tepung beras, santan, garam, gula pasir  dan tape sebagai pengembang alami, memang sudah dianggap wajib dan sudah dilakukan secara turun temurun. dahulu dalam pembuatan apem masih diadakan setiap keluarga tetapi kini banyak pula yang mengadakan secara berombongan. selain memang hemat dalam biaya kue apem yang disimpan terlalu lama akan mengeras dan mudah basi.

Apem sendiri disajikan dengan dilengkapi ketan putih dan kolak ubi pisang raja. konon  apem ketan dan kolak ubi pisang raja ini mempunyai makna dan simbol sebagai perekat persaudaraan dan  permintaan maaf bila mempunyai salah atau ganjalan sebelum masuk bulan puasa. jaman dahulu pembuatan apem masih menggunakan adat dan dibuat dengan beraneka jenis antara lain jenis biasa yang sering kita santap, apem dengan diberi bungkus daun dadap di kedua sisinya atas dan bawah, juga yang unik adalah apem diisi dengan uang recehan koin tentu saja yang ini sudah diberi tanda dan apem inilah yang sering diperebutkan terutama oleh anak-anak.

Kini pembuatan apem hanya simple dan satu jenis yang biasa kita santap dan juga tidak ada ritual ritual khusus lagi hanya bertujuan inggin melestarikan warisan nenek moyang. rasa dari kue apem memang khas karena kue ini masih dibuat dengan cara tradisional yaitu dimasak menggunakan cetakan khusus dengan arang sebagai bahan bakarnya. ruwahan atau menyambut bulan puasa tanpa ketan kolak apem akan terasa beda, selain memang karena sudah terbiasa juga dengan  cara yang sederhana ini dapat memupuk semangat kita melestarikan warisan nenek moyang.
SEMOGA BERMANFAAT
Kami Sarikan dari berbagai sumber yang bermanfaat untuk umat manusia
agar hidup rukun sesama umat dan berdampingan dengan alam
karena manusia hidup di alam tengah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEMANGAT PAGI....SUKSES Untuk SEMUA
JIKA ANDA PIKIR BISA PASTI BISA..!
Maaf apabila dalam pengambilan GAMBAR dirasa VULGAR
(Gambaran ini Hanyalah FAKTA sesuai dengan ASLINYA)
dan TIDAK Mutlak untuk diperdebatkan......................!!!
AKU CINTA NUSANTARAKU

KEBERLANGSUNGAN

Sedekah(Bisa Menunda Kematian)
KLCK aja ICON dibawah untuk Baca berita
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...